HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN TONGKOL (Auxis Thazard) DI PERAIRAN KABUPATEN PENAJAM PASER
UTARA, KALIMANTAN TIMUR
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi baik di darat maupun di laut.Indonesia merupakan salah satu daerah coral triangle yang dipercaya sebagai asal dari seluruh hewan laut yang ada di dunia (Veron et al., 2009). Letak Indonesia sangat strategis yaitu berada di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Pasifik dan Hindia. Perairan Indonesia yang sangat luas menyimpan banyak jenis ikan dan hasil laut lainnya yang memiliki nilai ekonomi penting. Potensi perikanan diIndonesia masih sangat berlimpah, salah satunya adalah potensi perikanan ikan tongkol yang merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia.
Ikan adalah organisme akuatik yang menjadi biota utama di salah satu kawasan perairan sehingga penting untuk diketahui jenis-jenisnya.
Keanekaragaman jenis ikan merupakan salah satu sumber daya air yang tersedia, terutama jenis ikan yang bernilai ekonomis yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Saleky et al., 2021). Identifikasi serta inventarisasi jenis ikan ini merupakan suatu trobosan awal dalam upaya pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman ikan (Katarina et al., 2019). Informasi jenis ikan tangkapan nelayan dapat sangat bermanfaat sebagai dasar pengelolaan perikanan berkelanjutan yang tepat, termasuk proses pengelolaan panen, penanganan produk, pengolahan dan pemasaran, hingga peningkatan kualitas ikan pasar komunitas nelayan pemukiman pesisir tersebut (Khaerudin et al., 2018).
Ikan tongkol merupakan salah satu komoditas perikanan yang diminati oleh konsumen, karena kaya akan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh (Sanger, 2010). Kandungan nutrisi protein maupun lemak yang relatif tinggi pada ikan tongkol, menyebabkan ikan mudah mengalami oksidasi lemak yang dapat menurunkan nilai nutrisi ikan tongkol. Ikan Tongkol Krai atau frigate tuna (Auxis thazard) merupakan sumberdaya ikan pelagis dan neritik. Ikan Tongkol Krai termasuk dalam jenis ikan
tuna kecil (ICCAT, 2006 dalam Made Ayu Pratiwi, Endang Wulandari Suryaningtyas 2022). Ikan tongkol memiliki karakteristik sebagai ikan. pelagis, hidup dengan membentuk gerombolan, tipe perenang cepat, dan pemakan daging (karnivora).
Hubungan panjang-berat ikan adalah suatu hal yang penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Hubungan panjang berat adalah hal yang penting untuk diketahui, karena dengan adanya informasi ini dapat diketahui pola pertumbuhan ikan, informasi mengenai lingkungan dimana spesies tersebut hidup, produktivitas, kondisi fisiologis ikan, dan tingkat kesehatan ikan secara umum Okgemen (2005). Merta (1993) juga menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan hubungan panjang berat adalah variasi berat harapan untuk panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, perkembangan gonad dan sebagainya.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari Kerja Praktik Akhir (KPA) ini untuk identifikasi Hubungan Panjang Berat Ikan Tongkol (Auxis Thazard) di perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kasifikasi Ikan Tongkol
Klasifikasi Ikan Tongkol Krai menurut Welly dkk (2012) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Teleostei Ordo : Perciformes Famili : Scrombidae
Genus : Auxis
Spesies : Auxis thazard
Gambar 1. Ikan Tongkol
Menurut Setiawan dan Djatikusumo (1992), ikan tongkol mempunyai ciri- ciri Secara morfologi adalah sebagai berikut: bentuk badan fusiform dan memanjang. Panjang badan kurang lebih 3,4-3,6 kali panjang kepala dan 3,5-4 kali tinggi badannya. Panjang kepala kurang lebih 5,7-6 kali diameter mata.
Kedua rahang mempunyai satu seri gigi berbentuk kerucut. Sisik hanya terdapat pada bagian korselet. Garis rusuk (linea lateralis) hampir lurus dan lengkap. Sirip dada pendek, kurang lebih hampir sama panjang dengan bagian kepala dibelakang mata. Jari-jari keras pada sirip punggung pertama kurang lebih sama panjang dengan bagian kepala di belakang mata, kemudian diikuti dengan jari- jari keras sebanyak 15 buah. Sirip punggung kedua lebih kecil dan lebih pendek
3
dari sirip punggung pertama. Permulaan sirip dubur terletak hampir di akhir sirip punggung kedua dan bentuknya sama dengan sirip punggung pertama. Sirip punggung pendek dan panjangnya kurang lebih sama dengan panjang antara hidung dan mata. Bagian punggung berwarna kelam, sedangkan bagian sisi dan perut berwarna keperak-perakan. Di bagian punggung terdapat garis-garis miring ke belakang yang berwarna kehitam-hitaman.
2.3 Habitat Ikan Tongkol
Ikan tongkol mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas yaitu pada perairan pantai dan oseanik. Kondisi oseanografis yang mempengaruhi migrasi ikan tongkol yaitu suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut dan ketersediaan makanan. Ikan tongkol pada umumnya menyenangi perairan panas dan hidup dilapisan permukaan sampai pada kedalaman 40 meter dan kisaran optimum antara 20-28oC. penyebaran ikan tongkol diperairan samudra hindia meliputi daerah tropis dan sub tropis dan penyebaran ini berlangsung secara teratur (Oktaviani, 2008).
2.4 Hubungan Panjang – Berat
Analisis hubungan panjang bobot bertujuan untuk mengukur variasi berat badan yang diharapkan pada panjang tertentu pada seekor ikan atau populasi sebagai indikator kegemukan, kesehatan, perkembangan gonad dan sebagainya. Berat badan didasarkan pada pertumbuhan relatif dapat berubah seiring waktu. Nilai ini diperkirakan akan berubah seiring perubahan lingkungan dan ketersediaan makanan. Data biologi berupa perbandingan panjang dan berat melalui pengolahan lebih lanjut memberikan hasil akhir berupa tangkapan optimal dan hasil tangkapan maksimum (Anggraeni et al., 2015).
III. METODE PRAKTIK
3.1 Waktu dan Tempat
Kerja Praktek Akhir (KPA) ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2025 yang lokasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan Manggar Baru, Kota Balikpapan Timur, Provinsi Kalimantan Timur dengan lokasi pengambilan data di Perairan Kabupaten Penajam Paser Utara.
Gambar 2. Peta Lokasi PPI Manggar Baru 3.4 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan saat melakukann pengambilan data mormometrik dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan Bahan
No Alat dan bahan Fungsi
1 Timbangan Digital Menimbang bobot tubuh sampel ikan
2 Mistar Mengukur panjang ikan
3 Alat tulis Mencatat hasil pengukuran
4 Kamera Dokumentasi/foto sampel
6 Leptop Pengelolaan dan penginputan data
7 Microsoft Exel Pengelolaan data
8 Ikan Tongkol Sebagai sempel yang diamati
5
3.3 Metode Pengambilan Data
Sesuai Pernyataan dari Sukarman & Esterial (2021), jenis pengambilan data ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan survei, meliputi :
1. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap nelayan, berada di lapangan untuk mengetahui hasil tangkapan ikan yang sering didapat.
2. Obeservasi
Obeservasi dilakukan pada saat pengambilan data sedang berlangsung dengan cara mengamati objek dilapangan sehingga diperoleh data panjang dan berat ikan tongkol yang ditangkap oleh nelayan.
3. Dokumentasi
Studi doukumentasi berupa pengambilan gambar ketika penelitian melakukan pengukuran morfometrik.
3.4 Prosedur kerja
Prosedur kerja pengambilan sampel ikan hasil tangkapan dan proses pengukurannya, meliputi :
1. Ambil sampel ikan dari hasil tangkapan nelayan dilokasi penelitian.
2. Ikan diukur panjang total (TL) satu persatu menggunakan mistar mulai ujung kepala hingga ke ujung ekor dengan satuan (cm) dan dicatat hasilnya.
3. Kemudian timbang ikan menggunakan timbangan digital dengan satuan (gr) dan dicatat hasilnya.
4. Selanjutnya dianalisa data yang diperoleh menggunakan microsoft office excel.
3.5 Analisis Data
Menurut Nafisah & Machrizal (2021), Adapun analisis hubungan panjang berat ikan menggunakan analisis persamaan Linear Allometric Model (LAM) seperti dibawah ini :
𝐖 = 𝐞𝟎,𝟓𝟔 (𝐚𝐋𝐛) Keterangan:
W = Berat Ikan (gram);
L = Panjang Ikan (mm);
a = Intercept Linier;
b = Koefisien Regresion;
e = Residual Varian dari LAM dan 0,56 Merupakan Faktor Data Koreksi.
Hasil nilai b menunjukkan hasil perhitungan yang mencerminkan pola pertumbuhan ikan. Dengan ketentuan, jika nilai b sama dengan 3, maka disebut pola pertumbuhan bersifat isometrik, yang artinya ialah pertumbuhan berat sama dengan pertumbuhan panjang. Kemudian, jika nilai b≠3 artinya bersifat allometrik. Pertumbuhan allometrik dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 bagian, yakni allometrik positif dan negatif. Dengan ketentuan, jika nilai b di atas 3, maka allometrik positif yang berarti pertumbuhan bobot lebih cepat dari pertumbuhan panjang. Sedangkan jika nilai b di bawah 3, artinya allometrik negatif yang berarti pertumbuhan panjang lebih cepat dari pertumbuhan bobot ikan.
7
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, R., Solichin, A., & Saputra, S. W. (2015). BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DALAM KAITANNYA UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN DI PPP SADENG KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA. Diponegoro Journal of Maquares, 4(2014), 230–239.
Katarina, H. N., Kartika, W. D., & Wulandari, T. (2019). Keanekaragaman Jenis Ikan Hasil Tangkapan Nelayan Di kelurahan Tanjung Solok Tanjung Jabung Timur. Biospecies, 12(2), 28-34.
Khaerudin, K., Hamidah, A., ete& Kartika, W. D. (2018). Fish species of fishermens’ catches in Kuala Tungkal-Tungkal Ilir Sub-District, Tanjung Jabung Barat Regency, Jambi Province. Jurnal Iktiologi Indonesia, 18(2), 115-126.
Merta, I.G.S. 1993. Hubungan panjang – berat dan faktor kondisi ikan lemuru, (Sardinella lemuru) Bleeker, 1853 dari perairan Selat Bali. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, 73: 35- 44.
Napisah, S., & Machrizal, R. (2021). Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan gulamah (Johnius trachycephalus) di perairan sungai barumun kabupaten labuhanbatu. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 9(1), 63-71.
Okgermen, H. 2005. Seasonal variation of the length weight and condition factor of rudd (Scardinius erythrophthalmus) in Spanca Lake. International Journal of Zoological Research, 1(1): 6-10.
Oktaviani, A. 2008. Studi Keragaman Cacing Parasitik pada Saluran Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Tongkol (Euthynnus spp.).
Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 51 halOktaviani, A. 2008. Studi Keragaman Cacing Parasitik pada Saluran Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Tongkol (Euthynnus spp.). Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 51 hal
Pratiwi, M. A., & Suryaningtyas, E. W. (2022). GROWTH ASPECT OF FRIGATE TUNA (Auxis thazard Lacepède, 1800) IN KUSAMBA WATERS IN EAST SEASON. Jurnal Perikanan Unram, 12(1), 66-73.
Saleky, D., & Dailami, M. (2021). Konservasi Genetik Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch, 1790) Melalui Pendekatan DNA Barcoding dan Analisis Filogenetik di Sungai Kumbe Merauke Papua. Jurnal Kelautan Tropis, 24(2), 141-150.
Sanger, G. (2010). Oksidasi Lemak Ikan Tongkol (Auxis thazard) Asap Yang di Rendam dalam Larutan Ekstrak Daun Sirih. Pasific Journal, 2(5), 870-873.
Setiawan, L.B. 1992. Studi Tentang Aspek Target Strenght Ikan Tongkol (Euthynnus affinis). Skripsi (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Veron JEN, Devantier LM, TurakE, Green AL, Kininmonth S, Smith MS, Peterson N. 2009. Delineating the coral triangle. Galaxea, Journal of Coral Reef
Studies 11: 91-100.
9