• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hydra : Inovasi Robot Otonom untuk Misi Eksplorasi Bawah Air Implementasi Desain dan Mekanikal Robot

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Hydra : Inovasi Robot Otonom untuk Misi Eksplorasi Bawah Air Implementasi Desain dan Mekanikal Robot"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

KELENGKAPAN ANALISIS DAN KEBERHASILAN PENGUJIAN ROBOT

A. Analisis Komponen a. Raspberry Pi Pico

Raspberry Pi Pico sebagai mikrokontroler dilakukan pengujian dengan menggunakan aplikasi Thonny dengan cara diprogram dengan bahasa micropython. Pengujian ini dilakukan dengan cara membuat blink dan mencetak tulisan hello world”. Dari hasil pengujian ini, Raspberry Pi Pico dapat bekerja dengan baik dan dapat digunakan untuk pengembangan robot.

b. ESC 40A 2-4S LiPo dan Propeller LW001 12-24V

Gambar 4.1 : Rangkaian pengujian ESC 40A 2-4S Lipo dan Propeller LW001 12-24V

Berdasarkan gambar 4.1, ESC digunakan untuk mengatur kecepatan putar propeller. Mikrokontroler mengirimkan sinyal PWM dan propeller akan berputar sesuai dengan input PWM nya. Dalam rangkaian pengujian ini, PWM diatur dengan menggunakan potentiometer. Dari hasil pengujian, ESC dapat bekerja dengan baik karena dapat membunyikan suara startup melalui propeller dan mengatur kecepatan putar propeller. Propeller juga dapat berfungsi dengan baik.

c. Driver Dual H-Bridge L298N dan 12V DC motor with gearbox

Driver L298N memiliki fungsi untuk mengontrol kecepatan dari motor DC serta mengatur arah perputaran dari Motor DC. Motor DC terdapat dalam sistem ballast tank. L298N akan memberikan instruksi untuk motor DC berputar clockwise untuk menarik air dan L298N akan memberikan instruksi untuk motor DC berputar counter counter-clockwise untuk mengeluarkan air dari ballast. Pada saat pengujian, kedua motor dapat berputar secara bersamaan

(2)

dengan kecepatan yang diinginkan. Inovasi Robot…, Surya Adi Nurizqi, Universitas Multimedia Nusantara

d. Sensor MPX5050DP

Sensor ini memiliki dua lubang untuk mendeteksi perbedaan tekanan.

Pada saat pengujian sensor dapat membaca perubahan tekanan melalui melalui pengujian dengan memberikan udara bertekanan (dengan cara ditiup) dan ruang hampa buatan (dengan cara dihisap).

Gambar 4.2 : Komponen MPX5050DP

Berdasarkan gambar 4.2, bahwa selang pendek digunakan sebagai pembanding tekanan dengan selang panjang.

e. Sensor MPU6050

Pada pengujian MPU6050, sensor dapat mengukur kemiringan pada sumbu X, Y, dan Z (roll, pitch, yaw) serta mengukur akselerasi pada sumbu X, Y, dan Z.

f. Sensor Hall Effect A3144

Gambar 4.3 : Hasil pengujian hall effect sensor tanpa menggunakan magnet.

(3)

Gambar 4.4 : Hasil pengujian hall effect sensor dengan menggunakan magnet

Berdasarkan gambar 4.3 dan 4.4, menunjukan bahwa hall effect sensor mendeteksi perubahan medan magnetik. Saat pengujian keberhasilan dilihat menggunakan light emitting diode atau LED. Ketika magnet didekatkan, sensor membaca perubahan medan magnetik dan LED menyala. Demikian juga sebaliknya ketika medan magnet tidak terdeteksi, maka LED akan mati.

g. Sensor Rotary Encoder KY-04

Gambar 4.5 : Pengujian encoder KY-40.

Berdasarkan gambar 4.5, sensor Rotary Encoder KY-04 digunakan untuk mengetahui posisi ballast. Dalam pengujian, encoder dapat membaca arah putaran dari encoder.

(4)

h. Board ESP32-Cam dan kamera OV5640AF

Gambar 4.6 : Rangkaian pengujian Board ESP32-Cam dan kamera OV5640AF

Berdasarkan gambar 4.6, Board ESP32-Cam dimodifikasi dengan menghubungkan pin kamera terakhir dengan 3,3V yang bertujuan untuk memberi daya untuk kemampuan autofocus kamera. Dari hasil pengujian, kamera dapat mengambil gambar dan dengan baik menggunakan kemampuan autofokusnya. Board ESP32-Cam sudah dapat dihubungkan dengan mikrokontroler raspberry pi pico dalam hal memberi perintah untuk mengambil gambar, sedangkan untuk perintah pengaturan pengambilan dan autofocus langsung dilakukan di board ESP32-Cam. Gambar 4.7 merupakan hasil pengambilan gambarnya.

Gambar 4.7 : Hasil pengambilan gambar dari ESP32-Cam dan kamera OV5640AF

(5)

i. Sensor MaxSonar MB1003 HRLV

Gambar 4.8 : Pengujian sensor sonar MB1003 HRLV.

Berdasarkan gambar 4.8, sensor MaxSonar memberikan output berupa tegangan yang dapat dikonversi menjadi jarak. Dari hasil pengujian, sensor ini tidak dapat memberikan output tegangan yang berubah-ubah sesuai jarak namun hanya mengulang ulang hasil output tegangan saja. Sehingga sensor ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jarak.

j. Sensor JSN-SR04T

Sensor ini merupakan sensor waterproof yang digunakan untuk sensor jarak di sisi kanan dan kiri robot. Dari hasil pengujian, dari dua sensor yang dimiliki, kedua sensor mengalami kerusakan berupa data hasil pengukuran tidak sesuai dengan jarak sebenarnya. Data yang dikeluarkan statis pada nilai 0 atau

angka lainnya.

Setelah dilakukan beberapa pengecekan, dari kepala sensornya masih menyala (dapat mengirimkan gelombang ultrasonic, dapat diamati dari bunyi “tik-tik”

pada sensor) namun setelah dilakukan pengecekan serial, sensor tidak dapat menerima sinyal pantulnya atau board JSN-SR04T tidak dapat meneruskan sinyal pantul ke mikrokontroler.

k. Sensor A02YYUW

Sensor ini menggunakan mekanisme yang berbeda dengan sensor ultrasonic pada umumnya yang terdapat trigger dan echo. Pada saat pengujian di udara, sensor ini dapat membaca jarak dengan baik dengan perbedaan kurang lebih 2 cm dengan jarak sebenarnya. Meskipun sensor ini waterproof, namun sensor tidak dapat mengukur jarak di dalam air. Hal ini disebabkan oleh sensor ini memiliki serial interface yang khusus sehingga tidak dapat mengubah perhitungan untuk kecepatan rambat suara di air.

(6)

l. Lampu LED strobo

Pada pengujian komponen ini, dihubungkan dengan power supply dan lampu dapat menyala dan berkedip.

Sesuai dengan komponen yang digunakan, tabel 4.1 menunjukan besar arus yang digunakan pada setiap komponen.

Tabel 4.1 : Arus komponen

Jenis Komponen Nama Komponen Arus

Mikrokontroller Raspberry Pi Pico 0.48 A

Aktuator 3 x

Propeller

2 x 17 = 34 A

2 x Motor DC 1.8 A

Sensor MPX5050DP 0.007 A

MPU6050 0.01 A

A3144 0.5 A

MB1003-HRLV 0.0031 A

JSN-SR04T 0.03 A

A02YYUW 0.008 A

Kamera ESP32-Cam dan

OV5640AF

0.25 A

LED Truck Warning Light

Modified Single Row Strobe

0.75 A

Total 37.8381 A

Perhitungan Baterai

5200 mAh = 5.2 A

5.2 A : 37.8381 A = 0.1374276192514952 0.1374276192514952 x 60 = 8.245657155089711 menit

Dengan semua komponen menyala, melalui perhitungan total arus maksimal dari seluruh komponen, dapat diketahui bahwa dengan menggunakan baterai LiPo 4S 5200mAh akan bertahan selama 8 menit. Berikut merupakan tabel arus dari tiap komponen.

(7)

B. Keberhasilan Penelitian Robot

Dalam penelitian robot Hydra ini, terdapat beberapa keberhasilan yang sudah berhasil dilakukan. Salah satu keberhasilan yang sudah dicapai pada penelitian ini adalah keberhasilan dalam pembuatan mekanisme ballast. Mekanisme ballast yang dibuat mampu untuk menggerakan plunger untuk bergerak mundur untuk menghisap air dan bergerak maju untuk mengeluarkan air. Keberhasilan mekanisme ballast ini diuji dengan menghisap balon yang diletakan pada ujung tangki ballast. Terbukti bahwa mekanisme ballast yang dibuat mampu untuk menghisap balon ketika plunger ballast digerakkan mundur sehingga balon akan terhisap kedalam tangki ballast dan tidak mudah untuk ditarik keluar secara paksa dengan menggunakan tangan. Plunger ballast harus digerakkan maju agar balon dapat dikeluarkan dari tangki ballast.

Selain keberhasilan pada pembuatan mekanisme ballast, keberhasilan lainnya pada penelitian robot ini terdapat pada pembuatan tubuh robot. Robot Hydra ini dibuat dengan bahan utama berupa pipa PVC pada kaki, ballast, serta tubuh utama dan bahan pendukung berupa filamen berbahan PLA+ dan PETG pada penutup tubuh utama, ekor, beberapa bagian mekanisme ballast, kerucut pada belakang ballast, kubah pada bagian depan ballast, kubah pada bagian depan badan utama, serta penyambung kaki dengan tubuh utama. Material lainnya berupa pipa akrilik yang ada di dalam mekanisme ballast dan pipa vinyl untuk pelindung kabel antara kabel propeller dan kabel mekanisme ballast. Keberhasilan pemasangan tubuh robot ini berhasil dari pengujian kebocoran pada tubuh utama dengan mengisi air kedalam tubuh robot dan ditutup dengan penutup yang dibuat dari 3D printer. Terbukti bahwa air yang berada di dalam tubuh utama tidak bocor ke luar. Pengujian kebocoran juga dilakukan pada plunger ballast yang hasilnya sudah terbukti kedap air dengan memasukkan air kedalam ballast.

Gambar 4.9 : HYDRA tampak depan Gambar 4.10 : HYDRA diagonal belakang

(8)

Berdasarkan gambar 4.9 dan 4.10 robot disusun dari tiga bagian, yaitu main body, dua ballast, dan dua kaki. Pada bagian main body terdapat emergency button, propeller pada bagian kiri, kanan, dan belakang pada bagian robot. Lalu pada bagian ballast terdapat mekanisme ballast yang terdiri dari plunger, motor dc, encoder, dan threaded rod. Ballast ini dipasangkan dengan main body menggunakan clamp pipa.

Pada bagian kaki dipasangkan dengan main body menggunakan 3D printing.

Gambar 4.11 : Pengujian ballast

Berdasarkan gambar 4.11, pengujian ballast dilakukan dengan menggunakan power supply sebagai sumber daya dari motor DC untuk menggerakan ballast. Ballast diuji dengan menggunakan air yang terdapat didalam teko sebanyak 1 liter. Ketika power supply dinyalakan dengan tegangan 12V dan ampere di setting pada maksimal 1 ampere, motor DC akan menggerakan plunger sehingga plunger akan menarik air menggunakan selang.

Gambar 4.12 menunjukan plunger ballast tipe 1. Plunger ini terbuat dari pipa akrilik, 3D print, dan karet.

Gambar 4.12 : Pengujian kebocoran ballast tipe 1

Hasil pengujian kebocoran plunger ballast tipe 1, dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 : Kebocoran ballast tipe 1

(9)

Kebocoran Ballast

Pengujian ke- Pengujian Hasil

1 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 2 Mengeluarkan Air Terdapat kebocoran air 3 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 4 Mengeluarkan Air Terdapat kebocoran air 5 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 6 Mengeluarkan Air Terdapat kebocoran air 7 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 8 Mengeluarkan Air Terdapat kebocoran air 9 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 10 Mengeluarkan Air Terdapat kebocoran air

Berdasarkan 10 kali percobaan pada tabel 4.2, plunger ballast tipe 1 mampu menarik air dengan tingkat keberhasilan sebesar 100% tetapi mengalami kebocoran saat menarik air dengan tingkat kegagalan sebesar 100%. Hal ini terjadi karena karet O-ring kurang fleksibel, sehingga plunger ballast tidak bisa menutup pipa ballast secara sempurna.

Gambar 4.13 menunjukan plunger ballast tipe 2. Plunger ini terbuat dari pipa akrilik, dan 3D print.

Gambar 4.13 : Pengujian kebocoran ballast tipe 2

Hasil pengujian kebocoran plunger ballast tipe 2, dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 : Kebocoran ballast tipe 2

Kebocoran Ballast

Pengujian ke- Pengujian Hasil

1 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 2 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 3 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 4 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 5 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 6 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 7 Menarik Air Tidak ada kebocoran air

(10)

8 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 9 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 10 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air

Berdasarkan 10 kali percobaan pada tabel 4.3, ballast tipe 2 berhasil menarik dan mengeluarkan air tanpa mengalami kebocoran. Hasil pengujian pada tabel 4.3 dilakukan dengan memasukkan plunger secara manual ke dalam pipa ballast. Namun, pengujian tidak bisa dilakukan ketika menggunakan motor DC karena gaya gesek yang dihasilkan oleh plunger lebih besar dari kemampuan motor untuk menggerakan plunger sehingga motor tidak dapat digunakan untuk mendorong dan menarik plunger.

Gambar 4.14 menunjukan plunger ballast tipe 3. Plunger ini terbuat dari pipa akrilik, 3D print, dan karet.

Gambar 4.14 : Pengujian kebocoran ballast tipe 3

Hasil pengujian kebocoran plunger ballast tipe 3, dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 : kebocoran ballast tipe 3

Kebocoran Ballast

Pengujian ke- Pengujian Hasil

1 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 2 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 3 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 4 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 5 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 6 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 7 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 8 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air 9 Menarik Air Tidak ada kebocoran air 10 Mengeluarkan Air Tidak ada kebocoran air

Berdasarkan 10 kali percobaan pada tabel 4.4, ballast tipe 3 berhasil menarik dan mengeluarkan air tanpa mengalami kebocoran. Plunger ballast tipe 3 lebih fleksibel daripada plunger ballast tipe 1 sehingga tidak mengalami kebocoran saat menarik dan mengeluarkan air. Selain itu, plunger ballast tipe 3 memiliki gaya gesek yang lebih kecil daripada plunger ballast tipe 2 sehingga motor dapat menggerakan plunger ballast tipe 3.

Pengujian ballast tipe 3 dilakukan dengan menggunakan power supply. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 4.5.

(11)

Tabel 4.5 : Hasil pengujian ballast

Kebocoran Ballast

Pengujian ke- Pengujian Hasil (ml)

1 Menarik Air 400

2 Menarik Air 600

3 Menarik Air 300

4 Menarik Air 500

5 Menarik Air 550

6 Menarik Air 700

7 Menarik Air 600

8 Menarik Air 600

9 Menarik Air 450

10 Menarik Air 500

Rata-rata 520

Berdasarkan tabel 4.5, ballast berhasil menarik air tetapi mengalami perubahan jumlah volume air yang ditarik pada setiap percobaan. Hal ini dapat terjadi karena terdapat ruangan kosong di bagian depan ballast, sehingga air dari pengujian sebelumnya masih terdapat di dalamnya atau tidak terbuang secara sempurna.

Dasar Teori Hardware Ballast

Terdapat dua cara untuk robot dapat menyelam kedalam air, yaitu dengan cara dinamis dan statis. Sistem dinamis merupakan sistem dengan metode penyelaman robot menggunakan sirip atau hydroplane. Metode ini dibantu dengan menggunakan kecepatan dari robot tersebut yang bertujuan untuk membantu pergerakan robot sehingga dapat menyelam dan mengapung di air. Sistem statis merupakan metode penyelaman dengan cara mengubah berat dari robot, misalnya dengan cara mengisi tangki ballast untuk melakukan pergerakan penyelaman dan memompa air dari tangki ballast keluar untuk melakukan pergerakan mengapung.

(12)

Gambar 4.15 : HYDRA tampak atas

Berdasarkan gambar 4.15, 2 buah ballast digunakan untuk robot dapat bermanuver dengan stabil. Penggunaan 2 buah ballast sesuai dengan teori buoyancy pada gambar 4.16. Teori ini digunakan sehingga robot dapat menyelam, mengapung, dan naik ke permukaan dengan baik.

Gambar 4.16 : Teori buoyancy

Berdasarkan gambar 4.16, maka HYDRA dapat menyelam, mengapung, dan naik ke permukaan dengan menggunakan rumus berikut.

1. Tenggelam

Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda (W) lebih besar dari gaya ke atas (𝐹𝐵).

𝑊 > 𝐹𝐵

𝜌𝑏 𝑥 𝑉𝑏 𝑥 𝑔 > 𝜌𝑎 𝑥 𝑉𝑎 𝑥 𝑔 𝜌𝑏 > 𝜌𝑎

(13)

Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (ρ).

2. Melayang

Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda (W) sama dengan gaya ke atas (𝐹𝐵) atu benda tersebut tersebut dalam keadaan setimbang.

𝑊 = 𝐹𝐵

𝜌𝑏 𝑥 𝑉𝑏 𝑥 𝑔 = 𝜌𝑎 𝑥 𝑉𝑎 𝑥 𝑔 𝜌𝑏 = 𝜌𝑎

3. Terapung

Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda (W) lebih kecil dari gaya ke atas (𝐹𝐵).

𝑊 < 𝐹𝐵

𝜌𝑏 𝑥 𝑉𝑏 𝑥 𝑔 < 𝜌𝑎 𝑥 𝑉𝑎 𝑥 𝑔 𝜌𝑏 < 𝜌𝑎

4. Massa jenis ballast

Persamaan untuk perhitungan volume ballast adalah sebagai berikut:

𝑉𝐵 = 𝜋. 𝑟². 𝑡 𝑉𝐵= Volume ballast (L)

𝜋= Konstanta phi

𝑟= Jari-jari tabung ballast yang digunakan (m) 𝑡= Panjang dari ballast yang digunakan (m) 5. Debit air

Debit air yang dihisap ke dalam ballast dapat dihitung menggunakan rumus pada gambar 4.17.

Gambar 4.17 : Rumus perhitungan debit air masuk melalui pipa Sumber : https://www.idntimes.com/science/discovery/cynthia-nanda/rumus-

debit-air-volume-waktu-dan-contoh-soal

Berdasarkan gambar 4.17, maka tingkat debit air dijelaskan sebagai berikut : Rumus Menghitung Debit Air

Menghitung aliran debit air menggunakan rumus berikut:

Debit = Volume Aliran / Waktu Aliran Satuan debit adalah satuan volume per satuan waktu.

(14)

Rumus Menghitung Waktu Aliran

Menghitung waktu aliran air menggunakan rumus berikut:

Waktu Aliran = Volume Aliran / Debit Rumus Menghitung Volume Aliran

Menghitung volume aliran menggunakan rumus berikut:

Volume Aliran = Debit x Waktu Aliran C. Kekurangan Robot

Selain memiliki batasan, robot Hydra ini juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya robot Hydra ini tidak memiliki sensor internal yang dapat mendeteksi adanya kebocoran pada bagian dalam robot sehingga tidak dapat diketahui apakah adanya kebocoran pada robot selama robot beroperasi di bawah air. Robot Hydra ini tidak memiliki sensor jarak yang dipasangkan pada bagian belakang, bawah robot, serta samping tubuh robot sehingga tidak dapat mendeteksi halangan pada belakang, bawah, serta samping robot. Selain dari minimnya sensor yang digunakan, rotary encoder yang digunakan untuk mengetahui posisi ballast memiliki ketelitian yang kecil karena jarak antar posisi stabil (posisi “klik”) yang jauh.

Robot Hydra yang dibuat juga memiliki kekurangan pada sistem pergerakannya, Robot Hydra ini hanya dapat bergerak maju serta mundur pada sumbu y, dan berbelok ke arah kiri serta kanan saja pada bidang xy dikarenakan robot Hydra digerakkan dengan 3 buah propeller yang diletakan pada sisi belakang serta pada sisi samping badan robot. Sehingga agar robot dapat bergerak pada sumbu z, robot Hydra ini mengandalkan sistem hisap pada ballast untuk bergerak ke atas ataupun ke bawah.

Namun, karena mengandalkan sistem hisap dari ballast ini, pergerakan sumbu z pada robot ini tidaklah bagus karena menghasilkan pergerakan yang cukup lambat.

(15)

D. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil analisis pada Bab 4, dalam pembuatan Hydra : Inovasi Robot Otonom untuk Misi Eksplorasi Bawah Air dapat disimpulkan menjadi beberapa poin sebagai berikut:

1. Sensor jarak MB1003 HRLV dan JSN-SR04T mengalami kerusakan sehingga tidak dapat mengukur jarak.

2. Sensor jarak A02YYUW tidak dapat mengukur jarak di bawah air karena tidak dapat merubah perhitungan cepat rambat gelombang suara.

3. Sistem ballast robot Hydra berhasil melakukan penyedotan dengan menggunakan balon sebagai wadah untuk ditarik namun setelah melakukan beberapa kali percobaan.

4. Robot Hydra tidak dapat menghindari halangan karena sensor jarak yang digunakan tidak mampu melakukan pengukuran di bawah air.

E. Saran

Dari Kesimpulan yang telah dipaparkan, terdapat beberapa saran yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Mengganti sensor jarak dengan menggunakan kamera untuk mendeteksi halangan dan jarak di bawah air.

2. Mengganti mekanisme ballast aktif dengan menggunakan suntikan.

3. Menambahkan sensor yang dapat mendeteksi kebocoran di dalam robot.

4. Diperlukan riset terlebih dahulu dalam pemilihan material plunger agar pembuatan subsistem ballast tidak memerlukan waktu yang lama untuk pengujian sehingga tidak memakan waktu untuk pembuatan subsistem lainn ya.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil grafik diatas dapat dilihat bahwa, Penambahan Klorin memiliki hasil yang turun pada hari pertama hingga hari ke-3, kemudian tidak ada perubahan hingga hari

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Pertama, terdapat sembilan bentuk gerak pada tari pilin salapan yang ada di daerah Air Bangis yang terdiri dari: 1 gerak sambah awal, 2 gerak lenggang barayun, 3 gerak ambiak tali, 4