• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebiasaan, Adat dan Budaya

Pola perkampungan Suku Tengger adalah mengelompok. Dimana jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya sangat rapat, dan tidak dibatasi oleh pagar pembatas antar rumah. Hal ini menunjukkan sikap hidup masyarakat yang suka bekerja sama, bergotong royong (sayan) dan merasa sebagai sebuah keluarga dengan anggota masyarakat lainnya. Salah satu contoh kegiatan gotong-royong adalah ketika membangun fasilitas publik, seperti jalan, gorong-gorong, tempat peribadatan dan lainnya.

Masyarakat Suku Tengger, sedang bergotong-royong memperbaiki jalan Sumber: Dokpri

Gambar di atas merupakan salah satu bukti bahwa nilai kegotong- royongan mewarnai kehidupan masyarakat Suku Tengger. Ketika mereka membangun jalan, masyarakat Suku Tengger secara sukarela menyelesaikan pekerjaan yang didanai oleh pemerintah melalui dana APBD. Di samping itu, dikenal sistem sambatan (gotong-royong untuk kepentingan orang lain) seperti pendirian rumah, sinoman untuk masyarakat yang punya hajat, dan sebagainya.

Setiap memasuki wilayah pedesaan terdapat pintu gerbang (gapura) sebagai tanda batas antar wilayah desa. Di sebelah gapura biasanya terdapat bangunan kecil sebagai tempat pemujaan kepada dewa (arwah leluhur), yang disebut pundhen atau sanggar pamujan. Di sanggar ini biasanya para tokoh- tokoh agama mengajarkan pendidikan agama secara non formal pada anak- anak setelah matahari terbenam.

Berkaitan dengan sistem kekerabatan, masyarakat Suku Tengger sama seperti masyarakat jawa pada umumnya, yang memperhitungkan keturunan melalui garis laki-laki maupun perempuan. Dalam sistem ini, setiap individu akan mengenal baik anggota keluarganya dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Masyarakat Suku Tengger juga mengenal adanya sistem kekerabatan batih atau keluarga inti dan kelompok kekerabatan kindred.

Sistem kekerabatan ini dapat berkembang karena adanya perkawinan sesama masyarakat Suku Tengger, baik dengan masyarakat desa sendiri maupun dengan masyarakat desa Tengger lain yang tersebar di empat kabupaten.

Jarang sekali terjadi perkawinan warga Tengger dengan warga lain. Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan Mudjono (Dukun Ngadas) sebagai

berikut;

“Masyarakat Suku Tengger selalu memegang teguh apa yang diwariskan oleh nenek moyang termasuk dalam hal perkawinan.

Perkawinan yang terjadi rata-rata sesama warga Tengger. Meskipun pemuda/pemudi diberi kebebasan memilih sebelumnya, jika dihitung berdasarkan saptawara dan pancawara tidak baik maka mereka akan patuh dan tidak akan melanggar pantangan. (M, 6 September 2010)

Kehidupan adat istiadat masyarakat Suku Tengger ditegakkan. Norma- norma yang berlaku dianut, bahkan berlaku hukum karma yang menjadi ikatan dalam pergaulan diantara warga masyarakat. Ada dan berlakunya hukum karma ini, diakui oleh seluruh masyarakat sejak nenek moyang.

Nilai-nilai sosial dari budaya paternal tersebut mereka pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu dalam kehidupannya masyarakat Suku Tengger selalu berusaha untuk berbuat baik. Pola hidup tentram, tenang, rukun, dan tolong menolong sangat terlihat pada setiap jiwa warga masyarakat Suku Tengger. Hubungan tersebut nampak dalam kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Bila ada suatu rencana kegiatan yang dilakukan oleh desa, mereka datang berbondong-bondong untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa diundang.

Masyarakat Suku Tengger memiliki ajaran Welas Asih Pepitu (cinta kasih yang tujuh) yang dijadikan sebagai pedoman ketika masyarakat menyelesaikan persoalan. Isi Welas Asih Pepitu adalah sebagai berikut.

1. Welas Asih marang Bapa Kuasa 2. Welas Asih marang Ibu Pertiwi 3. Welas Asih marang Bapa Biyung 4. Welas Asih marang Rasa Jiwa 5. Welas Asih marang Sepadane Urip 6. Welas Asih marang Sato Kewan 7. Welas Asih marang Tandur Tetuwuh

Masuknya modernisasi di kawasan Tengger, tidak menghilangkan nilai- nilai budaya Tengger baik yang berkaitan dengan identitas diri maupun yang berkaitan dengan hal-hal umum. Sebagai contoh selama penulis berada disuku Tengger, masyarakat Suku Tengger selalu memakai sarung kemana saja pergi, melakukan berbagai upacara adat baik untuk kepentingan diri maupun masyarakat, selalu berpegang teguh pada ajaran welas asih pepitu, dan lain

sebagainya.

Budaya yang melekat pada diri mereka dipandang sebagai suatu kumpulan pola tingkah laku manusia, dengan bersandar pada daya cipta dan keyakinan untuk keperluan hidup. Maka tidak heran jika budaya warisan leluhur masih terjamin keasliannya hingga sekarang.

Budaya lokal tersebut direpresentasikan dan dipertahankan, dengan berbagai upacara adat. Jenis-jenis upacara adat tersebut, diantaranya: upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan, upacara adat yang berkaitan dengan budaya masyarakat, dan upacara yang berkaitan dengan siklus alam.

Diantara kegiatan upacara adat terselip kegiatan keagamaan. Berikut adalah beberapa jenis upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger.

a. Upacara Berkaitan dengan Siklus Alam

Masyarakat Suku Tengger percaya adanya hubungan timbal balik dalam kehidupan manusia, antara kehidupan di dunia dan akhirat. Setiap perubahan kehidupan yang dialami seseorang mengalami perkembangan yang dapat mempengaruhi keseimbangan seluruhnya. Salah satu usaha yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan tersebut, adalah dengan melakukan upacara atau selamatan, yang dilaksanakan sejak manusia dalam kandungan, kelahiran sampai kematian. Upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan seseorang diantaranya: upacara sayut, upacara cuplak puser atau kekerik, upacara tugel gombak/kuncung, upacara perkawinan, upacara ruwat sangkolo, upacara kematian, dan upacara entas-entas.

b. Upacara Berkaitan dengan Bulan

Masyarakat Suku Tengger juga mempertahankan budaya dengan melakukan berbagai upacara adat yang dikaitkan dengan bulan menurut hitungan Suku Tengger. Mereka percaya bahwa tanah di sekitar pegunungan bromo yang dihuni oleh masyarakat Tengger dikenal sebagai tanah hila- hila (suci) sejak jaman majapahit, dan penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Syang Hyang Widi Wasa. Sampai saat ini ditengah arus globalisasi masyarakat Tengger masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan majapahit. Agama Hindu di Bali dan Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma. Pembedanya adalah tidak adanya kasta di Suku Tengger dan masih mempertahankan tradisi paternalis. Maksud paternalis yaitu kegiatan ritual yang dilakukan secara bersama-sama dan para pelaku terikat oleh perasaan yang sama. Beberapa upacara adat yang berkaitan dengan bulan, diantaranya upacara Karo, upacara Pujan Kapat, upacara Pujan Kapitu, upacara Pujan Kawolu, upacara Pujan Kasanga, upacara Pujan Kasada, dan upacara Unan-Unan.

c. Upacara Berkaitan dengan Siklus Alam

Ketiga, adalah upacara yang berkaitan dengan siklus alam. Termasuk di dalamnya adalah upacara Leliwet, upacara mendirikan rumah, dan Barikan.

Masyarakat Suku Tengger percaya bahwa tanda-tanda atau gejala alam dapat mempengaruhi perjalanan kehidupan seseorang. Karena itu mereka selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu yang dapat mencelakakan atau merugikan. Gejala-gejala alam selalu mendapat perhatian khusus dan selalu mengadakan selamatan. Gerhana matahari dan gempa bumi, adalah beberapa gejala alam yang tak luput untuk diselamati.

Gejala alam mereka anggap sebagai malapetaka yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan manusia. Jika gejala-gejala alam tersebut muncul, maka lima atau tujuh hari setelah peristiwa tersebut orang mengadakan Upacara Barikan. Tujuannya agar diberi keselamatan dan menolak bahaya yang bakal datang. Sebaliknya bila gejala-gejala alam tersebut menurut ramalan baik, upacara ini diadakan dengan maksud sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Syang Hyang Maha Agung. Upacara Barikan dilakukan untuk menghibur atau mendapatkan hati baik para Jin Setan dan menjauhkan diri dari segala penyakit.