PENDAHULUAN
Pertanyaan Penelitian
Tujuan Penelitian
Tokoh Nahdatul Ulama mengklaim bahwa konsep keadilan dalam poligami adalah semua tentang masalah dzohiriyah (materi). Berbicara tentang jujur dalam poligami, seseorang juga harus bisa berbagi waktu dengan istrinya. Konsep keadilan dalam poligami adalah harus ada keterbukaan dalam segala hal antara istri dan suami.
Manfat Penelitian
LANDASAN TEORI
Keadilan dalam Islam
- Pengertian Keadilan
- Dasar Penegaan Keadilan Dalam Islam
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam menunjukkan amalan menegakkan keadilan, nilai-nilai dan meninggikan darjat orang-orang yang berlaku adil, serta melarang dan mengecam perbuatan zalim. Al-Qur'an juga meletakkan keadilan sebagai landasan yang harus ditegakkan oleh setiap manusia dalam semua kegiatan kehidupan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maidah: 8) 10.
Konsep Keadilan dalam Poligami
- Keadilan Dalam Poligami
- Penafsiran Adil Dalam Surat AN-Nisa’ ayat 3
- Keadilan Dalam Poligami Menurut UU No 1
Perbedaan dan persamaan konsep keadilan menurut tokoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama di Kota Metro Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama di Kota Metro. Konsep poligami yang adil menurut tokoh Muhammadiyah di Kota Metro Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti melalui kutipan wawancara dengan pendapat tokoh Muhammadiyah di Kota Metro tentang konsep keadilan dalam poligami. Konsep Poligami Yang Adil Menurut Tokoh Nahdatul Ulama di Kota Metro Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti melalui petikan wawancara.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang didasarkan pada filosofi postpositivisme, yang digunakan untuk menyelidiki kondisi objek alam (lingkungan alam), dimana penelitian merupakan instrumen kunci, teknik pengumpulan data. dilakukan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan signifikansi daripada generalisasi.
Sifat Penelitian
Sumber Data
- Sumber Data Primer
- Sumber Data Sekunder
- Sumber Data Tersier
Teknik Pengumpulan Data
- Wawancara (Interview)
- Dokumentasi
Dengan demikian, metode wawancara yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka. Maka dari itu penulis menggunakan metode dokumentasi ini untuk mendapatkan data yang dibutuhkan yaitu untuk mendapatkan data terkait proses penelitian tentang konsep keadilan dalam poligami menurut tokoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama di Kota Metro.
Teknik Analisis Data
Kepadatan penduduk Kota Metro pada tahun 2017 mencapai 2.371 jiwa/km2 dengan rata-rata penduduk per rumah tangga 4 orang. Ini merupakan jaringan yang sangat potensial, yang harus terus diprioritaskan, yakni lebih banyak hasil sekolah di Kota Metro di kawasan lingkungan. Di Kota Metro, selain banyak lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta, juga terdapat dua organisasi masyarakat besar yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul 'ulama.
Ormas Muhammadiyah dan NU merupakan dua ormas besar yang turut andil mewujudkan Visi Kota Metro sebagai kota pendidikan. Aspek religi ini ditandai dengan munculnya berbagai tokoh yang lahir dan berjasa di Indonesia pada umumnya maupun di daerah, termasuk di Kota Metro. Saat ini aktif dan bekerja di BMT Arsyada Kota Metro dan aktif menjabat sebagai Kepala Bagian Keuangan.
Ham ICMI Kota Metro (2010-sekarang), Ketua Sosialisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Metro (2012-sekarang), Wakil Ketua MUI Kota Metro (2005-sekarang) dan Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Metro ( FKUB) Saat ini aktif sehari-hari sebagai Dosen di Universitas Metro Muhammadiyah, Ketua Pusat Dakwah dan Kajian Islam Universitas Muhammadiyah, Direktur Pontrenmu At-Tanwir) dan Dewan Pengawas PT. Setelah membahas persamaan pendapat tokoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, ternyata ada juga perbedaan pendapat mengenai konsep keadilan dalam poligami. Konsep keadilan dalam poligami adalah harus ada keterbukaan dalam setiap persoalan antara perempuan dan laki-laki, sedangkan menurut tokoh Nahdatul Ulama konsep keadilan dalam poligami adalah segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya (nisbatul amri'ala mahalihi). .
Berdasarkan uraian hasil penelitian yang dilakukan peneliti di Kota Metro mengenai konsep keadilan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsep keadilan dalam poligami antara tokoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama adalah dalam keadilan internal. Nahdatul Ulama berkeyakinan bahwa bersikap adil dalam hal spiritual tidak hanya berkaitan dengan masalah biologis, tetapi juga dalam hal pendidikan agama, akhlak dan ibadah.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Konsep Keadilan dalam Poligami menurut
- Muhammad Nuh Khidir
- H. Ahmad Sujino, M. Pd. I,
Konsep keadilan dalam poligami menurut Muhammad Nuh Khidir Menurut Muhammad Nuh Khidir6 poligami saat ini sudah bukan sesuatu yang dianggap aneh karena banyak yang melakukan poligami (kawin lebih dari satu). Menurutnya, hukum poligami sama dengan hukum perkawinan, dimana hukum awalnya boleh atau boleh, tetapi bisa menjadi sonna, wajib bahkan haram, semua ini dilihat dari maksud dan tujuan poligami. Syarat dibolehkannya poligami itu sendiri adalah harus dapat berlaku adil, yang dimaksud dengan adil dalam poligami hanya dalam hal materi saja, karena yang berkaitan dengan rasa cinta yang ditimbulkannya adalah Tuhan, karena manusia tidak memiliki kekuatan. dan usaha dalam hal ini.
Di sini adil dalam berpoligami, misalnya anda mempunyai dua istri, jika istri pertama mendapat uang lima ratus ribu per bulan, maka istri kedua harus sama, juga dalam hal tempat tinggal dan shift malam, jika istri pertama adalah seminggu, maka istri kedua juga harus seminggu. Menurutnya, dilihat dari makna keadilan yang terkandung dalam Surat An-Nisa ayat 3 terkait dengan dzohiriyah. Dalam Al-Qur’an jelas bahwa konsep keadilan yang dimaksud dalam surat An-Nisa ayat 3 adalah dalam hal-hal yang bersifat umum yang berlaku dalam masyarakat, misalnya keadilan dalam hal mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidup, dan lain-lain. makan, sandang dan papan (tha'am, kiswah dan maskan) semuanya harus sama.
Istri pertama dan kedua harus mencari nafkah tanpa membedakan antara istri pertama dan kedua. Sedangkan keadilan yang disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 129 adalah keadilan dalam arti kerohanian, jadi kalaupun kamu benar-benar ingin jujur, kamu tidak akan pernah bisa berlaku adil dalam urusan hati. Demikian pula dalam penataan kehidupan lahiriah, agar adil juga harus ada keterbukaan, misalnya menurut penghasilan suami, apa yang dibutuhkan istri dan anak-anaknya.
Apabila istri pertama memiliki anak lebih banyak dari istri kedua, maka disesuaikan dengan kebutuhannya.
Konsep Keadilan dalam Poligami menurut Tokoh
- KH. Subadji Rahmat B. A
- Zainal Abidin
- KH. Ahmad Dahlan Rosyid
Terbentuknya Nahdatul Ulama tidak lepas dari keberadaan pesantren-pesantren kuno. Salah satu tokoh agama dan masyarakat Metro Timur saat ini memimpin dan mengelola Amanat Allah dalam bentuk Pondok Pesantren Daarul 'Ulya Salafiyah. Pesantren Daarul 'Ulya berdiri pada tahun 2009 dan saat ini jumlah santrinya sekitar 150 santri yang berasal dari berbagai daerah.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Al-Irsyadiah di desa Gedong Sari, Jawa Timur. Poligami menurut Zainal Abidin adalah pernikahan lebih dari satu dan untuk hukum poligami itu sendiri diperbolehkan menurutnya karena sudah jelas sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Quran yaitu surat An-Nisa ayat 3. Metro, selain itu beliau adalah pengurus Pondok Pesantren Darul 'Amal Metro yang memiliki sekitar 1800 mahasiswa S1 dan S2.
Seorang laki-laki yang berpoligami tentunya juga harus bisa membagi waktu dengan adil bersama istrinya. Menurutnya, pembagian waktu tinggalnya dengan cara diundi, dalam hal pembagian waktu bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu, ada kekhususan bagi perempuan yang masih perawan, jadi lebih banyak dari itu. yang sudah tidak perawan (sudah menikah). Selain bisa berbagi waktu bermalam, mereka juga harus bisa berbagi eksistensi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurutnya, praktik poligami yang terjadi di masyarakat masih kurang memiliki rasa keadilan dalam keluarga yang berpoligami.
Perbedaan dan Persamaan Konsep Keadilan menurut
Menurutnya, pembagian penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari adalah wajar, yaitu harus sama, misalnya istri pertama mendapat rumah, maka istri kedua juga harus punya rumah, istri pertama dibelikan rumah. mobil, sehingga istri yang lain juga dapat membeli mobil. Konsep keadilan dalam poligami adalah harus ada keterbukaan antara suami dan istri, misalnya masalah jadwal tidur yang diinginkan istri, juga masalah pemberian uang untuk kebutuhan sehari-hari dan masalah lainnya. Jika melihat arti keadilan yang terdapat pada surat An-Nisa ayat 3 dan An-Nisa ayat 129 terdapat perbedaan makna yaitu pada ayat 3 menjelaskan keadilan dalam hal materi atau dzohir sedangkan ayat 129 menjelaskan tentang keadilan dalam masalah atau masalah kejiwaan hati, karena tidak mungkin orang berlaku adil dalam urusan hati.
Menurut penulis, hadirnya konsep poligami dengan sederetan aturan dan syarat sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an merupakan koreksi atas tradisi-tradisi zaman Jahiliyah yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan dalam poligami. Kata ini tidak boleh diartikan bahwa kebenaran dalam poligami hanya tentang materi, argumen ini sebenarnya dapat digunakan sebagai pembenaran bahwa mempraktekkan poligami adalah sesuatu yang sangat sulit sehingga tidak perlu dilakukan kecuali Anda yakin dapat melakukan keadilan. . . Jadi harus adil dalam membagi waktu, misal istri pertama seminggu, maka istri kedua harus diberikan seminggu, tapi ada batasan waktu bagi remaja putri yang masih perawan (belum menikah) lebih lama. . tinggallah saat Anda baru menikah, lalu kembali sesuai jadwal, dalam hitungan hari, minggu, atau bulan.
Keberanian, mencari tokoh Nahdetul Ulama yaitu syarat poligami harus benar, sesuai dengan dalil poligami yang terdapat pada surat An-Nisa ayat 3. seterusnya. Keadilan dalam poligami mencakup hal-hal seperti keadilan dalam nafkah, karena suami bertanggung jawab menafkahi keluarga.
Selain adil dalam bertempat tinggal, juga harus adil dalam bertempat tinggal Para ulama sepakat bahwa suami wajib menyediakan tempat tinggal tersendiri, lengkap dengan perabot untuk masing-masing istri dan anaknya, karena dalam Islam ditentukan bahwa setiap wanita yang menikah. berhak mendapat tempat tinggal sendiri, baik perempuan atau lebih, dan itu jelas. Konsep keadilan yang disebut meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (nisbatul amri'ala mahalihi) sesuai dengan pendapat Al Hamdan bahwa keadilan dalam poligami adalah proporsional dalam sikap dan tindakan, material dan spiritual, eksternal dan internal, istri memberikan makna yang berarti. tempat untuk. Hidayatullah, Haris, “Adil Poligami dari Perspektif Ibnu Hazm”, Feja, Jombang: Darul ‘Ulum Islamic Internation University, Vol 6, No 2, Oktober 2015.
Analisis Konsep Adil dalm Poligami menurut