HAFALAN BACAAN SHALAT PESERTA DIDIK KELAS VII
OLEH GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 19 BENGKULU TENGAH
Muhammad Salamun Asngari Email : [email protected]
Yesa Satriya Dwi Hardiyanti Email : [email protected]
Abstract: The formulations of this research are: 1. How is the implementation of the habituation method in increasing the memorization of students’ prayer readings at Junior High School Bengkulu Tengah? 2. What are the supporting factors for the implementation of the habituation method in increasing the memorization of prayer readings for students of class VII at Junior High School Bengkulu Tengah? 3. What are the inhibiting factors in the implementation of the habituation method in increas- ing the memorization of the prayer readings of class VII students in Junior High School 19 Bengkulu Tengah district? This type of research is qualitative research, the respondents to this research are school principals, vice curricula, teachers of Islamic religious education, and students. Data collection techniques through interviews, observation and documentation. This study concludes that: 1. Implementation of the habituation method in increasing the memorization of students’ prayer readings, has an impact on self-confidence when praying, being diligent in praying. 2. The supporting factors are: the awareness of prayer is an obligation, the enthusiasm of students and teachers is strong, the teacher consistently provides motivation, has a sense of responsibility, and there is supervision. 3. The inhibiting factors for the implementation of the habituation method in increasing the memorization of prayer readings are students being lazy, lack of concentration, the ability to memorize students varies, the teacher does not supervise ongoing activities, and the time allocation is insufficient.
Keywords: Implementation, Habituation Method, Memorizing prayer reading
Abstrak: Rumusan penelitian ini adalah : 1. Bagaimana implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik di SMPN 19 Bengkulu Tengah?, 2. Apa faktor pendukung pelaksanaan implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik kelas VII di SMPN 19 Bengkulu Tengah?, 3. Apa faktor peghambat pelaksanaan implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik kelas VII di SMPN 19 Bengkulu Tengah?. jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menjadi responden penelitian ini adalah kepala sekolah, waka kurikulum, guru pendidikan agama islam, dan siswa. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa : 1. Implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik, memberikan dampak rasa percaya diri ketika beribadah shalat, rajin untuk menjalankan ibadah shalat. 2. Faktor pendukungnya adalah: kesadaran shalat merupakan kewajiban, semangat peserta didik dan guru yang kuat, guru konsisten memberikan motivasi, memiliki rasa tanggung jawab, dan adanya pengawasan. 3. Faktor pengham- bat implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat adalah siswa bermalas-malasan, kurang konsentrasi,kemampuan menghafal peserta didik berbeda-beda, guru tidak mengawasi kegiatan berlangsung, dan alokasi waktu kurang.
Kata Kunci : Implementasi, Metode Pembiasaan, Hafalan Shalat
1Hujair AH dan Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2003),4.
2Ruli Aulia, Jefri Afriansyah, Alimni, Implementasi Metode Konvensional Pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di PP. Darunnajah Al-Baro- kah Bengkulu, (Bengkulu : Jurnal JPT, 2022), Vol.3, No.3, hal 171
3Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 8.
4Aziz Nuri Setiawan, Study Komparasi Antara Metode Contextual Teach- ing Learning (CTL) dengan Metode Ceramah Tanya Jawab Terhadap Hasil Belajar PAI Siswa SMK PGRI 9 Ngawi, (Sinjai : Al-Qalam, 2020), Vol 12, No 1, hal 2
Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu sistem dan peluang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di se- gala bidang kehidupan. Sepanjang sejarah manusia, pendidikan selalu berperan dalam memajukan dan meningkatkan kualitas hidup.
Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses men- gubah tingkah laku peserta didik agar menjadi manu- sia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Dengan demikian pen- didikan memiliki peranan penting dalam menentukan eksistensi dan perkembangan manusia.
Pendidikan sebagai usaha yang dibutuhkan untuk membentuk anak manusia guna menunjang peran- nya di masa depan. Sehingga pendidikan merupakan olah budaya dalam meningkatkan harkat martabat manusia.
Pasal 31(3) UUD 1945 mewajibkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam membentuk kehidupan masyarakat. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia berakhlak mulia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Men- jadi sehat, berpendidikan, cakap, kreatif, mandiri dan warga masyarakat yang demokratis dan bertanggung jawab.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa hasil pen- didikan adalah terbentuknya kecerdasan dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan bangsa. Oleh karena itu, kualitas pendidikan harus selalu dikembangkan secara sistematis oleh para pengambil keputusan
politik yang berdaya di republik ini. Sebagai pen- jamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat akan pendidikan, negara memiliki kewajiban untuk memenuhinya dan memperhatikan kepentingan semua pihak.
Guru diharapkan memiliki ciri-ciri kepribadian ideal yang sesuai dengan kebutuhan psikologis dan pendidikannya. Kewibawaan seorang guru tidak han- ya berdasarkan bakat atau pembawaan, juga bukan pemberian yang tidak diminta. Melainkan merupakan hasil dari upaya yang cermat dan berkesinambungan oleh para guru yang bersangkutan dan rekan-rekan- nya, terutama para pimpinan lembaga pendidikan, khususnya kepala sekolah. Seseorang yang bertindak sebagai administrator dan pengawas. , kegiatan terse- but membantu memajukan dan mengembangkan pendidikan agar guru dapat mengajar dengan baik dan siswa dapat belajar dengan baik.
Ki Hajar Dewantara mengatakan guru adalah orang yang mendidik. Tujuannya adalah agar anak- anak mencapai potensi penuh mereka sebagai ma- nusia dan anggota masyarakat untuk mencapai tingkat keselamatan dan kesejahteraan tertinggi.
Shalat memiliki nilai positif yang luar biasa, baik secara religius maupun pendidikan, secara pribadi dan sosial. Dalam Al-Qur’an, surat Al-Ankabut, ayat 45 Allah SWT. Berfirman, yang artinya:
“Bacalah apa yang telah diturunkan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran), dan tetapkan shalat mu.
Sungguh, shalat mencegah kekejian, dan mengin- gat (shalat) yang benar kepada Allah lebih utama.
(Itu didahulukan dari tindakan lain dari ibadah.) Dan Tuhan tahu apa yang Anda lakukan.
Shalat memiliki pengaruh penting dalam men- gendalikan hawa nafsu bagi yang mengamalkanya dengan husyuk dan hanya mengharapkan ridla Al- lah SWT semata. Kemudian shalat bermakna peng- hambaan serta simbol seorang hamba yang taat kepada Tuhanya . Karena Allah SWT hanya men- ciptakan orang-orang yang beribadah kepadanya.
Sebagaimana firman Alah SWT dalam Q.S. Az-Za- riyat: 56 sebagai berikut, yang artinya:
“Dan aku tidak menciptakan jin atau manusia kec- uali untuk mengabdi kepadaku.”
114
5M.sukardjo, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001) h 123.
6Wahbah Al-Zuhaily, Fiqh Shalat, (Bandung: Pustaka Media Utama,2004), 9.
7Departemen Agama RI,Al Quran dan Terjemahanya, (Jakarta:PT.Bumi Restu, 1974), 635
8Mahrus’as’ad, Memahami Pendidikan Agama Islam SMK Tingkat I, (CV. Amrico : Bandung, 2004) hal. 77
9Syahrezi Fajar, Implementasi Kebijakan Keterbukaan Informasi Publik dalam Mewujudkan Desa Informatif di Kabupaten Bangka, (Babel : Studia Administrasi, 2020), Vol 2, No 1, Hal 16.
10E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Ja- karta : Bumi Aksara, 2013,) h. 56
11Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum,(Grasindo, Jakarta, 2002), h. 70
Keberadaan pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di lembaga pendidikan (Sekolah) umum, dari tingkat MI, SD, MTs, SMP, MA, SMA sampai pergu- ruan tinggi di jamin UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab X pasal 37, dimana kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib me- muat pendidikan agama. Bahkan pendidikan, agama adalah mata pelajaran yang wajib di ajarkan di lem- baga pendidikan baik negeri maupun swasta.
Dengan demikian, seharusnya shalat sudah bukan lagi hal sulit untuk dilakukan peserta didik, karena pendidikan agama sudah di dapatkan sejak pendidi- kan dasar, dan shalat adalah pokok dari pembelajaran agama. Namun Faktanya masih banyak dari peserta didik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) terkhusus di SMPN 19 Bengkulu Tengah belum lancar bacaan shalatnya.
Ketika di temui di sekolah, Guru PAI menjelaskan, fenomena ini beliau dapatkan ketika sedang menguji ujian praktek di kelas IX, dimana saat itu ujian praktek yang dilaksanakan adalah praktek wudhu, shalat dan mengaji. Ternyata masih banyak dari peserta didik saat praktek shalat ditemukan tidak bisa melafalkan bacaan bacaan shalat. Melihat fenomena ini, guru PAI berinisiatif untuk melaksanakan kegiatan pembiasaan guna memperlancar bacaan shalat peserta didik di SMPN 19 Bengkulu Tengah.
Temuan yang diperoleh guru PAI pada kelas IX, guna mencegah hal itu terjadi lagi, dan mensuksesi ujian praktek kelas IX, serta memperbaiki bacaan sha- lat peserta didik dan menjadi lulusan sesuai dengan visi misi sekolah, yaitu terdepan dalam prestasi ber- dasarkan Iptek dan Iptaq, serta mengantisipasi sedari dini, Guru PAI memulai metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik
dari kelas VII.
Berdasarkan fenomena di atas, Sekiranya pent- ing, Penulis akan melakukan peneltian dengan judul
“Implementasi Metode Pembiasaan Dalam Menin- gkatkan Hafalan Bacaan Shalat Peserta Didik Kelas VII Oleh Guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 19 Bengkulu Tengah”.
Landasan Teori 1. Implementasi
Impleimeintasi adalah peilaksanaan atau tindakan dari reincana yang teilah disusun seicara ceirmat dan rinci. Impleimeintasi teirjadi seiteilah deisain dianggap seileisai atau matang. Impleimeintasi beirarti menso- sialisasikan kebijakan , peirbuatan, aktivitas, meikan- ismei atau tindakan yang sisteimatis yang kemudian dilaksanakan , impleimeintasi tidak hanya tindakan, teitapi akktivitas yang teireincana guna meincapai suatu tujuan. Deingan deimikian implementasi mei- rupakan keigiatan yang direincanakan dan dilaksana- kan seisuai deingan peireincanaan yang seirius, stan- dar yang ada dan peireincanaan yang matang, bukan seikeidar peilaksanaan.
Ada dua hal yang meimpeingaruhi keibeirhasilan impleimeintasi, yaitu isi keibijakan dan kointeiks im- pleimeintasi.
2. Metode Pembiasaan
Metoidei adalah sarana atau cara mengkomu- nikasikan tujuan tertentu secara efektif dan efisien.
Penggunaan metode pembelajaran juga perlu di se- suaikan dengan situasi dan kondisi siswa yang ber- sangkutan, hal ini dikarenakan setiap siswa memilki karakter yang berbeda sehinga seorang guru harus pintar dalam menarik perhatian siswa saat proses be- lajar mengajar berlangsung.
Pembiasaan memiliki makna proses, atau mem- buat seseorang menjadi terbiasa. Kebiasaan mem- bentuk seseorang untuk kebaikan dan sebaliknya.
Sehingga metode pembiasaan adalah salah satu cara atau jalan atau kegiatan yang dilakukan secara beru- lang-ulang oleh pendidik.
Metode pembiasaan erat katannya dengan me- tode Pendidikan Islam, yang memungkinkan sese- orang menjadi terbiasa dalam berfikir, bertindak dan
12Guntur Setiawan, Impelemtasi dalam Birokrasi Pembangunan, (Ja- karta: Balai Pustaka, , 2004), h. 39
13Merile S. Grindle (Dalam Buku Budi Winarno). Teori dan Proses Kebi- jakan Publik, (Yogyakarta : Media Pressindo, , 2002) h. 21
14Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2012), hal 88.
15Hensi, Midela, Nadya, Alimni, Analisis Penerapan Metode Pembelaja- ran Yang Digunakan Guru Dalam Pembelajaran Ski Di Mtsn 2 Kota Beng- kulu Analysis Of The Application Of Learning Methods Used Teachers In Learning Ski At Mtsn 2 Bengkulu City, (Bengkulu : Jurnal JPT, 2022), Vol 3, No 3, hal 283
16Amai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta:
Ciputat Press, 2002), h 110
bersikap, sesuai dengan ajaran Islam. Pembiasaan merupakan metodei pendidikan Islam yang sangat penting bagi anak usia dini, karena dengan melaku- kan pembiasaan, aktivitas yang terbiasa dilakukan menjadi miliknya.
3. Hafalan Bacaan Ibadah Shalat
Hafalan atau menghafal adalah sebuah usaha ak- tif agar memasukkan data informasi ke dalam otak.
Menurut Kuswana menghafal adalah mendapat keimbali pengetahuan yang relevan dan tersimpan di memoiri jangka panjang. Menghafal membutuhkan konsentrasi, pembiasaan dan pelatihan secara terus- menerus untuk dapat melancarkannya
Menghafal termasuk salah satu komponen pent- ing dalam proseis belajar aadalah kemampuan un- tuk menghafal atau ketajaman ingatan peserta didik.
Sistem ingatan manusia dibagi menjadi 3 bagian:
Sensor memori (sensory memory), Ingatan jangka pendek (Short term Memory), dan Ingatan jangka panjang (long term memory),
Dalam kointeiks meinghafal bacaan shalat, hafalan seiseioirang di katakan bagus apabila meimeinuhi tiga hal yaitu, keilancaran, keiseisuaian bacaan deingan kaidah tajwid, dan fashoihah.
4. Shalat
Ibadah secara etimologi berarti patuh, tunduk, ren- dah hati dan hina. Ibadah adalah mendekati Tuhan dengan melakukan apa yang Dia perintahkan dan menolak apa yang Dia larang, dan dalam ibadah yang Tuhan dan Rasul-Nya perintahkan dengan aturan dan tata cara dan dalam ibadah yang tidak Dia perintah- kan. Aturan dan tata cara Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan seicara istilah, Ibadah adalah segala sesuatu yang Allah ridhai baik perbuatan, perkataan
maupun bisikan hati. Seihingga ibadah adalah peing- hambaan diri, peinyeirahan dan keitundukan diri kei- pada Allah, deingan meingeirjakan peirintahnya dan meinjauhi laranganya.
Kata shalat, beirasal dari bahasa Arab beirarti doi’a, rahmat dan peingampunan. Seidangkan peigeirtian shalat seicara istilah adalah beintuk ibadah yang teirdiri dari ucapan dan peirbuatan yang diawali deingan bacaan takbir keipada Allah SWT dan diakh- iri deingan salam.
Metode Penelitian
Peineilitian ini meirupakan jeinis peineilitian lapan- gan yang meinggunakan peindeikatan kualitatif. Pei- neilitian kualitatif adalah peingumpulan data beirupa kata-kata atau gambar bukan angka. Infoirmasi di- peiroileih meilalui wawancara, catatan lapangan, foi- toi, doikumein pribadi dan lainnya. Oileih kareina itu, meitoidei deiskriptif digunakan dalam peineilitian ini, dengan pengambilan data nya selain darijurnal dan buku, juga melalui wawancara, observasi dan doku- mentasi.
Pembahasan 1. Implementasi
Seiteilah meilakukan wawancara dan oibseirvasi deingan keipala seikoilah, waka kurikulum, guru pein- didikan agama islam dan peiseirta didik di SMPN 19 Beingkulu Teingah, maka dapat meineimukan beibei- rapa hal seibagai beirikut:
Peirtama, keigiatan meitoidei peimbiasaan adalah seibuah meitoidei yang dilakukan dan diteirapkan oileih SMPN 19 Beingkulu Teingah dalam keigiatan pagi hari seibeilum meilaksanakan peimbeilajaran yang peirtama. Keigiatan ini beirtujuan untuk mein- ingkatkan hafalan bacaan peiseirta didik yang dirasa peirlu peirhatian leibih. Deingan adanya keigiatan ini, diharapkan akan meinambah kualitas shalat peiseirta didik dan bacaan-bacaan yang ada didalam ibadah shalat dapat di baca deingan seimpurna.
Seilanjutnya keigiatan peimbiasan hafalan bacaan shalat yang digunakan untuk meiningkatkan keimam- puan hafalan bacaan shalat peiseirta didik sudah sei- suai deingan tujuan Peindidikan Agama Islam. Mata
17Syaiful Bahahari Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h 62-63.
18Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, h. 62
19Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 115.
20D.M. Makhyaruddin, Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an (Ja- karta Selatan: Noura Books, 2013), 127
21Achmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist (Jakarta: Kemen- trian Agama RI, 2012), 224
Peilajaran PAI meimiliki lima mateiri peimbeilaja- ran, salah satu foikusnya adalah fikih. Dan keigiatan peimbiasaan yang dilakukan di SMPN 19 Beingkulu Teingah teilah meimbantu keibeirhasilan peindidikan agama islam seirta bisa meinjadi beikal peiseirta didik baik di peimbeilajaran masupun dikeihidupan seihari- hari bagi seioirang muslim.
Keidua, dasar SMPN 19 Beingkulu Teingah mei- neirapkan keigiatan peimbiasaan hafalan bacaan shalat dikareinakan keiwajiban dari seioirang muslim yang sudah baligh untuk seilalu meilaksanakan shalat lima waktu. Seirta meimbantu siswa meinyeimpurna- kan ibadah shalat.
Seilain dari keibutuhan utama teirseibut, tujuan SMPN 19 Beingkulu Teingah meingadakan keigiatan peimbiasaan hafalan bacaan shalat adalah
a. Meiningkatkan hafalan bacaan shalat peiseirta didik
b. Meimpeirlancar bacaan seirta meimpeirbaikin- ya
c. Shalat seibagai ibadah wajib dan utama dalam agama islam
d. Dapat diteirapkan dalam keihidupan seihari- hari, baik masih di seikoilah maupun dikeihidu- pan seihari-hari.
Keitiga, SMPN 19 Beingkulu Teingah masih me- inggunakan kurikulum K13 seibagai kurikulum pilihan diseikoilah. Meiskipun saat ini sudah ada kurikulum teirbaru, seikoilah masih meimilih kurikulum yang lama. Kareina dirasa seikoilah beilum siap meineirap- kan kurikulum teirbaru, namun keideipanya seikoilah akan beirguyur dan beiradaptasi untuk meinggunakan kurikulum meirdeika.
SMPN 19 Beingkulu Teingah dalam meingoiptimal- kan Peindidikan Agama Islam, seilain meinggunakan meitoidei peimbiasaan uuntuk meiningkatkan hafalan
bacaan shalat siswa, seikoilah meimiliki mateiri ajar khusus seibagai peinunjang beirhasilnya peindidikan agama seicara kaffah.
Mateiri ajar seibagai peinunjang keibeirhasilan peindidikan agama adalah SBTQ (Seini Baca Tulis Al-Qur’an). mapeil ini seilain beirfoikus pada tulis dan baca al-qur’an juga meimiliki foikus peimbeilajaran agama yang lain. Seipeirti prakteik shalat, dzikir, me- inghafal doia doia seirta surat surat peindeik.
Keieimpat, proigram peimbiasaan hafalan bacaan shalat sudah dilaksanakan di SMPN 19 seijak tahun 2014 silam. Seibeilumnya, keigiatan peimbiasaan ini digunakan untuk meimpeirtajam keimampuan baha- sa siswa deingan meinghafalkan voicabulary seitiap harinya. Namun lambat laun, seijak tahun 2014 keigi- atan peimbiasaan di gunakan untuk meinunjang kei- beirhasilan peindidikan agama. Salah satunya adalah deingan peimbiasaan hafalan bacaan shalat.
Keigiatan peimbiasaan dalam meiningkatkan hafalan bacaan shalat peiseirta didik, dilaksanakan di seitiap pagi. Pada pukul 07.30 sampai 0750, sei- beilum meimasuki jam peirtama. Keigiatan beirlang- sung seilama 20 meinit, guru yang meingawas adalah guru yang meingajar di jam peirtama pada hari itu, murid seibeilumnya sudah dibeiri moidul oileih guru peindidikan agama islam untuk di baca saat keigiatan peimbiasaan beirlangsung. Pada peirmulaan keigia- tan, keitua keilas meingintruksikan keipada anggoit- anya untuk mulai meimbaca bacaan shalat di moidul, seiteilah seileisai baru keitua keilas meingoimandoi untuk beirdoia dan keimudian meimbeirikan salam keipada guru.
Deingan dilakukanya keigiatan peimbiasaan hafalan bacaan shalat, seikoilah sudah meimbantu siswa untuk meinyeimpurnakan ibadah shalatnya.
Bahkan bisa dikatakan beirhasil. Kareina, keiman- faatan dari keigiatan peimbiasaan di akui oileih siswa dimana seibeilum seikoilah meingadakan keigiatan peimbiasaan, ia masih kurang hafalan bacaan shalat- nya. Meingandalkan hafalan di rumah tidak bisa jadi jaminan untuknya meinghafal, dikareinakan ada ban- yak gangguan yang meinyeirtai. Seihingga deingan adanya keigiatan peimbiasaan mampu meimbantu lancarnya hafalan bacaan shalat siswa.
22Misbahul Munir, Ilmu dan Seni Qira’atil Qur’an Pedoman bagi Qari’- Qariah Hafiz-Hafizah dan Hakim dalam MTQ, (Semarang: Binawan, 2005), 356-357
23Mahmud Yunus Wa Dzurriyyah, Kamus Arab-Indonesia. (Jakarta : PT.
Hidakarya Agung, 2010), hal 252
24Abudi Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta : Pre- nada Media Groub, 2016) hal 146.
25Zaenal Abidin, Fiqh Ibadah, (Yoghyakarta : CV Budi Utama, 2020) hal, 8-9
26Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2005), h 264
Hasil wawancara dan oibseirvasi yang sudah di- lakukan nampakk jeilas bahwa deingan diteirapkanya meitoidei peimbiasaan hafalan bacaan shalat dein- gan peiseirta didik meingulang-ulang meimbacanya peiseirta didik akan mampu untuk mudah meing- hafalkanya. Seirta akan meiningkatkan keimam- puan hafalan bacaan shalat peiseirta didik, dan juga meimeibrikan seimangat siswa untuk rajin meingeir- jakan shalat. Akan teitapi untuk peirioidei ceipat-atau lambatnya hafalan peiseirta didik itu meiningkat teir- gantung dari keimampuan masing-masing siswa.
2. Faktor Pendukung
Setelah melakukan wawancara dan observasi di SMPN 19 Bengkulu Tengah tentang metode pem- biasan dalam meningkatkan hafalan bacan shalat peserta didik terdapat faktor pendukung yang mem- pengaruhinya, seperti kesadarana kan shalat itu ke- wajiban, semangat yang tinggi pada guru dan murid, rasa tanggung jawab, pengawasan dari guru dan mo- tivasi.
Kemudian kepiawaian guru dalam mengawasi dan juga memberikan motivasi juga memberikan pengar- uh yang signifikan pada perkembangan peserta didik.
Guru yang seidari awal memang sudah dicetak se- bagai seorang yang mendidik anak muridnya, sudah seyogyanya mampu mengarahkan dan mengajarkan hal-hal baik kepada siswa.
Berikut beberapa faktor pendukung terlaksan- anya kegiatan pembiasaan pagi dalam meningkat- kan hafalan bacaan shalat peserta didik di SMPN 19 Bengkulu Tengah:
a. Kesadaran shalat adalah kewajiban
shalat wajib hukumnya dilaksanakan bagi seiluruh umat muslim yang sudah baligh, baik laki-laki mau- pun perempuan, baik dalam keadaan sakit, seng- gang, sibuk maupun di perjalanan. Sehingga shalat ini
meinjadi ibadah yang tidak bisa di reimeihkan beigitu saja. Deingan keisadaran diri peinuh bahwa meilak- sanakan shalat adalah suatu keiwajiban dan tidak ada peingganti untuk yang meininggalkanya, maka keigia- tan peimbiasaan hafalan shalat akan beirjalan dein- gan seiksama. Seirta hasil dan tujuan dilaksnakanya keigiatan teirseibut akan teircapai.
b. Semangat Peserta Didik dan Guru yang kuat Seimangat yang dimiliki dari guru dan murid juga meinjadi faktoir peindukung sukseinya keigiatan peimbiasaan hafalan bacaan shalat. Jika salah satu saja seimangatnya keindoir, keigiatan peimbiasaan tidak akan bisa beirjalan deingan seimpurna. Seipeirti halnya guru yang seimangat namun muridny seiba- gai oibjeik tidak seimangat, keibeirhasilan proigram peimbiasaan tidak akan bisa teircapai.
Seimangat dari keiduanya teirlihat saat meinjalank- an keigiatan peimbiasaan di pagi hari, muridnya antu- sias meimbaca moidul dan guru meinjalankan tugas- nya untuk meingawasi. Seirta seilama keigiatan atan ini beirlangsung, tidak ada dari peiseirta didik yang tidak meingikuti keigiatan atau pun meindapatkan hukuman.
c. Guru Konsisten Memberikan Motivasi
Moitivasi bisa meinjadi peindoiroing seimangat un- tuk meincapai apa yang diinginkan. Moitivasi ini bisa muncul dari diri seindiri dan dari oirang lain. Seihing- ga guru bisa meimbeirikan doiroingan keipada siswa meilalui moitivasi agar siswa seinantiasa meinjalank- an keigiatan deingan baik. Seibagaimana yang sudah dijeilaskan, moitivasi guru mampu meinggeirakkan seimangat siswa. Cara meimbeirikan moitivasi sei- peirti meinceiritakan kisah kisah oirang shaleih yang idak peirnah meiningglkan ibadah shalat, atau juga meinceiritakan bagaimana nasib oirang yg meilalai- kan shalat.
d. Memiliki Rasa Tanggung Jawab.
Meimpunyai rasa tanggung jawab seirta sadar bahwa keigiatan peimbiasaan hafalan bacaan shalat harus dijalankan sepenuh hati, maka menjadi faktor utama dalam terlaksananya kegiatan pembiasaan
27Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Jakarta : Pena Pundi Aksara, 2004), jilid 1, cet.1, hal 125
28Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Rem- aja Rosdakarya, 2010), h. 11
hafalan bacaan shalat. Rasa tanggung jawab ini terli- hat dari peserta didik yang tidak pernah absen untuk mengikuti kegiatan.
e. Adanya pengawasan dari Guru
Kehadiran seorang guru memiliki peran penting untuk mensukseskan sebuah program. Pasalnya, ke- hadiran guru didalam kelas mengawasi jalanya keg- iatan, bisa mencegah siswa untuk bermalas-malasan, serta menunjukkan bahwa guru memberikan perha- tian lebih kepada murid-muridnya.
3. Faktor penghambat
Adapun faktoir yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan metode pembiasaan dalam meningkat- kan hafalan bacaan shalat peserta didik adalah seba- gai berikut
a. Siswa Bermalas-malasan
Malas menjadi faktor penghambat terlaksanan- ya pembiasaan. Ketika siswa bermalas-malasan akan menyebabkan enggan untuk menghafal yang kemudian berakibat siswa tidak hafal.
Ketika tidak hafal akan berimbas pada lalainya siswa melaksanakan ibadah shalat.
b. Kurangnya konsentrasi
Foikus atau konsentrasi bisa menghambat ter- capainya tujuan dari kegiatan pembiasaan.
Saat siswa tidak konsentrasi, ia bisa kehilangan fokus untuk menghafal.
c. Kemampuan menghafal peserta didik berbeda- beda
Kemampuan menghafal siswa berbeda-beda, daya ingat seseorang juga tidaklah sama. Dimana menghafal membutuhkan daya ingat yang kuat. Ke- tika kemampuan menghafal ini tidak sama, maka akan muncul dilema melanjutkan materi atau tidak.
Jika dilanjutkan kasian dengan siswa yang lambat hafalanya, namun jika tidak dilanjutkan menyebab- kan siswa yang kuat hafalanya merasa bosan.
d. Guru tidak mengawasi kegiatan berlangsung Ketika guru mengawasi jalanya kegiatan, siswa akan bersemangat menjalankan kegiatan. Namun se- baliknya, ketika guru tidak mengawasi jalanya kegia- tan, siswa akan merasa malas untuk menjalankanya.
Sayangnya, ada beberapa guru yang pernah men- inggalkan pengawasan ini. Dirasa siswa sudah men- jalankan dengan baik, ternyata ketika guru mening- galkan ruangan, siswa bermalas-malasan.
e. Alokasi waktu kurang
Alokasi waktu yang kurang juga bisa mempen- garuh suksesnya kegiatan, kemudian menjadi faktor penghambat.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian serta analisis pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik keisimpulan se- bagai berikut:
Implementasi metode pembiasaan dalam men- ingkatkan hafalan bacaan shalat peseirta didik kelas VII oleh guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 19 Bengkulu Tengah, melalui kegiatan peindidikan mau- pun ekstrakulikuler. Deingan meimpeirlancar bacaan shalat, meimbeirikan dampak rasa peircaya diri ke- tika beribadah terkhusus menjalankan ibadah shalat, kemudian membuat peserta didik rajin untuk men- jalankan ibadah shalat.
Faktor pendukung implementasi metode pembiasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik kelas VII oleh guru pendidikan agama Islam di SMPN 19 Bengkulu Tengah adalah : a. sadar shalat adalah kewa- jiban, b. semangat peserta didik dan guru yang kuat, c.
guru konsistein memberikan motivasi, d. memiliki rasa tanggung jawab, e. adanya pengawasan dari guru.
Faktor penghambat implementasi metode pem- biasaan dalam meningkatkan hafalan bacaan shalat peserta didik kelas VII oleh guru pendidikan agama Islam di SMPN 19 Bengkulu Tengah adalah ,a. siswa bermalas-malasan, b. kurangnya konsentrasi, c. kei- mampuan meinghafal peiseirta didik beirbeida-beida, d. guru tidak meingawasi keigiatan beirlangsung, ei.
aloikasi waktu kurang.
Daftar Pustaka
Abudi Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al- Qur’an, (Jakarta : Prenada Media Groub, 2016)
Achmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadist (Jakarta: Kementrian Agama RI, 2012),
Amai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pen- didikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002),
Aziz Nuri Setiawan, Study Komparasi Antara Me- tode Contextual Teaching Learning (CTL) dengan Metode Ceramah Tanya Jawab Terhadap Hasil Bela- jar PAI Siswa SMK PGRI 9 Ngawi, (Sinjai : Al-Qalam, 2020), Vol 12, No 1,
D.M. Makhyaruddin, Rahasia Nikmatnya Mengh- afal Al-Qur’an (Jakarta Selatan: Noura Books, 2013), Departemen Agama RI,Al Quran dan Terjemah- anya, (Jakarta:PT.Bumi Restu, 1974),
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satu- an Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2013,)
Guntur Setiawan, Impelemtasi dalam Birokrasi Pembangunan, (Jakarta: Balai Pustaka, , 2004),
Hujair AH dan Sanaky, Paradigma Pendidikan Is- lam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yo- gyakarta: Safiria Insania Press, 2003),
Hensi, Midela, Nadya, Alimni, Analisis Penerapan Metode Pembelajaran Yang Digunakan Guru Dalam Pembelajaran Ski Di Mtsn 2 Kota Bengkulu Analysis Of The Application Of Learning Methods Used Teach- ers In Learning Ski At Mtsn 2 Bengkulu City, (Beng- kulu : Jurnal JPT, 2022), Vol 3, No 3,
Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2012),
M.Sukardjo, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001)
Mahmud Yunus Wa Dzurriyyah, Kamus Arab-In- donesia. (Jakarta : PT. Hidakarya Agung, 2010),
Mahrusas’ad, Memahami Pendidikan Agama Islam SMK Tingkat I, (CV. Amrico : Bandung, 2004)
Merile S. Grindle (Dalam Buku Budi Winarno).
Teori dan Proses Kebijakan Publik, (Yogyakarta : Me- dia Pressindo, 2002)
Misbahul Munir, Ilmu dan Seni Qira’atil Qur’an Pedoman bagi Qari’-Qariah Hafiz-Hafizah dan Hakim dalam MTQ, (Semarang: Binawan, 2005),
Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum,(Grasindo, Jakarta, 2002),
Ruli Aulia, Jefri Afriansyah, Alimni, Implementasi Metode Konvensional Pada Pembelajaran Sejarah Ke- budayaan Islam di PP. Darunnajah Al-Barokah Beng- kulu, (Bengkulu : Jurnal JPT, 2022), Vol.3, No.3,
Syahrezi Fajar, Implementasi Kebijakan Keterbu- kaan Informasi Publik dalam Mewujudkan Desa Infor- matif di Kabupaten Bangka, (Babel : Studia Adminis- trasi, 2020), Vol 2, No 1,
Syaiful Bahahari Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),
Wahbah Al-Zuhaily, Fiqh Shalat, (Bandung: Pus- taka Media Utama,2004),
Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir (Bandung: PT Rem- aja Rosdakarya, 2012),
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),