7 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kanker Serviks
2.1.1. Pengertian kanker serviks
Kanker serviks adalah kanker dengan angka kejadian nomor empat terbanyak yang terjadi pada wanita diseluruh dunia dan kanker yang paling sering pada negara berpenghasilan rendah (Mustafa dkk, 2016).
Kanker serviks merupakan suatu keganasan yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan sel-sel epitel serviks yang tidak terkontrol (Mirayashi, 2013).
Berdasarkan pendapat Setiawati (2014) kanker servik 99,7% terjado karena bakteri HPV onkogenik didalam rahim. Kanker servik yaitu tumor ganas yang muncul didalam leher rahim, yakni bagian paling rendah dirahim yang ada didalam vagina (Hartati dkk., 2014). Dari penjelasan itu, kanker servik diketahui menjadi kanker ganas yang terjadi didalam rahim karena bakteri HPV.
2.1.2 Etiologi
Penyebab terjadinya kanker servik yaitu bakter HPV. Sebesar 90%
kanker servik yaitu ragam skuamosa yang memiliki DNA bakteri HPV serta 50% kanker ini berkaitan terhadap HPV type 16. Bakteri ini merebak lewat hubungan badan khususnya didalam hubungan seks yang tak aman. Bakteri HPV menyerang diselaput mulut, kerongkongan, dan anus yang menjadikan sel prakanker dimasa yang panjang (Ridayani, 2016).
Bakteri HPV menempel dalam reseptor dipermukaan sel yang diperantarai oleh bakteri attachments yang menyebar dipermukaan vyrus. HPV yang terdapat dalam reseptor dipermukaan akan menjalankan penetrasi, karena memudahkan virusnya masuk kedalam
sel. Virus akan masuk kemudian meluncurkan genom lalu kapsidnya akan hancur. Sesudah virusnya memasuki kedalam inti selnya, virus akan menjalankan transkripsi terhadap DNA-nya lalu berubah jadi MRNA (Yanti, 2013).
Mekanisme kanker servik berkaitan terhadap perpindahan sel yang di ekspresikan dengan HPV. Protein yang berhubungan terhadap karsinogen yaitu E6 dan E7. Wujud genom HPV sikuler apabila terintegrasikan jadi linear dan terpotong denngan gen E2 dan E1.
Integrasi diantara genom HPV dan DNA menjadikan gen E2 tak berguna yang memberi rangsangan E6 terikat terhadap p53, E7 serta pRb (Yanti, 2013). Hubungan diantara protein E6 dengan gen p53 menjadikan p53 tak berguna menjadi gen yang tersupresi tumor yang kerja difase G1. Gen p53 dapat diberhentikan siklus sel difase G1 yang bertujuan akan menghentikan siklus selnya supaya sel itu bisa memperbaiki tingkat rusak sebelum difase S. Mekanism kerja p53 yaitu penghambat seluruh cdk-cyclin yang memberi rangsangan ke sel yang masuk difase berikutnya apabila E6 terikat terhadap p53 sehingga selnya perlu kerja dan membelah jadi abnormal (Yanti, 2013).
Protein retinoblastom (pRb) dan gen lainnya yang mirip pRb berguna dalam mengendalikan ekspresi sel yang diperantarakan dengan E2F. Hubungan pRb dan E2F dapat memperlambat gen dalam sel keluar difase G1, apabila pRb terikat terhadap protein E7 atas HPV sehingga E2F tak terikat yang memberi stimulasi proliferasi sel yang lebih dibatas normal sehingga selnya jadi sel karsinoma (Yanti, 2013).
2.1.3 Manifestasi klinis
Ditahap awal dan prakanker umumnya tak mendapat sebuah gejala.
Gejala dapat timbul sesudah kanker akan menginvasif. Umumnya tanda kanker servik yang seringkali muncul (Malehere, 2019) yaitu:
2.1.3.1 Pendarahan vagina dengan tidak normal yang bisa timbul sesudah berhubungan bada, menopose, bercak di antara masa haid, serta masa haid yang lama dari sebelumnya dan saat pendarahan sesudah memeriksa panggul.
2.1.3.2 Keputihan Cairan yang timbul dimungkinkan akan berdarah, bau busuk, serta timbul diantara masa haid maupun sesudah menopose.
2.1.3.3 Nyeri panggul ketika berhubungan badan maupun saat panggulnya diperiksa.
2.1.3.4 Trias dengan backpain, odema tungkai maupun gagal ginjal menjadi gejala kanker servik ditahap lanjut yang menimbulkan dinding panggulnya meluas.
2.1.4 Faktor risiko
Predisposisi yaitu keadaan yang menimbulkan. Faktor yang dapat menimbulkan adanya kanker servik yaitu:
2.1.4.1 Perilaku seksual
Resiko yang menimbulkan kanker servik dapat bertambah jika wanita mempunyai teman seks multipel. Disanping itu dapat beresiko jika pasangannya terkena kondiloma akuminatta (Kurniawati, 2018).
2.1.4.2 Aktivitas seksual dini
Usia awal berhubungan seks menjadi hal yang dianggap penting. Wanita yang berhubungan seks sebuelum berusia 16 tahun akan beresiko besar sebab dalam umut tersebut epitel divagina dan servik tak dibentuk dengan sempurna saat
berhubungan seks diusia itu menjadikan sangatlah mudah timbul luka micro yang menjadikan terinveksi dengan bakteri HPV sebagai sebab atas kanker servik (Meihartati, 2017).
2.1.4.3 Smegma
Smegma yaitu substansi dengan lemak. Smegma umumnya ada dilekukan kepala penis lelaki yang tak di sunat.
Smegma yaitu rahasia alamiah yang ditimbulkan oleh kelenjar sabecous dikulit kemaluan lelaku. Tetapi hal tersebut berhubungan terhadap bertambahnya risiko lelaku yang menjadi pembawa dan menularkan bakteri HPV (Kurniawati, 2018).
2.1.4.4 Perempuan yang merokok
Rokok yang dibuat dari tembako dan di dalamnya ada zat dengan sifat menjadi hal yang menimbulkan kanker saat di hisap atau di kunyah. Asap ini menciptakan polikilinik aroma hidrokarbon tereroklinik amine secata mutagen atau karsinogen, sementara apabila di kunyah akan membentuk netrosamin. Bahan karsinogenis khusus dari tambako dapat ditemukan didalam lendir servik pada perempuan yang merokok. Bahan tersebut akan merusak DNA sel epitel skuamosa denan infeksi HPV yang mentransformasi maligna (Meihartati, 2017).
2.1.4,5 Paritas
Wanita yang mempunyai paritas tinggi beresiko terjangkit kanker servik yang besar. Hal tersebut timbul dikarenakan ibu dan paritas besar dapat menjadikan beragam resiko morbiditas maupun mortalitas. Keadaan tersebut terjadi karena turunnya fungsi organ reproduksi karena munculnya komplikasi (Handayani dan Mayrita, 2018).
2.1.4.6 Tingkat sosial ekonomi
Tingkatan sosial perekonomian rendah akan berhubungan terhadap zat gizi dan status imunitasnya (Kurniawati, 2018).
2.1.4.7 Pengguna obat imunosupresan
HIV yaitu virus AIDS karena sistem imunitas tubuh yang turun sehingga menjadikan wanita beresiko terkena HPV.
Perempuan yang terkena HIV, prakanker servik dapat berkembang dalam menginvasi secara cepat dalam menjadikan kanker secara normal. Pemakaian obat imunosuspresan menjadi factor resikonya (Yanti, 2013).
2.1.4.8 Riwayat terpapar IMS
HPV dapat ikut ditularkan dan menjadi sebab penyakit organ intim lain yang timbul karena berhubungan seksual (Kurniawati, 2018).
2.1.4.9 Pengunaan kontrasepsi hormonal
Pemakaian kontrasepsi oral dijangka waktu panjang dapat menambah resiko kanker servik kepada wanita yang terkena HPV, apabila pemakaian obat oral kontrasepsinya diberhentikan menjadikan penurunan resiko (Yanti, 2013).
2.1.4.10 Kontrasepsi barier
Pemakaian kondom dapat menjadi penurunan resiko kanker servik. Hal tersebut terjado oleh pelindungan servik yang dikontak langsung atas bahan karsinogent pada cairan semennya (Yanti, 2013).
2.1.4 Stadium
Stadium kanker servik berdasarkan The International Federation Of Gynecology and Obstetrics (FIGO) (Malehere, 2019) bisa ditinjau dibawah ini.
Tabel 1
Stadium Kanker Serviks
Stadium Deskripsi
I Karsinoma benar-benar terbatas pada serviks (tanpa bisa mengenali ekstensi ke korpus uteri).
IA Karsinoma invasive yang hanya diidentifikasi secara mikroskopis. Kedalaman invasi maksimun 5 mm dan tidak lebih lebar dari 7 mm
IA1 Invasi stroma sedalam ≤ 3 mm dan seluas ≤ 7 mm IA2 Invasi stroma sedalam > 3 mm namun < 5 mm dan
seluas > 7 mm
IB Lesi klinis terbatas pada serviks, atau lesi praklinis lebih besar dari stadium
IB1 Lesi klinis berukuran ≤ 4 cm IB2 Lesi klinis berukuran > 4 cm
II Karsinoma meluas di luar Rahim, tetapi tidak meluas ke dinding panggul atau sepertiga bagian bawah vagina.
IIA Keterlibatan hingga 2/3 bagian atas vagina. tidak ada keterlibatan parametrium
IIA1 Lesi yang terlihat secara klinis ≤ 4 cm IIA2 Lesi klinis terlihat > 4 cm
IIB Nampak invasi ke parametrium Stadium Deskripsi III Tumor meluas ke dinding samping pelvis. Pada
pemeriksaan dubur, tidak ada ruang bebas antara tumor dan dinding samping pelvis.
IIIA Tumor melibatkan sepertiga bawah vagina, tanpa ekstensi ke dinding samping pelvis
IIIB Perluasan ke dinding samping pelvis atau hidronefrosis atau ginjal yang tidak berfungsi
IV Karsinoma telah meluas ke pelvis yang sebenarnya atau secara klinis melibatkan mukosa kandung kemih dan atau rectum
IVA Menyebar ke organ panggul yang berdekat IVB Menyebar ke organ yang jauh
Sumber: Malehere, 2019
2.1.5 Pencegahan
Kanker servik 100% bisa diatasi dengan vaksin HPV, memakai tembako, tidak mengkonsumsi tembako, dan terdeteksi dengan obat lesi prakanker (Malehere, 2019). Usaha dalam mencegah kanker servik terbagi dalam pencegahan primer, sekunder dan tersier yaitu:
2.1.6.1 Pencegahan primer
Pencegahan primer yang dilasanakan lewat vaksin HPV dalam pencegahan HPV dan mengendalikan faktor resikonya. Hal ini dilakukan dengan menjauhi rokok, tak berhubungan seksual dengan berbagai partner, tak memakai kondom oral selama >5 tahun, dan menjalankan diet sehat (Malehere, 2019).
2.1.6.2 Pencegahan sekunder
Pencegahan ini dilakukan lewat pendeteksian dini dalam prakursor kanker servik yang bertujuan dalam mengambat kanker distadium awal (Kemenkes, 2016). Pencegahan sekundernya bisa dilaksanaakn dengan test DNA HPV, IVA, test pap smears, memeriksa sitologi, kolposkopi, serta biopsi.
Pemeriksaan IVA diberi rekomendasi didaerah dengan sumberdaya yang dibarengi krioterapi dalam hasil IVA positive (Malehere, 2019).
2.1.6.3 Pencegahan tersier
Pencegahan ini dilaksanakan dengan meraway secara paliatif atau rehabilitatif dalam unit layanan medis yang mengatasi kanker dan membentuk sekelompok survival kanker dimasyarakat (Kemenkes, 2016).
2.2 Pengalaman Perempuan terdiagnosis kanker servik pertama kali.
Mayoritas pengidap sakit kronik akan merasa menderita hebat karena kondisi penyakit yang sebenarnya. Pemikiran negative kepada pasien akan memperburuk keadaan fisiknya. Dalam mengatasi tanda kecemasan penderitanya perlu berkeyakinan jika penyakit ini dapat membaik jika penderitanya akan bersikap sabar saat dihadapkan dengan penyakit mereka (Prayetno, 2015). Untuk menanggulangi permasalahan psikis yang timbul dengan mengingatkan kerabat, aktivitas spiritual dengan beristigfar dan menjalankan beragam aktivitas yang akan mendistraksi (Wahyuni, 2015).
Reaksi awal setelah terdiagnosis, ibu sering merasa kaget dan tidak percaya (Gotay,1984: Skerrett,1998; Brusilovkiy et al, 2019), Ibu sering merasa takut bahwa mereka akan meninggal atau kanker mereka akan menyebar dan kambuh kembali (Northouse & Peter-Golden,1993; Brusilovkiy et al, 2019).
Mereka juga prihatin dengan kondisi emosional dalam kasus pasangan muda meraka juga khawatir akan kemampuan untuk melahirkan anak (Gotay,1984;
Brusilovkiy et al, 2019). Banyak ibu juga mengalami kesulitan membayangkan suaminya membesarkan anak tanpa istri-istri mereka (Smith,1991; Brusilovkiy et al, 2019).
Penelitian yang dilakukan di Swedia, Singapura, dan New Zealand menemukan bahwa wanita dengan kanker servik melaporkan mengalami dyspareunia dan merasa takut akan kekambuhan penyakitnya. Mereka juga mengungkapkan terjadinya penurunan frekwensi hubungan seksual setelah pengobatan kanker (Bergmark, Avall-Lunqvist, Dickman, Henningsohn &
steineck, 1999; Kritcharoen, Suwan, Jirijwong, 2019).
Kirtcharoen and Nuaklong, 1999 ; Kritcharoen, Suwan, Jirijwong,2019, menemukan bahwa wanita dengan kanker serviks di Thailand menolak berhubungan seksual dengan pasangan dan merasa takut akan terjadi kekambuhan penyakitnya. Beberapa pasangan pria mereka ingin menceraikannya karena pasangan pria percaya mereka tidak mampu lagi melakukan hubungan seksual. Beberapa faktor yang mempengaruhi seksualitas pasangan termasuk didalamnya adalah status kesehatan istri.
2.3. Pasien Kanker Servik Dengan Dukungan Keluarga
Kanker servik yaitu bentuk cancer ginekologis yang seringkali timbul kepada perempuan (Cuningham 2015; Kusumaningrum dkk, 2019). Pengidap kanker servik khususnya distadium lanjut akan memiliki sejumlah gejala seperti kenyerian panggul, kecapean, pendarahan, menurunkan nafsu makan, sesak nafas, konstipasi, serta sulit kencing ( Dunlavey 2017; Listiawai 2021 ).
Dorongan keluarga sangatlah diperlukan pengidap kanker servik saat menghadapi kehidupannya sesudah terdiagnosa kanker.
Ada 5 tanggungjawab perawat pada keluarga yang menjadi unit fungsi keluarganya saat perawatan yaitu: keluarga dapat mengetahui adanya masalah, memutuskan perilaku keperawatan yang sesuai, merawat kerabat yang sakit, menjaga kesehatan dilingkungan, serta dapat memakai sarana pelayanan yang ada.
Dorongan keluarga khususnya suami bisa memberi ketenangan, keamanan, kenyamanan, serta memperoleh dorongan emosi yang dapat berpengaruh pada kesehatan mental, sebab dorongan keluarga sangatlah dibutuhkan untuk merawat pasien yang bisa mengurangi rasa cemasnya, menambah motivasi hidup, serta berkomitmen kepada pasien dalam selalu melakukan kemoterapi.
Motivasi keluarga sangatlah berguna untuk mengendalikan pasien kepada rasa cemas yang bisa meminimalisir masalah yang timbul dalam pasien (Suryanti dkk. 2018).
Penelitian dari Paskah Rinna Situmoarang (2019) ada 31 respondens menyatakan jika terdapat keterkaitan secara significant diantara dukungan social keluarga terhadap kekhawatiran pengidap kanker servik saat kemoterapi jika makin positif dorongan keluarga pasien menjadikan rendahnya rasa cemas pasien yang menjalankan kemoterapi, sehingga diharap untuk keluarganya supaya selalu mendukung mereka. Riset lainnya dari (Zuriyanti, dkk., 2018) jika berdasarkan 35 respondens keluarga yang menerima sekitar 18 individu (51,4%). Hasil riset tersebut menjelaskan jika kebanyakan dorongan keluarga yang tertinggi bagi pengidap kanker servik.
Hasil riset tersebut didorong dengan Admine, (2011; Listiawai 2021) menjelaskan jika peranan keluarga sangatlah diperlukan saat merawat pasien yang mana mereka berupaya memaksimalkan motivasi hidup serta kepercayaan pasien dalam menjalankan pengobatannya. Hal tersebut di jelaskan oleh Mughith dan Natsir (2011; Listiawai 2021) menjelaskan jika peranan keluarga pada terapi sangatlah diperlukan dalam menciptakan sebuah kondisi dimana keluarga dapat melihat bahaya pada pasien dengan kegiatannya, seperti meminimalisir ketakutan dengan mengarahkan, memberi
pertolongan supaya mereka merasakan kesenangan terhadap tahap terapi.
Keluarga menjadi sumber batasan terpenting bagi individu atau keluarga yang bisa berpengaruh pada kehidupan supaya berfokus kepada kesehatan.
Keluarga berperan penting untuk mendukung keluarga mereka dikehidupan secara sehat.
Wujud dorongan keluarga kepada keluarganya ialah dorongan moral maupun material. Kehadiran dorongan keluarga dapat berakibat dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri pasien saat berobat. Peranan keluarga kepada pasien kanker servik dapat berbentuk dorongan, mencukupi keperluan sehari- harinya, data, serta ketentraman, berikut fungsi yang ada pada moral maupun material dapat berakibat dalam menambah kepercayaan diri kepada pengidap kanker servik. Adanya dorongan keluarga akan berpengaruh efektif dalam tahap mengobati kanker servik (Yanti, 2018).
2.4. Penyakit Dan Gangguan Biografis (Fisik, Psiko, Sosio, Spritual)
Kanker sevik mampu menimbulkan sebuah masalah pada wanita yang memperolehnya sebab kanker tersebut berkaitan pada berubahnya organ intim wanita yang diraha menjadi unit paling penting perempuan yang berdampak kepada mutu kehidupannya. Persoalan itu menjadi hasil kesehatan sebagai layanan untuk mengatasi masalah yang sedang berlangsung pada ginekologi pasien kanker. Bentuk ini sangat dibutuhkan pada keperawatan, karena perawatan tradisional berkaitan terhadap aspek holistik pasien yang fokus untuk kelangsungan hidupnya (Ferans, 2005;
Setyo dkk, 2018).
Berubahnya fisik perempuan kanker servik akan berpengaruh pada keadaan psikis penderita. Hal lain yang bisa berpengaruh pada perkembangan psikis yaitu sebuah tanda fisik karena terapis. Tanda yang kian berat menjadikan mutu kehidupan akan menurun serta menambah tanda depresi. Tanda fisik yang seringkali didapati pasien kanker servik yang berstadium lanjut sesudah menjalankan terapis ialah nyeri, pusing, dan menurunnya fungsi badan dengan menyeluruh. Semua tanda fisik tersebut dapat memunculkan
rasa tidaknyaman yang dapat menambah anciety, stress, serta kelainan psikis kepada pasien (Ottho, 2001; Rajkumar, Vinent & Kumar, Shaji, 2018).
Keadaan fisik dan terapis yang dijalankan pengidap kanker servik menjadikan berubahnya interaksi social. Potensi dan keadaan seseorang yang bermakna saat didiagnosis dan terapis dengan signifikan mampu berdampak kepada asumsi wanita kepada dirinya serta berpotensi terjaga saat dihadapkan dengan penyakit mereka. Wanita dengan dorongan keluarga maupun temannya dapat memakai keefektifan koping. Penelitian dari Matioli et al. (2008; Rajkumar, Vinent & Kumar, Shaji, 2018) mengenai harapan dan motivasi pengidap kanker menjelaskan jika beragam motivasi yang didapat keluarga, teman, serta tenaga medis akan mempunyai pengaruh.
Penduduk Indonesia secara umum merasa jika penyakit kanker menjadi sanksi dari dosa yang sudah dijalankan dan cobaan yang harus di syukuri (Hamidh, 2008; Listiawai 2021). Literatur lainnya menjelaskan jika orang yang dapat mengidentifikasikan keyakinan spiritual dengan baik dapat memakai keyakinan itu dalam dihadapkan pada kondisi kesehatan dengan positif sehingga dapat menjumpai pemaknaan serta tujuan hidup (Konzier, dkk., 2004; Sitio dkk,2018). Penelitian dari Asing, dkk. (2003); Lees, dkk.
(2017), menjelaskan jika wanita Asia yang terkena kanker payudara menjelaskan sakit yang diderita ialah kehendak Tuhan dan Dia memiliki kuasa dalam menjadi penentu hasil terakhir atas penyakitnya. Kepercayaan dari kuasa Tuhan itu menjadi peran pada penelitian tersebut dengan kepasrahan, keikhlasan, serta menerima takdirnya. Respon duka sudah masuk dimasa menerima apabila seseorang mendapat keadaan dan akibat yang dialami. (Ulerich, 2008; Sitio dkk, 2018). Dalam proses tersebut pengidap kanker sudah memperoleh kekuatan dalam dirinya agar mampu berjuang untuk sembuh dari penyakit kankernya. Lewat potensi itu akan muncul keinginan untuk menjalankan kehidupannya dengan menderita.
Harapan ialah sebuah domain kerohanian atas pengertian seseorang pada hidup yan menjadi landasan aspek tersebut.
2.5. Pembiayaan kanker servik
Biaya dalam menangani kanker diIndonesia agak tinggi. Biaya kanker dalam Jamkesmas ditahun 2012, perawatan kanker berada diposisi ke-2 sesuda hemodilisa sebesar Rp. 144,7 M. Biaya tersebut kian bertambah ditahun 2014 jadi 905 M (Kemenkes RI, 2015). Rerata pembiayaan dalam mengobati kanker servil berdasar tarif di RSUD Dr. Muwardi ada ditingkat keparahan I: pembedahan Rp. 2.893.243 ± Rp. 1.531.975, kemoterapi Rp. 3.313.342 ± Rp. 2.386.899, radioterapi Rp. 3.988.027 ± Rp. 2.912.931, dan radical hysterectectomy Rp. 10.039.072 ± Rp. 1.331.822. Tingkat keparahan II:
pembedahan Rp. 5.885.859 ± Rp. 4.059.020 dan kemoterapi Rp. 4.474.084 ± Rp. 2.588.966. Tingkat keparahan III: radical hysterectectomy Rp.
13.347.209 ± Rp.2.852.551 (Oktaviani, D. 2019).
Sementara rerata pembiayaan kemoterapi perepisode ada ditingkat keparahan I sejumlah Rp. 4.502.210, ditingkat keparahan II yaknis sejumlah Rp.
8.239.624, serta ditingkat keparahan III sejumlah Rp.7.402.713 (Aisyiah N, Andiyani T.M, Puspanandari D.A, 2018). Penelitian lain yang dilakukan oleh Aisyah N, Syarifuddin A, Amami, & Mardiana (2021) kemoterapi kanker payudara ditingkat keparahan I di RSUD Ulin Banjarmasin yang terbanyak membutuhkan pengeluaran yakni pengobatan kemoterapi (44,64%) serta ditingkat keparahan II yakni pengobatan kemoterapi (48,14%). Besar pembiayaan rerata kemoterapi berdasar ditingkat keparahan penyakit pasiennya, makin besar diagnosis sekundernya menjadikan makin besarnya pengeluaran pasien saat dirawat.
2.6. Pengobatan Pasien Kanker Servik
Menurut Ariani, (2015; Supatmi & Ma'rifah 2019) terdapat sejumlah pengobatan dengan tujuan mematikkan sel yang terkena virus HPV. Dibawah ini ialah langkah dalam mengobati pengidap kanker servik:
2.5.1. Pembedahan
Terdapat sejumlah bentuk pembedahan yang dijalankan dalam mengobati kanker servik, yakni:
1. Histerektom
Dipergunakan dalam pengobatan sejumlah kanker servik distadium awal (stadium 1) serta pengobatan kanker distadium pra kanker (stadium 0). Operasi tersebut dapat menangkat keseluruhan rahim, jaringan didekatnya, vagina dibagian atasnya dengan batas leher rahim, serta sejumlah kelenjar getah bening yang ada disekitar panggulnya. Opersi seringkali dilaksanakan dengan memotong bagian perut depannya, tidak lewat vagina.
2. Trachlektomi
Trachlektomi radikal akan menjadikan perempuan muda yang mengidap kanker distadium 1 bisa diberi pengobatan serta bisa memiliki anak. Model tersebut akan mengangkat servik serta dibagian atas vaginanya, Operasi tersebut dapat dilaksanakan lewat vagina maupun perutnya.
2.5.2. Radioterapi
Dalam mengobati kanker servik, radioterapi yaitu menjalankan radiasi eksternal yang sudah diberi dengan kemoterapis berdosis rendah. Dalam bentuk pengobatan radiasi internal, zat radio aktif dimasukan dalam silinder pada vaginanya. Terkadang bahan tersebut akan menempati dalam jarum tipis yang masuk langsung pada tumor.
2.5.3. Kemoterapi
Pemakaian obat sintostatika saat melakukan terapi kanker. Kemoterapi yaitu sebuah wujud terapis kanker yang mendapat perkembangan pesat serta aplikasi terbaru, bahan kemo ialah obat sitotostiks yang bertugas pada beragam sel khusus pada beragam tahap kehidupan selnya, menjadi pengobatan yang dipergunakan hanya sebagai pembunuh sebuah sel kanker. (Aryani, 2015). Jangka masa terlama saat menjalankan kemoterapi dapat menciptakan beragam dampak yang menjadikan pasiennya tak mendapat kenyamanan, ketakutan,
kecemasan, kelemasan, dan depresi karena pengobatan yang dijalankan sehingga membuat pasiennya akan memerlukan dorongan keluarga mereka (Mahmudin et. al 2019).
2.7. Respons fisik dan psikologis kemoterapi
Menurut penelitian Wardani (2014; Supatmi & Ma'rifah 2019), dampak kemoterapi terbagi jadi 2 respons, yakni:
2.6.1 Respon Fisik
2.6.1.1. Mual muntah
Sebab mual muntah dikarenakan pengaruh kemoterapi yang dipergunakan akan berpengaruh pada chemoreceptor serta mengarah kepada neurotransmiter yang menimbulkan mual.
Dampak mual muntah akan muncul sesudah 24 jam diawal saat memberi obat kemoterapi. Puncak mual muntah timbuk 48-72jam serta selesai sesudah 6-7 hari
2.6.1.2. Diare
Diare timbul dikarenakan dampak kemoterapi kepada mukossa gastro intestinal yang menjadikan radang, edama, ulserasi serta astrofi.
2.6.1.3. Konstipasi
Karena penggunaan analgesis opioid, mengurangnya intaks pangan dalam pengidap kanker. Dampak tersebut timbul salaam 5-7 hari sesudah melaksanakan kemoterapi.
2.6.1.4. Rambut Rontok
Seringkali ditemukan pada pengidap kanker yang tengah menjalankan kemoterapi dan mendapat kerontokkan rambut sebab timbul kerusakkan dibatang rambutnya. Alopecia akan timbul sejak 2-4 minggu serta berakhir dalam 1-2 bulan sesudah dimulai kemoterapi.
2.6.1.5. Neuropati perifer
Dikarenakan oleh rusaknya jaringan saraf yang menjauh pada sumsum sumsum tulangbelakang maupun otaknya.
2.6.1.6. Toksisitas kulit
Dampak dari kemoterapi sitotoksis bisa menjadikan kuku menghitam serta barier dikulit. Hal tersebut dapat menghilang selama 2-3 hari.
2.6.1.7. Penurunan berat badan
Dikarenakan oleh mual muntah dari dampak kemoterapi yakni mual muntah dan microcitis. Penurunan ini bisa timbul selama 6 bulan akhir, maupun 2 minggu akhir sesudah dilaksanaakn kemoterapi. Penderitanya akan mendapat penurunan BB dalam 5-15% atas BB sebelum dikemoterapi.
2.6.1.8. Sariawan
Pengobatan kemoterapi akan merusak sel yang melapisi rongga mulut yang menjadikan timbulnya sariawan. Sariawan timbul selama 5-14 hari sesudah melakukan kemoterapi.
2.6.1.9. Kekurangan darah
Obat kemoterapi dalam kanker bisa menurunkan sel darah merah yang menjadikan keletihan, kelesuan, kelemahan, serta sesak. Hal ini bisa timbul dihari ke 8-14 sesudah melakukan kemoterapi, sesuai kandungan nutrisi penderitanya. Dampak atas kurang darah yaitu:
1. Mudah terinfeksi.
Dikarenakan banyaknya leokosite akan menuruh. Leokosit ialah sel darah yang berguna dalam melindungi infeksi 2. Pendarahan.
Trombosit akan menjadi tahap membekukan darah.
Menurunnya trombosit akan menjadikan pendarahan yang sukar berhenti, kelebaman serta bercak merah dikulit.
3. Anemia.
Menurunnya sel darah merah dapat dilihat atas pengurangan Hb. Dampak anemia yaitu orang dengan kelelahan, kelemahan, serta terlihat pucat.
2. 6 .1.10. Penurunan napsu makan
Dikarenakan dampak kemoterapi yang bisa menurunkan signal lapar atas hipotalamus serta menguatkan rasa kekenyangan dalam melacorti. Hal tersebut timbul sesudah kemo awal yang dijalankan.
2.6.1.11. Nyeri
Dikarenakan obat kemoterapi tersebut.
2.6.2 Respon Psikologis
2.6.2.1. Mengekspresikan ketidak berdayaan 2.6.2.2. Merasa tidak sempuma
2.6.2.3. Merasa tidak percaya terhadap perubahan dalam diri 2.6.2.4. Merasa sedih, takut dan berduka
2.6.2.5. Merasa tidak menarik lagi
2.6.2.6. Perasaan kurang diterima oleh orang lain
2.6.2.7. Gagal mencakup keperluan keluarga sebab kondisi yang kian melemah dari pasien karena kemoterapi
2.6.2.8. Cemas dan depresi
2.6.2.9. Ketidak mampuan fungsional
2.6.2.10. Mendapat perubahan dalam tubuh yang menganggu rancangan dirinya khususnya terkait harga diri.
2.8. Adaptasi Teori Roy Dalam Pengalaman Seseorang Yang Terdiagnosa Kanker Cerviks
Berdasarkan pendapat Roy setiap orang akan memiliki sifat holistik, sehingga bersistem adaptif. Hal ini akan menjadi seluruh unit fungsi atas sejumlah tujuan.
Sistem ini mencakup seseorang seperti keluarga, teman, maupun komunitas dengan menyeluruh (Aligot & Tomy, 2010). Roy menyatakan seseorang akan menerima layanan pengasuhan keperawatan, kerabat, organusasi maupun social.
Setiap tindakan yang dijalankan perawat akan menjadi rancangan adaptif scara holistic dan transparan. Rancangan ini berakibat kepada perubahan instan pada data, peristiwa, tenaga dalam sistem serta lingkungan dari perkembangan didalam maupun diluar. Adanya perubahan itu menjadi seseorang harus menjaga integritas diri, yang mana tiap orang dengan langsung dapat melakukan adaptasi (Nursalim, 2016).
Roy menjelaskan jika manusia akan menjadi sebuah sistem adaptif. Hal tersebut akan tergambarkan manusia secara holistic menjadi sebuah kesatuan dengan pemasukan, pengeluaran, pengendalian, serta pemberian feedback. Tahap pengendalian akan menjadi mekanism koping dengan manifestasi terhadap langkah yang adaptif. Secara khusus, manusia dimaknai menjadi suatu rancangan adaptif terhadap kegiatan kognator maupun regulators dalam menjaga penyesuaian menggunakan 4 langkah adaptif, yakni: fungsi fisiologi, rancangan personal, fungsi peranan, serta interdependen. Pada metode adaptif keperawatan, seseorang akan menjadi sebuah rancangan kehidupan, keterbukaan, serta adaptif yang mendapat kekuatan serta zat terhadap perubahan lingkungan.
Menjadi rancangan adaptasi manusia akan tergambar pada sebuah karakteristik sistem, sehingga seseorang akan ditinjau menjadi sebuah kesatuan yang berkaitan diantara bagian fungsional dengan menyeluruh maupun sejumlah unit fungsi disejumlah tujuan. Penginputan dalam manusia akan menjadi rancangan adaptif dengan menerima saran eksternal dan internal dalam dirinya. Stimulus akan masuk dalam variable standart yang bertentangan terhadap umpan balik yang dibandingkan. Variable standart tersebut akan menjadi input dalam diri dengan taraf adaptif serta mewakili jumlah input seseorang yang bisa ditolerir terhadap usaha yang umumnya dijalankan. Tahap pengendalian individu akan menjadi sebuah rancangan adaptif misalnya dengan mekanism koping. Kedua mekanism koping yang sudah diidentifikasikan yakni: sub sistem regulasi dan kognasi. Kedua hal ini tergambar menjadi tindakan yang berhubungan kepada 4 tahap beradaptasi, yakni:
2.7.1 Fisiologi
Berdasarkan pendapat Nursalim (2016) dengan fisiologis bisa didapatkan sejumlah hal dibawah ini:
1. Oksigenasi: menjelaskan bentuk pemakaian oksigen yang berkaitan terhadap respirasi dan sirkulasi.
2. Nutrisi : menjelaskan bentuk pemakaian nutrisi dalam menjaga keadaan tubuh.
3. Eliminasi : menjelaskan bentuk mengeliminasi.
4. Aktivitasdan istirahat :
5. menjelaskan bentuk kegiatan, pelatihan, serta istirahat.
6. Integritas kulit : rnenggarnbarkan bentuk fisiologi kulit.
7. Rasa: Menggarnbarkan manfaat senson perseptual yang berkaitan terhadap panca indera.
8. Cairan dan elektrolit : rnenggarnbarkan bentuk fisiologi pemakaian cairan dan electrolite.
9. Fungsi neurologi : menjelaskan bentuk kendali neurologi, kebijakan, serta intelektual.
10. Fungsi endokrine : rnenggarnbarkan bentuk kendali dan mengatur respons stres dari reproduksinya.
2.7.1 Konsep diri (psikis)
Yaitu pemahaman seseorang mengenai dirinya. Hal tersebut menjadi citra subjektif atas diri dengan campuran secara kompleks berdasarkan perasaan, perilaku, serta pemikiran dibawah kesadaran maupun tidak.
Kornponen konsep diri berupa identitas, harga diri, serta peranan diri (Poter dan Pearry, 2005). Konsep ini dimaknai menjadi seluruh pemikiran dan kepercayaan yang menjadikan orang tahu akan dirinya serta berpengaruh terhadap individu lainnya. Rancangan ini tak terwujud diwaktu lahir namun perlu dipahami (Moerwani, 2009).
Konsep diri yaitu seluruh gagasan, pemikiran, keyakinan, serta pendirian seseorang mengenai diri mereka yang berpengaruh terhadap individu lainnya (Stuarte & Sunden, 1991, pada Moerwani, 2009). Konsep diri setiap orang tidak terbentuk sejak dilahirkan, namun dipahami menjadi hasil pengalaman keunikan didalam diri mereka bersama orang terdekatnya. Dari asumsi diatas, penulis menarik kesimpulan jika konsep diri yaitu wawasan seseorang mengenai dirinya. Metode konsep tersebut mengidentifikan bentuk penilaian, keyakinan, serta emosional yang berkaitan terhadap idenya. Perhatian diberikan kepada fakta kondisi dirinya mengenai fisik, personal, serta moralitas (Sudarto, 2015).
Berdasarkan Poter dan Pery (2005) komponen konsep diri yaitu:
1. Identitas
Identitas meliputi perasaan dalam diri mengenai individu, keseluruhan, serta ketetapan atas individu diwaktu dan sejumlah keadaan. Identitas menjelaskan hal lainnya yang terpisah atas seseorang tetapi akan menjadi diri dengan keutuhan dan keunikan.
Karakteristik identitas diri yaitu:
1) Mengerti dirinya menjadi seseorang dengan utuh, tidak sama, serta terpisah atas individu lainnya.
2) Memberi penilaian diri menyesuaikan public.
3) Mengakui gender.
4) sadar akan hubungan dimasa lalu, saat ini, serta dimasa mendatang.
5) Melihat beragam aspek didalam diri menjadi sebuah keselarasan.
6) Mememiliki tujuan kehidupan yang berarti serta bisa di realisasikan.
2. Citra tubuh
Hal tersebut menciptakan pemikiran orang mengenai tubuh.
Pemikiran tersebut meliputi rasa dan tindakan yang diberikan dalam tubuhnya.
3. Harga diri
Yaitu perasaan mengenai dirinya. Perasaan tersebut akan menjadi sebuah perbaikan yang mana orang akan menjaga dirinya.
Seseorang harus merasakan berharga didalam kehidupannya serta hal tersebut menjadi suatu keperluan yang mendasar bagi setiap orang. Harga diri bisa didapatkan lewat individu lainnya didalam diri. Aspek pokok harga diri di cintai, di sayangi, di kasihi, oranglain serta memperoleh apresiasi dari seseorang.
4. Peranan diri
Peranan ini meliputi keinginan maupun standart tindakan yang sudah didapat keluarga, kelompok, serta budaya. Peranan ialah tindakan yang berdasar kepada bentuk yang diterapkan lewat penyuluhan.
2.7.2 Fungsi peran (Sosial)
Peranan meliputi keinginan tindakan yang sudah didapat kerabat, kelompok, serta budaya. Peranan ialah tindakan yang berdasar kepada bentuk yang diterapkan lewat penyuluhan (Poter dan Pery, 2005). Fungsi peranan mengidentifikasikan mengenai bentuk hubungan sosial individu kepada individu lainnya dampak atasan peranan ganda yang dilakukan (Nursilam, 2016).
2.7.3 Interdependent
Hal tersebut akan mengidentifikasikan bentuk penilaian seseorang, rasa hangat, cinta, serta rasa memiliki. Tahap itu timbul lewat hubungan pribadi seseorang atau kelompoknya (Sudarto, 2015). Keterkaitan interdependent mencakup hubungan dan potensi dalam memberi terhadap seseorang serta memperolah aspeknya, misalnya dicintai, dihargai, dinilai, diasuh, dipahami, potensi, dan komitemen (Aligot & Tomy, 2010).22
2.9. Kerangka Teori Penelitian
Kerangka teori penelitian yang digunakan rnerupakan rnodifikasi dari model konseptual adaptasi sistern Roy.
Kognator Tugas dan peran iu dengan ca cerviks
Regulator Rasa kaget dan tidak
percaya Stress yang tinggi
Kecemasan kelelahan
Kerangka teori penelitian ini rnerupakan landasan atas latarbelakang penelitian yang dikernbangkan yaitu digarnbarkan dalarn skerna 2.8.1
Stimulus foklal Ibu yang menderita cancer cerviks Stimulus Kontekstual Kemampuan ibu menyesuaikan diri dengan ca cerviks Stimulus residual Pengalaman ibu terdiagnosa ca cerviks
Skema 2.1 kerangka Teori Penelitian Umpan balik Dukungan sosial
Respon adaptif Makna bagi ibu PUTPUT
Homeostatis PROSES
Mekanisme Koping INPUT
Stimulus
Skema 2.8.1 Kerangka teori penelitian merupakan modifikasi adaptasi dari system Roy (Naaman, S. Radwan, K. Johnson, S. 2009, Ponto, J. Barton, D.
2008, Kritcharoen, Suwan, Jirojwong. 2005) Roy menjelaskan menusia pada definisi suatu sistem adaptif, holistik yang berhubungan dengan langsung dilingkungan yang mengalami perubahan (Rey & Andrews, 1999). Definisi holistik asalnya dari pendapat filosofi humanis yang menjadi dasar dari metode tentang pendapat jika manfaat rancangan manusia akan menjadi sebuah kesatuan yang berkontribusi untuk menjelaskan tindakan seseorang. Konseptual teori berfokus kepada potensi setiap orang saat menanggapi dan melakukan penyesuaian dengan efektif kepada stimulus dilingkungan, pemakaian karakter bawaan serta pengalaman yang diperoleh lewat mekanism koping (Roy &
Andrews,1999). Adaptasi didefinisikan Roy menjadi rancangan kedinamisan, yakni suatu tahap yang menjadi hasil pikiran ataupun perasaan setiap orang yang menggunakan rasa sadar dalam membentuk hubungan antar manusia dan lingkungannya (Roy & Andrew, 1999). Respons adaptif yaitu manfaat atas mulainya stimulus hingga tercapainya tingkat adaptif yang diperlukan seseorang (Roy,1984 dalam Tommey, 2006). Stimulus yaitu sejumlah factor yang menciptakan respons. Stimulus bisa bersumber pada aspek dilingkungan dalam atau luar. Roy mengelompokkan stimulus menjadi input fokal, kontekstuals, serta residu. Stimulus fokal yaitu stimulus yang bisa bersumber atas factor dari dalam atau luar yang membutuhkan perhatian segera dan langsung berhadapan terhadap setiap orang. Pada penelitian tersebut yang menjadi stimulus fokal adalah ibu yang menderita kanker servik, dimana stimulus ini secara langsung mengharuskan ibu untuk berespon secara adaptif. Stimulus kontekstual yaitu semua input lainnya yang berkontribusi pada perkembangan perilaku karena rangsangan input fokal. Pada penelitian tersebut stimulus kontekstual yaitu potensi ibu untuk melakukan penyesuaian diri terhadap diagnosis kanker servik.
Stimulus residu ialah input lainnya yang menyesuaikan keadaan pada tahap adaptasi dilingkungan yang sukar diamati. Pada penelitian tersebut, input residual adalah pengalaman ibu (Roy & Andrew, 1999). Tahap kendali
setiap orang berdasarkan Roy yaitu wujud mekanism koping yang dipergunakan.
Mekanism kontrol tersebut terbagi dari dua subsistem yaitu regulator dan kognator. Sub sistem regulator yaitu respons langsung lewat akses koping neural, kimia serta endokrin. Stimulus dilingkungan dalam atau luar berkontribusi menjadi input dalam rancangan adaptif. Informasi melalui jalur otomatis dengan cara yang tepat dengan sendirinya, sebagai hasil dari respon yang tidak disadari. Saat yang sama, input pada subsistem regulator berperan sebagai persepsi. Seluruh aspek dalam subsistem regulator saling berhubungan yang mana salah satunya tidak dapat dipisahkan dari sistem lainnya (Roy &
Andrew, 1999). Proses koping mayor yang kedua disebut sub sistem kognator, sub sistem tersistem berespon lewat 4 akses kognisi-emosional yaitu: tahap pemikiran, informasi, belajar, pertimbangan, serta emosional. Tahap pemikiran dan penginformasian mencakup kegiatan selektif seperti memperhatikan, mengkoding, serta mengingat. Belajar terdiri dari meniru, menguatkan, serta pengetahuan. Tahap pertimbangan meliputi kegiatan memecah persoalan serta menciptakan kebijakan. Adanya emosional individu akan menjadikan pertahanan dalam mengurangi rasa cemas (Roy& Andrews, 1999). Dalam penelitian ini kognator akan diwujudkan dengan adanya kemampuan penyesuaian diri terhadap tugas dan peran ibu yang mengalami kanker serviks.
Output atas sebuah sistem yaitu tindakan yang bisa dilihat, dilakukan pengukuran dengan subjektif, bisa terlapor dengan bijak. Tindakan tersebut menjadi feedback bagi systems. Roy mengelompokkan out put systems menjadi respons adaptari. Respons ini akan menambah integritas setiap orang.
Dalam peneltian ini output diperlihatkan dengan pemahaman makna bagi ibu dengan kanker serviks . Penyesuaian diri, dukungan sosial dan makna yang dirasakan ibu dengan kanker serviks akan jadi feedback untuk sitemulus dalam tahap input.