• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi pelayanan disabilitas mental dalam pemilihan Wali Kota Tahun 2020 di Kota Mataram

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Implementasi pelayanan disabilitas mental dalam pemilihan Wali Kota Tahun 2020 di Kota Mataram"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

i

IMPLEMENTASI PELAYANAN DISABILITAS MENTAL DALAM PEMILIHAN WALI KOTA TAHUN 2020 DI KOTA MATARAM

Oleh : RUDY SUCIPTO

NIM : 180603010

PROGRAM STUDI PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2022

(2)

ii

IMPLEMENTASI PELAYANAN DISABILITAS MENTAL DALAM PEMILIHAN WALI KOTA TAHUN 2020 DI KOTA MATARAM

Oleh : RUDY SUCIPTO

NIM : 180603010

PROGRAM STUDI PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2022

(3)

iv

PERSETUJUAN PEMBIMBING

SKRIPSI OLEH : Rudy Sucipto, NIM : 180603010 dengan judul Implementasi Pelayanan Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Wali Kota

Tahun 2020 Di Kota Mataram disetujiui

untuk di uji.

Disetujui pada tanggal _____________ 2022

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr.H. Lalu Muchsin Effendi, M.A Ibnu Murtadho, M, Sos NIP.197312312011003 NIP.199304162019081001

(4)

v

NOTA DINAS PEMBIMBING

Mataram, 24 November 2022 Hal : Ujian Skripsi

Yang Terhormat

Dekan Fakultas Ushuluddin Dan Studi Agama Di Mataram

b.

Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi, kami

berpendapat bahwa skripsi saudara : Nama Mahasiswa : Rudy Sucipto

NIM : 180603010

Judul : Implementasi Pelayanan Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Wali Kota Tahun 2020 Di Kota Mataram

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam siding munaqayah skripsi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di- munaqasyah-kan.

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr.H. Lalu Muchsin Effendi, M.A Ibnu Murtadho, M, Sos NIP. 197312312011003 NIP.199304162019081001

(5)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : RUDY SUCIPTO

NIM : 180603010

Jurusan : Pemikiran Politik Islam

Fakultas : Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Implementasi Pelayanan Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Wali Kota Tahun 2020 Di Kota Mataram ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian saya/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya. Jika saya terbukti melakukan plagiat tulisan/karya orang lain, saya siap menerima sanski yang telah ditentukan oleh lembaga.

Mataram, 24 November 2022

Saya Yang Menyatakan

RUDY SUCIPTO

(6)

vii

(7)

viii MOTTO

(berjuanglah dengan ikhlas, karena hasil itu kita akan daPatkan ketika kita sudah memulai dan berjuang)

Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah - buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang

sabar.

(QS Al-Baqarah: 155-156)

(8)

ix

PERSEMBAHAN

persembahkan keepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan saya motivasi bahwa pentingnya menuntut ilmu di bangku perkuliahan, skripsi ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri yang telah mampu menyelesaikan perkuliahan di zaman yang sangat sulit untuk mencari kebenaran. Dan tidak lupa saya bersyukur dengan diberinya saya kesehatan dan keselamatan dalam menjalani hidup. Serta skripsi ini saya mempersembahkan kepada masyarakat yang memiliki kekuarangan di dalam hidupnya sepeti gangguan mental, dan juga untuk para dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing saya sehingga saya mampu untuk menyelesaikan

(9)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahamat dan Hidayahnya sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan dengan waktu yang tepat. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita menuju kehidupan yang penuh dengan keberkahan. Alhamdulillah.

Penulis menyadari, selama peroses penulisan skripsi ini, tanpa ke ikut sertaan dari berbagai pihak yang membantu, mungkin penulis tidak mampu untuk menyelesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimak kasih yang mendalam terhadap beberapa pihak yang terlibat:

1. Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag. Selaku Rektor UIN MATARAM yang telah memberikan tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan mendapat bimbingan.

2. Dr. Lukman Hakim, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin & Studi Agama UIN MATARAM yang telah memberi saran dan motivasi dalam menuntut ilmu.

3. Bapak Dr.H. Lalu Muchsin Effendi, M.A Selaku pembimbing 1 dan, Bapak Ibnu Murtadho, M, Sos yang telah mengorbankan banyak waktu dalam memberikan bimbingan dan koreksi dan motivasi selama penulisan skripsi, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

4. Kepada seluruh dosen dan Civitis Akademik Fakultas Ushuluddin &

Studi Agama yang belum bisa saya sebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terimakasih.

5.

saya (Ponidi dan Mustika)

(10)

xi

6. Kepada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membersamai dalam proses yg panjang ini.

7. Kepada sahabat Dafit Anggara Putra, Bayu, Rian Noviandi, Wilda Anggri Rabiupa dan semua yang tidak bias saya sebutkan satu persatu.

8. Kepada orang-orang baik yang datang ke kehidupan saya yang telah memberikan motivasi, nasehat, dorongan untuk tetap bangkit tanpa mereka mungkin skripsi ini tidak terselesaikan.

Mataram, 24 November 2022 Penulis

RUDY SUCIPTO

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah... 6

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 7

E. Telaah Pustaka ... 7

F. Kerangka Teori ... 11

G. Metodologi Penelitian... 19

H. Sistematika Pembahasan... 25

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 27

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 27

B. Keikutsertaan penyandang Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Wali Kota Tahun 2020 Di Kota Mataram ... 32

(12)

xiii

BAB III PEMBAHASAN ... 39

1. Standar Dan Sasaran Kebijakan ... 41

2. Sumber Daya ... 42

3. Komunikasi Antar Organisasi ... 43

4. Karakteristik Agen Pelaksana ... 43

5. Kondisi Sosial Ekonomi Dan Politik ... 44

6. Disposisi Atau Sikap Para Pelaksana ... 45

BAB IV PENUTUP ... 47

A. Kesimpulan ... 47

B. Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN ... 52

(13)

xiv

IMPLEMENTASI PELAYANAN DISABILITAS MENTAL DALAM PEMILIHAN WALI KOTA TAHUN 2020 DI KOTA MATARAM

Oleh Rudy Sucipto

18.0.60.3.010

ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang strategi pelayanan KPU kepada penyandang difabilitas mental, dimana dalam Undang-Undang no 8 tahun 2016 dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) tentang disabilitas mental bahwa mereka mempunyai hak untuk memilih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental. Teori yang digunakan adalah teori implementasi kebijakan publik dengan model van meter dan van horn untuk menjawab implementasi pelayanan yang diberikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kepada penyandang disabilitas mental. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa impelementasi pelayanan yang diberikan oleh KPU dalam Pemilihan Wali Kota di Kota Mataram kurang baik dikarenakan tidak terdapat disabilitas mental yang memenuhi syarat untuk memilih, komisioner KPU mengatakan bahwa syarat untuk memilih bagi penyandang disabilitas mental adalah memiliki surat keterangan sehat dari dokter. Dalam penelitian ini, penulis menyarankan untuk KPU harus memberikan pendamping untuk disabilitas mental yang bisa memilih, dan sosialisasi tentang pentingnya hak pilih dalam pemilihan Wali Kota bagi penyandang disabilitas mental.

Kata Kunci: implementasi, pelayanan, dan pemilihan wali kota

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang melekat pada diri manusia sebagai hadiah dari tuhan yang harus dihormati, dilindungi dan dijaga oleh setiap individu, masyarakat atau negara.

Ha asasi pada hakikatknya adalah seperangat ketentuan atau aturan untuk melindungi warga Negara dari kemungkinan penindasan, pemasungan dan atau pembatasan ruang gerak warga warga negara oleh negara artinya ada pembatasan-pembatasan tertentu yang diberlakukan pada negara agar hak warga negara yang paling hakiki terlindungi dari kesewenangan kekuasaan.

Secara substansi, ada persamaan pemahaman dalam mendefinisikan HAM. Setidaknya disepakati bahwa HAM merupakan hak yang diberikan tuhan, sehingga hak tersebut bersifat melekat, kodrati dan universal. Hak tersebut tak tergantung oleh suatu disebabkan manusia lain, Negara atau hukum, karena hak tersebut berkaitan dengan eksistensi manusia. Dengan demikian perbedaan jenis ras, agama, atau warna kulit, tidak mempengaruhi perbedaan terhadap eksistensi HAM. Dan berkaitan dengan keberadaan dan eksistensi manusia, maka hak tersebut harus dihormati, dilindungi dan dihargai oleh siapapun.

Secara umum, HAM dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat pada kodrat, perumusan pengakuannya telah diperjuangkan dalam kurun waktu yang sangat panjang. Khoirul anam menjelaskan tentang HAM sebagai hak dasar yang dimiliki dan melekat pada diri setiap manusia sepanjang hidupnya merupakan sebuah hak pribadi dan kodrat yang diberikan oleh sang pencipta. HAM sebagai sebuah hak dasar yang dimiliki dan melekat pada setiap individu melahirkan hak-hak lainnya mengikuti perkembangan peradaban manusia. Hak-hak yang kemudian terangkum dalam HAM diantaranya adalah hak asasi politik atau dikenal dengan political right yang memberikan ruang

(15)

2

seluas-luasnya bagi setiap warga negara untuk ikut serta dalam pemerintahan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.1

pemilihan umum, secara mudah dapat dipahami sebagai cara untuk menyelenggarakan urusan bersama melalui pemilihan orang-orang yang ditunjuk oleh banyak orang untuk melakukan tugas mewakili banyak orang yang memilih tersebut. Urusan bersama, dapat berarti urusan kelompok (organisasi), urusan orang banyak (publik) dalam lingkup wilayah kota/ kabupaten), provinsi maupun nasional. Pemilu yang demokratis adalah yang mampu menampung segala aspirasi rakyat tanpa adanya diskriminasi terhadap suatu golongan tertentu, persamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan bagi seluruh warga negara, serta memegang teguh asas-asas pemilu yang baik yakni bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil

Pemilihan umum (Pemilu) merupakan salah satu sarana untuk menentukan perwakilan rakyat dalam menjalankan pemerintahan. Proses pemilihan umum bertujuan untuk memilih calon kandidat dalam sebuah jabatan politik dalam suatu negara di berbagai tingkatan.2 Hak pilih dari masyarakat dalam pemilu bersifat umum dan tidak bisa dikurangi, itu berarti semua orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya tanpa ada diskriminasi apapun dalam pemilu. 3

Sebagai bagian dari warga Negara Indonesia sudah sepantasnya masyarakat penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan khusus. Yang dimaksudkan disitu agar upaya perlindungan dari kerentanan terhadap berbagai tindakan diskriminasi dan terutama perlindungan dari berbagai upaya maksimalisasi penghormatan pemajuan perlindungan dan

1 Henny Andriani dan Feri Asmara, Hak Pilih Kelompok Penyandang Disabilitas dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 di Sumatra Barat, Jurnal konstitusi, Vol.

17. No. 4 Desember 2020, hlm 778.

2 Fajlurrahman Jurdi, Pengantar Hukum Pemilihan Umum, (Jakarta: Kencana, 2018), hlm. 1.

3 Melda Oktaviana, Stratgi Komisi Pemilihan Umum Kota Mataram Dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Disabilitas . (Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Mataram 2020). Hlm. 3.

(16)

3

pemenuhan hak asasi manusia.4 Sebagaimana dengan konsep tentang persamaan hak antar sesama manusia, maka tidak terdapat perbedaan terhadap penyandang disabilitas, seperti yang sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Disabilitas yang berarti ketidak mampuan, istilah disabilitas digunakan untuk orang yang menderita cacat fisik, mental, sensorik dan intelektual dalam jangka waktu yang lama, dan mengalami hambatan dalam berinteraksi dalam berpartisipasi secara efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak dalam konstitusi kehidupan berdemokrasi.5

Pada pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa ada beberapa jenis/ragam penyandang disabilitas yakni:

1. Disabilitas fisik

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Cacat fisik antara lain:

a) cacat punggung b) cacat tangan c) cacat jari d) cacat kaki

e) cacat pembawaan f) cacat leher g) cacat netra h) cacat rungu i) cacat raba (rasa) j) cacat wicara

Cacat tubuh atau tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarati rugi atau kurang, sedangkan daksa berarti tubuh. Jadi tuna daksa ditujukan bagi mereka yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna.

4

5 Undang-Undang Republik Indonesia NOMOR 8 Tahun 2016, Tentang Penyandang Disabilitas.

(17)

4 2. Disabilitas intelektual

Disabilitas intelektual adalah suatu keterbatasan, baik secara intelektual maupun bersosialisasi yang dapat mengurangi kemampuan respons anak.

3. Disabilitas mental

Penyandang disabilitas mental mengalami keterbatasan akibat gangguan pada pikiran atau otak. Disabilitas mental, termasuk bipolar, gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya. Mereka yang mengalami disabilitas mental dapat mengalami kesulitas untuk berkonsentrasi, berpikir, mengambil keputusan, dan mengutarakan isi pikiran mereka.

4. Disabilitas sensorik

Disabilitas sensorik adalah keterbatasan fungsi panca indra. Yang termasuk jenis disabilitas ini, antara lain disabilitas wicara, rungu, dan netra. Untuk membantu penyandang disabilitas netra, Anda perlu mempelajari cara khusus berinteraksi dengan mereka. Ketahuilah jenis sentuhan dan nada bicara yang bisa Anda gunakan untuk berkomunikasi.

Berdasarkan pengertian sebelumnya terhadap penyandang disabilitas, maka diperlukan peran serta segenap pemerintah maupun warga negara untuk dapat memberikan ruang dan waktu bagi para penyandag disabilitas untuk hidup dan berkarya seperti masyarakat pada umumnya, karena bagi penyandang disabilitas terdapat hak asasi manusia yang melekat pada masing-masing dirinya sejak lahir. Kelainan fisik maupun mental yang dialami oleh segelintir warga negara Indonesia bukanlah menjadi alasan bagi mereka tidak memperoleh haknya dari pemerintah ataupun warga negara Indonesia sendiri. Namun nyatanya mereka yang dalam hal ini adalah penyandang difabilitas seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya mereka terima, bahkan mereka yang seharusya mendapatkan perhatian lebih malah tak jarang menemukan diskriminasi.6

6

-43

(18)

5

Agus Riwanto menjelaskan bahwa salah satu segmen pemilih yang kurang mendapatkan perhatian dan terdiskriminasi secara sistematik dalam pemilu di Indonesia adalah kelompok disabilitas. Begitu pula dengan kelompok penyandang disabilitas mental yang masih mempunyai hak pilih yang telah di atur dalam Undang-Undang. Pada pilpres 2019 penyandang disabilitas mental mendapatkan hak pilih dalam pemilu, namun implementasinya masih berjalan kurang baik, sehingga masih banyak surat suara yang masih sia-sia.7

Selanjutnya hal yang sama kembali terjadi pada pemilihan Wali Kota yang ada di Kota Mataram pada tahun 2020. Pada pemilihan Wali Kota di Mataram 2020, penyandang disabilitas mental masih cukup tinggi, namun implementasi pelayanan masih belum jelas sehingga masih banyak penyandang disabilitas mental yang tidak menyalurkan hak pilihnya.8

Yang dimaksud dengan disabilitas mental adalah terganggu fungsi fikir, emosi dan perilaku yang meliputi:

1. Psikososial diantaranya skizovenia, bipolar, depresi, anxietas dan gangguan kepribadian.

2. disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial seperti autis dan hiperaktif.

Dari hasil observasi awal yang peneliti dapatkan, bahwa jumlah penyandang disabilitas mental yang ada di Kota Mataram berjumlah 86 orang yang terbagi dari 6 Kecamatan, sebagai berikut:

Nama kecamatan Jumlah disabilitas mental

1 Selaparang 19

2 Sandubaya 12

3 Sekarbela 14

4 Mataram 12

7 Henny Andriani dan Feri Asmara, Hak Pilih Kelompok Penyandang Disabilitas dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 di Sumatra Barat, Jurnal konstitusi, Vol. 17. No. 4 Desember 2020, hlm 779.

8 Kepala Lingkungan, Wawancara, Tanggal 31 Maret 2022

(19)

6

5 Ampenan 17

6 Cakranegara 12

Sumber : kasi rehabilitasi dan pelayanan sosial penyandang disabilitas dan korban napza dinas sosial kota mataram.9

Melihat jumlah penyandang disabilitas mental di atas, dengan observasi awal yang peneliti dapatkan dari 6 kecamatan yang ada di Kota Mataram, bahwa selama penyelenggaraan pemilu atau pilkada di Kota Mataram, KPU belum pernah memberikan arahan atau sosialisasi terkait bagaimana penyandang disabilitas mental agar surat suara yang diberikan tidak sia-sia. Hal tersebut yang menjadi alasan peneliti untuk mengkaji terkait KPU dalam mengimplementasikan pelayanan yang diberikan terhadap penyandang disabilitas mental.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan, maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut, bagaimana implementasi KPU dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental dalam pilkada 2020 di kota Mataram.?

C. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan penelitian ini adalah untuk :.

Untuk mengetahui implementasi KPU dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental dalam pilkada 2020 di kota Mataram.

2. Manfaat penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan nantinya dapat memberi manfaat bagi mahasiswa-mahasdiswi baik dalam bidang akademik maupun praktis :

a. Manfaat akademik

1) Diharapkan penelitian ini dapat berguna bagi semua kalangan dan memberi sumbangan pengetahuan tentang implementasi KPU dalam memberikan pelayanan

9 Zulfa Nur Azizah, Dinas Sosial, Wawancara Dan Pengambilan Data Penyandang Disabilitas Mental, Tanggal 11 Mei 2022

(20)

7

penyandang disabilitas mental, khususnya bagi penyandang difabilitas mental di kota mataram.

2) Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi masyarakat luas khususnya mahasiswa Universitas Islam Negeri Mataram.

b. Manfaat secara praktis

Diharapkan bagi mahasiswa Pemikiran Politik Islam dapat menjadikan penilitian ini sebagai sumber informasi mengenai hak pilih bagi penyandang disabilitas mental.

D. Ruang Lingkup dan Setting penelitian 1. Ruang lingkup penelitian

Agar penelitian terarah dengan baik dan tidak melebar maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian, yang di pusatkan kepada penjelasan mengenai implementasi KPU dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental.

2. Setting penelitian

Adapun penelitian ini dilakukan di KPU Kota Mataram NTB, tahun 2021. Adapun alasan peneliti mengambil lokasi penelitian di KPU adalah: KPU merupakan lembaga penyelenggara pemilu, yang mengatur tentang hak pilih masyarakat termasuk penyandang disabilitas mental.

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka (literature reviewe) merupakan suatu hal yang mengkaji tentang penelitian sebelumnya yang bersangkutan dengan penelitian yang diteliti oleh seorang peneliti. Telaah pustaka dilakukan guna untuk menghindari duplikasi selain itu telaah pustaka juga dilakukan guna untuk mengetahui apakah penelitian tersebut sudah pernah dilakuan atau belum. Di samping itu untuk menemukan perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan.

Peneliti menemukan beberapa penelitian yang sudah di lakukan oleh peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan implementasi KPU dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental. Sebagai berikut :

(21)

8

1) Jodi Agustin Kusuma, Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Mataram, Pada Tahun 2019. Dengan Judul Skripsi : Strategi Komisi Pemilihan Umum Lombok Timur Dalam memberikan Pendidikan Politik Terhadap Penyandang Disabilitas Pada Pemilu 2019 (studi kasus KPUD Lombok timur).10

Penelitian dalam skripsi dari saudara Jodi Agustin Kusuma lebih membahas mengenai factor-faktor dan strategi yang di jalankan KPU dalam memberikan pendidikan politik bagi penyandang disabilitas, guna untuk meningkatkan pemilih penyandang disabilitas yang masi belum sadar akan pentingnya hak pilih dalam pemilu.

2) Muhammad Wahyu Gustian, Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya Indralaya, Ogan LIir 2021, dengan judul skripsi : Implementasi Kebijakan Pemilih Disabilitas Mental Pada Pemilihan Umum Tahun 2019 di Kota Palembang.11

Penenlitian dari saudara Muhammad Wahyu Gustian lebih berfokus pada hasil dari impelementasi kebijakan pemilih disabilitas mental di kota palembang apakah sudah baik atau tidaknya kinerja komisi pemilihan umum dalam pemilihan umum.

Penelitian ini berfokus pada partisipasi penyandang secara umum seperti cacat fisik.

3. Anggi Oktariana, Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 1441 H/2020 M, dengan judul

10

Skripsi, Fakultas Ilmu Social Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Mataram, 2019).

11 Muhammad Wahyu G

skripsi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya Indralaya, Ogan Liir 2021).

(22)

9

skripsi : Pemenuhan Hak Pilih Disabilitas Mental Oleh KPU Provinsi DKI Jakarta Pada Pemilu 2019.12

Penelitian dari Anggi Oktariana berfokus pada bagaimana upaya KPU dalam pemenuhan hak pilih penyandang disabilitas mental di salah satu panti sosial psikotik di Jakarta.

4. Julham, Departemen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan 2020, dengan judul skripsi : Keikutsertaan Penyandang Disabilitas Mental Dalam Proses Penyelenggaraan Pemilu Di Kota Medan Tahun 2019.13

Penelitian dari saudara julham lebih berfokus pada keikutsertaan penyandang disabilitas mental dalam pemilihan umum.

5. Widianingsih, Prodi Hukum Tata Negara,

Dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh 2020 M/1441 H, dengan judul skripsi : Hak Pilih Orang Yang Mengalami Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Umum Berdasarkan Persfektif Hukum Islam.14

penelitian ini lebih berfokus pada hak pilih penyandang disabilitas menurut hukum islam.

6. Syahruni, Program Study Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Makassar, Dengan Judul Skripsi : Strategi Pelayanan Publik Bagi Penyandang Disabilitas Di Kantor Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Takalar.15

12 Disabilitas Mental Oleh KPU

skripsi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 1441 H/2020 M).

13

Skripsi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan 2020).

14

Skripsi Fakulta

Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh 2020 M/1441 H).

15

Study Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Makassar)

(23)

10

7. Asrini, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Dengan Judul Skripsi : Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Dalam Pelayanan Publik Di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bone.16

8. Susi Wulandari, Program Study Tata Negara, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Dengan Judul Skripsi: Implementasi Hak Politik Undang- Undang No.8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas Mental Persfektif Fiqh Siyasa.17

Dari beberapa sumber penelitian di atas memiliki kesamaan mendasar mengenai penyandang disabilitas dalam pemilu akan tetapi konteknya yang berbeda.Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mempunyai beberapa kaitan dengan skripsi yang sudah dijelaskan diatas seperti skripsi dari Jodi Agustin Kusuma, Muhammad Wahyu Gustian, Anggi Oktariana, Julham, dan Widianingsih. namun dari kelima skripsi tersebut memiliki perbedaan yaitu skripsi dari Jodi Agustin Kusuma lebih berfokus pada strategi Komisi Pemilihan Umum untuk penyandang disabilitas pada umumnya sedangkan Skripsi dari Wahyu Gustian, Anggi Oktariana, Julham, dan Widianingsih lebih kepada penyandang difabilitas mental. Akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan yang mana fokus bahasan yang diambil adalah tentang implementasi pelayanan yang diberikan Komisi Pemilihan Umum kepada penyandang disabilitas mental pada pemilihan Wali Kota di kota Mataram.

16

skripsi Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar)

17 -Undang No.8 Tahun

(skripsi Program Study Tata Negara, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

(24)

11 F. Kerangka Teori

Terkait strategi KPU dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang disabilitas mental peneliti menggunakan teori implementasi kebijakan publik agar bisa menganalisis dinamika yang diuraikan dalam latar belakang rumusan masalah.

Analisis kebijakan publik adalah salah satu disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan berbagai macam metode/teknik kebijakan publik dan gagasan guna menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik memecahkan masalah- masalah kebijakan. Sedangkan kebijakan publik merupakan suatu hal yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakan oleh pemerintah terkait masalah-masalah yang sedang dihadapinya.

Sedangkan Thomas R. Dye, Edward dan Sharkashy menjelaskan pengertian kebijakan yang agak sama yang dimana kebijakan sebagai suatu tindakan, pilihan dan keputusan yang dilakukan pemerintah dalam hal pencapaian tujuan kebijakan.

Menurut James E. Anderson menjelaskan bahwa kebijakan adalah arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh sesorang atau sejumlah orang dalam mengatasi suatu masalah atau suatu perubahan. Jadi konsep kebijakan ini berfokus pada hal yang nyata dilakukan dan bukan apa yang dimaksudkan, dan konsep ini membedakan kebijakan dengan keputusan diantara berbagai pilihan.18

Fredrickson dan Hart menjelaskan bahwa kebijakan merupakan suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang disusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan- hambatan tertentu sambil mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan-tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.19

Komponen-komponen dalam kebijakan sebagai berikut:

18 Abdul Aziz Dan Humaizi, Implementasi Kebijakan Publikstudi Tentang Kegiatan Pusat Informasi Pada Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara, Vol. 3. No.1. Juni 2013. hlm 7.

19 Ibid, hlm 7.

(25)

12 1) Tuntunan kebijakan 2) Kebijakan publik 3) Pertanyaan kebijakan 4) Keputusan kebijakan 5) Hasil kebijakan

Dari uraian di atas diperoleh suatu gambaran bahwa, implementasi kebijakan publik merupakan proses kegiatan administratif yang dilakukan setelah kebijakan ditetapkan/disetujui. Kegiatan ini terletak di antara perumusan kebijakan dan evaluasi kebijakan. Implementasi kebijakan mengandung logika yang top-down, maksudnya menurunkan/menafsirkan alternatif-alternatif yang masih abstrak atau makro menjadi alternatif yang bersifat konkrit atau mikro.

Sedangkan formulasi kebijakan mengandung logika bottom-up, dalam arti proses ini diawali dengan pemetaan kebutuhan publik atau pengakomodasian tuntutan lingkungan lalu diikuti dengan pencarian dan pemilihan alternatif cara pemecahannya, kemudian diusulkan untuk ditetapkan.

Terdapat dua hal mengapa implementasi kebijakan pemerintah memiliki relevansi, yang pertama, secara praktis akan memberikan masukan bagi pelaksanaan operasional program guna untuk mengetahui apakah program sudah berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Yang kedua, memberikan alternative model pelaksanaan program yang lebih baik. Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas dapat di simpulkan bahwa proses implementasi kebijakan itu sebetulnya tidak hanya menyangkut perilaku badan administrative yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan dalam diri suatu kempok yang ditujukan, melainkan menyangkut jaringan kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang langsung atau tidak langsung yang akhirnya berpengaruh pada tujuan kebijakan baik yang positif maupun negatif. Secara sederhana tujuan implementasi kebijakan yaitu untuk menetapkan arah supaya tujuan kebijakan publik dapat terealisasikan sebagai hasil dari kegiatan pemerintah.

(26)

13

Dalam rangka untuk mengimplementasikan kebijakan publik dikenal dengan beberapa model antara lain :

1. Model Gogin

Untuk mengimplementasi kebijakan menggunakan model gogin ini dapat mengidentifikasikan variabel-variabel yang mempengaruhi tujuan formal pada keseluruhan implementasi yaitu:

a. Bentuk dan isi kebijakan, termasuk didalamnya kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi.

b. Kemampuan dari organisasi dengan segala sumber daya berupa dana maupun insentif lainnya yang akan mendukung implementasi secara efektif.

c. Pengaruh lingkungan dari masyarakat entah itu berupa motifasi karakteristik, kecenderungan hubungan antara warga, termasuk cara berkomunikasi.

2. Model Grindle

Sebagaimana yang telah dikutip oleh wahab, grindle menciptakan suatu model implementasi sebagai kaitan antara tujuan suatu kebijakan dengan hasilnya, lalu hasil dari kebijakan tersebut akan dipengaruhi oleh isi kebijakan yaitu : a. Kepentingan yang dipengaruhi

b. Tipe-tipe manfaat

c. Derajat perubahan yang diharapkan d. Letak pengambilan keputusan e. Pelaksanaan program

f. dan sumber daya yang dilibatkan

Isi dari sebuah kebijakan akan menunjukan posisi pengambilan keputusan oleh sejumlah besar pengambilan kebijakan,dan sebaliknya ada kebijakan tertentu yang lainnya hanya pengambilan kebijakan. Pengaru yang lainnya adalah lingkungan yang terdiri dari :

a. kekuasaan kepentingan dan strategi actor yang terlibat b. karakteristik lembaga penguasa

(27)

14 c. kepatuhan dan daya tanggap.20 3. Model van meter dan van horn

Model pendekatan implementasi kebijakan yang dirumurkan Van Meter dan Van Horn disebut dengan A Model of the Policy Implementation. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau permofmansi suatu pengejewan paham kebijakan yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan yang tinggi yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel. Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik, pelaksana bahwa kinerja kebijakan dipengaruhi oleh beberapa variabel-variabel tersebut yaitu :

Model implementasi kebijakan ini dipengaruhi oleh 6 faktor yaitu:

a. Standar dan sasaran kebijakan

Untuk mengukur kinerja implementasi kebijakan tentunya menegaskan standar dan sasaran kebijakan tertentu yang harus dicapai para pelaksana kebijakan.

Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yan dapat menyebabkan terjadinya konflik diantara para agen implementasi.

b. Sumber daya

Keberhasialan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya terpenting dalam menentukan keberhasilan atau implementasi kebijakan. Setiap tahap implementasi menuntut adanya sumber daya yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan oleh kebijakan yang telah ditetapkan secara apolitik. Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan waktu menjadi perhitungan penting dalam keberhasilan implementasi kebijakan.

20 Ibid, hlm 7.

(28)

15

c. Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksana

Agar kebijakan publik bisa dilaksanakan dengan efektif, menurutVan Horn dan Van Mater (dalam Widodo 1974) apa yangmenjadi standar tujuan harus dipahami oleh para individu(implementors). Yang bertanggung jawab atas pencapaian standardan tujuan kebijakan, karena itu standar dan tujuan harus dikomunikasikan kepada para pelaksana.

Komunikasi dalam kerangka penyampaian informasi kepada para pelaksana kebijakan tentang apa menjadi standar dan tujuan harus konsisten dan seragam (consistency and uniformity) dari berbagai sumber informasi. Jika tidak ada kejelasan dan konsistensi serta keseragaman terhadap suatu standar dan tujuan kebijakan, maka yang menjadi standar dan tujuan kebijakan sulit untuk bisa dicapai. Dalam berbagai kasus, implementasi sebuah program terkadang perlu didukung dan dikoordinasikan dengan instansi lain agar dicapai keberhasilan yang diinginkan

d. Karakteristik organisasi pelaksana

Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan. Hal ini penting karena kinerja implementasi kebijakan akan sangat dipengaruhi oleh ciri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksananya. Hal ini berkaitan dengan konteks kebijakan yang akan dilaksanakan pada beberapa kebijakan dituntut pelaksana kebijakan yang ketat dan displin. Pada konteks lain diperlukan agen pelaksana yang demokratis dan persuasif. Selain itu, cakupan atau luas wilayah menjadi pertimbangan penting dalam menentukan agen pelaksana kebijakan. Sejauh mana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, termasuk di dalamnya karakteristik para partsisipan yakni mendukung atau menolak.

(29)

16

e. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik

Kondisi sosial, ekonomi dan politik mencakup sumber daya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. perlu diperhatikan guna menilai kinerjaimplementasi kebijakan adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi sumber masalah dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Karena itu, upaya implementasi kebijakan mensyaratkan kondisi lingkunganeksternal yang kondusif.

f. Sikap para pelaksana

Menurut pendapat Van Metter dan Van Horn dalam sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana kebijakan sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan.

Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat top down yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak mengetahui bahkan tak mampu menyentuh kebutuhan, keinginan

Disposisi implementator mencakup tiga hal penting, yaitu : 1) Respon implementator terhadap kebijakan, yang akan

mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan,

2) Kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan, 3) Intensitas disposisi implementator yakni preferensi nilai

yang dimiliki oleh implementator.21

21 Deddy Mulyadi, Study Kebijakan Publik Dan Pelayanan Publik, Edisi Ketiga (Bandung, Alfabeta Cv, 2018) hlm 72.

(30)

17

Kerangka teori van meter dan van horn

4. Model deskriptif

William N. Dun menjelaskan bahwa tipe kebijakan dapat diperbandingkan dengan dan dipertimbangkan menurut sejumlah banyak asumsi, yang terpenting diantaranya yaitu perbedaan menururt tujuan, model penyajian, fungsi metodologis model. Terdapat dua bentuk pokok dari model kebijakan model deskriptif dan normatif. Deskriptif lebih ke menjelaskan atau meramalkan sebab akibat pilihan kebijakan.

Model kebijakan tersebut guna untuk memonitor hasil tindakan kebijakan contohnya seperti laporan tahunan terkait kegagalan dan keberhasilan terkait kerja di lapangan.22

William dun menjelaskan bahwa kebijakan publik merupakan serangkaian pilihan yang kurang lebih berhubungan (termasuk keputusan untuk tidak berbuat) yang dibuat oleh badan-badan atau kantor-kantor pemerintah. Ripley dan Franklin mengatakan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan program dan ditijau dari tiga faktor yaitu:

22 Awan y. abdoellah dan yudi rusfiana, teori dan analisis kebijakan publik, (bandung, penerbit alfabeta, 2016). Hlm 27.

Standar dan sasaran kebijakan

Sumber daya

Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksana

Karakteristik badan pelaksana

Kondisi sosial, ekonomi, dan politik

Sikap para pelaksana

(31)

18

a. Persfektif, kepatuhan yang mengukur implementasi dari kepatuhan stake level buncancrats terhadap atas mereka.

b. Keberhasilan, implementasi diukur dari kelancaran rutinitas dan tindakan professional.

c. Implementasi, yang berhasil mengarah pada kinerja yang memuaskan semua pihak.

Peters mengatakan, implementasi kebijakan yang gagal disebabkan beberapa faktor :

a. Informasi

Kekurangan informasi dengan mudah mengakibatkan adanya gambaran yang kurang tepat baik kepada obyek kebijakan maupun kepada para pelaksana dari isi kebijakan yang akan dilaksanakannya dan hasil-hasil dari kebijakan itu.

b. isi keberhasilan

implementasi kebijakan dapat gagal karena masih samarnya isi atau tujuan kebijakan atau ketidak tepatan atau ketika tegasan atau ekstern atau kebijakan itu sendiri, menunjukan adanya kekurangan yang sangat berarti adanya kekurangan yang menyangkut sumber daya pembantu.

c. Dukungan

Implementasi kebijakan publik akan sangat sulit bila pada pelaksanaannya tidak cukup dukungan untuk kebijakan tersebut.

d. Pembagian potensi

Hal ini terkait dengan pembagian potensi diantaranya para aktor implementasi dan juga mengenai organisasi pelaksana dalam kaitannya dengan diferensiasi tugas dan wewenang.

(32)

19

Kerangka proses kebijakan public

a. Input

Sumber daya-sumber daya yang digunakan sebagai ujung tombak dalam proses administrasi maupun organisasi pelaksana.

b. Proses

Adalah proses interaksi antara aktor yakni antara instansi terkait sebagai pelaksana dengan pengusaha dan masyarakat.

c. Output

Yaitu keluaran yang dihasilkan langsung dari proses kebijakan tersebut.

d. Outcomes

Yaitu hasil yang diharapkan dimana akan memberikan tujuan kebijakan positif kepada dinas kominfo dan masyarakat sebagai penerima manfaat.

Dengan keempat metode dari implementasi kebijakan publik tersebut maka peneliti ingin mengamati sebuah implementasi terkait pelayanan KPU Kota Mataram terhadap penyandang disabilitas mental pada pemilihan Wali Kota dengan menggunakan model van meter dan van horn. peneliti menggunakan teori implementasi kebijkan publik agar peneliti mampu menganalisis dinamika yang ada sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

G. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau, memperoleh data yang diperlukan23. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode atau cara yang yang dilakukan dalam pengumpulan data-data terkait dengan

23 Irawan soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 1995) hlm. 9

input proses output outcomes

(33)

20

strategi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam memberikan pelayanan terhadap penyandang difabilitas mental yaitu :

1. Jenis Penilitian

Jenis penelitian lapangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, menurut jhon cresweel penelitian merupakan cara atau tahapan yang dimulai dari mengidentifikasi suatu masalah atau isu yang diteliti, lalu dilanjutkan dengan mereview bahan bacaan atau kepustakaan.

Setelah itu menentukan dan memperjelas tujuan dari peneltian, dilanjutkan dengan mengumpulkan dan menganalisis data.

Kemudian menguraikan data penelitian, dan diakhiri dengan pelaporan dari hasil penenlitian. 24

Terkait metode penelitian kualitatif, creswell mengartikan sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral.25 untuk itu agar memudahkan proses penelitian maka peneliti secara langsung turun kelapangan untuk langsung melakukan wawancara terhadap responden dengan mengajukan pertanyaan, lalu hasil dari pertanyaan tersebut dianalisa sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.

2. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis deskriptif. Menurut Arikunto analisis deskriptif adalah suatu pendekatan yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap objek yang di teliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya 26

Metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang sudah ada sebelumnya,

24 J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif, Jenis, Karakteristik Dan Keunggulannya, (Jakarta: PT Grasindo, 2010), hlm. 6.

25 Ibid, hlm.7.

26

Skripsi, Fakultas Ilmu Social Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Mataram, 2019)

(34)

21

kemudian data tersebut disusun diolah dan dianalisis untuk dapat memberikan gambaran masalah secara menyeluruh.

3. Kehadiran Peneliti

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif, yang menggunakan narasumber sebagai sumber data yang ada dalam penelitian yang diteliti. Kehadiran peneliti dalam pengumpulan data sangat penting dan wajib, karena dapat membangun hubungan antara narasumber dan peneliti dalam mengumpulkan data, disisi lain guna untuk mendapatkan data yang lebih valid dan akurat.

4. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian yang dilakukan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Mataram. Alasan peneliti melakukan penelitian di Komisi Pemilihan Umum karena lokasi tersebut merupakan lokasi yang sangat tepat untuk memperoleh data dan informasi yang valid dan relevan dengan permasalahan yang akan diteliti.

5. Sumber Data

Untuk mendapatkan data yang valid dan akurat dan dapat di pertanggung jawabkan maka peneliti menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data yaitu :

a. Sumber Data Primer

Dalam hal ini peneliti langsung terjun ke lokasi penelitian guna untuk melakukan wawancara sekaligus merekam setiap pembicaraan dari responden agar data yang diperoleh peneliti bersifat asli dan aktual dari sumber data.

Dalam penelitian ini data primer yang didapatkan peneliti bersumber dari ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Mataram, ketua Bawaslu, ketua Dinas Sosial,

pengamat politik, ketua lembaga

swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga-lembaga yang konsen terhadap penyandang difabilitas.

b. Sumber Data Sekunder

Dalam penelitian ini data sekunder yang diperoleh peneliti dapat bersumber dari Undang-Undang, bubu-buku,

(35)

22

jurnal hukum, skripsi dan dokumen-dokumen yang berkaitan dan dapat mendukung dalam proses penelitian.

6. Teknik Pengumplan Data

Teknik pengumpulan data merupakan prosedur yang sangat diperlukan dalam penelitian, karena dengan melakukan penelitian menggunakan teknik pengumpulan data maka penelitian yang di lakukan dapat memperoleh data-data yang tepat dan sesuai dengan judul yang diangkat dalm proses penelitian. Maka dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut :

1) Observasi

Observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran. Akan tetapi, observasi atau pengamatan disini diartikan lebih sempit yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan.27

Dalam melakukan penelitian peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara terjun langsung ke lapangan guna mendapatkan data yang akurat sesuai dengan apa yang akan di teliti. Observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif yaitu peneliti terlibat langsung dalam objek yang akan diteliti.28

2) Wawancara

Penelliti secara langsung melakukan proses wawancara kepada ketua KPU guna untuk memperoleh informasi ataupun gagasan yang berkaitan dengan implementasi pelayanan KPU Terhadap Penyandang Disabilitas Mental Dalam Pemilihan Wali Kota Di Kota Mataram ditahun 2020. Jenis wawancara yang digunakan yaitu tidak terstruktur, peneliti langsung mewawancarai ketua KPU dengan bebas dan mendalam. Hasil hasil dari

27 Irawan soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 1995) hlm. 69.

28 Yulin Citriadin, (Mataram Kalangan

Sendiri, 2007). hlm 65.

(36)

23

wawancara yang didapatkan akan dianalisis dan digunakan untuk mendeskripsikan terkait hasil yang diteliti.

3) Dokumentasi

Selain dari teknik observasi dan wawancara peneliti juga melakukan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi ini merupakan teknik pengumpulan data melalui pencarian dan menemukan bukti-bukti dari masalah yang diteliti.29 Dokumen yang diteliti dapat berbagai macam tidak hanya dokumen resmi, Dokumen tersebut dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat dll.30 Teknik ini digunakan peneliti untuk menemukan profil lembaga KPU yan berlokasi di Kota Mataram, struktur kepengurusan, beserta tugas dari setiap pengurus anggota. Sehingga peneliti dapat menganalisis data-data yang ditemukan.

7. Teknik analisis data

Teknik analisis data dimulai sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan, setelah selesai di lapangan, menurut Nasution bahwa proses analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun meneliti hingga penulisan hasil penelitian.31 Teknik analisis data merupakan mengumpulkan data yang ada lalu menyusun secara sistematis. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan Huberman 32 terdapat 3 jenis analisis data yaitu :

a. Reduksi Data

Data yang diperoleh di lokasi penelitian di jelaskan dalam bentuk tulisan yang lengkap dan terperinci. Dengan cara tersebut maka peneliti dapat dengan mudah memperoleh informasi.

29 Afifuddin Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 141.

30 Ibid, hlm. 70.

31 Metodologi Penelitian kualitatif. hlm.

215

32 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabet, 2012), hlm.

91-95.

(37)

24 b. Penyajian Data

Dalam penyajian data melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yaitu mengelompokan data yang satu dengan yang lainnya, sehingga data yang di kaji semuanya berhubungan, dan dapat di jelaskan dengan singkat dan jelas.

c. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab semua rumusan masalah yang rumuskan sejak awal, tetapi mungkin saja tidak, karena bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti- bukti yang kuat dalam taham pengumpulan data.

8. Validasi Data

Validasi data dapat digambarkan sebagai kegiatan penelitian untuk memastikan bahwa para pemangku kepentingan memiliki kebenaran atas hasil akhir dari penelitian dan diharapkan semua pertanyaan yang diajukan dapat terpenuhi. Maka dalam hal ini kegunaannya adalah untuk dapat memberikan cici-ciri ilmiah yang baik dan benar.

Untuk membuktikan keabsahan data, maka peneliti menggunakan teknik sebagai berikut :

a. Ketekunan peneliti

Ketekunan peneliti merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terstruktur dan dilakukan dengan benar- benar serius dan berkesinambungan dengan kenyataan yang ada ditempat penelitian, dan menemukan kriteria dan unsur-unsur yang relevan dengan persoalan yang ada lalu memfokuskan pengamatan dengan ketekutan hasil dari pengamatan dalam penelitian secara jelas dan rinci guna untuk mendapatkan data yang mendalam.

b. Triangulasi sumber data

Triangulasi sumber data yaitu teknik pengumpulan semua data dengan cara menggabungkan dari sumber data

(38)

25

yang ada.33 Peneliti menggunakan teknik triangulasi guna untuk menguji kredibilitasan data, yang dilakukan dengan cara mengecek data terhadap sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.34 Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan pengecekan data dengan melakukan wawancara terhadap ketua BAWASLU dan Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma. Dengan hasil wawancara kemudian peneliti memeriksa hasil pengamatan dan dokumen yang peneliti peroleh selama melakukan penelitian, hal ini dilakukan guna untuk mengetahui informasi ataupun gagasan yang berkaitan dengan Strategi KPU Dalam Memberikan Pelayanan Terhadap Penyandang Difabilitas Mental Dalam Pilkada Kota Mataram. Kemudian data-data yang telah di peroleh akan di uraikan, dikelompokan dengan pandangan yang sama, berbeda dan rinci dari beberapa sumber tersebut.

H. Sistematika Pembahasan

Dalam pemaparan skripsi, alur pemaparan dibagi dalam beberapa bagian. Masisng-masing bagian berisi pemaparan yang berbeda-beda tetapi merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya, yang bertujuan untuk mempermudah memahami dan membahas permasalahan yang ada dengan teliti. Adapun isi pemaparan dari masing-masing bagian sebagai beriku:

Bab pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab ke-dua, pada bagian paparan dan temuan memaparkan mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan, setiap temuan yang berhasil dikumpulkan yang berkaitan dengan hasil penelitian seperti lokasi dan keadaan tempat penelitian. Pada bagian ini juga mengungkap isi dari temuan yang telah berhasil dikumpulkan.

33 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, (Bandung Alfabeta, 2018). hlm. 274.

34 Ibid, hlm. 274-275.

(39)

26

Bab ke-tiga, dalam pembahasan ini, penulis menguraikan serta memaparkan data yang berhasil dikumpulkan dalam proses penelitian, data yang dikumpulkan sesuai dengan materi yang ingin disampaikan dengan mengacu pada kerangka teori serta metode yang telah diuraikan.

Bab ke-empat, pada bagian akhir ini hasil dari pembahasan yang diuraikan sebelumnya dikumpulkan dan dituangkan dalam simpulan terakhir terkait dengan masalah yang menjadi fokus perhatian utama.

(40)

27 BAB II

PAPARAN DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Gambaran umum KPU Kota Mataram

Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota mataram merupakan lembaga penyelenggara pemilu yang bersifat nasional, tetap dan mandiri seperti halnya KPU yang berada di daerah lain. KPU sebagai penyelenggara pemilu yang bertempat di jl. Dr.soejono, Lingkar Selatan, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang dasar Nonor 7 tahun 2017 menyatakan bahwa penyelenggara pemilu merupakan lembaga yang menyelenggarakan pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) sebagai satu kesatuan. Fungsi dari penyelenggara pemilu tersebut untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat, serta memilih Gubernur dan Walikota secara demokratis. Sehingga penyelenggaraan pemilu harus berkomitmen dan berpedoman pada asas LUBER JURDIL (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil).

(41)

28

Struktur Organisasi Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kota Mataram

Periode : 2019 s/d 2024

Struktur Organisasi

Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Kota Mataram KETUA

M. Husni Abidin, s. Ag.

DIVISI KEUANGAN, UMUM, LOGISTIK DAN

RUMAH TANGGA

Edy Putrawan, S.H

I Ketut Swena, S.H.

Syaifudin, S.H.

Sopan Sopian Hadi, S.E., Divisi M.M.

Perencanaan Data dan Informasi

Divisi Hukum Dan Pengawasan

Divisi Teknis Dan Penyelenggara

Divisi Sosialisasi, Pendidikan, Partisipasi Masyarakat

Dan SDM

SEKRETARIS

Lalu Agus Suhardiman, S.Kom

Fitriana Anwar, SE

Moch.

Wahyurridho, SH

Tanti Ujianti Hamim, SE

Lalu Amrullah, SH Kasubag Teknis

Penyelenggara Pemilu, Partisipasi Dan

Humas Kasubag

keuangan, Umum

Dan Logistik

Kasubag Perencanaan,

Data Dan Informasi

Kasubag Hukum Dan

SDM

(42)

29

2. Visi dan Misi Komisi Pemilihan Umum a. Visi

Menjadi Penyelenggara Pemilihan Umum yang Mandiri, Profesional, dan Berintegritas untuk terwujudnya Pemilu yang Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil (LUBER JURDIL).

b. Misi

1) Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, serta aksesibel.

2) Meningkatkan integritas, kemandirian, kompetensi, dan profesionalisme penyelenggara pemilu dengan mengukuhkan code of conduct penyelenggara pemilu.

3) Menyusun regulasi di bidang pemilu yang memberikan kepastian hukum, progresif, dan partisipatif.

4) Meningkatkan kualitas pelayanan pemilu untuk seluruh pemangku kepentingan.

5) Meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih dalam pemilu, pemilih berdaulat Negara kuat.

6) Mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemilu.

c. Tugas Wewenang dan Kewajiban KPU Kabupaten/Kota 1) Tugas

a) Menjabarkan program dan melaksanakan anggaran.

b) Melaksanakan semua tahapan penyelenggaraan di kabupaten/kota berdasarkan ketentuan peraturanperundang undangan.

c) Mengordinasikan dan mengendalikan tahapan penyelenggaraan oleh PPK, PPS, dan KPPS dalam wilayah kerjanya.

d) Menyampaikan daftar pemilih pada KPU Provinsi e) Memutakhirkan data pemilih berdasarkan data

pemilu terakhir dengan memperhatikan data data kependudukan yang disiapkan dan diserahkan oleh pemerintah dan menetapkannya sebagai daftar pemilih.

(43)

30

f) Melakukan dan mengumumkan rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilu anggota DPR, DPD, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, dan anggota DPRD Provinsi serta anggota DPRD Kabupaten/Kota yang bersangkutan berdasarkan berita acara hasil rekapitulasi suara di PPK.

g) Membuat berita acara penghitungan suara dan sertifikat penghitungan suara serta wajib menyerahkannya kepada saksi peserta pemilu peserta pemilihan umum, Bawaslu Kabupaten/Kota, dan KPU Provinsi.

h) Mengumumkan calon anggota DPRD Kabupaten/Kota terpilih sesuai dengan alokasi jumlah kursi setiap daerah pemilihan di Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan membuat berita acaranya.

i) Menindaklanjuti dengan segera temuan dan laporan yang disampaikan oleh Bawaslu Kabupaten/Kota.

j) Menyosialisasikan penyelenggaraan pemilu dan/

atau yang berkaitan dengan tugas dan wewenang KPU Kabupaten/Kota kepada masyarakat.

k) Melakukan evaluasi dan membuat laporan setiap tahapan penyelenggaraan pemilu.

l) Melaksanakan tugas lain yang diberikan KPU baik Provinsi maupun ketentuan perundang-undangan.

2) Wewenang

a) Menetapkan jadwal di Kabupaten/Kota.

b) Membentuk PPK, PPS dan KPPS dalam wilayah kerjanya.

c) Menetapkan dan mengumumkan rekapitulasi penghitungan suara pemilu anggota DPRD Kabupaten/Kota berdasarkan rekapitulasi penghitungan suara di PPK dengan membuat berita acara rekapitulasi suara dan sertifikat rekapitulasi suara.

(44)

31

d) Menerbitkan keputusan KPU Kabupaten/Kota untuk mengesahkan hasil pemilu anggota DPRD Kabupaten/Kota dan mengumumkannya.

e) Menjatuhkan sanksi administrative dan/atau menonaktifkan sementara anggota PPK dan anggota PPS yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilu berdasarkan putusan Bawaslu Kabupaten/Kota, putusan Bawaslu Provinsi, dan/atau ketentuan perundang-undangan.

f) Melaksanakan wewenang lain yang diberikan oleh KPU, KPU Provinsi, atau ketentuan peraturan perundang-undangan.

3) Kewajiban

a) Melaksanakan semua tahapan penyelenggaraan pemilu dengan tepat waktu.

b) Memperlakukan peserta pemilu dengan adil dan setara.

c) Menyampaikan semua informasi penyelenggaraan pemilu kepada masyarakat.

d) Melaporkan pertanggungjawaban penggunaan anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

e) Menyampaikan laporan pertanggungjawaban semua kegiatan penyelenggaraan pemilu kepada KPU melalui KPU Provinsi.

f) Mengelola, memelihara dan merawat arsip/dokumen serta melaksanakan penyusutan berdasarkan jadwal retensi arsip yang disusun oleh KPU Kabupaten/Kota berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh KPU dan Arsip Nasional Republik Indonesia.

g) Mengelola barang infentaris KPU Kabupaten/Kota berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan.

(45)

32

h) Menyampaikan laporan periodic mengenai tahapan penyelenggaraan pemilu kepada KPU dan KPU Provinsi serta menyampaikan tembusannya kepada Bawaslu.

i) Membuat berita acara pada setiap rapat pleno KPU Kabupaten/Kota dan ditanda tangani oleh ketua dan anggota KPU Kabupaten/Kota.

j) Melaksanakan dengan segera putusan Bawaslu Provinsi/Kota.

k) Menyampaikan data hasil pemilu tiap-tiap TPS pada tingkat Kabupaten/Kota kepada peserta pemilu paling lama 7 hari setelah rekapitulasi di Kabupaten/Kota.

l) Melakukan pemutakhiran dan memelihara data pemilih secara berkelanjutan dengan memperhatikan data kependudukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

m) Melaksanakan putusan DKPP, dan melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh KPU, KPU Provinsi dan peraturan perundang-undangan.35 B. Keikutsertaan penyandang Disabilitas Mental Dalam Pilkada

Tahun 2020 Di Kota Mataram

Suksesnya sebuah pilkada atau pemilu di berbagai daerah di Indonesia khususnya di Kota Mataram tidak lepas dari keterlibatan KPU sebagai penyelenggara pilkada. KPU kota mataram telah bekerja semaksimal mungkin untuk menyukseskan pilkada, tanpa adanya peran dan upaya untuk menyelenggarakan pemilu dengan baik maka mustahil penyelenggaraan pemilu dapat berjalan semestinya. Kesuksesan KPU Kota Mataram dalam menyelenggarakan sebuah pemilu dapat dilihat dari salah satu faktor yaitu terkait bagaimana pelayanan yang diberikan oleh pihak KPU itu sendiri, ketika pelayanan yang diberikan baik maka dapat dikatakan bahwa kinerja KPU tersebut sukses, hal ini

35 https://kota-mataram.kpu.go.id/page/read/34/struktur-organisasi (diakses pada 12 september 2022)

(46)

33

dikarenanakan salah satu misi dari KPU kota mataram (poin d tentang peningkatan pelayanan) telah tercapai.

Sebelum peneliti memaparkan hasil temuan terkait keikutsertaan penyandang difabilitas mental dalam pilkada tahun 2020 di Kota Mataram terlebih dahulu peneliti akan memaparkan dari beberapa data sekunder yang peneliti dapatkan mengenai penyandang disablitas yang ada di Kota Mataram.

Nama kecamatan Jumlah disabilitas mental

1 Selaparang 19

2 Sandubaya 12

3 Sekarbela 14

4 Mataram 12

5 Ampenan 17

6 Cakranegara 12

Sumber : kasi rehabilitas dan pelayanan sosial penyandang disabilitas dan korban napza dinas sosial kota mataram36

Maka dalam penelitian ini, peneliti menyajikan tentang keikutsertaan penyandang disabilitas mental dalam pilkada tahun 2020 di Kota Mataram sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Undang-Undang no 8 tahun 2016 tentang disabilitas. Dimana ini merupakan langkah awal untuk mengurai satu variabel paling penting dalam penelitian ini, agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami beberapa variabel yang lain. Oleh karena itu berdasarkan keikutsertaan penyandang disabilitas mental dalam pilkada di Kota Mataram peneliti akan menghadirkan data, dengan ini peneliti mewawancarai bapak Sopan Sopian Hadi dan bapak nengah nurghayatna untuk mendapatkan data.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum menyatakan bahwa salah satu upaya atau strategi yang dilakukan oleh KPU terkait keikutsertaan penyandang disabilitas mental dalam Pilkada tahun 2020, yakni dengan memberikan pelayanan bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit Jiwa. Hal ini dilakukan karena tidak semua penyandang difabilitas mental bisa memahami proses pesta

36 Zulfa Nur Azizah, Dinas Sosial, Wawancara Dan Pengambilan Data Penyandang Disabilitas Mental, Tanggal 11 Mei 2022

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat disabilitas di Desa Karangpatihan ini tergolong dalam penyandang disabilitas tunagrahita yaitu masyarakat dengan keterbelakangan mental (Imamudin, Mahardhani, dan

PAPI Light Issue VISION COMMENT It is important for aviation personnel to report the runway lighting condition to the airport operator directly if they found any abnormal condition..