• Tidak ada hasil yang ditemukan

Influence of Regional Funding and Revenue on Economic Growth in Central Java (2007-2012)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Influence of Regional Funding and Revenue on Economic Growth in Central Java (2007-2012)"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Pada tahun 2007, Kabupaten Cilacap dan Kota Semarang merupakan kabupaten atau kota yang mempunyai tingkat pertumbuhan PDB yang cukup tinggi diantara kabupaten atau kota di Jawa Tengah. Pada tahun-tahun berikutnya, Kabupaten Cilacap dan Kota Semarang menunjukkan tingkat pertumbuhan BRDP di Jawa Tengah yang konsisten. Dari Tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa daerah penyumbang BRDP di Jawa Tengah bukan berarti daerah tersebut masih tergolong daerah tertinggal.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah stabil dan hanya mengalami stagnasi setiap tahunnya. pada tahun 2009 mengalami penurunan namun tidak terlalu besar. Hal ini tidak baik, karena setiap tahunnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah “diam” tanpa adanya perbaikan. Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai PDRB 5 kabupaten di Jawa Tengah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Dimana peneliti mengambil sampel dari 5 kabupaten di Jawa Tengah untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa Tengah. Peneliti mengambil judul Dampak DAU, PAD, DAK terhadap PDRB di 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah periode ini. Dalam penelitian ini peneliti meneliti 5 kabupaten di Jawa Tengah (kabupaten/kota Cilacap, Semarang, Klaten, Kudus dan Banyumas).

Tabel 1.1 Kondisi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Menurut Kriteria Tipologi Daerah Tahun 2010  Sumber : BPS, Tinjauan PDRB kabupaten/kota Jawa Tengah 2010, Diolah
Tabel 1.1 Kondisi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Menurut Kriteria Tipologi Daerah Tahun 2010 Sumber : BPS, Tinjauan PDRB kabupaten/kota Jawa Tengah 2010, Diolah

ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN)

Pendekatan anggaran ini konsisten dengan pemahaman bahwa pemerintah perlu mengendalikan biaya untuk meningkatkan efisiensi operasional. Menyelaraskan capaian SPM dari RPJMD dengan program wajib urusan pemerintahan pada kebijakan anggaran umum (KUA) serta prioritas dan pagu anggaran interim. Menyusun rincian kegiatan setiap program pencapaian SPM dengan mengacu pada indikator kinerja dan tenggat waktu pencapaian SPM yang ditetapkan pemerintah.

Anggaran daerah disusun secara komprehensif dengan pendekatan holistik dalam mendiagnosis permasalahan, menganalisis hubungan antar permasalahan yang mungkin timbul dan mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya. Pemerintah daerah harus diberi keleluasaan yang memadai sesuai dengan ketersediaan informasi relevan yang mereka miliki. Transparansi mengharuskan pembuat kebijakan untuk memiliki pengetahuan tentang masalah dan informasi yang relevan sebelum kebijakan diimplementasikan.

Pendapatan dalam negeri digunakan untuk membiayai belanja rutin sedangkan pendapatan luar negeri digunakan untuk membiayai belanja pembangunan (Abimanyu & Megantara, 2009, p. 5).

ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (APBD)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)

Produk domestik regional bruto (PDB) merupakan indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu daerah pada suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. BRDP pada dasarnya adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha di suatu wilayah, atau total nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di wilayah tersebut. PDRB berdasarkan harga berlaku menggambarkan nilai tambah suatu barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun berjalan, sedangkan PDRB berdasarkan harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung berdasarkan harga yang berlaku pada suatu waktu. tahun tertentu sebagai tahun dasar.

BRDP atas dasar harga berlaku digunakan untuk mengetahui kapasitas sumber daya perekonomian, pergerakan dan struktur perekonomian suatu daerah (Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia). Dalam pendekatan ini, BRDP merupakan total nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah selama periode waktu tertentu (satu tahun). Pendekatan output, PDRB merupakan besarnya kompensasi yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi.

Imbalan faktor-faktor produksi yang dimaksud terdiri dari upah, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan.

Dana Alokasi Umum (DAU)

Hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan milik daerah tersendiri serta pendapatan asli daerah lainnya yang sah. Secara umum pajak dapat diartikan sebagai pungutan masyarakat yang dilakukan oleh negara (pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat memaksa dan terutang oleh mereka yang wajib membayarnya tanpa pelaksanaan langsung (pertimbangan/kompensasi) sebagai imbalannya, menerima hasilnya. diantaranya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan (Ananda, Suratman, & Paddu, 2012, hal. 7). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung, yang dapat dikenakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, digunakan untuk penyelenggaraan membiayai pemerintahan daerah. dan pembangunan daerah.

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, ada beberapa jenis pajak daerah yang dibebankan baik kepada kabupaten provinsi maupun kabupaten/kota. 2. Bea Balik Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Air 3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Remunerasi menurut Feldmann (Goedhart, 1982, p. 120) adalah pendapatan yang diperoleh otoritas publik dari rumah tangga pribadi, berdasarkan norma-norma umum yang mereka tetapkan, sehubungan dengan hasil yang mereka laksanakan atas usulan dan untuk kepentingan rumah tangga tersebut. dan hasil – hasil tersebut, karena berkaitan dengan kepentingan umum, secara khusus dilaksanakan oleh otoritas publik itu sendiri.

Layanan ini memberikan manfaat khusus kepada individu atau badan yang harus membayar biaya dan juga melayani kepentingan dan manfaat masyarakat. Tol dapat dikumpulkan secara efisien dan efektif serta berpotensi menjadi sumber pendapatan daerah. Pemungutan tugas tersebut memungkinkan terselenggaranya pelayanan tersebut dengan tingkat dan/atau mutu pelayanan yang lebih tinggi.

Retribusi pelayanan usaha yang dapat ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah berdasarkan kriteria pelayanan tersebut adalah pelayanan yang bersifat komersial yang seharusnya disediakan oleh swasta tetapi tidak mencukupi, atau terdapat aset yang dimiliki/dikuasai oleh daerah yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah daerah. Biaya yang dikeluarkan daerah dalam pengurusan izin tersebut dan biaya penanggulangan dampak negatif pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari biaya izin. 3. Biaya yang dikeluarkan daerah dalam pengurusan izin dan biaya penanggulangan dampak buruk izin cukup besar untuk membenarkan pembiayaan melalui biaya izin.

Pengawasan terhadap peraturan daerah terkait pajak daerah dan pajak daerah telah dilaksanakan secara efektif sejak tahun 2002 dengan menggunakan berbagai instrumen, antara lain “Tim Pajak Daerah dan Pajak Daerah” yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 223. /KMK.07/2007. Anggota Tim Pajak dan Remunerasi Daerah terdiri dari pejabat yang mewakili Kementerian Keuangan, Departemen Dalam Negeri, dan instansi terkait lainnya.

Dana Alokasi Khusus (DAK)

Penelitian Terdahulu

Yang disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan keadaan sarana dan prasarana, serta capaian teknis pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. menginformasikan pemikiran tentang peran auditor dan pengawas pemilih dalam proses pelaporan keuangan kota. Namun penelitian ini tidak akan mengujinya hipotesis tidak bertanggung jawab fiskal yang merupakan upaya untuk. secara eksklusif menilai implikasi upaya pajak yang konsekuensial terhadap transfer pemerintah federal ke. jaga agar pencarian tetap terkelola dan spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa transfer pemerintah pusat mempunyai pengaruh terhadap besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten atau kota.

Ketika pemerintah daerah menerima transfer dari pemerintah pusat, maka dana tersebut digunakan tanpa ada upaya untuk meningkatkan PAD masing-masing daerah. Meskipun jelas bahwa kebijakan desentralisasi fiskal yang dirancang dan dilaksanakan dengan buruk dapat menciptakan insentif bagi pemerintah daerah untuk memberikan perhatian yang berlebihan. Oleh karena itu, untuk menentukan besaran Dana Alokasi Umum (DAU), pemerintah pusat harus memperhatikan informasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan dan belanja pemerintah daerah.

Hasil penelitian secara parsial menunjukkan Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian model pengelolaan belanja pemerintah daerah Kabupaten Pasaman Barat khususnya yang berkaitan dengan Belanja Daerah, rata-rata Pemerintah Daerah lebih bergantung pada PDRB, PAD dan DAU. Secara bersama-sama terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Pertumbuhan Ekonomi (PDB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Daerah, hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan Fhitung 717.023 > Ftabel 6.590 atau dengan angka signifikan sebesar 0,000 < 0,05.

Variabel Independen: Pengaruh DAU, DAK, PAD dan PDRB Variabel Dependen: Belanja Modal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Keterbatasan penelitian ini adalah penelitian ini tidak mengkaji sektor pengeluaran mana yang lebih banyak mengonsumsi sumber daya keuangan daerah. Berdasarkan hal tersebut, peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan analisis sektoral untuk mengetahui sektor mana yang pengeluarannya lebih besar.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Surplus Pembiayaan Anggaran (SiLPA) dan Daerah terhadap alokasi belanja modal. DAU sebagian tidak berpengaruh terhadap penyaluran pembangkit, sedangkan PAD, SiLPA dan Area Area berpengaruh.

Kerangka Pemikiran

Hipotesis

DAU DAK

  • PDRB (PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO)
  • Dana Alokasi Umum
  • Pendapatan Asli Daerah
  • Dana Alokasi Khusus
  • Jenis dan Sumber Data
  • Metode Pengumpulan Data
  • Metode Analisis
    • Alat Analisis Pengaruh DAU, PAD, dan PDRB terhadap Pertumbuhan Ekonomi
  • Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
  • Metode Pengujian Hipotesis
    • Pengujian Koefisien Regresi Secara Serempak (Uji F)
    • Dana Alokasi Umum
    • Pendapatan Asli Daerah
    • Dana Alokasi Khusus
    • Pertumbuhan Ekonomi
  • Saran

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan transfer dana dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang bertujuan untuk menutup kesenjangan fiskal dan pemerataan kapasitas fiskal antar daerah untuk membantu pemerintah daerah secara mandiri menjalankan fungsi dan tugasnya melayani masyarakat. Data yang diambil adalah data dana alokasi umum kabupaten/kota Cilacap, Semarang, Klaten, Kudus dan Banyumas berdasarkan periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012. Data yang diambil adalah data dana alokasi khusus kabupaten/kota Cilacap, Semarang, Klaten, Kudus dan Banyumas berdasarkan periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.

Artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel independen yaitu dana alokasi umum (X₁), pendapatan asli daerah (X₂) dan dana alokasi khusus (X₃), terhadap variabel dependen yaitu pertumbuhan ekonomi (Y). Hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai dampak dana alokasi umum, pendapatan asli daerah, dan dana alokasi khusus. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana perimbangan yang ditransfer oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan fiskal dan pemerataan kapasitas fiskal antar daerah guna membantu pemerintah daerah agar mandiri dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. melayani komunitas.

Dana Alokasi Umum yang dianggarkan ditentukan oleh perubahan kebutuhan daerah otonom daerah dan potensi perekonomian daerah. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada provinsi/kabupaten/kota tertentu untuk membiayai kegiatan khusus yang menjadi urusan Pemerintah Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Berdasarkan tabel 4.3 diperoleh informasi bahwa pada tahun 2007 Kota Semarang memperoleh dana alokasi umum (DAK) terbesar yaitu sebesar Rp, sedangkan Kabupaten Kudus paling sedikit memperoleh dana alokasi umum (DAK) sebesar Rp.

Melihat beberapa hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa Dana Hibah Umum (DAU) merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi suatu daerah untuk menutupi pengeluarannya. Salah satu dana perimbangan adalah Dana Alokasi Khusus, DAK merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan prioritas nasional. Penelitian yang dilakukan oleh Anggiat Situngkir (2009) menunjukkan bahwa dana alokasi khusus berpengaruh positif dan signifikan terhadap anggaran belanja modal.

Sementara itu, Badan SMERU menyatakan dana tujuan khusus merupakan salah satu sumber pembiayaan investasi. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus memberikan dampak positif terhadap BRDP 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber pendapatan daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus merupakan variabel-variabel yang tidak dapat dipisahkan untuk mengukur laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah, namun tidak semua daerah mempunyai porsi atau alokasi yang sama pada Tujuan Khusus. Dana.

Dana alokasi khusus berdampak positif terhadap pendapatan domestik regional bruto; dalam hal ini DAK telah memberikan dampak terhadap dukungan PDRB.

Tabel 4.1 Dana Alokasi Umum (Jutaan Rupiah)
Tabel 4.1 Dana Alokasi Umum (Jutaan Rupiah)

Gambar

Gambar 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah terhadap Nasional
Tabel 1.1 Kondisi Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Menurut Kriteria Tipologi Daerah Tahun 2010  Sumber : BPS, Tinjauan PDRB kabupaten/kota Jawa Tengah 2010, Diolah
Gambar 2.1 Arus Keuangan Negara  2.1.2  Teori Otonomi Daerah dan Desentralisasi
Tabel 4.1 Dana Alokasi Umum (Jutaan Rupiah)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Variabel yang diuji dalam penelitian ini adalah belanja modal, Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) , Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus memiliki arah pengaruh yang positif dan

“Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Modal sebagai Variabel Moderating pada Kabupaten/Kota

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendapatan asli daerah, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap pertumbuhan ekonomi dan tingkat

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pertumbuhan ekonomi, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisa apakah Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh

20 Amnah (2014) Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Modal

iii PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM, DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP BELANJA MODAL DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI SEBAGAI VARIABEL MODERATING Skripsi Diajukan