DI INDONESIA
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Mendapat Gelar Magister Hukum Islam
dalam Bidang Hukum Keluarga
Jurusan: Hukum Keluarga
Oleh:
M. GUNTUR AGENG PRAYOGI NPM. 1303162
PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) METRO LAMPUNG
1439 H / 2018 M
DI INDONESIA
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Mendapat Gelar Magister Syariah dalam Bidang Hukum Keluarga
Program Studi: Hukum Keluarga
Pembimbing I : Prof. DR. H. M. Damrah Khair, MA.
Pembimbing II : Husnul Fatarib, MA., Ph.D.
Oleh:
M. GUNTUR AGENG PRAYOGI NPM. 1303162
PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) METRO LAMPUNG
1439 H / 2018 M
Hanya sedikit saja dari hukum-hukum waris yang ditetapkan oleh Sunnah Nabi atau dengan ijtihad para ulama. Namun perbedaan pemahaman dan aplikasi mengantarkan hukum waris bersifat legal formalis dan menyebabkan fragmentasi aliran pemikiran yang berujung dengan kelahiran mazhab-mazhab. Penyebab utama timbulnya beragam interpretasi hukum kewarisan adalah: Pertama, metode dan pendekatan yang digunakan oleh para ulama dalam melakukan ijtihad berbeda. Kedua, perbedaan kondisi masyarakat dan waktu kapan ulama melakukan ijtihad.
Kalalah merupakan kasus yang terjadi polemik tersendiri di samping kasus pembagian waris 2:1 karena Nabi SAW pun belum menjelaskannya secara detail kepada para sahabat. Kasus kalalah ini memang cukup rumit sehingga mengakibatkan terjadinya perbedaan penafsiran para ulama terhadap ayat kalalah tersebut. Berawal dari permasalahan ini, penulis ingin mengangkat judul tesis untuk membahas mengenai kalalah menurut ulama salaf (Imam Syafi’i) dan ulama khalaf (khalaf) serta imlikasinya terhadap hukum kewarisan Islam di Indonesia.
Penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder sebagai bahan pokok, maka penelitian penulis ini merupakan penelitian pustaka (library research). Yang mana, data ini terbagi menjadi 3, yaitu bahan hukum primer (al-Qur’an dan Tafsirnya, Kitab-kitab Hadis, buku-buku karya Imam Syafi’i dan Hazairin, dan atau buku-buku yang memuat pendapat Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kewarisan/kalalah), sekunder (buku fiqh penunjang tentang ilmu waris) dan tersier (Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Arab, dan Ensiklopedi Hukum Islam).
Hasil penelitian bahwa kalalah menunjuk kepada ahli waris, selain kedua ibu bapak dan anak. Dalam hal ini, dapat dipahami, ahli waris terdekat selain ibu bapak (orang tua) dan anak, adalah garis ke atas dan ke samping, yaitu kakek dan saudara. Oleh karena ini, mengenai kalalah ini merupakan pembahasan mengenai kemungkinan ahli waris, kedudukan dan bagian ahli waris antara saudara, kakek, dan atau saudara bersama kakek.
Dan berikut merupakan salah satu bagian kemungkinan dalam kalalah, yaitu Imam Syafi'i berpendapat bahwa ayah menghalangi kakek, dan kakek menggantikan ayah, sehingga ayah dan kakek menghalangi saudara. Sedangkan menurut Hazairin kakek hanya diperbolehkan tampil (mewaris) jika tidak ada lagi keturunan, orang tua, dan tidak ada lagi saudara. Begitu pula jika terdapat keturunan yang lebih jauh dari anak, keturunan saudara (mawali bagi mendiang saudara yang bersangkutan, yaitu yang menjadi penghubung bagi mereka) kakek ataupun nenek tidak bisa mewaris, sebab berbenturan dengan perumusan surat al-Nisa': 33, yaitu tidak boleh menjadi mawali bagi orang tua (ayah atau ibu).
Permasalahan kalalah tidak tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), namun penyelesaiannya mempunyai tempat dalam KHI pada pasal 229, yaitu “Hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara yang diajukan kepadanya, wajib memperhatikan dengan sungguh-sungguh nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, sehingga putusannya sesuai dengan rasa keadilan”, sehingga dapat diterapkan penyelesaiannya pada pendapat imam Syafi'i.
By M. Guntur Ageng Prayogi ABSTRACT
The holy Qur'an is the first reference of the law and the determination of the distribution of inheritance. Little of the hereditary laws is established by the Sunnah of the Prophet or with the ijtihad of the ulamas. However, the differences in understanding and application lead the hereditary law to be legal formalists and to cause fragmentation of schools of thought which culminate in the birth of Islamic schools of thought. The main causes of the emergence of various interpretations of heredity law are: First, the methods and approaches employed by the ulama in conducting ijtihad are different. Secondly, the differences of community conditions and the timing in conducting of ijtihad.
Kalalah constitutes a case of a polemic occurring in addition to the case of 2: 1 inheritance distribution because the Prophet Saw did not explain it thoroughly to the friends. The case of Kalalah is indeed quite complicated so that resulting the differences in interpreting against the verse of kalalah. Arising from this problem, the author intended to raise a thesis to discuss the kalalah according to salaf ulama (Imam Shafi'i) and khalaf ulama (Hazairin) as well as their implications for Islamic hereditary law in Indonesia.
In this study, the authors use secondary data as the main ingredient. Therefore, this research is called a library research in which, the data is divided into three parts, namely the primary law (Qur'an and the interpretation, Books of Hadith, books of Imam Syafi'i and Hazairin, and/or books that contain the opinion of Imam Shafi'i and Hazairin about inheritance / kalalah), secondary (books of fiqh supporting the hereditary science) and tertiary (Indonesian Dictionary, Arabic Dictionary, and Encyclopedia of Islamic Law).
The results of the research shows that kalalah refers to the heir, in addition to both child's father and mother. In this case, it can be understood that the closest heirs besides the father and mother (parents) and children, are the line upward and to the side, namely grandfather and brothers. Therefore, kalalah is a discussion about the possibility of heirs, the position and the part of the heirs between brothers, grandfather, and or brother with grandfather. And here is one of the possibilities in kalalah, that is, Imam Shafi'i argues that father prevents grandfather, and grandfather succeeds father, so father and grandfather prevents brothers. Whereas, according to Hazairin grandfather is only allowed to appear (inherit) if there are no more descendants, parents, and no more brothers. Likewise, if there is a further descendant from the child, offspring brothers (mawali in the case of the deceased relative), grandfather or grandmother can not inherit, because it collides with the formulation of al-Nisa ': 33, i.e. it is forbidden to become a mawali for parents (father or mother).
The problem is not contained in the Compilation of Islamic Law (KHI).
Nevertheless, the settlement has a place in the KHI in article 229, that is "Judge in settling the cases submitted to him, must pay serious attention to the legal values that live in society, so that its verdict is in accordance with the sense of justice ", so that its solution can be applied to the opinion of Imam Shafi'i.
Judul : Kalalah Menurut Imam Syafi’i dan Hazairin serta Implikasinya dalam Hukum Kewarisan Islam di Indonesia
Nama : M. Guntur Ageng Prayogi
NPM : 1303162
Program Studi : Hukum Keluarga
MENYETUJUI:
Untuk diujikan dalam sidang munaqosyah Program Studi Hukum Keluarga Program Pascasarjana IAIN Metro.
Prof. Dr. H. M. Damrah Khair, MA.
NIP. 19440825 197106 1 001
Husnul Fatarib, Lc., Ph.D.
NIP. 19740104 199903 1 004
HALAMAN PENGESAHAN
Tesis dengan judul: “Kalalah Menurut Imam Syafi’i dan Hazairin serta Implikasinya dalam Hukum Kewarisan Islam di Indonesia” yang ditulis oleh M. Guntur Ageng Prayogi dengan NIM 1303162 Program Studi Hukum Keluarga telah diujikan dalam sidang munaqosah Program Pascasarjana IAIN Metro Lampung pada Jum’at, 14 Juli 2018.
TIM PENGUJI:
Pengujin Utama Dr. Tobibatussaadah, M.Ag.
Pembimbing 1 / Prof. Dr. H. M. Damrah Khair, MA.
Penguji 1
Pembimbing 2 / Husnul Fatarib, Lc., Ph.D.
Penguji 2
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA
Jl. Ki Hajar Dewantara 15A Kel. Iring Mulyo Kota Metro | Telp. (0725) 41507
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : M. GUNTUR AGENG PRAYOGI
NPM : 1303162
Program Studi : Hukum Keluarga (HK)
Menyatakan bahwa tesis ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian saya kecuali bagian- bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Metro, 17 Desember 2017 Yang menyatakan,
M. Guntur Ageng Prayogi NPM. 1303162
Tesis ini penulis persembahkan untuk:
Bunda Siti Maesaroh dan Ayahnda Ahmad Mujiono, yang telah banyak membantu dan mendoakan penulis ‘disetiap doanya’ dalam menuntut ilmu,
Istriku Latifah, yang kucintai karena Allah, dan anak-anakku Zaid Ramadhan ar-Royyan dan Zahran Zhahirul Haq yang sholih. Aamiin...
Adik-adikku; Rosyadi Ahmad, Mas ‘Ulatusy Syari,
M. Muhith Asy’ari, dan Zerina Amalia Zuhro yang ku sayangi,
Bapak Thoriq, mamak Sriyatun, dan saudara-saudara di Kalirejo Yang turut membantu dan mendoakan penulis
Saudara seperjuangan SDIT Wahdatul Ummah Metro
Kepala Sekolah, Dewan Guru, dan Orangtua (Yayasan) WU
Rekan-rekan Alumni Program Studi Hukum Keluarga
Serta kepada almamater IAIN Metro Lampung.
ُهْوُمَّلَع َو َضِئ اَرَفْلا اْوُمَّلَعَ ت
“Belajarlah ilmu faraidh, dan ajarkanlah”
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Kalalah Menurut Imam Syafi’i dan Hazairin serta Implikasinya dalam Hukum Kewarisan Islam di Indonesia”.
Penulisan tesis ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyusun Tesis guna menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana (PPs) Program Studi Hukum Keluarga IAIN Metro Lampung guna memperoleh gelar M.H.
Dalam upaya penyusunan tesis ini, penulis telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. DR. Enizar, MA. Selaku pimpinan/rektor IAIN Metro Lampung
2. Ibu DR. Thobibatussadah, MA. Selaku direktur Pascasarjana dan sekaligus penguji yang telah memberikan bimbingan dalam perbaikan tesis yang penulis buat.
3. Bapak DR. Edi Susilo, SH., MH. Selaku Plt. Ketua Prodi Hukum Keluarga yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini.
4. Bapak Prof. DR. H. M. Damrah Khair, MA. selaku pembimbing I dan Bapak Husnul Fatarib, Lc., Ph.D. selaku pembimbing II yang telah memberi bimbingan yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberi motivasi dalam penyelesaian tesis ini.
5. Bunda dan Yanda yang tak pernah lelah memberi nasehat, memotifasi, dan mendoakan penulis agar dapat menyelesaikan tesis ini.
6. Istri yang setia mendampingi dan sabar mensupport penulis agar dapat menyelesaikan tesis ini
terselesaikannya tesis ini.
Penulis menyadari, bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan tesis ini.
Oleh karena itu, penulis sangat memerlukan masukan dan bantuan dari seluruh pihak demi perbaikan tesis ini. Dan mudah-mudahan tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis.
Metro, Juli 2018 M.
Syawal 1439 H.
Penulis,
M. Guntur Ageng Prayogi NPM. 1303162
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
ABSTRAK ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... v
ORISINILITAS PENELITIAN ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
MOTTO ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan ... 9
C. Rumusan Masalah ... 10
D. Tujuan Penelitian ... 10
E. Telaah Pustaka ... 11
F. Metode Penelitian ... 13
1. Jenis Penelitian ... 13
2. Sumber Data ... 13
3. Metode Pengumulan Data ... 15
4. Analisis Data ... 15
G. Sistematika Penelitian ... 17
BAB II KALALAH DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN PAYUNG HUKUMNYA A. Pengertian Kalalah ... 19
B. Dasar Hukum Kalalah ... 21
1. Al-Qur’an ... 21
2. Hadis ... 23
C. Konsep Kewarisan Menurut Imam Syafi’i dan Hazairin ... 24
b. Ashabah ... 26
2. Konsep Kewarisan Menurut Hazairin ... 36
a. Dzu al-Faraid ... 36
b. Dzu al-Qarabah ... 42
c. Mawali ... 44
D. Payung Hukum Kewarisan Islam di Indonesia ... 48
BAB III KALALAH MENURUT IMAM SYAFI’I DAN HAZAIRIN A. Biografi Imam Syafi’i dan Hazairin ... 52
1. Biografi Imam Syafi’i ... 52
2. Biografi Hazairin ... 55
B. Pembagian Warisan Kalalah ... 58
1. Pembagian Warisan Kalalah Menurut Imam Syafi’i ... 58
a. Bagian Waris Kakek ... 58
b. Bagian Waris Saudara ... 60
c. Bagian Waris Kakek Bersama Saudara ... 65
2. Pembagian Warisan Kalalah Menurut Hazairin ... 72
a. Bagian Waris Kakek ... 72
b. Bagian Waris Saudara ... 74
c. Bagian Waris Kakek Bersama Saudara ... 81
BAB IV ANALISIS A. Analisis Pola Pikir Imam Syafi’i dan Hazairin ... 90
1. Faktor Perbedaan antara Pendapat Imam Syafi’i dan Hazairin 90 2. Persamaan Pendapat antara Imam Syafi’i dan Hazairin 96
3. Perbedaan Pendapat antara Imam Syafi’i dan Hazairin . 96 B. Analisis Kedudukan Kalalah dalam Hukum Kewarisan Islam di Indonesia ... 103
BAB V KESIMPULAN ... 106
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ketika ada seseorang meninggal dunia, maka perhatian orang-orang (ahli waris) akan tertuju kepada harta warisan yang ditinggalkan. Masalah harta pusaka biasanya menjadi sumber sengketa dalam keluarga, terutama apabila menentukan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak. Setelah itu, apabila berhak, seberapa banyak hak itu. Hal ini menimbulkan perselisihan dan akhirnya menimbulkan keretakan kekeluargaan. Orang ingin berlaku seadil-adilnya, oleh yang lain dianggap tidak adil.1
Islam mengatur ketentuan pembagian warisan secara rinci agar tidak terjadi perselisihan antara sesama ahli waris sepeninggal orang yang hartanya diwarisi. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Islam menghendaki prinsip keadilan sebagai salah satu sendi pembinaan masyarakat dapat ditegakkan.2
Hukum kewarisan menempati tempat yang sangat penting dalam perkembangan sejarah hukum Islam . Karenanya, para fuqaha’ dan mufassir banyak memperbincangkan masalah tersebut, mulai dari masa klasik sampai
1 Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqih, Jilid 3, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), h.4.
2 Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), h.4
sekarang. Bahkan para fuqaha’ menjadikan hukum tersebut sebagai salah satu cabang ilmu tersendiri yang disebut dengan ilmu ”waris” atau ilmu fara’id.3
Hukum Kewarisan dalam Islam (fiqh mawaris)mendapat perhatian yang besar karena dalam pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggal mati pewarisnya. Naluriah manusia yang menyukai harta benda (QS. Ali Imron, 3: 14) tidak jarang memotivasi seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta tersebut, termasuk di dalamnya terhadap harta peninggalan pewarisnya sendiri.
Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia hingga sekarang ini.4 Ilmu fara’id dianggap penting, karena disandarkan pada sabda Rasulullah Saw., yang berbunyi:
اةارْيارُه ابََأ ايَ
ُهْوُمَّلاع او اضِئ اارافْلا اْوُمَّلاعات , ِ ْلِْعْلا ُف ْصِن ُهَّن إاف ِ ,
ُ سُْنُي اوُهاو , ٍء ْ اشَ ُلَّوَأ اوُهاو ,
ِتَّمُأ ْنِم ُعا ْنُْي
5
Artinya: “Hai Abu Hurairah belajarlah ilmu fara’id dan ajarkanlah ilmu itu.
Karena ilmu tersebut merupakan separuh dari ilmu-ilmu yang ada. Ilmu ini merupakan ilmu yang pertama dilupakan orang”.
3 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 14, Alih Bahasa oleh Mudzakir, (Bandung: Al-Ma’arif), Cet. 1, 1997, h.252.
4 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), Cet
Ke-3, h.356
5 Abi Abdilah Muhammad bin Yazid Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Juz II, (Semarang: Toha Putra), tt, h.908.
Berdasarkan hadis tersebut Jumhur ulama fiqh berpendapat bahwa mempelajari dan mengajarkan ilmu fara’id bagi seluruh umat Islam adalah hukumnya fardu kifayah (kewajiban kolektif).6
Al-Qur’an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan, tanpa mengabaikan hak seorangpun. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris, apakah ia sebagai anak, ayah, ibu, istri, suami, kakek, nenek, cucu, atau bahkan hanya sebatas saudara seayah, seibu ataupun sekandung.
Oleh karena itu, al-Qur’an merupakan acuan pertama hukum dan penentuan pembagian waris. Hanya sedikit saja dari hukum-hukum waris yang ditetapkan oleh Sunnah Nabi atau dengan ijtihad para ulama. Bahkan tidak ada dalam al-Qur’an seperti hukum waris. Ini adalah karena pewarisan merupakan suatu wasilah yang besar pengaruhnya dalam pemilikan harta dan memindahkannya dari seseorang kepada orang lain.7
Syari’at Islam telah menjelaskan hak-hak yang berhubungan dengan harta peninggalan, tertib hak-hak, rukun-rukun, syarat dan sebab-sebab perpindahan harta waris, hal-hal yang menjadi penghalang mewarisi, bagian masing-masing ahli waris dan hukum-hukum yang berpautan dengan harta warisan.
6 Suparman Usman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris (Hukum Kewarisan Islam), (Jakarta: Gaya Media Pratama), Cet. 2, 2002, h. 23.
7 Muhammad Hasbi Asy-Syidiqie, Fiqh Mawaris, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997),
h.7.
Namun perbedaan pemahaman dan aplikasi mengantarkan hukum waris bersifat legal formalis dan menyebabkan fragmentasi aliran pemikiran yang berujung dengan kelahiran mazhab-mazhab. Penyebab utama timbulnya beragam interpretasi hukum kewarisan adalah: Pertama, metode dan pendekatan yang digunakan oleh para ulama dalam melakukan ijtihad berbeda. Kedua, perbedaan kondisi masyarakat dan waktu kapan ulama melakukan ijtihad.8
Di sisi yang lain, masalah kewarisan tidak jarang menimbulkan sengketa di antara ahli waris. Masalah kewarisan ini menyangkut tiga unsur atau menyangkut rukun dan syarat yakni:
Pertama, harta warisan (maurus), bagaimana wujud harta benda yang beralih dipengaruhi oleh sifat kekeluargaan di mana pewaris dan ahli waris berada.
Kedua, pewaris (muwarris), bagaimana hubungan pewaris dengan harta bendanya dipengaruhi oleh sistem, sifat dan lingkungan kekeluargaan di mana pewaris berada.
Ketiga, ahli waris, bagaimana dan sejauh mana ada ikatan kekerabatan antara pewaris dan ahli waris.9
Ketika dilihat dari nash-nash kewarisan yang ada, maka masalah kewarisan dianggap telah jelas (qath’i) dalam beberapa hal, sebagai contoh bahwa ayat tersebut qath’i adanya adalah surat an-Nisa’ [4]: 12, yaitu tentang bagian suami.10
8 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jilid I, (Jakarta: CV. Haji Masagung), Cet. 7, 1994, h.197.
9 Abdul Azis Dahlan, dkk., Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid I, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve), Cet. ke-1, h. 308-309.
10 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang, Dina Utama - Toha Putra Group), Cet.
Ke-1, 1994, h. 38.
Terkait dengan ketentuan bagian masing-masing ahli waris telah diatur dalam al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 11, 12 dan 176. Di mana al-Qur’an surat an- Nisa’ ayat 11 Allah telah menggambarkan pembagian warisan untuk anak-anak, baik anak laki-laki, anak perempuan, maupun cucu, baik cucu laki-laki maupun cucu perempuan dan bagi orang tua (abawaini), baik bapak/ibu maupun kakek/nenek. Pada ayat 12 surat an-Nisa’, Allah menggambarkan pembagian warisan untuk suami maupun isteri. Pada ayat itu juga (an-Nisa’; 12), Allah menggambarkan pembagian warisan saudara-saudara (kasus kalalah) dan ayat 176 juga menjelaskan tentang kasus kalalah.
Kalalah QS. An-Nisa’ ayat 12
Artinya: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri- isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).
(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar- benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun”.11
Kalalah QS. an-Nisa’ ayat 176
11 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: CV Diponegoro), 2010, h.79
Artinya: “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah12). Katakanlah:
"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki- laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara- saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki- laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.13
Dari kedua ayat di atas, yang menjadi perhatian penulis adalah terkait persoalan kalalah. Kalalah merupakan kasus yang terjadi polemik tersendiri di samping kasus pembagian waris 2:1 karena Nabi SAW pun belum menjelaskannya secara detail kepada para sahabat. Ketika Sahabat Umar membahas masalah kalalah dengan Rasulullah, Rasulullah malah mencubit perutnya dengan jari-jari beliau sambil bersabda, “Cukuplah kamu dengan ayat terakhir surat an-Nisa’. Dan selama hidupmu, jika kamu dihadapkan masalah ini, maka putuskanlah masalah ini sesuai dengan ayat itu, baik kepada orang yang membacanya ataupun kepada orang yang tidak membacanya.” Dan saat Umar
12 Kalalah Ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.
13 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan ..., h.106
ditikam juga berkata, “Ketahuilah, bahwa aku tidak berkomentar apapun dalam masalah kalalah”.14
Adanya ketidakjelasan Rasulullah Saw. dalam mendefinisikan menyebabkan para ulama’ melakukan ijtihad dalam menjawab permasalahan kalalah. Para ulama’ salaf mendefinisikan kalalah adalah seseorang yang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah. Ada juga yang mendefinisikan bahwa kalalah itu seseorang yang meninggal tanpa meninggalkan anak laki-laki dan ayah.
Penggunaan istilah kalâlah bisa untuk pewaris dan ahli waris. Ada pendapat beberapa ahli bahasa tentang pewaris yang kalâlah, yaitu: (1) Orang yang tidak mempunyai anak dan orang tua. (2) Orang yang tidak mempunyai keluarga dan kerabat. (3) Orang yang meninggal. (4) Orang yang tidak mempunyai anak, orang tua dan saudara.Ahli waris yang kalâlah adalah saudara seibu dan saudara seayah.
Saudara seibu disebut dengan kalâlah ibu dan saudara seayah disebut dengan kalâlah ayah.15
Para ulama’ salaf, termasuk Imam Syafi’i, membedakan bagian warisan untuk saudara-saudara, yaitu saudara seibu yang tercantum dalam An-Nisa’; 12 sedangkan saudara sekandung ataupun saudara seayah pada an-Nisa’; 176.
Adapun mengenai bagian-bagian harta waris yang akan diterima saudara, para ulama’ klasik (ulama salaf) menafsirkannya tidak jauh berbeda dengan apa
14 Muhammad Baltaji, Manhaj ’Umar bin Khatab fi at-Tasyri’ Dirasah Mastu’ibah li fiqhi
’Umar wa Tandhimatihi, Terj. Metodologi Ijtihad Umar bin Al-Khatab oleh Masturi Irham, (Jakarta:
Khalifa, 2005), Cet. Ke-1, h.342.
15Ibn al-´Arabî, Ahkâm al-Qur’ân, (Bayrût: Dâr al-Fikr, 1998), Jilid II, h. 448.
yang tercantum dalam kedua ayat tersebut. Bagian untuk seorang saudara laki- laki atau perempuan seibu mendapat 1/6 sedangkan kalau untuk kumpulan saudara seibu mendapat 1/3 bagian. Bagian untuk seorang saudara perempuan sekandung atau seayah mendapat ½ bagian, dan apabila dua orang atau lebih mendapat 2/3 bagian. Sedangkan untuk saudara laki-laki sekandung atau seayah mendapat ashabah (sisa).
Sedang menurut Hazairin, dengan menunjuk pada berbagai sistem hubungan persaudaraan dalam hukum adat, kemudian menyatakan bahwa dalam sistem kekeluargaan yang bilateral, maka saudara kandung itu mungkin artinya saudara seayah atau mungkin pula saudara seibu, atau saudara seayah dan seibu, sehingga termasuk di dalamnya semua jenis hubungan persaudaraan. Dalam sistem ini orang hanya mungkin bersaudara atau tidak bersaudara. Pengertian saudara tiri memang ada dalam masyarakat bilateral, namun yang disebut saudara tiri itu sama sekali bukan saudara, melainkan orang lain yang benar-benar tidak ada sangkut paut kedarahan apa-apa dengan orang yang menyebutnya.16
Kasus kalalah ini memang cukup rumit sehingga mengakibatkan terjadinya perbedaan penafsiran para ulama terhadap ayat kalalah tersebut.
Berawal dari permasalahan ini, penulis ingin mengangkat judul tesis untuk membahas mengenai kalalah menurut ulama salaf (klasik) dan ulama khalaf
16 Wahidah, Pemikiran Hukum Hazairin; Jurnal Ilmu Hukum, Volume 15 Nomor 1, Juni 2015, h.37-50
(kontemporer). Pendapat ulama yang penulis ambil adalah Imam Syafi’i dari ulama salaf, dan Hazairin dari ulama khalaf.
B. Permasalahan
Dari latar belakang yang penulis paparkan, terdapat beberapa permasalahan yang timbul, antara lain:
1. Pokok pembahasan kalalah, a. Definisi
b. Sebab menjadi kalalah c. Pewaris dan ahli waris
2. Ahli waris kalalah yang berhak memperoleh bagian waris.
3. Bagian harta waris bagi ahli waris kalalah.
C. Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang ada, penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan, untuk dibahas dalam tesis ini, yaitu;
“Bagaimana status dan bagian ahli waris dalam kalalah menurut Imam Syafi’i dan Hazairin, serta imlikasinya terhadap Hukum Kewarisan Islam di Indonesia?”
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan ini, memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain:
1. Dapat menambah wawasan mengenai permasalahan kewarisan, spesifik mengenai kalalah.
2. Mengetahui bagaimana masalah kewarisan tersebut menjadi kalalah
3. Dapat mengetahui secara spesifik mengenai status dan bagian ahli waris dalam kalalah
4. Mengetahui keberpengaruhan pendapat ulama, baik ulama salaf maupun ulama khalaf, dalam penetapan mengenai kalalah
E. Telaah Pustaka
Penulis mengetahui, bahwa penelitian tentang kalalah sudah banyak dikupas, terlebih mengenai status dan bagian saudara dalam kalalah ketika bertemu dengan ahli waris lainnya, seperti kakek.
Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang contohnya, Nur Aliyah NIM 289061 tahun 1994 yang mengangkat judul penelitian akhirnya tentang “Studi Perbandingan Pendapat Imam Syafi’i dan Prof. Dr. Hazairin tentang Kedudukan Kakek bersama saudara dalam kewarisan”.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa, menurut Imam Syafi’i kakek yang dapat mewarisi adalah kakek yang sahih (ayah dari ayah). Sedangkan dari garis ibu bukanlah sebagai ahli waris, dan kakek dapat sama-sama menjadi ahli waris jika bersama dengan saudara laki-laki atau perempuan sekandung atau
seayah, sementara saudara laki-laki atau perempuan seibu terhalang karena adanya kakek. Sedangkan Prof. Dr. Hazairin berpendapat kakek baik dari ayah atau ibu dapat sama-sama menjadi ahli waris hanya ketika kalalah, yaitu sebagai pengganti dari ayah atau ibu.
Ini merupakan salah satu bagian dari pembahasan kalalah, sebagaimana Hazairin mengatakan bahwa tidak membedakan kakek dan atau saudara, baik yang sekandung, seayah, maupun seibu.
Dalam penelitian lain, oleh Badrut Tammam NIM. 062111008 Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang tahun 2011 yang berjudul “Studi Analisis Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Kewarisan Kakek Bersama Saudara”, menjelaskan Imam Abu Hanifah mengemukakan pendapat Abu Bakar bahwa kakek dari jalur laki-laki disamakan kedudukannya seperti ayah kandung (bila ayah sudah meninggal terlebih dahulu). Jadi, kakek menghijab saudara.
Sehingganya saudara tidak mendapat bagian waris dari pewaris.
Selanjutnya penelitian Putri Ajeng Fatimah, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Tafsir – Hadis Fakultas Ushuluddin tahun 2011 yang membahas mengenai “Waris Kalalah dalam Pandangan Wahbah Az- Zuhaily”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa kalalah adalah seseorang yang meninggal tanpa meninggalkan orangtua dan keturunannya, mksdnya tidak meninggalkan ayah dan atau ibu, dan anak. Yang menjadi ahli waris adalah saudara laki-laki maupun perempuan, baik saudara kandung, seayah mauun
seibu. Ini berarti bahwa ada ketidakmungkinan saudara memperoleh bagian waris, jika pewaris meninggalkan ayah dan atau anak.
Dari beberapa penelitian tersebut, penulis ingin membahas mengenai pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin tentang Kalalah, serta implikasinya terhadap Hukum Kewarisan Islam di Indonesia yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.17
Mengutip Bogdan dan Taylor, Lexy J. Moloeng mengatakan bahwa metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
17 Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Basics Of Qualitative Research; Grounded Theory
Procedures and Techniques, Terj. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif; Tata Langkah dan Teknikteknik Teoritisasi Data oleh Muhammad Shodiq dan Imam Muttaqien, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 4
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.18
Penelitian ini juga mendasarkan pada studi literer atas karya Imam Syafi’i dan Hazairin. Oleh karenanya, penelitian ini boleh juga disebut sebagai library research. Studi literer (library research) atas naskah tertulis tentang pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin, baik karyanya sendiri (primer) atau hasil kajian peneliti sekarang atas tokoh tersebut.
2. Sumber Data
Dalam sebuah penelitian terdapat beberapa sumber yang digunakan guna kelancaran dalam meneliti. Dalam hal ini, penulis menggunakan data sekunder untuk menyusun tesis ini. Dimana data sekunder adalah “secondary data yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, buku harian seterusnya”.19
Dipahami bahwa data ini merupakan sumber data pada penelitian tidak langsung yaitu melalui buku-buku, laporan-laporan, dan lain sebagainya.
Karena dalam penelitian ini penulis tidak melakukan penelitian secara langsung di lapangan dan menggunakan data sekunder sebagai bahan pokok, maka penelitian penulis ini merupakan penelitian pustaka (library research).
Dikatakan bahwa tujuan penelitian kepustakaan adalah “untuk mengumpulkan
18 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung: PT Rosdakarya,
2005), Cet. XXI, h. 4.
19 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press), 1986, h.12.
data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang perpustakaan; buku-buku, majalah, dokumentasi dan kisah-kisah sejarah”20.
Penulis menggunakan data sekunder sebagai sumber data dalam penelitian ini. Yang mana, data ini terbagi menjadi 3, yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Bahan hukum primer merupakan bahan pokok yang penulis gunakan, yaitu; al-Qur’an dan Tafsirnya, Kitab-kitab Hadis, buku-buku karya Imam Syafi’i dan Hazairin, dan atau buku-buku yang memuat pendapat Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kewarisan (kalalah).
Bahan hukum sekundernya, penulis menggunakan buku-buku mengenai materi pembahasan seperti Fiqh Mawaris. Kemudian bahan hukum tersiernya, penulis menggunakan Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Arab, dan Ensiklopedi Hukum Islam.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan datanya dilakukan melalui penelusuran terhadap bahan-bahan pustaka yang menjadi sumber data.
Sumber data tersebut berupa literatur yang berkaitan dengan substansi penelitian ini.
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan metode library research atau studi kepustakaan yaitu usaha untuk
20 Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Bumi Aksara, Jakarta, 2006, h.28.
memperoleh data dengan cara mendalami, mencermati, menelaah dan mengidentifikasi pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku referensi atau hasil penelitian lain.21
4. Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan ide yang disarankan oleh data.22
Dalam memberikan interpretasi data yang diperoleh, penulis disini menggunakan metode sebagai berikut:
a. Metode analisis deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dimaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.23
Metode ini digunakan untuk menggambarkan konsep sebagaimana adanya agar mendapatkan gambaran yang terkandung dalam konsep tersebut. Metode ini diterapkan pada BAB III yang berupa konsep-konsep pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kalalah.
b. Metode content analisis merupakan metode analisis ilmiah dimana hasilnya harus menyajikan generalisasi, proses analisisnya
21 M. Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2003), h. 45.
22 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian ..., h. 103.
23 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h.18
dilakukansecara sistematis, mengarah pada pemberian sumbangan teoritiknya.24
Analisis ini bertumpu pada metode analisis deskriptif. Metode analisis ini diterapkan pada BAB IV
c. Metode Analisis Komparatif adalah metode analisis yang digunakan untuk memperoleh kesimpulan dengan menilai faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi yang diselidiki dan membandingkan dengan faktor-faktor lain.
Metode analisis ini juga diterapkan pada BAB IV guna mengetahui perbedaan antara pemikiran Syahrur dengan para ulama’ klasik.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini terdiri dari 5 bab, yakni: Sebagai media untuk memahami persoalan yang telah dikemukakan secara runut atau sistematis di atas, maka penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang di dalamnya memuat Latar Belakang Masalah, Permasalahan dan Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Telaah Pustaka terhadap penelitian terdahulu, Metode Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
BAB II : Menjelaskan tentang kerangka teoritik mengenai kalalah dan istinbath hukum. Di dalamnya akan penulis perjelas persoalan
24 Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1991), Cet
III, hlm. 77.
tentang pengertian kalalah, landasan hukum, kalalah menurut para ulama’ klasik serta teori istinbath hukum yang berhubungan dengan kalalah.
BAB III : menjelaskan mengenai Pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kalalah. Dalam bab ini akan dibahas Biografi, perjalanan intelektual dan karya-karya Imam Syafi’i dan Hazairin.
Kemudian membahas pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kalalah dan metode istinbath hukum yang dipakai Imam Syafi’i dan Hazairin dalam kasus kalalah.
BAB IV : Analisis terhadap Pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kalalah. Dan di dalamnya akan penulis muat implikasi pemikiran Imam Syafi’i dan Hazairin terhadap Hukum Kewarisan Islam di Indonesia.
BAB V : Penutup merupakan akhir dari pembahasan penelitian ini yang meliputi Kesimpulan, Saran-saran dan Penutup.
BAB II
KALALAH DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM DAN PAYUNG HUKUM
A. Pengertian Kalalah
Kata “kalâlah” adalah bentuk masdar dari kata “kalla” yang secara etimologi berarti letih atau lemah. Kata kalâlah pada asalnya digunakan untuk menunjuk pada sesuatu yang melingkarinya serta tidak berujung ke atas dan ke bawah, seperti kata “iklil” yang berarti mahkota karena ia melingkari kepala.
Seseorang dapat disebut kalâlah manakala ia tidak mempunyai keturunan dan leluhur (anak dan ayah). Kerabat garis sisi disebut kalâlah karena berada di sekelilingnya, bukan di atas atau di bawah.1 Kemudian kata kalâlah digunakan untuk seseorang yang tidak mempunyai ayah dan anak.2
Penggunaan istilah kalâlah bisa untuk pewaris dan ahli waris. Ada pendapat beberapa ahli bahasa tentang pewaris yang kalâlah, yaitu: (1) Orang yang tidak mempunyai anak dan orang tua. (2) Orang yang tidak mempunyai keluarga dan kerabat. (3) Orang yang meninggal. (4) Orang yang tidak mempunyai anak, orang tua dan saudara.3
1 Ibn Manzhûr, Lisân al-Arab, (Bayrût: Dâr al-Fikr, t.t.), Jilid XV, h. 142; Muhammad Rawwâs Qal’ah Jî dan Hâmid Shâdiq Qunaybî, Mu’jâm Lughah al-Fuqahâ’, (Bayrût : Dâr al-Nafs, 1998), h. 50; Muhammad Yûsuf Mûsâ, Al-Tirkah wa al-Mîrâts fî al-Islâm, (Mesir: Dâr al-Kitâb al-
´Arabî, 1959), h. 201.
2 Al-Âlûsî al-Baghdâdî, Rûh al-Ma’ânî, (T.tp: Dâr al-Fikr, t.th), h. 358
3 Ibn al-´Arabî, Ahkâm al-Qur’ân, (Bayrût: Dâr al-Fikr, 1998), Jilid II, h. 448.
Ahli waris yang kalâlah adalah saudara seibu dan saudara seayah. Saudara seibu disebut dengan kalâlah ibu dan saudara seayah disebut dengan kalâlah ayah.
Kata “kalalah” dalam al-Qur'an merupakan salah satu ayat paling banyak diperselisihkan oleh para pakar tafsir, sampai-sampai diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab r.a. berkata, “Tiga hal yang jika diperjelas keterangannya oleh Rasul, akan menjadi hal-hal yang lebih kusenangi dari kenikmatan duniawi: kalalah, riba dan kekhalifahan”.
Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., disebutkan bahwa Umar berkhutbah di atas mimbar Rasulullah SAW. setelah membaca hamdalah dan memuji Allah, ia berkata:
اَهُمِرْ َتَ َلَزَن َرمَلخإ َّن إَو َلَزَن َمْوَي ,
َءاَي ْ شَأ ِة َسْ َخَ ْنِم َيـِهَو , ِة َطْنِحْلإ ْنِم :
ِ ْيِْع َّشلإَو , ,
ِرْمَّتلإَو ِبْيِبَّزلإَو ,
ِل َسَعْلإَو , َلْقَعْلإ َرَماَخ اَم ُرْمَخْلإَو .
ُتْدِدَو َءاَي ْ شَأ ُةَث َلََثَو . ُساَّنلإ اَ هيَُّأ ,
لمسو هيلع الله لىص ِالله ُلْو ُسَر َّنَأ اَ ْيِْف اَنْيَل إ َدِهَع َن َكَ ِ
, ُ َلَ َ َكَلْلإ ِبإَوْبَأ ْنِم ٌبإَوْبَأَو ,
َبِ رلإ
4
Artinya: “Sesungguhnya telah diturunkan ayat tentang pengharaman khamar (minuman keras) yang terbuat dari lima jenis; biji gandum, gandum, kurma, anggur dan madu. Khamar adalah sesuatu yang menghilangkan kesadaran akal. Dan ada tiga perkara, wahai hadirin sekalian, yang aku ingin sekali Rasulullah saw. mewasiatkan kepada kita yaitu mengenai warisan kakek, kalalah dan perkara-perkara yang masuk dalam kategori riba”.
Dalam riwayat lain juga dinyatakan bahwa Umar seringkali bertanya dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah saw. tentang masalah kalalah ini, sampai-sampai beliau mendorong dada Umar sambil bersabda: “Cukup sudah
4 Abi Al-Husain Muslim Bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburiy, Sahih Muslim, Juz 4, (Beirut Libanon, Dar Ihya’ At-turats Al-Arabi), 1991, h.2322.
bagimu ayat kalalah musim panas yang disebut pada akhir An-Nisa”. (Ayat ke- 12 disebut ayat kalalah musim dingin, dan ayat 176 musim panas). Perbedaan pendapat dimulai dari akar katanya, selanjutnya makna kata itu sendiri dan terakhir, maksud penggalan ayat itu.
Mayoritas pakar bahasa memahami kata kalalah dengan arti yang mati tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak; ada juga yang memahami dalam arti yang mati tanpa meninggalkan ayah saja, ada lagi yang berpendapat yang mati tanpa meninggalkan anak saja, dan masih banyak pendapat lain. Dan ada juga yang berpendapat bahwa kalalah menunjuk kepada ahli waris, selain kedua ibu bapak dan anak.
B. Dasar Hukum Kalalah 1. Al-Qur’an
Qs. An-Nisa: 12
Artinya: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri- isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)5. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun”.6
An-Nisa’: 176
5 Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.
6 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: CV Diponegoro), 2010, h.78- 79
Artinya: “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)7. Katakanlah:
"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.8
2. Hadis
ينْب يلِ حظْفَّللاَو َّنََّ ثحمْلا حنْب حدَّمَحمَُو ُّييمَّدَقحمْلا ٍرْكَب يبَِأ حنْب حدَّمَحمُ اَنَ ثَّدَح َّنََّ ثحمْلا
يبَِأ ينْب ييلِاَس ْنَع حةَداَتَ ق اَنَ ثَّدَح ٌماَشيه اَنَ ثَّدَح ٍدييعَس حنْب َيََْيَ اَنَ ثَّدَح َلِاَق َرَكَذَف ٍةَعححجُ َمْوَ ي َبَطَخ يباَّطَْلْا َنْب َرَمحع َّنَأ َةَحْلَط يبَِأ ينْب َناَدْعَم ْنَع يدْعَْلْا َلَع حهَّللا ىَّلَص يهَّللا َّيبَِن اًئْيَش ييدْعَ ب حعَدَأ َلِ ينِّيإ َلاَق َّحثُ ٍرْكَب اَبَأ َرَكَذَو َمَّلَسَو يهْي
يفِ َمَّلَسَو يهْيَلَع حهَّللا ىَّلَص يهَّللا َلوحسَر حتْعَجاَر اَم يةَل َلََكْلا ْنيم ييدْنيع َّمَهَأ
7 Kalalah Ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak
8 Departemen Agama RI, al-Qur’an ..., h.106
ٍءْيَش يفِ يلِ َظَلْغَأ اَمَو يةَل َلََكْلا يفِ حهحتْعَجاَر اَم ٍءْيَش َّتََّح يهييف يلِ َظَلْغَأ اَم
ير يخآ يفِ يتَِّلا يفْيَّصلا حةَيآ َكييفْكَت َلَِأ حرَمحع اَي َلاَقَو ييرْدَص يفِ يهيعَبْصيإيب َنَعَط َنآْرحقْلا حأَرْقَ ي ْنَم اَيبِ ييضْقَ ي ٍةَّييضَقيب اَهييف يضْقَأ ْشيعَأ ْنيإ ينِّيإَو يءاَسينلا يةَروحس حأَرْقَ ي َلِ ْنَمَو َةَّيَلحع حنْبا حلييعَْسْيإ اَنَ ثَّدَح َةَبْيَش يبَِأ حنْب يرْكَب وحبَأ اَنَ ثَّدَح و َنآْرحقْلا
َمييهاَرْ بيإ حنْب حقَحْسيإَو ٍبْرَح حنْب حرْ يَهحز اَنَ ثَّدَح و ح َةَبوحرَع يبَِأ ينْب يدييعَس ْنَع يك َةَبْعحش ْنَع ٍراَّوَس ينْب َةَباَبَش ْنَع ٍعيفاَر حنْباَو حهَوَْنَ يداَنْسيْلْا اَذَيبِ َةَداَتَ ق ْنَع اَحهُ َلَ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami dan Muhammad bin Mutsanna dan ini adalah lafadz Ibnu Mutsanna, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Ma'dan bin Abu Thalhah bahwa Umar bin Khatthab berkhutbah pada hari Jum'at, kemudian dia menyanjung Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar, lalu dia berkata, "Sesungguhnya saya tidak akan meninggalkan sesuatu yang menurutku lebih penting daripada kalalah. Saya tidak pernah mengulang-ulang konsultasi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang sesuatu yang melebihi konsultasiku kepadanya tentang kalalah, beliau juga tidak pernah bersikap keras terhadap suatu hal melebihi sikap kerasnya kepadaku dalam masalah kalalah, sampai- sampai beliau menekankan jari-jarinya ke dadaku sambil bersabda:
"Wahai Umar, belum cukupkah bagimu ayat shaif yang terdapat pada akhir dari surat An Nisaa'? Seandainya saya masih hidup, maka saya akan menetapkan masalah kalalah dengan suatu ketetapan yang diputuskan oleh orang yang membaca Al Qur'an dan orang yang tidak membaca Al Qur'an." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah dari Sa'id bin Abu 'Arubah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Rafi' dari
Syababah bin Sawwar dari Syu'bah keduanya dari Qatadah dengan isnad ini, seperti hadits tersebut”.9
C. Konsep Kewarisan Menurut Imam Syafi’i dan Hazairin 1. Konsep Hukum Waris menurut Imam Syafi'i
Konsep kewarisan menurut Imam Syafi'i sama dengan ulama Sunni, yang pembagiannya sebagai berikut:
Jika dilihat dari segi bagian-bagian yang diterima, dapat dibedakan kepada:10
a. Dzu Al-Fara'id
Dzu al-fara'id adalah ahli waris yang mendapatkan bagian waris yang telah ditentukan dan dalam keadaan ditentukan pula secara pasti oleh al-Qur'an, al-Sunnah, dan Ijma‘. Adapun bagiannya dalam al-Qur'an adalah: ½, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3.1111 Kata "al-fara'id" adalah fail dari
"farada" yang bermakna kewajiban, kemudian dikonotasikan pada faridatan surat al-Nisa' ayat 11. Menurut al-Qur'an surat al-Nisa' ayat 11, 12, dan 176 adalah ahli waris yang mendapat saham tertentu berjumlah (9) sembilan orang, sedangkan yang lainnya menurut jumhur ulama' merupakan tambahan dari hasil ijtihad, seperti kata "walad" berkonotasi
9 HR. Muslim No. 3032
10 Abdullah Siddiq, Hukum Waris Islam dan Perkembangannya di Seluruh Dunia, h. 68
11 Abdullah Siddiq, Hukum Waris Islam dan Perkembangannya di Seluruh Dunia, h. 68-69.
(Musa bin ‘Imran, al-Bayan fi Fiqh al-Imam al-Syafi'i, Juz IX., h. 33)
pada cucu, "abun" dan "ummun" kepada kakek dan nenek. Perinciannya sebagai berikut:
1) Surat al-Nisa' ayat 11, adalah ahli waris itu adalah anak perempuan, ayah, dan ibu.
2) Surat al-Nisa' ayat 12, ahli waris itu adalah suami, istri, saudara laki- laki seibu dan saudara perempuan seibu.
3) Surah al-Nisa' ayat 176, ahli waris itu adalah saudara perempuan sekandung dan seayah.12
Dzu al-fara'id secara keseluruhan terdiri dari sepuluh ahli waris, yang digolongkan dalam ashab al-nasabiyah (kelompok orang yang berdasarkan nasab), yaitu; ibu, nenek, anak perempuan, bintu al-ibni (cucu perempuan dari anak laki-laki), saudara perempuan (kandung dan seayah), walad al-umm (saudara laki-laki dan perempuan seibu), ayah bersama anak laki-laki atau ibnu al-ibni (cucu laki-laki dari anak laki- laki), kakek sahih (ayahnya ayah) dan ashab al-furud al-sababiyah (kelompok orang yang menjadi ahli waris sebab perkawinan), yaitu;
suami dan istri.13 b. Ashabah
12 Ali Parman, Kewarisan dalam Al-Qur’an Suatu Kajian Hukum dengan Pendekatan Tafsir Tematik, h.104
13 Musa bin ‘Imran al-‘Imrani, al-Bayan fi Fiqh al-Imam al-Syafi'i, Juz IX., h. 33