Hanya sedikit pakar dan praktisi ilmu informasi dan perpustakaan yang berbicara sendiri-sendiri tentang pentingnya literasi informasi. Artikel ini merupakan salah satu dari puluhan model literasi informasi yang terkenal tidak hanya di Amerika Serikat tetapi di seluruh dunia. Cakupan dan Urutan Literasi Informasi adalah model literasi informasi yang banyak digunakan di Amerika Utara.
Mengidetifikasi dan Mengevaluasi Sumber Informasi
Sehubungan dengan penggunaan sumber referensi yang berbeda, siswa diajarkan bagaimana entri/daftar sumber referensi yang berbeda diatur dan diatur (alfabet, kata kunci, mata pelajaran, dll). Pada bagian ini, siswa diajarkan bagaimana memilih sumber yang tepat untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Siswa bahkan diajari bagaimana menggunakan bagian-bagian buku seperti halaman judul, daftar isi, lampiran indeks, referensi silang, daftar pustaka/karya yang dikutip, dan glosarium.
Selain itu, siswa diajarkan untuk menggunakan bagian-bagian teks (seperti outline, grafik, legenda, text box dan keterangan gambar) dan berbagai format teks (seperti bold, italic, underline, table, heading dan subheading) untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. .juga belajar bagaimana mengidentifikasi dan menggunakan berbagai sumber referensi lain seperti almanak, atlas, ensiklopedi umum/khusus, kamus umum/khusus dan tesaurus. Sebagian besar keterampilan tersebut dipelajari siswa pada saat duduk di bangku sekolah dasar hingga kelas XII (kelas III SMA).
Pengenalan beberapa aspek literasi informasi pada level ini telah dilaksanakan sejak II. ke VII. kelas, tetapi ada beberapa aspek seperti interpretasi dan evaluasi sumber informasi yang diperkenalkan ketika siswa berada di sekolah menengah pertama (kelas VII). . Kami memperkuat dan memperluas penguasaan siswa terhadap aspek-aspek tersebut secara terus menerus hingga memasuki kelas XII. kelas (kelas III SMA).
Penelusuran Informasi
Hampir semua itu diperkenalkan pada saat siswa memasuki kelas IV sekolah dasar, kecuali kemampuan menjelaskan soal atau mata pelajaran dan menentukan informasi yang diperlukan. Sebagian besar keterampilan yang diperkenalkan diperkuat ketika siswa menduduki kelas VI sampai X (kelas SMA I) dan diperluas selama menduduki kelas XI dan XII. Destiny®) untuk mendapatkan hasil terbaik tergantung pada informasi masalah (penulis, judul, kata kunci, . nomor panggilan, subjek).
Proses Penelitian
Secara rinci, cakupan keterampilan dan jadwal pengajaran untuk masing-masing ruang lingkup tersebut dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6, sebagian besar keterampilan mengurutkan ini diperkenalkan pada siswa kelas III sekolah dasar. Hanya beberapa keterampilan, seperti mendefinisikan penelitian, menganalisis apa yang diketahui dan dialami dari pertanyaan penelitian, telah diperkenalkan sejak siswa masuk taman kanak-kanak.
Fase penguatan umumnya dimulai dari kelas V SD hingga kelas IX (kelas III SMP), sedangkan fase ekstensi umumnya dimulai saat siswa duduk di kelas X hingga XII.
Tanggung Jawab Sosial
Sementara itu, pengembangan keterampilan tersebut umumnya dimulai pada saat siswa duduk di kelas lima.
Online yang Aman (To be Safe Online)
Penguatan pengetahuan siswa selanjutnya dilakukan pada saat siswa kelas II SD sampai kelas VII, dan diperpanjang pada saat siswa kelas VIII sampai kelas XII. Diskusikan dan pahami bahwa informasi pribadi dapat/akan tetap ada di internet dan dapat digunakan.
RESEARCH MODEL OF INFORMATION LITERACY SCOPE AND SEQUENCE
Library Awareness Skills
Pengenalan semua aspek perawatan perpustakaan dilakukan saat siswa duduk di bangku taman kanak-kanak. Perkembangan pemahaman dan keterampilan pada hampir semua aspek perawatan perpustakaan dimulai sejak siswa masuk sekolah dasar hingga kelas XI. Pengembangan beberapa aspek perhatian, khususnya yang berkaitan dengan tata krama dan perilaku, dilakukan hingga Kelas VI.
Cakupan materi aspek perawatan perpustakaan dan jadwal mengajar dirinci pada Tabel 8 di bawah ini.
Life‐long Reading Skills
Keterampilan kedua, keterampilan membaca seumur hidup, meliputi membaca untuk pemahaman dan membaca untuk kesenangan. Secara umum, keterampilan ini mencakup dua aspek: 1) menyimak, mengamati, dan membaca untuk pemahaman dan kesenangan, 2) menyimak, mengamati, dan membaca untuk literasi media. Berkaitan dengan aspek pertama, siswa Taman Kanak-kanak mulai dikenalkan dengan pengembangan minat pribadi dan pembentukan kebiasaan membaca yang bersifat rekreatif dan informatif sepanjang usia. Keterampilan ini dikembangkan saat mereka menghadiri kelas enam dan diharapkan untuk memperolehnya di XII.
Masih terkait dengan keterampilan pertama, siswa dituntut untuk mengetahui keragaman budaya dalam karya sastra dan keragaman bentuk karya sastra, meliputi semua jenis sastra, mulai dari Buku ABC, otobiografi, fabel, legenda, novel, buku bergambar, puisi, cerpen , untuk buku non-fiksi. Dimensi lain dari keterampilan membaca sepanjang hayat adalah aspek yang berkaitan dengan literasi media. Aspek ini mencakup tiga keterampilan utama: 1) keterampilan mendengarkan, melihat/melihat dan membaca untuk literasi media, 2) membandingkan dan mengontraskan sumber informasi cetak dan noncetak, dan 3) membandingkan dan mengontraskan literatur versi cetak dan noncetak.
Keterampilan pertama, literasi media mendengarkan, melihat dan membaca, meliputi berbagai bentuk media seperti iklan komersial, baliho/poster/iklan online, rekaman radio, kartun, baik cetak maupun animasi, komunikasi internet, majalah (cetak/online), film / dokumenter, surat kabar, dan halaman web. Bedakan antara penulis dan kontributor lain untuk sebuah karya: ilustrator, editor, penerbit, webmaster, dll.
Research Model
- Question
- Find
- Gather
- Create
Berbeda dengan keterampilan lain pada model ini yang pembelajarannya direncanakan untuk kelas XII, keterampilan bertanya pada model penelitian direncanakan hanya untuk kelas IX. Aspek keterampilan yang berkaitan dengan bagaimana informasi ditemukan mencakup sepuluh keterampilan: 1) keterampilan dalam mengidentifikasi berbagai kemungkinan sumber informasi, 2) mengidentifikasi ketersediaan sumber informasi, 3) mengidentifikasi sumber primer dan sekunder, 4) mengidentifikasi sumber referensi khusus mata pelajaran, 5) mengetahui kapan menggunakan sumber cetak, 6) mengetahui kapan menggunakan sumber elektronik, 7) mengetahui kapan menggunakan sumber komunitas seperti perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, museum, line telepon, dll, 8) memilih sumber yang sesuai dengan pertanyaan , 9) menggunakan kriteria pemilihan sumber dan 10) memahami hirarki sumber informasi. Kelima adalah menemukan dan menggunakan bagian-bagian buku seperti sampul dan jaket, kode batang buku, halaman judul, halaman balik/hak cipta, untuk menemukan lokasi, halaman dedikasi dan ucapan terima kasih, daftar isi, halaman pengantar dan pendahuluan, teks, catatan kaki, lampiran, glosarium (daftar istilah), bibliografi dan indeks.
Keenam, kemampuan mencari dan menggunakan sumber referensi khusus seperti ensiklopedi khusus, kamus khusus, dan bibliografi khusus. Ketujuh, kemampuan mencari dan menggunakan sumber informasi, mengenal jenis bahan cetak, seperti fiksi dan nonfiksi, buku, majalah, surat kabar, bahan referensi (atlas, almanak, kamus, ensiklopedi, tesaurus, majalah indeks, bibliografi). , gazetir, dll). Dan terakhir, penentuan lokasi dan akses ke sumber daya masyarakat, seperti perpustakaan umum, perpustakaan universitas, museum, tempat bersejarah, kebun binatang, dan sumber daya lainnya.
Secara lengkap aspek keterampilan yang terkait dengan cara mencari informasi (retrieval) disajikan pada Tabel 11 di bawah ini. Keterampilan ketiga dari Model Penelitian yang dikembangkan oleh Sistem Perpustakaan Sekolah Otsego Northern Catskills BOCES adalah Koleksi. Keterampilan ini mencakup tiga belas aspek keterampilan: 1) keterampilan menyimak penuh perhatian, 2) keterampilan menyimak dengan tujuan, 3) keterampilan mendengarkan dengan senang hati, 4) keterampilan wawancara, 5) keterampilan melihat/melihat secara aktif, 6) keterampilan membaca dengan tujuan yang meliputi keterampilan memindai dan scanning, 7) keterampilan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, 8) keterampilan membaca lanjutan, 9) keterampilan menemukan kata kunci dan data untuk teks, 10) keterampilan menemukan koneksi dan lapisan dalam sumber elektronik, 11) keterampilan membaca dan menafsirkan informasi, 12) mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dengan menyoroti, membuat catatan, menggunakan grafik organiser, mendeskripsikan, parafrase, meringkas dan memotong kalimat dan 13) mempraktikkan perilaku etis terhadap informasi dan teknologi informasi. Pada aspek keterampilan ini, siswa diajarkan cara mengutip sumber dan cara menghargai hak kekayaan intelektual.
Keterampilan keempat dari Research Model yang dikembangkan oleh Otsego Northern Catskills School Library System BOCES adalah keterampilan mengorganisir dan menciptakan produk akhir (Create). Keterampilan ini mencakup dua aspek utama: 1) mengorganisir informasi dan 2) menciptakan produk.
Tebel 13: Cakupan Aspek Ketrampilan Mengorganisir dan Menciptakan Informasi a
Assess
Terakhir, model penelitian keterampilan yang dikembangkan sistem perpustakaan sekolah Otsego Northern Catskills BOCES adalah pengukuran/penilaian. Keterampilan ini mencakup dua aspek utama: 1) bagaimana produk dievaluasi dan 2) seperti apa proses evaluasinya. Pada aspek pertama, mahasiswa dituntut untuk mampu mengevaluasi produk terkait konteks dan format, mengevaluasi produk dari segi kelengkapan, kelebihan dan kekurangan, menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas produk dan memahami kriteria evaluasi. Pada aspek kedua, siswa harus mampu mengembangkan kriteria keefektifan proses pemecahan masalah, melakukan refleksi terhadap proses pencarian informasi, menjelaskan sumber yang digunakan, mencari sumber tambahan apa yang dibutuhkan, menjelaskan bagian tersulit dari proses pemecahan masalah. tugas penelitian, dan membuat rekomendasi untuk peningkatan kualitas penelitian selanjutnya.
Seperti terlihat pada Tabel 14, semua keterampilan tersebut diperkenalkan saat siswa duduk di bangku sekolah dasar, mulai dari kelas II hingga IV. Sedangkan proses pemberdayaan umumnya dilakukan pada saat siswa kelas XII, kecuali beberapa keterampilan sederhana seperti menggunakan rubrik dan menggunakan daftar periksa. Secara umum, aspek-aspek yang termasuk dalam asesmen keterampilan yang dikembangkan oleh Otsego Northern Catskills School Library System dapat dilihat pada Tabel 14 di bawah ini.
S IMPULAN DAN SARAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model literasi informasi ruang lingkup dan urutan mencakup kompetensi belajar sepanjang hayat yang sangat komprehensif. Dalam hal pengenalan ruang lingkup dan model urutan, kepustakawanan mencakup pemahaman tentang perpustakaan dan profesi pustakawan serta kemampuan menggunakan layanan dan fasilitas perpustakaan. Dalam hal teknologi informasi dan komunikasi, model ini mencakup berbagai pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan internet dan media komunikasi untuk keperluan pembelajaran dan pemecahan masalah informasi.
Sedangkan dari segi etika hidup di dunia informasi, model Scope and Sequence mencakup sikap integritas akademik, penghargaan terhadap karya intelektual orang lain, dan pengetahuan tentang masalah hak cipta yang sah. Model Literasi Scope and Sequence dirancang untuk digunakan tidak hanya pada pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga pada pendidikan pra sekolah (TK). Berbagai pengetahuan dan keterampilan dasar dalam literasi informasi seperti mengenal perpustakaan dan kepustakawanan, buku-buku yang pada umumnya menyenangkan, bahkan etika teknologi informasi dalam menghargai dan menghargai karya intelektual, telah dikenalkan sejak anak-anak masih berada di jenjang pendidikan paling awal, taman kanak-kanak.
Hanya sebagian kecil pengetahuan tentang pemanfaatan koleksi perpustakaan dan teknologi informasi yang dikenalkan setelah anak masuk sekolah dasar. Sehingga kami memahami bahwa taman kanak-kanak adalah waktu yang paling tepat untuk memperkenalkan literasi informasi; sedangkan masa pendidikan dasar merupakan waktu yang tepat untuk menerapkan keterampilan literasi informasi;