• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Pancasila dan Agama

N/A
N/A
Nuku Marsaoly

Academic year: 2023

Membagikan "Hubungan antara Pancasila dan Agama"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Hubungan antara Pancasila dan Agama

Khadijah Putri Rahmadewi (1906368512)

Abstrak

Di dalam artikel ini, dibahas tentang hubungan atau relasi antara negara dan agama secara umum, dan secara khusus dijelaskan tentang relasi antara agama dan Pancasila.

Bagaimana Pancasila menyatukan Indonesia, alasan mengapa negara dan agama tidak bisa dipisahkan, namun tidak dapat pula salah satu agama berkuasa, terutama di Indonesia. Indonesia sangat menjamin masyarakatnya kebebasan beragama, namun Indonesia tidak menganut agama tertentu untuk menjadi negara agama tersebut.

Kata kunci: Pancasila, agama, Islam, relasi negara dan agama.

I. Pendahuluan

Negara dan agama tidak bisa dipisahkan, namun sebuah negara tidak perlu menjadi negara agama tertentu, bahkan bila suatu agama menjadi mayoritas di dalam negara tersebut. Contohnya Indonesia sendiri, di Indonesia, agama Islam merupakan agama yang mayoritas dianut oleh warga negaranya, namun karena hal itu, Indonesia tidak perlu menjadi negara Islam. Alasan mengapa negara dan agama tidak bisa dipisahkan adalah negara membutuhkan agama sebagai sumber nilai-nilai moral. Di dalam masing- masing agama yang terdapat di suatu negara, khususnya Indonesia yang memiliki enam agama resmi, diajarkan kebaikan-kebaikan atau nilai moral yang akan diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kejujuran, keadilan, kebaikan hati, dan kesetiaan. Di dalam artikel ini, akan dijelaskan lebih lanjut mengenai hubungan negara dan agama, terutama pada nilai-nilainya di Indonesia.

(2)

II. Pembahasan

Indonesia merupakan negara kesatuan. Negara kesatuan yang memiliki semboyan

“Bhinneka Tunggal Ika” berarti “Walau berbeda-beda tetapi tetap satu jua” yang berpegang teguh pada dasar negara yaitu Pancasila. Pancasila dibuat dan diresmikan berdasarkan betapa banyaknya hal-hal yang berbeda di Indonesia. Agama, suku, ras, bahkan bahasa. Maka dari itu, Pancasila dibuat untuk menyatukan itu semua. Tak hanya Pancasila, Hari Sumpah Pemuda ada agar warga negara Indonesia, terutama para pemuda selalu mengingat betapa pentingnya Sumpah Pemuda terhadap negara mereka.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, negara dan agama tidak bisa dipisahkan, terutama dalam masyarakat. Jika di dalam agama Islam, hal ini tertulis di Al-Qur’an surat Al- An’am ayat 162 yang berbunyi :

Katakanlan, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup matiku, adalah untuk Allah, pemelihara alam semesta.

Memang, dalam ayat tersebut tidak dikatakan secara langsung bahwa negara dan agama sangat berkaitan. Namun, bagian “Hidup matiku, adalah untuk Allah, pemelihara alam semesta“ menunjukkan bahwa warga negara yang memeluk agama Islam itu sendiri, tidak bisa memisahkan dirinya dengan agama saat sedang melakukan kegiatan kewarganegaraan. Karena dimana pun ia berada, apapun yang ia lakukan, semuanya untuk Allah, tidak terkecuali.

Begitu pula di Indonesia, agama tidak bisa dipisahkan dari urusan negara. Bahkan, salah satu sumber dibuatnya Pancasila adalah agama. Hal ini disebutkan di buku tulisan Ridwan Lubis yang berjudul Pemikiran Soekarno tentang Islam. Katanya, konsep Pancasila bersumber dari pandangan Soekarno tentang Islam tentang nasionalisme, ketuhanan, musyawarah, dan lain-lain. Bukti lain bahwa Indonesia tidak bisa menelantarkan agama adalah bukti enam agama yang diresmikan sebagai agama resmi negara Indonesia, yaitu Katolik, Islam, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Selain itu, ada pula hukum atau pasal yang melindungi agama untuk menjamin warga negaranya kebebasan beragama dan lembaga-lembaga agama untuk melindungi agama- agama yang ada serta memfasilitasi mereka.

Tetapi, walau pun Indonesia begitu melindungi agama, Indonesia tidak bisa menjadi negara teokrasi. Negara teokrasi adalah negara yang memegang prinsip-prinsip agama sebagai hal yang utama, seperti konstitusi, ideologi, dan peraturan-peraturan lainnya.

Hal ini dikarenakan konsep negara teokrasi sangat bertentangan dengan konsep Pancasila. Karena di dalam negara teokrasi, hanya ada satu agama yang dapat menentukan aturan-aturan yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sedangkan, sila pertama dari Pancasila adalah “Ketuhanan yang Maha Esa“ berarti tidak boleh hanya ada satu agama yang berkuasa. Semua agama sama, dan setiap warga negara berhak memeluk agama yang dianutnya masing-masing.

(3)

Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dikenal sebagai Buya Syafii, merupakan seorang penulis dan ulama Indonesia. Baginya, pola hubungan antara agama dan negara adalah bukan sesuatu yang saling meniadakan. Menurut Buya Syafii, semua agama khususnya Islam, bukanlah semata-mata hanya sebagai kegiatan ibadah atau menyembah saja, namun lebih dari itu. Ilmu-ilmu yang diajarkan agama akan sangat berguna jika diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari di dalam kegiatan sosialisasi di masyarakat.

Walau Buya Syafii adalah ulama, ia tidak setuju dengan gagasan negara Islam. Hal ini karena menurutnya negara Islam tidak mempunyai basis regio-intelektual yang kokoh.

Selain itu, seperti yang sudah disebut sebelumnya bahwa negara teokrasi sangat bertentangan dengan Pancasila.

Menurut Buya Syafii pula, Islam tidak mempermasalahkan nama atau bentuk pemerintahan yang menaungi agama itu, hal yang paling penting adalah bagaimana moral etika dapat berjalan dengan baik di dalam kehidupan bermasyarakat negara tersebut.

Model yang dipegang Pancasila adalah simbiotik. Maksudnya adalah negara dan agama memiliki hubungan yang saling membutuhkan dan memiliki sifat timbal balik. Negara membutuhkan agama sebagai sumber etika dan moral untuk warga negara, sedangkan agama membutuhkan negara untuk menyalurkan ajaran-ajaran mereka untuk diterapkan ke masyarakat.

Hubungan antara negara dan agama memiliki beberapa jenis relasi, yaitu : 1. Negara berdasarkan agama

Negara dan pemegang otoritas, serta aturan-aturan yang berlaku akan dijalankan berdasarkan agama tertentu. Di dalam relasi jenis ini, akan terjadi dua kemungkinan terhadap rakyatnya, yakni, semua rakyat diwajibkan menganut agama resmi negara atau semua rakyat bebas menganut agama sesuai kepercayaan mereka masing- masing.

2. Negara sebagai spirit bernegara

Pada jenis ini, negara tidak secara resmi menganut salah satu agama tertentu, namun nilai-nilai yang ada pada agama menjadi hal yang penting dalam kegiatan penyelenggaraan negara, dan semua rakyat dibebaskan untuk memeluk agama yang mereka anut.

3. Negara sekuler

Di dalam jenis ini, terdapat pemisahan antara negara dan agama. Negara tidak mengurus agama-agama yang terdapat di dalamnya, dan agama tidak pula berkaitan dengan negara yang menaungi mereka.

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya, Indonesia cenderung menerapkan jenis relasi yang kedua, yakni negara sebagai spirit bernegara. Indonesia tidak menganut agama apapun, tetapi Indonesia memiliki prinsip ketuhanan seperti yang tertulis di

(4)

Pancasila, dan Indonesia juga melindungi dan menjamin semua warga negaranya untuk bebas memeluk agama masing-masing.

III. Penutup

Indonesia memiliki banyak keberagaman, seperti suku, bahasa, budaya, dan agama yang disatukan dengan suatu ideologi bernama Pancasila. Di Indonesia sendiri, ada agama yang merupakan mayoritas dan minoritas. Walau begitu, tidak bisa Indonesia menjadi negara yang menganut salah satu agama tertentu. Seperti yang sudah dijelaskan, hal ini dikarenakan itu bertentangan dengan Pancasila, yang merupakan pemersatu bangsa.

Walau begitu, Indonesia tidak bisa menelentarkan begitu saja agama-agama yang ada di dalamnya. Agama berfungsi untuk mengatur etika dan moral suatu bangsa, begitu juga Indonesia. Agama-agama resmi yang ada di Indonesia menjadi sumber nilai-nilai etika dan moral bagi para pemeluknya, yakni rakyat Indonesia itu sendiri. Maka dari itu, negara dan agama tidak dapat dipisahkan. Sebagai mahasiswa dan pemeluk agama tertentu, ada baiknya bila kita selalu menerapkan moral-moral yang diajarkan agama kita ke dalam kehidupan bermasyarakat untuk menjadikan Indonesia negara yang baik, damai, dan sejahtera.

(5)

IV. Referensi

Naupal, Naupal. (2011). WEWENANG NEGARA DALAM BIDANG MORAL: REFLEKSI KRITIS ATAS IDEOLOGI PANCASILA. Jurnal Etika, Vol.3, No.2, November 2011, hal. 199- 209

Sholikin, Ahmad. (2012). PEMIKIRAN POLITIK NEGARA DAN AGAMA “AHMAD SYAFII MAARIF“. Jurnal Politik Muda, Vol.2, No.1, Januari-Maret 2012, hal. 194-203

Asy’ari, Hasyim. (2014). RELASI NEGARA DAN AGAMA DI INDONESIA. Jurnal Rechtsvinding.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pertemuan mereka, para pegiat organisasi ini menyebutkan bahwa Indonesia sebagai contoh negara yang mengakui enam agama resmi yang salah satunya adalah

Madrasah, disamping masjid dan pesantren merupakan salah satu jenis lembaga Pendidikan Islam yang tertua di Indonesia, meskipun sifatnya menganut pemahaman agama

Makna “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam Kehidupan Bernegara Negara Pancasila mengakui tentang ketuhanan, sebagai dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum yang

3. Mempertimbangkan penghapusan term agama negara dan non – negara/ resmi vs tidak resmi. Term lain yang juga mengundang ketidakharmonisan umat beragama adalah term

Malaysia yang menganut Islam sebagai agama resmi negara, sedangkan Indonesia yang menempatkan Islam sebagai agama yang memiliki posisi sama dengan agama-agama lainnya tentu

Sebagai negara yang bermayoritas penduduk agama islam, Pancasila sendiri yang sebagai dasar negara Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh agama yang tertuang dalam

Kesimpulan yang bisa diambil dalam penelitian ini adalah: Pancasila merupakan obyektifikasi dari nilai-nilai universal dalam setiap agama dan kepercayaan, Pancasila

Negara Pancasila berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa • Negara Pancasila menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agama