Setiyani, Ismanto, Ajie | 83
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PENGAMBILAN
KEPUTUSAN KARIER SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 JUWANA
Puji Setiyani1*, Heri Saptadi Ismanto2, Gregorius Rohastono Ajie3
1,2,3Universitas PGRI Semarang
*Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi data penelitian sejumlah 431 siswa, meliputi kelas XI IPS 1, XI IPS 2, XI IPS 3, XI IPS 4, XI IPS 5, XI MIPA 1, XI MIPA 2, XI MIPA 3, XI MIPA 4, XI MIPA 5, XI MIPA 6, XI MIPA 7. Sampel uji coba (try out) sejumlah 36 siswa kelas XI IPS 1. Sedangkan sampel penelitian ini sejumlah 72 siswa yakni XI IPS 3 dan XI MIPA 2, yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala efikasi diri dan skala pengambilan keputusan karier. Berdasarkan hasil uji korelasi pearson product moment, diperoleh nilai korelasi rhitung diperoleh nilai rhitung sebesar 0,719. Sedangkan nilai rtabel untuk jumlah sampel 72 dengan taraf signifikansi 5% sebesar 0,235. Oleh karena itu, nilai rhitung
0,719 > rtabel 0,235 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan secara signifikan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Juwana. Dari hasil pengujian korelasi tersebut menunjukkan hubungan yang positif. Hal ini berarti, semakin tinggi efikasi diri siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pengambilan keputusan karier siswa. Dengan demikian, guru BK dapat memberikan layanan yang dapat membantu meningkatkan efikasi diri siswa, kemudian memahami minat dan bakat siswa dengan memantau perkembangan kariernya, serta mampu berkolaborasi dengan guru kelas agar menumbuhkan keyakinan diri siswa terhadap kemampuan potensi diri.
Kata kunci: efikasi diri, pengambilan keputusan karier, siswa
PENDAHULUAN
Perkembangan sistem pendidikan di Indonesia pada era globalisasi mengalami perubahan yang begitu pesat seperti saat ini yang mana setiap komponen pendidikan
JUBIKOPS: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi
Volume 3 Nomor 2, September 2023, Hal. 83-95
Setiyani, Ismanto, Ajie | 84 saling berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada untuk dapat menyesuaikan perkembangan yang terus terjadi sesuai dengan tuntutan zaman.
Perubahan dalam pendidikan menuntut siswa untuk memiliki kemampuan khusus, agar siswa dapat berkompetisi sesuai dengan potensinya serta tidak sekedar unggul dalam pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi juga harus membekali siswa dengan keyakinan diri sehingga siswa tersebut mampu mengoptimalkan serta mengaktualisasikan potensi atau kemampuannya dengan penuh percaya diri, bertanggungjawab, dan berwawasan luas.
Pada dasarnya pendidikan memiliki peran penting di kemudian hari yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam dunia kerja nantinya (Febriyanti & Aminudin, 2022: 91).
Individu yang memiliki pendidikan tentunya merasa dirinya memiliki potensi untuk mencapai kesejahteraan dalam hidupnya. Pada setiap manusia sejak lahir telah diberikan suatu anugerah kemampuan menggunakan akal, pikiran dan budi pekertinya, sehingga mereka akan mampu menentukan pilihan kariernya kelak baik secara karier akademis maupun jabatan yang cocok dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, serta akan selalu mencoba mengatasi segala hambatan yang diperkirakan akan dijumpai dalam karier yang dipilihnya untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Peserta didik atau siswa adalah generasi muda sebagai penerus dalam kemajuan sebuah bangsa. Mereka perlu dipersiapkan secara matang sebagai generasi agent of change yang mampu mengisi pembangunan agar kelak mampu membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju serta memiliki daya saing dengan bangsa lain. Siswa merupakan bagian dari komponen pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk dapat mengembangkan kemampuan ataupun potensi dalam dirinya secara terus menerus sampai pada tahap jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih tinggi. Dalam hal ini, selain adanya tuntutan tanggung jawab, siswa juga dituntut untuk dapat membuat keputusan terhadap karier yang akan dipilihnya setelah menyelesaikan masa studi di sekolah menengah atas.
Sekolah menengah atas merupakan sekolah yang pada umumnya memberikan hak kebebasan memilih dalam hal ingin melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi atau ingin bekerja bahkan bekerja sambil kuliah. Diharapkan siswa lulusan SMA nantinya tidak menganggur, dan mampu menyalurkan minat maupun bakatnya dengan cara memilih jurusan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Umumnya siswa sekolah menengah atas dihadapkan dengan berbagai pilihan jurusan pada universitas atau bidang pekerjaan yang mempengaruhi jalur karier yang akan ditempuh. Menurut Widyastuti (2013: 232) masa remaja adalah masa yang sangat berhubungan pada penentuan kehidupan di masa depan, karena perilaku dan aktivitas yang dilakukan pada masa remaja menjadi masa awal dalam mengukir kehidupan yang lebih baik di masa depan mereka.
Pada perkembangan proses pilihan karier teori Ginzberg (Aqib, 2021: 78) masa tentatif mencakup usia lebih kurang 11 sampai 18 tahun (masa anak bersekolah di SMP
Setiyani, Ismanto, Ajie | 85 dan SMA) dan meliputi empat tahap, yaitu minat, kapasitas, nilai, dan transisi. Masa transisi adalah masa peralihan sebelum seseorang memasuki masa pilihan realistis.
Dalam hal ini, pada rentang usia tersebut remaja mulai menerapkan pilihan–pilihan yang dipikirkan pada tahap tentative akhir. Individu akan menimbang–menimbang beberapa kemungkinan karier, sehingga terkadang masih labil serta mudah terpengaruh lingkungan sekitar dengan begitu akan mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan karier berdasarkan pemikiran sendiri bahwa ada yang kebingungan memiliki keinginan/minat karier lebih dari satu, kemudian ada yang hanya ingin mencoba–coba tanpa mempertimbangkan konsekuensi kedepannya, ada yang mengambil keputusan berdasar tuntutan dan paksaan dari orang tuanya, serta ada juga yang mengambil keputusan terburu–buru, bahkan ada yang hanya sekedar ikut–ikutan terpengaruh teman sebaya. Dengan demikian, dapat menyebabkan siswa tidak dapat memilih karier sesuai dengan minat, potensi atau kemampuan yang dimiliki.
Menurut Istiqlailia & Sa’idah (2021: 2) penetapan identitas diri remaja harus sudah terfikirkan ingin menjadi apa pada masa yang akan datang. Hal ini, remaja dikatakan berhasil dalam menentukan pandangan karier masa depan, ketika sudah mengerti dan memahami persamaan dirinya dengan orang lain, kemudian menyadari kekurangan dan kelebihan dirinya, selain itu mampu berfikir abstrak, logis, dan idealis sehingga dapat bertanggung jawab dan konsekuen berkaitan dengan karier yang dipilihnya. Namun, pada kenyataanya sebagian dari siswa masih ada yang kebingungan dengan perkembangan kariernya, padahal masing–masing dari mereka juga sudah memperoleh informasi, wawasan, serta pengetahuan karier di sekolah. Adanya kesalahan dan ketidaktepatan dalam pengambilan keputusan karier dapat menyebabkan dampak buruk dalam hal seperti, kerugian waktu, finansial, dan kegagalan dalam belajar. Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan karier siswa sebaiknya dilakukan sejak awal, karena dapat berguna mempersiapkan kariernya secara matang, sehingga memiliki banyak kesempatan serta waktu yang cukup untuk meyakinkan dirinya dalam menentukan karier yang cocok baginya.
Mengenai pengambilan keputusan karier siswa dituntut mampu memilih keputusan tersebut dengan sangat bijak dan realistis serta penuh keyakinan dalam diri.
Ketika hal tersebut tidak diterapkan, pada akhirnya bisa sangat fatal yang mana kedepannya banyak siswa yang mengeluhkan perasaannya bahwa merasa salah memilih jurusan, beberapa memutuskan untuk tidak melanjutkan studi, merasa bidang pekerjaannya tidak cocok, serta adanya kecemasan saat setelah lulus SMA dalam memilih pendidikan atau pekerjaan yang berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental siswa. Permasalahan pengambilan keputusan karier merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting bagi siswa serta dapat mempengaruhi kesuksesan masa depan individu. Dengan demikian, apabila setiap individu mampu berhasil dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, maka dapat membuatnya bahagia. Sebaliknya
Setiyani, Ismanto, Ajie | 86 apabila individu gagal, hal tersebut dapat membuatnya tidak bahagia dan timbul penyesalan, bahkan penolakan dari masyarakat.
Simamora (2019: 4) pemilihan karier dalam rangka mencapai kematangan karier yang baik biasanya dimulai pada saat siswa menginjak kelas XI, karena pada tahap ini siswa masuk pada tahap eksplorasi periode kristalisasi, pada masa ini siswa mulai mengidentifikasi kesempatan dan tingkat pekerjaan yang sesuai, serta mengimplementasikan pilihan karier dengan memilih pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan minat, bakat, ataupun keterampilan diri sebagai penunjang dalam pengambilan keputusan karier yang efektif. Agnia dan Dasalinda (2022: 50) apabila individu dapat menentukan keputusan karier yang sesuai dengan minat dan bakatnya, maka akan semakin besar potensinya pula untuk mengoptimalkan perkembangan kariernya, sehingga terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas. Hal ini ditegaskan Widyastuti (2013: 236) pengambilan keputusan karier yang rendah ditunjukkan dengan individu tidak siap untuk menggunakan informasi pekerjaan yang telah diperoleh untuk merancang pilihan karier. Pengambilan keputusan karier yang tinggi ditunjukkan dengan kesiapan individu dalam mengambil keputusan karier.
Pengambilan keputusan karier merupakan suatu proses penentuan pilihan karier dari beberapa alternatif pilihan berdasarkan pemahaman diri dan pemahaman karier.
Fatmalasari (2017: 8-9) pengambilan keputusan bukanlah hal yang mudah dilakukan hanya dengan satu dua kali berfikir, namun juga membutuhkan beberapa pertimbangan dan wawasan yang bisa diperoleh siswa dari berbagai sumber. Dalam hal ini, kemampuan pengambilan keputusan karier yang dilakukan oleh individu dengan sengaja dan tidak boleh sembarangan, sehingga perlunya mempertimbangankan sebuah pilihan–pilihan karier secara matang yang dapat dilakukan melalui pemahaman diri, memperbanyak wawasan informasi karier, serta peluang kerja yang baik demi menunjang keberhasilan suatu keputusan karier dalam kehidupannya kelak sesuai dengan potensi yang dimilikinya untuk menimalisir kesulitan ataupun kendala yang mungkin terjadi dalam proses pencapaian karier.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kumaat (2019: 79) memperoleh data ada hubungan positif antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier. Artinya semakin tinggi efikasi diri maka pengambilan keputusan karier akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Hal itu berarti siswa dapat memiliki efikasi diri yang tinggi untuk melakukan pengambilan keputusan karier dengan tepat. Efikasi diri tersebut mampu mempengaruhi pada proses pengambilan keputusan karier siswa yang mana pilihan kariernya sudah sesuai atau belum dengan minat, bakat, dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang individu. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Pramudi (2015: 82-83) dalam judul “Kemampuan Pengambilan Keputusan Karier Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Kutasari Purbalingga” menunjukkan pengambilan keputusan karier siswa sebagian besar sesuai dengan keadaan orang tua, akan tetapi masih banyak siswa yang
Setiyani, Ismanto, Ajie | 87 belum yakin terhadap keputusan dalam pilihan kariernya serta sebagian besar siswa tidak menentukan sendiri dalam mengambil keputusan kariernya.
Kemampuan yang dimiliki siswa diharapkan sesuai dengan pengambilan keputusan karier yang dipilih. Sejalan dengan pendapat Pramudi (2015: 79) keputusan yang siswa ambil karena, bukan sepenuhnya atas keputusan sendiri dapat mengakibatkan siswa belum begitu yakin dengan keputusan yang telah diambil. Oleh karena itu, salah satu faktor penting sebagai penunjang individu meraih keberhasilan kehidupannya khususnya pada perkembangan karier yaitu sikap keyakinan diri dalam menyikapi sesuatu hal termasuk dalam pengambilan keputusan karier, sehingga sesulit apapun rintangan atau halangan yang ada dapat terselesaikan dengan baik. Namun, sering dijumpai adanya kebingungan, keraguan, kecemasan dan kesulitan diantara para siswa yang sedang menekuni studinya di pendidikan formal dan akan mempersiapkan diri untuk meniti karier di masa mendatang, karena para siswa kurang memahami dirinya, memahami dunia kerja, ambisi dalam dunia kerja, serta peningkatan karier.
Menurut Septinityas (2021: 26) efikasi diri adalah keyakinan seorang individu terhadap kemampuan yang dimiliki untuk melakukan sesuatu tugas yang menjadi tuntutan, sehingga individu tersebut tidak menyerah di tengah jalan atau bekerja secara setengah–setengah. Dalam kaitannya dengan keyakinan akan kemampuan ini, orang yang memiliki self-efficacy yang tinggi berusaha mencoba lebih keras dalam menghadapi tantangan serta memiliki komitmen kuat mereka pada tujuan kariernya.
Sebaliknya, orang yang memiliki self-efficacy yang rendah akan mengurangi usaha mereka untuk berupaya dalam situasi yang sulit, karena mereka menganggap kegagalan sebagai kurangnya kemampuan yang menunjukkan kurangnya komitmen pada tujuan kariernya (Fadlilah, 2019: 5-6).
Menurut Umam (2021: 118) efikasi diri rendah pada individu ditandai dengan beberapa ciri seperti lamban dan ragu pada kemampuan diri, cenderung cepat menyerah, serta tidak memiliki keyakinan dapat mengatasi rintangan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih memiliki keraguan dan ketidakpercayaan dirinya akan kemampuan yang dimilikinya, serta dibuktikan dengan sebagian dari siswa masih mengikuti saran keluarga atau bahkan hanya sekedar ikut–
ikutan teman sebaya untuk menentukan kariernya. Tentunya ini akan berdampak buruk bagi masa depannya, sehingga mereka akan mengalami kesulitan dalam perguruan tinggi dan pekerjaan nantinya.
Peserta didik yang memiliki efikasi diri ditandai dengan adanya suatu harapan yang tinggi terhadap diri mereka sendiri. Dalam hal ini, Agnia & Dasalinda (2022: 53) mereka merasa optimis, percaya diri, dan memiliki keyakinan tinggi untuk dapat menyelesaikan tugas ataupun permasalahan yang dihadapinya sesuai kemampuan yang ada dalam dirinya secara mandiri, serta dapat melakukan kegiatan–kegiatan baru yang mendorong siswa mengasah kemampuannya, menanamkan usaha dan mental yang kuat dalam menghadapi hambatan atau kegagalan dan melakukan evaluasi terhadap diri
Setiyani, Ismanto, Ajie | 88 sendiri, sehingga dapat membuat keputusan karier berdasarkan analisis tentang diri sendiri. Selanjutnya, siswa yang memiliki efikasi diri tinggi ditandai dengan kemampuannya dalam mengumpulkan dan menganalisis berbagai wawasan informasi, tuntutan dan prospek peluang ke depan berkaitan dengan karier.
Fenomena–fenomena yang terjadi di SMAN 1 Juwana membuktikan masih ada siswa yang belum bisa menyesuaikan antara keyakinan diri dengan pengambilan keputusan karier pendidikan atau pekerjaan yang mereka alami masih cenderung mengikuti arahan pilihan orangtua ataupun ikut–ikutan dengan teman sebaya sehingga, indikasi terkait dengan kemampuan dalam mengambil keputusan karier, pengetahuan informasi–informasi karier, dan pengetahuan tentang diri, masih kurang stabil pada siswa SMA Negeri 1 Juwana. Dalam hal ini, peserta didik kurang memahami diri sesuai bakat dan minatnya, kurang memahami jenis dan lingkungan studi lanjutan atau pekerjaan, kurang memiliki keyakinan diri, dan kurang memiliki inisiatif untuk mencari informasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Fadilla & Abdullah (2019: 109) karier adalah proses kemajuan dari serangkaian perjalanan pengembangan pengalaman seseorang sepanjang waktu yang dilaluinya. Dalam hal ini, karier tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan seseorang saja, akan tetapi karier bersifat dinamis dan terbuka sepanjang hayat sebagai perkembangan individu secara terus menerus dalam kehidupannya yang meliputi pekerjaan, pendidikan pelatihan atau kursus, peran dalam komunitas hingga aktivitas pasca atau setelah pensiun, dan sebagainya. Dengan begitu, individu memiliki tugas perkembangan karier yang harus dipenuhi adalah salah satunya membuat keputusan karier.
Pada dasarnya pengambilan keputusan karier yaitu suatu keterampilan dan kemampuan penting bagi individu yang dapat digunakan dalam perkembangan kariernya untuk berkomiten memilih dan menentukan karier selama satu rentang kehidupan yang dilakukannya. Menurut Frederica (2020: 19) pengambilan keputusan karier adalah suatu kemampuan seseorang dalam melakukan sebuah pertimbangan untuk menyeleksi beberapa pilihan rencana karier di masa depan yang harus diambil secara arif dan penuh pertimbangan.
Menurut Pramudi (2015: 6) pengambilan keputusan karier adalah suatu proses seleksi terhadap alternatif–alternatif pilihan yang akan dilaksanakan secara sengaja dan serius serta penuh pertimbangan demi keberhasilan kehidupan kariernya dimasa yang akan datang. Dalam proses pengambilan keputusan karier sangat tidak mudah bagi siswa sekolah menengah atas yang berada pada masa peralihan dimana siswa harus mampu mengambil keputusan karier selanjutnya, ketika nantinya sudah lulus dari SMA.
Bagi siswa sekolah menengah atas, pilihan karier tersebut seperti melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, melamar pekerjaan atau membuka usaha sendiri. Oleh karena
Setiyani, Ismanto, Ajie | 89 itu, adanya pilihan–pilihan karier tersebut harus dipertimbangkan secara matang dan maksimal, karena dapat berpengaruh kelak di masa depan.
Menurut Agnesa (2022: 11) pengambilan keputusan karier didefinisikan sebagai pemahaman seseorang tentang pilihan karier yang dipilih untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Darmasaputro dan Gunawan (2018: 2) pengambilan keputusan karier adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu dalam memilih pendidikan dan pekerjaan yang diliputi oleh aspek personal (minat, tipe kepribadian, identitas vokasional, perasaan akan hambatan) dan aspek informasi terkait dengan pilihan yang akan ia ambil.
Menurut Bella (2021: 12) pengambilan keputusan karier adalah proses dimana seseorang mempunyai mimpi dan impian di masa datang dimana semua itu sudah merencanakan, memilih, menentukan atau mempertimbangkan karier yang akan ia ambil untuk masa depannya, baik berupa pendidikan, pekerjaan ataupun gaya hidup seseorang. Menurut Widyastuti (2013: 233) pengambilan keputusan karier merupakan suatu proses sistematis mengenai pilihan karier yang telah ditetapkan individu dari berbagai data yang digunakan dan dianalisis berdasarkan ekspresi atau ungkapan diri yang terlihat pada motivasi, pengetahuan, kepribadian dan kemampuan.
Berdasarkan dari beberapa pendapat yang telah diuraikan di atas, dapat dirangkum bahwa pengambilan keputusan karier adalah suatu proses kemampuan/keterampilan yang dilakukan oleh individu secara sadar dalam hal menganalisis dan mempertimbangkan alternatif karier dengan penuh komitmen serta realistis melalui serangkaian keputusan pada tahapan kehidupan masa lalu berdasar pada pengetahuan tentang diri individu dengan wawasan informasi suatu bidang pendidikan atau pekerjaan yang dimilikinya untuk menetapkan pilihan karier di masa depan sesuai potensi diri.
1. Efikasi Diri
Efikasi diri merupakan hasil dari proses kognitif berupa keyakinan dan penilaian diri mengenai seberapa jauh diri seseorang mampu melakukan tindakan yang tepat (baik atau buruk, tepat atau salah, mampu atau tidak mampu) untuk dirinya dalam situasi tertentu, sehingga dapat mencapai keberhasilan sesuai yang diharapkan disertai dengan usaha yang besar agar dapat bertahan selama menghadapi kesulitan (Frederica, 2020:
22). Menurut Simamora (2019: 11) efikasi diri adalah keyakinan seseorang mengenai kemampuan–kemampuan dalam mengatasi beraneka ragam situasi yang muncul dalam hidupnya. Efikasi diri secara umum berkaitan dengan keyakinan individu mengenai hal yang dapat dilakukan dengan kecakapan yang ia miliki seberapa pun besarnya. Efikasi diri akan mempengaruhi beberapa aspek dari kognisi dari perilaku seseorang. Oleh karena itu, perilaku satu individu akan berbeda dengan individu yang lain.
Efikasi diri atau self-efficacy adalah penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi tugas–tugasnya. Self-efficacy adalah keyakinan bahwa “aku bisa”. Dalam hal ini, siswa dengan self efficacy tinggi setuju dengan pernyataan seperti
“saya tahu bahwa saya akan mampu menguasai materi ini” dan “saya akan bisa
Setiyani, Ismanto, Ajie | 90 mengerjakan tugas ini”. Sedangkan, individu yang memiliki self-efficacy yang rendah merasa tidak memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas, maka dia berusaha untuk menghindari tugas tersebut (Fatmalasari, 2017: 29). Menurut Fadlilah (2019: 24) self-efficacy adalah keyakinan atau kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.
Menurut Agnesa (2022: 14) efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki dalam hal untuk mencapai suatu yang diinginkan oleh individu. Self-efficacy adalah kepercayaan individu terhadap kemampuannya yang dimiliki untuk dapat mengontrol keberfungsian diri serta bentuk kemantapan dan keyakinan seseorang dalam kemampuannya dalam menghadapi keputusan hingga mampu mencapai harapan dan tujuan yang diinginkan (Fauzi, 2021: 12).
Berdasarkan uraian di atas dapat dirangkum bahwa efikasi diri ialah keyakinan, kemantapan dan kepercayaan diri seseorang mengenai kemampuan–kemampuan dalam mengatasi beraneka ragam situasi yang mungkin ditemui selama perjalanan hidup setiap individu sebagai kesiapan mengenai berbagai tantangan untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi data penelitian sejumlah 431 siswa, meliputi kelas XI IPS 1, XI IPS 2, XI IPS 3, XI IPS 4, XI IPS 5, XI MIPA 1, XI MIPA 2, XI MIPA 3, XI MIPA 4, XI MIPA 5, XI MIPA 6, XI MIPA 7. Sampel uji coba (try out) sejumlah 36 siswa kelas XI IPS 1. Sedangkan sampel penelitian ini sejumlah 72 siswa yakni XI IPS 3 dan XI MIPA 2, yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala efikasi diri dan skala pengambilan keputusan karier.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian yang telah dilaksanakan tentang hubungan antara variabel X dan Y, yakni hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Juwana. Dalam penelitian ini, memperoleh hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Juwana, yang artinya pada kedua variabel tersebut terdapat hubungan yang signifikan satu sama lain. Sifat hubungan pada penelitian ini adalah posistif, yang mempunyai arti semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pengambilan keputusan karier siswa.
Berdasarkan hasil uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi pearson product moment menggunakan software SPSS versi 25, menunjukkan bahwa uji korelasi pearson product moment dari kedua variabel diperoleh hasil signifikansi
Setiyani, Ismanto, Ajie | 91 sebesar (r)= 0,719. Sedangkan, diketahui n= 72 maka dk= n-2= 72-2= 70. Jadi, nilai rtabel untuk jumlah sampel penelitian sebanyak 72 dengan taraf signifikansi 5% sebesar 0,235 yang berarti kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan. Oleh karena nilai rhitung 0,719 > rtabel 0,235 jika dicocokkan dengan tabel interpretasi menunjukkan bahwa antara variabel efikasi diri dengan variabel pengambilan keputusan karier siswa memiliki tingkat hubungan yang kuat. Dengan demikian hipotesis penelitian menyatakan “Ada hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana” dapat diterima. Kemudian efikasi diri memberikan kontribusi terhadap kemampuan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana sebesar 51,7%. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ada beberapa faktor lain sebesar 48,3% yang memberikan pengaruh pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana yang tidak diteliti pada penelitian ini.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa rumusan masalah yaitu adanya hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana memiliki efikasi diri pada kategori tinggi, karena siswa memiliki Magnitude (tingkat kesulitan tugas), Generality (luas bidang pemahaman yang dimiliki individu dan luas bidang tugas atau tingkah laku), Strength (kekuatan keyakinan).
Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki untuk mengatur dan melaksanakan serangkaian tindakan serta mampu bertahan menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan yang diharapkan (Yusuf., dkk, 2021: 175). Hal tersebut sejalan menurut Fauziah (2018: 4) efikasi diri sangat berperan dalam menentukan sejauh mana usaha seseorang, seberapa kuat usaha yang dilakukannya dan memprediksi pencapaian keberhasilan tersebut. Tanpa efikasi diri, seseorang tidak akan melaksanakan suatu sikap. Jadi, efikasi diri adalah keyakinan seseorang atas skill yang dimiliki untuk mencapai arah yang diharapkan.
Fadlilah (2019: 6) self-efficacy siswa yang tinggi cenderung memilih cara dengan tantangan yang besar. Ketika self-efficacy untuk mencapai tujuan yang tinggi, siswa akan berusaha lebih keras untuk menyelesaikan tugas–tugasnya dan akan bertahan lebih lama dalam menghadapi kesulitan. Sebaliknya, jika siswa dengan self-efficacy rendah akan memilih cara yang mudah, sedikit usaha dan mudah menyerah. Hal tersebut dipertegas oleh Widyastuti (2013: 235) individu yang memiliki efikasi diri tinggi mengenai kemampuannya dapat disebabkan karena, individu bekerja lebih keras dan tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan sekalipun itu sulit. Individu lebih menyukai kerja mandiri tanpa bantuan orang lain. Selain itu, semangat yang tinggi untuk mencapai prestasi belajar yang telah ditargetkan.
Selanjutnya, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Juwana juga memiliki kemampuan pengambilan keputusan karier pada kategori sangat tinggi, karena siswa memiliki pemahaman mengenai diri sendiri, pengetahuan dan pemahaman mengenai gambaran seputar pendidikan lanjutan/dunia kerja, penalaran yang realistis terhadap pengetahuan
Setiyani, Ismanto, Ajie | 92 akan pemahaman diri sendiri dengan pendidikan lanjutan/dunia kerja. Menurut Istifarani (2016: 22) pengambilan keputusan karier merupakan proses penentuan pilihan karier yang menyadarkan individu atas faktor–faktor yang melekat pada setiap pilihan tersebut yang melibatkan adanya pengetahuan diri, komitmen, dan informasi untuk meraih tujuan kariernya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pramudi (2015: 78) pengambilan keputusan karier jika dilandasi dengan keputusannya sendiri, memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan dan usaha yang siswa lakukan. Keputusan yang siswa buat sendiri memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka jika suatu saat mereka mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Hal tersebut dipertegas oleh Istiqlailia & Sa’idah (2021: 8) pengambilan keputusan karier merupakan aspek yang penting untuk penentuan arah yang akan dicapai demi masa depan. Selain itu, pentingnya pengambilan keputusan karier juga akan berpengaruh terhadap pilihan yang akan ditekuni.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Agnesa (2022: 37) diperoleh hasil adanya hubungan positif dan signifikan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,749 dan nilai signifikan (p) = 0,000 (p< 0,05), artinya tingkat efikasi diri tinggi maka, akan semakin tinggi pula pengambilan keputusan karier yang ada pada diri siswa.
Sebaliknya, semakin rendah tingkat efikasi diri yang ada pada diri siswa, maka semakin rendah pula tingkat pengambilan keputusan karier pada diri siswa. Selanjutnya, pada penelitian yang dilakukan oleh Fauziah (2018: 13) hasil menunjukkan self efficacy berhubungan positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan pada siswa SMA dengan hasil analisis yang memunculkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,377 dengan nilai signifikansi < 0,01. Hal ini disebabkan karena, para siswa dan siswi sudah memiliki keyakinan dalam dirinya untuk mengambil keputusan karier di masa depan meskipun mereka masih duduk di kelas X dan XI.
Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh Apriansyah., dkk (2018: 7) diperoleh nilai signifikansi efikasi diri dengan kemampuan pengambilan keputusan karier sebesar 0,000 (p<0,05) artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan kemampuan pengambilan keputusan karier menunjukkan nilai koefisien Pearson Correlations sebesar 0,582 bernilai positif. Hal tersebut diartikan setiap meningkatnya 1 nilai efikasi diri, maka nilai kemampuan pengambilan keputusan karier akan meningkat sebesar 0,582, semakin tinggi efikasi diri maka akan semakin tinggi kemampuan pengambilan keputusan karier siswa dan sebaliknya semakin rendah efikasi diri maka akan rendah kemampuan pengambilan keputusan karier.
SIMPULAN
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Juwana. Hubungan tersebut menunjukkan ke arah positif, dikarenakan nilai rhitung yang diperoleh bertanda positif. Hubungan positif tersebut
Setiyani, Ismanto, Ajie | 93 memiliki arti bahwa apabila efikasi diri siswa semakin tinggi, maka kemampuan pengambilan keputusan karier siswa juga semakin tinggi. Sebaliknya, apabila efikasi diri siswa rendah, maka kemampuan pengambilan keputusan karier siswa juga rendah.
SARAN
Guru BK dapat memberikan layanan yang dapat membantu meningkatkan efikasi diri siswa, kemudian memahami minat dan bakat siswa dengan memantau perkembangan kariernya, serta guru BK dapat berkolaborasi dengan guru kelas untuk dapat menumbuhkan keyakinan diri siswa terhadap kemampuan potensi yang dimiliki.
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggali lebih mendalam, mengenai faktor–
faktor lain yang mempengaruhi pengambilan keputusan karier siswa. Diharapkan peneliti selanjutnya mampu menggunakan variabel selain efikasi diri untuk meneliti hubungan dengan pengambilan keputusan karier. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan metode yang lain agar mendapatkan hasil yang variatif. Dengan demikian, nantinya diharapkan akan semakin banyak informasi dan referensi bagi guru BK dalam mengoptimalkan pemberian layanan pada siswa guna membantu siswa memiliki kemampuan pengambilan keputusan karier yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Agnesa, T. (2022). Hubungan Antara Efikasi Diri Dengan Pengambilan Keputusan Karir Pada Siswa Kelas SMA NEGERI 1 Pusako. Skripsi Pekan Baru: Universitas Islam Riau Pekan Baru.
Apriansyah, A., Hadiwinarto, H., & Mishbahuddin, A. (2018). Hubungan Antara Efikasi Diri Dengan Kemampuan Pengambilan Keputusan Karir Siswa Man 2 Kota Bengkulu. Consilia : Jurnal Ilmiah Bimbingan Dan Konseling, 1(3), 1–11.
https://doi.org/10.33369/consilia.1.3.1-11
Agnia, D dan Dasalinda, D. (2022). Hubungan Efikasi Diri dengan Pengambilan Keputusan Karir Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Sukakarya. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(8), 2749–2755. https://doi.org/10.54371/jiip.v5i8.759
Bella, K. (2021). Hubungan Self-Efficacy Dengan Pengambilan Keputusan Karier Siswa Kelas XI SMA Institut Indonesia. Skripsi. Semarang: Universitas PGRI Semarang.
Darmasaputro, A., & Gunawan, W. (2018). Hubungan Efikasi Diri Pengambilan Keputusan Karier dan Pengambilan Keputusan Karier pada Siswa SMA. Jurnal Psikologi, 14(1), 1. https://doi.org/10.24014/jp.v14i1.5004
Fadilla, P. F., & Abdullah, S. M. (2019). Faktor Pengambilan Keputusan Karier Pada Siswa SMA. Jurnal Psikolog, 8(2), 108–115.
Setiyani, Ismanto, Ajie | 94 Fadlilah, U. (2019). Hubungan antara Self Efficacy dan Dukungan Sosial Orang Tua
dengan Kematangan Karir Siswa Kelas XII SMA Negeri se Kabupaten Kendal.
Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Fatmalasari, S. D. (2017). Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kematangan Karir Siswa Kelas XII di SMA N 3 Ponorogo tahun ajaran 2016/2017. Skripsi.
Semarang: Universitas PGRI Semarang.
Fauzi, M. R. (2021). Hubungan Antara Self Efficacy Dengan Pengambilan Keputusan Karir Pada Mahasiswa Psikologi Di Universitas Islam Riau. Skripsi. Riau:
Universitas Islam Riau Pekan Baru.
Fauziah, R. Y. (2018). Hubungan antara Efikasi Diri dengan Pengambilan Keputusan Karier Pada Siswa SMA. Skripsi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Febriyanti, F., & Aminudin, D. (2022). Kontribusi self-efficacy dengan kematangan karier siswa. Orien: Cakrawala Ilmiah Mahasiswa, 2(2), 91–98.
https://doi.org/10.30998/ocim.v2i2.8084
Frederica, A. G. (2020). Hubungan antara efikasi diri dengan pengambilan keputusan karir pada siswa/i sekolah menengah kejuruan (SMK). Skripsi. Yogyakarta:
Universitas Sanata Dharma.
Istifarani, F. (2016). Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Pengambilan Keputusan Karier Siswa Di SMK Negeri 1 Depok. Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling, 5, No 5(Mei), 147.
Kumaat, T. D. (2019). Hubungan Efikasi Diri dengan Pengambilan Keputusan Karir
Siswa SMA. Jurnal Forum Pendidikan, 15(2).
https://doi.org/10.54371/jiip.v5i8.759
Nuri Istiqlailia, & Sa’idah, I. (2021). Hubungan Antara Self Efficacy Dengan Pengambilan Keputusan Karier Pada Siswa Kelas XII Putri MA Miftahul Qulub Galis Pamekasan. Edu Consilium: Jurnal Bimbingan Dan Konseling Pendidikan Islam, 2(2), 1–10. https://doi.org/10.19105/ec.v2i2.4937
Pramudi, H. (2015). Kemampuan Pengambilan Keputusan Karir Siswa Kelas Xi Di Sma Negeri 1 Kutasari Purbalingga. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Septinityas, E. (2021). Hubungan Antara Efikasi Diri Dengan Kemandirian Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas PGRI Semarang.
Simamora, Y. M. (2019). Hubungan Antara Efikasi Diri Dengan Kematangan Karir Pada Siswa Kelas XI di SMK Farmasi YPFSU Medan. Skripsi. Medan: Universitas Medan Area.
Setiyani, Ismanto, Ajie | 95 Umam, R. N. (2021). Pengembangan Efikasi Diri Siswa SMK dalam Menentukan
Keputusan Karir Melalui Layanan Bimbingan Kelompok. Islamic Counseling :
Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 5(1), 115.
https://doi.org/10.29240/jbk.v5i1.2701
Widyastuti, R. (2013). Pengaruh Self Efficacy dan Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Kemantapan Pengambilan Keputusan Karir Siswa. Jurnal BK Unesa, 3(Bimbingan Konseling), 231–238.