i
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI ERA NEW NORMAL PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS V MIN 3
KOTA MATARAM TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Oleh:
Adip Putra NIM 160106151
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
ii
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI ERA NEW NORMAL PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS V MIN 3
KOTA MATARAM TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh:
Adip Putra NIM 160106151
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
iii
iv
vi
vii
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk almamaterku, kedua orang tuaku Jamal Pua Langga, dan Siti Sarah yang sudah membesarkan dan mendidikku dengan luapan cinta dan kasih sayang, tetesan keringat yang tak terbilang serta cucuran air mata, do’a di setiap langkah agar anaknya bisa menjadi seperti sekarang ini serta dosen-dosenku yang berada di UIN Mataram.”
viii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya.
Amin.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.
1. Dr. M. Sobry, M.Pd. sebagai Pembibing I dan Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag. sebagai pembibing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi, mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Drs. H. Nujumuddin, M.Pd. dan Ramdhani Sucilestari, M.Pd. sebagai penguji yang telah memberikan saran konstruktif bagi penyempurnaan skripsi ini.
3. Dr. Ahmad Sulhan, S.Ag, M.Pd. sebagai Ketua Jurusan.
4. Dr. Hj. Lubna, M.Pd. sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
5. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi
ix
bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
6. Untuk semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta .Amin.
Mataram, Penulis,
Adip Putra
x DAFTRAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN SAMPUL ...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING...iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ...iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ...vi
HALAMAN MOTTO ...vii
HALAMAN PERSEMBAHAN...viii
KATA PENGANTAR ...ix
DAFTAR ISI ...x
DAFTAR TABEL...xi
ABSTRAK ...xiv
BAB I PENDAHULUAN ...1
A.Latar Belakang Masalah ...1
B.Rumusan Masalah ...9
C. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ...10
D. Telaah Pustaka ...11
E. Kerangka Teori ...14
1. Pengertian Manajemen Pembelajaran...14
2. Fungsi-fungsi Manajemen Pembelajaran ...16
3. Era New Normal ...24
a. Pengertian Era New Normal ...24
3. Mata Pelajaran Fiqih ...29
a. Pengertian Fikih ...29
b. Ruang Lingkup...29
F. Metode Penelitian ...30
G. Sistematika Pembahasan ...41
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ...44
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitiam ...44
1. Profil MIN 3 Kota Mataram ...44
2. Visi dan Misi MIN 3 Kota Mataram ...44
3. Letak Geografis MIN 3 Kota Mataram ...45
xi
4. Keadaan Guru MIN 3 Kota Mataram ...46
5. Keadaan Siswa-siswi MIN 3 Kota Mataram ...51
6. Sarana dan Prasarana MIN 3 Kota Mataram ...54
7. Struktur Organisasi ...55
B. Implementasi Manajemen Pembelajaran Di Era New Normal Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas V MIN 3 Kota Mataram ...58
C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Manajemen Pembelajaran Di Era New Normal Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas V MIN 3 Kota Mataram .69 BAB III PEMBAHASAN ...77
A. Implementasi Manajemen Pembelajaran Di Era New Normal Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas V MIN 3 Kota Mataram ...77
B. Faktor Penghambat dan Pendukung Manajemen Pembelajaran Di Era New Normal Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas V MIN 3 Kota Mataram ...83
BAB IV KESIMPULAN ...89
A. Kesimpulan ...89
B. Saran-saran ...92
DAFTAR PUSTAKA ...93
LAMPIRAN ...95
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Guru MIN 3 Kota Mataram ... 47
Tabel 2.2 Data Guru Mata Pelajaran Kelas V MIN 3 Kota Mataram ... 50
Tabel 2.3 Data Siswa Kelas VA MIN 3 Kota Mataram ... 52
Tabel 2.4 Data Sarana dan Prasarana MIN 3 Kota Mataram ... 54
xiii
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI ERA NEW NORMAL PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS V MIN 3
KOTA MATARAM Oleh:
Adip Putra NIM 160106151 ABSTRAK
Penelitian dilatarbelakangi oleh masalah dengan muculnya covid-19 yang menyebabkan angka kematian di negara Indonesia sehingga pihak pemerintah Indonesia menutup sementara sekolah dan diganti kegiatan belajar mengajar secara online. MIN 3 kota Mataram masih mengupayakan terkait dengan perencanaan proses kegiatan belajar mengajar yang akan diterapkan tahun ajaran baru 2021. Oleh karena itu perlu dikaji kembali manajemen pembelajaran yang diterapkan di era new normal ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V MIN 3 kota Mataram? (2) apa saja faktor penghambat dan pendukung dalam implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V MIN 3 kota Mataram?
Jenis penelitian ini menggunakan jenis fenomenologi, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga cara: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.
Hasil dari penelitian ini menunjukan: (1) implementasi manajemen pembelajaran di era new normal kelas V MIN 3 kota Mataram menggunakan pembelajaran daring dengan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Perencanaan seperti membuat RPP daring, menyiapkan media pembelajaran, dan bahan ajar. Pelaksanaannya seperti aplikasi pembelajaran daring, metode yang digunakan dalam daring, menggunakan media pembelajaran, kesiapan siswa, kesiapan guru, pendekatan dalam pembelajaran daring, ketersediaan jaringan.
Selanjutnya evaluasi dalam pembelajaran daring seperti pengulangan materi pelajaran, pemberian tugas dan pengumpulan tugas. (2) faktor penghambatdalam penerapan pembelajaran daring seperti koneksi internet, keterbatasan waktu belajar, mahalnya kuota internet, rendahnya pemahaman siswa, keterbatasan ekonomi, rendahnya minat belajar siswa, kurangnya pengawasan orang tua, kurangnya interaksi antara guru dan siswa. Selanjutnya faktor pendukung pembelajaran daring seperti adanya gawai, dapat diakses dengan mudah, adanya aplikasi, dan buku pelajaran.
Kata Kunci: Manajemen Pembelajaran, Era New Normal, Mata Pelajaran Fiqih
1
2 tahun ini munculnya wabah virus corona atau lebih dikenal dengan pandemi Covid-19 (Corona Virus Diases-19). Penyebaran oleh virus corona telah menyebabkan angka kematian yang paling tinggi diberbagai negara saat ini, sehingga banyak menelan puluhan juta korban jiwa, hal inilah yang menjadi problema yang sangat dirasakan oleh seluruh dunia saat ini untuk menerapkan berbagai aturan termasuk di negara Indonesia. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya virus Covid-19 ini telah menyebabkan pihak pemerintah mengeluarkan aturan berupa keputusan-keputusan yang bertujuan agar dapat memutus penyebaran mata rantai virus corona yang menyebar di Indonesia.
Melihat kondisi yang seperti itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan surat edaran Nomor 4 tahun 2020 pada tanggal 24 maret 2020 yang berisi Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran tersebut menjelaskan bahwa proses pembelajaran dilaksanakan di rumah melalui daring atau pelajaran jarak jauh (pjj) tanpa harus bertatap muka secara langsung dengan siswa untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang penyebarannya cepat sekali. Penyebaran
virus Covid-19 yaitu dapat melalui kontak sesama tangan, muntah (fomites), maupun melalui tetesan air liur (droplets) dalam kontak dekat
tanpa ada pelindung.1
Berbagai macam langkah yang sudah ditempuh oleh pihak pemerintah Indonesia saat ini adalah dengan menegaskan kembali himbauan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar bisa menjaga jarak dari segala bentuk kerumunan, perkumpulan yang dapat melibatkan banyak orang dengan menerapkan sistem Lockdown. Semua alat transportasi darat, laut, dan udara maupun sekolah-sekolah ditutup sementara guna untuk mengantisipasi aktivitas masyarakat dari keramaian dengan mengikuti protocol kesehatan yang sudah berlaku dengan selalu mencuci tangan, memakai masker, menjaga kebersihan agar tidak terjangkit virus corona.
Penyebaran virus ini sebenarnya berdampak pada sektor ekonomi yang mulai rendah, sehingga mengakibatkan produksi sandang dan pangan menjadi berkurang, tetapi kini dampaknya juga mulai dirasakan oleh dunia pendidikan (education world).
Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual
1Wiryanto, “Proses Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar di Tengah Pandemi Covid-19”, Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, Vol 6, No. 2, Tahun 2020, hlm. 2.
keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2 Menurut Tafsir menyebutkan bahwa:
Pendidikan adalah sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba, dihadapan Allah SWT sebagai “pemelihara”
(Khalifah) pada Semesta.3
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 dan 3 yang menyebutkan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa, dan negara.4
Jadi, dari uraian di atas dapat dipahami bahwa, pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri seseorang untuk memilki kekuatan spiritual, keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya sendiri, serta bangsa dan negara.
Menurut Hastuti
Masa pandemi Covid-19, guru juga dituntut untuk dapat memberikan pembelajaran secara professional. Masa social distancing dimana seluruh guru dan siswa agar tetap belajar dirumah guna mencegah penularan Covid-19. Secara meluas telah memaksa guru untuk
2Uci Sanusi, Rudi Ahmad Suryadi, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2018), hlm, 5.
3 Tafsir, Sosiologi Pendidikan, terj. Baharudin, (Mataram: Sanabil Perum Puri Bunga Amanah, 2016), hlm, 46.
4Suhela Yanti, dkk, Manajemen Pendidikan, (Yayasan Kita Menulis, 2020), hlm, 4-5.
memberikan pembelajaran secara daring, guru dipaksa mencari formulasi pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi mereka tanpa mengurangi ketercapaian kompetensi. Sekolah dituntut untuk berupaya keras menyediakan suatu perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran pada masa pandemi.5
Menurut Nakayama, Yamamoto, dan Santiago
Penggunaan media internet sebagai media untuk pembelajaran secara daring tidak memberikan dampak baik bagi semua peserta didik, hal ini dikarenakan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kesuksesan siswa dalam melaksanakan pembelajaran secara daring. Faktor yang mempengaruhi kesuksesan siswa tersebut di antaranya yaitu lingkungan dan karakteristik siswa itu sendiri. Faktor lingkungan yang dimaksudkan di antaranya peran serta kesiapan orang tua dalam membibing siswa melakukan pembelajaran daring serta pemerataan akses internet diberbagai daerah di Indonesia. Jika akses internet lancar, maka pembelajaran online yang dilakukan akan lancar. Untuk karakteristik siswa yang mempengaruhi kesuksesan pembelajaran secara daring yaitu semangat serta antusias yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran secara daring maka hasil yang didapatkanya pun akan maksimal. Begitu pula sebaliknya jika siswa memliki semangat dan antusias yang rendah maka hasilnya pun akan kurang maksimal.6
Menurut Fitriana
Pembelajaran daring dikembangkan sebagai media pembelajaran yang dapat menghubungkan secara daring antara pendidik dan pelajar dalam sebuah ruangan kelas maya (virtual classroom) tanpa harus dalam satu ruangan secara fisik.7
Komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan sepertinya dapat dibilang sangat serius, disaat kondisi bangsa yang masih menghadapi krisis multidimensional seperti sekarang ini konsistensi
5Hastuti, Perspektif Sosiologi Budaya Hukum Kebjiakan Pendidikan, terj. Jamaludin A Nurrochma n Hidayatulloh, dkk, (Medan: Penerbit Yayasan Kita Menulis, 2020), hlm. 107.
6Nakayama, Yamamoto, Santiago, “Proses Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar Tengah Pandemi Covid-19”, terj. Wiryanto, Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, Vol.6, No 2, Tahun 2020, hlm, 3.
7Fitriana, “Analisis Literasi Digital Calon Guru SD Dalam Pembelajaran Berbasis Virtual Classroom Di Masa Pandemi Covid-19”, terj. Dede Salim Nahdi, Mohamad Gilar Jatisunda, Jurnal, Cakrawala Pendas, Vol.6, No 2, Tahun 2020, hlm, 2.
pemerintah tetap berupaya untuk melakukan pembenahan (improvisasi) terhadap sistem pendidikan nasional. Salah satu upaya tersebut adalah pemerintah memberikan peluang selebar-lebarnya bagi institusi sekolah untuk mengembangkan sikap otonomnya dan memperkokoh basis manajemennya8
Dalam pendidikan manajemen merupakan aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya dengan mengarahkan orang- orang agar melaksanakan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan. Artinya menggerakan orang tersebut untuk mengatur sarana, bahan, alat, serta dengan metode tertentu melakukan aktivitas mereka masing-masing. Dalam praktik kepala sekolah mengarahkan guru, siswa, tidak hanya memimpin atau menghimbau saja tetapi ikut memikirkan strategi atau kebijakan mengatur fisik, sarana, dan prasarana sekolah.9
Manajemen atau pengelolaan sangat penting untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, bukan hanya karena kebutuhan terhadap manajemen kelas, bukan hanya karena kebutuahan efektif dan efisien proses pembelajaran melalui pengoptimalan fungsi kelas, namun lebih dari itu manajemen di dalam kelas merupakan respon terhadap semakin meningkatnya tuntunan peningkatan kualitas pendidikan yang dimulai dari ruang kelas. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
8Dini Rosdiani, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm, 52.
9Satrijo Budiwibowo, Sudarmiani, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI, 2018), hlm, 2.
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.10
Pembelajaran dapat dikatakan efektif bila guru dapat melaksanakan tugasnya dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen dengan maksimal, guru merupakan faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu pembelajaran dikelas. Guru yang berkompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan mampu menerapkan fungsi manajemen kelas secara optimal, seorang guru yang melakukan manajemen pembelajaran akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien seperti merencanakan tujuan dan mengatur pembelajaran, mampu mengorganisasikan orang-orang yang bekerja dengannya, mampu memotivasi dan membawa semua orang pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.11
Jadi, dalam kegiatan pembelajaran manajemen (perencanaan) mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar.
Oleh karena itu penerapan manajemen dalam kegiatan belajar mengajar dapat menentukan tujuan yang ingin dicapai secara efektif dan efisien.
Namun setiap manajemen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-
10Toharudin, Buku Ajar Manajemen Kelas, (Jateng: Lakeisha, 2020), hlm, 1.
11Dadan Nurulhaq, Titin Supriastuti, Manajemen Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Konsep dan Strategi dalam Meningkatkan Akhlak Peserta Didik, (Bandung: Cendikia Press, 2020), hlm, 7.
masing dan suatu manajemen akan digunakan apabila melihat dengan situasi dan kondisi seperti saat ini karena adanya pandemik di era new normal, yang awalnya dilakukan di dalam kelas sekarang menggunakan online.
Seperti yang terjadi di wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di wilayah kota Mataram, perlu diketahui bersama bahwa kota Mataram masih menjadi salah satu daerah yang berada dalam zona orange sehingga pemerintah saat ini masih berada dalam tahap uji coba sekolah tatap muka. Sekolah MIN 3 kota Mataram masih mengupayakan tentang perencanaan kegiatan belajar mengajar yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2021. Oleh karena itu perlu dikaji kembali proses kegiatan belajar mengajar di era new normal ini.
Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan peneliti dengan kepala madrasah MIN 3 kota Mataram. Beliau menuturkan bahwa:
Terkait dengan hal pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru 2021, kami masih melakukan rapat lanjutan dengan guru-guru terkait dengan perencanaan proses belajar mengajar yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru, karena adanya pandemic covid-19 yang masih berkelanjutan membuat seluruh sekolah mempersiapkan segala sesuatunya untuk tetap belajar secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dimasa pandemi.12
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB Dr. H. Aidy Furqon, S.Pd, M.Pd menerangkan bahwa “simulasi sekolah tatap muka direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 14 September 2020, dengan metode tatap muka terbatas”. 13
12 Ramli Yunus, Wawancara, Tanggal 23 September 2020.
13Pemerintah Prov. NTB, “SMAN 1 Mataram Pioner Sekolah Tatap Muka di Era New Normal”, dalam https://www.ntbprov.go.id/post/sman-1-mataram-pioner-sekolah-tatap- muka-di-era-new-normal., diakses tanggal 7 Januari 2021, pukul 13.09.
Jadi, fungsi manajemen terutama pada mata pelajaran fiqih sangat diperlukan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran agar suasana dapat berlangsung secara efektif dan guru dapat mengaitkan pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mata pelajaran fiqih materinya banyak membahas berkaitan hukum-hukum islam yang membutuhkan peragaan atau praktek tujuannya untuk siswa dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan yang dipelajarinya pada masa yang akan datang. Guna mengatasi problema yang terjadi saat ini karena adanya pandemik. Sangat dibutuhkan suatu perencanaan (manajemen) pembelajaran fiqih yang bisa menunjang keberhasilan siswa dalam melakukan pembelajaran di masa pandemik era new normal ini.
Dari latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti dan mencari tahu lebih dalam tentang implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram tahun pelajaran 2021/2022 untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal sesuai yang diharapkan oleh pendidik.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam suatu penelitian perlu dikemukakan, sebab akan membatasi suatu permasalahan sehingga analisis data tidak akan meluas.
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, peneliti dapat menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V MIN 3 kota Mataram tahun pelajaran 2021/2022?
2. Apa saja faktor penghambat dan pendukung dalam implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih MIN 3 kota Mataram tahun pelajaran 2021/2022?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram tahun Pelajaran 2021/2022.
b. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung dalam implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram tahun pelajaran 2021/2022.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dibidang Madrasah Ibtidaiyah.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi guru, lebih mengembangkan dan menguasai manajemen pembelajaran, khususnya di era new normal ini untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
2) Bagi siswa, mampu meningkatkan semangat dan antusias dalam belajar selama masa pandemi agar hasil belajar sesuai yang diharapkan .
3) Bagi peneliti, suatu penelitian yang bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai acuan untuk peneliti kedepanya.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada penelitian ini lebih memfokuskan pada implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram tahun pelajaran 2021/2022.
2. Setting Penelitian
Penelitian akan dilakukan di MIN 3 kota Mataram yang berlokasi di Jl. Cakranegara Barat, Kecamatan Cakranegara, kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Dari ini penulis pilih karena MIN 3 kota Mataram memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda karena sekolah tersebut merupakan sekolah yang menciptakan siswa berprestasi, yang unggul dan mendapatkan banyak penghargaan, melihat situasi dan kondisi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pendidik seperti sekarang, tentunya pembelajaran dilakukan secara online, khususnya kelas V pada mata pelajaran fiqih. Oleh karena itu perlu dikaji kembali implementasi manajemen pembelajaran yang diterapkan pada new normal ini.
E. Telaah Pustaka
Dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba menelaah sebuah penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti sebagai berikut:
1. Wiryanto dengan judul: “Proses Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar di tengah Pandemi Covid-19” 14
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Wiryanto menjelaskan bahwa proses pembelajaran matematika dilakukan secara daring di berbagai sekolah, akan tetapi masih ada yang mengharuskan orang tua mengambil tugas siswa di sekolah, dan dampak yang
14Wiryanto, ”Proses Pembelajaran Matematika sekolah Dasar di Tengah Pandemi Covid-19”, Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian”, Volume 6, Nomor 2, Tahun 2020.
ditimbulkan dari pandemi covid-19 sangat dirasakan oleh guru, siswa, maupun orang tua ada yang positif maupun negatif.
Penelitian yang diakukan oleh Wiryanto dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki persamaan dan perbedaan.
Persamaannya adalah antara penelitian yang dilakukan oleh Wiryanto dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada pembahasan, yang membahas tentang proses pembelajaran di tengah pandemic covid-19. Adapun perbedaannya adalah terletak pada substansi
peneliti yang mana Wiryanto memfokuskan penelitiannya pada pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar sedangkan peneliti lebih memfokuskan pada manajemen pembelajaran di era new normal mata pelajaran fiqih di Madrasah Ibtidaiyah.
2. Wahyu Aji Fatma Dewi dengan judul: “Dampak Covid-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar”.
Hasil penelitian Wahyu menunjukan bahwa, Covid-19 begitu besar dampaknya bagi pendidikan untuk memutus mata rantai korona.
Pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah tapi sekarang menjadi di rumah dengan menggunakan berbagai macam platform seperti guru, Classroom, Zoom, dan Google. Kegiatan belajar dapat berjalan baik dan efektif sesuai dengan kreativitas guru dalam memberikan materi dan soal latihan dan dikerjakan oleh siswa dapat untuk nilai harian siswa.
Untuk anak sekolah dasar kelas 1 sampai 2 belum dapat mengopersikan, oleh karena itu dibutuhkan kerja sama antara guru dengan orang tua, bagi orang tua yang bekerja hingga tidak bisa mendampingi anak saat belajar dapat memberikan jadwal belajar khusus agar bisa belajar seperti siswa yang lainya. Penelitian yang dilakukan peneliti dan Wahyu memiliki persamaan dan perbedaan.
Persamaannya adalah sama sama membahas tentang proses pembelajaran selama masa pandemi yang mengakibatkan munculnya kendala sehingga proses pembelajaran terganggu. Sedangkan yang menjadi perbedaannya adalah wahyu lebih menekankan pembahasanya untuk anak kelas I dan 2 sekolah dasar yang belum bisa mengeporasikan platform. Sedangkan peneliti lebih merujuk kepada anak madrasah ibtidaiyah kelas V.15
3. Dede Salim Nahdi dan Mohammad Gilar Jatisunda dengan judul:
“Analisis Literasi Digital Calon Guru SD dalam Pembelajaran Berbasis Virtual Classroom di Masa Pandemi Covid-19”.
Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan internet, dan mampu menemukan dalam mengambil informasi secara efektif.
Meningkatkan literasi digital dan keterampilan mahasiswa dalam menggunakan teknologi informasi adalah sesuatu yang sangat penting
15Wahyu Aji Fatma Dewi, “Dampak Covid-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar”, Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020.
untuk dila kukan, khususnya dalam melaksanakan pembelajaran secara daring berbasis virtual classroom.
Penelitian yang dilakukan peneliti dan Dede Salim Nahdi dan Mohammad Gilar Jatisunda memiliki persamaan dan perbedaan.
Persamaanya adalah sama-sama membahas tentang proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19.sebagai calon guru. yang menjadi perbedaan dari penelitian kali ini adalah samp el yang peneliti lakukan adalah Guru sedangkan Dede Salim Nahdi dan Mohammad Gilar Jatisunda adalah sampelnya mahasiswa PGSD.16
Jadi dapat disimpulkan, pada penelitian sebelumnya yang peneliti paparkan di atas menunjukan bahwa sama-sama meneliti tentang proses pembelajaran selama masa pandemic sehingga memnculkan banyak kendala, sedangkan perbedaanya terletak pada kelas, tempat penelitian dan kajian yang diteliti.
F. Kerangka Teori
1. Pengertian Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran merupakan kegiatan yang di dalam pelaksanaannya melibatkan guru dan siswa Padahal sebenarnya manajemen memilki banyak pengertian seperti yang akan dipaparkan sebagai berikut:
Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur, pengaturan dilakukan melalui proses yang diatur berdasarkan urutan
16Dede Salim Nahdi, Mohammad Gilar Jatisunda, “Analisis Literasi Digital Calon Guru Dalam Menghadapi Pembelajaran Berbasis Virtual Classroom di Masa Pandemi Covid-19”, Jurnal Cakrawala Pendas, Volume 6, Nomor 2, Tahun 2020.
dari fungsi-fungsi manajemen itu sendiri. Jadi manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Berikut terdapat pengertian menurut para ahli tentang manajemen sebagai berikut:
a. Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibun dalam pendapatnya manajemen adalah “ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber lainya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.17
b. Menurut Ardiansyah dalam pendapatnya yang mengatakan bahwa:
Manajemen pembelajaran dalam arti luas dan dalam arti sempit, manajemen pembelajaran dalam arti luas berisi proses kegiatan mengelola bagaimana membelajarkan si pembelajar dengan kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan atau pengendalian, dan penilaian. Sedangkan manajemen pembelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang perlu dikelolah oleh guru selama terjadinya proses interaksi antara guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
c. Menurut Ambarita dalam pendapatnya yang mengatakan bahwa:
Manajemen pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menggunakan sumber daya yang ada, melalui kegiatan menciptakan dan mengembangkan kerja sama sehingga diantara mereka tercipta pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan di kelas secara efektif dan efisien.18
Dari pengertian para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen pembelajaran merupakan kegiatan, aktivitas yang memanfatkan sumber daya manusia dalam proses pembelajaran yang
17H. Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), hlm, 2.
18Ardiansyah, Manajemen Pembelajaran, Terj. Ajat Rukajat (Yogykarta: Budi Utama, 2018), hlm, 5.
dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta penilaian agar mencapai hasil belajar secara efektif dan efisen sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Fungsi-fungsi Manajemen Pembelajaran
Dalam fungsinya manajemen memilki beberapa komponen sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan berasal dari kata rencana, yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang berarti suatu proyeksi aktivitas yang akan dilakukan, dalam bahasa inggris perencanaan disebutkan dengan istilah planning. Menurut A. Kaufman mendefenisikan
“perencanaan pembelajaran sebagai proyeksi yang akan dilakukan oleh seorang guru untuk mencapi tujuan”. PP RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20 Menjelaskan bahwa: “perencanaan proses pembelajaran memiliki silabus, perencanaan pelaksanaan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. Agar dalam pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, oleh karena itu guru perlu menyusun komponen perangkat perencanaan pembelajaran diantaranya:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap kompetensi dasar setiap kompetensi dasar (KD)
yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih, komponen–komponen dalam menyusun RPP sebagai berikut:
a) Identitas Mata Pelajaran b) Standar Kompetensi c) Kompetensi Dasar
d) Indikator Tujuan Pembelajaran e) Materi Ajar
f) Metode Pembelajaran
g) Langkah-langkah Pembelajaran h) Sarana dan Sumber Belajar i) Penilaian dan Tindak Lanjut 2) Menyusun Silabus Pembelajaran
Silabus adalah bentuk pengembangan dan penjabaran kurikulum menjadi rencana pembelajaran atau susunan materi pembelajaran yang teratur pada mata pelajaran tertentu pada kelas tertentu. Komponen dalam menyusun silabus memuat anatara lain identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
3) Menentukan Alokasi Waktu dan Minggu Efektif
Menentukan alokasi waktu pada dasarnya adalah menentukan minggu efektif dalam setiap semester pada satu tahun ajaran,
rencana alokasi waktu berfungsi untuk mengetahui berapa jam waktu efektif yang tersedia untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran dalam satu tahun ajaran.
4) Menyusun Program Semester
Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan, program tahunan disusun untuk menentukan jumlah jam yang diperlukan untuk mencapai kompetensi dasar, maka dalam program semester diarahkan untuk menjawab minggu keberapa atau kapan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar.
5) Program Tahunan
Program tahunan merupakan rencana program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan yakni dengan menetapkan alokasi dalam waktu satu tahun ajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.19
b. Pelaksanaan (actuating)
Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses berlangsungnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pembelajaran, jadi pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru dan siswa dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.
19Ahmad Fikri Amrullah, Manajemen Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta:
Kencana, 2021), hlm, 7-9.
Oleh karena itu dalam hal pelaksanaan pembelajaran terdapat dua jenis pengelolaan sebagai berikut:
1) Pengelolaan Kelas dan Peserta Didik
Pengeloaan kelas adalah suatu upaya memperdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana yang dikutip Suryobroto pelaksanaan proses belajar mengajar meliputi beberapa tahapan, diantaranya:
a) Tahap Pra Instruksional
Merupakan tahap yang ditempuh pada saat memulai sesuatu proses belajar mengajar. Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir, bertanya kepada peserta didik sampai dimana pembahasan sebelumnya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pelajaran yang sudah disampaikan, dan mengulang materi pelajaran secara singkat.
b) Tahap Instruksional
Yaitu tahap pemberian bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan ke dalam beberapa kegiatan sebagai berikut menjelaskan kepada peserta didik tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa, menjelaskan pokok materi yang akan
dibahas, membahas pokok materi yang sudah dituliskan, pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan pertanyaan atau tugas dan contoh yang konkret, penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran, dan menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.
c) Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional, kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu mengajukan pertanyaan kepada siswa mengenai semua aspek pokok materi yang telah dibahas pada tahap instruksional, apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa maka guru harus mengulang pelajaran.
Memberikan tugas dan mengakhiri pelajaran dengan menjelaskan atau memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.20
2) Pengelolaan Guru
Pelaksanaan sebagai fungsi manajemen diterapkan oleh kepala sekolah dan para guru dalam pembelajaran agar siswa melakukan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Guru adalah seorang yang bertugas membantu siswa untuk mendapatkan
20Nana Sudjana, Manajemen Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab, terj. Ahmad Fikri Amrullah, (Jakarta: Kencana, 2021), hlm, 9-11.
pengetahuan sehingga dapat mengembangkan potensi yang dimilkinya. Secara operasional, ketika proses pelaksanaan juga menyangkut beberapa fungsi manajemen diantaranya:
a) Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Selain fungsi perencanaan, terdapat pula fungsi pengorganisasian dalam kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan untuk menentukan pelaksana tugas dengan jelas kepada setiap personel sekolah sesuai bidang, wewenang, mata pelajaran, dan tanggung jawabnya, dengan kejelasan tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur dan komponen pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran baik proses maupun kualitas yang dipersyaratkan dapat berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Menurut Syaiful Sagala pengorganisasian pembelajaran meliputi beberapa aspek diantaranya sebagai berikut:
b) Fungsi pemotivasian (Motivating)
Motivasi adalah proses menumbuhkan semangat pada siswa agar dapat bekerja keras dan giat membimbing siswa dalam melaksanakan rencana untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Dalam konteks pembelajaran tugas pemotivasian dilakukan guru dalam pembelajaran agar
siswa melakukan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan.
c) Fungsi Fasilitas (Facilitating)
Fungsi fasilitas meliputi pemberian fasilitas dalam arti luas yakni memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat mengembangkan ide-idenya untuk diakomodasi dan diberi ruanguntuk dapat dilaksanakan.
d) Fungsi Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah suatu konsep yang luas yang dapat diterapkan pada mmanusia, benda, dan organisasi.
Pengawasan dimaksudkan untuk memastikan siswa untuk melaksanakan apa yang dikehendaki dengan mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi serta memanfaatkanya untuk mengendalikan sekolah.21 c. Evaluasi (evaluation)
Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris (evaluation), menurut Wand dan Gerald W. Brown evaluasi adalah:
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu, evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal yang telah dimliki oleh siswa dari hal yang telah diajarkan oleh guru.22
Adapun langkah-langkah evaluasi hasil pembelajaran sebagai berikut:
21Ibid, hlm, 11-15.
22Wand, Gerald W. Brown, Manajemen Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab, terj.
Ahmad Fikri Amrullah, (Jakarta: Kencana, 2021), hlm, 9-11.
1) Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif seringkali diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada akhir pembahasan, evaluasi ini diselenggarakan pada saat belangsungnya proses belajar mengajar diselenggarakan secara periodik isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan.
2) Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang diselenggarakan oleh guru setelah jangka waktu tertentu pada akhir semester.
Penilaian sumatif berguna untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan belajar pada siswa yang dipakai sebagai masukan utama untuk menentukan nilai rapor akhir semester.
3) Evaluasi Proses Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran untuk menentukan kualitas dari suatu program pembelajaran secara keseluruhan yakni dari mulai tahap proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran. Eavaluasi ini memusatkan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran, evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara sebagai berikut:
a) Membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru sesuai dengan standar proses.
b) Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru.23
3. Era New Normal
a. Pengertian Era New Normal
Sejak dengan munculnya Covid-19 ini, hampir semua orang mengalami kendala untuk menjalani kehidupan normal akibat dari adanya pembatasan yang harus dilakukan untuk mencegah penularan virus korona. Namun dengan berakhirnya pembatasan tersebut pemerintah mengajurkan seluruh masyarakat melakukan kegiatan seperti biasa dengan mengikuti protocol kesehatan.
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengatakan bahwa:
Kehidupan new normal kehidupan yang akan dijalankan seperti biasa di tambah dengan protocol kesehatan. New normal diberlakukan karena vaksin atau obat belum ditemukan. Memasuki era new normal individu diharapkan mampu terbiasa menguasai akan berbagai hal. penyesuaian terhadap adanya perubahan interaksi sosial, pekerjaan ini pendidikan menjadikan kemampuan adaptasi siswa perlu untuk dimaksimalkan. 24
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa, new normal merupakan kehidupan normal baru, artinya kehidupan yang dijalani secara normal tetapi dengan aturan baru. Aturan tersebut seperti cuci tangan, pola hidup bersih dan sehat, memakai masker,
23 Ibid, hlm, 16-17.
24Wiku Adisasmita, Peran Layanan Bimbingan dan Konseling Sebagai Internalisasi Kemampuan Adaptasi Peserta Didik pada Era New Normal, terj. Nur Mega Aris Saputra, Nanda Widya Muharammah, ( Proseding Seminar Nasional Bimbingan Konseling Mengukuhkan Eksistensi Peran BK Pasca Pandemi Covid-19 di Berbagai Setting Penelitian), hlm, 76.
dan menghindari kerumunan. Karena vaksin yang belum di temukan, dan setiap individu mampu terbiasa dengan hal baru, agar adaptasi bisa dimaksimalkan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau Kemendikbud, mengeluarkan Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari rumah dalam rumah masa pandemi Covid-19. Berkaitan dengan prosedur dan protokol keamanan kesehatan saat sekolah kembali buka sebagai berikut:
1) Menerapkan protokol kesehatan seperti, menjaga jarak dan etika bersin dan batuk yang benar.
2) Pemantauan secaraa rutin kondisi warga sekolah oleh pihak sekolah berkaaitaan dengan gejalaa korona.
3) Pengaturan mekanisme antar jemput siswa oleh satuan pendidikan
4) Kebersihan dan sterilisasi sarana serta prasarana sekolah secara rutin minimal dua kali.
5) Pembuatan narahiubung oleh sekolah berkaitan dengan keamanan dan keselamatan di lingkungan sekolah.
6) Penyediaan fasilitas cuci tangan, sabun, oleh pihak sekolah.25 Pada tanggal 15 juni 2020 Kemendikbud, Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri telah mengeluarkan Keputusan
25Yudi Firmansyah, Fani Kardina, Pengaruh New Normal Ditengah Pandemi Covid-19 Terhadap Pengelolaan Sekolah Dan Peserta Didik, ( Jurnal Buana Ilmu, Vol. 4, No. 2, Tahun 2020), hlm, 109.
Bersama (KBA) terkait dengan kebijakan pendidikan dimasa Covid-19 di era new normal sebagai berikut:
1) Sekolah akan dibuka secara bertahap, mulai dari sekolah tingkat SMP/SMA pada 13 juli SD 2 bulan sedangkan PAUD 2 bulan setelahnya.
2) Rektor di setiap perguruan tinggi pada semua zona hanya bisa mengizinkan kegiatan mahasiswa di kampus jika memenuhi protocol kesehatan.
3) Sekolah di zona hijau (85 kab/kota) diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka sesuai protocol kesehatan sangat ketat dan persyaratan yang berlapis.
4) Daerah yang berada pada zona kuning, orange, dan merah (429 kab/kota) melakukan pembelajaran tatap muka disatuan pendidikan.
5) Metode pembelajaran pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring mata kuliah teori. Untuk mata kuliah praktik, jika tidak dapat dilakukan secara daring maka diarahkan untuk dilakukan dibagian akhir semester.26
Jadi, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menuju new normal tersebut sangat berpengaruh besar dalam berbagai aspek terutama dalam dunia pendidikan yang berpengaruh
2626Ikhwan, Nur Rois, Afifah Vinda Prananingrum, “ Implementasi Keringanan Uang Kuliah Tunggal Bagi Mahasiswa di Era New Normal”, (Jambura Journal of Education Mnagement, Vol. 1, No. 2, Tahun 2020.), hlm, 112.
pada pengelolaan sekolah dan peserta didik menuju new normal ini.
Dalam realitas baru, yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasca Covid-19 ini, dunia digemparkan dengan istilah new normal, yang membuat restrukturisasi (penataan kembali) kehidupan masyarakat, dalam waktu dekat akan ada argument dan diskusi tentang new normal. 27
Istilah new normal yang berarti “normalitas atau normal baru, sudah lama ada dan tidak asing. Langkah pemerintah menerapkan new normal sudah sangat tepat”28.
Jadi, memasuki new normal ini anak-anak sekolah masih tetap diminta untuk tetap belajar dari rumah, kecuali yang berada di zona hijau, sudah diperbolekan melaksanakan proses belajar mengajar dengan syarat mengikuti protocol kesehatan.
Menuju new normal dalam pengelolaan sekolah terdapat sistem yang dikenal dengan SIF, sistem sif ini merupakan pembagian jadwal atau gelombang ketika siswa akan masuk sekolah, oleh karena itu sif diberlakukan jika kegiatan belajar sudah dapat dilaksanakan di sekolah, akan tetapi sistem sif ini harus dimodifikasi terlebih dahulu, tujuannya agar jam kerja guru tidak ditambah.
27Kevin Sneader, Shubham Singhal, “Peningkatan Human Capital Dalam Proses Pembelajaran di Era New Normal”, terj.Noviah Arafah, Jurnal Manajemen Bisnis, vol 17, No 3, Tahun 2020, hlm, 432.
28Wahyudin Darmalaksana, , “Peningkatan Human Capital Dalam Proses Pembelajaran di Era New Normal”, terj.Noviah Arafah, Jurnal Manajemen Bisnis, vol 17, No 3, Tahun 2020, hlm, 432.
Jika sebelum covid-19 kegiatan belajar di sekolah 2x45 menit, tapi sekarang pada new normal ini menjadi 1x45 menit, hal seperti itu jelas tidak bisa dilakukan oleh peran guru dan sekolah, setidaknya pemerintah pun harus terlibat dalam menyelesaikannya dengan mengatur kembali materi pembelajaran melalui kurikulum khusus yang dibuat pada masa pandemik.29
Menurut Wahyudin Darmalaksana
Substansi new normal tidak boleh dianggap sebatas pelonggaran PSBB dan transportasi publik. Meskipun banyak yang terkejut, akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal dan harus berjalan. berbagai perubahan yang terus terjadi ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai
“the new normal”. WHO telah menetapkan beberapa barometer sebelum pemerintah menerapkan new normal antara lain: memastikan penularan terkendali, sistem kesehatan dalam keadaan baik, jaminan langkah pencegahan di lingkungan kerja, mencegah kasus impor covid, dan memastikan kesadaran reproduction rate (RO), tingkat kapasitas sistem kesehatan dalam merespon pelayanan covid dan tingkat tes covid secara massal yang dilakukan. 30
Menurut Pandu Riono
Melihat dan mencermati standar dan barometer diatas, pakar epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono, dikutip dari You Tube Kompas TV, Sabtu, 30 Mei 2020 menilai gerakan hidup baru (new normal) belum dapat terlaksana secara menyeluruh, jika parameter kesehatan belum terpenuhi, disebabkan ketelitian atau keauntentikan data covid-19 sehingga sulit menghitung angka reprocdition rate (RO).31
29Yudi Firmansyah, Fani Kardina, Pengaruh New Normal Ditengah Pandemi Covid-19 Terhadap Pengelolaan Sekolah Dan Peserta Didik, ( Jurnal Buana Ilmu, Vol. 4, No. 2, Tahun 2020), hlm, 102.
30Novirah Arafah, Syamsul Bahri, “Peningkatan Human Capital Dalam Proses Pembelajaran di Era New Normal”, Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 17, Nomor 3, Tahun 2020, hlm. 432-433.
31Pandu Riono, Peningkatan Human Capital Dalam Proses Pembelajaran Era New Normal, terj. Novirah Arafah, Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 17, Nomor 3, Tahun 2020, hlm, 433-422.
4. Mata Pelajaran Fiqih a. Pengertian Fiqih
Menurut bahasa fiqih berasal dari kata faqila, yafqahu, fiqihan yang berarti mengerti atau paham berarti juga paham yang mendalam. Defenisi fiqih secara umum ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam,-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia, baik bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.32
Menurut istilah yang digunakan para ahli Ushul Fiqih adalah “suatu ilmu yang membicarakan berbagai ketentuan dan kaidah yang dapat digunakan dalam menggali dan merumuskan hukum syariat islam dari sumbernya”.33
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa, mata pelajaran fiqih merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang hukum islam sebagai pegangan atau acuan bagi manusia berdasarkan ketentuan syariat agam islam.
b. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih
Pada mata pelajaran fiqih kelasV terdapat ruang lingkup untuk pelajaran di MI sebagai berikut:
1) Bersuci dari Haid yang membahas pengertian, waktu yang dilarang bagi perempuan haid, dan hukum, tata cara bersuci setelah haid.
32Zaenal Abidin, Fiqih Ibadah, (Yoyakarta: CV. Budi Utama, 2020), hlm, 1
33 Ushul Fikih, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, terj. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm, 86.
2) Khitan, yang membahas pengertian, sejarah, hukum, waktu, dan hikmah khitan.
3) Kurban, yang membahas pengertian, hukum dan syarat kurban, waktu dan tempat yang diperbolekan untuk berkurban, pembagian daging kurban, tata cara melaksanakan kurban, sunah-sunah menyembelih kurban dan hikmah kurban.
4) Haji yang membahas arti, hokum dan sayarat haji, rukun haji, wajib haji sunah haji, amalan haji, larangan selama haji, dan pembayaran Dam (denda). Serta cara melaksanakan haji dan urutan pelaksanaan haji.
5) Umrah yang membahas tentang arti dan hokum umrah, syarat dan rukun umrah, larangan dan tata cara umrah, perbedaan haji dan umrah.34
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan jenis penelitian
Dalam penelitian yang akan dilakukan kali ini, peneliti akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Karena, informasi dan data yang peneliti peroleh lebih bersifat fenomena, peristiwa, sikap, penjelasan dan keterangan-keterangan yang di dapat dari responden, bukan bersifat angka statistik.
Menurut Denzin dan Lincoln penelitian kualitataif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah/natural, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan
34Kementrian Agama, Buku Siswa Fikih Pendekatan Saintifik kurikulum 2013, (Jakarta:
Kementrian Agama Republik Indonesia, 2015).
dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memilki keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan penelitian kuantitatif.35
Jenis penelitian yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat alamiah/natural, peneliti mengacu pada pendapat Denzin dan Lincoln yang mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah/natural untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan cara melibatkan metode yang ada.36
Dengan demikian dalam penelitian ini seluruh rangkaian kegiatan penelitian yang lakukan secara logis, sistematis dan teratur dengan mengungkapkan data yang sebenarnya atau apa adanya di lapanngan penelitian, tanpa mencampur adukkan dengan pendapat dari peneliti sehingga bisa mempertanggungjawabkan nilai kebenarannya secara ilmiah mengenai implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih ke V MIN 3 Kota Mataram Tahun Pelajaran 2021/2022.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif ini peneliti sebagai “instrument”
sebagai pengumpul data, karena peneliti dipandang sebagai penentu dalam proses penelitian di lapangan dalam upaya pengumpulan data, maka peneliti harus mendapatkan data-data dan informasi secara tepat
35Denzin, Lincoln, Metodologi Penelitian Kualitatif, terj. Djam’an Satori, Aan Komariah, (Bandung: Alfabeta, 2017), hlm, 23.
36Ibid, hlm, 23.
dan meyakinkan. Kehadiran peneliti di tempat lokasi penelitian harus mendapat izin dari pihak instansi-instansi yang memilki hak dan wewenang, penelitian harus terbuka dan menjelaskan maksud penelitian yang akan dilakukan kepada objek yang ingin diteliti.
Peneliti bertindak sebagai non participant, peneliti akan mencoba mengamati, mendengarkan cerita, tanggapan dari responden selama terjadinya proses pembelajaran daring berlangsung. Hal ini peneliti lakukan karena, peneliti mengambil data-data yang dibutuhkan selama kegiatan pembelajaran daring dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan di MIN 3 kota Mataram yang berlokasi di Jl. Cakranegara Barat, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Dari ini penulis pilih karena di MIN 3 kota Mataram salah satu madrasah yang berkualitas dan berprestasi kuhususnya dalam bidang keagamaan, namun melihat situasi dan kondisi new normal saat ini, tentunya kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pendidik seperti sekarang menggunakan pembelajaran secara online. Khususnya kelas V pada mata pelajaran fiqih di MIN 3 kota Mataram.
Karena pada mata pelajaran fiqih adalah salah satu mata pelajaran pendidikan agama islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk dapat mengenal, menghayati dan memahami, serta
mengamalkan hukum islam yang kemudian menjadi dasar pedoman bagi kehidupanya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan dan penggunaan pengalaman.
4. Sumber Data
Menurut Suharsimi yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah data diperoleh apabila peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan peneliti, baik itu secara lisan maupun tertulis.37
Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Kepala Madrasah MIN 3 Kota Mataram
Kepala sekolah adalah pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan sekolah yang menjadi pengontrol dan membuat keputusan dalam setiap kebijakan yang berlaku di sekolah. Hal tersebut akan dijadikan sumber data untuk memperoleh tentang implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram.
b. Guru Mata Pelajaran Fiqih Kelas V
Guru mata pelajaran fiqih yang secara langsung dalam menerapkan manajemen pembelajaran menjadi sumber data (Informan) untuk memperoleh data-data dan informasi tentang implementasi manajemen pembelajaran di era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota Mataram.
37Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 1992), hlm. 172.
c. Siswa-siswi Kelas VA
Siswa yang secara langsung menerima pelajaran akan dijadikan sebagai sumber wawancara untuk mengetahui implementasi manajemen pembelajaraan di era new normal. Serta mencari tahu faktor penghambat dan pendukung manajemen pembelajaran di era new normal.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam melakukan penelitian seperti hal nya dengan penelitian ini, ada beberapa prosedur yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data sebagai berikut:
a. Observasi
Menurut Syaodih N mengatakan bahwa, observasi (observasion) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. .38 Dilihat dari bentuknya observasi dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1) Observasi Partisipasi (participant observation) dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi
38Syaodih N, Metodologi Penelitian Kualitataif, terj. Djam’an Satori, Aan Komariah, , (Bandung: Alfabeta, 2017), hlm, 105.
partisipan ini maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang terlihat.
2) Observasi Non Partisipasi (non participant observation) dalam observasi non partisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat.39
Jadi, pada penelitian kali ini peneliti menggunakan teknik non partisipasi, dimana peneliti akan mengobservasi data tentang sebagai berikut:
1) Data gambaran umum tentang lokasi penelitian yaitu MIN 3 kota mataram tahun pelajaran 2021/2022.
2) Data tentang keadaan guru, letak geografis, sarana dan prasarana di MIN 3 kota mataram tahun pelajaran 2021/2022.
3) Menghimpun sumber data yang berkaitan dengan implementasi manajemen pembelajaran era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota mataram.
4) Menghimpun sumber data yang berkaitan dengan faktor penghambat dan pendukung dalam implementasi manajemen pembelajaran era new normal pada mata pelajaran fiqih kelas V di MIN 3 kota mataram.
39Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm, 145-146.
b. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan guna mendapatkan sebuah informasi yang digali dari sumber data (informan) dengan melalui percakapan atau tanya jawab. Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistic dan jelas dari informan.
Ada beberapa teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh peneliti sebagai berikut:
1) Wawancara terstruktur: wawancara terstruktur sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawancara, peneliti telah menyiapkan instrument yang berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabanya telah disiapkan. Artinya dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data atau peneliti mencatat.40
2) Wawancara tidak terstruktur: wawancara tidak terstruktur merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara bebas, peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang sudah disusun secara sistematis serta lengkap untuk pengunpulan datanya. Akan tetapi pedoman wawancara
40 Sugioyono, Metode Penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm, 138.
yang digunakan peneliti hanya memuat garis-gasris besar permasalahan yang akan ditanyakan.41
Jadi, pada penelitian ini peneliti akan menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur, karena teknik ini bersifat menemukan sumber permasalahan secara bebas atau terbuka, dimana dalam penelitian ini, peneliti belum mengetahui secara pasti data yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan cerita atau pendapat-pendapat dari responden , dalam artian, pada awal wawancara yang dibicarakan adalah hal- hal yang tidak terkait dengan tujuan, dan bila sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi sumber tujuan penelitian maka peneliti segera menanayakan.
Yang menjadi sumber data wawancara pada penelitian kali ini sebagai berikut:
1) Kepala Sekolah MIN 3 Kota Mataram
Kepala sekolah merupakan seorang pemimpin yang berada di suatu lembaga pendidikan, sebagai pembuat keputusan serta menjadi pengontrol disekolah. Hal tersebut bisa dijadikan sumber wawancara untuk mengetahui data-data tentang implementasi manajemen pembelajaraan di era new normal.
41Ibid, hlm, 140.
2) Guru Mata Pelajaran Fiqih Kelas V
Guru mata pelajaran yang secara langsung menerapkan manajemen pembelajaran yang akan dijadikan sebagai sumber wawancara untuk mengetahui data tentang implementasi manajemen pembelajaran di era new normal serta mencari tahu faktor penghambat dan pendukung dalam implementasi manajemen pembelajaraan di era new normal.
3) Siswa – siswi Kelas V
Siswa yang secara langsung menerima pelajaran akan dijadikan sebagai sumber wawancara untuk mengetahui implementasi manajemen pembelajaraan di era new normal.
Serta mencari tahu faktor penghambat dan pendukung manajemen pembelajaran di era new normal.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu peristiwa yang sudah lalu, bisa berbentuk tulisan karya-karya, monumental seseorang, atau bisa berupa gambar-gambar yang berbentuk tulisan misalnya, biografi, kebijakan, peraturan, sejarah kehidupan (live histories), cerita, ataupun catatan harian. Sedangkan dokumen yang berbentuk gambar seperti sketsa, gambar hidup, maupun foto-foto untuk dokumen yang berbentuk karya misalnya berupa gaya