A B C D E F G H
NOTES :
678910
A REV.
NO DESCRIPTION DATE DRAWN PREPRD CHECK
D OPPRD
2022 NAME DATE SIGN PROJECT NAME
PENGADAAN BARANG DAN JASA PEREMAJAAN INSTALASI KABEL KONTROL WELLPAD 07 & 31
PLTP DIENG UNIT 1 2023 DRAWN
CHECKED
APPROVED DRAWING TITLE
HSE PLAN CUSTOMER
RECEIVED SCALE SHEET
A4
DRAWING NO. PR NO.
A B C D E F G H
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 1
2
3
4
5
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN ... 5
2. TUJUAN ... 5
3. RUANG LINGKUP ... 5
4. PERATURAN DAN PERUNDANG‐UNDANGAN ... 5
5. SINGKATAN DAN DEFINISI ... 5
5.1 Singkatan...5
5.2 Definisi...6
6. KOMITMEN MANAGEMEN DAN KEPEMIMPINAN ... 7
7. KEBIJAKAN DAN TUJUAN STRATEGIS ... 7
7.1 Kebijakan Mutu dan HSE...7
7.2 Sasaran Kinerja HSE...7
7.3 Kebijakan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif...7
8. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ... 8
8.1 Project Manager...8
8.2 Site Manager...8
8.3 HSE Coordinator...8
8.4 Seluruh Pekerja...8
9. PRINSIP RENCANA HSE ... 8
9.1 Perencanaan HSE...8
9.2 Implementasi HSE...8
9.3 Evaluasi dan Perbaikan...8
10.RENCANA TANGGAP DARURAT ... 9
11.PELAPORAN INSIDEN ... 9
11.1 Pengukuran Recordable Injury dan Illness Experience...9
11.2 Tindakan Segera Saat Terjadi Kecelakaan...9
11.3 Pelaporan Insiden...9
12.PROGRAM‐PROGRAM HSE ... 10
12.1 Training HSE...10
12.2 Pemeriksaan Kesehatan...11
12.3 Inspeksi Peralatan...11
12.4 Alat Pelindung Diri...12
12.5 Sosialisasi dan Komunikasi HSE...13‐16 12.6 Observasi Keselamatan...17
12.7 Analisa Keselamatan Kerja...17
12.8 Izin Kerja...18
12.9 Inspeksi Tempat Kerja dan Housekeeping...19
12.10Pencegahan Kebakaran...19
12.11Pemantauan Lingkungan...19
12.12Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)...19
12.13Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)...19
12.14Pengelolaan Sampah Domestuk dan Sampah Proyek...19
12.15Laporan Pelaksanaan UKL‐UPL atau RKL‐RPL...19
12.16Laporan Kinerja HSE...19
13.KESELAMATAN PEKERJAAN INSTALASI KABEL TRAY...20 14.KESELAMATAN PEKERJAAN INSTALASI KABEL KONTROL...20
1. PENDAHULUAN
Health, Safety, and Environment (HSE) Plan atau Rencana Keselamatan, Keamanan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K4L) ini merupakan prosedur monitoring dan pengendalian mulai dari perencanaan pekerjaan, sebelum pelaksanaan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan dari keseluruhan aktivitas HSE di lokasi pekerjaan. Rencana HSE ini merupakan hal penting yang digunakan oleh team manajer proyek.
Rencana HSE ini juga merupakan persyaratan perusahaan dalam menghadapi masalah HSE dalam pelaksanaan pekerjaan.
HSE Plan ini berisi tentang tugas dan tanggung jawab, program keselamatan kerja dan panduan pengelolaan serta pemantauan keselamatan, kesehatan kerja,keamanan dan lingkungan selama masa berlangsungnya "Pengadaan Barang dan jasa peremajaan instalasi kabel kontrol wellpad 07 & 31 PLTP DIENG Unit 1".
2. TUJUAN
Tujuan utama dari HSE Plan ini adalah sebagai acuan dan upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, meminimalisasi bahaya dan risiko yang muncul dalam pelaksanaan pekerjaan, serta kerusakan lingkungan kerja yang diakibatkan oleh pekerjaan ini.
3. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup HSE Plan ini diberlakukan untuk semua lokasi dan seluruh kegiatan pekerjaan dalam lingkup pekerjaan konstruksi ""Pengadaan Barang dan jasa peremajaan instalasi kabel kontrol wellpad 07
& 31 PLTP DIENG Unit 1".
4. PERATURAN DAN PERUNDANG‐UNDANGAN
Beberapa peraturan, regulasi dan standar yang digunakan dalam penyusunan prosedur ini : a. Undang‐Undang No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
b. Undang‐Undang No. 11 Tahun 1975 tentang Keselamatan Radiasi.
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun
d. Permenaker No. 50 tahun 2012 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
e. Permen Pertambangan dan Energi No. 06.P/0746/M.PE/1991 Tentang Inspeksi Keselamatan Terhadap Instalasi dan Peralatan.
f. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
g. Keputusan Dirjen Migas No. 36/KPTSD/DJ/MIGAS/1977.
h. OHSAS 18001 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
i. Perundang‐Undangan dan Peraturan‐Peraturan lainnya yang berkaitan dengan K3L.
5. SINGKATAN DAN DEFINISI 5.1 Singkatan
APAR : Alat Pemadam Api Ringan
APD : Alat Pelindung Diri
B3 : Bahan Beracun dan Berbahaya
ERP : Emergency Response Plan
JSA : Job Safety Analysis
LTI : Lost Time Injury
Migas : Minyak dan Gas
NAPZA : Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif
OHSAS : Occupational Health dan Safety Assessment Series
KA : Kereta Api
HSE : Keselamatan, Kesehatan Kerja,Keamanan dan Lingkungan P3K : Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
kPM : Project Manager
PT : Perseroan Terbatas
SM : Site Manager
SNI : Standar Nasional Indonesia
5.2 Definisi
Accident : Kejadian yang tidak diinginkan yang menyebabkan cedera atau kerusakan fasilitas/peralatan
Analisa keselamatan kerja : Suatu bentuk analisis step‐step pekerjaan, bahaya di masing‐
masing
pekerjaan tersebut, efek risiko yang mungkin timbul dan bagaimana cara mengatasi kondisi bahaya dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut
Alat pelindung diri : Seperangkat perlengkapan yang digunakan untuk melindungi pekerja dari bahaya yang ada di lokasi kerja
Emergency drill : Suatu simulasi keadaan emergency untuk menguji kesesuaian pelaksanaan emergency response plan Fatality : Kematian pekerja yang terjadi di lokasi pekerjaan atau yang
berkaitan dengan pekerjaan
Housekeeping : Suatu upaya menjaga kebersihan dan kerapihan lokasi kerja Induksi HSE : Pengenalan pekerja terhadap kondisi pekerjaan dan bahaya
yang ada di pekerjaan, kemudian bagaimana cara mengatasinya
Insiden : Kejadian yang mengarah kepada accident, walaupun tidak terjadi cedera atau kerusakan fasilitas
Inspeksi : Pemeriksaan terhadap peralatan atau penunjang pelaksanaan pekerjaan
Izin kerja : Suatu otorisasi yang diberikan dari owner kepada pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan
Kesehatan kerja : Segala upaya yang dilakukan terkait pelaksanaan pekerjaan di lokasi pekerjaan untuk mencegah timbulnya penyakit akibat kerja
Keselamatan kerja : Segala hal yang berkaitan untuk mencegah terjadinya accident/insiden
Lost time injury : Hilangnya hari kerja akibat kecelakaan kerja Manajemen visit : Kunjungan pimpinan proyek ke lokasi pekerjaan
Meeting HSE : Rapat untuk membicarakan masalah yang dihadapi terkait HSE dan bagaimana cara mengatasi permasalahan HSE tersebut Observasi keselamatan : Upaya untuk menghilangkan/menurunkan perilaku tidak aman
di lokasi pekerja atau terkait pelaksanaan pekerjaan
Pencemaran lingkungan : Terlepasnya zat pencemar akibat proses pekerjaan Penyakit akibat kerja : Penyakit yang timbul pada pekerja terkait pelaksanaan pekerjaan
Pertolongan pertama pada kecelakaan
: Pertolongan awal yang diberikan kepada pekerja yang mengalami cedera untuk mencegah fatality ataupun
kecacatan permanen
Perusahaan/Pelaksana pekerjaan : PT. Krakatau Daya Listrik
Observation : Pemantauan kondisi tidak aman agar risiko di lokasi kerja dapat dihilangkan/dikurangi tingkat keparahannya
Severity rate : Ukuran tingkat keparahan suatu kondisi atau perilaku tidak aman Subkontraktor : Rekanan yang mencakup peralatan, dokumen teknis dan layanan
lain yang diatur oleh PT Krakatau Daya Listrik
Toolbox meeting : Kegiatan pengumpulan seluruh pekerja yang akan bekerja untuk membicarakan pekerjaan yang akan dilakukan secara aman Training HSE : Suatu program pelatihan singkat untuk meningkatkan
pemahaman pekerja terhadap HSE
6. KOMITMEN MANAGEMEN DAN KEPEMIMPINAN
Prosedur Rencana HSE ini adalah bentuk pernyataan definitif dari PT Krakatau Daya Listrik ( KDL ) yang mengutamakan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan di setiap aktivitas perusahaan. Dengan demikian hal ini dapat dilaksanakan oleh seluruh karyawan dan subkontraktor.
PT Krakatau Daya Listrik ( KDL ) melaksanakan seluruh kegiatannya dengan mengedepankan aspek HSE untuk setiap tujuan bisnisnya. Selain itu, kami sangat percaya bahwa penerapan sistem kerja yang aman kerja serta lingkungan kerja yang aman di semua tingkatan berdampak langsung ke efisiensi dan keberhasilan usaha secara keseluruhan. Dokumen ini berisi Kebijakan HSE dan tujuannya, organisasi dan tanggung jawab yang akan dilaksanakan dalam setiap aktivitas pekerjaan.
Komitmen Kebijakan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan yang ada PT Krakatau Daya Listrik ( KDL ) tertuang dalam Lampiran 1.
7. KEBIJAKAN DAN TUJUAN STRATEGIS 7.1 Kebijakan Mutu dan HSE
PT Krakatau Daya Listrik bertekad untuk menjadi Perusahaan / Kontraktor yang unggul dan berdaya saing kuat dalam sektor energidan rekayasa. Sebagai upaya pencapaian sasaran dan kebijakan ini, seluruh lini manajemen dan pekerja bersama‐sama memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan, mengendalikan, mengembangkan dan mengukur efektivitas sistem manajemen berdasarkan pada komunikasi efektif, lingkungan kerja yang aman, identifikasi aspek mutu dan HSE, menghasilkan produk sesuai SNI, memberlakukan norma mutu dan K3L dan melakukan pengkajian ulang berkala. Kebijakan ini dapat dilihat pada Lampiran 2.
7.2 Sasaran Kinerja HSE
Dengan segenap upaya yang berkesinambungan guna pencapaian kesempurnaan, PT Krakatau Daya Listrik menetapkan sasaran Kinerja HSE berupa zero fatal accident, penerapan OHSAS 18000,, Zero LTI, melaksanakan program K3L, manajemen visit dilaksanakan 100%. Sasaran kinerja K3L ini dapat dilihat pada Lampiran 3.
7.3 Kebijakan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA)
Penyalahgunaan NAPZA merupakan salah satu faktor risiko terhadap Keselamatan dan Kesehatan kerja, serta keamanan tempat kerja. Sebagai upaya mewujudkan lingkungan kerja yang sehat dan aman, PT Krakatau Daya Listrik dengan tegas melarang dan akan mengambil tindakan indisipliner terhadap setiap pekerja apabila ditemukan dalam kepemilikan NAPZA di setiap jam kerja dan/atau lingkungan kerja. Kebijakan NAPZA ini dapat dilihat pada Lampiran 4.
8. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Semua “Key Personnel” yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi ini di proyek ini harus mematuhi, melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap persyaratan‐persyaratan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan selama berlangsungnya kegiatan konstruksi, namun tidak terbatas pada penjabaran di bawah ini :
8.1 Project Koordinator (PK)
a. Memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai dengan ketentuan perundang‐
undangan HSE yang berlaku dan ketentuan persyaratan dari pemberikerja.
b. Bertanggung jawab penuh untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi semua pekerja yang terkait dalam proyek ini.
c. Memberikan tindakan administratif terhadap pekerja yang tidak mematuhi persyaratan HSE.
d. Memastikan HSE requirement proyek terlaksana sesuai dengan targetnya.
e. Memastikan setiap accident yang terjadi selama pekerjaan berlangsung dilaporkan, diinvestigasi dan memantau langkah efektif untuk mencegahnya kejadian tersebut terulang kembali.
8.2 Site Supervisor (SM)
a. Memahami dan mematuhi aturan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan yang berlaku, termasuk ketentuan persyaratan dari pemberi kerja.
b. Memastikan semua pekerja mematuhi aturan HSE yang berlaku di dalam proyek pekerjaan ini.
c. Memberikan orientasi singkat mengenai pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan fungsi kerja masing‐masing.
d. Memastikan toolbox meeting dilakukan sebelum melakukan pekerjaan.
e. Memastikan lokasi pekerjaan telah aman bagi seluruh pekerja yang terkait pelaksanaan pekerjaan ini.
f. Memastikan laporan HSE dibuat dan dikirimkan ke atasan sesuai aturan yang berlaku.
g. Memberikan informasi terkait HSE di lapangan kepada PM bila diperlukan.
8.3 Personil HSE
a. Memahami, mematuhi dan mensosialisasikan HSE requirement yang berlaku di lingkungan proyek kepada pekerja lapangan.
b. Memastikan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur dan mematuhi persyaratan HSE.
c. Memastikan dokumen HSE telah lengkap sebelum pelaksanaan pekerjaan.
d. Memastikan area/lingkungan dan cara kerja telah aman sebelum pekerjaan dilaksanakan.
e. Melalukan orientasi atau induksi terkait HSE yang berlaku dan di pwrsyaratkan oleh pemberi kerja kepada pekerja yang terkait di pelaksanaan pekerjaan ini.
f. Memastikan peralatan yang akan digunakan telah diperiksa dan dinyatakan aman untuk dioperasikan.
g. Memberikan laporan setiap kejadian yang berkaitan dengan HSE kepada SM.
h. Ikut serta dalam investigasi kecelakaan (bila terjadi).
8.4 Admin Proyek
a. Menyiapkan dokumen - dokumen dalam pelaksanaan proyek ini
b. Berkoordinasi dengan tim lain dalam pengiriman dokumen - dokumen proyek c. Mengupdate progress pekerjaan kepada pihak Owner / CLient
8.5 Seluruh Pekerja
a. Mematuhi aturan dan prosedur HSE yang ada dan menyesuaikan pekerjaan dengan prosedur/instruksi kerja yang ada.
b. Memakai, dan memastikan kondisi APD, perlengkapan dan peralatan yang digunakan di pekerjaan telah sesuai dan dirawat dengan baik.
c. Menghadiri induksi/training/meeting/breafingkeselamatan yang diadakan terkait pelaksanaan pekerjaan.
d. Memahami prosedur kondisi darurat yang ada.
e. Bertanggung jawab akan keselamatan diri sendiri dan teman sekerja serta memperhatikan kondisi lingkungan kerja.
f. Selalu memberikan kontribusi yang positif untuk melakukan pekerjaan secara aman.
g. Melaporkan kepada pengawas bila menemukan kondisi tak aman di lokasi pekerjaan.
h. Melaporkan kerusakan yang ada secara langsung kepada pengawas pekerjaan.
i. Hanya mengoperasikan peralatan yang dikuasai atau melakukan pekerjaan yang sesuai dengan tugas yang diberikan atasan.
j. Melaporkan seluruh insiden atau cedera yang dialami sendiri atau yang terjadi di lokasi kerja.
9. PRINSIP RENCANA HSE 9.1 Perencanaan HSE
Rencana kebijakan, tujuan dan sasaran HSE mencakup hal‐hal berikut : a. Lokasi dan kondisi tempat kerja
b. Identifikasi pekerjaan
c. Mengidentifikasi karakter semua bahaya, karakter operasi alat‐alat kerja, kendaraan dan semua jenis peralatan lain di lokasi kerja.
d. Penyediaan prosedur kerja
e. Ketaatan terhadap peraturan HSE
9.2 Implementasi HSE
Untuk memastikan rencana HSE tersebut dilaksanakan dengan efektif, organisasi akan dikembangkan dengan kemampuan dan sistem pendukung yang diperlukan agar tercapainya tujuan dan sasaran serta kebijakan HSE. Hal ini mencakup:
a. Organisasi
b. Perilaku safety dengan adanya aspek safety di setiap pertemuan.
c. Penyediaan sumber daya : orang, material, peralatan, fasilitas dan keuangan.
d. Inspeksi peralatan.
9.3 Evaluasi dan Perbaikan
Organisasi harus dapat mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja HSE, serta mengambil tindakan preventif dan korektif, dengan menggunakan teknik‐teknik berikut:
a. Kinerja HSE
b. Rekomendasi untuk tindakan korektif
Organisasi harus secara teratur meninjau dan terus meningkatkan Sistem Manajemen HSE, dengan tujuan meningkatkan kinerja HSE nya.
10.RENCANA TANGGAP DARURAT
Keadaan darurat adalah peristiwa yang tidak direncanakan yang dapat menyebabkan kematian atau cedera
signifikan yang dapat terjadi pada seluruh pekerja atau yang dapat mematikan operasi, mengganggu operasi, menyebabkan kerusakan fisik atau lingkungan, atau dapat mengancam bisnis perusahaan atau citra publik. Prosedur tanggap darurat yang dibuat untuk dapat menangani tindakan evakuasi, menentukan dan merencanakan jenis tindakan darurat, membuat rujukan dan tanggung jawab untuk semua personil yang terlibat. Prosedur tanggap darurat disusun dalam prosedur selanjutnya.
Simulasi tanggap darurat dilaksanakan untuk mengetes seberapa siap, Emergency Responsible Plan ( ERP ), Emergency Respon Team yang telah ditetapkan (Struktur ERT) dan pelaksanaan simulasi yang dilaksanakan pada masing‐masing paket pekerjaan serta laporan hasil simulasi tanggap darurat harus dilaporkan ke PT. Krakatau Daya Listrik.
11.PELAPORAN INSIDEN
11.1 Pengukuran Recordable Injury dan Illness Experience Lost Time Injury (LTI)
Adalah jumlah kecelakaan yang terjadi yang menyebabkan pekerja yang bersangkutan tidak dapat masuk kerja setelah 24 jam sejak berakhirnya waktu kerja pada saat kejadian. Incident rate ini didasarkan pada jumlah total kasus, yang mengakibatkan kematian ditambah jumlah kasus kecelakaan yang menyebabkan hilangnya hari kerja, sebagaimana didefinisikan sebelumnya yang terjadi selama periode tertentu. Rumus LTI sebagai berikut :
��. �� ��������
����= �����
�����
�1.000.000
Catatan : jumlah kasus pada bukan hari kerja tidak dihitungRecordable Injury / Illness Rate: RIR / (IR)
Tingkat insiden ini didasarkan pada jumlah total kasus, sebagaimana didefinisikan, yang terjadi selama periode tertentu. Rumus RIR sebagai berikut :
��� = ��.
����� �1.000.000
����� ��������
�����
Catatan : jumlah kasus pada bukan hari kerja tidak dihitung Total Sickness Absence Frequency (TSAF)
Adalah jumlah hari ketidakhadiran karyawan karena sakit dibagi dengan jumlah hari kerja diperiode bulan berjalan. Tingkat insiden ini didasarkan pada jumlah total absen sakit frekuensi (hari), seperti yang didefinisikan; yang terjadi selama periode tertentu. Rumus TSAF sebagai berikut :
��� = ��.
���������
�1.000.000
Catatan : jumlah hari di luar hari kerja (termasuk cuti) tidak dihitung 11.2 Tindakan Segera Saat Terjadi Insiden
SM dan HSE akan membentuk alur komunikasi keadaan darurat, yang meliputi PM dan HSE PT Krakatau Daya Listrik, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), pelayanan kesehatan rujukan, dinas pemadam kebakaran dan kepolisian setempat. Informasi pertama keadaan darurat harus singkat dan menunjukkan pada sifat dan keseriusan kecelakaan, perkiraan keparahan, dan kebutuhan untuk bantuan dari rumah sakit/pelayanan kesehatan rujukan, dinas pemadam kebakaran, dan lain‐lain.
Lokasi dan nomor telepon darurat harus terpasang di lokasi pekerjaan. Ketika kecelakaan/ kondisi darurat terjadi, alur komunikasi darurat harus terlaksana dengan baik. Namun sebelumnya, alur komunikasi dan organisasi tanggap darurat harus diinduksikan ke seluruh pekerja.
Dalam kasus cedera, P3K harus diberikan kepada orang yang terluka. Ketika cedera serius terjadi, diperlukan ambulans atau kendaraan lain untuk mengangkut korban ke lokasi rujukan.
Ketika terjadi kasus kebakaran, pekerja yang berada di sekitar lokasi kebakaran menghentikan pekerjaannya dan segera menuju lokasi aman. Selanjutnya petugas fire fighting memadamkan titik api sebelum petugas pemadam kebakaran dari dinas pemadam kebakaran setempat tiba.
Ketika terjadi ledakan, karena ada kemunginan ledakan lain, semua pekerja di sekitarnya berhenti bekerja, matikan seluruh peralatan dan segera menuju titik kumpul aman, dan selanjutnya menunggu instruksi lebih lanjut.
Jika kecelakaan melibatkan kematian, LTI, atau sakit atau kerusakan serius pada peralatan seperti proses, fasilitas atau peralatan karena kebakaran, ledakan atau bencana alam, SM harus melaporkan ke PM, HSE PT Krakatau Daya Listrik, dan jika diperlukan kepolisian setempat.
11.3 Pelaporan Insiden
Laporan Insiden dilaporkan oleh SM maksimal 1x24 jam dan laporan hasil investigasi dicatat dan dilaporkan maksimal 2x24 jam pada hari setelah kejadian.
Semua penyelidikan, informasi, rekomendasi dan pelaksanaan rekomendasi, dll, mengenai kecelakaan harus dicatat dan terdata di Kantor Lokasi Pekerjaan, disusun secara sistematis dan berurutan.
Dokumentasi kecelakaan mencakup, namun tidak terbatas pada : a. Informasi utama (Informan, Tanggal, Waktu dan penerima informasi) b. Tindakan pertama yang diambil
c. Pembentukan tim investigasi d. Rekam wawancara
e. Risalah pertemuan investigasi kecelakaan f. Rekomendasi perbaikan
g. Masukan Top Management PT. Krakatau Daya Listrik 12.PROGRAM‐PROGRAM HSE
12.1 Training HSE
Program training HSE merupakan bagian penting untuk menumbuhkan pemahaman seluruh pekerja terhadap Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan. Training HSE harus diikuti oleh seluruh pekerja yang terlibat di proyek dan dapat dilaksanaan di dalam induksi HSE. Adapun isi training HSE ini adalah :
a. Kemampuan / kompetensi melakukan pekerjaan sesuai prosedur aman.
b. Memberitahukan tugas dan tanggung jawab masing‐masing pekerja.
c. Kemampuan untuk menganalisa tugas penting/ kritis
d. Kemampuan menganalisa kondisi dan perilaku tidak aman dan bagaimana cara mengatasinya e. Pelaporan insiden
f. Pengamanan kebakaran dan pertolongan pertama pada kecelakaan
Simulasi keadaan darurat adalah kegiatan khusus untuk mengkaji kesigapan pekerja bila suatu ketika mereka menghadapi kondisi darurat yang bisa terjadi sewaktu‐waktu di lokasi kerja dan sekitarnya. Selain itu, kegiatan simulasi keadaan darurat dilakukan untuk memastikan apakah pekerja telah memahami prosedur tanggap darurat dan melaksanakannya sesuai prosedur tersebut. Dalam proyek ini dapat dilakukan simulasi keadaan darurat bersamaan dengan induksi K3.
Rencana Training Yang Akan Diberikan Kepada Pekerja : Training Basic Safety : Semua Pekerja Project Training First Aid : Staff PT. KGA
Training Fire Fighting : Supervisor,Tim Pemadam Kebakran (ERT) 12.2 Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk pekerja sebagai pelaksana pekerjaan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh dokter atau klinik atau pusat kesehatan yang dapat memeriksa kesehatan personal dengan jenis pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit sebelumnya. SM memastikan sebelum pekerjanya melaksanakan pekerjaan, pekerja dalam keadaaan sehat sehingga aman untuknya bekerja di lokasi pekerjaan. Contoh hasil pemeriksaan pekerja dapat dilihat pada Lampiran 9.
12.3 Inspeksi Peralatan
Inspeksi peralatan berdasarkan langkah pekerjaan dilakukan oleh pekerja yang memahami mengenai alat kerja yang akan diinspeksi. Inspeksi bertujuan untuk meminimalkan risiko kecelakaan akibat gagal atau tidak berfungsi dengan baik nya peralatan kerja. Form inspeksi peralatan yang dipakai di dalam pelaksanaan pekerjaan .
12.4 Alat Pelindung Diri (APD)
APD yang tepat dan sesuai dapat memberikan perlindungan yang maksimal terhadap penggunanya.
Selain itu APD juga disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan agar tidak membatasi pergerakan saat bekerja namun juga tidak menurunkan unsur proteksi dari APD itu sendiri.
Misalnya, APD untuk tim welder pasti berbeda dengan tim galian. APD lebih terperinci untuk tiap tim, pekerjaan dan lokasi kerja akan disebutkan di JSA pekerjaan. APD untuk mata, kepala, wajah dan ekstremitas harus disediakan untuk semua personil, dan dipelihara dengan baik dan dijaga sanitasinya. Pada dasarnya, APD standar yang dipakai di pekerjaan proyek adalah :
a. Safety helmet (warna putih) untuk Pengawas b. Safety helmet (warna kuning) untuk Mekanikal c. Safety helmet (warna kuning) untuk crew Sipil d. Safety helmet (warna merah) untuk safety e. Safety shoes
f. Safety vest dengan scotchlite putih Safety Helmet
Helm keselamatan adalah salah satu persyaratan APD yang umum dan harus digunakan selama berada di tempat kerja. Helm keselamatan melindungi bagian kepala pekerja dari kejatuhan benda keras atau mencegah terbenturnya kepala dengan benda keras.
Safety Shoes
Sepatu keselamatan yang dipakai sebagai APD di lokasi pekerjaan dilengkapi dengan steel toe untuk pekerjaan penggalian. APD ini harus selalu dipakai selama berada di lokasi pekerjaan.
Tidak menggunakan alas kaki atau menggunakan sendal tidak diperkenankan saat pekerja melakukan pekerjaan di
lokasi kerja.
Sepatu keselamatan mencegah kaki pekerja dari kejatuhan benda keras, terpapar/tertusuk benda tajam di kaki atau terpapar zat lain yang berbahaya yang mungkin ada di lokasi kerja.
Safety Romp
Rompi keselamatan digunakan saat melakukan aktivitas pekerjaan di lokasi pekerjaan, terutama di lokasi penggalian di pinggir jalan yang dilintasi kendaraan. Rompi keselamatan yang dilengkapi dengan scotchlite akan memudahkan pekerja terlihat oleh orang lain atau pengendara yang melewati lokasi pekerjaan.
Pelindung Pendengaran
Pada area yang memiliki tingkat kebisingan di atas 85 dB, pekerja yang berada di lokasi tersebut harus menggunakan alat pelindung pendengaran, berupa ear plug/ear muff yang mampu menurunkan level kebisingan sehingga mampu diterima pekerjaa. Pekerjaan yang berpotensi terhadap bahaya kebisingan antara lain :
a. Pekerjaan Grinding b. Pekerjaan Gas In c. Pekerjaan Pembevelan
d. Pekerjaan di Area Kompresor Pelindung Pernafasan
Gunakan alat pelindung pernafasan sesuai dengan karakteristik bahaya pada proses pekerjaan atau di tempat kerja. Alat pelindung pernafasan seperti masker debu dipakai saat pekerja melaksanakan pekerjaan di lokasi yang banyak pajanan debunya. Sedangkan alat pelindung pernafasan seperti masker gas yang dilengkapi penyaring catridge dipakai saat melakukan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan paparan gas beracun.
Pelindung Tangan
Sarung tangan atau gloves merupakan salah satu APD yang digunakan sesuai dengan karakteristik risiko bahaya dari pekerja. Sarung tangan dengan dot karet digunakan saat melakukan pekerjaan yang kontak langsung dengan peralatan mudah slip. Dot karet berfungsi untuk menghindari benda yang dipegang/digunakan oleh pekerja terlepas dari pegangannya. Sarung tangan las atau gerinda digunakan pada saat melakukan pekerjaan pengelasan dan penggerindaan. Sarung tangan rigging (leather hand gloves) digunakan oleh rigger saat melaksanakan pekerjaannya.
Pelindung Mata dan Muka
Semua pekerjaan yang dinilai membahayakan terhadap mata dan/atau wajah, misalnya pekerjaan mengelas, pemotongan aspal dengan mesin pemotong aspal, field joint coating, menggerinda, menggunakan mesin brush, menggunakan bahan kimia dan lainnya, harus menggunakan alat pelindung wajah dan/atau mata.
1. Pengertian APD
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan istilah lain dari Personal protective equipment‐PPE adalah peralatan yang akan melindungi pengguna terhadap risiko kesehatan atau keselamatan di tempat kerja. Hal ini dapat
mencakup item seperti helm pengaman dan helm, sarung tangan, pelindung mata, pakaian visibilitas tinggi, sepatu pengaman dan perlengkapan keselamatan.
Gambar 1. Alat Pelindung Diri (APD)
Mendengar perlindungan dan alat pelindung pernafasan yang disediakan untuk kebanyakan situasi kerja tidak tercakup oleh peraturan ini karena ada peraturan yang lebih spesifik lainnya yang berlaku untuk mereka. Namun, item ini harus kompatibel dengan PPE lain yang disediakan.
Undang‐Undang Ketenagakerjaan tahun 1989 memberikan pengecualian untuk mengenakannya saat bekerja di lokasi konstruksi dari kebutuhan untuk memakai pelindung kepala.
2. Peraturan yang dibutuhkan
APD harus digunakan sebagai upaya terakhir. Dimanapun ada risiko terhadap kesehatan dan keselamatan yang tidak dapat dikontrol secara memadai dengan cara lain, Alat Pelindung Diri pada Peraturan Kerja 1992 membutuhkan APD yang harus diberikan.
Peraturan yang juga diharuskan oleh PPE adalah:
dinilai baik sebelum digunakan untuk memastikan hal itu sesuai dengan tujuan;
dipelihara dan disimpan dengan benar;
dilengkapi dengan petunjuk tentang cara menggunakannya dengan aman;
digunakan dengan benar oleh karyawan.
3. Bahaya dan jenis APD / PPE Mata
Bahaya : Kimia atau percikan logam , debu , proyektil , gas dan uap , radiasi.Pilihan:
kacamata keselamatan , kacamata , wajah ‐ perisai , visor .
Catatan : Pastikan pelindung mata memiliki kombinasi yang tepat dari dampak / debu / splash /
logam pelindung mata cair untuk tugas dan cocok pengguna benar . Kepala
Bahaya : Dampak dari jatuh atau terbang benda , risiko menabrak kepala , belitan rambut . Pilihan : Berbagai helm , topi keras dan topi .
Catatan: Beberapa helm pengaman menggabungkan atau dapat dilengkapi dengan mata yang dirancang khusus atau perlindungan pendengaran . Jangan lupa perlindungan leher , misalnya syal untuk digunakan selama pengelasan . Jangan gunakan perlindungan kepala jika sudah rusak ‐ menggantinya .
Pernafasan
Bahaya : Debu , uap , gas , kekurangan oksigen atmosfer .
Pilihan: Disposable filtering face ‐piece atau respirator , setengah atau full‐face respirator , helm airfed , pernapasan.
Catatan : Jenis kanan respirator filter harus digunakan karena masing‐masing efektif untuk hanya kisaran zat terbatas . Dimana ada kekurangan oksigen atau bahaya kehilangan kesadaran karena paparan tingkat tinggi asap yang berbahaya , hanya menggunakan alat bantu pernapasan ‐ tidak pernah menggunakan kartrid penyaringan . Filter hanya memiliki hidup yang terbatas , ketika menggantikan mereka atau bagian lain , periksa dengan petunjuk produsen dan memastikan bagian pengganti yang benar digunakan. Jika Anda menggunakan alat pelindung pernafasan , melihat publikasi peralatan pelindung pernapasan HSE di tempat kerja : Sebuah panduan praktis.
Melindungi tubuh
Bahaya : Suhu ekstrem , cuaca buruk , bahan kimia atau percikan logam , semprotan dari tekanan atau kebocoran senjata semprot , dampak atau penetrasi , debu yang terkontaminasi , pakaian yang berlebihan atau belitan pakaian sendiri .
Pilihan: Konvensional atau pakai overall , jas boiler , pakaian pelindung khusus , misalnya celemek chain ‐mail , pakaian visibilitas tinggi .
Catatan : Pilihan bahan termasuk tahan api , anti ‐ statis , surat berantai , kimia kedap air , dan visibilitas tinggi . Jangan lupa perlindungan lain , seperti memanfaatkan keamanan atau jaket .
4. Syarat‐syarat Alat Pelindung diri
a. Pakaian kerja harus seragam mungkin dan juga ketidak‐nyamanannya harus yang paling minim.
b. Pakaian kerja harus tidak mengakibatkan bahaya lain, misalnya lengan yang terlalu lepas atau ada kain yang lepas yang sangat mungkin termakan mesin.
c. Bahan pakaiannya harus mempunyai derajat resistensi yang cukup untuk panas dan suhu kain sintesis (nilon, dll) yang dapat meleleh oleh suhu tinggi seharusnya tidak dipakai.
d. Pakaian kerja harus dirancang untuk menghindari partikel‐partikel panas terkait di celana, masuk di kantong atau terselip di lipatan‐lipatan pakaian.
e. Harus memberikan perlindungan yang cukup terhadap bahaya yang dihadapi tenaga kerja/sesuai dengan sumber bahaya yang ada.
f. Tidak mudah rusak.
g. Tidak mengganggu aktifitas pemakai.
h. Mudah diperoleh dipemasaran.
i. Memenuhi syarat spesifik lain.
j. Nyaman dipakai.
5. Alat‐alat pelindung anggota badan
Badan kita terdiri dari beberapa bagian, semuanya itu harus terlindung diwaktu melaksanakan pekerjaan.
Alat‐alat pelindung bagian adalah sbb:
a. Alat Pelindung Mata, Mata harus terlindung dari panas, sinar yang menyilaukan dan juga dari debu.
Gambar 2. Kacamata Debu
Gambar 3. Kacamata Las Listrik
b. Alat Pelindung Kepala, Topi atau helm adalah alat pelindung kepala bila bekerja pada bagian yang berputar, misalnya bor atau waktu sedang mengelas, hal ini untuk menjaga rambut terlilit oleh putaran bor atau rambut terkena percikan api.
Gambar 4. Alat Pelindung Kepala Syarat Helm
1) Tahan benturan 2) Meredam kejutan
3) Anti air dan tidak mudah terbakar mudah disesuaikan Jenis‐Jenis Helm:
1) Kelas A, yaitu helmet untuk keperluan umum 2) Kelas B digunakan pada lingkungan kerja listrik
3) Kelas C helm melindungi dari panas
4) Kelas D adalah helmet dengan daya tahan yang kecil terhadap api Gambar 5. Helm sebagai pelindung kepala
c. Alat pelindung telinga, Untuk melindungi telinga dari gemuruhnya mesin yang sangat bising juga penahan bising dari letupan‐letupan.
Gambar 6. Alat Pelindung Telinga Jenis:
1) jenis yang dimasukkan kedalam lubang telinga (Single‐Use earplugs) 2) jenis yang menutup seluruh telinga.
d. Alat pelindung hidung, Adalah alat pelindung hidung dari kemungkinan terhisapnya gas‐gas beracun. Respirator berbagai jenis, terdapat juga jenis :
1) Masker Standar ( biasa / kain ) 2) Respirator permurni udra
3) Respirator yang dihubungkan dengan supplay udara bersih 4) Respirator yang dilengkapi dengan supplay oksigen
Gambar 7. Alat Pelindung Hidung
e. Alat Pelindung Tangan, Alat ini terbuat dari berbagai macam bahan disesuaikan dengan kebutuhannya, antara lain:
1) Sarung tangan kain, digunakan untuk memperkuat pegangan supaya tidak meleset.
2) Sarung tangan asbes, digunakan terutama untuk melindungin tangan terhadap bahaya panas.
3) Sarung tangan kulit, digunakan untuk melindungi tangan dari benda tajam pada saat mengangkat suatu barang.
4) Sarung tangan karet, digunakan pada waktu pekerjaan pelapisan logam, seperti vernikel, vercrhoom dsb. Hal ini untuk mencegah tangan dari bahaya pembakaran asam atau kepedasan cairan.
Gambar 8. Macam‐macam Sarung Tangan
e. Alat Pelindung Kaki, untuk menghindarkan tusukan benda tajam atau terbakar oleh zat kimia. Terdapat dua jenis sepatu yaitu pengaman yang bentuknya seperti halnya sepatu biasa hanya dibagian ujungnya dilapisi dengan baja dan sepatu karet digunakan untuk menginjak permukaan yang licin, sehingga pekerja tidak terpeleset dan jatuh.
Gambar 9. Sepatu Kerja
g. Alat Pelindung Badan, Alat ini terbuat dari kulit sehingga memungkinkan pakaian biasa atau badan terhindar dari percikan api, terutama pada waktu menempa dan mengelas. Lengan bajujangan digulung, sebab lengan baju yang panjang akan melindungi tangan dari sinar api.
Gambar 10. Alat Pelindung Badan 5) SCBA ( Self Confined Space Britis Aparatus )
Digunakakan untuk kondisi dalam ruangan terbatas, yang diindikasikan kadar O2 rendah, serta kondisi tempat / area kerja tidak dimungkinkan mengunakan masker biasa bagi pekerja
12.5 Sosialisasi dan Komunikasi HSE Induksi HSE
Induksi HSE dilakukan kepada pekerja yang terlibat di pekerjaan proyek. Induksi HSE dilakukan di awal sebelum pekerjaan dilakukan oleh pekerja. Pekerja yang telah mendapatkan induksi HSE akan terlampir nama‐namanya dalam formulir kehadiran induksi HSE. Program induksi HSE mencakup, namun tidak terbatas pada identifikasi pekerja, aturan dasar HSE, APD, tanggap darurat, peraturan HSE PT. Krakatau Daya Listrik, pencegahan/perlindungan kebakaran, pertolongan pertama pada kecelakaan, tindakan yang diambil pada keadaan darurat seperti kebakaran / kecelakaan. Adapun format laporan atau bukti sosialisasi/ induksi K3 pada seluruh pekerja dapat dilihat pada Lampiran 8.
Toolbox meeting
Toolbox meeting dilakukan sebelum pekerjaan dilaksanakan. Toolbox meeting dipimpin oleh HSE Inspector. Di dalam meeting ini dijelaskan apa pekerjaan yang akan dilaksanakan pada hari ini, bagaimana prosedur aman dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut, bahaya yang mungkin ada atau timbul saat pelaksanaan pekerjaan, dan bagaimana cara mengatasi bahaya‐bahaya tersebut. Form toolbox meeting dapat dilihat pada Lampiran 8.
Meeting HSE dan Safety Patrol
Meeting K3 atau Rapat K3 dilaksanakan sesuai jadwal yang program HSE PT. Krakatau Daya Listrik, Rapat tersebut dilaksanakan untuk membahas msalah‐masalah terkait K3 yang timbul selama pekerjaan dilaksanakan, kemudian dibahas bagaimana agar bahaya yang ada dapat diminimalisir.
Selanjutnya juga dibahas temuan di lapangan dan antisipasi yang akan dilakukan untuk menekan bahaya di lapangan.
HSE Commite Meeting
Dilaksanakan 3 bulan sekali bersama semua mitra kerja tiap paket perkerjaan masing‐masing untuk pembahasan progrees pekerjaan HSE selama proyek berjalan.
12.6 HIRA & Observasi Keselamatan HIRA dan Observasi
Observation adalah salah satu alat untuk mengekang/menekan risiko‐risko yang ada di lokasi kerja. Observasi terdiri atas 3 tingkat keparahan (severity), yaitu 1.High (Bahaya sangat tinggi, segera hentikandan perbaiki, karena dapat mengakibatkan kematian)), 2. Medium (Bahaya yang tinggi, hentikan pekerjaan dan perbaiki segera karena bisa mengakibatkan kecelakaan cedera berat), 3 Low (Pelanggaran Peraturan Adapun Form Pelaporan Observasi dapat dilihat pada Lampiran 7.
12.7 Analisa Keselamatan Kerja / Job Safety Analysis (JSA)
JSA merupakan satu bentuk tindakan preventive atau pencegahan dini terhadap terjadinya kecelakaan yang mungkin timbul di lokasi pekerjaan proyek. JSA disusun berdasarkan step‐step pekerjaan dan disesuaikan dengan lokasi dan waktu pelaksanaan pekerjaan. JSA berisi tentang pekerjaan, bahaya yang mungkin timbul dan bagaimana cara kita mencegah atau meminimalisasi bahaya tersebut sehingga tidak menjadi risiko terhadap pekerja. JSA disusun sebagai syarat penerbitan izin kerja. JSA disusun dengan melibatkan personil yang ahli dalam bidang tugasnya, seperti sipil, konstruksi dan QA/QC. JSA dilegalkan sesuai sesuai alur yang dijelaskan di prosedur JSA yang ada.
Terdapat 4 (elemen) penting dalam JSA, yaitu :
a. Menganalisa pekerjaan
Agar dalam pelaksanaan JSA diperoleh hasil yang efektif, maka dibuat prioritas dengan kriteria frekuensi pekerjaan, berpotensi menimbulkan cedera, pekerjaan baru dan pekerjaan yang dimodifikasi.
b. Menjabarkan pekerjaan dalam langkah‐langkah pekerjaan Merinci setiap langkah pekerjaan dengan jelas dan ringkas.
c. Identifikasi bahaya
Setelah menjabarkan pekerjaan, kaji ulang setiap langkah untuk mengidentifikasi dan menilai potensi bahaya dalam tiap langkah pekerjaan.
d. Membangun penyelesaian
Setelah bahaya teridentifikasi, tentukan tindakan pengendalian/pengurangan untuk menghilangkan atau mengurangi potensi risiko dari bahaya yang teridentifikasi tersebut.
Format JSA dapat dilihat pada Lampiran 09.
12.8 Izin Kerja / Permit to Work
Izin kerja adalah dokumen tertulis yang dikeluarkan oleh PT. Krakatau Daya Listrik untuk pelaksanaan pekerjaan. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, PT Krakatau Daya Listrik akan mengajukan izin kerja dengan JSA terlampir. Dalam pekerjaan customer attachment ini memakai izin kerja antara lain, namun tidak terbatas pada :
a. Izin kerja panas (Lampiran 11) b. Izin kerja dingin (Lampiran 11)
c. Izin memasuki ruang terbatas (Lampiran 11) 12.9 Inspeksi Tempat Kerja dan Housekeeping
Sebagai upaya pemeliharaan kinerja HSE guna tercapainya target dan sasaran maka dilakukan program pemeriksaan atau inspeksi.
Selain pemeriksaan tersebut, kebersihan tempat kerja (housekeeping) merupakan salah satu penunjang kenyamanan bekerja. Sampah dari sisa pekerja ditempatkan dalam tempat penyimpanan sampah yang sesuai. Sampah yang mengandung B3, seperti majun yang digunakan mengelap oli, harus diletakkan terpisah di tempat khusus. Pembuangan limbah B3 harus disesuaikan dengan rekomendasi pengelolaan limbah B3 yang ada. Bahan‐bahan mudah terbakar harus disimpan di tempat teduh dan terbebas dari sumber panas. B3 dan Limbah B3 akan di‐kelola sesuai dengan aturan yang ada di PT. Krakatau Daya Listrik Setelah selesai pekerjaan, tempat kerja harus bersih kembali.
Hal tersebut sebagai upaya mencegah dampak negatif dari lingkungan masyarakat sekitar lokasi pekerjaan proyek.
12.10Pencegahan Kebakaran
Dalam pencegahan kejadian kebakaran atau ledakan, pekerja harus mampu mengidentifikasi faktor‐
faktor yang memiliki risiko untuk menimbulkan kebakaran di dalam proses pelaksanaan pekerjaan dan faktor lain dari lingkungan kerja. Pencegahan kebakaran dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Pengaturan peletakan bahan mudah terbakar
b. Pengaturan alat atau bahan yang menimbulkan titik api
c. Penyediaan APAR di lokasi kerja yang berpotensi adanya kebakaran d. Pemahaman pekerja tentang ERP dan ERT
12.11Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan yang akan dipantau pada tahap konstruksi meliputi komponen kebisingan sesaat dan dilaporkan dalam laporan bulanan HSE. Pemantauan kualitas air dan udara dilakukan setiap 6 bulan sekali.
12.12Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Pengelolaan B3 dengan melakukan : a. Identifikasi B3 yang digunakan.
b. Memastikan setiap material yang akan digunakan dilengkapi dengan Material Safety Data Sheet (MSDS).
c. Melengkapi penyimpanan B3 cair seperti solar, oli, dll dengan fasilitas penampung tumpahan sementara.
LEMBAR KEGIATAN PENYIMPANAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PT KRAKATAU DAYA LISTRIK
PERIODE : Bulan
JENIS LIMBAH B3 YANG DIHASILKAN LIMBAH B3 DARI TPS SIS
A Maksimal
No. Jenis
Limba Tanggal Masuk
Sumbe
r Jumla
h
penyimpana n s/d
Tangga l Keluar
Jumla h
Tujuan Penyeraha
Bukti
Nomor Sisa
LB3
h B3 Limbah Limbah Limba tanggal: Limbah Limba n Dokume yang
Masuk B3 B3 h B3 (t=0 + 90 hr, h B3 n (3) ada
Masuk 180 hr) (2) di
TPS
(A) (B) (C) (D) (E) (F) (G) (H) (I) (J) (K)
1 2
12.13 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3)
Dalam pengelolaan LB3, hal – hal yang akan dilakukan sebagai berikut:
a. Melengkapi penyimpanan LB3 cair seperti solar, dll dengan fasilitas penampung tumpahan sementara
b. Membuang LB3 yang dihasilkan kepada pengolahan limbah B3 yang berizin c. Menyusun laporan logbook B3
12.14 Pengelolaan Sampah Domestik dan Sampah Proyek
Dalam pengelolaan sampah, hal – hal yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Memiliki bak sampah domestik
b. Membuang sampah domestik ke tempat pengumpul sampah terdekat dari proyek c. Mengumpulkan sampah proyek dan membuangnya pada tempat pembuangan
sampah akhir resmi pemerintah
12.15 Laporan Pelaksanaan UKL‐UPL atau RKL – RPL
Laporan akan mengacu pada Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan – Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL – UPL) atau Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan – Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL‐RPL) yang disepakati berlaku pada proyek ini.
12.16 Laporan Kinerja SHE Laporan Mingguan
Laporan Mingguan dilakukan di awal minggu setelahnya. Laporan mingguan berisi jumlah insi dengan, lost time injury, jam kerja aman, serta pelaporan RCA dan observasi keselamatan yang dilakukan pada minggu sebelumnya
Laporan Bulanan
Laporan Bulanan K3 dilaporkan diawal bulan setelahnya. Laporan bulanan merupakan resume seluruh hasil kegiatan HSE selama sebuan proyek berjalan.
Laporan bulanan K3 tersebut berisi jumlah kematian dan kecelakaan, jumlah hilangnya hari kerja akibat kecelakaan, nearmis dan first aid, kecelakaan kendaraan, total jarak tempuuh aman, ketidakhadiran karena sakit, total hari kerja, total jam kerja dan total jam kerja aman.
13. KESELAMATAN PEKERJAAN INSTALASI KABEL TRAY
Pelaksanaan pekerjaan merupakan bagian yang penting dalam proyek konstruksi, hal ini berkaitan dengan proses instalasi equipment, . Pekerjaan kabel tray dilakukan di area PT Geo Dipa Energi, ter‐ dapat beberapa potensi sumber bahaya dalam pekerjaan instalasi kabel tray.
Terutama pekerjaan
ini termasuk bagian dari pekerjaan Hot Work akan menjadi concern oleh PT Krakatau Daya Listrik sebagai kontraktor untuk pelaksanaannya menggunakan Alat Pelindung Diri dan Safety Tools yang sesuai. Berikut ini peralatan safety khusus yang akan disiapkan dalam pelaksanaan pekerjaan insta‐
lasi kabel tray seperti APAR, Fire Blanket, kedok las, Masker Welder, Sarung Tangan Welder, safety line/ barricade.
Karena di lokasi pekerjaan terdapat potensi bahaya gas berbahaya maka akan disiapkan gas detec‐
tor pada saat pelaksanaannya.
14. KESELAMATAN PEKERJAAN INSTALASI KABEL KONTROL
Dalam pelaksanaan pekerjaan instalasi kabe kontrol ada beberapa hal yang perlu dimitigasi sebab berkaitan dengan keselamatan dari pekerja dan keamanan dari material.
Akan disiapkan alat khusus berupa drum jack yang berfungsi untuk menaruh kabel sebelum proses penggelaran kabel kontrol. Setiap personel yang bekerja dalam instalasi kabel kontrol ini akan menggunakan Alat Pelindung Diri yang sesuai terutama ini berkaitan dengan potensi energi listrik. Setiap personel akan menggunakan sarung tangan katun saat proses penarikan kabel tetapi akan
menggunakan sarung tangan insulation ketika melakukan pekerjaan terminasi dan koneksi.
Guna menjamin zero kesalahan dalam proses penarikan terminasi dan koneksi selain ada pen‐ gawasan dari pihak safety nantinya pelaksana pekerjaan akan dibekali dengan drawing P&ID, cable schedule dan Layout Tray Kabel. Setiap proses penarikan dan progressnya akan di mark up pada drawing sehingga dapat dievaluasi oleh suppervisor dan pihak PT Geo DIpa Energi.
Selain itu seperti halnya saat pekerjaan instalasi kabel tray dari pihak safety akan menyiapkan gas
detector sebagai alat untuk penanda ketika terdapat lokasi yang mempunyaia kadungan H2O melebihi batas.