• Tidak ada hasil yang ditemukan

Home - Open Access Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Home - Open Access Repository"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan

2.1.1 Pengertian pengetahuan

Pengetahuan dalah pemahaman atau informasi tentang subjek yang didapatkan melalui pengalaman maupun studi yang diketahui baik oleh satu orang atau oleh orang-orang pada umumnya (Cambridge, 2020).

Pengetahuan adalah informasi, pemahaman, dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan atau pengalaman (Oxford, 2020).

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terhadap suatu objek terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2003 dalam Wawan dan Dewi, 2018).

Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam, seperti motivasi dan faktor luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan sosial budaya (Made & Anggraini, 2022)

(2)

2.1..2 Jenis pengetahuan

Jenis pengetahuan menurut Budiman & Riyanto (2013) sebagai berikut:

a. Pengetahuan implisit, yaitu pengetahuan yang masih

tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor- faktor yang tidak bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.

b. Pengetahuan eksplisit, yaitu pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan.

2.1.3 Tingkat pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2011), pengetahuan terdiri dari enam tingkatan yaitu:

a. Tahu (know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metedologi, prinsip dasar dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari secara benar pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

d. Analisis (analysis)

(3)

Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Merupakan hal yang menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Merupakan hal yang berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek penelitian.

Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteris yang ada.

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan a. Faktor internal

Faktor internal menurut Nursalam (2011) dalam A. Wawan dan Dewi M (2018) adalah sebagai berikut :

1. Umur

Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada yang kurang dewasa. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki.

2. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai suatu keselamatan dan kebahagiaan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin banyak

(4)

pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya semakin pendidikan yang kurang akan mengahambat perkembangan sikap seseorang.

3. Pekerjaan

Pekerjaan adalah jangka waktu orang sudah berkerja pada suatu organisasi, lembaga dan sebagainya, yang dihitung sejak pertama kali berkerja. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak pengalaman yang didapat saat menjalankan masa kerja sehingga semakin bertambah pula pengetahuan seseorang dari pengalaman yang telah dialaminya.

b. Faktor eksternal

Faktor eksternal menurut Nursalam (2011) dalam A. Wawan dan Dewi M (2018) adalah sebagai berikut :

1. Lingkungan

Lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

2. Sosial Budaya

Suatu sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pengetahuan kita.

2.1.5 Cara memperoleh pengetahuan

Menurut Cahyati (2021) membagi menjadi 2 cara untuk memperoleh suatu pengetahuan, antara lain:

a. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan.

1. Cara coba salah (Trial and Error)

Dilakukan dengan mencoba beberapa kemungkinan yang dapat menyelesaikan suatu masalah sampai ditemukannya cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

2. Cara kekuasaan.

(5)

Dilakukan dengan campur tangan seorang pemimpin baik formal maupun informal, seorang pemimpin ini memiliki kekuasaan atau otoritas dalam membuktikan suatu kebenaran untuk memperoleh suatu pengetahuan.

3. Berdasarkan pengalaman pribadi.

Tahap ini dilakukan dengan cara mengingat dan mengulang pengalaman pribadi untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi sekarang berdasarkan pengalaman masa lalu.

b. Cara modern untuk memperoleh pengetahuan.

Cara ini dikemukakan oleh Francis Bacon pada tahun 1561– 1626, yang sekarang ini sebagai suatu pedoman untuk melakukan penelitian ilmiah.

2.1.6 Cara mengukur pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau pengisian angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur (Notoatmojo, 2010). Cara mengukur tingkat pengetahuan yaitu dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kemudian dilakukan penilaian tingkat pengetahuan menggunakan skala Guttman dengan dua alternatif jawaban (Sugiyono, 2015), yaitu :

1. Benar : diberikan nilai 1 2. Salah : diberikan nilai 0

Untuk mengukur tingkat pengetahuan atau kemampuan individu, dapat menggunakan rumus Guttman sebagai berikut:

Kriteria skor penilaian tingkat pengetahuan dibedakan menjadi tiga kategori (Nursalam, 2011), yang dijabarkan sebagai berikut :

1. Baik : hasil presentase 76-100% dari jawaban yang benar 2. Cukup : hasil presentase 56-75% dari jawaban yang benar 3. Kurang : hasil presentase <56 dari jawaban yang benar

(6)

Pengukuran pengetahuan menurut (Arikunto, 2010) dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan di ukur dari responden, adapun jenis pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum di bagi menjadi 2 jenis yaitu:

a. Pertanyaan subjektif

Pertanyaan subjektif menggunakan jenis pertanyaan essay digunakan dengan penilaian yang melibatkan faktor subjektif dari penilai, sehingga hasilnya akan berbeda dari setiap penilai dari waktu kewaktu.

b. Pertanyaan objektif

Jenis pertanyaan objektif seperti pilihan ganda (multiple choise) dengan jawaban betul atau salah dan pertanyaaan menjodohkan dapat dinilai secara pas oleh penilai.

Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu sebagai berikut:

1) Pengetahuan dikatakan baik apabila responden dapat

menjawab 76-100% jawaban benar dari total jawaban pertanyaaan.

2) Pengetahuan dikatakan cukup apabila responden dapat

menjawab 56-75% jawaban benar dari total jawaban pertanyaan.

3) Pengetahuan dikatakan kurang apabila responden dapat

menjawab <56% jawaban benar dari total jawaban pertanyaan (Arikunto, 2010).

Rumus yang dipakai untuk menghitung presentase dari jawaban yang diperoleh dari kuisioner (Arikunto, 2013), yaitu:

𝜌 = 𝑓 x 100 %

𝑛

Keterangan:

(7)

ρ = skor pengetahuan

f = frekuensi jawaban benar n = jumlah soal / pertanyaan

2.2 Remaja

2.2.1 Pengertian Remaja

Remaja merupakan fase antara masa kanak-kanak dan dewasa dalam rentang usia antara 10 hingga 19 tahun (WHO,2022). Sedangkan pada Peraturan Menteri Kesehatan RI NO.25, remaja merupakan penduduk dalam rentang usia antara 10 hingga 18 tahun. Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang telah meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Perubahan perkembangan tersebut meliputi aspek fisik, psikis dan psikososial. Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Remaja ialah masa perubahan atau peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologi, dan perubahan sosial (Sofia & Adiyanti, 2013).

Menurut Monks (2008) remaja merupakan masa transisi dari anak-anak hingga dewasa. Fase remaja tersebut mencerminkan cara berfikir remaja masih dalam koridor berpikir konkret, kondisi ini disebabkan pada masa ini terjadi suatu proses pendewasaan pada diri remaja. Masa tersebut berlangsung dari usia 12 sampai 21 tahun, dengan pembagian sebagai berikut:

a. Masa remaja awal (Early adolescent) umur 12-15 tahun

b. Masa remaja pertengahan (middle adolescent)umur 15-18 tahun c. Remaja terakhir umur (late adolescent 18-21 tahun.

2.2.2. Perkembangan Remaja

(8)

Berdasarkan proses penyesuaian menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja menurut Soetjiningsih (2010):

a. Remaja awal (Early adolescent) umur 12-15 tahun

Seorang remaja untuk tahap ini akan terjadi perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan yang akan menyertai perubahan- perubahan itu, mereka pengembangkan pikiran-pikiran baru sehingga, cepat tertarik pada lawan jenis, mudah terangsang secara erotis, dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah akan berfantasi erotik.

b. Remaja madya (middle adolescent) berumur 15-18 tahun

Tahap ini remaja membutuhkan kawan-kawan, remaja senang jika banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan mencintai pada diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimistis, idealitas atau materialis, dan sebagainya.

c. Remaja akhir (late adolescent) berumur 18-21 tahun

Tahap ini merupakan dimana masa konsulidasi menuju periode dewasa. Hal ini dan ditandai dengan pencapaian 5 hal yaitu:

1. Minat makin yang akan mantap terhadap fungsi intelek.

2. Egonya akan mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-penglaman baru

3. Terbentuk identitas seksual yang tidak berubah lagi.

4. Egosentrisme (terlalu mencari perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan dan kepentingan diri sendiri dengan orang lain.

5. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (privateself) masyarakat umum (Sarwono, 2010).

2.3. HI V AIDS

2.3.1 Pengertian HIV/AIDS

(9)

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia setelah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV (Spiritia, 2016).

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus golongan RNA yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan AIDS. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom) adalah disebut acquired (diperoleh) karena hanya akan menderita jika terinfeksi HIV, Immunodeficiency berarti menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh, disebut Syndrome karena di tahun-tahun sebelum HIV ditemukan dan dikenali sebagai penyebab AIDS kita mengenali sejumlah gejala dan komplikasi, termasuk infeksi dan kanker yang terjadi pada orang yang mempunyai faktor-faktor risiko umum (Dewi Purnamawati,2016).

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu spektrum penyakit yang menyerang sel-sel kekebalan tubuh yang meliputi infeksi primer, dengan atau tanpa sindrom akut, stadium asimptomatik, hingga stadium lanjut. Acquired Immunodeficiency Syndrom(AIDS) diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV, dan merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Fauci et all, 2019).

2.3.2. Tanda dan Gejala HIV/AIDS

Tanda dan gejala HIV sangat bervariasi tergantung dengan tahapan infeksi yang diderita.Berikut adalah tanda dan gejala HIV :

a. Individu yang terkena HIV jarang sekali merasakan dan menunjukkan timbulnya suatu tanda dan gejala infeksi. Jika ada gejala yang timbul biasanya seperti flu biasa, bercak kemerahan pada kulit, sakit kepala, ruam-ruam dan sakit tenggorokan.

(10)

b. Jika sistem kekebalan tubuhnya semakin menurun akibat infeksi tersebut maka akan timbul tanda-tanda dan gejala lain seperti kelenjar getah bening bengkak, penurunan berat badan, demam, diare dan batuk Selain itu juga ada tanda dan gejala yang timbul yaitu mual, muntah dan sariawan.

c. Ketika penderita masuk tahap kronis maka akan muncul gejala yang khas dan lebih parah. Gejala yang muncul seperti sariawan yang banyak, bercak keputihan pada mulut, gejala herpes zooster, ketombe, keputihan yang parah dan gangguan psiskis. Gejala lain yang muncul adalah tidak bisa makan, candidiasis dan kanker servik.

d. Pada tahapan lanjutan, penderita HIV akan kehilangan berat badan, jumlah virus terus meningkat, jumlah limfosit CD4+ menurun hingga <200 sel/ul. Pada keadaan ini dinyatakan AIDS.

e. Pada tahapan akhir menunjukkan perkembangan infeksi opurtunistik seperti meningitis, mycobacteruim avium dan penurunan sistem imum. Jika tidak melakukan pengobatan maka akan terjadi perkembangan penyakit berat seperti TBC, meningitis kriptokokus, kanker seperti limfoma dan sarkoma Kaposi (Musyarrofah, 2017).

2.3.3. Etiologi HIV/ AIDS

HIV/ AIDS menular melalui:

1. Cairan genital

Cairan genital (sperma, lendir vagina) memiliki jumlah virus yang tinggi dan cukup banyak untuk memungkinkan penularan. Oleh karnanya hubungan seksual yang beresiko dapat menularkan HIV.

Semua jenis hubungan seksual misalnya kontak seksual genital, kontak seksual oral dan anal dapat menularkan HIV. Secara statistik kemungkinan penularan lewat cairan sperma dan vagina berkisar antara 0,1% - 1% (jauh dibawah resiko penularan HIV melalui tranfusi darah) tetapi lebih dari 90% kasus penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seks yang tidak aman.

(11)

Hubungan seksual anal (lewat dubur) paling beresiko menularkan HIV/AIDS karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV/AIDS lebih mudah masuk ke aliran darah.

2. Darah

Penularan melalui darah dapat terjadi melalui transfusi darah dan produknya (plasma, trombosis) dan perilaku menyuntik yang tidak aman pada pengguna napza suntik/ penggunaan jarum suntik secara bergantian bersama-sama. Pada transplantasi organ yang tercemar virus HIV juga dapat menularkan HIV pada penerima donor.

3. Dari ibu ke bayinya

Hal ini terjadi selama dalam kandungan melalui placenta yang terinfeksi, melalui cairan genital saat persalinan dan saat menyusui melalui pemberian ASI. Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina, kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 25 - 40%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 - 4 bayi yang lahir dengan HIV positif.

Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS disarankan tidak menyusui anak mereka. Namun demikian, jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi, pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.

Cairan tubuh yang tidak menularkan HIV/AIDS yaitu keringat, air mata, air liur/ludah, air kencing/urine. HIV/AIDS tidak ditularkan melalui bersenggolan, berjabat tangan, bersentuhan dengan atau menggunakan pakaian bekas penderita HIV, hidup serumah dengan ODHA, berciuman, makanan atau minuman bersama, berenang bersama, gigitan nyamuk, sabun mandi, penggunaan toilet bersama.

Perilaku beresiko yang dapat menularkan virus HIV/AIDS adalah seperti berganti – ganti pasangan seksual (seks bebas), berganti – ganti

(12)

(berbagi) jarum suntik dan alat lainnya yang kontak dengan darah dan cairan tubuh dengan orang lain, lelaki seks lelaki, wanita penjaja seksual langsung atau tidak langsung (Dewi Purnamawati, 2016).

2.3.4 Pencegahan HIV/ AIDS

Pencegahan HIV/AIDS dilakukan dengan menggunakan 5 konsep

“ABCDE”, yaitu:

1. A (Abstinence)

Absen seks atau tidak melakukan hubungan seks bagi yang belum menikah.

2. B (Be faithful)

Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak berganti- ganti pasangan).

3. C (Condom)

Cegah penularan HIV melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom.

4. D (Drug No)

Dilarang menggunakan narkoba 5. E (Education)

Pemberian Edukasi dan informasi yang benar mengenai HIV, cara penularan, pencegahan dan pengobatannya. E dapat juga Equipment artinya pakai alat – alat yang bersih, steril, sekali pakai tidak bergantian seperti alat cukur, jepit kuku dan lainnya (Dewi Purnamawati, 2016).

2.3.5 Penatalaksanaan HIV/AIDS

Penatalaksanaan infeksi HIV adalah dengan pemberian obat antiretroviral (ARV). Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV. ARV yang digunakan bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan HIV.

Pemberian terapi ARV dapat menekan viral load hingga kadar yang

(13)

tidak terdeteksi (virus tersupresi). Supresi virus dapat meningkatkan fungsi imun dan kualitas hidup secara keseluruhan, menurunkan risiko komplikasi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dan non-AIDS, serta memperpanjang kesintasan pasien. Selain itu, terapi ARV dapat mengurangi risiko penularan HIV. Terapi ARV harus diberikan kepada semua pasien dengan infeksi HIV tanpa melihat stadium klinis dan nilai CD4 (Putri Kumala Sari, 2022)

Selain dengan pengobatan, ODHA juga memerlukan dukungan dan perhatian agar mereka memiliki semangat untuk tetap hidup dan berani berinteraksi dengan masyarakat sekitar tanpa merasa dikucilkan atau didiskrimnasikan. Dalam hal ini Komisi Penanggulangan Aids (KPA) membentuk LSM. Dimana dalam LSM ini ODHA yang menjadi anggotanya menerima dukungan dari pengelola/konselor. Dukungan yang diterima dapat berupa dukungan emosional, informasi bahkan instrumen. ODHA akan mendapatkan informasi bagaimana menangani kondisi psikologisnya terkait dengan penyakit dialaminya, ODHA juga akan mendapatkan penerimaan, dorongan, dan empati. ODHA juga akan mendapat hal- hal yang diperlukannya dari seorang konselor atau pengelola.

Berbagai dukungan ini akan dapat mengarahkan ODHA pada perasaan berarti atau kepantasan hidup. Selain itu, ODHA yang bergabung dalam suatu organisasi masyarakat atau LSM biasanya akan melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain melakukan ceramah atau penyuluhan tentang hal-hal yang terkait dengan HIV/AIDS, memperjuangkan hak-hak anggota, menjadi relawan pendamping ODHA yang lain dan sebagainya.

Dukungan dan perhatian ini dapat menumbuhkan harapan hidup yang lebih lama serta menghilangkan kecemasan bagi ODHA.

Adanya dukungan dari orang-orang seperti keluarga, pasangan,

(14)

teman baik teman sesama penderita maupun teman yang bukan penderita, konselor, dan dokter yang berupa dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan instrumental, dan penilaian diri akan memberikan pengalaman kepada ODHA bahwa dirinya dicintai, diperhatikan, dan disayangi. Hal ini dapat menuntun ODHA pada suatu keyakinan bahwa dirinya masih berarti bagi orang-orang terdekatnya. Selanjutnya pengalaman tersebut akan dapat menyadarkan ODHA bahwa dirinya masih pantas untuk hidup meskipun menderita HIV/AIDS.

2.4. PERSEPSI

2.4.1 Pengertian Persepsi

Persepsi adalah sebuah proses saat imdividu mengatur dan menginterpretasikan kesn-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Robbins, Stephen P, 2007). Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri (Kelley, H. 1972).

Stimulus diperoleh dari proses penginderaan dunia luar atau dunia nyata, misalnya tentang objek-objek, peristiwa, hubungan-hubungan antar gejala, dan stimulus ini diproses otak yang akhirnya disebut kognisi.

Kemampuan manusia untuk membedakan, mengelompokkan kemudian, memfokuskan pikiran kepada suatu hal dan untuk menginterpretasikannya disebut persepsi. Pembentukan persepsi berlangsung ketika seseorang menerima stimulus dari lingkungannya.

Dan stimulus itu diterima melalui panca indra dan diolah melalui proses berpikir oleh otak, untuk kemudian membentuk suatu pemahaman (Sarwo, Sarlito, W., 2012).

(15)

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (Lucy dan Adi, 2016).

2.4.2 Macam-Macam Persepsi

Bentuk-bentuk persepsi yaitu melalui alat indra pendengaran, penciuman, pengecapan dan kulit atau perasa. Sedangkan menurut irwanto dikutip oleh Ahmad Fikri Amar di dalam buku psikologi dakwah yaitu:

1. Persepsi Positif

Persepsi positif adalah persepsi yang menggambarkan semua pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang diteruskan sebagai upaya untuk menggunakannya. Ini akan diteruskan melalui keaktifan atau penerimaan dan mendukung dari hal yang dilihat atau dipersepsikan.

2. Persepsi Negatif

Persepsi negatif adalah yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang tidak selaras dengan objek yang dipersepsi. Hal itu akan diteruskan denagn kepasifan atau menolak atau menentang terhadap objek yang dipersepsikan (Ahmad Fikri Amar dalam Pegi Aryando, 2022).

2.4.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Persepsi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu perhatian (attention), faktor fungsional dan faktor struktural. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Perhatian (Attention)

(16)

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol di dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.

2. Faktor fungsional

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor personal.

Persepsi bukan ditentukan oleh stimulinya, akan tetapi persepsi itu sangat ditentukan oleh karakteristik orang yang merespon stimuli tersebut. Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi ini lazimnya disebut sebagai kerangka rujukan (frame of reference).

3. Faktor Struktural

Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Para psikolog Gestalt merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat struktural. Prinsip-prinsip ini selanjutnya disebut dengan teori Gesalt. Menurut teori gesalt, bila kita mempersepsi sesuatu kita mempersepinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian- bagiannya lalu menghimpunnya (Markus Utomo Sukendar dalam Imran, 2022).

2.4.4 Pengorganisasian Persepsi

Ada empat hal yang menjadi bahan pembicaraan para ahli terkait dengan pengorganisasian persepsi. Pengorganisasian persepsi itu adalah:

1. Persepsi Bentuk

Pada persepsi bentuk yang dipersepsikan adalah bentuk objek, demikian pula persepsi auditif seperti suara juga dikaitkan dengan bentuk obek/bendanya, dan hal yang paling fundamental dalam pemahaman persepsi bentuk adalah pengenalan mengenai wujud figur (Figure) dan Latar (Ground). Wujud (Figure) adalah

(17)

objek/bnetuk yang menonjol, sedangkan Ground adalah latar belakang dari wujud tersebut.

2. Persepsi Kedalam Visual Mata

Persepsi kedalam visual mata sebagai alat penginderaan mempunyai keistimewaan yang luar biasa, karena sebgai alat sensoris dua dimensi ia dapat melihat lingkungan secara tiga dimensi. Hal ini dapat terjadi karena kita dapat mengolah informasi visual (cues) dua dimensi menjadi tiga dimensi. Dalam melihat jarak dan kedalaman (depth and distance) visual, dua jawaban muncul dalam kaitan penggunaan kedua mata kita.

3. Kestabilan pada Persepsi

Input sensorik yang diterima oleh pancaindera tidaklah selalu tetap dan stabil, karena dunia kita adalah dunia yang dinamis. Tetapi pada sisi yang lain, kestabilan pada persepsi dapat membantu seseorang agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam kaitan dengan kestabilan (konstansi) ini kita mengenal adanya:

a) Kestabilan Ukuran (Size Constancy)

Semakin jauh objek dari retina maka semakin kecil objek ini terlihat. Karena adanya size contancy maka kita dapat membedakan ilusi yang muncul dengan pemahaman kita mengenai objek tersebut.

b) Kestabilan warna/cahaya (Brighteness Costancy)

Semakin jauh objek dari retina maka semakin kecil objek ini terlihat. Karena adanya size contancy maka kita dapat membedakan ilusi yang muncul dengan pemahaman kita mengenai objek tersebut.

c) Kestabilan Gerak (Movement Costancy)

Cepat atau lambatnya gerak suatu objek dapat mempengaruhi persepsi tentang objek tersebut. Tetapi dengan mengetahui prinsip movement costancy maka kita dapat menalarkan bahwa bentuk objek tersebut tidak berubah.

(18)

4. Persepsi Gerak

Dilihat dari gerakan suatu objek maka ada dua jenis persepsi yang dapat terjadi:

a. Real Motion

Gerakan yang kita lihat terjadi karena objek yang kita amati benar-benar bergerak.

b. Apparent Motio,

Objek terlihat bergerak meskipun sebenarnya objek tersebut tidak bergerak (Imran, 2022)

2.5. SEKS BEBAS

2.5.1 Pengertian Seks Bebas

Pengertian seks bebas menurut Kartono (1977) merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, kebutuhan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat.

Menurut Desmita (2012) pengertian seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual, tetapi perilaku tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman tentang seksual.

Nevid (1995) mengungkapkan bahwa perilaku seks pranikah adalah hubungan seks antara pria dan wanita meskipun tanpa adanya ikatan selama ada ketertarikan secara fisik. Kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi manusia, salah satunya adalah kebutuhan fisiologis mencakup kebutuhan dasar manusia dalam bertahan hidup, yaitu kebutuhan yang bersifat instinktif ini biasanya akan sukar untuk dikendalikan atau ditahan oleh individu, terutama dorongan seks.

(19)

Lebih lanjut menurut Wicaksono seks bebas juga diartikan sebagai hubungan seksual tanpa ikatan pada yang menyebabkan berganti-ganti pasangan. Berdasarkan penjabaran definisi di atas maka dapat disimpulkan pengertian seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan mulai dari necking, petting sampai intercourse dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyarakat yang tidak bisa diterima secara umum.

2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Seks Bebas

Penyimpangan perilaku yang terjadi pada remaja pada umumnya dapat terpengaruh dari faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Sarwono (2013:187) hal-hal yang berpengaruh terhadap perilaku seks bebas pada remaja adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri remaja itu sendiri yang mengalami perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. Faktor internal ini biasanya juga merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya dan bisa jadi gabungan atau kombinasi dari sifat kedua orang tuanya. Terkadang seorang individu terutama mendapatkan pergolakan dalam dirinya itu karena disebabkan oleh kesulitan upayanya dalam memenuhi tuntutan yang ada di sekitarnya.

b. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri remaja. Faktor eksternal ini biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan

(20)

terkecilnya, yakni keluarga, teman, pacar, teknologi, dan norma agama. Berikut penjelasan faktor eksternal remaja :

1) Penyaluran hasrat seksual tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum karena adanya undang- undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).

2) Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama yang berlaku melarang perilaku seksual yang bisa mendorong remaja melakukan senggama, seperti berpegangan tangan, berciuman, sendirian dengan pasangan ditempat yang sepi, bahkan melakukan hubungan seks sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.

3) Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui teknologi yang canggih (seperti VCD, internet, majalah, TV, video) dan semakin menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba-coba serta meniru dengan apa yang dilihat dan didengarnya, khususnya karena remaja pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa.

4) Orang tua, anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua, maka apa yang amat dibutuhkannya itu terpaksa dicari di luar rumah seperti di dalam kelompok

(21)

kawan-kawannya. Ada pula orang tua yang terlalu sayang kepada anak (over affection) sehingga segala tingkah lakunya dibiarkan saja, anak dapat berbuat sekehendak hatinya, termasuk perbuatan-perbuatan yang negatif dan adapun yang sebaliknya orang tua justru mengekang anaknya. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis, ketidaktahuan orang tua maupun sikap yang masih menabukan pembicaraan seks dengan anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak tentang masalah ini akibatnya pengetahuan remaja tentang seksualitas sangat kurang. Peran orang tua dalam pendidikan anak sangatlah penting, terutama pemberian pengetahuan tentang seksualitas.

5) Pengaruh teman dalam perilaku seksual remaja memang menjadi salah satu faktor penyebabnya. Remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya karena dianggap memiliki pemikiran dan nasib yang sama. Dalam usia remaja biasanya mereka memiliki ciri khas tersendiri antar teman sebayanya dan tidak heran jika remaja mudah terpengaruh oleh teman sebayanya.

6) Di pihak lain, tidak dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita (berpacaran) dalam masyarakat.

2.5.3 Bentuk-Bentuk Seks Bebas

Beberapa bentuk perilaku seks bebas menurut Sarwono adalah : 1. Kissing

Saling bersentuhan antara dua bibir manusia atau pasangan yang didorong oleh hasrat seksual.

2. Necking

(22)

Bercumbu tidak sampai pada menempelkan alat kelamin, biasanya dilakukan dengan berpelukan, memegang payudara, atau melakukan oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama.

3. Petting

Bercumbu sampai menempelkan alat kelamin, yaitu dengan menggesek-gesekkan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama

4. Intercourse

Melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh di luar pernikahan 5. Oral–genital seks

Aktivitas menikmati organ seksual melalui mulut. Tipe hubungan seksual modeloral-genitalini merupakan alternative aktifitas seksual yang dianggap aman oleh remaja masa kini.

6. Frenc kiss

Berciuman dengan bibir ditutup merupakan ciuman yang umum dilakukan (Fitria Novita Sari, 2020).

Desmita mengemukakan berbagai bentuk tingkah laku seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual. Bentuk- bentuk perilaku seks bebas antaralain:

1. Petting

Upaya untuk membangkitkan dorongan seksual antara jenis kelamin dengan tanpa melakukan tindakan intercourse.

2. Oral–genital seks

Aktivitas menikmati organ seksual melalui mulut. Tipe hubungan seksual model oral-genital ini merupakan alternative aktifitas seksual yang dianggap aman oleh remaja masa kini.

3. Sexual intercourse

Aktivitas melakukan senggama (Muhammad Hamka, dkk 2020).

Menurut Jamaluddin bentuk-bentuk Seks Bebas dikalangan pelajar

(23)

antara lain:

1. Berciuman, didefinisikan sebagai suatu tindakan saling menempelkan bibir ke pipi atau bibir ke bibir, sampai saling menempelkan lidah sehingga dapat menimbulkan rangsangan seksual antara keduanya.

2. Bercumbu, adalah tindakan yang sudah dianggap rawan yang cenderung menyebabkan suatu rangsangan akan melakukan hubungan seksual dimana pasangan ini sudah memegang atau meremas payudara, baik melalui pakaian atau secara langsung.

3. Berhubungan badan, yaitu melakukan hubungan seksual, atau terjadi kontak seksual.

4. Bergandengan tangan, yaitu perilaku seksual yang terbatas pada pergi berdua atau bersama dan saling bergandengan tangan saja, belum sampai pada tingkat yang lebih dari bergandengan tangan seperti berciuman atau lainnya (La Ode Aan Sanjaya dkk, 2018)

Dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk perilaku seks bebas remaja bermacam-macam mulai dari berpegangan tangan, berkencan, berciuman, bercumbu, sampai dengan melakukan hubungan seksual. Mereka menganggap perilaku itu bukan suatu permasalahan malah menjadi sebuah keinginan untuk menuangkan kasih sayang terhadap pasangannya.

2.5.4 Dampak Seks Bebas

Adapun dampak yang bisa didapatkan dari seks bebas ialah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, Infeksi Menular Seksual (IMS) yang salah satunya ialah HIV/AIDS, dan aborsi dengan segala risiko baik itu risiko fisik, risiko psikis, risiko sosial dan risiko ekonomi.

Dampak dari bahaya seks bebas tersebut diantaranya:

a) Menciptakan kenangan buruk bagi remaja yang melakukannya dikarenakan hujatan dari masyarakat yang akan berdampak bukan saja pada remaja itu sendiri akan tetapi keluarga juga ikut menanggung aib dari hasil perbuatan tersebut dan menjadi beban

(24)

mental yang sangat berat bagi keluarga.

b) Kehamilan yang tidak diharapkan, kehamilan yang terjadi akibat seks pranikah bukan saja mendatangkan malapetaka bagi bayi yang dikandungnya juga menjadi beban mental yang sangat berat bagi ibunya mengigat kandungan tidak bisa di sembunyikan, dan dalam keadaan kalut seperti ini biasanya terjadi depresi, terlebih lagi jika sang pacar pergi tanpa rasa tanggungjawab.

c ) Pengguguran kandungan dan pembunuhan bayi.

d) Penyebaran penyakit terutama penyakit menular seksual (PMS).

Berkembangnya penyakit menular seksual dikalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular seksual yang tertinggi antara usia 15 – 24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko terkena PMS, HIV dan AIDS. Perilaku seks bebas dapat mengakibatkan penularan PMS dan HIV- AIDS, kehamilan di luar nikah dan aborsi tidak aman. Penderita HIV- AIDS dilaporkan Depkes pada September 2000 sebagian besar berusia di bawah 20 tahun yang tertular melalui hubungan seks tidak aman dan penggunaan jarum suntik yang terinfeksi karena bergantian (Siti Nuraflah, 2019).

2.6 KERANGKA KONSEP PENELITIAN

2.7 HIPOTESIS

Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan antara pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan persepsi seks bebas pada siswa SMA Negeri 1 Aluh-Auh.

Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Persesi Seks Bebas

Referensi

Dokumen terkait

· Exhibit at the Cohen Gallery: Residue · Errant Landscapes · Filmideo + Comunidad: Tiffany Joy Butler · The Missing Piece · HR Tip of the Month · Cohen Conversation with Artists

"It is widely distributed in the south-eastern region of central South America comprising south-eastern Bolivia, Paraguay, southern Brazil, Uruguay, and southern and central Argentina"