• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Nasional Indonesia di Era Globalisasi

N/A
N/A
chaerul muhammadnatsir

Academic year: 2024

Membagikan "Identitas Nasional Indonesia di Era Globalisasi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Jawaban No 1

Secara harfiyah, identitas adalah jati diri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, suatu organisasi, kelompok atau suatu negara yang membedakan dengan yang lainnya. Identitas ini bisa secara fisik dan non fisik. Identitas bisa dinyatakan secara sadar dengan menjelaskan tentang tentang dirinya atau di ungkapkan oleh seseorang atau kelompok lainnya. Artinya identitas nasional adalah identitas yang melekat pada individu, suatu

kelompok yang lebih besar dan diikat oleh kesamaan fisik seperti budaya, adat istiadat, agama dan bahasa daerah atau berupa kesamaan secara non fisik seperti keinginan, harapan, cita- cita dan tujuan. (Hilmi and Pati 2015)

Munculnya globalisasi membuat identitas nasional semakin memudar ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Jika hal ini dibiarkan begitu saja akan berpotensi menjadi masalah yang sangat besar. Maka dari itu, masyarakat perlu melakukan sebuah upaya untuk merawat identitas nasional agar tidak hilang bahkan di klaim oleh negara lain. Merawat

identitas nasional dapat dilakukan dengan berbagai macam upaya, seperti:

1. Menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila pada kehidupan sehari-hari.

Langkah ini dapat dilakukan, seperti menaati peraturan, tidak mencontek, saling membantu terhadap sesama, tidak membeda-bedakan orang di lingkungan sekitar, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, melaksanakan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing- masing dan lainnya.

2. Menanamkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme dengan melakukan berbagai upaya, seperti mempelajari dan melestarikan budaya lokal, lebih bangga menggunakan dan mencitai produk-produk lokal, membaca buku-buku tentang perjuangan para pahlawan, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan membawa harum nama Indonesia hingga ke internasional sesuai dengan kemampuan dan passion kita.

3. Mengutamakan sikap persatuan dan kesatuan dengan cara mempererat tali silahtuhrami dengan orang lain. Dengan begitu masyarakat dapat meninggalkan sikap idividualisme yang telah dibawa oleh budaya asing. Sikap persatuan dan kesatuan merupakan salah satu jati diri bangsa Indonesia yang sudah sejak lama telah dilakukan oleh para pejuang untuk meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945.

4. Memanfaatkan situs jejaring sosial, seperti twitter, instagram, youtube, facebook, dan lainnya, sebagai tempat edukasi mengenai kepariwisataan daerah. Dengan demikian

(2)

masyarakat dapat memperkaya pengetahuannya tentang budaya lokal. Hal ini juga menjadi upaya bagi menjadi upaya bagi masyarakat untuk memperkenalkan budaya lokal ke dunia, sebab situs jejaring sosial jangkauannya global (luas).

Sumber : Jurnal Mengenal Indentitas Nasional Indonesia Sebagai Jati Diri Bangsa untuk Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi

/ UPI / Lulu Rahma Aulia - Volume 5 Nomor 3 Tahun 2021.

Jawaban No 2

Unsur-unsur Causa Materialis Pancasila Adat istiadat :

Sebelum melihat sejauh mana implementasi adat-istiadat dalam Pancasila, dan bagaimana bentuk konkretnya dalam sila-sila Pancasila terlebih dahulu diuraikan karakteristik adat- istiadat tersebut. Pada pokoknya adat-istiadat merupakan urusan kelompok; tidak ada adat- istiadat orang seorang. Seseorang mengikuti adat-istiadat bersama dengan orang lain; adat- istiadat sekaligus merupakan urusan masyarakat. Masyarakat ini kadang-kadang mempunyai pembatasan yang agak cermat, misalnya, sebuah suku atau satu persekutuan pedesaan yang masih tertutup di dalam masyarakat yang bersifat sangat agraris. Dengan diambilnya adat- istiadat sebagai unsur sila Pancasila, memang sangat tepat, sebab para pemimpin kita yang merumuskan sila-sila Pancasila mengharap negara yang berdasarkan Pancasila merupakan negara kekeluargaan, bukan negara yang bersifat orang perorangan. Pancasila bukanlah sebuah ideologi yang ditanamkan dari atas, melainkan merupakan manifestasi moralitas publik.

Artinya, dimensi otoritas dan tradisi seharusnya melenturkan diri sefleksibel mungkin, sehingga publik pun berpartisipasi dalam diskursus tentang nilai-nilai dasar Pancasila itu (Lanur, 1995: 11)

Kebudayaan :

Causa materialis kedua Pancasila adalah budaya atau kebudayaan bangsa. Dari segi

etimologisnya; kata "Kebudayaan" berasal dari kata Sanskerta budhayah, ialah bentuk jamak

(3)

dari budhi yang berarti "budi" atau "akal". Demikian, kebudayaan itu dapat diartikan "hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal" (Koentjaraningrat, 1974: 19).

Mengikuti arti etimologis kebudayaan, ternyata kebudayaan sangat luas aspeknya.

Kebudayaan merupakan hasil dari akal budi, dengan demikian keseluruhan hasil akal manusia, seperti ilmu, teknologi, ekonomi dan lain-lain termasuk kebudayaan.

Seiring dengan itu, JWM Bakker dalam mencari definisi kebudayaan menyatakan sekurang- kurangnya terdapat tujuh kategori arti kebudayaan, masing-masing sebagai berikut.

a) Ahli sosiologi mengerti kebudayaan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dan lain-lain) yang dimiliki manusia sebagai subjek masyarakat.

b) Ahli Sejarah menekankan pertumbuhan kebudayaan dan mendefinisikan sebagai warisan sosial atau tradisi.

c) Ahli Filsafat menekankan aspek normatif, kaidah kebudayaan dan terutama pembinaan nilai dan realisasi cita-cita.

d) Antropologi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, kelakuan.

e) Psikologi mendekati kebudayaan dari segi penyesuaian (adjustment) manusia kepada alam sekelilingnya, kepada syarat hidup (Bakker, 1984: 27-28).

Agama-agama :

Causa materialis ketiga Pancasila adalah berbagai agama yang ada di Indonesia. Sudah sejak dahulu kala dikatakan bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama, bangsa yang

mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Pada waktu meyampaikan pidato lahirnya Pancasila, Bung Karno mengusulkan prinsip Ketuhanan.

Bangsa Indonesia dengan memiliki prinsip tersebut, dikatakan. Prinsip Ketuhanan bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah menurut Tuhan petunjuk Isa alMasih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad S.A.W., orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. (Soekarno)

Sumber : Jurnal Filsafat Vol. 39, Nomor 1, April 2006 oleh Miska M. Amien

(4)

Jawaban No 3

Berikut ini adalah cara melakukan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari- hari:

Penerapan nilai ketuhanan di masyarakat

a. Saling menghormati antar tetangga walaupun berbeda keyakinan

b. Memperkuat toleransi di antara para pemeluk agama dengan cara memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah masing-masing

c. Memperlakukan tetangga dengan baik, misalnya dengan saling berbagi oleh-oleh, makanan, atau hadiah

Penerapan nilai kemanusiaan di masyarakat

a. Menghormati tetangga tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan b. Menjaga kerukunan antar tetangga

c. Menolong tetangga yang membutuhkan bantuan d. Menjaga norma kesopanan di lingkungan tetangga

e. Melaksanakan kewajiban sesuai peraturan yang disepakati di lingkungan masyarakat, misalnya, menjaga kebersihan lingkungan dengan ikut kerja bakti

f. Tidak main hakim sendiri

g. Mengambil keputusan untuk kepentingan masyarakat dengan jalan musyawarah.

Penerapan nilai persatuan di masyarakat

a. Saling bekerja sama dan menghormati antar tetangga tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan

b. Mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau keluarga c. Tidak memaksakan keinginan kita kepada orang lain

d. Menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat

(5)

e. Di tengah lingkungan yang majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pergaulan.

Penerapan nilai kerakyatan di masyarakat

a. Mengikuti pemilihan kepala daerah, baik dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga RT dan RW

b. Aktif mengikuti kegiatan musyawarah warga dan memberikan pendapat c. Melaksanakan keputusan hasil musyawarah.

Penerapan nilai keadilan di lingkungan masyarakat:

a. Melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak sebagai warga masyarakat b. Membantu tetangga yang membutuhkan tanpa melihat status sosial

c. Mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Sumber : Gramedia.com / Pengamalan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari oleh Mochamad Aris Yusuf

Jawaban No 4

Menurut Totok Sugiarto, dkk dalam buku Ensiklopedia Pancasila (2021), arti dari Pancasila sebagai kepribadian bangsa adalah Pancasila lahir bersamaan dengan bangsa Indonesia.

Sebagai kepribadian bangsa berarti nilai-nilai Pancasila merupakan ciri khas bangsa Indonesia, baik dalam berperilaku, bertindak maupun berpikir.

Dikutip dari buku Implementasi dan Prinsip Pancasila (2020) oleh Tim Penyusun, peranan Pancasila sebagai kepribadian bangsa tecermin dari cita-cita bangsa Indonesia.

Artinya, apa yang ingin dicapai atau diraih oleh bangsa Indonesia sebenarnya termuat dalam kelima sila Pancasila.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa juga berarti bahwa Pancasila merupakan ciri khas yang membedakan Indonesia dengan negara lain.

(6)

Misal, Indonesia memiliki ideologi negara, berupa Pancasila. Sementara negara lain tidak memilikinya atau mengusung ideologi lain.

Selain itu, peranan Pancasila sebagai kepribadian bangsa, yakni memotivasi perilaku, sikap, dan perbuatan masyarakat Indonesia dalam keseharian.

Motivasi ini, secara langsung maupun tidak, akan membantu masyarakat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita serta tujuan bangsa.

Sumber : Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa / Kompas.com - 17 Jan 2023

Referensi

Dokumen terkait

Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan "manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan

Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan

Yah yaitu identitas dan nasional dimana identitas memiliki arti yakni ciri, tanda yang melekat pada sesuatu hal yang mana hal tersebut mampu dibedakan dengan suatu hal yang

Sementara itu kata "nasional" merupakan identitas yang melekat pada kelompok- kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan fisiik, baik fisik seperti budaya,

Pengertian identitas nasional menurut A.N Obed yaitu : “Identitas nasional dimaknai sebagai sebuah ciri khas ataupun filosofis yaitu yang membedakan sebuah bangsa dari bangsa

Unsur Unsur Identitas Nasional Identitas Nasional : hakekatnya merupakan manifestasi nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa NATION dg ciri

Hall 1997 menyatakan bahwa mengenali hubungan antara bahasa, identitas, dan perbedaan budaya adalah penting untuk memahami makna individu dari setiap konsep.. Selain batas, nama,

Identitas Nasional Indonesia Identitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dengan suatu cirikhas yang