BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian karya ilmiah terapan ini adalah pada saat melaksanakan prala di kapal MV. Ibrahim Zahier. Berikut adalah Ship Particulars kapal MV. Ibrahim Zahier.
1. Ship Name : MV. IBRAHIM ZAHIER 2. Flag / Nationality : INDONESIA
3. Call Sign : P.L.V.X
4. Ship’s Owner : PT PUPUK INDONESIA LOGISTIK, Gedung Plaza Pupuk Kaltim Lt. 2 Jl. Kebon Sirih Raya No. 6A Jakarta 5. Port Of Register : JAKARTA
6. Register Number : 1997 Ba No. 3605/L 7. IMO Number : 7518549
8. MMSI : 525018002 9. IMMARSAT C ID : 452500129 10. N.B.D.P / Telex Id : 71968
11. Nationaly / Flag : INDONESIA
12. Bullder / Shipyard : Mitshubishi Heavy Industri Yokohama Japan 13. Type Of Ship : WELL DECKER (Type B)
14. Classification : GL + 100A4 WITH FREEBOARD = 400 M(S), MC, “ BULK CARRIER “ BKI
15. Plying Limit : Ocean Going 16. Length Over All : 114.52 Meters
17. Length Beeten Perpendiculars : 109.40 Meters 18. Breadth Moulded : 20.0 Meters
19. Depth Moulded : 10.00 Meters 20. Draft Moluded : 6.015 Meters 21. Cargo Hold Capacity : 10.186,23 M3 22. Number Of Hatch Opening : 10 (6 x 3 M) 23. Dead Weight at Max Draught : 9.237,21 Tons
24. Gross Tonage : 7.451,00 Tons = 25.844,70 m3 25. Net Tonnage : 2.527,00 Tons = 12.923,01 m3 26. Light Ship : 3896,60 Tons
27. Main Engine : DAIHATSU 8 dsm – 32/Reduction Gear 2 MR (BHP) EACH 2500 PS X 600/180 RPM
28. Service Speed : 12 Knots
29. Auxiliary Engine : 2 Set Prime Motor Daihatsu type 6PSHTB- 26D Generator 2 X 450 KW X 400VAC, 50Hz
30. Tank Capacity :
A. Ballast : 4.285,00 Tons
B. D.O : 591.0 Kl – present use HSD Consumable:
19,8 Ton/Day
C. L.O : 14.500 Liters
D. Fresh Water : 127 Tons,Consumable: 19,8 Ton/Day
31. Complement : 18 Persons
32. Derrick / Crane : 3 Pcs Jib Crane SWL : 2,5 Tons
33. Lifeboat Capacity & Dimension : 2 x 36 Persons : 7.5 M x 2.5 M x 1.055 M
34. Type Of Boat Davit : Single Pivot With Wire Rope Falls 35. Inflatable Life Raft Capacity : 4 x 20 Persons
1 x 25 Persons
Adapun data-data pada pompa pendingin air laut berdasarkan Engine Ship Particular MV. Ibrahim Zahier PT. Pupuk Indonesia Logistik yang dibuat oleh Japan Ship yard, dengan data sebagai berikut:
Maker : MHI Yokohama ship yard M-34
Quantity : 100 m³ / h
Velocity : 1,15 m / h
Operating Pressure : 2,7 kg / cm2 Inlet Temperature : 36,6 °c Outlet Temperature : 42,8 °c
Pressure Drop : 0,12 kg / cm2 Design Pressure : 3,0 kg / cm2 Design Temperature : 50 °c Hidrolic Test Pressure : 4,5 kg / cm2
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya tekanan pada pompa pendingin air laut
4.2.1.1 Kurangnya hisapan pada pompa pendingin.
Sebelum menguraikan masalah diatas, penulis ingin menjelaskan pengertian tentang sistem pendingin air laut. Sistem pendingin air laut yaitu, sistem pendingin yang menggunakan air laut untuk proses pendinginan yang kemudian air laut tersebut dibuang keluar melalui overboard kapal. Dalam sistem ini terdapat pipa-pipa yang diatur sedemikian rupa untuk menunjang proses sirkulasi air laut dapat berjalan dengan lancar. Namun pada kenyataanya pompa sering mengalami masalah yaitu, kurangnya hisapan pada pompa. Masalah ini bisa terjadi akibat pasokan air dari sistem perpiaan mulai dari sea chest menuju pompa mengalami masalah.
Untuk itu penulis mencoba menguraikan penyebab kurangnya hisapan pada pompa pendingin air laut dimulai dari sistem perpipaan yang bermasalah yaitu, tersumbatnya saringan oleh sampah/kotoran yang mengakibatkan aliran air dari sea chest menuju pompa tidak maksimal, terbloknya aliran air akibat kran hisap tersumbat/kemasukan sampah/kotoran dan kran air laut pada sea chest yang mengalami penyumbatan akibat sampah/kotoran sehingga suplai air menjadi berkurang atau tidak maksimal. Kendala yang dialami penulis dalam masalah ini adalah seringnya kapal masuk alur sungai yang sudah pasti berdampak pada tekanan pompa yang bisa saja menurun secara tiba-tiba. Dalam hal ini dikapal terdapat dua buah sea chest yang dipasang di tempat berbeda yaitu terletak didasar kapal dan disamping kapal dimaksudkan agar kinerja sea chest sebagai lubang pengisapan berjalan lancar mengingat bervariasinya kedalaman perairan yang dilewati. Oleh karena itu, pada saat kapal berlayar di alur sungai maka gunakan sea chest yang terletak disamping kapal bertujuan untuk mengurangi/meminimalisir
masuknya kotoran dan sampah atau lumpur pada lubang sea chest.
4.2.1.2 Impeller yang terkikis.
Pompa sentrifugal adalah salah satu jenis pompa yang mengubah energi mekanik menjadi energi fluida menggunakan gaya sentrifugal.
Pompa ini terdiri dari impeller yang dipasang pada sebuah poros berputar dalam rumah pompa (casing) serta memiliki saluran masuk dan keluaran. Impeller yang berputar menimbulkan tekanan dalam air, pada tengah impeller, air keluar melalui sudu-sudu dengan kecepatan yang diakibatkan adanya gaya sentrifugal. Impeller pompa secara kimiawi terkorosi oleh kandungan ion klorin dan ion sulfur yang terlihat dari analisis EDS (Energy Dispersive Spectroscopy).
Dalam beberapa literatur menunjukkan bahwa sejumlah kandungan ion klorin akan merusak silicon brass. Analisis komposisi kimia menunjukkan bahwa impeller yang terbuat dari silicon brass kurang tahan terhadap lingkungan yang banyak mengandung kandungan klorin dan juga unsur korosif seperti ion klorida dan sulfur yang terdapat pada air laut. Kendala dalam masalah ini adalah material yang digunakan impeller adalah jenis silicon brass yang merupakan material yang tidak tahan terhadap serangan korosi.
4.3 Pembahasan
4.3.1.1 Untuk mengatasi masalah yang telah dijelaskan diatas, maka perlu untuk melakukan kegiatan membersihkan saringan pada pompa pendingin. Sebelum kegiatan dimulai pastikan pompa sudah siap diganti dengan cara mematikan pompa ke 1 dan menghidupkan pompa ke 2, selanjutnya pastikan kondisi tekanan pada pompa yang beroperasi normal, setelah kondisi tekanan normal kemudian tutup kran hisap dan kran air laut pada sea chest agar tidak ada lagi tekanan air yang masuk, kemudian buka cover pada saringan dengan melepas baut-baut
pengikatnya, ambil packing dan angkat saringan keluar dan lakukan pembersihan saringan dari kotoran-kotoran menggunakan sikat kawat, setelah selesai bilas saringan dengan menggunakan air tawar, sebelum saringan diletakkan pada posisi semula pastikan tempat saringan dibersihkan dahulu dari sampah/kotoran. Letakkan saringan pada posisi semula beserta zing anodanya, setelah selesai pasang kembali packing beserta baut-baut pengikatnya. Setelah selesai dicoba dahulu dengan membuka kran hisap untuk memastikan ada kebocoran atau tidak pada pemasangan saringan tersebut.
4.3.1.2 Untuk mengganti impeller pada pompa dapat dilakukan dengan cara yaitu, lepas baut pengikat rumah keong pompa, kemudian Tarik rumah keong tersebut keluar, kemudian lepas baut coupling pengikat antara shaft dengan elmot pompa, kemudian Tarik/keluarkan shaft pompa dari rumah keong pompa dan letakkan pada tempat yang telah diatur, setelah selesai lepas baut pengikat pada impeller, kemudian lepas impeller dan ganti dengan yang baru. Sebelum shaft dipasang kembali, ganti packing yang menempel pada rumah keong pompa, kemudian pasang kembali shaft dan baut coupling agar terikat kembali dengan elmot pompa., kemudian pasang kembali rumah keong pompa dan pastikan packing terpasang dengan benar agar tidak terjadi kebocoran pada saat dijalankan.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa penyebab menurunnya tekanan pada pompa pendingin air laut dikapal MV. Ibrahim Zahier adalah:
1) Kotornya saringan pada pompa yang menyebababkan kotoran atau sampah masuk kedalam saringan.
2) Terkikisnya impeller pada pompa akibat dari korosi yang ditimbulkan oleh ion klorida dan sulfur air laut.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan kesimpulan diatas untuk penanganan terhadap menurunnya tekanan pompa pendingin air laut dikapal antara lain:
1) Lakukan pemeriksaan dan perawatan secara terencana dan berkala sesuai dengan jam kerja pompa.
2) Ketersediaan spare part diatas kapal lebih diperhatikan lagi agar proses perawatan dan perbaikan berjalan lancar dan tepat waktu.