Impresi Kurs, Market Value dan Interest Rate terhadap Stock Price pada Sektor Perbankan yang Terdaftar di BEI Periode 2015 – 2017
Fauzi Hidayatulloh1 , Ratna Wijayanti Daniar Paramita2 , Emmy Ermawati3 STIE Widya Gama Lumajang
Email: [email protected]1 Email: [email protected]2
Email: [email protected]3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kurs, market value dan interest rate secara parsial terhadap stock price pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode statistik regresi linier berganda dengan sumber data internal dan jenis data sekunder yang berupa data laporan keuangan perusahaan. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 42 perusahaan dan diperoleh sampel dengan teknik sampling purposive sebanyak 30 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial variabel kurs, market value dan interest rate tidak berpengaruh signifikan terhadap stock price. Selanjutnya secara simultan variabel kurs, market value dan interest rate tidak berpengaruh terhadap stock price dengan koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,038 yang menunjukkan bahwa 3,8% harga saham dipengaruhi oleh kurs, market value dan interest rate sedangkan sisanya 96,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Kata kunci: kurs, market value, interest rate dan stock price Abstract
This study aims to determine the effect of exchange rates, market value and interest rates on stock prices on banking companies that are partially listed on the Indonesia Stock Exchange.
The research method used is a multiple linear regression statistical method with internal data sources and secondary data types in the form of companies financial report data. The population in this study were 42 companies and obtained samples with purposive sampling techniques of 30 companies. The results showed partially that the exchange rate, market value and interest rate variables did not significantly influence the stock price. Furthermore, simultaneously the exchange rate, market value and interest rate have no effect on the stock price with a coefficient of determination (R Square) of 0.038 which indicates that 3,8% of the stock price is influenced by the exchange rate, market value and interest rate while the remaining 96,2% is influenced by variables others not examined in this study.
Keyword : exchange rate, market value, interest rate and stock price
PENDAHULUAN
Pasar modal merupakan sarana atau tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran atas instrument keuangan jangka panjang yang pada umumnya lebih dari satu tahun. (Samsul, 2015:57). Pasar modal dapat dijadikan salah satu sarana investasi bagi para investor untuk bisa menjadi kepemilikan saham dari suatu perusahaan. Abdul Halim dalam Fahmi (2017:3) mengungkapkan investasi pada hakikatnya merupakan kegiatan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan sebuah harapan yakni untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Kegiatan investasi dilandaskan oleh beberapa pertimbangan faktor dari perusahaan
yang akan dibeli sahamnya. Salah satu proses yang paling penting dalam kegiatan investasi ini adalah mengenai pengukuran risk (risiko) dan return (pengembalian). Meningkat atau menurunnya permintaan surat-surat berharga dan naik turunnya harga saham di Bursa Efek Indonesia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Nilai tukar rupiah atau kurs rupiah menjadi salah satu faktor penentu fluktuasi harga saham yang mengakibatkan tidak stabilnya harga saham di BEI. Menurut Tandelilin (2010:104) menjelaskan bahwa risiko nilai tukar ini berkaitan dengan fluktuasi atau pergerakan nilai tukar mata uang domestik dengan nilai mata uang lainnya. Kemudian, perubahan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia dapat mempengaruhi kinerja perekonomian termasuk kinerja pasar saham. Seperti yang dijelaskan oleh Tandelilin (2010:103) bahwa perubahan suku bunga dapat mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Selanjutnya, ada juga beberapa rasio nilai yang berhubungan dengan saham. Nilai- nilai tersebut antara lain: nilai buku, nilai pasar dan nilai instrinsik. Untuk melihat potensi keuntungan yang akan diperoleh dari penanaman saham di suatu emiten, investor bisa menggunakan rasio nilai pasar. Fahmi (2018:82) menjelaskan bahwa rasio nilai pasar merupakan rasio yang mencerminkan suatu kondisi yang terjadi di pasar. Dimana rasio ini dapat membantu manajemen perusahaan sebagai pemahaman terhadap kondisi penerapan yang akan dilaksanakan dan dampak di masa mendatang.
Berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Saputra & Santoso (2017) dan Nainggolan et al.,(2017) mengamati hubungan nilai tukar dengan harga saham dan menghasilkan perbedaan hasil penelitian. Kemudian, Ratih et al., (2013) dan Wicaksono (2013) mengamati hubungan nilai pasar (Price Earning Ratio) dengan harga saham dan juga menghasilkan perbedaan hasil penelitian. Selanjutnya, Lutfiana (2017) dan Agustina & Noviri (2013) yang mengamati hubungan tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham dan hasil penelitian keduanya terdapat pertentangan. Perbedaan hasil penelitian membuat peneliti melakukan kajian ulang terhadap beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi harga saham perusahaan dengan menggunakan sampel perusahaan yang belum diuji pada peneliti terdahulu tersebut.
Hipotesis dalam penelitian ini antara lain: pengaruh kurs terhadap stock price (H1), pengaruh market value terhadap stock price (H2) dan pengaruh interest rate terhadap stock price (H3). Sedangkan tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menguji hubungan kurs (nilai tukar), market value (nilai pasar) dan interest rate (suku bunga) secara individu terhadap stock price (harga saham) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dimana pengukuran variabel-variabel penelitian menggunakan angka dan menganalisis data dengan prosedur statistik. Penelitian ini dengan mencari hubungan antara kurs, market value dan interest rate terhadap stock price yang dilakukan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini sebanyak 42 perusahaan dan diperoleh sampel dengan teknik sampling purposive sebanyak 30 perusahaan.
Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa langkah antara lain: pengumpulan data, membuat tabel perusahaan yang telah dipilih, mentabulasi variabel yang telah ditentukan, menganalisis variabel independen terhadap dependen dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan tahap akhir yaitu melakukan pengujian hipotesis.
Hasil Pengujian
Tahap pertama dalam pengujian ini adalah menguji data yang telah diperoleh dengan uji asumsi klasik, dimana uji asumsi klasik ini beberapa pengujian antara lain: uji normalitas data, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi. Hasil uji normalitas data berdasarkan pengamatan dengan menggunakan grafik p plot yakni sebagai berikut:
Gambar 1 Hasil Uji Normalitas Data (p plot)
Berdasarkan gambar 1 diatas terlihat data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi berdistribusi normal dan memenuhi asumsi normalitas.
Hasil uji multikolinearitas menunjukkan nilai VIF dan tolerance sebagai berikut:
Tabel 1 Hasil Uji Multikolinearitas No Variabel Tolerance VIF
1 Kurs 0,395 2,532
2 Market value (PER) 0,985 1,015
3 Interest Rate 0,397 2,517
Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan bahwa semua variabel independen menghasilkan nilai VIF < 10 dan nilai tolerance diatas 0,1. Hal ini dapat diartikan bahwa model regresi telah memenuhi persyaratan bebas multikolinearitas.
Hasil uji heterokedastisitas berdasarkan pengamatan dengan menggunakan grafik scatterplot yaitu sebagai berikut:
Gambar 2 Hasil Uji Heterokedastisitas
Berdasarkan gambar 2 diatas, hasil analisis dengan menggunkan metode scatterplot terlihat bahwa titik-titik tersebar dengan acak dan tidak membentuk pola tertentu. Hal ini berarti model regresi tersebut tidak terjadi heterokedastisitas.
Hasil uji autokorelasi berdasarkan analisis dengan SPSS menghasilkan nilai Durbin-Watson (DW) sebagai berikut:
Tabel 2 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 ,194a ,038 ,004 1,53096 ,824
a. Predictors: (Constant), InterestRate, PER, Kurs b. Dependent Variable: StockPrice
Berdasarkan tabel 2 diatas, hasil analisis dengan menggunkan uji Durbin-Watson (DW) terlihat bahwa nilai DW adalah 0,824. Artinya nilai DW terletak diantara -2 sampai +2. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model regresi yang akan digunakan tidak terjadi gejala autokorelasi.
Hasil analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1
(Constant) -7,000 220,482 -,032 ,975
Kurs 1,623 23,327 ,012 ,070 ,945 ,395 2,532
PER -,004 ,003 -,139 -1,305 ,196 ,985 1,015
InterestRate -,278 ,326 -,143 -,853 ,396 ,397 2,517
a. Dependent Variable: StockPrice
Berdasarkan tabel 3 hasil analisis regresi menggunakan SPSS diatas, maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
Y = - 7 + 1,623 X1 – 0,004 X2 – 0,278X3 + e
Persamaan regresi diatas dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta sebesar 7 (negatif) yaitu dapat diartikan apabila X1, X2 dan X3 bernilai nol, maka harga saham nilainya negatif sebesar 7. Selanjutnya, koefisien variabel kurs (X1) sebesar 1,623. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1 (satu) variabel kurs akan menaikkan harga saham sebesar 1,623 dan sebaliknya dengan asusmsi bahwa variabel market value (X2) dan interest rate (X3) adalah konstan. Selanjutnya, koefisien variabel market value (X2) sebesar 0,004 (negatif). Hal ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1 (satu) variabel market value akan menurunkan harga saham sebesar 0,004 dan sebaliknya dengan asumsi bahwa variabel kurs (X1) dan interest rate (X3) adalah konstan. Kemudian, koefisien variabel interest rate (X3) sebesar 0,278 (negatif).
Hal ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1 (satu) variabel interest rate akan menurunkan harga saham sebesar 0,278 dengan asumsi bahwa variabel kurs (X1) dan market value (X2) adalah konstan.
Hasil uji t (Parsial) dengan kriteria yang digunakan adalah apabila tingkat signifikansi < 0,05 atau α < 5% maka hipotesis diterima dan apabila tingkat signifikansi > 0,05 atau α > 5% maka hipotesis ditolak yaitu sebagai berikut:
Tabel 4 Hasil uji t (Parsial)
No Variabel T Signifikan
1 Kurs 0,70 0,945
2 Market value (PER) - 1,305 0,196
3 Interest Rate - 0,853 0,396
Berdasarkan tabel 4 diatas, diperoleh nilai signifikansi masing-masing variabel yaitu kurs sebesar 0,945, market value sebesar 0,196 dan interest rate sebesar 0,396. Nilai tersebut menunjukkan bahwa semua variabel independen memiliki nilai signifikansi diatas 0,05 atau α
> 5%. Hal ini dapat diartikan bahwa semua hipotesis pertama, hipotesis kedua dan hipotesis ketiga ditolak dan dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara individu tidak berpengaruh terhadap variabel dependennya.
Hasil uji F (Simultan) dengan kriteria yang digunakan adalah apabila tingkat signifikansi <
0,05 atau α < 5% maka hipotesis diterima dan apabila tingkat signifikansi > 0,05 atau α > 5%
maka hipotesis ditolak yaitu sebagai berikut:
Tabel 5 Hasil uji F (Simultan)
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 7,903 3 2,634 1,124 ,344b
Residual 201,570 86 2,344
Total 209,473 89
a. Dependent Variable: StockPrice
b. Predictors: (Constant), InterestRate, PER, Kurs
Berdasarkan tabel 5 diatas, diperoleh nilai signifikan sebesar 0,344 yang berarti nilai signifikan > 0,05 (hipotesis ditolak). Hal ini dapat disimpulkan bahwa variabel kurs, market value dan interest rate tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel stock price.
Hasil uji koefisien determinasi (R2) pada hasil uji statistik dengan menggunakan SPSS dapat dilihat pada tabel model summary yaitu R Square.
Tabel 6 Hasil uji koefisien determinasi (R2)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 ,194a ,038 ,004 1,53096
a. Predictors: (Constant), InterestRate, PER, Kurs b. Dependent Variable: StockPrice
Berdasarkan tabel 6 diatas, diperoleh nilai R Square sebesar 0,038. Nilai ini menunjukkan bahwa harga saham dipengaruhi oleh tingkat kurs, market value dan interest rate sebesar 3,8%, sedangkan sisanya yang ditunjukkan oleh nilai € sebesar 96,2% menunjukkan bahwa harga saham dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Pembahasan
Variabel pertama yaitu kurs menunjukkan hasil bahwa kurs tidak berpengaruh terhadap stock price. Tidak terdapatnya pengaruh kurs terhadap harga saham pada perusahaan perbankan ini salah satunya yaitu karena secara makro sistem dari perbankan dapat dikategorikan dalam kondisi solid dan kuat sehingga akan tahan terhadap beberapa permaslahan seperti dampak dari depresiasi rupiah. Sehingga walaupun terdapat perubahan kurs, biaya operasional perusahaan tidak mengalami perubahan yang signifikan dan akhirnya tidak berdampak pada laba perusahaan dan dari situlah para investor yang menanamkan modalnya di perusahaan perbankan tidak lagi menghiraukan adanya depresiasi dari nilai tukar. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan et al., (2017) dan bertentangan dengan hasil penelian yang dilakukan oleh Saputra & Santoso (2017) dan Lutfiana (2017).
Variabel kedua yaitu market value menunjukkan hasil bahwa market value tidak berpengaruh terhadap stock price. Market value dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan price earning ratio (PER). Secara teori, tingginya nilai price earning ratio (PER) dapat memberikan sinyal positif pada calon investor yang akan menanamkan sahamnya pada perusahaan dan akan membuat keputusan investor menjadi terarah pada perusahaan yang memiliki nilai price earning ratio (PER) yang tinggi. Pada akhirnya, perusahaan dengan nilai price earning ratio (PER) tinggi mengundang minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Dengan banyaknya minat investor dapat berindikasi pada harga saham perusahaan. Namun, teori tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat kaitan antara nilai price earning ratio (PER) dengan harga saham. Hal ini terjadi karena keputusan investor dalam mengambil keputusan investasi pada perusahaan perbankan tidak memandang besar kecilnya nilai price earning ratio (PER) perusahaan. Investor menganalisis faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap harga saham perusahan Perbankan. Penelitian ini sejalan dengan Wicaksono (2013) dan bertentangan dengan Ratih et al. (2013).
Variabel ketiga yaitu interest rate menunjukkan hasil bahwa interest rate tidak berpengaruh terhadap stock price. Secara teori, perubahan suku bunga akan berdampak pada laba perusahaan. Hal ini terjadi karena naik turunnya suku bunga dapat mempengaruhi bunga kredit yang dikeluarkan oleh bank sehingga akan berdampak pada beban perusahaan dan akhirnya dapat mempengaruhi laba perusahaan. Besar kecilnya laba perusahaan inilah yang menjadi acuan investor dalam pengambilan keputusan investasi sehingga fluktuasi suku bunga akan berdampak pada harga saham perusahaan. teori diatas menjadi tidak berlaku pada perusahaan perbankan. Hasil penelitian menyatakan bahwa besar kecilnya suku bunga tidak mempengaruhi tinggi rendahnya minat investor untuk menginvestasikan modalnya pada saham sehingga perubahan suku bunga tidak berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan perbankan. Penelitian ini sejalan dengan Saputra & Santoso (2017) dan bertentangan dengan Lutfiana (2017).
KESIMPULAN
Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara kurs, market value dan interest rate secara individu terhadap stock price dan dapat diartikan bahwa kurs, market value dan interest rate tidak dapat memprediksi stock price.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, L., & Noviri, S. (2013). Pengaruh Return On Asset ( ROA ), Earning Per Share ( EPS ), dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Harga Saham ( Studi Pada Indeks LQ45 Tahun 2010 ) Lidya Agustina. Jurnal Akuntansi, 5(1), 1–23.
Fahmi, I. (2018). Pengantar Manajemen Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Lutfiana, I. M. (2017). Kontribusi Inflasi, Suku Bunga, Kurs, Produk Domestik Bruto terhadap Harga Saham Kelompok Jakarta Islamic Index Di Indonesia Periode 2007- 2015. AN-NISBAH, 4(1), 75–104.
Nainggolan et al., (2017). Pengaruh Tingkat Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2005- 2014. E-Proceeding of Management, 4(3), 2838–2843.
Ratih et all., (2013). Pengaruh EPS, PER, DER, ROE terhadap Harga Saham pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2010-2012.
Journal of Social and Politic, 1–12.
Samsul, M. (2015). Pasar Modal dan Manajemen Portofolio (Kedua). Jakarta: Erlangga.
Saputra, E., & Santoso, B. H. (2017). Pengaruh Nilai Tukar Mata Uang, Inflasi, dan Suku Bunga terhadap Harga Saham Sektor Properti. Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen, 6(5), 1–16.
Tandelilin, E. (2010). Portofolio dan Invesatasi: Teori & Aplikasi (Pertama). Yogyakarta:
Kanisius.
Wicaksono, R. B. (2013). Pengaruh EPS, PER, DER, ROE DAN MVA terhadap harga saham, (5), 1–13.
Irdiana, S. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Katagori Saham Blue Chips di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2011- 2014. Wiga: Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi, 6(1), 15-26.