Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dalam Pasal 1 menentukan bahwa perkawinan adalah suatu ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata memandang perihal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata yang terdapat dalam Pasal-Pasal 26, 27 dan 81 KUHPerdata.
Adapun yang menjadi azas-azas dari hukum perkawinan di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal.
2. Perkawinan dilakukan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing
3. Pada prinsipnya berlaku azas monogami. Artinya, oleh hukum yang berlaku di Indonesia , seorang suami hanya diperkenankan mengawini seorang istri saja, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.
4. Untuk boleh melakukan perkawinan sudah berumur 19 tahun bagi pria dan 16 tahun bagi wanita.
5. Perceraian dipersulit, karena undang-undang menganggap bahwa tujuan perkawinan bukan untuk bercerai , tetapi untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal abadi.
6. Berlaku prinsip emansipasi antara suami dan istri, sehingga kedudukan suami dan istri adalah seimbang baik dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat.
7. Perkawinan tidak dipersulit. Karena itu keterlibatan pengadilan dalam proses perceraian hanya sekedar untuk menjamin terlaksananya unsur kepastian hukumdan keadilan bagi pihaksuami maupun pihak istri.
PERJANJIAN PERKAWINAN
Yang dimaksudkan dengan perjanjian kawin adalah suatu perjanjian tertulis , tetapi tidak termasuk taklik talak , yang dibuat secara sukarela di antara para mempelai atau para calon mempelai sebelum atau pada saat dilangsungkan perkawinan dengan syarat harus mendapatkan pengesahan dari pegawai pencatat perkawinan. Suatu perjanjian kawin berlaku juga terhadap pihak ketiga atau harus dihormati juga oleh pihak ketiga , yang berisikan tentang hal-hal yang dianggap penting oleh para pihak yang belum diatur oleh undang- undang atau bahkan terhadap hal-hal yang menyimpang dari ketentuan undang-undang sepanjang diperbolehkan oleh undang-undang , agama dan kesusilaan, seperti perjanjian tentang kedudukan anak atau harta benda selama perkawinan atau setelah putusnya perkawinan. Konsekwensi-konsekwensi hukum dari suatu perjanjian kawinadalah sebagai berikut:
1. Berlaku ketentuan hukum perjanjian pada umumnya, kecuali hal-hal yang bersifat khusus dalam perjanjian perkawinan.
2. Mengikat kedua belah pihak ( kedua mempelai).
3. Mengikat juga bagi pihak ketiga.
4. Meskipun mungkin dibuatnya sebelum perkawinan, pengikatan karena perjanjian perkawinan tersebut mulai berlaku sejak saat perkawinan dilangsungkan.
5. Perjanjian perkawinan tersebut tidak dapat diubah selama perkawinan berlangsung kecuali dengan kesepakatan kedua belah pihak dan dengan tidak merugikan pihak ketiga.
Larangan dalam perjanjian kawin antara lain:
1. Menghapuskan kekuasaan suami sebagai kepala dalam perkawinan atau kekuasaannya sebagai ayah.
2. Sisuami akan memikul suatu bagian yang lebih besar dalam aktiva daripada bagiannya dalam passiva, maksud larangan ini adalah jangan sampaai istri itu menguntungkan diri untuk kerugian pihak ketiga.
3. Hubungan suami istri akan dikuasai oleh hukum negara asing.
Apabila suatu perkawinan yang dilangsungkan telah memenuhi syarat seperti disebutkan diatas maka perkawinan itu diakui sebagai perkawinan yang sah dengan segala akibat hukumnya. Akibat hukum perkawinan yang sah adalah menimbulkan hubungan hukum antara anak , suami dan istri, antara orang tua dan anak , antara wali dan anak , serta harta perkawinan dalam perkawinan.
1. Hubungan hukum antara suami dan istri
Dalam hubungan hukum antara suami dan istri terdapat hak masing-masing pihak dalam fungsi nya sebagai istri sebagai berikut:
a. Suami dan istri mempunyai hak dan kedudukan yang seimbang dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup dalam masyarakat (Pasal 31 ayat (1) UUP);
b. Suami dan istri sama-sama berhak melakukan perbuatan hukum (Pasal 31 ayat (2) UUP);
c. Suami dan istri mempunyai hak yang sama sebagai penggugat dan tergugat ( Pasal 34 ayat (3) UUP).
Hubungan hukum suami dan istri terdapat kewajiban masing-masing pihak dalm fungsi sebagai suami dan fungsi sebagai istri sebagai berikut:
a. Suami dan istri berkewajiban luhur menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat (Pasal 30 UUP);
b. Suami dan istri mempunyai tempat tinggal yang tetap dan ditentukan secara bersama (Pasal 32UUP);
c. Suami dan istri wajib saling mencintai , saling menghormati , saling setia , dan saling memberi bantuan lahir batin (Pasal 33 UUP).
d. Suami dan istri wajib memelihara dan mendidik anak sebaik-baiknya sampai anak itu dapat mandiri atau kawin (Pasal 45 UUP).
2. Hubungan hukum antara orang tua dan anak
Adapun yang merupakan hak dan kewajiban orang tua terhadap anaknya (anak kandung , anak angkat, anak diakui) atau hak dan kewajiban anak terhadap orang tuanya sebagai berikut:
1. Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya.
2. Orang tua tetap berkewajiban memberikan biaya pemeliharaan anak , meskipun orang tuanya tersebut sudah dicabut kekuasaannya sebagai orang tua karena alasan:
a. Orang tuanya sangat melalaikan kewajibannya terdahap anak.
b. Orang tuanya berkelakuan buruk sekali.
3. Anak wajib menghormati dan mentaati orang tua.
4. Anak yang sudah dewasa wajib memelihara orang tua dalam garis lurus keatas jika orang tuanya memerlukannya.
5. Anak yang belum dewasa (belum berumur 18 tahun dan belum pernah melangsungkan perkawinan)berhak untuk diwakili orang tuanya untuk melakukan perbuatan hukumdi dalam dan di luar pengadilan.
6. Anak yang belum dewasa berhak untuk tinggal dalam kekuasaan orang tuanya selama kekuasaan orang tuanya tersebut telah dicabut.
7. Orang tua berkewajiban untuk tidak memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang bergerak milikanaknya yang belum dewasa, kecuali apabila kepentingan si anak menghendakinya.
PUTUSNYA PERKAWINAN
Undang-undang menyebutkan putusnya perkawinan dapat terjadi karena kematian , perceraian dan atas keputusan pengadilan.
a. Kematian
Putusnya perkawinan dapat terjadi karena kematian adalh berakhirnya perkawinan yang disebabkan salah satu pihak , yaitu suami atauistri meninggal dunia atau cerai mati.
b. Perceraian
Putusnya perkawinan karena perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atau tuntutan dari salah satu pihak dalam perkawinan. Tata cara mengajukan gugatan cerai beserta alasannya diatur dalam PP No.9 Tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan. Alasan perceraian disebutkan dalam Pasal 19 peraturan tersebut sebagai berikut:
1. Salah satu berbuat zina atau menjadi pemabuk , pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
2. Salah satu pihak meninggalkan pihak yang lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau hal lain diluar kemampuannya.
3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahunatau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
6. Antara suami dan istrimterus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran, serta tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
c. Keputusan Pengadilan.
Putusnya perkawinan karena putusan pengadilan adalah berakhirnya perkawinan yang didasarkan atas putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Akibat Perceraian
Hukum menentukan akibatnya terhadap:
a. Anak dan istri
1. Ayah dan ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anak mereka sesuai dengan kepentingan anak ;
2. Ayah bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak , bila mana ayah tidak memenuhi kewajiban itu, pengadilan dapat menetapkan ibu ikut memikul biaya tersebut,
3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan ( Pasal 41huruf c UU Nomor 1Tahun 1974),
b. Harta Kekayaan
Dengan terjadinya perceraian , harta bawaan masing-masing tetap dikuasai dan menjadi haknya masing-masing, sedangkan harta bersama diatur menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaannya (Pasal 37 UU Nomor 1Tahun 1974),
c. Status para pihak
1. Kedua belah pihak tidak lagi terikat dalam tali perkawinan denganstatus duda dan janda.
2. Keduanya boleh melakukan perkawinan dengan orang lain 9 khusus untuk istri berlaku waktu tunda).
3. Kedua boleh melakukan perkawinan kembali sepanjang tidak dilarang oleh undang- undang atau agam mereka.
HUKUM PERIKATAN
Perikatan adalah hubungan antara dua pihak di dalam lapangan harta kekayaan , dimana pihak yang satu (kreditur) berhak atas suatu prestasi , dan pihak yang lain (debitur)
berkewajiban memenuhi prestasi itu.Oleh karena itu, dalam setiap perikatan terdapat hak di satu pihak dan kewajiban dipihak yang lain. Oleh karena hubungan antara debitur dengan kreditur itu merupakan hubungan hukum, berarti bahwa hak si kreditur itu dijamin oleh undang-undang (Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata).
Hukum perikatan memiliki sistem terbuka yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan segala jenis perikatan (perjanjian) yang berisi apa saja,dengan batasan asalkan tidak dilarang oleh undang-undang, bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum. Dengan adanya kebebasan mengadakan perjanjian (partij otonomie, contractvrijheid) maka subjek-subjek perikatan tidak hanya terikat untuk mengadakan perikatan-perikatan yang namanya ditentukan oleh undang-undang (benoemde overeenkomsten) sebagaimana yang tercantum dalam Bab V sampai dengan Bab XVIII KUHPerdata Buku III, tetapi berhak untuk mengadakan perjanjian-perjanjian yang khusus (onbenoemde overeenkomsten).
Jenis-Jenis Perikatan:
Hukum perikan merupakan seluruh ikatan hukum yang diatur dalam Buku III KUHPerdata, yang terdiri dari:
1. Hukum perikatan yang bersumber dari perjanjian/kontrak.
2. Hukum perikatan yang bersumber dari hukum/undang-undang tanpa melalui perbuatan manusia dan yang melalui perbuatan manusia.
Perikatan yang bersumber langsung dari undang-undang tanpa melalui perbuatan manusi terdiri dari:
a. Perikatan yang menimbulkan kewajiban bagi penghuni pekarangn yang berdampingan (Pasal 625 KUHPerdata).
b. Perikatan yang menimbulkan kewajiban mendidik dan memelihara anak (Pasal 104 KUHPerdata).
Perikatan yang bersumber dari undang-undang melalui perbuatan manusia terdiri dari:
a. Perbuatan melawan hukum(Onrechtmatige Daad, tort) (Pasal 1365 KUHPerdata).
b. Perbuatan menurut hukum (Rechtmatige Daad, yang terdiri dari:
1. Perwakilan sukarela (Zaakwaarneming) Pasal 1354 KUHPerdata).
2. Pembayaran tidak terutang (Pasal1359 ayat (1)KUHPerdata.
3. Perikatan wajar (Natuurlijke Verbintenissen) Pasal 1359 ayat(2) KUHPerdata.
Model Pengaturan hukum perikatan sebagai berikut:
1. Pengaturan tentang perikatan pada umumnya.
2. Pengaturan tentang perikatan yang lahir dariperjanjian.
3. Pengaturan tentang perikatan yang lahir dari undang-undang.
4. Pengaturan tentang hapusnya perikatan.
5. Pengaturan tentang perjanjian-perjanjian khusus, seperti tentang perjanjian jual beli, tukar menukar, hibah, sewa menyewa, pinjam meminjam, dsbnya).
Berdasarkan berbagai ukuran , didalam ilmu pengetahuan hukum perdata perikatan itu dibedakan dalam berbagai jenis:
1. Dilihat dari prestasinya, maka dapat dibedakan:
a. Perikatan untukmemberikan sesuatu.
b. Perikatan untuk berbuat sesuatu.
c. Perikatan untuk tidak berbuat sesuatu.
d. Perikatan mana suka (alternatif) e. Perikatan fakultatif.
f. Perikatan generik dan spesifik.
g. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi.
h. Perikatan yang sepintas lalu dan terus menerus.
2. Dilihat dari subjeknya, maka dapat dibedakan:
a. Perikatan tanggung menanggung.
b. Perikatan pokok dan tambahan.
3. Dilihat dari daya kerjanya, maka dapat dibedakan:
a. Perikatan dengan ketetapan waktu.
b. Perikatan bersyarat.
4 Pembedaan perikatan berdasarkan undang-undang:
a. Perikatan untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu.
b. Perikatan bersyarat.
c. Perikatan dengan ketetapan waktu.
d. Perikatan manasuka.
e. Perikatan tanggung menanggung
f. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi.
g. Perikatan dengan ancaman hukuman.
Prestasi (Objek Hukum)
Menurut Pasal 1234 KUHPerdata prestasi itu dibedakan atas:
- Memberikan sesuatu.
- Berbuat sesuatu.
- Tidak berbuat sesuatu.
Kedalam perikatan untuk memberikan sesuatu termasuk pemberian sejumlah uang, memberi benda untuk dipakai (menyewa), penyerahan hak milik atas benda tetap dan bergerak. Perikatan untuk melakukan sesuatu misalnya membangun rumah.
Perikatan untuk tidak melakukan sesuatu misalnya A membuat perjanjian dengan B ketika menjual apoteknya, untuk tidak menjalankan usaha apotek dalam daerah yang sama.
Wanprestasi (Ingkar Janji)
Apakah wujud dari tidak memenuhi perikatan itu, ada tiga macam, yaitu:
- Debitur sama sekali tidak memenuhi perikatan, - Debitur terlambat memnuhi perikatan,
- Debitur keliru atau tidak pantas memnuhi perikatan.
Akibat yang sangat penting dari tidak dipenuhinya perikatan ialah bahwa kreditur dapat meminta ganti rugi atas ongkos, rugi dan bunga yang dideritanya. Untuk adanya kewajiban ganti rugi bagi debitur harus terlebih dahulu dinyatakan berada dalam keadaan lalai (ingebrekestelling).Lembaga pernyataan lalai ini adalah merupakan upaya hukum untuk sampai kepada suatu fase , dimana debitur dinyatakan wanprestasi (ingkar janji) (Pasal 1243 KUHPerdata). Jadi maksud berada dalamkeadaan lalai ialah peringatan atau pernyataan dari kreditur tentang saat selambat-lambatnya debitur wajib memnuhi prestasi.
Hak-hak kreditur kalau terjadi wanprestasi:
a. Hak menuntut pemenuhan perikatan.
b. Hak menuntut pemutusan perikatanatau apa bila perikatan itu bersifat timbal balik, menuntut pembatalan perikatan.
c. Hak menuntut ganti rugi.
d. Hak menuntut pemenuhan perikatan dengan ganti rugi.
e. Hak menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan dengan ganti rugi.
Ganti rugi.
Menurut Pasal 1244,1245dan 1246 KUHPerdata,unsur –unsur dari ganti rugi ialah biaya, rugi dan bunga.Apabila undang-undang menyebutkan rugi (schade) maka yang dimaksud adalah kerugian nyata yang (feitelijknadee) yang dapat diduga atau diperkirakan pada saat perikatan itu diadakan, yang timbul sebagai akibat wanprestasi. Jumlahnya ditentukan dengan suatu perbandingan di antara keadaan kekayaan sesudah terjadinya wanprestasi dan keadaan kekayaan seandainya tidak terjadi wanprestasi.
Pada umumnya debitur hanya memberikan ganti rugi kalau kerugian itu mempunyai hubungan langsung dengan wanprestasi, dengan perkataan lain antara wanprestasi dengan kerugian harus ada hubungan sebab akibat (kausal) (Pasal1248 KUHPerdata).
Yang dimaksud dengan biaya adalah setiap uang (termasuk ongkos) yang harus dikeluarkan secara nyata oleh pihak yang dirugikan.Dalam hal ini sebagai akibat dari adanya tindakan wanprestasi, sehingga pembeli harus berusahauntuk membeli barang yang sama dari pihak lain dengan harga yan lebih tinggi, maka dalam hal ini selisih harga tersebut merupakan komponen biaya yang mesti diganti oleh pihak penjual.Contoh lain dari komponen biaya adalah biaya notaris, tiket perjalanan, akomodasi, penginapan dan sebagainya.
Yang dimaksud dengan rugi adalah keadaan merosotnya (berkurangnya)nilai kekayaan kreditor sebagai akibat dari adanya wanprestasi dari pihak debitur.
Yang dimaksud dengan bunga adalah keuntungan yang seharusnya diperoleh tetapi tidak jadi diperoleh oleh pihak kreditor karena adanya tindakan wanprestasi dari pihak debitur. Dengan demikian istilah bunga disamakan dengan keuntungan ,sehingga pengertian bunga dalam Pasal 1243 KUHPerdata menjadi lebih luas dari sekedar pengertian bunga bank (interest)dalam pengertian sehari-hari, yang hanya ditentukan dengan menentukan persentase dari utang pokok.
Keadaan Memaksa (Force Majeure).
Yang dimaksud dengan keadaan memaksa dalam hukum perjanjian adalh suatu keadaan dimana seseorang yang berkewajiban (debitur) terhalang untuk melaksanakan prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tidak terdugadan tidak dapat diantisipasi pada saat dibuatnya perjanjian yang menerbitkan kewajibaindakan tersebut, dan keadaan atau peristiwa tersebut secara hukum tidak dapat dipertanggugjawabkan kepada debitur yang bersangkutan, sedangkan debitur tersebut tidak dalam keadaan beriktikad buruk.