PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Rumusan Masalah
TujuanPenelitian
Kegunaan Penelitian
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
Tinjauan Tentang Evaluasi Kebijakan
Menurut Wahab (dalam Jurnal Administrasi Publik, 2013) dijelaskan, evaluasi kebijakan dapat dilihat sebagai suatu proses pelaksanaan keputusan kebijakan biasanya berupa undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan pengadilan, perintah eksekutif atau keputusan presiden. Sedangkan menurut Lester dan Stewart dalam Agustino, evaluasi kebijakan merupakan suatu proses dan suatu hasil (output). Keberhasilan suatu evaluasi kebijakan dapat diukur atau dilihat dari proses dan pencapaian tujuan, hasil akhir yaitu tercapai atau tidaknya tujuan yang ingin dicapai.
Secara umum model-model tersebut menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi evaluasi kebijakan yang ditujukan terhadap kinerja kebijakan. Kedua pakar kebijakan ini berpendapat bahwa peran penting analisis evaluasi kebijakan negara adalah mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi pencapaian tujuan formal sepanjang proses implementasi. Sikap diterima atau ditolaknya pelaksana akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya melakukan evaluasi kebijakan publik.
Lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang kurang mendukung dapat menjadi penyebab kegagalan kinerja evaluasi kebijakan. Untuk mendukung keberhasilan evaluasi kebijakan, diperlukan suatu prosedur operasional standar (Standard Opening Procedures atau SOP).
Tinjauan Tentang Penanganan Stunting
Berdasarkan penjelasan berbagai ahli mengenai model evaluasi kebijakan, peneliti menggunakan model implementasi Edward III karena keempat variabel tersebut beroperasi secara bersamaan dan saling berinteraksi untuk membantu atau menghambat evaluasi kebijakan. Menurut Hoffman (dalam Community Health Journal, 2015), stunting adalah salah satu bentuk stunting akibat akumulasi kekurangan gizi yang berlangsung sejak kehamilan hingga usia 24 bulan. Menurut Ikatan Ahli Gizi Indonesia (2018:9), stunting disebabkan oleh faktor multidimensi, antara lain praktik pelayanan gizi yang buruk, termasuk kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi sebelum dan selama kehamilan serta setelah ibu melahirkan.
Bayi dengan berat badan lahir rendah sebagian besar dilahirkan oleh ibu dengan status gizi rendah selama kehamilan sehingga berisiko mengalami stunting. Masa ini merupakan masa sensitif karena akibat yang ditimbulkan pada anak pada masa ini akan bersifat permanen. Stoch dan Smythe dalam Notoatmodjo mengatakan bahwa malnutrisi pada masa bayi dan anak mengakibatkan kelainan yang sulit atau tidak dapat disembuhkan serta menghambat perkembangan selanjutnya.
Upaya percepatan perbaikan gizi merupakan upaya global, tidak hanya bagi Indonesia, namun juga bagi seluruh negara yang mempunyai masalah gizi buruk. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat memerlukan upaya perbaikan gizi individu dan gizi masyarakat sepanjang siklus hidup sejak konsepsi hingga lanjut usia, dengan prioritas pada kelompok rentan gizi. Pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan kesehatan masyarakat.
Pemerintah daerah mengeluarkan Peraturan Gubernur Lampung Nomor 11 Tahun 2016 tentang gerakan percepatan seribu hari pertama kehidupan melalui pendekatan keluarga. Upaya perbaikan gizi meliputi upaya mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi spesifik) dan upaya mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung (intervensi nutrisi sensitif). Intervensi gizi khusus pada balita pendek difokuskan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (FLD) yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita pendek paling efektif dilakukan pada 1.000 DLF.
Dobbing menyatakan dalam Notoatmodjo bahwa terdapat masa kritis dalam perkembangan otak manusia dimana otak yang berkembang pesat akan sangat rentan mengalami kekurangan gizi sejak usia kandungan 2 bulan hingga usia 2 tahun. Dengan nutrisi yang baik, tubuh mempunyai kapasitas yang cukup untuk mempertahankan diri terhadap penyakit menular. Jika kondisi gizi buruk maka respon imun tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh dalam mempertahankan diri terhadap serangan infeksi akan menurun.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
Fokus Penelitian
Menurut Moleong dalam Ibrahim MA (2015:31) fokus penelitian adalah pilihan masalah yang dijadikan fokus atau tujuan orientasi penelitian. Fokus penelitian memberikan batasan pada kajian dan batasan pengumpulan data sehingga dalam batasan tersebut peneliti dapat fokus memahami permasalahan yang menjadi tujuan penelitian.Fokus penelitian ini adalah melihat bagaimana proses evaluasi kebijakan. ke yang pertama Apakah program 1000 hari kehidupan telah dilaksanakan dan faktor apa saja yang menjadi kendala dalam mengatasi backlog pelayanan kesehatan kota Bandar Lampung.
Lokasi Penelitian
Sumber dan Jenis Data
Sarwono mengatakan, data sekunder merupakan data yang sudah tersedia sehingga dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari pemberitaan artikel online, jurnal ilmiah, berita baik di media cetak maupun online serta sumber resmi seperti Peraturan Gubernur Lampung Nomor 11 Tahun 2016 tentang Gerakan Percepatan Seribu Hari Pertama Kehidupan melalui dari pendekatan kekeluargaan.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara yang digunakan dalam penelitian menggunakan pedoman wawancara, serta catatan wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur merupakan wawancara yang dilakukan terhadap subjek atau narasumber yang telah mengetahui maksud dan tujuan wawancara yang dilakukan peneliti. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang pertanyaan-pertanyaannya tidak dipersiapkan sebelumnya, artinya sangat bergantung pada keadaan atau topik.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan terhadap beberapa informan yang sebelumnya telah diidentifikasi melalui teknik purposive sampling.
Subjek Penelitian
Teknik Pengolahan Data
Teknik Analisis Data
Menurut Miles dan Huberman (Tresiana, 2013:120), penarikan inferensi atau verifikasi adalah kegiatan penarikan kesimpulan berupa cerita tentang kategori dan pola tertentu menurut keyakinan informan. Kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini berdasarkan analisis hasil wawancara dengan beberapa pihak yang berbeda dan studi dokumen dari berbagai sumber mengenai evaluasi kebijakan program 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Kota Bandar Lampung. . Pelayanan kesehatan.
Teknik Keabsahan Data
Pada bagian ini peneliti menanyakan tentang : Bagaimana efektivitas kebijakan program 1000 hari pertama kehidupan dalam mengatasi stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. Kendala utama dalam implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung adalah rendahnya konsumsi garam. Saya yakin implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sudah efisien terutama dari segi pendanaan dan kegiatan yang dilakukan (hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019).
Implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menurut saya sudah efektif terutama dari segi pendanaan dan kegiatan yang dilakukan selama ini. Pada bagian ini peneliti menanyakan tentang : Bagaimana kecukupan (adequacy) kebijakan program 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. Implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menurut saya sudah cukup, mungkin masih ada kendala yang muncul.
Pada bagian ini peneliti menanyakan tentang : Bagaimana keadilan atau pemerataan kebijakan program 1.000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. Implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menurut saya cukup merata di kalangan masyarakat (Hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019). Saya merasakan program gerakan percepatan hidup seribu hari pertama dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dan merata (Hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019).
Pada bagian ini peneliti menanyakan : Bagaimana respon kebijakan program 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. Saya melihat para pelaksana program yang melaksanakan program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung telah bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing (Hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019). Saya yakin implementasi program politik 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung telah dilaksanakan dengan cukup baik oleh petugas yang melaksanakannya di lapangan.
Saya merasakan pelaksanaan Program Gerakan Percepatan Seribu Hari Pertama Kehidupan telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar. Pada bagian ini peneliti menanyakan tentang: Seberapa akurat kebijakan program 1000 hari pertama kehidupan dalam menangani stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung. Saya yakin penerapan program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam mengatasi stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sudah tepat sasaran (hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019).
Saya yakin implementasi program kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanggulangan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sudah sangat tepat dan on track (hasil wawancara tanggal 19 Februari 2019). Kendala dalam evaluasi kebijakan 1000 hari pertama kehidupan dalam penanganan stunting di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung adalah terbatasnya kecukupan dukungan sarana, prasarana dan tenaga;