1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kegawatdaruratan merupakan akses yang menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan bagi pasien untuk mengurangi keparahan, kematian dan kecacatan.
Menurut Emergency Nurses Association (ENA) karakteristik penting dari praktik keperawatan gawat darurat adalah assesment dan mengevaluasi kebutuhan dasar manusia, stabilisasi dan resusitasi, intervensi kritis, konsistensi pelayanan IGD, melakukan pelayanan perawatan di lingkungan yang tidak terduga/unpredictable, emergency preparedness, serta melakukan triage dan prioritas (Hammond & Zimmermann, 2018).
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan bagian dari rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang mengalami sakit atau cedera baik bagi yang langsung datang ke rumah sakit ataupun lanjutan bagi pasien yang merupakan rujukan dari fasilitas kesehatan lain, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Tujuan utama IGD menurut Australasian College for Emergency Medicine (2020) adalah untuk menerima, melakukan assessment, menstabilisasi, dan memberikan pelayanan kesehatan akut untuk pasien, termasuk pasien yang membutuhkan tindakan resusitasi dan pasien dengan tingkat kegawatan tertentu.
ENA menyebutkan bahwa perawat IGD memiliki standar praktik keperawatan yang harus dipatuhi termasuk perilaku caring yang menjadi ciri profesional perawat (Hammond & Zimmermann, 2018). Caring sebagai inti dari keperawatan merupakan proses interpersonal yang terdiri dari intervensi yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan manusia. Menurut Nightingale dalam Wagner dan White (2010) pelayanan yang paling penting dalam keperawatan adalah caring, sedangkan menurut Swanson dalam Potter & Perry (2019)
caring adalah holistik keperawatan yang berguna untuk mendukung proses kesembuhan klien dan cara menjalin hubungan peduli dengan klien serta bertanggung jawab terhadap kondisi klien.
Caring merupakan sebuah bentuk perilaku keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan mengutamakan peningkatan keselamatan pasien, dimana caring menjadi suatu fenomena universal yang memengaruhi seseorang berfikir, merasakan dan berperilaku ketika berhubungan dengan orang lain, dan menjadikan inti dari keperawatan dimana perawat membantu pasien untuk sembuh dari penyakitnya dan membina hubungan saling percaya (Potter & Perry, 2019). Dengan menerapkan nilai caring seperti disiplin, menghormati orang lain, memberikan perhatian, kepedulian dan bersikap empati, maka perawat dapat membina hubungan saling percaya, dapat memenuhi kebutuhan dasar pasien sehingga memberikan kepuasan pasien terhadap perawat (Putri & Ngasu, 2021).
Karakteristik pasien di IGD berbeda dibandingkan dengan area perawatan lain, seperti kondisi yang tidak stabil, penggunaan peralatan medis, kebutuhan dalam perawatan fisik, biologik, psikologik dan spritual menyebabkan pasien dan keluarga akan mengalami stres. Pasien pada area-area perawatan kritis juga memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Kondisi seperti ini menyebabkan pasien memerlukan perhatian dan perawatan yang lebih dari perawat. Selain perawatan fisik, perawat juga harus memberikan dukungan emosi, sosial dan spiritual. Perilaku dan sikap perawat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien tersebut dapat diwujudkan dengan caring (Lukmanulhakim et al., 2019).
Penerapan model perilaku caring di dunia dikalangan perawat masih menunjukan presentase kualitas perilaku caring yang rendah, seperti Irlandia 11% dan Yunani 47%. Di Indonesia penelitian menunjukan bahwa 24%
perilaku caring perawat berada pada kategori cukup (Samsualam et al., 2021).
Penelitian lain yang dilakukan Surbakti et al (2019) salah satu IGD rumah sakit
di Jakarta menunjukan perilaku caring perawat hanya sebesar 67%. Di Banjarmasin, penelitian yang dilakukan oleh Dwi (2016) di IGD RSUD Ulin menunjukan bahwa perilaku caring tidak sepenuhnya dilakukan oleh perawat yaitu hanya 82,1%. Meskipun angka ini cukup tinggi, akan tetapi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada perawat yang tidak melakukan perilaku caring dalam melakukan asuhan keperawatan.
Perilaku caring perawat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal antara lain tingkat pendidikan, lama bekerja, efikasi caring, kecerdasan emosional dan spiritual. Sedangkan faktor eksternal diantaranya supervisi, budaya organisasi, dan stres kerja (Haryani &
Lukmanulhakim, 2019). Menurut Oluma dan Abadiga (2020) menyebutkan bahwa perilaku caring perawat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karakteristik perawat, pendidikan, stres kerja, lingkungan kerja, dan kepuasan kerja.
Kondisi IGD rentan terhadap tingginya tingkat stres sehingga akan berdampak terhadap perilaku caring perawat yang bekerja di IGD. Tuntutan kebutuhan perawatan yang tinggi di IGD akan menyebabkan kelelahan emosi dan fisik yang akhirnya akan meningkatkan stres kerja dan burnout perawat, hal ini memiliki hubungan yang negatif terhadap perilaku caring (Peacock-Johnson, 2018). Rata-rata tingkat stres perawat di IGD berada pada level sedang yang akan berdampak terhadap perilaku caring perawat. Stres kerja akan mempengaruhi perilaku caring perawat yang menyebabkan menurunnya kualitas dan mutu pelayanan keperawatan yang profesional (Jiaru et al., 2023).
Wantiyah juga menyatakan bahwa stres kerja dapat menurunkan perilaku caring perawat (Wantiyah et al., 2022).
Perilaku caring perawat juga dipengaruhi oleh caring efikasi, keyakinan dan kepercayaan diri perawat yang bekerja di area kritis seperti IGD dalam memberikan perawatan, perhatian dan intervensi sesuai dengan kebutuhan
pasien dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang ditunjukan dalam perilaku caring (Lukmanulhakim et al., 2019).
Wright dalam Maria et al (2020) menyebutkan bahwa perawat yang memberikan perawatan di IGD harus berkomitmen terhadap perilaku caring, karena IGD merupakan gerbang awal bagi pasien dalam menerima perawatan.
Perilaku caring perawat dipercaya mampu memfasilitasi kesehatan, keselamatan dan juga kesejahteraan pasien, serta meningkatkan kesembuhan, kenyamanan, harga diri dan keamanan, sebaliknya kurangnya perilaku caring perawat akan menyebabkan pasien merasa terisolasi, putus asa, tidak berdaya dan merasa rentan (Peacock-Johnson, 2018). Perilaku caring perawat akan berpengaruh terhadap kepuasan pasien, semakin caring seorang perawat dalam memenuhi harapan yang diinginkan oleh pasien, maka akan semakin puas pasien terhadap pelayanan keperawatan (Octaviani et al., 2020), tetapi apabila perilaku caring perawat menurun maka tentu akan memengaruhi kualitas pelayanan keperawatan, sehingga menurunkan kepuasan pasien dan menimbulkan kerugian baik terhadap pasien maupun rumah sakit (Yarnita &
Gasril, 2020).
Perawat yang bekerja di IGD merupakan tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan yang komplek, perawat yang bekerja di area-area kritis ini sering menghadapi berbagai macam faktor dan situasi yang memerlukan perhatian lebih dalam melakukan perilaku caring (Shalaby et al., 2018). Penelitian mengenai hubungan karakteristik demografi, caring efikasi dan stres kerja terhadap self evaluasi perilaku caring perawat di IGD masih belum banyak diketahui, sehingga penelitian ini akan mengidentifikasi hubungan karakteristik demografi, caring efikasi dan stres kerja terhadap self evaluasi perilaku caring.
1.2. Rumusan Masalah
Penerapan model perilaku caring di dunia menurut Samsu Alam et al (2021) dikalangan perawat masih menunjukan presentase kualitas perilaku caring
yang rendah. Rendahnya perilaku caring perawat akan berdampak terhadap kualitas pelayanan keperawatan dan terhadap kepuasan pasien. Perilaku caring perawat dipengaruhi oleh faktor internal, seperti karakteristik demografik, caring efikasi dan juga faktor eksternal diantaranya adalah stres kerja.
Penelitian yang melakukan self evaluasi perawat terhadap perilaku caringnya masih sangat sedikit dilakukan. Begitu juga penelitian yang menunjukan apakah ada hubungan antara karaktersitik demografi dengan perilaku caring di area IGD masih terbatas, beberapa penelitian menunjukan hasil yang berbeda.
Caring efikasi yang merupakan salah satu faktor internal yang berhubungan terhadap perilaku caring perawat belum banyak diteliti, pun dengan stres kerja, masih sedikit penelitian yang menghubungkan stres kerja dengan perilaku caring perawat yang bekerja di IGD, khususnya di Banjarmasin, padahal stres kerja akan berhubungan dengan arah yang negatif terhadap perawat dimana stres kerja yang berat akan menurunkan perilaku caring yang dilakukan oleh perawat sehingga akan berpengaruh terhadap kualitas asuhan keperawatan (Umam, 2020).
Berdasarkan fenomena tersebut, pertanyaan penelitian yang dirumuskan adalah :
1.2.1. Apakah ada hubungan antara karakteristik demografi perawat yang bekerja di IGD terhadap self evaluasi perilaku caring?
1.2.2. Apakah ada hubungan antara caring efikasi perawat yang bekerja di IGD terhadap self evaluasi perilaku caring?
1.2.3. Apakah ada hubungan antara stres kerja perawat yang bekerja di IGD terhadap self evaluasi perilaku caring?
1.2.4. Apakah faktor yang paling berhubungan terhadap self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik demografi, caring efikasi dan stres kerja terhadap Self Evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini antara lain:
1.3.2.1. Mengidentifikasi karakteristik demografi perawat (usia, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, status perkawinan dan pendapatan) yang bekerja di IGD.
1.3.2.2. Mengidentifikasi caring efikasi perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.3. Mengidentifikasi stres kerja perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.4. Mengidentifikasi self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.5. Menganalisa hubungan karakteristik demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, status perkawinan dan pendapatan) terhadap Self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.6. Menganalisa hubungan caring efikasi terhadap self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.7. Menganalisa hubungan stres kerja terhadap self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.3.2.8. Menganalisa faktor yang paling berhubungan terhadap self evaluasi perilaku caring perawat yang bekerja di IGD.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Pelayanan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi peningkatan pelayanan kesehatan khususnya dibidang keperawatan terutama tentang gambaran perilaku caring dan menjadikan bahan evaluasi dalam memberikan asuhan keperawatan.
1.4.2. Ilmu Keperawatan
Dapat memberikan tambahan referensi bagi ilmu keperawatan terutama dalam perilaku caring sebagai esensi dari asuhan keperawatan profesional di lingkup keperawatan Gawat Darurat.
1.4.3. Penelitian
Diharapkan bisa menjadi informasi untuk dapat melakukan penelitian perilaku caring di lingkup yang lebih luas.