• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial pada Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro

N/A
N/A
Roy Sur

Academic year: 2025

Membagikan "Hubungan Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial pada Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN SOSIAL PADA MAHASISWA BARU FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Mencapai Derajat

Sarjana Psikologi

SKRIPSI

Disusun Oleh:

Rosita Uli Nadeak 15000121140365

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG 2024

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tahun pertama perkuliahan sering dianggap sebagai masa yang paling sulit bagi mahasiswa baru (Feldt dkk., 2011). Pada masa ini, mereka harus beradaptasi dengan banyak hal baru, seperti cara belajar yang berbeda dari SMA, materi kuliah yang lebih sulit, berteman dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya dan bahasa yang beragam, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal yang baru (Bibi dkk., 2018). Selain itu, lingkungan sosial di perguruan tinggi lebih beragam daripada di SMA, sehingga mahasiswa baru perlu beradaptasi. Kesulitan dalam beradaptasi dapat menurunkan motivasi dan hasil yang dicapai tidak maksimal (Abdullah, Elias, Mahyuddin, & Uli, 2009).

Permasalahan yang dialami mahasiswa baru dalam beradaptasi dengan lingkungan baru dapat berdampak negatif bagi dirinya. Dampak tersebut berupa penurunan kesehatan, rasa pesimis terhadap kemampuannya dalam memimpin organisasi, dan lain-lain (Rosiana, 2011). Selain itu, dampak negatif ini juga mempengaruhi kinerja akademiknya, seperti hasil ujian yang tidak sesuai harapan dan keinginan untuk keluar dari kampus (Elias, Noordin, & Mahyuddin, 2010).

(3)

Masa peralihan yang dialami mahasiswa mendorong mereka untuk menghadapi berbagai tuntutan dan tugas perkembangan baru. Mahasiswa biasanya berusia antara 18 hingga 29 tahun, yang berada pada tahap dewasa awal (Halloran, 2024). Tugas perkembangan yang harus dihadapi mahasiswa antara lain bekerja sama dan bersaing dengan orang lain, menjaga hubungan sosial, berfungsi dengan baik dalam masyarakat, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa merasa cemas. Namun, banyak mahasiswa yang merasa cemas dan tidak nyaman saat berinteraksi sosial (Kholisa dkk., 2024).

Ketidakmampuan untuk memenuhi tugas-tugas sosial ini sering menyebabkan kecemasan sosial, di mana individu merasa takut terhadap penilaian negatif dari orang lain atau cemas dalam situasi sosial tertentu (La Greca, 1998). Mahasiswa baru yang mengalami kecemasan sosial cenderung menarik diri dari pergaulan, menghindari interaksi kelompok, dan merasa terisolasi. Kondisi ini menghambat mahasiswa dalam membangun hubungan sehat dan menyelesaikan tugas perkembangan yang seharusnya mendukung pembentukan identitas serta kemandirian mereka.

Menurut World Psychiatric Association, 3% sampai 15% dari populasi global dapat dianggap sebagai penderita kecemasan sosial.

Penelitian Suryaningrum (2006) pada 211 mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan 22,27% mengalami kecemasan sosial, dan 20,85% memiliki indikasi gangguan kecemasan sosial. Vriends

(4)

dkk. (2013) menemukan 15,8% dari 311 mahasiswa Psikologi UGM berada pada tingkat kecemasan sosial tinggi.

Kecemasan sosial adalah salah satu dampak paling nyata dari konsep diri negatif. Mahasiswa yang memiliki pandangan negatif tentang dirinya sering kali merasa tidak nyaman bahkan dalam situasi sosial yang sederhana, seperti memperkenalkan diri di kelas atau berbicara di depan umum (Kholisin, 2014). Kecemasan ini sering muncul dari keyakinan bahwa orang lain akan menilai mereka secara negatif, sehingga mereka merasa terancam dan cenderung menghindari interaksi sosial (Sabila, 2024).

Dalam jangka panjang, kecemasan sosial dapat menyebabkan mahasiswa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan, dan bahkan mengalami penurunan prestasi akademik (Bewick, 2010). Hal ini menciptakan dampak negatif di mana rasa tidak percaya diri semakin menguat, dan kecemasan sosial semakin memburuk (Aisy & Puwanto, 2024).

Melalui beberapa data diatas disimpulkan bahwa kecemasan sosial umum terjadi pada mahasiswa baru. Hal tersebut, dapat berdampak negatif pada perkembangan pribadi dan akademik mahasiswa, seperti menurunnya rasa percaya diri, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus, hingga berisiko mengalami gangguan mental yang lebih serius (Meliala, 2024).

Selain itu, masalah ini menunjukkan bahwa kegagalan untuk memenuhi tugas perkembangan sosial pada masa dewasa awal, dapat mempengaruhi kesejahteraan mahasiswa baru dalam jangka panjang. Sebagai contoh,

(5)

penelitian oleh Hidayat (2021) menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami kecemasan sosial cenderung merasa terhambat dalam pengembangan diri dan hubungan interpersonal yang dapat mendukung keberhasilan akademik mereka.

Di sisi lain, faktor pribadi seperti pengalaman hidup, pola asuh, dan kemampuan untuk mengatasi tekanan, sangat berpengaruh pada kecemasan sosial (Azaria & Syakarofath, 2024; Rachmawaty, 2015; Ginting, 2024).

Pengalaman buruk di masa lalu, seperti penolakan atau kegagalan dalam membangun hubungan sosial, dapat menimbulkan ketakutan saat menghadapi situasi sosial yang baru (Oktopiani & Putri, 2018). Pola asuh yang kurang mendukung atau bersifat otoriter juga dapat membuat individu merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orang lain, sehingga meningkatkan risiko kecemasan sosial. Minimnya dukungan dari keluarga dan lingkungan memperparah kondisi ini, membuat individu merasa sendiri dalam menghadapi tekanan sosial (Rachmawaty, 2015; Salma, 2019).

Selain faktor pribadi, kepribadian juga berperan peran penting dalam mempengaruhi tingkat kecemasan sosial. Sifat-sifat seperti introversi, kepekaan terhadap kritik, dan kesulitan beradaptasi sering menjadi pemicu perasaan cemas di lingkungan sosial (Muhmadah dkk., 2021). Individu dengan kepribadian yang sangat sensitif terhadap penilaian orang lain cenderung mengalami kesulitan berkomunikasi dengan percaya diri atau mengekspresikan diri secara terbuka (Deni & Ifdil, 2016). Semua faktor ini saling mempengaruhi dan pada akhirnya berdampak pada cara

(6)

individu memandang dirinya sendiri, yang menjadi dasar terbentuknya konsep diri.

Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konsep diri (Hidayah, 2017; Prawoto, 2010), kepercayaan diri (Mutahari, 2016; Nainggolan, 2011), harga diri (Tirsae, 2016), pola asuh otoriter (Rachmawaty, 2015), dan kelekatan orang tua (Salma, 2019). Dalam penelitian ini, konsep diri dipilih karena pada dewasa awal, mahasiswa membentuk konsep diri mereka dengan kemampuan berpikir yang lebih matang dibandingkan masa remaja, sehingga penelitian ini berfokus pada mahasiswa dalam fase tersebut (Tucker-Drob dkk., 2019).

Konsep diri adalah cara seseorang memandang dirinya sendiri yang terbentuk dari berbagai pengalaman dan interaksi dengan orang lain sejak kecil. Pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan akan dicerna dan dievaluasi oleh individu. Hasil dari proses ini membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam. Pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan akan dicerna dan dievaluasi oleh individu.

Hasil dari proses ini membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam yang pada akhirnya membentuk konsep diri seseorang (Puspasari, 2007).

Erikson berpendapat bahwa masalah yang paling penting dan signifikan terjadi dalam perguruan tinggi adalah pencarian konsep diri (Jeanette, 2005). Pembentukan konsep diri dapat terjadi melalui interaksi sosial yang sering dilakukan oleh mahasiswa. Setiap pengalaman yang diperoleh dari berinteraksi dengan orang lain, akan memberikan pandangan

(7)

baru, sehingga mempengaruhi cara mereka melihat diri sendiri (Budiyati, 2023).

Menurut Wulandari dan Susilawati (2016) beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri yaitu dukungan sosial yang didapat baik dari keluarga dan lingkungan sosial. Dukungan dari lingkungan sangat pemting bagi perkembangan diri mahasiswa. Menurut Sarafino (2011), dukungan yang diterima oleh individu dari orang lain dapat disebut) dukungan sosial. Dukungan orangtua merupakan sistem dukungan sosial yang terpenting di masa dewasa awal. Hasil penelitian Tarmidi (2010) menyebutkan bahwa dukungan orangtua berhubungan dengan kesuksesan akademis remaja, gambaran diri yang positif, harga diri, motivasi dan kesehata mental.

Konsep diri juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, kebahagian, dan kinerja. Oleh karena itu, konsep diri menjadi faktor yang menentukan sejauh mana mereka dapat beradaptasi dengan percaya diri dan stabil secara emosional (Sarwono & Widyana, 2023;

Budiyati, 2023).

Calhoun dan Acocella (1995) membagi konsep diri menjadi positif dan negatif. Individu dengan konsep diri negatif merasa lemah, tidak kompeten, gagal, dan tidak menarik, sehingga cenderung pesimistis.

Sebaliknya, individu dengan konsep diri positif meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi sosial (Palenzuela-Luis dkk., 2022). Mahasiswa yang yakin terhadap kemampuannya cenderung berpikir dan bertindak

(8)

positif, dapat mengurangi kecemasan, dan meningkatkan prestasi (Kholisa dkk., 2024).

Penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara konsep diri dan kecemasan sosial pada mahasiswa baru. Studi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh menemukan bahwa semakin tinggi konsep diri seorang mahasiswa, semakin rendah tingkat kecemasan sosial yang dialaminya (Hidayat, 2022).

Sebaliknya, konsep diri yang rendah berhubungan dengan meningkatnya kecemasan sosial. Temuan serupa juga diperoleh dalam penelitian di Yogyakarta, yang menegaskan bahwa konsep diri yang positif berperan dalam menurunkan kecemasan sosial pada mahasiswa dewasa awal (Kholisa dkk., 2024).

Berbagai penelitian sebelumnya telah banyak membahas hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial, baik pada remaja maupun mahasiswa baru. Namun, belum terdapat penelitian yang secara spesifik memfokuskan pada satu jurusan tertentu. Meskipun topik hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial telah sering dikaji, penelitian ini memiliki keunikan karena menyoroti mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2024. Fokus tersebut memungkinkan eksplorasi lebih mendalam terhadap faktor-faktor khas yang dapat memengaruhi hubungan tersebut, seperti interaksi sosial di lingkungan jurusan tertentu dan tuntutan akademik yang spesifik.

Mahasiswa sering kali dihadapkan dengan berbagai tuntutan yang berat, baik dari segi akademik maupun non-akademik. Hal ini juga berlaku

(9)

bagi mahasiswa baru yang tengah berupaya menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus yang baru. Demikian juga, mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari mahasiswa di jurusan lain. Salah satu keunikan tersebut adalah jadwal orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) yang lebih intensif, berlangsung dari bulan Agustus sampai November setiap minggunya. Durasi ospek yang panjang ini memberikan tantangan tersendiri, mencerminkan dinamika sosial dan akademik yang khas dari jurusan ini. Ospek yang berkepanjangan sering kali menjadi tekanan tambahan bagi mahasiswa baru, sebagaimana diungkapkan oleh penelitian Safitri (2022) bahwa jadwal kegiatan ospek yang padat dapat memengaruhi tingkat stres dan kemampuan adaptasi mahasiswa.

Selain itu, kondisi seperti adanya kelas malam dan banyaknya tugas kelompok turut mempertegas beban akademik yang dihadapi oleh mahasiswa baru. Perbedaan kelas berdasarkan jalur masuk perguruan tinggi, di mana kelas 1-2 memiliki beban tugas yang lebih berat dibandingkan dengan kelas 3-4 yang lebih santai, juga menciptakan variasi pengalaman akademik yang unik. Penelitian dari Wibowo (2021) menyatakan bahwa beban tugas yang tidak merata dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial mahasiswa, yang pada akhirnya berdampak pada kecemasan sosial.

Tidak hanya dari segi akademik, mahasiswa baru di jurusan ini juga menghadapi tantangan non-akademik yang terkait dengan perbedaan budaya, bahasa, dan gaya berpakaian. Mahasiswa yang berasal dari berbagai

(10)

daerah membawa keunikan latar belakang budaya masing-masing, yang sering kali memengaruhi cara mereka berinteraksi dan menyesuaikan diri dalam lingkungan kampus. Menurut Putri dan Rahmawati (2023), perbedaan budaya dan kebiasaan sosial dapat menjadi faktor yang mempersulit adaptasi dan menciptakan hambatan dalam komunikasi antarmahasiswa.

Pentingnya melakukan penelitian ini karena mahasiswa berada di tahap dewasa awal mengalami periode kritis dalam pembentukan konsep diri (Moshman, 1998). Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa baru untuk memahami bagaimana konsep diri mempengaruhi kecemasan sosial.

Berdasarkan fenomena yang diuraikan diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro?

(11)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji secara empirik hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

D. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai konsep diri dan kecemasan sosial dalam perkembangan ilmu psikologi, khususnya Psikologi Sosial dan Psikologi Klinis.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang jelas tentang hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial pada mahasiswa baru.

b. Bagi dosen atau pendidik, penelitian ini dapat memberikan masukan untuk merancang program pengajaran yang tepat tentang perlunya meningkatkan konsep diri mahasiswa dan mengurangi kecemasan mereka saat berinteraksi sosial.

c. Bagi peneliti lain, hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya mengenai hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada mahasiswa baru, dan

(12)

dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian selanjutnya.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan Sosial 1. Pengertian Kecemasan Sosial

Istilah kecemasan atau anxiety berasal dari bahasa Latin anxius dan bahasa Jerman anst, kata tersebut dapat diartikan untuk menggambarkan efek negatif dari rangsangan fisiologis (Nasrulloh dkk., 2020).

Kecemasan merupakan keadaan seseorang saat merasakan perasaan tegang yang tidak menyenangkan, adanya keterangsangan fisiologis, dan perasaan takut atau khawatir terhadap suatu hal buruk akan terjadi (Nevid, 2006). Kecemasan biasanya akan melibatkan perasaan, perilaku, dan respon-respon fisiologis (Durand, 2006).

Menurut American Psychiatric Association (APA) kecemasan sosial merupakan ketakutan yang dirasakan oleh individu terhadap satu atau lebih situasi sosial ketika sedang diamati oleh orang asing dan orang lain. Richards (1996) mengungkapkan kecemasan sosial adalah takut akan situasi sosial dan interaksi dengan orang lain yang dapat secara otomatis membawa merasa sadar diri, pertimbangan, evaluasi, dan kritik. Kecemasan sosial juga merupakan ketakutan dan kecemasan akan persepsi dan penilaian negatif oleh orang lain yang menyebabkan seseorang merasa kekurangan, kebingungan, penghinaan dan tekanan

(14)

(Richards, 1996). Selain itu, Mattick & Clarke (1998) berpendapat kecemasan sosial adalah suatu keadaan yang tertekan ketika bertemu dan berbicara dengan orang lain.

Menurut Martin dan Richard (2017) dalam bukunya menjelaskan kecemasan sosial mengacu pada perasaan tidak nyaman atau gugup saat berada di situasi sosial. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang takut melakukan sesuatu yang memalukan sehingga mereka memiliki kesan yang buruk atau dinilai secara kritis oleh orang lain. Kecemasan sosial dikaitkan dengan berbagai gaya dan kepribadian umum seperti rasa malu, perfeksionis, dan introversi (Yudianfi, 2022). Seseorang yang pemalu merasa tidak nyaman berada di tempat umum, terutama ketika berinteraksi dengan orang baru. Seseorang yang introvert lebih suka menyendiri dan lebih pendiam karena mereka lebih suka menyendiri.

Seseorang yang memiliki sifat perfeksionis takut berada di depan umum karena takut orang lain akan melihat "kekurangannya" dan menilai secara negatif.

Kecemasan sosial didefinisikan oleh Brecht (2000) sebagai perasaan takut dan khawatir yang berlebihan ketika berada di lingkungan sosial atau bersama orang banyak sehingga takut akan dinilai secara negatif dari orang lain serta akan merasa lebih nyaman apabila sendirian.

Sementara itu, La Greca (1998) menggambarkan kecemasan sosial sebagai perasaan takut terhadap situasi sosial di mana seseorang harus berhadapan dengan orang lain, menerima evaluasi, serta ketakutan akan

(15)

mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman seperti diamati, dipermalukan, atau dihina.

Secara umum kecemasan sosial merupakan jenis kecemasan yang dapat dialami oleh seseorang ketika berada di perkumpulan atau kerumunan orang. Manusia secara alamiah diciptakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun, ketika seseorang mengalami perasaan tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, maka itu adalah situasi yang sulit bagi individu. Kondisi seperti inilah yang dihadapi individu saat mengalami kecemasan sosial. Selain itu, kecemasan sosial merupakan salah satu bentuk fobia sosial yang lebih ringan, ketakutan yang terus-menerus, dan irasional terhadap keberadaan orang lain (Nevid, 2005). Orang tersebut berusaha menghindari situasi tertentu dimana mereka mungkin dikritik, serta menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berperilaku canggung (Hidayat, 2022).

Berdasarkan beberapa pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecemasan sosial adalah suatu perasaan takut dan khawatir berlebihan ketika berada di lingkungan sosial yang membuat individu merasa tidak nyaman untuk berinteraksi dengan orang baru maupun banyak orang. Hal ini terjadi sehingga membuat individu memiliki persepsi berlebihan seperti akan dipermalukan, dikritik, dan menjadi pusat perhatian.

(16)

2. Aspek-aspek Kecemasan Sosial

Aspek-aspek kecemasan sosial menurut (La Greca, 1998) adalah sebagai berikut:

a. Ketakutan terhadap evaluasi yang negatif (Fear of negative evaluation)

Individu akan merasa khawatir atau takut pada penilaian orang lain dengan cara yang tidak baik, seperti mengejek atau mengkritik.

b. Penghindaran sosial dan tertekan secara umum (Social avoidance and distress in general)

Individu akan cenderung menghindar dari tempat-tempat umum atau dari situasi sosial yang bisa membuat dirinya merasa tidak nyaman dan akan merasa jauh lebih aman serta tenang saat sendiri.

c. Penghindaran sosial dan tekanan terhadap lingkungan sosial yang baru (Social avoidance specific to new situation)

Individu akan lebih menghindari situasi baru termasuk saat bertemu dengan orang baru atau asing bagi individu.

Menurut (Kaplan & Sadock, 1997) juga memaparkan tiga aspek kecemasan sosial yaitu:

a. Kesadaran adanya sensasi fisiologis, seperti jantung berdebar dan badan berkeringat.

(17)

b. Kesadaran adanya sensasi psikologis, seperti kesadaran sedang gugup dan ketakutan.

c. Kesadaran adanya sensasi kognitif, seperti menimbulkan rasa bingung terhadap suatu peristiwa atau seseorang.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan sosial memiliki tiga aspek meliputi aspek ketakutan terhadap evaluasi negatif, penghindaran sosial dan tertekan secara umum dan penghindaran sosial dan tertekan terhadap lingkungan sosial yang baru.

Ketiga aspek ini saling berkaitan dan secara langsung memengaruhi kemampuan individu untuk berfungsi dengan baik dalam lingkungan sosial, terutama bagi mahasiswa baru yang sedang mengalami masa transisi ke dunia pendidikan tinggi.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Sosial

Menurut (Rapee, 1998) menyampaikan beberapa faktor yang menyebabkan individu mengalami kecemasan sosial yaitu:

a. Cara berpikir (Thinking style)

Pada situasi ini artinya individu tersebut akan merasa kesulitan dalam mempengaruhi anggapan mereka atau berpikir kurang masuk akal ketika dalam posisi yang tidak nyaman karena cara berpikirnya telah dikuasai oleh kecemasan sehingga membuatnya sulit.

b. Fokus perhatian (Focus attention)

(18)

Fokus perhatian dalam hal ini adalah apa yang dialami individu akan susah dalam memusatkan perhatian atau tidak mampu memperhatikan sekaligus mengalami kecemasan sosial.

c. Penghindaran (Avoidance)

Orang cenderung menghindari situasi seperti yang membuat mereka tidak nyaman atau depresi.

Selain itu (Leary & Dobbins, 1983) menjelaskan beberapa faktor kecemasan sosial sebagai berikut:

a. Terkait dengan kekuasaan dan status sosial yang tinggi

Artinya, seorang anak atau keluarga dengan status sosial yang tinggi tidak terlalu menderita kecemasan sosial karena kekuasaanya.

b. Konteks evaluasi

Artinya, seseorang yang tidak nyaman dalam situasi sosial dan cenderung menggang dirinya dilebih-lebihkan atau dilebih- lebihkan oleh orang lain.

c. Interaksi berfokus pada tayangan tunggal

Artinya, seorang individu memandang kesan pertama sebagai indikasi dan permanen untuk koneksi selanjutnya.

d. Situasi sosial yang tidak teratur

Situasi sosial dapat dicontohkan ketika hari pertama sekolah, biasanya muncul kecemasan sosial karena tidak tahu aturannya dengan baik.

(19)

e. Kesadaran diri

Artinya, memfokuskan dan memperhatikan diri sendiri dan perilaku batin seorang individu saat menghadapi situasi sosial.

Menurut Durand (2006) terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan kecemasan sosial yaitu:

a. Seseorang ada kemungkinan memiliki kecemasan atau kecenderungan biologis sehingga menjadi sangat terhambat secara sosial. Hal ini dapat tercermin pada perasaan atas berbagai peristiwa, khususnya peristiwa yang menimbulkan stress atau peristiwa diluar kendali kita, sehingga meningkatkan kerentanan individu.

b. Dalam keadaan stress, seseorang mungkin mengalami serangan panik yang tidak terduga saat berada di lingkungan sosial yang kemudian dapat dikaitkan dengan stimulus-stimulus sosial.

Selanjutnya, individu akan sangat mencemaskan kemungkinan untuk mengalami alarm (serangan panik) lain (yang dipelajari) ketika berada dalam lingkungan sosial yang sama atau mirip.

c. Seseorang dapat mengalami trauma sosial langsung yang memberikan peringatan dan kemudian menjadi takut dalam situasi sosial yang sama atau serupa. Pengalaman sosial yang traumatis juga dapat ditelusuri kembali ke masa-masa sulit sebagai seorang anak. Pengalaman ini dapat menciptakan

(20)

ketakutan dan kepanikan yang akan direproduksi dalam situasi sosial di masa depan.

Dari beberapa uraian diatas disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan sosial ada dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor-faktor yang muncul dari dalam diri individu, seperti kurang rasa percaya diri, pengalaman traumatis, stress dan frustasi, serta faktor lainnya. Sedangkan, faktor eksternal yaitu faktor yang disebabkan oleh lingkungan yaitu ketika individu menerima dukungan sosial yang rendah. Oleh karena itu, kecemasan sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk pemikiran, perhatian, dan penghindaran.

B. Konsep Diri 1. Pengertian Konsep Diri

Konsep diri berisi pandangan dan peranan individu tentang dirinya.

Konsep diri adalah gambaran dari diri sendiri yang terdiri dari semua aspek fisik, psikologis, sosial, emosional, keyakinan yang diinginkan, dan pencapaian yang telah dicapai (Hurlock, 2003). Secara sederhana konsep diri dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap diri sendiri secara psikologis, fisik, ataupun sosial yang terbentuk melalui interaksi sosial dengan lingkungan. Berzonsky (dalam Burn, 1993) menambahkan bahwa konsep diri juga merujuk pada penilaian individu yang didasarkan pada harapan terhadap dirinya.

(21)

Menurut Fitts (1971) konsep diri merupakan gambaran diri seseorang yang terbentuk melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Sementara itu Agustiani (2009), konsep diri adalah bayangan seseorang tentang dirinya sendiri yang mereka peroleh dari lingkungannya sejak kecil. Konsep diri tidak terbentuk dari genetik tetapi melalui pengalaman dan proses hidup yang mereka peroleh sehingga tersimpan dalam ingatan. Konsep diri individu ditanam sejak kecil sehingga menjadi dasar perilaku di masa yang akan datang. Oleh karena itu, konsep diri bukan sekedar gambaran deskripsi tentang penilaian dari individu. Konsep diri meliputi dua komponen, yaitu apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.

Calhoun & Acocella (1995) mengatakan konsep diri adalah cara seseorang melihat dirinya. Mereka juga mengatakan bahwa konsep diri mencakup cara seseorang melihat dirinya secara sosial dan pribadi.

Konsep diri ini berasal dari pengamatan seseorang atas dirinya sendiri yang memungkinkan mereka untuk membuat gambaran dan penilaian diri mereka sendiri. Ketika seseorang berkembang bersama lingkungannya, ia menjadi lebih mengenal dirinya sendiri dan menjadi lebih sadar diri akan perilakunya.

Konsep diri, menurut Harter (Papalia, dkk., 2009) adalah gambaran menyeluruh tentang diri sendiri mencakup kemampuan yang dapat mempengaruhi tindakan seseorang. Konsep diri juga dapat diartikan sebagai gambaran yang terbentuk dari berbagai pandangan orang lain

(22)

terhadap diri kita dan keinginan suatu individu mengenai diri idealnya (Burns, 1993). Menurut Pudjijogyanti (1988), konsep diri adalah pandangan menyeluruh tentang berbagai aspek fisik, pribadi, karakteristik, motivasi, keahlian, kelemahan, maupun kegagalan.

Terdapat dua jenis konsep diri yaitu konsep diri yang sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep diri yang sebenarnya adalah gambaran tentang persepsi individu itu sendiri yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan hubungan dengan orang lain. Sementara itu, konsep diri ideal adalah gambaran seseorang mengenai keterampilan dan kepribadian yang didambakannya.

Konsep diri terbentuk atas dua komponen, yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu tentang keadaan dirinya. Komponen kognitif juga merupakan penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberikan gambaran tentang dirinya. Komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya. Penilaian tersebut akan membentuk penerimaan terhadap diri (s elf-acceptance), serta harga diri (self-esteem) individu. Dapat disimpulkan bahwa komponen kognitif merupakan data bersifat objektif sedangkan komponen afektif merupakan data yang bersifat subjektif (Pudjijogyanti, 1988).

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan cara pandang mengenai sikap, perasaan, dan keyakinan individu tentang dirinya sebagai hasil interaksinya dengan

(23)

lingkungan. Konsep diri juga terbentuk karena adanya interaksi dengan orang-orang sekitarnya, bukan terbentuk dari genetik, tetapi melalui proses pengalaman individu.

2. Aspek-aspek Konsep Diri

Suatu konsep diri terdiri dari berbagai aspek yang saling berkaitan dan bersama-sama membentuk suatu konsep diri. Adanya dampak dari interaksi sosial dan pengalaman hidup seseorang dapat menjadi bagian dalam pembentukan dari aspek konsep diri. Menurut Berzonsky (dalam Darmawan, 2015) menjelaskan bahwa terdapat empat aspek dalam konsep diri yaitu:

a. Aspek fisik (physical self)

Pada aspek ini penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimiliki individu seperti tubuh, pakaian, benda milikinya, dan sebagainya. Ketika individu memiliki konsep diri positif maka individu memandang keadaan fisiknya secara positif, sebaliknya ketika individu memiliki konsep diri negatif, individu tersebut memandang keadaan fisiknya secara negatif.

b. Aspek sosial (social self)

Pada aspek ini mencakup pandangan dan penilaian individu terhadap kecenderungan sosial mereka sendiri. Konsep ini berkaitan dengan bagaimana seseorang berhubungan dengan berbagai interaksi sosialnya. Individu yang memiliki konsep diri

(24)

positif akan melihat diri nya sebagai orang yang memahami orang lain, perhatian, menjaga perasaan orang lain, dan aktif dalam kegiatan sosial. Di sisi lain, mereka yang memiliki konsep diri negatif melihat diri mereka sebagai orang yang kurang, tidak perhatian, dan tidak aktif dalam kegiatan sosial.

c. Aspek psikis (psychological self)

Pada aspek ini meliputi pikiran, perasan, dan sikap-sikap individu terhadap dirinya sendiri. Individu yang memiliki konsep diri positif memandang dirinya sebagai orang yang bahagia, optimis, dan memiliki berbagai kemampuan. Namun jika individu tersebut memiliki konsep diri negatif memandang dirinya sebagai orang yang tidak bahagia, pesimis, serta memiliki berbagai macam kekurangan.

d. Aspek moral (moral self)

Pada aspek ini pandangan dan penilaian individu mengenai moralitas dirinya. Konsep ini berkaitan dengan nilai serta prinsip yang menjadi arti dan arah bagi kehidupan individu. Individu dengan konsep diri positif apabila memandang diri mereka sebagai orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral.

Sebaliknya, individu dikatakan memiliki konsep diri negatif apabila memandang dirinya sebagai orang yang menyimpang dari yang seharusnya mereka ikuti.

(25)

Menurut Fits (Agustiani, 2009) konsep diri memiliki delapan aspek yang terdiri dari aspek eksternal dan tiga aspek internal. Lima aspek eksternal konsep diri, yaitu:

a. Konsep diri fisik

Konsep ini meliputi pandangan, pikiran, dan penilaian individu terhadap keadaan fisiknya sendiri misalnya penampilan , kondisi kesehatan, kondisi kulit, ketampanan maupun kecantikan serta ukuran tubuh yang ideal.

b. Konsep diri pribadi

Konsep ini meliputi pandangan, pikiran dan perasaan individu terhadap pribadinya.

c. Konsep diri sosial

Konsep ini meliputi pandangan, pikiran dan perasaan individu terhadap kecenderungan sosial yang ada pada dirinya sendiri.

d. Konsep diri moral & etik

Konsep diri moral etik yaitu pandangan, perasaan, penilaian, serta pikiran individu mengenai moralitas dirinya.

e. Konsep diri keluarga

Konsep diri keluarga merupakan pandangan, pikiran, penilaian, serta perasaan individu terhadap keluarganya. Konsep ini berkaitan dengan keberadaan diri seseorang di dalam keluarganya.

(26)

Kemudian terdapat tiga aspek internal konsep diri yaitu:

a. Identitas

Identitas merupakan suatu pandangan individu mengenai diri mereka, Biasanya individu menggambarkan diri mereka melalui label atau simbol-simbol-simbol yang akan membantu membangun identitas mereka.

b. Kepuasan

Kepuasaan mencerminkan bagaimana individu mendeskripsikan diri sebagai hasil pengamatan dan evaluasi terhadap diri mereka. Persepsi ini akan menentukan kepuasan dan penerimaan individu terhadap diri mereka.

c. Tingkah laku

Tingkah laku merupakan deskripsi mengenai persepsi individu terhadap diri mereka yang meliputi tentang apa yang mereka lakukan serta bagaimana mereka bertingkah laku.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat aspek yang mendasari konsep diri seseorang, yaitu aspek psikis, aspek fisik, aspek moral, serta aspek sosial yang saling berkaitan satu dengan lainnya, artinya dalam mengembangkan konsep diri setiap aspek harus berjalan dengan seimbang.

Aspek psikis mencakup pandangan individu terhadap kemampuan mental dan emosional diri, yang mencakup kesadaran diri, harga diri, dan pengendalian diri. Aspek fisik berhubungan dengan persepsi

(27)

individu terhadap penampilan fisiknya dan bagaimana hal itu mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Aspek moral mencakup nilai dan keyakinan yang dipegang individu mengenai kebenaran, keadilan, dan etika, yang sangat mempengaruhi bagaimana mereka menilai diri sendiri dan orang lain. Sedangkan aspek sosial berkaitan dengan bagaimana individu berinteraksi dalam konteks sosial, termasuk hubungan dengan keluarga, teman, dan masyarakat, serta peran yang dimainkan dalam lingkungan sosial tersebut.

C. Hubungan antara Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial Konsep diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan orang- orang di sekitarnya. Konsep diri sering kali menjadi landasan utama dalam menghadapi tentang sosial dan akademik di lingkungan kampus. Sebuah penelitian oleh Hidayat (2022) menunjukkan bahwa konsep diri yang positif berkontribusi pada kemampuan mahasiswa untuk merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan barunya, sementara konsep diri yang rendah cenderung meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan sosial. Hal ini semakin relevan pada mahasiswa baru yang sedang berada dalam fase transisi dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi, di mana tuntutan sosial dan akademik sering kali menjadi sumber stres utama.

Selain itu, mahasiswa dengan konsep diri positif juga lebih cenderung menghadapi situasi sosial dengan sikap yang tenang dan percaya diri. Mereka mampu mengelola tekanan sosial dan menerima kritik atau

(28)

penilaian dari orang lain tanpa merasa terancam (Kholisa dkk., 2024).

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan konsep diri positif lebih jarang mengalami kecemasan sosial dan lebih mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan yang ada (Revaldi & Rachmawati, 2019). Hal ini karena konsep diri yang positif memberikan dukungan emosional, sehingga memungkinkan mereka untuk fokus pada potensi dan kelebihan, daripada terjebak dalam kekhawatiran atau kekurangan.

Kepercayaan diri sebagai faktor penting dari konsep diri memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat kecemasan sosial. Mahasiswa dengan kepercayaan diri yang tinggi lebih mampu mengelola interaksi sosial tanpa merasa cemas atau takut terhadap penilaian orang lain (Aisy & Purwanto, 2024). Sebaliknya, kepercayaan diri yang rendah dapat memperbesar rasa takut terhadap situasi sosial yang baru dan kompleks. Mutahari (2016) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri tidak hanya meningkatkan kemampuan individu dalam mengatasi tekanan sosial tetapi juga berfungsi sebagai pelindung terhadap kecemasan sosial yang sering dialami mahasiswa baru.

Selain itu, dukungan sosial berperan penting dalam memperkuat hubungan antara konsep diri dan kecemasan sosial. Dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan kampus dapat membantu mahasiswa baru merasa diterima, dihargai, dan termotivasi untuk membangun interaksi sosial yang sehat (Afgani, 2022). Penelitian oleh Azaria dan Syakarofath (2024) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat dukungan sosial yang

(29)

tinggi cenderung memiliki konsep diri yang lebih positif, yang pada akhirnya menurunkan risiko kecemasan sosial. Sebaliknya, kurangnya dukungan sosial dapat memperburuk konsep diri yang negatif dan meningkatkan isolasi sosial, yang menjadi pemicu utama kecemasan sosial.

Mahasiswa baru sering kali menjadi kelompok rentan karena mereka dihadapkan pada tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya, seperti perbedaan budaya, bahasa, dan gaya hidup di kampus. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi hubungan interpersonal tetapi juga memberikan tekanan yang signifikan pada konsep diri individu.

Sebagai contoh, penelitian oleh Salma (2019) menunjukkan bahwa mahasiswa yang gagal menyesuaikan diri di lingkungan sosial kampus memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki konsep diri yang stabil. Hal ini menunjukkan pentingnya konsep diri yang positif, dukungan sosial yang memadai, dan kepercayaan diri yang kuat dalam membantu mahasiswa baru mengatasi kecemasan sosial yang mereka alami.

D. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara konsep diri dan kecemasan sosial pada mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Artinya, semakin positif konsep diri maka semakin rendah kecemasan sosial. Sebaliknya,

(30)

semakin negatif konsep dirinya maka semakin tinggi juga kecemasan sosialnya.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel

Variabel yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:

1. Varaibel kriteria : Kecemasan sosial 2. Variabel prediktor : Konsep Diri

B. Definisi Operasioanal 1. Kecemasan Sosial

Kecemasan sosial adalah rasa takut berlebihan yang dialami

`seseorang ketika berada dalam lingkungan sosial, terutama karena khawatir akan pandangan negatif, menerima evaluasi dan ketakutan akan mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman seperti diamati, dipermalukan, atau dihina oleh orang lain. Hal ini sering membuat individu menghindari interaksi sosial. Dalam penelitian ini, kecemasan sosial diukur berdasarkan aspek-aspek dari Greca & Lopez (1998), yaitu: ketakutan akan penilaian negatif, penghindaran sosial dan rasa tertekan dalam lingkungan baru yang berhubungan dengan orang baru atau orang asing, serta penghindaran sosial dan rasa tertekan yang dialami secara umum atau dengan orang yang dikenal. Semakin tinggi

(31)

skor kecemasan sosial seseorang, semakin tinggi pula tingkat kecemasannya dan sebaliknya, semakin rendah skornya, semakin rendah tingkat kecemasan sosialnya.

2. Konsep Diri

Konsep diri merupakan sikap, perasaan, dan keyakinan individu tentang dirinya sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Konsep diri juga terbentuk karena adanya interaksi dengan orang-orang sekitarnya, bukan terbentuk dari genetik, tetapi melalui proses pengalaman individu sejak kecil. Dalam penelitian ini, konsep diri diukur menggunakan skala yang mencakup empat aspek menurut Berzonsky (dalam Darmawan, 2015), yaitu: aspek fisik (physical self), aspek psikis (psychological self), aspek sosial (social self), dan aspek moral (moral self). Semakin tinggi skor yang diperoleh individu maka semakin tinggi pula konsep dirinya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh individu maka semakin rendah juga konsep diri individu tersebut.

C. Populasi dan Teknik Sampel 1. Populasi

Populasi adalah kelompok subjek yang memiliki ciri dan karakteristik serupa, yang membedakannya dari kelompok lain yang akan menjadi objek generalisasi dalam penelitian (Azwar, 2012).

(32)

Berdasarkan data No. 657/UN7.H1/PP/XII/2024 dari bagian akademik dan kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, populasi dalam penelitian ini terdiri dari 197 mahasiswa dengan karakteristik mahasiswa baru angkatan 2024.

Jumlah sampel minimum suatu populasi diperoleh menggunakan rumus Slovin dengan toleransi ketidaktelitian sebesar 5%. Berdasarkan hasil perhitungan rumus slovin diperoleh sampel minum sebesar 131,99 dibulatkan menjadi 132 sampel.

2. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sampling (Sanusi, 2014), convenience sampling adalah mengambil responden sebagai sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dapat digunakan sebagai sampel dengan faktor utamanya adalah mahasiswa baru angkatan 2024 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro dengan berjumlah minimal 132 mahasiswa yang dihitung menggunakan rumus Slovin.

Sampel dipilih dari mahasiswa yang mudah dihubungi dan bersedia mengisi kuesioner dalam waktu yang ditentukan.

D. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan skala sebagai alat utama untuk mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan

(33)

mencangkup dua skala, yaitu skala konsep diri dan skala kecemasan sosial.

Kedua skala tersebut masing-masing terdiri dari item favorable dan unfavorable. Model pengukuran yang digunakan pada penelitian ini adalah skala Likert

1. Skala Kecemasan Sosial

Skala kecemasan sosial terdiri dari 11 item menggunakan Social Anxiety for Adolescence (SAS-A) oleh La Greca dan Lopez (1998) yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Apriliana dan Suranta (2019).

Aspek skala mencangkup ketakutan akan evaluasi negatif (FNE), Penghindaran sosial dan rasa tertekan dalam situasi yang baru/

berhubungan dengan orang asing/baru(SAD-N), Penghindaran sosial dan rasa tertekan yang dialami secara umum/dengan orang yang dikenal (SAD-G).

Melalui hasil adaptasi oleh Apriliana dan Suranta (2019) terdapat 11 item secara signifikan mengukur 3 konstruk faktor SAS-A dalam versi Indonesia. Item nomor 1, 3, 5, 7, dan 8 secara signifikan mengukur Fear of Negative Evaluation (FNE) (Ketakutan terhadap Evaluasi Negatif).

Kemudian, item nomor 9, 10, 11, dan 14 secara signifikan mengukur Social Avoidance and Distress-New (SAD-New) (Penghindaran Sosial dan Distres Baru). Item nomor 15 dan 16 secara signifikan mengukur Social Avoidance and Distress-General (SAD-G) (Penghindaran Sosial dan Distres Umum).

(34)

Penilaian Skala Kecemasan Sosial berdasarkan format Skala Likert.

Nilai skala setiap pertanyaan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (favourable) atau tidak mendukung (unfavourable) terhadap setiap pernyataan dalam empat kategori jawaban, yakni “Sangat Sesuai (SS)”, “ Sesuai (S)”, “ Tidak Sesuai (TS)”, “Sangat Tidak Sesuai (STS)”. Penilaian butir favourable bergerak dari nilai 4 untuk jawaban “SS”, nilai 3 untuk jawaban “S”, 2 untuk jawaban “TS”, nilai 1 untuk jawaban “STS”. Penilaian butir unfavourable bergerak dari nilai 1 untuk “SS”, 2 untuk jawaban “S”, nilai 3 untuk jawaban “TS”, nilai 4 untuk jawaban “STS”.

2. Skala Konsep Diri

Peneliti menyusun Skala Konsep Diri yang merujuk pada aspek- aspek yang disampaikan oleh Berzonsky (Darmawan, 2015) yaitu, aspek fisik, aspek sosial, aspek psikis, dan aspek moral.

Penilaian Skala Konsep Diri berdasarkan format Skala Likert. Nilai skala setiap pertanyaan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (favourable) atau tidak mendukung (unfavourable) terhadap setiap pernyataan dalam empat kategori jawaban, yakni

“Sangat Sesuai (SS)”, “Sesuai (S)”, “ Tidak Sesuai (TS)”, “Sangat Tidak Sesuai (STS)”. Penilaian butir favourable bergerak dari nilai 4 untuk jawaban “SS”, nilai 3 untuk jawaban “S”, 2 untuk jawaban “TS”, nilai 1 untuk jawaban “STS”. Penilaian butir unfavourable bergerak dari nilai 1

(35)

untuk “SS”, 2 untuk jawaban “S”, nilai 3 untuk jawaban “TS”, nilai 4 untuk jawaban “STS”. Rancangan blueprint dan persebaran aitem dari Skala Konsep Diri disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Blueprint Skala Konsep Diri

No Aspek Indikator Aitem Jumlah Bobot

F UF

1 Aspek

Fisik

Pandangan dan penilaian individu terhadap kondisi fisik

2 2 10 25%

Pandangan dan penilaian

individu ketika

berpenampilan di depan umum

2 2

Penilaian individu

terhadap benda miliknya 1 1

2 Aspek

Sosial Kemampuan memahami

orang lain 2 2 10 25%

Kemampuan menjaga perasaan orang lain

2 2

Aktif dalam kegiatan sosial di kampus

1 1

3 Aspek

Psikis

Individu dapat

memandang dirinya sebagai orang yang bahagia

2 2 10 25%

Individu melihat dirinya sebagai orang yang optimis

2 2

Individu merasa

memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan

1 1

4 Aspek

Moral

Mampu berpegangg teguh pada nilai-nilai moral

3 2 10 25%

Memandang dirinya sebagai orang yang mengikuti norma atau aturan

3 2

(36)

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Daya Beda Aitem

Peneliti memanfaatkan aplikasi SPSS version 25 untuk menghitung daya beda aitem. Kriteria dalam memilih aitem didasarkan pada korelasi aitem total dan batas yang digunakan yaitu ≥ 0,30. Semua aitem yang memiliki koefisien korelasi mencapai minimal 0,30 menunjukkan daya beda aitem yang memuaskan (Azwar, 2013).

2. Validitas Alat Ukur

Hal penting pada penelitian yaitu validitas instrumen karena valid tidaknya instrumen berpengaruh pada alat ukur yang digunakan (Sugiyono, 2015). Untuk melihat validitas bisa melalui pendapat ahli atau expert judgement (Sugiyono, 2015). Jika butir pertanyaan sudah dikonstruksi sesuai dengan aspek dari teori yang ada, selanjutnya melakukan konsultasi bersama dosen pembimbing. Dosen pembimbing akan memberikan keputusan apakah instrumen tersebut bisa digunakan tanpa dilakukan revisi, harus dilakukan revisi, atau perlu diganti seluruhnya (Sugiyono, 2015).

3. Reliabilitas Alat Ukur

Reliabilitas diuji dengan teknik koefisien Alpha Cronbach. Aplikasi SPSS version 25 digunakan untuk menganalisis daya diskriminasi aitem

(37)

da menguji reliabilitas. Tingkat reliabilitas ditunjukkan dengan rentang antara 0 hingga 1. Jika koefisien reliabilitas semakin tinggi mendekati 1, maka semakin tinggi koefisien reliabilitas instrumen tersebut (Azwar, 2013).

F. Metode Analisis Data

Peneliti menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana dalam menganalisis data. Aplikasi SPSS version 25 digunakan untuk membantu menganalisis data. Tujuan analisis regresi sederhana adalah untuk mencari tahu bagaimana variabel prediktor bisa mempengaruhi variabel kriteria di garis yang linier (Ghozali, 2016). Analisis regresi linier dapat dilakukan ketika beberapa asumsi telah terpenuhi, yaitu:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov Test dengan bantuan aplikasi statistik SPSS versi 25. Data dianggap terdistribusi normal jika nilai signifikansi p> 0,05. Sebaliknya, jika nilai signifikansi p< 0,05, data dianggap tidak terdistribusi normal (Ghozali, 2016).

2. Uji Linieritas

Uji linieritas pada penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier sederhana yang bertujuan untuk melihat bagaimana variabel bebas mempengaruhi variabel tergantung dalam garis yang

(38)

linier. Variabel penelitian dikatakan membentuk garis yang lurus apabila memiliki nilai signifikansi p<0,05 (Ghozali, 2016).

(39)

DAFAR PUSTAKA

Agustiani, H. (2009). Psikologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja (D. Pakar (ed.);

Cetakan 2:). Refika Aditama.

Al-Ruwaili, M., Al Turki, Y., & Alardan, A. (2018). Social anxiety and its effect on self-efficacy among family medicine residents in Riyadh. Journal of Family

Medicine and Primary Care, 7, 389.

https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_360_17

Annisa, M. D. (2018). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Umum Pada Remaja Awal Relationship Between Self-Concept and General Anxiety in Early Adolescent. E-Journal Gunadarma , 343(100), 106–111.

Burns, R. . (1993). Konsep Diri; Teori,Pengukuran,Perkembangan dan Perilaku.

Jakarta Arcan. http://kin.perpusnas.go.id/DisplayData.aspx?

pId=30093&pRegionCode=UNIPASBY&pClientId=707

Calhoun, J. F. & Acocella, J. R. (1995). Psikologi tentang penyesuaian dan hubungan kemanusiaan. Semarang: IKIP Semarang Pres.

https://lib.ui.ac.id/detail.jsp?id=1716

Devi Wahyu Kristanti. (2021). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Di SMAN 1 Purwodadi. 19(5), 1–23.

Hidayah, K. (2017). Hubungan Konsep Diri Dengan Kecemasan Sosial Pada Siswa Kelas 2 SMAN 1 Tumpang [Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang].

http://dx.doi.org/10.1038/s41421-020-0164-0%0Ahttps://doi.org/10.1016/

j.solener.2019.02.027%0Ahttps://www.golder.com/insights/block-caving-a- viable-alternative/%0A???%0Ahttp://dx.doi.org/10.1038/s41467-020-15507- 2%0Ahttp://dx.doi.org/10.1038/s41587-020-05

Hidayat, J. (2022). Hubungan Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial pada Mahasiwa Baru Angkatan 2021 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 35.

Hurlock. (2003). Elizabeth_Hurlock_Psikologi_Perkembangan.pdf (p. 447).

Kaplan & Sadock. (1997). Sinopsis Psikiatri Jilid 1. Edisi ke-7. Binarupa Aksara.

http://library.poltekkespalembang.ac.id/keplinggau/index.php?

p=show_detail&id=995

Kholisa, I. N., Purnamasari, S. E., & Rinaldi, M. R. (2024). KONSEP DIRI DAN KECEMASAN SOSIAL PADA MAHASISWA ( SELF-CONCEPT AND

(40)

SOCIAL ANXIETY IN COLLEGE STUDENTS ). 2(2), 110–119.

La Greca, L. N. (1998). Social Anxiety Among Adolescents: Linkages with Peer Relations and Friendships. Journal of Abnormal Child Psychology, 26(2), 83–

94. https://doi.org/10.1023/a:1022684520514

Leary, M. R., & Dobbins, S. E. (1983). Social anxiety, sexual behavior, and contraceptive use. Journal of Personality and Social Psychology, 45 6, 1347–

1354. https://api.semanticscholar.org/CorpusID:27861204

Moshman, D. (1998). Cognitive Development beyond Childhood. Craik &

Salthouse Lachman & Burack Cognition, 2, 947–978.

http://digitalcommons.unl.edu/edpsychpapers%0Ahttp://digitalcommons.unl.

edu/edpsychpapers/48

Palenzuela-Luis, N., Duarte, G., Gómez -Salgado, J., Gomez, J. A., & Sánchez- Gómez, M. (2022). International Comparison of Self-Concept, Self-Perception and Lifestyle in Adolescents: A Systematic Review. International Journal of Public Health, 67, 1604954. https://doi.org/10.3389/ijph.2022.1604954 Pratiwi, S. L., Ramdhani, R. N., Taufiq, A., & Sudrajat, D. (2023). Hubungan

Antara Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial pada Mahasiswa Bandung.

KONSELING EDUKASI “Journal of Guidance and Counseling,” 7(1), 94.

https://doi.org/10.21043/konseling.v7i1.18595

Prawoto, B. Y. (2010). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Kelas XI SMA Kristen 2 Surakarta. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pudjijogyanti, C. R. (1988). Konsep diri dalam pendidikan. Arcan.

https://books.google.co.id/books?id=qGS9ngEACAAJ

Rachmawaty, F. (2015). Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja. Jurnal Psikologi Tabularasa, 10(1), 31–42.

Rakhmat. (2005). KOMUNlKASI.

Rapee, R. M. (1998). Overcoming Shyness and Social Phobia: A Step-by-Step Guide. Jason Aronson, Incorporated. https://books.google.co.id/books?

id=fmTI5q4fpZoC

Richards, T. A. (1996). What is Social Anxiety?

https://socialanxietyinstitute.org/what-is-social-anxiety

Salma, N. (2019). HUBUNGAN ANTARAN KELEKATAN ORANGTUA DAN KECEMASAN SOSIAL PADA REMAJA. Skripsi, April, 1–17.

(41)

Showers, C., Ditzfeld, C., & Zeigler-Hill, V. (2014). Self-Concept Structure and the Quality of Self-Knowledge. Journal of Personality, 83.

https://doi.org/10.1111/jopy.12130

Suryaningrum. (2006). Indikasi gangguan kecemasan pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Laporan Penelitian. Malang:

Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.

Tirsae, O. V. (2016). Pengaruh harga diri terhadap kecemasan sosial pada remaja korban bullying di Palangkaraya, Kalimantan Tengah [Sanata Dharma University.]. http://repository.usd.ac.id/id/eprint/6251

Tucker-Drob, E., Brandmaier, A., & Lindenberger, U. (2019). Coupled Cognitive Changes in Adulthood: A Meta- Analysis. Psychological Bulletin, 145.

https://doi.org/10.1037/bul0000179

Vriends, N., Pfaltz, M. C., Novianti, P., & Hadiyono, J. (2013). Taijin Kyofusho and Social Anxiety and Their Clinical Relevance in Indonesia and Switzerland. Frontiers in Psychology, 4(February), 1–9.

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2013.00003

Wittchen, H.-U., & Fehm, L. (2003). Epidemiology and natural course of social fears and social phobia. Acta Psychiatrica Scandinavica. Supplementum, 108, 4–18. https://doi.org/10.1034/j.1600-0447.108.s417.1.x

Zhang, D., Cui, Y., Zhou, Y., Cai, M., & Liu, H. (2018). The role of school adaptation and self-concept in influencing Chinese high school students’

growth in math achievement. Frontiers in Psychology, 9(NOV), 1–11.

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.02356

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Ekuitas Merek Smartphone Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jember ; Joko Setyo Utomo, 050910202129; 2012; 111 halaman; Program

Tujuan dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui apa motif mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Riau untuk merokok dan bagaimana persepsi

RESPON MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TERHADAP PROGRAM UANG KULIAH TUNGGAL (UKT)..

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi mahasiswa menggunakan fasilitas wi-fi dalam mencari informasi di kalangan mahasiswa fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Minat yang dilihat dari penelitian ini adalah dimana seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau Pekanbaru sadar akan pentingnya

Judul skripsi saya adalah “Demokrasi di Kalangan Mahasiswa (Studi Etnografi tentang Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat literasi informasi yang di miliki oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK Jl.. DATA MAHASISWA Nama Lengkap Mahasiswa :