• Tidak ada hasil yang ditemukan

i “Proses Penganggaran Daerah Berbasis Kearifan Lokal”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "i “Proses Penganggaran Daerah Berbasis Kearifan Lokal”"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

Oleh karena itu, fokus pembahasan buku ini adalah partisipasi masyarakat dalam perencanaan anggaran, pelaksanaan pembangunan, dan akuntabilitas anggaran. Partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan anggaran daerah yang biasa disebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) telah diatur dalam berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan

Penelitian Muluk (2007) dengan menggunakan pendekatan berpikir sistem berhasil menyimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah mengalami peningkatan di era reformasi. Namun partisipasi masyarakat berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan partisipasi pada era sebelumnya.

Mekanisme Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Muluk (2007) juga menjelaskan bahwa mekanisme partisipasi masyarakat

Peningkatan partisipasi mengacu pada pola kurva S, artinya terjadi peningkatan pada tahap awal era reformasi. Sementara itu, hasil penelitian Sukardi dengan menggunakan kasus pemerintah Jawa Timur dan Kabupaten Malang menyimpulkan bahwa pelembagaan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan khususnya penyusunan perencanaan dan penganggaran (participatory Planning and Budgeting) masih menghadapi berbagai permasalahan.

Partisipasi Masyarakat Jauh Dari Harapan 1. Partisipasi Semu

Dominasi Penguasa

Jika dicermati, tidak efektifnya pertemuan-pertemuan publik dalam proses pembangunan dan penganggaran daerah di beberapa kota/kabupaten disebabkan oleh lebih dominannya unsur kekuasaan pemerintah dibandingkan dengan kesukarelaan masyarakat setempat. Lebih spesifiknya, Sopanah dkk (2004) menemukan alasan baru mengapa pertemuan publik kurang efektif, yaitu dominasi elite pemerintah (kepala desa dan perangkat desa) serta elite masyarakat seperti ketua Rukun Warga (RW), Lurah dari Rukun Tetangga (RT), dan tokoh masyarakat Masyarakat pada saat mengadakan pertemuan umum.

Implementasi Nilai Lokal Dalam Perencanaan dan Penganggaran Proses perencanaan dan penganggaran merupakan dua hal yang saling

Implementasi nilai-nilai lokal dalam perencanaan anggaran dapat dilihat melalui mekanisme nonformal yang bersumber dari inisiatif masyarakat yang inovatif. Sumarto menemukan berbagai inisiatif inovatif dan partisipatif yang mampu mengangkat isu partisipasi lokal dalam proses pembangunan.

Sekilas Partisipasi Masyarakat Suku Tengger

Buku ini lebih fokus pada partisipasi masyarakat suku Tengger dalam proses penganggaran yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal budaya suku Tengger. Dalam kehidupan suku Tengger terdapat konsep anteng-seger (perdamaian dan kesejahteraan) dan konsep yang mendasari hubungan tiga arah, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan antara manusia dan manusia. manusia dan lingkungan alam (hubungan triadik) (Tomo, Dukun Pandhita, 2 Februari 2010).

Desa-desa Tengger

Masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas Kabupaten Malang masih memegang teguh adat istiadatnya dan kehidupan bermasyarakatnya lebih terjaga. Bekerja berarti makan untuk hari esok”, demikianlah salah satu falsafah hidup masyarakat Suku Tengger di Desa Senduro Kabupaten Lumajang.

Asal-usul Suku Tengger

Sebaliknya, masyarakat hendaknya berdoa kepada Syang Hyang Widhi pada hari-hari tertentu. “Desa ini selalu dibebaskan dari kewajiban membayar pajak dari raja-raja yang berkuasa, namun sebagai imbalannya desa ini wajib melakukan pengorbanan kepada Syang Hyang Widhi melalui Gunung Bromo sebagai tanah suci.” (L, 6 September 2010.

Sistem Pemerintahan

Kepercayaan dan Agama

Kepercayaan ini berasal dari agama Hindu dan Budha bahwa manusia terikat oleh hukum kehidupan berkali-kali sesuai dengan dharma kehidupan sebelumnya. Namun mereka tetap meyakini Syang Hyang Widhi tidak bisa dilihat secara konkrit dan nyata.

Kebiasaan, Adat dan Budaya

Masyarakat suku Tengger juga menjaga kebudayaannya dengan melakukan berbagai upacara adat yang berhubungan dengan bulan menurut perhitungan suku Tengger. Masyarakat Suku Tengger percaya bahwa tanda atau gejala alam dapat mempengaruhi jalan hidup seseorang.

Pendidikan

Jika gejala semula jadi muncul, maka orang ramai mengadakan upacara Barikan lima atau tujuh hari selepas peristiwa itu. Sebaliknya, jika gejala alam itu sesuai dengan ramalan yang baik, upacara ini dilakukan dengan niat memanjatkan kesyukuran kepada Yang Maha Esa.

Mata Pencaharian

Masyarakat Suku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo merupakan masyarakat adat yang mempunyai pranata sosial dan kehidupan yang berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Di sisi lain, masyarakat suku Tengger masih tetap mempertahankan segala aturan dan pandangan terhadap sistem sosial yang telah ada sejak lama.

P engertian dan Konsep Nilai Kearifan Lokal

Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai sakral firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Oleh karena itu, sangat beralasan jika Geertz mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat seseorang dalam masyarakatnya.

M enggali Nilai Kearifan Lokal Suku Tengger Melalui Ritual Adat

Selain itu, masyarakat suku Tengger juga menganut 4 hal yang disebut Catur Guru yang wajib dipatuhi. Segala rangkaian upacara dan peraturan perkawinan yang telah disebutkan ditaati dan dihormati oleh masyarakat suku Tengger. Menbudpar dengan tegas menyatakan bahwa masyarakat suku Tengger taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, guru dan pemerintah.

Oleh karena itu, masyarakat suku Tengger diharapkan berlaku jujur ​​dan tidak membuang berkah di Gunung Bromo.

Tabel 5: Analisis Indeksikalitas Kepatuhan
Tabel 5: Analisis Indeksikalitas Kepatuhan

I nternalisasi Nilai Kearifan Lokal Dalam Kehidupan Masyarakat Tengger

Penganggaran

Gotong royong dilakukan oleh seluruh masyarakat terutama bapak-bapak dan remaja putra yang melakukan pekerjaan konstruksi, sedangkan ibu-ibu dan remaja putri bekerja sama menyiapkan makanan dan minuman. Pertanggungjawaban anggaran yang dilakukan pada akhir tahun oleh Kepala Desa atau Kepala Desa merupakan kegiatan yang tidak dilakukan oleh kepala desa lainnya. Sebagai wujud kejujuran pemimpin kepada masyarakat yang mempercayainya, pertemuan masyarakat Tengger selalu diadakan di lingkungan masyarakat suku Tengger.

Kegiatan akuntabilitas yang dilakukan oleh pejabat tinggi suku Tengger hampir tidak pernah ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Kepatuhan

P otret Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan

  • Kepatuhan Suku Tengger Melaksanakan Musrenbang Desa
  • Musrenbang Kecamatan Sukapura – Hanya Sebatas Formalitas Setelah proses musrenbang desa, maka tahapan perencanaan
  • Forum Sinkronisasi Kecamatan dan SKPD Kabupaten Probolinggo – Dominasi Birokrasi
  • Musrenbang Kabupaten Probolinggo: Pertemuan Multi Stakeholders – Dominasi Pejabat

RW, (b) menetapkan prioritas kegiatan desa yang akan didanai APBD, (c) menetapkan prioritas kegiatan desa yang akan diusulkan dan dipertimbangkan dalam musrenbang kecamatan. Tujuan pelaksanaan musrenbang kecamatan adalah: (a) pembahasan dan kesepakatan hasil musrenbangdes yang akan menjadi prioritas kegiatan pembangunan di tingkat kecamatan yang bersangkutan, (b) pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan pembangunan pada tingkat kecamatan yang tidak termasuk dalam prioritas tugas kegiatan pembangunan desa, dan (c) memprioritaskan tugas kegiatan pembangunan kecamatan sesuai fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Berdasarkan wawancara dengan Walikota, diketahui bahwa biaya penyelenggaraan musrenbang subdaerah membebankan anggaran subdaerah dalam jumlah yang sangat minim.

Dilihat dari aspek produksi, musrenbang kecamatan akan menghasilkan dokumen masukan bagi forum SKPD dan musrenbang kabupaten.

Tabel 7: Jadwal Musrenbang
Tabel 7: Jadwal Musrenbang

K endala Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Penganggaran: Sebuah Persoalan Bersama

  • Eksekutif dan legislatif sengaja membatasi partisipasi tidak langsung yang tidak memiliki konsekuensi mengikat mereka (no binding)
  • Penganggaran daerah terikat pada skedul yang ketat dan berkaitan dengan penganggaran di level pemerintahan yang lebih tinggi
  • Penganggaran dianggap wilayah sakral eksekutif dan legislatif
  • Keterbatasan informasi kunci dan dokumen perencanaan pembangunan

Menurut pengamatan penulis, lemahnya inovasi dalam praktik penganggaran daerah merupakan permasalahan umum yang memiliki banyak akar. Penganggaran daerah terikat pada jadwal yang ketat dan berkaitan dengan penganggaran pada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Pada titik ini perlu kita ingat bahwa penganggaran daerah merupakan produk politik yang melibatkan tarik-menarik kepentingan antara eksekutif dan legislatif.

Seringkali, informasi penting dalam APBD yang disimpan oleh eksekutif dan legislatif tidak mencerminkan kondisi secara akurat, baik karena cara pengambilannya yang tidak memadai atau karena prosesnya yang tidak dilakukan secara hati-hati.

H armonisasi Musrenbang Formal Versus Informal: Sebuah Indeksikalitas Kepatuhan

  • Musrenbang Desa Tengger
  • Rembug Warga Tengger

Berdasarkan informasi dari kedua sumber tersebut, peneliti mencari literatur mengenai hari baik dan hari buruk pada suku Tengger. Berkaitan dengan hal tersebut, terlihat bahwa partisipasi masyarakat suku Tengger dalam proses perencanaan anggaran berbeda dengan partisipasi masyarakat desa lain di luar wilayah suku Tengger. Kutipan dari gaya bangunan desa di atas sering terdengar ketika masyarakat suku Tengger melakukan pembangunan.

Bentuk partisipasi masyarakat suku Tengger dalam melaksanakan pembangunan adalah gotong royong yang dilakukan hampir di seluruh wilayah suku Tengger.

Tabel 13: Hari Baik di Suku Tengger
Tabel 13: Hari Baik di Suku Tengger

Dominasi Penguasa dalam Pembangunan Menyebabkan Kegagalan

Berbagai permasalahan pembangunan yang muncul di setiap kota/kabupaten di Indonesia hampir sama, yaitu adanya dominasi pihak berwenang dalam menentukan pembangunan. Penolakan terhadap proyek pembangunan juga sering terjadi di berbagai daerah, baik oleh pihak swasta maupun pemerintah. Sebut saja penolakan pembangunan yang terjadi di Kota Malang, Matos, proyek pembangunan MOG, pembangunan Kantor Desa Oro-oro Dowo di jalan layang Taman Kunir, Mergosono, dan Arjosari.

Secara umum, berbagai kasus “benang kusut” dalam pembangunan, baik di luar negeri maupun di Indonesia, berupa pembangunan yang bersifat top-down, pembangunan yang terbatas pada proyek, dapat menimbulkan protes, demonstrasi, ketidakpuasan bahkan penolakan terhadap pembangunan.

Realisasi Pembangunan Hasil Musrenbangdes Suku Tengger – Desa Ngadisari

Berdasarkan ketiga tabel di atas terlihat bahwa pemerintah Kabupaten Probolinggo cukup baik dalam memperhatikan usulan masyarakat Suku Tengger. Saya setuju pemerintah Kabupaten Probolinggo memberikan perhatian terhadap suku Tengger dengan memberikan prioritas anggaran dibandingkan desa lainnya. Pasalnya Suku Tengger merupakan andalan pariwisata di Indonesia yang tentunya akan mendatangkan divisi tersendiri (A, Januari 2011).

Selain pihak eksekutif yang berupaya untuk lebih memberikan perhatian terhadap pelaksanaan pembangunan yang diusulkan oleh masyarakat suku Tengger, tentu saja diperlukan dukungan dari pihak legislatif.

Tabel 17: Realisasi Pembangunan Bidang Ekonomi dan Keuangan
Tabel 17: Realisasi Pembangunan Bidang Ekonomi dan Keuangan

I ndeksikalitas Kegotongroyongan: Berpartisipasi Dalam Pelaksanaan Pembangunan

  • Sesanti pancasetia
  • Mempertahankan nilai kegotong royongan, mendukung pelaksanaan pembangunan

Upacara kurban ini memohon agar masyarakat suku Tengger mendapat keberkahan dan diberikan keamanan oleh Yang Maha Kuasa. Nilai-nilai Sayan tidak hanya terdapat dalam upacara keagamaan saja melainkan dalam setiap aktivitas masyarakat Suku Tengger. Dalam salah satu perjalanan survei pembangunan, peneliti melihat langsung bagaimana masyarakat Suku Tengger berpartisipasi dalam pembangunan melalui gotong royong.

Selain mewarnai aktivitas keagamaan, nilai-nilai Sayan sangat terlihat dalam pembangunan fisik dan non fisik masyarakat suku Tengger.

Tabel 19: Indeksikalitas Kegotongroyongan: Berpartisipasi dalam  Pembangunan
Tabel 19: Indeksikalitas Kegotongroyongan: Berpartisipasi dalam Pembangunan

Kejujuran

M enguak Motif di Balik Panggung Pertanggungjawaban Langsung “Ala Rakyat” Bupati Probolinggo

Mereka yang turun gunung dan datang dari pesisir pantai berbondong-bondong menyaksikan dan mendengarkan Laporan Pertanggungjawaban Bupati Bergaya Rakyat (LKPJ) yang disampaikan langsung oleh Bupati Probolingga. Bagi pemerintah Kabupaten Probolinggo, bentuk akuntabilitas yang dilakukan oleh bupati bukan hanya akuntabilitas formal yang dilaporkan dalam paripurna legislatif yang menandakan kepatuhan terhadap hukum, namun juga akuntabilitas moral secara langsung kepada masyarakat. Bentuk tanggung jawab langsung kepada rakyat ini adalah tanggung jawab moral saya kepada rakyat yang memilih saya.” (HA, 20 Februari 2012).

Di bawah ini beberapa petikan wawancara dengan orang-orang yang senang dan setuju dengan pertanggungjawaban langsung tersebut.

I ndeksialitas Kejujuran Dalam Pertanggungjawaban Petingi Suku Tengger

Kegiatan akuntabilitas ala masyarakat Tengger, berdasarkan hasil wawancara dengan aparat Tengger (kepala desa), merupakan bentuk kejujuran yang dilakukan pemimpin terhadap masyarakatnya. Sedangkan dari sudut pandang masyarakat suku Tengger sendiri, mereka memandang bahwa musyawarah desa merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat suku Tengger. Dalam konteks pertanggungjawaban pejabat tinggi terhadap masyarakat suku Tengger, maka istilah “Pertemuan Desa Tengger” merupakan salah satu bentuk penugasan nilai-nilai kearifan lokal berupa kejujuran dan keterbukaan pemimpin terhadap masyarakat.

Nilai kejujuran berkontribusi terhadap nilai kearifan lokal masyarakat suku Tengger, selain nilai ketaatan yang terinternalisasi dalam proses perencanaan pembangunan, dan nilai kearifan lokal gotong royong yang terinternalisasi dalam proses pelaksanaan pembangunan.

Tabel 23: Indeksikalitas Kejujuran: Bentuk Pertanggungjawaban Rakyat  Ala Tengger
Tabel 23: Indeksikalitas Kejujuran: Bentuk Pertanggungjawaban Rakyat Ala Tengger

Musrenbang Dalam Dilema

  • Kekurangan Musrenbang
  • Kearifan Lokal, Solusi Kekurangan Musrenbang

Pada bab ini akan dibahas berbagai permasalahan dalam musrenbang yang dikemas dengan subjudul musrenbang dalam dilema, internalisasi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat suku Tengger dalam proses penganggaran daerah dan model partisipasi masyarakat berdasarkan kearifan masyarakat. suku Tengger. Penelitian ini juga menemukan hasil yang sama, merekomendasikan agar daerah mengakomodasi partisipasi berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di daerahnya. Penelitian yang telah dilakukan selama kurang lebih 3 tahun pada masyarakat suku Tengger telah menemukan berbagai praktik nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan upaya peningkatan partisipasi masyarakat suku Tengger.

Nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Suku Tengger yang berhasil diidentifikasi antara lain: sikap ramah, kepatuhan (setuhu).

Menghidupkan Kembali Nilai Kearifan Lokal: Mengurangi Dominasi Kekuasaan

Sebagai suku Tengger yang kearifan lokalnya adalah nilai ketaatan (setuhu), diperlukan model kerjasama ala Tengger yang merupakan hasil harmonisasi antara proses musrenbang formal dan proses musrenbang informal. Sebagai bagian dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Desa Ngadisari juga menyelenggarakan musrenbang mekanisme desa yang dilaksanakan pada bulan Januari atau awal Februari. Hasil wawancara menegaskan bahwa mekanisme musrenbang desa dilaksanakan sebagai wujud ketaatan masyarakat Tengger terhadap pemerintah.

Perbincangan apakah musrenba desa hanya sekedar formalitas dalam proses perencanaan anggaran, ternyata di lapangan, selain mekanisme musrenba desa, terdapat mekanisme lain sebagai wujud keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yaitu “ pertemuan komunitas" di akhir tahun.

Gambar 5: Model Partisipasi Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal
Gambar 5: Model Partisipasi Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal

Penutup

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan perencanaan anggaran daerah menemui beberapa kendala. Model Pengembangan Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Penyusunan APBD Kota Malang, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Edisi 7 April Universitas Muhammadiyah Surakarta. Model Pengembangan Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penyusunan APBD di Kota Malang, dalam Prosiding Konferensi Penelitian Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik II, Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Juni 2009.

Kajian Fenomenologi: Menemukan Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penyusunan APBD di Kota Malang, Prosiding Simposium Akuntansi Nasional (SNA) ke-12 tanggal 4-6 November 2009 di Palembang.

Gambar

Tabel 5: Analisis Indeksikalitas Kepatuhan
Tabel 6: Analiss Indeksikalitas Kegotong-royongan
Tabel 7: Analisis Indeksikalitas Kejujuran
Tabel 7: Jadwal Musrenbang
+7

Referensi

Dokumen terkait

In this case, the lowest 137Cs activity was not caused by salinity, but it was most likely caused by proximityto the estuary and was nearest stationtothe industrial waste effluent of