PEN BIOLO KOOPE BANTUA
PR
NINGKAT OGI SISW ERATIF N AN LKS T
Ditulis u Men
ROGRAM KON PR UNI
TAN AKTI WA MELA NUMBERE TEBAK AL KABU
YUL N
ntuk memen ndapatkan g
M STUDI T NSENTRA
ROGRAM IVERSITA
IVITAS D ALUI MO
ED HEAD LUR di K UPATEN S
TESIS
Oleh
LIA FARID NIM: 51869
nuhi sebagai gelar Magist
TEKNOL ASI PEND M PASCAS
AS NEGE 2011
DAN HASI DEL PEM DS TOGET KELAS X-4
SIAK
DA
persyaratan ter Pendidika
OGI PEN IDIKAN I SARJANA RI PADA
IL BELAJ MBELAJA THER DEN
4 SMAN 1
n dalam an
NDIDIKAN IPA
A ANG
JAR ARAN
NGAN 14 SIAK
N
i ABSTRACT
Yulia Farida, 2011. Improving Students’ Activities and Learning Achievement in Biology through Cooperative Learning Model of Numbered Heads Together (NHT) by Using Students’ Worksheet
“Tebal Alur” (guess the way) at X4 Grade of Senior High School Number 14 Siak Regency. Thesis Graduate Program of Padang State University.
The needed competency in Biology lesson requires students to be more maximal in learning. To achieve the goal, it is needed a good effort from teacher and students. The strategy and learning model that have been used is not able to improve the students’ activities and learning result yet. The effort is used to improve the cases are by using learning model of Numbered Heads Together (NTH) and helped by students’ worksheet “Tebak Alur” (guess the way). The purpose of this research is to improve students’ activities and their learning result in Biology through cooperative learning model of Numbered Heads Together (NHT) and students’ worksheet “Tebal Alur” (guess the way)
This study was Classroom Action Research (CAR) which was done in two cycles. Every each of cycle consisted of four steps: planning, action, observation and reflection. The subject of this study was the students of X4 grade of senior high school number 14 Siak Regency. To gether the data, the researcher used observation sheet to observe students’ activity and Biology test to measure students’ achievement. The percentage technique was used to analyze students’
activities of each indicator. Students’ achievement showed by the number of students who passed the minimum standard score achievement criteria (KKM) and the students’ mean score of the last cycle.
The result of data analysis on the first cycle and second cycle showed that there were improvements of students learning activities of each indicator. It gave the positive contribution on the result of the students’ learning. The amount of students above minimum standard score achievement criteria (KKM) increased from 60 % to 93%. The average score also increased from 64.7 % on the first to 77.5 % on the second cycle. It concluded that using of cooperative model learning of Numbered Heads Together (NHT) by helping students worksheet “Tebak Alur”
(Guest the way) in learning biology improved learning activities and Biology achievement.
ii ABSTRAK
Yulia Farida 2011, Peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dengan bantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur di kelas X4 SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak. Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang
Kompetensi yang diharapkan dalam pembelajaran biologi menuntut siswa agar lebih maksimal dalam pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sebuah usaha yang bagus dari guru dan siswa-siswa. Strategi dan model pembelajaran yang telah digunakan selama ini belum dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan permasalahan ini dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan lembar kerja siswa tebak alur. Tujuan penelian ini adalah untuk mengungkapkan peningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat langkah: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah kelas X4 SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak dengan 40 siswa. Untuk mendapatkan data ini, peneliti menggunakan dua instrumen yaitu lembaran observasi aktivitas dan hasil tes biologi dari siswa. Aktivitas siswa setiap indikator yang diberikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Peningkatan hasil belajar bisa dilihat dari jumlah siswa yang tuntas sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan nilai rata-rata yang didapat dari akhir setiap siklus.
Hasil analisis data pada siklus pertama dan kedua menunjukan bahwa ada peningkatan dari aktivitas belajar siswa setiap indikator. Hal ini memberikan kontribusi positif terhadap hasil belajar siswa. Jumlah siswa yang tuntas sesuai KKM meningkat dari 60 % menjadi 93 % dan nilai rata-rata juga meningkat dari 64,07 % pada siklus pertama menjadi 77,5 % pada siklus kedua. Secara umum bisa disumpulkan bahwa penggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
iii
iv
v
vi
KATAPENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur di kelas X4 SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak”.
Tesis ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan studi Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang. Selesainya penulisan tesis ini tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah ikhlas meluangkan waktu, fikiran dan tenaga untuk membantu dan membimbing penulis sejak dari awal. Untuk itu, penulis menghaturkan terimakasih kepada Bapak Prof. Dr. Lufri, M.S., selaku pembimbing I dan Bapak Dr. Imam Mahadi, M.Sc., selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan motivasi, arahan dan saran yang sangat bernilai bagi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang setulus- tulusnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Mukhaiyar., sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, beserta staf yang telah memberi pelayanan administrasi dengan baik.
2. Ibu Dr. Yuni Ahda, M.Si., sebagai Ketua Konsentrasi Pendidikan IPA Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
3. Ibu Dr. Yuni Ahda, M.Si, Ibu Dr. Latisma, Dj, M.Si, Bapak Prof. Dr.
Mukhaiyar selaku dosen penguji tesis yang telah memberikan sumbangan pemikiran serta saran dalam perbaikan dan penyempurnaan tesis.
4. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen Program Studi Pascasarjana Universitas Negeri Padang dan Universitas Riau.
5. Bapak Kepala SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak dan rekan sejawat atas kerjasama yang diberikan dalam penelitian ini.
vii
6. Ibu Dr. Evi Suryawati, M.Pd, Dra. Darmawati, M.Si, dan Dra. Witnarti, sebagai validator data yang telah memberikan bimbingan, saran dalam membuat perangkat pembelajaran, lembar observasi dan tes hasil belajar yang digunakan dalam penelitian ini.
7. Ibu Sri Yanti, S.Pd, Nini Khairani, SE sebagai Observer yang telah meluang waktu untuk melakukan pengamatan dan memberikan masukan selama penelitian ini berlangsung.
8. Siswa X4 SMA Negeri 14 Siak yang telah berpartisipasi sebagai subjek penelitian.
9. Rekan-rekan Mahasiswa Program studi Teknologi Pendidikan dari Pekanbaru yang telah berbagi suka dan duka selama perkuliahan sampai penulisan tesis ini.
10. Kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam penulisan tesis.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa hasil karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan sangat penulis harapkan. Semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis demi kelancaran penyelesaian tesis ini, mendapat balasan dan ridha Allah SWT. Semoga tesis ini bermanfaat dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Amin. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Padang, Juli 2011
Penulis
viii DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRACT ... i
ABSTRAK ... ii
SURAT PERNYATAAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Pembatasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 8
F. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 10
1. Aktivitas Belajar... 10
2. Hasil Belajar ... 13
3. Model Pembelajaran Kooperatif ... 15
4. Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) ... 17
ix
5. Lembaran Kerja Siswa (LKS) ... 21
B. Penelitian Relevan ... 23
C. Kerangka Pemikiran ... 24
D. Hipotesis Tindakan ... 25
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 27
B. Tempat Penelitian ... 27
C. Waktu Penelitian ... 27
D. Subyek Penelitian ... 28
E. Definisi Operasional ... 28
F. Prosedur Penelitian ... 29
G. Instrumen Penelitian ... 34
H. Teknik Analisis Data ... 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Aktivitas Belajar Siswa Siklus I ... 38
B. Hasil Belajar Siklus I ... 42
C. Refleksi Siklus I ... 43
D. Aktivitas Belajar Siswa Siklus II ... 46
E. Hasil Belajar Siklus II ... 49
F. Refleksi Siklus II ... 50
G. Peningkatan Aktivitas Belajar Biologi Siswa Siklus I Dan Siklus II ... 51
H. Perbandingn Hasil Belajar Siklus I dan II ... 53
x
I. Penghargaan Kelompok ... 55
J. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... 68
B. Implikasi ... 69
C. Saran ... 70
DAFTAR RUJUKAN ... 71
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Langkah- langakah Model Pembelajaran Kooperatif ... 17
3.1. Interval dan Ketegori Aktivitas Belajar ... 35
3.2. Nilai Perkembangan Individu ... 36
3.3. Tingkat Penghargaan Kelompok ... 37
4.1. Rincian Pelakasanaan Siklus I ... 38
4.2. Hasil pengamatan Aktivitas Siwa pada Pertemuan Pertama Siklus I ... 39
4.3. Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I ... 43
4.4. Rincian Pelakasanaan Siklus II ... 47
4.5. Hasil pengamatan Aktivitas Siwa pada Pertemuan Pertama Siklus II ... 47
4.6. Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I ... 49
4.7. Rata-rata Aktivitas Belajar Siklus I dan Siklus II ... 51
4.8. Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Siklus I dan II ... 53
4.9. Penghargaan yang diperoleh masing-masing kelompok pada Siklus I dan Siklus II ... 55
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 2.1. Kerangka Berpikir melalui model pembelajaran kooperatif Numbered
Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS tebak alur ... 25
3.1. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ... 30
4.1. Diagram Batang Ketuntasan Hasil Belajar siklus I ... 43
4.2. Diagram Batang Ketuntasan Hasil Belajar siklus II ... 49
4.3. Diagram Batang Peningkatan Aktivitas Belajar Siklus I dan II 52 4.4. Diagram Batang KetuntasanHasil Belajar Siklus I dan II ... 54
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 73
Lampiran 2. Lembaran Kerja Siswa ... 95
Lampiran 3. Lembaran Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I dan II 119
Lampiran 4. Catatan Lapangan Siklus I dan II ... 133
Lampiran 5. Kisi-kisi Tes hasil Belajar Siklus I ... 142
Lampiran 6. Tes hasil Belajar Siklus I ... 144
Lampiran 7. Kunci Jawaban Tes Siklus I... 150
Lampiran 8. Kisi-kisi Soal Hasil Belajar ... 154
Lampiran 9. Tes Hasil Belajar Siklus II ... 156
Lampiran 10. Kunci Jawaban Tes Siklus II ... 162
Lampiran 11. Hasil Tes Hasil Belajar Siklus I dan II ... 164
Lampiran 12. Nilai perkembangan individu dan penghargaan kelompok Siklus I ... 165
Lampiran 13. Nilai perkembangan individu dan penghargaan kelompok Siklus II ... 166
Lampiran 14. Analisis Hasil Ulangan Harian Siklus I ... 167
Lampiran 15. Analisis Hasil Ulangan Harian Siklus II ... 168
Lampiran 16. Dokomentasi melalui penggunaan pembelajaran kooperatif NHT dengan bantuan LKS Tebak Alur ... 169
xiv
Lampiran 17. Lembaran Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Lampiran 18. Lembaran Validasi Lembaran Kerja Siswa
Lampiran 19. Lembaran Validasi Lembaran Observasi Lampiran 20. Lembaran Validasi Tes hasil Belajar Lampiran 21. Surat Izin Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peningkatan mutu pendidikan terutama di sekolah secara terus menerus harus dilaksanakan, karena sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang berfungsi membimbing siswa untuk memiliki suatu pengetahuan, keterampilan, membentuk sikap positif dan kepribadian siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan disekolah adalah dengan cara perbaikan proses belajar mengajar atau pembelajaran. KTSP menuntut kreatifitas guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Menurut Anwar (2009: 4), pelaksanaan KTSP merupakan tantangan bagi sekolah dan guru untuk semakin kreatif dan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru harus berupaya secara terus menerus mengembangkan mutu pembelajarannya di sekolah dengan menemukan hal-hal spesifik di lingkungan masing-masing, untuk dijadikan sebagai sumber belajar. Jadi, guru harus mampu merancang program pembelajaran serta mengembangkan ide-idenya dalam pelaksanaan proses pembelajaran untuk dapat siswa berbuat lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat mengantarkan siswa kepada pemahaman yang lebih baik.
Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatiftas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan baik terhadap materi pelajaran. Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:27) adalah kegiatan guru secara terprogram untuk membuat siswa belajar secara aktif.
Guru sebagai pendidik harus melakukan rekayasa pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku. Sejalan tuntutan dari kurikulum guru sebagai pendidik bukan hanya berfungsi untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru juga berkewajiban membimbing dan mengarahkan cara belajar siswa agar aktif dalam belajar untuk mencapai hasil yang optimal. Untuk mencapai hasil yang lebih baik maka guru berperan penting dalam merancang dan mendesain rencana pembelajaran untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Oleh karena itu, guru harus tepat dalam menggunakan metode dan strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang dilaksanakan di kelas X4 pada umumnya selama ini kurang bervariasi. Penggunaan metode pembelajaran juga yang sangat monoton sehingga kurang melibatkan siswa. Salah satu cara sering dilakukan adalah dengan menggunakan metode ceramah akibatnya aktivitas belajar relatif rendah karena pembelajaran berpusat pada guru sehingga banyak siswa kurang termotivasi dalam belajar. Hal ini dapat dilihat kurangnya perhatian siswa selama mengikuti pelajaran.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajar di kelas X4 SMA Negeri 14 Siak terdapat beberapa kendala dalam melaksanakan pembelajaran
sebagai berikut: banyak siswa kurang termotivasi dalam belajar, hal ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian siswa selama mengikuti pelajaran. Siswa kurang aktif sehingga kelas kurang berpusat pada siswa, banyak siswa tidak mau bertanya walaupun tidak mengerti dan jika ditanya siswa tidak menjawab, siswa lebih cendrung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru. Dan jika siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, sebagian siswa tidak berminat untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru dan masih banyak mengerjakan sendiri-sendiri, siswa masih banyak bermain-main dan bercerita saja. Ini berarti perhatian, rasa ingin tahu, keinginan berprestasi, kepercayaan diri dan pengembangan kemampuan berfikir siswa terhadap materi yang disajikan masih kurang.
Kurangnya motivasi belajar siswa menyebabkan siswa kesulitan dalam pemahaman konsep-konsep materi pelajaran sehingga bisa dilihat setelah guru menyampaikan materi pembelajaran kemudian memberikan pertanyaan hanya 3 orang dari 40 siswa yang menjawab pertanyaan. Kemudian diberi kesempatan kepada siswa untuk mempertanyakan materi kurang yang dipahami, hanya 2 orang siswa yang bertanya. Hal ini terjadi karena siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dari materi yang telah dipelajari. Sehingga pencapaian hasil belajar siswa dalam ulangan harian maupun ujian semester relatif rendah, ini ditandai dengan persentase KKM masih banyak di bawah standar. Dari KKM yang sudah ditetapkan yaitu 65, hanya 11 siswa yang yang tuntas atau sekitar 27,5% dari 40 siswa.
Berdasarkan masalah diatas, hal tersebut terjadi karena cara mengajar guru kurang bervariasi, guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tidak menerapkan model-model pembelajaran, guru juga kurang maksimal memberikan bimbingan serta kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini membuat siswa tidak berminat untuk belajar, akibatnya siswa tidak paham terhadap materi yang disamapaikan oleh guru, sehingga selama proses pembelajaran hanya berpusat pada guru dan guru lebih berperan aktif. Hal ini tersebut menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa.
Peneliti berusaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode tanya jawab , diskusi dan pemberian tugas, dengan tujuan untuk memotivasi siswa serta mengupayakan perencanaan dan persiapan pembelajaran yang baik. Kondisi ini belum menampakkan hasil yang maksimal dapat lihat, masih banyak siswa yang tidak tuntas sesuai dengan KKM.
Berdasarkan uraian diatas, peranan guru sangat menentukan hasil pembelajaran yang ingin dicapai. Salah satunya adalah dengan melakukan perbaikan cara mengajar yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam belajar, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Upaya untuk mengatasi masalah ini peneliti mencoba menerapkan satu model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur. Penerapkan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan Lembaran
Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur diduga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) menekankan pada pemberian kesempatan belajar lebih luas dan dalam suasana yang kondusif kepada siswa agar memperoleh konsep, mengembangkan sikap nilai, keaktifan serta kentrampilan sosial seperti keterampilan bekerjasama, mengembangkan sikap demokratis dan keterampilan berpikir logis ( Ibrahim, 2001: 19 ).
Keuntungan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together ( NHT) ini menurut Lie (2004:58) adalah : 1). Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berkomunikasi secara aktif dalam menuangkan ide-ide dalam mempertimbangkan jawaban yang paling tepat dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahuinya, 2). Mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran, 3). Dapat digunakan dalam semua pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (siswa). Selain itu keistemewaan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) ialah dapat menjamin setiap siswa memiliki peluang yang sama untuk melibatkan diri dalam aktivitas pembelajaran, terutama siswa yang memiliki kemampuan yang kurang, karena peluang untuk melibatkan diri dan diakui keberadaannya oleh anggota kelompok yang lain merupakan suatu hal yang menarik minat mereka.
Instrumen untuk NHT dapat berupa LKS atau soal. Namun penulis memilih untuk menggunakan LKS. LKS lebih efektif dan efisien karena di Lembaran kerja siswa (LKS) sudah tercantum materi inti, langkah kerja dan pertanyaan yang akan dikerjakan siswa. Pada penelitian ini, peneliti mengunakan Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur karena pada materi di kelas X banyak materi yang mempelajari daur hidup suatu makhluk hidup.
Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur merupakan LKS yang dilengkapi degan judul, tujuan, alat bahan, langkah kerja, materi inti dan pertayaan. LKS ini menyajikan gambar tahapan-tahapan dari suatu siklus atau daur hidup makhluk hidup yang disajikan dengan tidak berurutan. Kemudian siswa mengurutkan dengan benar. LKS Tebak Alur dapat digunakan untuk pembelajaran konsep tentang siklus/daur hidup makhluk hidup. Kelebihan memakai Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur mempermudah pemahaman dan penanaman konsep suatu siklus/daur hidup makhluk hidup, sehingga pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan dalam penyampaian konsep.
Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar yang diharapkan penulis mewujudkan dalam bentuk penelitian tentang “ Peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur di kelas X4 SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam pembelajaran biologi di kelas X4 SMA Negeri 14 Siak sebagai berikut :
1. Hasil belajar siswa masih rendah.
2. Guru memberikan pembelajaran dengan metode yang tidak bervariasi.
3. Aktivitas belajar siswa masih rendah.
4. Keberanian siswa untuk bertanya masih kurang.
5. Kurangnya interaksi antara siswa dan guru.
6. Pemahaman materi yang dipelajari belum mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
7. Peneliti belum pernah menerapkan model-model pembelajaran 8. Motivasi belajar rendah
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, batasan masalah dari penelitian ini adalah “Peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa melalui model pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pelajaran biologi dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur.
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dalam pelajaran biologi dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada pembatasan masalah dan rumusan masalah yang peneliti kemukan diatas, maka tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengungkapkan peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur.
2. Untuk mengungkapkan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
1. Bagi guru, alternatif untuk menggunakan strategi pembelajaran lebih bervariasi dan bermakna, yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.
2. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dalam memahami penerapan model Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur
3. Bagi Kepala Sekolah, sebagai sumbangan dalam suvervisi serta memotivasi guru lain untuk kreatif dalam memilih model pembelajaran.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Aktivitas Belajar
Aktivitas merupakan seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajaran. Belajar menurut Dave Meier (Yamin, 2007 : 75) adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan menjadi keaktifan. Aktivitas merupakan asas atau prinsip yang penting dalam belajar karena pada hakekatnya belajar adalah berbuat (learning to do). Aktivitas siswa dalam belajar tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat. Diedrich (Sardiman, 2001:99) membuat daftar yang berisi macam kegiatan siswa yaitu sebagai berikut :
a. Visual Activities, antara lain membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, melihat pekerjaan orang lain.
b. Oral Activities, antara lain menyatakan pendapat, merumuskan, bertanya, memberi saran, wawancara, diskusi.
c. Listening Activities, antara lain mendengarkan uraian, mendengarkan musik, mendengarkan pidato.
d. Drawing activities, antara lain menggambar, membuat grafik, membuat diagram.
e. Mental Activities, antara lain mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
f. Writing Activities, antara lain menulis cerita, karangan, laporan, angket.
g. Emotional Activities, antara lain bergembira, bersemangat, berani, gugup.
Raka Joni (Yamin, 2007:80) menjelaskan bahwa peran aktif dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dapat di laksanakan apabila:
1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa (students centered).
2. Pendidikan berperan sebagai pembimbing, supaya terjadi pengalaman belajar.
3. Tujuan kegiatan pembelajran tercapai (kompetensi dasar).
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekan pada kreativitas, meningkatkan kemampuan minimalnya, dan menciptakan siswa yang kreatif serta mampu menguasai konsep-konsep.
5. Melakukan pengukuran secara kontinu dalam berbagai aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa dalam kegiatan belajar siswa harus aktif berbuat, dengan kata lain bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tampa aktivitas belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Sekolah merupakan salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, sekolah arena untuk membangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa disekolah, aktivitas tidak cukup hanya mendengar dan mencatat saja.
Sanjaya (2009:135) menerangkan bahwa dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS). Pembelajaran berorientasi aktivitas siswa dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpanduan antara aspek kognitif, efektif, dan psikomotor secara seimbang.
Aktivitas belajar dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti: bekerjasama, mengerjakan tugas, menyumbangkan ide, menghargai pendapat, berinteraksi, menulis, mengembangkan hasil karya, bertanya, menjawab dan menanggapi. Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, keaktifan peserta didik merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Menurut Supriyadi (2008) aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai sikap dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang dilaksanakan secara sengaja.
Mulyono (Septiadi, 2008) menyatakan bahwa aktivitas artinya
“kegiatan/ keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan- kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik merupakan suatu aktivitas. Dalam kegiatan pembelajaran aktivitas siswa memiliki manfaat yang sangat besar. Apabila siswa yang mengikuti proses belajar mengajar
aktif, maka siswa tersebut akan memperoleh pengalaman langsung, dapat mengembangkan diri, memupuk kerjasama sekolah, masyarakat dan interpersonal, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, suasana belajar menjadi hidup/dinamis dan memperoleh prestasi yang baik. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dalam proses pengajaran berdampak sangat besar bagi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peran serta guru sangat diperlukan dalam meningkatkan aktivitas siswa dalam setiap proses pembelajaran.
Lufri (2007:122) menerangkan Kreativitas melahirkan aktivitas atau kreativitas ditunjukkan oleh adanya aktivitas. Orang yang mempunyai kreativitas tinggi biasanya menghasilkan berbagai aktivitas. Pembelajaran yang berbasis pada aktivitas (active learning) akan menuntut kreativitas berpikir lebih banyak dari pada pembelajaran biasa
2. Hasil belajar.
Tugas utama seorang siswa adalah belajar sedangkan aktivitas belajar akan mendatangkan hasil belajar. Menurut Sudjana (2000:49) belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan ini dapat ditunjukan dalam bentuk seperti pengetahuan, pemahaman, sikap dan kemampuan.
Hasil belajar menurut Sudjana (2008:22) adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:200) adalah tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata symbol. Hasil belajar sering disebut sebagai prestasi belajar. Prestasi belajar adalah kemampuan maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu usaha yang menghasilkan pengetahuan atau nilai-nilai kecakapan yang diuji melalui evaluasi pembelajaran dalam bentuk pengetahuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Tujuan dari pelaksanaan evaluasi melalui tes sebagai alat ukur hasil belajar siswa adalah untuk mengetahui tingkat penguasaan materi atau bahan pelajaran setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Setiap proses pembelajaran, keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai, di samping di ukur dari prosesnya. Hasil belajar merupakan kemampuan dasar yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami dan menguasai materi pelajaran. Hasil belajar dapat dilihat dari perubahan-perubahan dalam pengetahuan, sikap, kemampuan dan kentrampilan yang bersifat konsisten.
Seperti yang dinyatakan Lufri (2007:10) bahwa “ hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda – beda”.
Bloom mengelompokkan hasil belajar dalam tiga wilayah (domain) yaitu; (1) Ranah kognitif (pengetahuan), (2) Ranah efektif (sikap), dan (3) ranah psikomotor (kentrampilan).
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Dalam rangka pencapaian aktifitas belajar yang baik maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi di kelas.
Satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan pengembangkan dari konstruktivistik,yaitu siswa dapat membentuk dan menyusun konsep baru setelah proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif menurut Sholehatin (2008: 5) merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikap dan menyesuaikan dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama antar kelompok akan meningkatan motivasi produktivitas, dan hasil belajar. Menurut Johnson&Johnson (Isjoni, 2009:17) Cooperative learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka meliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut. Model pembelajaran kooperatif menurut Slavin (Poppy,dkk. 2007:11) adalah suatu pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen. Belajar kooperatif menekankan kerja kelompok, siswa belajar bersama, saling membantu. Kerja kelompok membuat siswa bersemangat untuk belajar aktif untuk saling menampilkan diri atau berperan diantara teman-teman sebaya.
Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis adalah kooperatif. Pembelajaran muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007: 41)
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dibentuk kelompok kooperatif adalah untuk memberi kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkin pendidik mengelola kelas dengan efektif.
Lie (2004:31) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dikategorikan pembelajaran kooperatif. Untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif ada 5 unsur yang harus terpenuhi seperti; 1) Saling ketergantungan positif 2) Tanggung jawab perorangan 3) Tatap muka 4) Komunikasi antar anggota 5) Evaluasi proses kelompok.
Ibrahim, dkk. (2000) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa langkah dapat dijelaskan melalui Tabel 2.1. berikut ini:
Tabel 2.1. Langkah- langakah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1 :
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2:
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa.
Fase 3 :
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4:
Membimbing bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar ketika mereka sedang bekerja menyelesaikan tugas bersama
Fase 5:
Evaluasi
Guru mengavaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6 :
Memberi penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai kelompok.
4. Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
Model pembelajaran yang merupakan salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif yaitu Numbered Heads Together (NHT). Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreatif, dan terlibat secara aktif dalam berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Menurut Trianto (2007:62) Numbered Heads Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah jenis kooperatif
yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan materi. Spencer Kagan ( Lie, 2004:59) mengembangkan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) atau kepala bernomor artinya setiap siswa dalam kelompok diberi nomor kepala dengan tujuan seperti; Membangkitkan semangat belajar siswa. Meningkatkan semangat kerjasama antar anggota kelompok. Menumbuhkan sikap bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Menurut Agus (2009:92) pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) memiliki sintak sebagai berikut: “Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang siswa dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari, maka tiap kelompok terdiri terdiri 8 orang. Tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor 1-8.
Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Berikan kesempatan kepada tiap- tiap kelompok menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru. Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal ini itu dilakukan terus
hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapatkan giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru”.
Menurut Ibrahim (2000: 28) bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) melalui beberapa langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah 1: Penomoran. Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3 orang sampai 5 orang. Dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Langkah 2: Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada Siswa. Pertanyaan dapat bervariasi.
Langkah 3: Berfikir bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadapan pertanyan, dan menyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya tentang jawaban bersama.
Langkah 4: Menjawab. Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya dipanggil menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Lankah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah (Ibrahim dalam Anonimous, 2008), yaitu sebagai berikut:
Langkah 1 : Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa
(LKS) Tebak Alur yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT)
Langkah 2 : Pembentukan Kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 orang siswa. Guru member nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk secara acak yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar.
Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai rata-rata ulangan harian (UH) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3 : Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS Tebak Alur kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berfikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap siswa mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS Tebak Alur atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.
Langkah 4 : Memanggil salah satu nomor untuk menjawab pertanyaan
Dalam tahap ini, guru memberikan pertanyaan dan memanggil salah satu nomor siswa dengan secara acak untuk menjawab pertanyaan.
Selanjutnya para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama
mengangkat tangan. Bagi siswa yang pertama mengangkat tangan maka dialah yang berhak menjawab pertanyaan.
Langkah 5 : Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Langkah 6 : Memberikan penghargaan
Pada tahap ini, guru memberikan penguatan kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik. Ditambah dengan diberinya penghargaan kepada kelompok terbaik diakhir siklus dengan membandingkan skor dasar dengan nilai perkembangan siswa yang diolah setelah siklus.
5. Lembaran Kerja Siswa (LKS) 1. Pengertian LKS
Menurut Trianto (2010: 111) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang terprogram. Setiap LKS berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/ bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan – pertanyaan untuk didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.
Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah suatu lembar kerja yang dibuat oleh guru dengan tujuan mengarahkan siswa pada penguasaan konsep.
LKS merupakan salah satu jenis alat bantu pembelajaran bahkan ada juga
yang menanggapi LKS sebagai alat peraga pembelajaran. LKS berupa lembaran kertas yang berisi informasi maupun pertanyaan-pertanyaan yang harus dikerjakan oleh siswa. LKS ini digunakan untuk mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam belajar baik digunakan sebagai penerapan metode terbimbing maupun untuk memberikan latihan pengembangan.
Menurut Tugiman, dkk (2008, 16) LKS dipergunakan dalam proses pembelajaran, dimaksudkan untuk mengecek tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan dan tidak dinilai melainkan diberi penguatan yang berhasil dan diberi bimbingan bagi yang mengalami kesulitan. Tugas –tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teoritis (LKS non eksperimen) dan tugas-tugas pratis (LKS eksperimen). Tugas tioritis (LKS non eksperimen) misal tugas membaca sebuah artikel tertentu kemudian membuat resume untuk dipresentasikan. Sedangkan tugas praktis (LKS eksperimen) tugas berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya mengobservasi proses produk yang sederhana.
Tujuan LKS dalam pembelajaran adalah memberikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan siswa dalam pembelajaran, mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan, mengembangkan dan menerapkan materi yang sulit disampaikan secara lisan. Sedangkan manfaat yang diperoleh dengan penggunaan LKS adalah untuk mengaktifkan siswa, membantu siswa mengembangkan konsep,
melatih siswa menemukan dan mengembangkan ketrampilan proses serta membantu menambah informasi tentang konsep yang dipelajari.
2. Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur
LKS Tebak Alur merupakan LKS non eksperimen karena dalam LKS tebak alur menyajikan tugas –tugas berupa teoritis. LKS Tebak Alur dilengkapi dengan judul, tujuan, alat bahan, langkah kerja, materi inti dan pertayaan. Disamping itu LKS Tebak Alur menyajikan gambar tahapan- tahapan suatu siklus atau daur hidup yang disajikan dengan tidak berurutan kemudian siswa mengurutkan dengan benar. LKS Tebak Alur dapat digunakan untuk pembelajaran konsep tentang daur/siklus suatu makhluk hidup.. Kemudian kelebihan memakai Lembaran Kerja Siswa (LKS) Tebak Alur mempermudah pemahaman dan penanaman konsep suatu daur/siklus, sehingga pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan dalam penyampaian konsep (hhtp:// www.google.co.id=lks tebak alur.htm).
B. Penelitian Relevan
1. Nurhasanah Saily (2009) telah melakukan penelitian dengan judul Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkat Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X.I SMA Negeri 1 Pekanbaru. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kelas X.I pada mata pelajaran biologi
2. Nanik Riyanti (2010) telah melakukan penelitian dengan judul Penggunaan Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Ittihadul Muslimin Koto gasib Kabupaten Siak. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kelas XI pada mata pelajaran geografi.
C. Kerangka Pemikiran
Pembelajaran biologi melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur merupakan suatu cara yang dapat membantu siswa lebih mudah memahami konsep-konsep dalam pelajaran biologi. Dengan menggunakan model ini siswa terbimbing untuk bekerjasama dan saling berinteraksi antar sesama teman untuk memecahkan masalah. Selain itu siswa dapat saling membelajarkan (peerteaching) sehingga siswa berkemampuan tinggi dapat membantu teman-teman yang berkemampuan kurang dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam pembelajaran biologi. LKS Tebak Alur membantu siswa mempermudah memahami materi yang berbentuk siklus atau daur hidup. Melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dengan bantuan LKS Tebak Alur dapat meningkatkan aktivitas
belajar yang berdampak yang positif terhadap peningakatan hasil belajar siswa dalam pelajaran biologi .
Untuk lebih jelas dapat digambarkan kerangka pemikiran penelitian ini pada gambar 2.1. :
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS tebak alur
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi hipotesis tindakan adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur
Aktivitas belajar siswa rendah
Hasil belajar siswa rendah
Pembelajaran model kooperatif Numbered Heads Together dengan bantuan LKS tebak
alur
Peningkatan aktivitas belajar siswa
Peningkatan hasil belajar biologi siswa
dapat meningkatan aktivitas belajar siswa mata pelajaran Biologi kelas X4 SMA Negeri 14 Siak.
2. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran biologi kelas X4 SMA Negeri 14 Siak
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru sendiri yang juga bertindak sebagai peneliti di kelas atau di sekolah tempat mengajar dengan tujuan adalah untuk memperbaiki kenerja peneliti di kelas, sehingga meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
B. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak. Pemilihan tempat ini dikarenakan penulis merupakan guru tetap di SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak
C. Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2010/2011 yaitu 16 Maret – 10 Mei 2011 sejalan dengan proses pembelajaran berlangsung, yaitu 2 jam pelajaran (2 x 45’), pada materi Kingdom Plantae (Tumbuhan Lumut, Paku dan Biji) dan materi kingdom Animalia (Porifera, Coelenterata, Platyhelmintes dan Nemathelmintes)
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas X4 SMA Negeri 14 Siak Kabupaten Siak yang berjumlah 40 orang. Hal ini berdasarkan pengamatan peneliti selaku guru kelas X4 bahwa aktivitas belajar siswa rendah dan banyak siswa belum tuntas dalam pembelajaran.
E. Definisi Operasional
1. Aktivitas Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajaran. Diantara aktivitas itu adalah berkerja kelompok, mengerjakan LKS yang diberi oleh guru, menjawab pertayaan guru, menangapi jawaban dari kelompok lain.
2. Hasil belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan ditandai dengan skala nilai berupa angka.
3. Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) adalah model pembelajaran dimana siswa di bagi dalam beberapa kelompok yaitu: siswa kelas X4 tediri dari 40 orang yang dibagi menjadi 8 kelompok setiap kelompok terdiri dari 5 orang , setiap siswa dalam kelompok mendapatkan nomor. Guru memberikan LKS setiap kelompok dan masing-masing kelompok mengerjakan. Kemudian kelompok mendiskusikan jawaban dengan benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya.
Selanjutnya guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka, Kemudian guru memanggil anggota kelompok lain secara acak untuk menanggapi dan siswa yang
dipanggil memberikan tanggapan, kelompok yang dipanggil harus dapat menerima tanggapan dari teman lain terakhir membuat kesimpulan bersama siswa tentang materi yang dipelajari.
4. LKS Tebak Alur merupakan LKS yang dilengkapi dengan judul, tujuan, alat bahan, langkah kerja, materi inti dan pertayaan. LKS Tebak Alur LKS yang menyajikan gambar tahapan-tahapan suatu siklus/daur makhluk hidup yang disajikan dengan tidak berurutan kemudian siswa mengurutkan dengan benar. LKS Tebak Alur dapat digunakan untuk pembelajaran konsep tentang siklus/daur hidup. Kemudian kelebihan memakai Lembaran Kerja Siswa (LKS) tebak alur mempermudah pemahaman dan penanaman konsep suatu siklus/daur, sehingga pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan dalam penyampaian konsep.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur atau rancangan kegiatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui empat tahap yaitu: perencanaan (Planning), pelaksanaan tindakan (Action), pengamatan (Observation), dan refleksi (Reflection).
Dengan empat kegiatan pokok, masalah yang ditemukan dicari solusinya yang berupa perencanaan perbaikan, pelaksanaan tindakan yang telah direncanakan dengan disertai kegitan pengamatan, lalu direfleksikan melalui diskusi balikan sehingga menghasilkan tindakan berikutnya.
Data yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together(NHT) di kelas yang diberi pada setiap siklus adalah hasil pengamatan oleh observer terhadap responden. Hasil pengamatan pada siklus
I merupakan data yang diolah dan analisis. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan refleksi pada siklus berikutnya yaitu siklus II.
Gambar 3.1. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2008:16 ) Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan mengikuti model Kemmis Stephan & Mc. Taggart (Arikunto, 2008: 16). Satu siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanan tindakan, observasi, dan refleksi. Arikunto (2008:
17) menyatakan bahwa suatu siklus terdiri dari 4 komponen yaitu:
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, kegiatan yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi materi yang akan diajarkan.
Perencanaan
Siklus 1 Pengamatan
Perencanaan
Siklus 2
Pengamatan
?
Pelaksanaan Refleksi
Refleksi Pelaksanaan
b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memuat: Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Materi Pembelajaran, Indikator Pencapaian Hasil Belajar, Kegiatan Pembelajran, Sumber Pembelajaran, Alat dan Bahan serta Evaluasi. Pada siklus pertama materinya adalah Plantae (Tumbuhan) yang terdiri 3 kali pertemuan, pertemuan pertama adalah tumbuhan lumut (bryophyta), pertemuan kedua tumbuhan paku (pterydophyta) dan pertemuan ketiga tumbuhan biji (spermatophyta). Pada siklus kedua materinya animalia ( hewan) yang terdiri dari 4 kali pertemuan, pertemuan 1 adalah porifera, pertemuan 2 Coelenterata, pertemuan 3 Platyhelminthes, pertemuan 4 Nemathelminthes.
c. Mempersiapkan LKS Tebak Alur daur hidup pada makhluk hidup yang akan dikerjakan oleh siswa.
d. Mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa.
e. Menentukan observer, untuk mengisi lembar observer aktivitas siswa.
Dalam pengisian lembar observasi tersebut diadakan kesepakatan cara pengisiannya.
f. Merancang pembentukan kelompok yang terdiri dari lima orang siswa dalam satu kelompok, dan diberi nomor satu sampai lima.
g. Mempersiapkan naskah soal dan kunci jawaban soal yang akan dipergunakan pada ulangan harian di akhir tiap siklus.
2. Tindakan (Action)
Tindakan ini terdiri dari pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
1. Pendahuluan.
a. Mengkondisikan siswa dengan memulai berdoa.
b. Memberikan apersepsi pada siswa.
c. Memotivasi siswa.
d. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Kegiatan inti
a. Guru menjelaskan materi dengan ringkas
b. Siswa diminta duduk dalam kelompoknya. Setiap kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5 sebelum dilakukan kegiatan. Kemudian setiap siswa dalam kelompok dibagikan LKS untuk didiskusikan (tentukan batas waktu untuk mengerjakan LKS). Setiap anggota kelompok mengetahui semua jawaban yang telah didiskusikan.
Dalam kegiatan berdiskusi siswa dibimbing dan diawasi oleh guru.
c. Setelah menyelesaikan LKS, guru memanggil salah satu nomor dari lima nomor secara acak dan nomor yang dipanggil akan menjawab pertanyaan.
d. Peneliti dan observer mengisi lembar observasi aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas.
3. Kegiatan Penutup
a. Membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran.
b. Memberi tes secara lisan.
c. Memberi penghargaan kepada kelompok setelah dilaksanakan ulangan harian.
d. Memberi tugas untuk meringkas materi selanjutnya.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan selama tindakan dilakukan.
Pengamatan dilakukan oleh peneliti dibantu oleh teman sejawat yang bertindak sebagai observer. Pengamatan dilakukan untuk melihat kemajuan atau peningkatan aktivitas belajar siswa selama tindakan dilakukan.
Pengamatan yang dilakukan adalah terhadap aktivitas siswa yaitu:.
a. Mengerjakan LKS.
b. Berdiskusi .
c. Menjawab pertanyaan guru.
d. Menanggapi pendapat teman.
e. Bertanya kepada guru.
f. Membuat diagram/alur
4. Refleksi (reflection)
Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengkaji ulang kegiatan secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan selanjutnya. Apabila tindakan tingkat kriteria ketuntasan minimal hasil
belajar dan aktivitas perorangan siswa sudah mencapai 65 sedangkan kriteria kelas sudah mencapai 85%, maka tujuan penelitian dinyatakan tercapai dan tetap menggunakan tindakan semula. Apabila tindakan kriteria ketuntusan nilai hasil dan aktivitas perorangan belum mencapai 65 dan kriteria kelas belum mencapai 85% maka perlu perbaikan atau tambahan tindakan selanjutnya dilaksanakan pada siklus berikutnya.
G. Instrumen Penelitian
Insrtumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Lembaran Observasi
Lembaran observasi berisi item-item aktivitas siswa yang berkembang dalam proses pembelajaran. Lembaran observasi digunakan untuk mencatat aktivitas dalam berlangsungnya proses pembelajaran.
Seperti terlihat pada lampiran.
2. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar bertujuan untuk memperoleh dan mengetahui pencapaian hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini tes hasil belajar yang akan dilaksanakan dalam bentuk soal Objektif yang terdiri 20 soal dan 5 uraian pada siklus I dan siklus II.
H. Teknik Analisis Data 1. Aktivitas belajar siswa
Data diolah dan dianalisis dengan menggunakan rumus:
P = ி
ே X 100%
Keterangan: P= Angka presentase
F= Frekuensi Aktivitas siswa N= Banyak individu
Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dengan memberikan nilai atas observasi tersebut, sesuai dengan kategori penilaian dan dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Interval Aktivitas Siswa
No Interval % Kategori
1 81 -100 Baik sekali
2 61 – 80 Baik
3 41 – 60 Cukup
4 21 – 40 Kurang
5 0 – 20 Kurang sekali
(Arikunto, 2008)
Berdasarkan kriteria di atas, maka indikator keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini adalah:
Aktivitas siswa yang diharapkan, dapat dikatakan baik apabila berada pada interval; 61% - 80%.
2. Hasil belajar
Analisis data hasil belajar digunakan untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses pembelajaran digunakan rumus:
a. Ketuntasan individu
Seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar apabila mencapai minimal 65% dari jumlah soal yang diberikan. Ketuntasan belajar secara individu dihitung dengan menggunakan rumus:
Ketuntasan individu= skor yang diperoleh siswa x 100%
Skor maksimal
b. Ketuntasan klasikal
Suatu kelas telah tuntas belajar jika sekurang-kurangnya 85%.
Dari siswa tuntas. Ketuntasan belajar secara klasikal dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Ketuntasan Klasikal = jumlah siswa yang tuntas x 100%
Jumlah seluruh siswa
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Indikator keberhasilan hasil belajar dalam penelitian ini adalah apabila 85%
siswa yang memperoleh nilai 65 dan diatas 65.
3. Penghargaan kelompok
Untuk penghargaan kelompok, langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghitung skor tes individu dan tes kelompok.
Penghitungan skor tes individu ditunjukkan untuk menentukan nilai perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai nilai kelompok. Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih skor dasar dengan skor hasil tes (Ulangan Harian).
Tabel 3.2. Nilai Perkembangan Individu
Skor test Nilai Perkembangan
Lebih dari 10 point dibawah skor dasar 5 10 point hingga 1 point dibawah skor dasar 10 Sama dengan skor dasar sampai 10 point
diatas skor dasar 20
Lebih dari 10 pint diatas skor dasar 30 Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor
dasar 30
b. Memberikan penghargaan kelompok
Skor kelompok dihitung berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang disumbangkan anggota kelompok:
Tabel 3.3. Tingkat Penghargaan Kelompok
Rata-rata kelompok (X) Penghargaan 5 ≤ X ≤ 11,75 point
11,76 ≤ X ≤ 23,25 point 23,26 ≤ X ≤ 30 point
Kelompok Baik (Good team) Kelompok Hebat (Great team)
Kelompok Super (Super team Sumber : Slavin (1995)
Tingkat penghargaan ini diberikan setelah satu siklus sebagai penguatan kepada kelompok super, dengan tujuan agar kelompok- kelompok yang lain termotivasi untuk lebih aktif, dan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor yang maksimal bagi kelompoknya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan oleh peneliti dalam dua siklus.
Siklus pertama terdiri dari tiga pertemuan dan siklus kedua empat kali pertemuan.
Sebelum pelaksanaan tindakan, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi pada hari selasa tgl 15 Maret 2011 tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur kepada siswa kelas X4 sekaligus pembagian kelompok.
Setelah dilaksanakan penelitian, pada bab ini dipaparkan hasil analisis deskriptif data aktivitas dan hasil belajar biologi siswa tiap siklus beserta pembahasan.
A. Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
Kegiatan penelitian yang dilakukan pada siklus I sesuai dengan yang direncanakan. Rincian pelaksanaannya dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Rincian Pelakasanaan Siklus I
Pertemuan Hari Tanggal
I Rabu 16 Maret 2011
II Rabu 23 Maret 2011
III Rabu 30 Maret 2011
Selama pelaksanaan tindakan, pengamatan pada siklus I terhadap aktivitas siswa berdasarkan indikator aktivitas yang telah disusun sebelumya, maka diperoleh hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar. Hasil pengamatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Aktivitas Siwa pada Siklus I
No Aktivitas siswa
Pertemuan Rata-
rata Kategori I II III
F % F % F % (%)
1. Mengerjakan LKS 38 97 38 100 40 100 99 Baik sekali 2. Berdiskusi 26 67 26 68 28 70 68 Baik 3. Menjawab pertanyaan guru 14 36 18 47 16 40 41 Cukup 4. Menanggapi pendapat teman 9 23 13 34 10 25 27 Kurang 5 Bertanya kepada guru 12 31 12 32 13 33 32 Kurang 6 Membuat diagram (alur) 38 97 38 100 40 100 99 Baik sekali
Jumlah siswa 39 38 40
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa pada setiap indikator yang diamati juga mengalami peningkatan. Rata-rata aktivitas mengerjakan LKS dan membuat diagram (alur) pada pertemuan I, II, dan III adalah 99% yang dikategorikan baik sekali. Rata-rata berdiskusi adalah 68%
berkategori baik . Rata-rata menjawab pertanyaan guru dari pertemuan I, II, dan III adalah 41% dengan kategori cukup. Rata-rata menanggapi pendapat teman adalah 27% berkategori kurang dan rata-rata aktivitas bertanya kepada guru pertemuan I, II, dan III adalah 32% dengan kategori kurang. Dapat dilihat bahwa aktivitas pada siklus I belum semua aktivitas siswa mencapai target yang diharapkan dalam penelitian ini. Berikut ini pembahasan masing- masing indikator.
Pada pertemuan I, aktivitas belajar siswa masih rendah karena masih ada dari indikator yang dibawah kategori. Ini disebabkan karena proses pembelajaran yang digunakan belum terbiasa maka siswa kurang memahami penerapan melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur sehingga proses pembelajaran belum berlangsung secara baik dan maksimal. Hal ini terlihat pada Aktivitas
mengerjakan LKS dan membuat diagram (alur) pada pertemuan I, masih banyak siswa yang mengerjakan LKS dan membuat diagram (alur) secara individual, siswa tidak mau bekerjasama dengan teman kelompoknya karena lebih senang mengerjakan LKS secara mandiri. Bahkan pada pertemuan I ada satu siswa yang tidak mengejakan LKS dan membuat diagram (alur). Setelah peneliti menanya langsung kepada siswa penyebab tidak mengerjakan LKS dan membuat diagram (alur) karena siswa ada masalah yang dihadapinya.
Pada aktivitas diskusi antara siswa, masih banyak siswa yang kurang aktif dalam diskusi kelompoknya umum siswa yang berkemampuan tinggi lebih cendrung mengerjakan LKS secara individu sementara siswa yang berkemampuan rendah terbiasa menunggu jawaban dari temannya yang dianggap berkemampuan lebih tinggi darinya. Hal ini menyebabkan proses kerjasama tidak tercipta. Kondisi ini menuntut peranan guru dalam membimbing siswa agar lebih aktif berdiskusi di dalam proses pembelajaran, dimana dalam pembelajaran kooperatif guru berperan sebagai fasilitator dan motivator untuk membimbing siswa agar lebih aktif dan termotivasi dalam belajar. Pada aktivitas menjawab pertanyaan belum terlaksana dengan baik masih kategori cukup karena dalam mengerjakan LKS masih mengerjakan sendiri-sendiri, diskusi belum semuanya terlibat aktif sehingga belum percaya diri untuk menjawab pertanyaan guru karena takut salah.
Pada aktivitas menanggapi pendapat teman dikategorikan kurang karena masih banyak siswa yang belum serius selama proses belajar mengajar melalui model Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT)
dengan bantuan LKS Tebak Alur sehingga kurang menguasai materi pelajaran. Dan pada aktivitas bertanya kepada guru dikategorikan kurang karena sebagian siswa masih belum berani bertanya kepada guru walaupun belum mengerti atau belum paham materi yang dipelajari.
Pada pertemuan II ini memperlihatkan bahwa siswa mulai terbiasa dengan model Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa yang mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya. Pada aktivitas mengerjakan LKS dan membuat diagram (alur) sudah lebih serius mengerjakannya namun ada satu kelompok yang belum benar mengurutkan alur daur hidup paku homospora yaitu kelompok BJI. Pada aktivitas berdiskusi sudah banyak yang aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya, sehingga mempermudah siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru, dan siswa lebih percaya diri untuk menanggapi pendapat temannya apabila teman salah dalam menjawab pertanyaan dari guru. Dan juga siswa sudah berani bertanya kepada guru apabila siswa mendapatkan kesulitan dalam materi pelajaran.
Pada pertemuan III persentase aktivitas belajar siswa mengalami penurun dari pertemuan II yaitu pada indikator menjawab pertanyaan guru dan menanggapi pendapat teman. Pada indikator menjawab pertanyaan guru pada pertemuan sebelumnya 18 orang dengan persentase 47% berkurang menjadi 16 orang dengan persentase 40%. Dan untuk menanggapi pendapat teman menurun dari 13 orang 34% menjadi 10 orang 25%. Hal ini
disebabkan oleh tingkat kesulitan materi yang berbeda pada setiap pertemuan ini terlihat pada pertemuan III materi Tumbuhan berbiji (Spermatopyta) siswa dalam diskusi mengalami kesulitan dalam membuat alur daur hidup tumbuhan berbiji karena itu siswa banyak bertanya kepada guru. Walaupun sudah membaca buku sumber dan dibimbing oleh guru tapi tetapi indikator menjawab pertanyaan guru dan menanggapi pendapat teman mengalami penurunan. Siswa sudah berusaha untuk menjawab pertanyaan guru dan menanggapi pendapat teman namun jawaban dari siswa belum sempurna.
Sehingga pada pertemuan ini guru menjelaskan daur hidup tumbuhan biji (Spermatopyta) karena pada LKS tumbuhan biji pertanyaan no 2 yaitu jelaskan perbedaan proses pembentukan mikrospora dengan megaspora siswa belum sempurna menjawabnya. Hal ini dibuktikan sewaktu guru memanggil nomor, sudah 3 siswa yang dipanggil tidak ada siswa yang menjawab, kemudian guru memanggil siswa yang berkemampuan tinggi seperti, BJI 3, AND 2, NMT 3, jawaban dari siswa yang tiga ini hanya jawaban hampir sempurna hanya NMT 3.
B. Hasil Belajar Siswa siklus I
Ketuntasan hasil belajar biologi siswa dilihat dari hasil ujian siswa pada ulangan harian 1 setelah selesai siklus I dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan bantuan LKS Tebak Alur dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.1.
Tabel 4.3. Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Jumlah siswa Persentase (%) Kategori
24 60 Tuntas
16 40 Belum Tuntas
Ketuntasan Klasikal 60%
Gambar 4.1. Diagram Batang Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Berdasarkan data dalam tabel 4.3 dan Gambar 4.1 diketahui ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I, dari 40 siswa terdapat 24 orang siswa yang dinyatakan tuntas secara individu dan 16 orang belum tuntas. Secara klasikal dinyatakan tuntas dengan persentase 60%. Ketuntasan klasikal pada siklus I belum mencapai ketentuan yang diinginkan dalam penelitian ini yaitu 85%.
C. Refleksi Siklus I
Setelah peneliti melaksanakan tindakan selama tiga kali pertemuan pada siklus I, pelaksanaan yang dimaksud adalah menggunakan model pembelajaran
0 10 20 30 40 50 60 70
Tuntas Belum Tuntas
Persentase Ketuntasan
Kategori Ketuntasan
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I