• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN BERAS MISKIN (RASKIN) DI JORONG TABEK SIRAH KECAMATAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN BERAS MISKIN (RASKIN) DI JORONG TABEK SIRAH KECAMATAN "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDISTRIBUSIAN BERAS MISKIN (RASKIN) DI JORONG TABEK SIRAH KECAMATAN

TALAMAU KABUPATEN PASAMAN BARAT

ARTIKEL

ARIMA NELDA 12070167

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATRA BARAT

2016

(2)
(3)

Implementation of Distribution of Rice Poor (Raskin ) in Jorong Tabek Sirah, District Talamau, Pasaman District

Oleh :

Arima Nelda ¹ Drs. Nilda Elfemi, M. Si ² Rio Tutri, M. Si ³

* The Sosiology education student of STKIP PGRI Sumatera west.

** The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI Sumater west

ABSTRACT

This research was motivated by the existence of irregularities or errors in the distribution of Raskin. The mistake it is contrary to the rules that have been made by the central government and the rules that exist in the law on Raskin. The mistake was very influential on the smooth passage of Raskin program and will lead to consequences for the poor, so that researcher interested to know how Rice Distribution Implementation Poor (Raskin) in Jorong Tabek Sirah, District Talamau, West Pasaman. The purpose of this study is: to describe the distribution of rice Implementation Poor (Raskin) in Jorong Tabek Sirah, District Talamau, West Pasaman.

The theory used is functional structural Robert K. Merton. This study used a qualitative approach and descriptive invitation. Selection of informants using purposive sampling technique. Data used primary data and secondary data.

Methods of data collection of non-participant observation, in-depth interviews and document study. Her analysis unit groups, the existing system in Nagari Talu responsible for the distribution of Raskin. Analysis of the data used interactive data analysis Miles and Huberman.

These results indicate that the determination of Poor Households (RTM) in Jorong Tabek Sirah has not gone well, because in practice often misses the point where the number of families (KK) poor that have been determined by the central government to get Raskin does not comply with the number of poor families as recipients Raskin held in Jorong Tabek Sirah, District Talamau, West Pasaman.

Key Word:Sociology, Implementation

¹ Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.

² Pembimbing I, staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.

³ Pembimbing II, , staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP

PGRI Sumatera Barat.

(4)

ABSTRAK

Implementasi Pendistribusian Beras Miskin (Raskin) di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyimpangan-penyimpangan atau kekeliruan dalam pendistribusian raskin. kekeliruan itu tentunya sangat bertolak belakang dengan aturan-aturan yang telah dibuat oleh pemerintah pusat dan aturan-aturan yang ada pada undang-undang tentang Raskin. Kekeliruan itu sangat berpengaruh sekali terhadap kelancaran berjalannya program raskin dan akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi terhadap masyarakat miskin, sehingga saya sebagai peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana Implementasi Pendistribusian Beras Miskin (Raskin) di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

untuk mendeskripsikan Implementasi Pendistribusian Beras Miskin (Raskin) di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.

Teori yang digunakan adalah fungsional struktural Robert K. Merton.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dangan tipe deskriptif.

Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Jenis data yang digunakan data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data observasi non-participant, wawancara mendalam dan studi dokumen. Unit analisi nya kelompok yaitu sistem yang ada di Nagari Talu yang bertanggung jawab dalam pendistribusian raskin. Analisis data yang digunakan analisis data interaktif Miles dan Huberman.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Penentuan Rumah Tangga Miskin (RTM) di Jorong Tabek Sirah belum berjalan dengan baik, sebab pada pelaksanaannya sering kali tidak tepat sasaran yang mana jumlah Kepala Keluarga (KK) miskin yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat untuk mendapatkan Raskin tidak sesuai dengan jumlah KK miskin sebagai penerima Raskin yang dilaksanakan di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.

Key Wor: Sosiologi, Implementasi

¹ Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.

² Pembimbing I, staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.

³ Pembimbing II, , staf pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP

PGRI Sumatera Barat.

(5)

PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan persoalan kemanusiaan yang bersifat global. Artinya, kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian banyak orang di dunia. Meskipun dalam tingkatan yang berbeda, tidak ada satupun negara di jagat raya ini yang “kebal” dari kemiskinan.

Kemiskinan pada saat ini bukan hanya fenomena yang terjadi pada negara-negara berkembang akan tetapi juga ditemukan pada negara maju. Kemiskinan merupakan refleksi dari ketidak mampuan rumah tangga atau seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan standar yang berlaku (Suharto, 2009:14). Persoalan kemiskinan bukan hanya sebagai aspek ekonomi saja, tetapi juga menyangkut dimensi material, sosial, kultural, institusional dan struktural. Kemiskinan tidak bisa dipisahkan dengan perilaku dan budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat atau yang lazim disebut sebagai kemiskinan sruktural (Suharto, 2009:15).

Berdasarkan Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas (Program Pembangunan Nasional), pemerintah menetapkan upaya penanggulangan kemiskinan sebagai salah satu dari beberapa prioritas. Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa sasaran yang hendak dicapai dalam lima tahun adalah terlaksananya pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional, terutama usaha kecil, menengah, dan koperasi dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan berbasis pada sumber daya alam dan sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan. Serta mewujudkan kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat serta memberi perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja.

Berbagai upaya pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan untuk penanggulangan kemiskinan.

Upaya pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan terdapat dalam tiga klaster. Klaster I, Bantuan Terpadu Berbasis Keluarga. Tujuannya untuk mengurangi beban rumah tangga miskin melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, dan sanitasi.

Klaster II, Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan. Tujuannya untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip. Klaster III, Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil. Tujuannya untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil (Tulung, 2011:18).

Upaya pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan di Indonesia ini sebenarnya sudah banyak dilakukan sebab selama ini pemerintah telah melakukan berbagai program penanggulangan kemiskinan, tetapi program-program tersebut sampai saat ini belum ada yang maksimal karena target penurunan jumlah penduduk miskin dari program-program tersebut tidak tepat sasaran.

Program penanggulangan kemiskinan yang sudah dilakukan oleh pemerintah seperti Program Impres Desa Tertinggal (IDT). Keberhasilan program IDT tergantung pada tiga elemen yakni pemahaman seluk beluk kelompok dan wilayah sasaran yang hendak dituju oleh program, kesesuaian antara tujuan program dengan hakekat masalah yang dihadapi kelompok sasaran, serta pemilihan instrumen atau program yang paling cocok maupun ketersediaan segenap prasarana dan sarana penunjangannya. Ketiga syarat yang telah dipaparkan di atas masih belum menjamin keberhasilah program IDT karena masih banyak persyaratan keberhasilan program IDT ini (Basri, 1995:176-178).

Salah satu program pemerintah yang berkaitan dengan orang miskin adalah Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin). Program ini dilaksanakan di bawah tanggung jawab departemen dalam negeri dan Perum (Perusahaan Umum) Bulog sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) menteri dalam negeri dengan Direktur Utama Perum Bulog nomor 25 tahun 2003, yang melibatkan instansi terkait, pemerintah daerah dan masyarakat. Kebijakan Raskin dipandang sebagai langkah strategis mengingat perannya yang sangat berarti dalam membantu menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat miskin yang jumlahnya relatif banyak.

Berdasarkan peraturan menteri keuangan nomor 99/PMK.02/2009 tentang subsidi beras untuk masyarakat berpendapatan rendah bahwa berdasarkan Instruksi Presiden nomor 8 tahun 2008 tentang kebijakan perberasan, Perum Bulog diberikan penugasan oleh pemerintah untuk menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah. Menurut

(6)

Musawa (2009:10), program raskin merupakan subsidi pangan sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan pada keluarga miskin melalui pendistribusian beras yang diharapkan mampu menjangkau keluarga miskin yang menurut Pagu (Plafon Gubernur) Alokasi raskin Provins Jawa Tengah tahun 2008, masing-masing keluarga akan menerima minimal 10 kg/KK/bulan dengan durasi pendistribusian selama 10 bulan dengan harga netto sebesar Rp. 1.600/kg di titik distribusi.

Melalui program raskin, setiap Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) dapat membeli sejumlah beras di titik distribusi dengan harga yang lebih murah dari harga di pasaran (bersubsidi). Selama pelaksanaan program raskin dari tahun 1998 sampai 2011 jumlah beras yang dialokasikan untuk setiap RTS-PM mengalami beberapa kali perubahan, namun tetap pada kisaran 10-20 Kg/distribusi. Harga beras bersubsidi yang harus dibayar RTS-PM pada awal pelaksanaan program adalah Rp. 1.000/Kg di titik distribusi. Sejak tahun 2008 harganya dinaikkan menjadi Rp.

1.600/Kg. Frekuensi distribusi juga mengalami perubahan antara 10-13 distribusi per tahun atau rata-rata satu kali setiap bulan (Hastuti, 2012:1).

Namun dalam pelaksanaannya, program raskin senantiasa mengalami banyak tantangan dan kendala. Menurut lembaga penelitian Smeru (dalam Hastuti, 2012:3) ketepatan sasaran penerima merupakan kelemahan utama program Raskin, karena tidak seluruh rumah tangga miskin menerima beras miskin (Raskin) dan banyak rumah tangga tidak miskin yang menerimanya.

Berdasarkan pengalaman lapangan Smeru terkait kemiskinan menunjukan bahwa raskin umumnya dibagi secara merata kepada hampir seluruh rumah tangga atau paling tidak kepada rumah tangga yang lebih banyak dari sasaran. Menurut Musawa (2009:12) kebijakan raskin belum berjalan sesuai dengan sasaran program. Kenyataannya implementasi kebijakan raskin tidak selalu berpedoman penuh pada prosedur kebijakan karena tergantung pada kondisi dan situasi masyarakat setempat. Banyak pelaksanaan yang tidak sama dengan tujuan yang ada pada Pedum (pedoman umum) raskin. Berdasarkan hasil penelitian Musawa (2009), ketepatan sasaran program raskin yang terdapat di wilayah kelurahan Gajahmungkur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, ketidaktepatan sasaran didukung dengan data BPS yang tidak valid, karena pendapatannya tidak berkoordinasi dengan RT dan RW setempat (bersifat tertutup).

Tujuan mulia pemerintah untuk dapat memberikan akses yang lebih baik terhadap kebutuhan pangan bagi rumah tangga miskin atau kurang mampu ternyata masih terjadi ketimpangan. raskin yang seharusnya dijual kepada keluarga-keluarga miskin ternyata masih ada juga yang di jual kepada masyarakat yang mampu atau tidak tergolong masyarakat miskin. Salah sasaran ini sering kali menimbulkan ketidaktepatan penyaluran raskin sebab yang seharusnya kuantitas atau jumlah keluarga miskin yang di data sebagai penerima bisa lebih banyak atau lebih sedikit dari yang sebenarnya, sehingga pada akhirnya raskin yang dibagikan akan memberikan dampak kekurangan atau bahkan kelebihan jatah (Hasil observasi awal, Selasa 22 Januari 2016).

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena bertujuan untuk memahami fenomena tentang yang dialami oleh subjek penelitian. Tipe penelitian adalah deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati bertujuan untuk menyumbangkan pengetahuan secara mendalam. Tipe penelitian deskriptif ini untuk menggambarkan keadaan yang terjadi melalui data yang didapatkan, tipe penelitian ini merupakan pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

Informan penelitian berjumlah 9 orang, diambil dengan teknik purposive sampling dengan kriteria 1) sistem nagari Talu yang bertanggung jawab dalam pendistribusian raskin, 2) masyarakat penerima dan bukan penerima raskin di Jorong Tabek Sirah. Analisis data dilakukan dengan tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilakukan di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.

PEMBAHASAN

1. Tata Aturan Raskin di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.

Peraturan menteri keuangan nomor 99/PMK.02/2009 tentang subsidi beras untuk masyarakat berpendapatan rendah bahwa berdasarkan Instruksi Presiden nomor 8 tahun 2008 tentang kebijakan perberasan, Perum Bulog diberikan penugasan oleh pemerintah untuk menyediakan dan

(7)

menyalurkan beras bersubsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah. Menurut Musawa (2009:10), program raskin merupakan subsidi pangan sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan pada keluarga miskin melalui pendistribusian beras yang diharapkan mampu menjangkau keluarga miskin yang menurut Pagu (Plafon Gubernur) Alokasi raskin Provins Jawa Tengah tahun 2008, masing-masing keluarga akan menerima minimal 10 kg/KK/bulan dengan durasi pendistribusian selama 10 bulan dengan harga netto sebesar Rp. 1.600/kg di titik distribusi.

Peraturan Gubernur Sumatera Barat nomor 2 tahun 2015 tentang petunjuk pelaksanaan program subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah di profinsi Sumatera Barat tahun 2015 bahwa secara khusus kepada Perum Bulog di institusikan untuk menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah, dan rawan pangan yang penyediaannya mengutamakan pengadaan gabah/beras dari petani dalam negeri.

Penyaluran beras bersubsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran RTS-PM dalam memenuhi kebutuhan pangan. Selain itu juga untuk meningkatkan akses masyarakat berpendapatan rendah dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok sebagai salah satu hak dasarnya.

Aturan yang telah dibuat oleh pemerintah pusat mengenai Raskin tercantum dalam Keputusan Bupati Pasaman Barat nomor 188. 45/338/Bup. Pasbar/2015 tentang penunjukan panitia pelaksana kegiatan dan petugas pendistribusian Raskin kegiatan pengkoordinasian dan pengendalian Raskin pada badan pelaksanaan penyuluhan pertanian perikanan kehutanan pangan Kabupaten Pasaman Barat tahun anggaran 2015, bahwa tidak seluruh keluarga menerima bantuan Raskin. Orang yang berhak menerima bantuan Raskin yaitu keluarga yang tidak mampu dimana keluarga tersebut kesulitan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang menerima Raskin berdasarkan peraturan pemerintah pusat yaitu orang-orang yang ada pada data BPS (Badan Pusat Statistik) dimana orang tersebut merupakan orang-orang penerima BLT (Bantuan Lansung Tunai) dan memiliki kartu kuning tanda penerima.

Di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat ditemukan adanya aturan-aturan tersendiri yang mengatur pembagian Raskin. Aturan tersebut berbeda dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat, diantaranya yaitu pada pengambilan Raskin terlihat bahwa Raskin diterima satu kali dalam sebulan, satu kali dalam dua bulan, dan satu kali dalam tiga bulan. Di Jorong Tabek Sirah juga terdapat aturan bahwa setiap keluarga berhak mendapatkan Raskin kecuali keluarga yang tergolong PNS (Pegawai Negeri Sipil). Aturan ini dibuat oleh pemerintah jorong dan nagari berdasarkan Badan Musyawarah yang dilakukan di kantor Wali Nagari Talu. Aturan itu dibuat oleh niniak mamak dan disetujui oleh wali nagari, jorong, TKSK, kasi kesejahteraan soaial kecamatan, dan petugas raskin. Aturan itu adalah sebuah keputusan raskin yang mana raskin dibagikan kepada seluruh KK kecuali PNS. Keputusan ini tidak tertulis sebab ini hanya dibuat oleh petugas raskin kecamatan dan juga disetujui oleh Bulog.

Dari data yang di dapat berdasarkan hasil observasi awal, pendistribusian Raskin yang terjadi di Jorong Tabek sirah dibagikan oleh jorong secara merata, padahal Raskin tersebut seharusnya hanya di bagikan kepada masyarakat kurang mampu saja. Aturan yang ada di Jorong Tabek Sirah sudah melanggar aturan dari pemerintah pusat yang mana berdasarkan studi dokumen yang di dapat dari kantor camat berupa data penerima Raskin bahwa seharusnya penerima raskin di Jorong Tabek Sirah hanya 245 KK dengan beras yang di dapat sebanyak 15 Kg menjadi 4,5 Kg dengan jumlah KK sebanyak 596 KK. Pembagian Raskin dengan sistem bagi rata menyebabkan Raskin tidak hanya dinikmati oleh masyarakat miskin saja, namun masyarakat tidak miskin pun ikut menikmatinya. Selain itu, dikarenakan Raskin yang didistribusikan secara merata, hak yang seharusnya diterima oleh orang miskin menjadi terkurangi. Hal ini jelas tidak sesuai dengan aturan pembagian Raskin baik dalam Pedum Raskin maupun dalam peraturan pemerintah pusat.

Berdasarkan aturan-aturan tersebut dijelaskan bahwa setiap rumah tangga sasaran berhak menerima beras sebanyak 15 Kg/bulan. Namun, dikarenakan didistribusikan kepada semua rumah tangga baik miskin maupun tidak miskin, sehingga beras yang di terima oleh rumah tangga sasaran menjadi menyusut rata-rata sebanyak 4,5 Kg. Hal ini tidak ditindak lanjut oleh camat atau institusi yang bertanggung jawab sebab itu sudah menjadi keputusan bersama oleh petugas raskin dan sudah disetujui oleh Bulog pada saat melakukan musyawarah.

2. Proses Pengumpulan Data Calon Penerima Raskin.

(8)

Keputusan Bupati Pasaman Barat nomor 188.45/338/Bup.Pasbar/2015 tentang penunjukan panitia pelaksanaan kegiatan dan petugas pendistribusian Raskin kegiatan pengkoordinasian dan pengendalian Raskin pada badan pelaksanaan penyuluhan pertanian perikanan kehutanan dan ketahanan pangan kabupaten Pasaman Barat tahun anggaran 2015 menimbang bahwa untuk membantu kelancaran pelaksanaan pendistribusian beras untuk keluarga miskin (Raskin) dari titik distribusi sampai rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM) perlu ditunjuk panitia pelaksana dan petugas dan pendistribusian Raskin serta pengkoordinasian dan pengendalian Raskin pada badan pelaksana penyuluhan pertanian perikanan kehutanan dan ketahanan pangan Kabupaten Pasaman Barat.

Pelaksana dan petugas pendistribusian raskin membentuk sebuah struktur kegiatan, struktur tersebut terdiri dari panitia pelaksana kegiatan, petugas Raskin kecamatan, petugas pendistribusian kejorongan. Panitia pelaksanaan kegiatan bertugas menerima beras Raskin dititik distribusi yang ditandatangani pihak pertama (Perum Bulog) dan pihak kedua (pelaksana Raskin di lapangan), menyelesaikan pembayaran harga tebus beras Raskin (HTR) dan adminitrasi beras untuk keluarga miskin (Raskin) di wilayahnya, membentuk tim Koordinasi Raskin di tingkat kecamatan, menyetorkan hasil tebus beras Raskin (HTR) kepada Sub. Drivre Bulog Bukittinggi penampung HPB (harga pembelian beras) Raskin. dengan tenggang waktu antara 7-15 hari setelah beras diterima di titik distribusi.

Dari data yang di dapat, orang-orang yang terlibat dalam pendistribusian Raskin di kecamatan adalah orang-orang yang telah dipilih dan bisa menjalankan tugasnya. Orang-orang yang terlibat adalah bapak DS sebagai kesejahteraan Sosial Kecamatan Talamau, kemudian bapak FZ sebagai Koordinasi TKSK, bapak K sebagai petugas Raskin Kecamatan Talamau, dan jorong sebagai pengawas Raskin di tingkat jorong. Namun, berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan bahwa orang-orang yang dipilih dalam pengelola Raskin di Kecamatan khususnya di Jorong Tabek Sirah tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebab dalam proses pendistribusian Raskin terjadi kekeliruan seperti tidak tepat sasaran penerima Raskin. Kekeliruan itu dapat dilihat dari studi dokumen data penerima Raskin yang mana lebih dari separo masyarakat mampu mendapatkan Raskin sedangkan yang seharusnya mendapatkan Raskin adalah orang-orang yang tidak mampu.

3. Proses Pengumpulan Data Calon Penerima Raskin.

Peraturan Gubernur Sumatera Barat nomor 2 tahun 2015 tentang petunjuk pelaksanaan program subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah di Profinsi Sumatera Barat tahun 2015 menimbang bahwa program subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah (program raskin) bertujuan untuk memberikan bantuan bidang pangan (beras) kepada rumah tangga berpendapatan rendah guna memenuhi kebutuhan pokok dan mengurangi beban pengeluaran belanja keluarga melalui penjualan beras pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan.

Berdasarkan Surat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat No. B- 2143/KMK/Dep.II/XI/2007 tertanggal 30 November 2007, salah satu alternatif tindakan yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan ini diwujudkan dalam kebijakan Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) yaitu pendistribusian beras bersubsidi dengan ketentuan setiap rumah tangga memperoleh 10 Kg hingga 15 Kg selama 10 bulan dengan harga Rp. 1.600,-/Kg netto di titik distribusi dengan ketentuan Rp 4.616 harga beras/sesuai dengan HPP harga pembelian oleh pemerintah, sedangkan Rp 3.016 disubsidi oleh pemerintah/APBN. Namun sejak tahun 2009 sampai sekarang, penetapan jumlah beras per RTS-PM berubah menjadi 15 Kg/rumah tangga/bulan sehingga dalam setahun tiap rumah tangga memperoleh 180 Kg dengan harga yang tetap sama yaitu Rp. 1.600,-/Kg netto di titik distribusi. Frekuensi distribusi yang pada tahun-tahun sebelumnya 12 kali, pada tahun 2006 berkurang menjadi 10 kali, dan pada tahun 2007 sampai sekarang ini kembali menjadi 12 kali per tahun.

Pengumpulan data calon penerima Raskin di Jorong Tabek Sirah dilakukan oleh tim pusat melalui pendataan dan sensus penduduk yang dilakukan oleh petugas yang berwenang yaitu tim pendataan dari Badan Pusat Statistik, sehingga mendapatkan data-data atau KK (kepala keluarga) yang berhak mendapatkan bantuan sosial berupa bantuan beras kepada orang-orang miskin di tiap- tiap daerah. Data yang diperoleh dikirim ke daerah atau kepada pemerintah yang berwenang di masing-masing daerah sebagai pelaksanaan pendistribusian Raskin tersebut. Berikut wawancara

(9)

peneliti dengan beberapa pemerintah yang berwenang dalam pelaksanaan pendistribusian beras miskin.

Dari data yang diperoleh ditunjukan bahwa pembagian Raskin yang terjadi di Jorong Tabek Sirah tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat, sebab pembagian Raskin yang dilakukan di Jorong Tabek Sirah secara merata sementara pemerintah pusat hanya menyediakan beras miskin (Raskin) hanya untuk masyarakat yang kurang mampu. Kesalahan dan kekeliruan yang terjadi pada pendistribusian Raskin di Jorong Tabek Sirah terjadi karena tuntutan dari masyarakat yang mana masyarakat yang ada di Nagari Talu khususnya di Jorong Tabek Sirah menganggap bahwa mereka sama-sama berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah khususnya yaitu bantuan beras untuk masyarakat miskin (Raskin) tanpa merasa malu menganggap dirinya miskin padahal mereka orang-orang mampu. Namun, masyarakat bertindak seperti itu karena penerima Raskin berdasarkan data dari BPS banyak masyarakat mampu yang terdata. Berdasarkan data dari BPS banyak golongan PNS yang masuk ke dalam data itu, itulah sebabnya masyarakat komplen kepada jorong. Sebenarnya dahulu orang yang diberi bantuan raskin ini adalah orang- orang yang menerima BTL (Bantuan Langsung Tunai) namun kesalahan pada data itu masih ada masyarakat yang tidak terdaftar. Maka dari itu dibuatlah sebuah keputusan yang mana raskin dibagikan kepada seluruh KK.

Adanya kesalah pahaman yang terjadi di antara masyarakat dengan jorong membuat jorong mengambil sebuah keputusan yang mana keputusan tersebut adalah hasil dari musyawarah wali nagari, jorong, niniak mamak, tokoh masyarakat, dengan Bamus yang mana beras dibagi secara merata (semua KK yang ada di Jorong Tabek Sirah dijadikan penerima Raski) agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara jorong dengan masyarakat. Dilihat dari hasil wawancara dengan jorong dan masyarakat jorong Tabek Sirah dapat dilihat bahwa titik kekeliruan yang terjadi pada pendistribusian Raskin terjadi karena data dari pusat yang di data oleh pendataan BPS tidak akurat karena data BPS yang digunakan masih data pada tahun 2010, sedangkan orang-orang yang ada pada data tahun 2010 itu pada saat ini sudah ada yang meninggal dan sudah banyak juga kehidupan atau perekonomiannya yang bagus.

Menurut penulis kesimpulan yang di dapat dari hasil wawancara dengan informan, bahwa dalam penentuan rumah tangga sasaran itu dilakukan oleh tim pusat melalui pendataan atau sensus penduduk yang dilakukan oleh petugas yang berwenang yaitu oran-orang dari Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga mendapatkan data-data atau KK yang berhak mendapatkan bantuan sosial tersebut berupa bantuan beras kepada orang-orang miskin di tiap-tiap daerah. Program tersebut dilaksanakan oleh pemerintah daerah serta petugas yang ditunjuk yaitu camat, wali nagari, jorong, kesejahteraan sosial, petugas Raskin, tenaga kerja kesejahteraan sosial dalam pelaksanaan program tersebut. Namun kenyataan yang ditemukan di lapangan dalam penentuan rumah tangga miskin dan ketika pelaksanaan program Raskin kurang sesuai dengan semestinya.

Dari hasil studi dokumen yang diperoleh dapat dilihat bahwa jumlah KK atau data yang diperoleh dari pusat berbeda dengan jumlah KK atau data yang terdapat pada pelaksanaan pendistribusian beras miskin di lapangan. Jumlah KK yang diperoleh dari pusat rumah tangga yang berhak menerima bantuan untuk Jorong Tabek sirah adalah ± 245 KK, tetapi pada pelaksanaannya di lapangan jumlah masyarakat miskin yang menerima bantuan adalah ± 596 KK.

Kekeliruan ini terjadi karena masyarakat komplen kepada jorong karena masyarakat merasa bahwa mereka juga berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah yaitu berbentuk beras untuk keluarga miskin. Masyarakat tidak malu menganggap bahwa dirinya juga orang miskin sementara mereka yang setengah dari masyarakat penerima Raskin tersebut adalah masyarakat mampu.

4. Pelanggaran-pelanggaran dalam Pelaksanaan Raskin.

Program Raskin merupakan sebuah program yang dilakukan oleh pemerintah pusat dalam rangka untuk membantu kaum-kaum duafa atau orang-orang kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan pokok berbentuk beras dengan kualitas dan harga yang telah ditetapkan di seluruh Indonesia. Berdasarkan peraturan menteri keuangan nomor 99/PMK.02/2009, Raskin hanya disediakan untuk masyarakat yang kurang mampu. Raskin tidak dibenarkan apabila dibagikan kepada masyarakat yang mampu. Berdasarkan peraturan Gubernur Sumatera Barat nomor 2 tahun 2015 tentang petunjuk pelaksanaan program subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah di Provinsi Sumatera Barat tahun 2015 raskin adalah hak masyarakat berpendapatan rendah yang

(10)

diberikan dan ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka membantu mencukupi sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Apabila terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya, sihingga masyarakat berpendapatan rendah yang berhak mendapatkan raskin tidak mendapatkan haknya, maka diselesaikan sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Meski sudah ada larangan pembagiaan beras untuk keluarga miskin tidak dibagi rata, ternyata masih ada jorong-jorong yang melanggarnya. Sedikitnya semua jorong yang ada di Nagari Talu masih menggunakan sistem pembagian Raskin secara merata salah satunya yaitu Jorong Tabek Sirah, padahal pelaku pelanggaran peraturan ini bisa dijerat dengan pasal korupsi.

Dasar hukum yang digunakan dalam penyaluran Raskin adalah, berdasarkan peraturan Gubernur sumatera Barat nomor 2 tahun 2015 tentang petunjuk pelaksanaan program subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah di Provinsi Sumatera Barat tahun 2015. Jadi sangat lucu jika jorong dan camat mengatakan pada saat pertemuan dengan anggota DPRD mengaku tidak ada aturan yang menetapkan tentang sasaran penerima Raskin. Orang-orang yang terlibat dalam pendistribusian Raskin dibagi secara merata apabila diketahui oleh pemerintah pusat maka akan dipidanakan.

Petugas Raskin Kecamatan Talamau mengatakan, “sistem bagi rata Raskin dilakukan bukan hanya pada Jorong Tabek Sirah saja tetapi juga pada tiap-tiap nagari yang ada di Kecamatan Talamau. Sistem bagi rata dilakukan karena ketidakvalitan data dari pusat sehingga menyebabkan warga komplen kepada jorong karena yang seharusnya mendapatkan Raskin menjadi tidak dapat dan yang seharusnya tidak dapat menjadi dapat. Mengingat tercapainya suatu hubungan yang harmonis antara pihak jorong dengan warga setempat maka pembagian Raskin dibagi rata sesuai dengan hasil musyawarah yang dilakukan oleh wali nagari, jorong, niniak mamak, tokoh masyarakat, dan bamus (badan musyawarah) yang dilakukan di kantor Wali Nagari Talu dan disetujui oleh Dinas Sosial demi kelancaran pendistribusian Raskin di Kecamatan Talamau”.

Pembagian Raskin secara merata memang tidak diperbolehkan karena melanggar aturan yang telah dibuat oleh pemerintah pusat, tetapi kenyataannya dilapangan masih terjadi pembagian Raskin secara merata. berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada bapak Jorong Tabek Sirah “Pembagian Raskin secara merata yang terjadi di Kecamatan Talamau tidak diketahui oleh pemerintah pusat sebab peraturan itu dibuat oleh pemerintah daerah saja dan laporan yang dikirimkan kepada pusat adalah laporan yang sesuai dengan data yang sebenarnya. Pada dasarnya data dari pusat tidak digunakan dalam pendistribusian Raskin malainkan data yang digunakan adalah data yang dibuat oleh jorong dan data tersebut diberikan kepada Dinas Sosial. Hal ini tidak ditindak lanjut oleh pemerintah daerah sebab pembagian raskin secara merata sudah menjadi sebuah keputusan bersama oleh petugas raskin dan hal itupun juga disetujui oleh Bulog”.

“Akibat Raskin dibagi secara merata, Raskin yang seharusnya diterima oleh masyarakat miskin sebanyak 15 Kg/KK, akibat keluhan dari masyarakat yang juga ingin mendapatkan Raskin akhir nya Raskin dibagi secara merata dan Raskin yang diperoleh setiap KK menjadi 4,5 Kg dengan harga 1. 600/Kg. Namun pendistribusian Raskin ini memiliki kendala yaitu sering keterlambatan penyaluran dari pusat. Penyaluran Raski yang seharusnya datang sekali dalam sebulan, namun Raskin tersebut datang satu kali dalam dua bulan dan ada juga yang datang satu kali dalam tiga bulan. Selain itu, Raskin yang diperoleh tidak sesuai dengan mutu beras yang baik.

Pada awal-awal tahun beras yang diperoleh bagus, kemuadian pada akhir-akhir tahun beras yang diperoleh menjadi sangat jelek sekali atau tidak sesuai dengan standar mutu beras yang bagus” ujar bapak Jorong Tabek Sirah.

Dapat disimpulkan bahwa pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam Implementasi Pendistribusian Raskin di Jorong Tabek Sirah karena kurang akuratnya data dari pusat sehingga menyebabkan masyarakat komplen kepada jorong dan akhirnya jorong beserta petugas Raskin di kecamatan mengambil jalan pintas Raskin yang ada di Kecamatan Talamau dibagi secara merata agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara masyarakat setempat dengan jorong. Keputusan yang dibuat oleh jorong bukan hasil dari jorong sendiri tetapi hasil dari musyawarah wali nagari, jorong, niniak mamak, tokoh masyarakat dengan Bamus.

Data yang di dapat dari hasil wawancara dengan bapak TS bahwa awal mula yang menjadi titik kekeliruan pada pendistribusian Raskin di Jorong Tabek Sirah karena data yang di gunakan untuk pendistribusian Raskin itu tidak valid. Data yang di gunakan adalah data BPS yang mana data tersebut hasil dari pendataan BPS pada tahun 2010. Data yang digunakan pada saat ini masih

(11)

data BPS tahun 2010. Namun, yang menjadi masalah adalah data tersebut tidak sesuai lagi dengan data masyarakat miskin pada saat sekarang ini. Pada data BPS tahun 2010 itu orang yang ada pada data itu sudah ada yang meninggal dunia, pindah, dan juga sudah ada masyarakatnya yang perekonomiannya maju, sehingga data tersebut tidak valid lagi.

Akibat data BPS yang tidak valis, masyarakat tidak terima dengan adanya data BPS, masyarakat komplen kepada pihak jorong karena mereka juga merasa berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah salah satunya yaitu Raskin. Karena masyarakat itu komplen maka pada tanggal 17 April tahun 2012 di adakanlah sebuah musyawarah yang di adakan di kantor Wali Nagari Talu yang di adakan oleh wali nagari, jorong, niniak mamak, tokoh masyarakat dengan badan musyawarah (Bamus) dengan hasil musyawarah bahwasanya Raskin di bagikan secara merata dengan alasan agar masyarakat tidak komplen kepada jorong dan agar tercapainya suatu hubungan yang baik antara jorong dengan masyarakat setempat.

Namun, kebijakan yang diambil oleh wali nagari, jorong, niniak mamak, tokoh masyarakat dengan Bamus agar terjadi sebuah hubungan yang baik atau harmonis antara pihak jorong dengan masyarakat ternyata menimbulkan konsekuensi bagi masyarakat miskin. Konsekuensi yang ditimbulkan adalah orang miskin tidak menerima beras sesuai dengan semestinya yaitu 15 Kg/KK tetapi hanya sebanyak 4,5 Kg/KK. Akibatnya masyarakat miskin menjadi dirugikan karena mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan beras keluarga mereka dalam satu bulan itu, belum juga dengan turunnya beras Raskin yang datang sering terlambat. Masyarakat menjadi sulit dan harus membeli beras dengan harga mahal karena beras Raskin yang diterima tidak mencukupi untuk kebutuhan makan dalan satu bulan.

KESIMPULAN

Bedasarkan hasil penelitian dan wawancara dari informan tentang Implementasi Pendistribusian Beras Miskin (Raskin) di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat dapat disimpulkan bahwa implementasi pendistribusian Raskin yang ada di Jorong Tabek Sirah tidak sesuai dengan aturan yang telah di buat oleh pemerintah sebab pendistribusian Raskin yang terjadi di Jorong Tabek Sirah dibagi secara merata atau seluruh kepala keluarga (KK) mendapatkan Raskin. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang ada di Jorong Tabek Sirah komplen kepada jorong dengan alasan “mengapa mereka tidak mendapatkan Raskin sementara orang yang lebih tinggi ekonominya dari pada mereka dapat, apa beda kami dengan orang-orang yang mendapatkan Raskin, kami juga berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah”. Oleh karena itu sistem-sistem yang ada di nagari Talu yang bertanggung jawab dengan Raskin khusus nya di Tabek Sirah melakukan musyawarah, dari hasil musyawarah jorong mengambil sebuah kebijakan bahwa Raskin dibagi secara merata atau seluruh KK mendapatkan Raskin.

Penentuan rumah tangga miskin (RTM) di Jorong Tabek Sirah belum berjalan dengan baik, sebab pada pelaksanaannya sering kali tidak tepat sasaran yang mana jumlah KK miskin yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat untuk mendapatkan Raskin tidak sesuai dengan jumlah KK miskin sebagai penerima Raskin yang dilaksanakan di Jorong Tabek Sirah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Selain itu juga terdapat beberapa kendala atau hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan pendistribusian Raskin seperti ketidak tepatan waktu penyaluran Raskin sebab Raskin diterima satu kali dalam dua bulan, dan kualitas beras yang diterima oleh masyarakat kurang bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Suharto, Edi. 2009. Kemiskinan dan

Perlindungan Sosial di Indonesia. Bandung: Alfabeta.

Basri, Faisal H. 1995. Perekonomian

Indonesia Menjelang Abat XXI. Jakarta: Erlangga.

Tulung, Freddy H. 2011. Program Penanggulangan Kemiskinan Kabinet Indonesia Bersatu. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Direktorat Jenderal

Informasi dan Komunikasi Publik

Musawa, Mariyam. 2009. Studi Implementasi Program Beras Miskin (Raskin) di Wilayah Kelurahan Gajahmungkur Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. Tesis:

Universitas Diponegoro.

(12)

Hastuti, Dkk. 2012. Tinjauan Efektivitas Pelaksanaan Raskin Dalam Mencapai Enam Tempat. Jakarta: SMERU Research Institution.

Referensi

Dokumen terkait

Kejelasan informasi dalam komunikasi Implementasi Kebijakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai di Kantor Camat Utan, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa

Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa pada tahap menilai perencanaan anggaran dalam manajemen keuangan di Baznas Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2020 belum melaksanakan penyusunan