• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAU DAK

5.2. Saran

yang cukup besar karena Pemerintah melakukan proyek jangka panjang terhadap daerah tersebut seperti infrastuktur, sarana, dan pariwisata.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab 4, maka simpulan dalam penelitian ini adalah

1. Secara Simultan ketiga variabel Independent yaitu DAU, PAD, dan DAK berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Karena dalam perhitungannya DAU, PAD, dan DAK merupakan variebel yang saling berkaitan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tanpa DAU daerah tidak mungkin hanya mengandalkan DAK dan PAD yang mereka punya dan sebaliknya.

2. Secara parsial DAU berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi, karena DAU merupakan anggaran atau dana perimbangan yang digunakan untuk proses pembiayaan fasilitas sektor ekonomi di 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah seperti pembayaran gaji pegawai negeri sipil, perbaikan jalan, dan fasilitas umum.

3. Secara parsial PAD berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi. PAD merupakan gambaran Pendapatan yang diterima di 5 kabupaten/kota dalam proses ekonomi yang merupakan yang sebagian besar berasal dari pajak dan retribusi daerah.

4. Secara Parsial DAK berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi.

Dana Alokasi Umum merupakan dana perimbangan yang sebagian besar prosesnya digunakan untuk infrastruktur jangka panjang didaerah tersebut seperti pembangunan jalan tol dalam kota atau pembangunan bendungan untuk irigrasi pertanian.

4. Dana Alokasi Umum di 5 kabupaten/kota sudah sesuai dengan anggaran yang dialokasikan. Dana Alokasi Umum yang dianggarkan untuk fasilitas umum dan infrastruktur lebih ditingkatkan dalam penganggarannya karena dengan fasilitas umum dan infrastruktur yang baik PDRB dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, A., & Megantara , A. (2009). Era Baru Kebijakan Fiskal. Jakarta: Kompas.

Adi, P. H. (2002). Kemampuan Keuangan Daerah Dalam Era Otonomi dan Relevansinya Dengan Pertumbuhan Ekonomi. Jurnal Ilmiah. Jurusan akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Di unduh pada 26/02/2014 pada 11.20.

Atiah Handayani. (2009). Analisis Pengaruh Transfer Pemerintah Pusat Terhadap

Pengeluaran Daerah dan Upaya Pajak (Tax Effort) Daerah (Studi Kasus:

Kabupaten/Kota di Jawa Tengah). Jurnal Ilmiah. Skripsi Tidak Dipublikasikan, Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Diponegoro Semarang. Di unduh pada 26/02/2014 pada 11.23.

Adi, P. H., & Ekaristi, P. D. (2009). Fenomena Ilusi Fiskal Dalam Kinerja Anggran Pemerintah Daerah, 6. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Di unduh pada 26/02/2014 pada 11.30.

Alfonso, & Fernandes. (2007). Assesing and Explaining The Relative Efficiency Of Local Government. Assesing and Explaining The Relative Efficiency Of Local Government.

Jurnal Ekonomi. Fakultas ekonomi. Lisbon. Di unduh pada 26/02/2014 pada 11.35.

Ananda, C. F., Suratman, E., & Paddu, H. (2012). Analisis Dampak Pengalihan Pemungutan BPHTB ke Daerah Terhadap Kondisi Fiskal Daerah. Jakarta: Kementrian Keuangan Republik Indonesia.

Arsyad, L. (2004). Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: STIE YKPN.

Aryanto, R. (2011). Analisis Kemandirian Keuangan Daerah Dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan. Jurnal Akuntansi. Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah, Palembang. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.45.

Tanjung, Abdul Hafiz. 2009. Penatausahaan dan Akuntansi Pemerintah Daerah untuk SKPKD dan Pemerintah Daerah (Buku 2). Jakarta: Salemba Empat.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Perubahannya Nomor59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 2008. Bandung: Fokusmedia Azhar, M. K. (2011). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sebelum

dan Sesudah Otonomi Daerah. Jurnal Keuangan dan Bisnis. Dosen Tetap STIE Harapan Medan,Medan. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.45.

Baber. (2011). Accounting Restatements, Governance and Municipal Debt Financing . Accounting Restatements, Governance and Municipal Debt Financing . Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.50.

Bastian, I. (2001). Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Departemen Keuangan. (n.d.). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Retrieved from Http://www.djpk.depkeu.go.id/datadjpk/47/. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.59.

Dollery, B., & Worthington, A. (1995). Federal Expenditure and Fiscal Illusion: An Australian Test of The Flypaper Hypotesis, 23-34. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Dwirandra, A. (2006). Efektifitas Dan Kemandirian Keuangan Daerah Otonom Kabupaten/Kota Di Propinsi Bali Tahun 2001-2006. Jurnal Akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi X. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 12.00.

Goedhart, C. (1982). Garis-garis Besar Ilmu Keuangan Negara. (Ratmoko, Trans.) Jakarta:

Djambatan.

Guritno, M. (1994). Ekonomi Publik. Yogyakarta: BPFE.

Halim, A., & Kusufi, M. S. (2012). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba Empat.

Keuangan, D. J. (2006). Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jakarta: Departemen Keuangan Indonesia.

Khusaini, M. (2006). Ekonomi Publik : Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah.

Ekonomi Publik : Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah.

Kumoroto, W. (2004). Desentralisasi Fiskal. Jakarta: Kencana Prenada Group.

Mahsun, M., Sulistyowati, F., & Purwanugraha, H. A. (2006). Akuntansi Sektor Publik.

Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM.

Mamesah. (1995). Sistem administrasi keuangan daerah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Mardiasmo. (2002). Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: Andi

Yogyakarta.

Mudrajad, K. (2004). Otonomi & Pembangunan Daerah. Jakarta: Erlangga.

Nagathan, & Sivagnanan, K. (1999). Federal Transfer and Tax Effort of States in India.

Federal Transfer and Tax Effort of States in India, Jurnal Ekonomi India. Fakultas Ekonomi Universitas Madras. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 12.15.

Nariana, & Khairani, S. (2012). Analisis Kontribusi Pajak Parkir Terhadap Pendapatan Asli Daerah Palembang. Jurnal Akuntansi. Jurusan Akuntansi, STIE MDP. Palembang. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 12.40.

Ndadari, L. W., & Ardi, P. H. (2008). Perilaku Asimetris Pemerintah Daerah Terhadap Transfer Pemerintah Pusat. Jurnal Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Santosa, P. B., & Rahayu, R. F. (2002). Analisis Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhinya Dalam Upaya Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Kediri. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Sumarjo, H. (2010). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Studi Epiris Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Di Indonesia. Jurnal Akuntansi. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Suparmoko, M. (2003). Keuangan negara "dalam teori dan praktek". Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Surjaningsih, Ndari; Utari, G.A Diah; Trisnanto , Budi. (2009). Dampak Kebijakan Fiskal Terhadap Output Dan Inflasi. Buletin Ekonomi dan Perbankan Bank Indonesia. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Tanjung , A. H. (2008). Akuntansi Pemerintahan Daerah. Bandung: Alfabeta.

Vazquez, J. M., & MCNAB, R. (2006). Fiscal descentralization, Macrostability, and Growth.

Fiscal descentralization, Macrostability, and Growth. Di unduh pada 26/04/2014 pada jam 11.56.

Yani, A. (2002). Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia.

Jakarta: Rajawali Pers

Lampiran 1

Tabel Grafik PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tahun 2007-2012

LAMPIRAN 2 Data Penelitian

KAB/KOTA Tahun PAD DAU DAK PDRB Cilacap 2007 Rp 82,143,538,311 Rp 743,064,000,000 Rp 61,168,000,000 Rp 25,452,312,000,000 Cilacap 2008 Rp 102,780,340,747 Rp 773,078,652,000 Rp 78,898,000,000 Rp 30,338,835,000,000 Cilacap 2009 Rp 120,746,425,476 Rp 782,143,772,000 Rp 86,475,000,000 Rp 34,630,882,000,000 Cilacap 2010 Rp 149,709,000,000 Rp 793,267,000,000 Rp 100,844,000,000 Rp 39,460,153,000,000 Cilacap 2011 Rp 124,385,335,318 Rp 730,828,640,000 Rp 30,622,710,000 Rp 44,904,176,000,000 Cilacap 2012 Rp 196,673,000,000 Rp 1,057,810,000,000 Rp 87,652,000,000 Rp 49,231,342,000,000 Semarang 2007 Rp 238,237,998,997 Rp 1,399,541,729 Rp 596,376,000,000 Rp 30,515,737,000,000 Semarang 2008 Rp 259,283,543,972 Rp 10,938,284,932 Rp 293,299,284,943 Rp 34,541,219,000,000 Semarang 2009 Rp 296,231,425,636 Rp 394,892,813,918 Rp 70,238,293,113 Rp 38,465,017,000,000 Semarang 2010 Rp 327,992,000,000 Rp 640,186,000,000 Rp 30,292,000,000 Rp 43,398,191,000,000 Semarang 2011 Rp 356,174,586,887 Rp 596,417,340,000 Rp 14,520,450,000 Rp 48,461,410,000,000 Semarang 2012 Rp 779,617,000,000 Rp 936,886,000,000 Rp 72,271,000,000 Rp 53,929,292,192,935 Klaten 2007 Rp 42,547,074,202 Rp 694,207,000,000 Rp 50,867,000,000 Rp 8,349,253,000,000 Klaten 2008 Rp 49,549,622,878 Rp 744,676,781,000 Rp 62,798,000,000 Rp 9,491,601,000,000 Klaten 2009 Rp 53,142,865,419 Rp 726,192,262,000 Rp 71,995,000,000 Rp 10,358,526,000,000 Klaten 2010 Rp 54,886,000,000 Rp 726,234,000,000 Rp 70,542,000,000 Rp 11,272,387,000,000 Klaten 2011 Rp 53,310,544,717 Rp 661,077,310,000 Rp 24,286,230,000 Rp 12,186,801,000,000 Klaten 2012 Rp 84,756,000,000 Rp 967,285,000,000 Rp 74,502,000,000 Rp 14,928,393,392,093 Kudus 2007 Rp 55,181,618,104 Rp 421,953,000,000 Rp 38,218,000,000 Rp 24,013,254,000,000 Kudus 2008 Rp 71,529,067,977 Rp 460,540,680,000 Rp 47,293,000,000 Rp 27,245,392,000,000 Kudus 2009 Rp 83,045,780,416 Rp 471,869,492,000 Rp 59,581,000,000 Rp 28,946,886,000,000 Kudus 2010 Rp 94,033,000,000 Rp 463,013,000,000 Rp 30,502,000,000 Rp 31,463,463,000,000 Kudus 2011 Rp 98,655,799,033 Rp 491,283,912,930 Rp 40,219,384,434 Rp 33,830,036,000,000 Kudus 2012 Rp 121,017,000,000 Rp 637,615,000,000 Rp 58,347,000,000 Rp 35,923,823,282,339 Banyumas 2007 Rp 96,619,572,248 Rp 654,154,000,000 Rp 10,497,293,167 Rp 7,268,200,000,000 Banyumas 2008 Rp 102,383,923,949 Rp 698,234,924,159 Rp 24,902,123,321 Rp 8,347,682,000,000 Banyumas 2009 Rp 120,520,361,681 Rp 735,150,422,000 Rp 37,629,000,000 Rp 9,189,718,000,000 Banyumas 2010 Rp 164,892,000,000 Rp 720,191,000,000 Rp 76,326,000,000 Rp 10,335,939,000,000 Banyumas 2011 Rp 132,362,908,315 Rp 696,341,560,000 Rp 31,328,970,000 Rp 11,494,804,000,000 Banyumas 2012 Rp 242,107,000,000 Rp 991,945,000,000 Rp 118,902,000,000 Rp 13,293,291,203,910

LAMPIRAN 3

Data Penelitian Hasil Logaritma Natural (Ln)

KAB/KOTA PAD DAU DAK PDRB

Cilacap 25.1317340 27.3340480 24.8368900 30.8678277

Cilacap 25.3558599 27.3736466 25.0914217 31.0434497

Cilacap 25.5169585 27.3853044 25.1831212 31.1757669

Dokumen terkait