PENDAHULUAN
Jawa merupakan daerah yang cukup terkenal tentang kemistikannya, berkaitang dengan kepercayaan tradisional orang-orang Jawa yaitu Kejawen. Pemahan tentang Kejawen ini orang Jawa berusaha menangkap fenomena kehidupan melalui pendalaman batin. Dalam buku yang berjudul kebatinan Jawa dan Jagad Mistik Kejawen, Suwardi Endraswara menjelaskan bahwa “Kebatinan sebagai sistem religi orang Jawa yang telah tua umurnya.
Kebatinan merupakan produk orang Jawa dengan visi agar nilai-nilai Jawa menjiwai seluruh aspek kehidupan orang Jawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu kebatinan Kejawen telah ada sejak dahulu, sejak pertama kali pulau Jawa berpenghuni.
PEMBAHASAN
Kejawen adalah kepercayaan masyarakat khususnya di suku Jawa. Menurut orang-orang jaman dulu, menyebutnya lebih berupa seni, budaya, ritual, sikap dan filosofi masyarakat Jawa tidak terlepas dari spiritualitas. Secara umumnya, Kejawen adalah sebuah kebudayaan yang mengajarkan tentang tata krama atau aturan dalam berkehidupan lebih baik. Orang yang percaya tradisi kebanyakan taat pada agamanya. Kebanyakan dari mereka tetap melaksanakan perintah dan larangan agama yang dianut lewat menjadi diri sebagai orang pribumi. Pada umumnya Kejawen adalah ajaran filsafat demi mendorong manusia tetap taat kepada Tuhannya.
Kejawen sebenarnya bermula dari dua tokoh misteri, yaitu Sri dan Sadono. Sri sejatinya adalah penjelmaan Dewi Laksmi, istri Wisnu, sedangkan Sadono adalah penjelmaan dari Wisnu itu sendiri. Itulah sebabnya, jika ada anggapan bahwa Sri dan Sadono adalah kakak Beradik, kebenarannya tergantung dari mana kita meninjau. Namun, kaitannya dengan hal ini, Sri dan Sadono sesungguhnya adalah suami-istri yang menjadi cikal bakal kejawen.
Maka, dalam berbagai ritual mistik Kewajen, keduanya selalu mendapat tempat khusus. Dewi Sri dipercaya sebagai Dewi Padi, Dewi Kesuburan. Dewi Sri dan Wisnu, menurut Tantu Panggelaran, memang pernah diminta turun ke arcapada untuk menjadi nenek moyang di Jawa. Dalam Babad Tanah Jawi juga dijelaskan bahwa orang pertama yang membabad (menempati/tinggal) Tanah Jawa adalah Batara Wisnu. Sumber ini meneguhkan sementara bahwa nenek moyang masyarakat Jawa memang seorang dewa. Dengan demikian, kaum kejawen sebenarnya berasal dari keturunan orang yang tinggi tingkat sosial dan kulturnya.
Selanjutnya, Dewi Sri dianggap menjelma ke dalam diri tokoh Putri Daha bernama Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, sedangkan Sadono menjadi Raden Panji. Keduanya pernah berpisah, namun akhirnya bertemu kembali. Menurut beberapa sumber, pertemuan Sri
dan Sadono atau Panji dan Sekartaji terjadi di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah.
Tempat itu kemudian oleh Sadono dan Sri diberi tetenger tandal, dengan menancapkan Paku tanah Jawa.