Setiap istri yang berpoligami memiliki persepsi yang berbeda tentang poligami dan dari persepsi istri tersebut terdapat faktor-faktor yang membentuk persepsi istri yang berpoligami tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan persepsi istri poligami terhadap poligami. Suami juga lebih cenderung memiliki istri kedua dan lebih menetap dengan istri keduanya.
Oleh karena itu akan dilakukan penelitian tentang “Persepsi istri yang berpoligami terhadap poligami di Desa Taman Negeri Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur”. Mencermati latar belakang permasalahan di atas, maka fokus penelitian ini berkisar pada: “Apa saja faktor-faktor yang membentuk persepsi istri berpoligami di Desa Taman Negeri Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur?”. Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah: “Mendeskripsikan faktor-faktor yang membentuk perbedaan persepsi istri yang berpoligami terhadap poligami.”
Peneliti melakukan penelitian di desa Taman Negeri dengan permasalahan yang diteliti yaitu perbedaan pandangan istri yang berpoligami terhadap poligami. Penelitian ini digunakan karena peneliti mencoba mendeskripsikan secara sistematis dan faktual pandangan istri poligami terhadap poligami. Data primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah wawancara dengan 8 istri poligami dan 4 suami di Desa Taman Negeri Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur.
Penggunaan metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data istri yang berpoligami dan data monografi Taman Negeri Kec. Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai informan tentang persepsi poligami oleh istri yang berpoligami, terdapat faktor-faktor yang menentukan persepsi poligami terhadap poligami di Desa Taman Negeri. Wawancara internal dilakukan dengan wanita poligami di Desa Taman Negeri. 98 Wawancara dengan Pak R (seorang poligami) di Desa Taman Negeri, 10 Desember 2018. Istri pertama Pak S mengatakan: Mohon bersabar.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan beberapa informan yang bersedia menjadi peneliti di desa Taman Negeri dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan persepsi istri poligami diantara istri poligami. Perbedaan ini sesuai dengan pemahaman dan realitas yang terjadi pada istri yang berpoligami dan pelaku poligami. Faktor kebutuhan merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk persepsi istri poligami terhadap poligami.
Namun, demi kebahagiaan laki-laki, perempuan yang berpoligami belajar untuk ikhlas dan tegas dalam menerima apa yang telah Allah SWT tetapkan. Faktor kesiapan mental wanita poligami adalah menjaga silaturahmi dan menjaga komunikasi. PERSEPSI WANITA POLIGAMI TERHADAP POLIGAMI (Sebuah Toko di Desa Taman Negeri Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur) Halaman Sampul.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Istri pertama pada saat perkawinan poligami karena paksaan dan merasa keadilan tidak dapat tercapai selama suaminya berpoligami karena suami lebih condong kepada istri muda. Berdasarkan teori di atas, jika dikaitkan dengan keadaan sebenarnya di desa Taman Negeri yang diperoleh dari hasil wawancara dengan istri yang berpoligami, maka terlihat bahwa suami tidak memberikan hak nafkah baik lahir maupun batin. . Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, penulis ingin mengetahui apa saja perbedaan persepsi istri yang berpoligami, apakah istri dalam perkawinan poligami merasa bahagia dan senang, atau apakah keluarga yang berpoligami dapat hidup rukun seperti perkawinan monogami.
Bagi istri yang berpoligami, hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan keluarga yang harmonis dalam kehidupan keluarga yang berpoligami. Sedangkan wanita yang memiliki suami lebih dari satu disebut poliandri yang berasal dari kata polus artinya banyak dan andros artinya laki-laki. Berpikir induktif digunakan peneliti karena menganalisis data persepsi istri poligami terhadap istri poligami dan menggali pengetahuan tentang faktor-faktor yang membentuk persepsi istri poligami.
Berdasarkan beberapa persepsi wanita poligami di atas, bahwa terdapat beberapa perbedaan persepsi wanita terhadap poligami, persepsi poligami dari istri pertama adalah bahwa poligami adalah pernikahan yang sangat menyakitkan dan poligami juga membuat kehidupan keluarga menjadi tidak nyaman. Selain itu, bagi seorang wanita yang berpoligami karena ketaatannya kepada suaminya, maka ia rela melakukan poligami dan poligami adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Faktor kesiapan mental wanita yang berpoligami untuk menerima poligami istri pertama sulit, perlu penyesuaian dan keikhlasan untuk menerima poligami.
Perasaan tidak nyaman dengan lingkungan sekitar pernikahan poligami terkadang muncul di hati wanita yang berpoligami, namun hal ini dapat diatasi dengan kesabaran dan keikhlasan. Namun,. pelaku harus adil dalam menjaga kelahiran, agar wanita lain tidak merasa cemburu. Berdasarkan ayat di atas, laki-laki yang beristri lebih dari satu tidak akan dapat berlaku adil, tetapi bukan berarti istri yang lain tidak mendapatkan hak yang seharusnya diperolehnya.
Faktor kesiapan mental untuk beradaptasi dengan wanita lain adalah menjaga komunikasi dan persahabatan. Namun tidak semua keluarga poligami dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan wanita lain, ada pula yang tidak siap mental menerima poligami dan kehadiran wanita lain. Tidak ada kesenjangan sikap terhadap anak tiri, anak tiri dianggap sebagai anak kandung dan dapat hidup rukun dengan anak tiri dari istri yang berpoligami.
Perasaan istri poligami ketika harus berbagi suami dengan wanita lain adalah sakit hati, sedih dan perasaan cemburu terhadap wanita lain.
LANDASAN TEORI
Poligami
- Pengertian Poligami
- Dasar Hukum Poligami
- Kontroversi Poligami
Semoga menambah wawasan dan membuka wacana bagi peneliti dan pembaca tentang alasan istri ingin berpoligami. Bedanya penelitian Jaenuri menjelaskan penerapan konsep keadilan, dimana peneliti hanya mengkaji bagaimana konsep keadilan dalam keluarga poligami, apakah praktiknya sesuai dengan syariah, sedangkan penelitian yang peneliti lakukan lebih pada pandangan istri poligami. Dalam bahasa Indonesia disebut permudara.18 Berdasarkan pengertian poligami yang telah diungkap, dapat dipahami bahwa poligami adalah laki-laki yang beristri lebih dari satu atau dapat disebut menikah.
Berdasarkan definisi poligami yang telah diungkap, poligami adalah laki-laki yang beristri lebih dari satu atau banyak, tetapi Islam membatasinya menjadi empat istri. Para ahli membedakan antara istilah laki-laki yang beristri lebih dari satu dengan istilah poligini yang berasal dari kata polus yang berarti banyak dan gune yang berarti perempuan. Jadi kata yang tepat untuk seorang laki-laki beristri lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan adalah poligini, bukan poligami.
Mengenai pengertian poligami di atas, masyarakat menyebut dengan istilah laki-laki yang beristri banyak yaitu poligami yang seharusnya poligami. Berdasarkan uraian yang diungkapkan, bahwa kelompok yang mendukung poligami memiliki alasan dan laki-laki yang melakukannya dapat menghindari perbuatan keji yang dilarang oleh hukum Islam. Terkadang laki-laki yang melakukan poligami karena keadaan darurat, seperti perempuan mandul, perempuan sakit, dan perempuan menopause yang tidak lagi melayani suaminya.
Poligami Menurut Berbagai Perspektif
- Poligami menurut Ulama Fiqh
- Poligami menurut Ulama Kontemporer
- Poligami Menurut Hukum di Indonesia
- Poligami di Dunia Islam
Muhammad Ali Ash-Shobuni dalam tafsir ayat 3 surat an-Nisa mengatakan: Bahwa setiap hubungan penyebutan kata yatim dengan menikahi wanita dalam firman-Nya “Dan jika kamu khawatir tidak adil tidak bisa menjadi anak yatim, maka menikahi wanita - istri yang baik untukmu..” ini menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, seperti yatim piatu. Ini adalah sesuatu yang sangat sulit, jika orang masih bersikeras untuk berlaku adil, mereka tetap tidak akan bisa membagi cintanya secara adil.38 Berdasarkan penjelasan yang diungkapkan, menurut Muh. Jika seorang wanita sudah tua dan mencapai usia ya'isah (belum haid), maka seorang laki-laki ingin mempunyai anak dan dia mampu menafkahi lebih dari satu istri dan juga mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya untuk menjamin.
Menurut Mustafa Al-Maraghi, diperbolehkannya poligami harus memenuhi syarat, yaitu: jika seorang laki-laki memiliki istri yang mandul dan menginginkan anak, dan laki-laki tersebut mampu menafkahi lebih dari satu istri, maka diperbolehkan poligami. , yang istrinya menopause dan. Namun jika ada yang ingin beristri lebih dari satu, dapat mengajukan izin ke pengadilan agama dengan syarat yang diatur dalam §§ 4 dan 5 UU Perkawinan. Bahwa Pasal 5, ayat 1, bersifat kumulatif, artinya peradilan agama hanya dapat memberikan izin jika semua persyaratan terpenuhi, yaitu: a.
1 Tahun 1974, untuk mengajukan izin poligami dari pengadilan agama, Anda harus memenuhi tiga syarat yang diuraikan di atas. Dalam syarat yang sangat ketat, Pengadilan Agama juga akan dapat memutuskan suami yang ingin berpoligami secara bijaksana dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, agar tidak merugikan istri yang akan dinikahi. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 40 menyatakan bahwa jika seorang suami bermaksud beristri lebih dari seorang, ia harus mengajukan permohonan tertulis kepada pengadilan.
9 Tahun 1975 juga mengatur izin ke pengadilan agama bagi suami yang ingin beristri lebih dari satu. Turki adalah negara Muslim pertama yang melarang poligami secara total, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 93 KUH Perdata Turki tahun 1926: “Tidak diperbolehkan laki-laki yang sudah beristri. Kedua, al-Nisa/4:3, yang menyatakan bahwa merupakan syarat mutlak poligami seorang suami jika ia dapat memperlakukan istri-istrinya dengan adil.
34 Tahun 1975 tentang Undang-Undang Hukum Keluarga Suriah menyatakan bahwa hanya hakim yang memutuskan boleh atau tidaknya seseorang melakukan poligami, dengan syarat: (1) ada alasan hukum atau tidak, (2) ada atau tidaknya kemampuan ekonomi suami untuk menafkahi keluarga, dan (3) ) kemampuan suami bersikap adil terhadap istri-istrinya. Ini berarti bahwa seorang hakim dapat menolak memberikan izin kepada seorang laki-laki untuk menikah lagi jika ternyata laki-laki tersebut tidak mampu datang dan memperlakukan istri dan anak-anaknya secara adil di kemudian hari.
Persepsi
- Pengertian Persepsi
- Persepsi dalam Pandangan Al-Qur‟an
- Macam-macam Persepsi
- Bentuk-bentuk Persepsi
- Proses Terjadinya Persepsi
- Faktor-faktor yang Membentuk Persepsi
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Sifat Penelitian
Sumber Data
- Surat Bimbingan Skripsi
- Surat Izin Pra Survey
- Surat Balasan Pra Survey
- Surat Tugas Research
- Surat Izin Research
- Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
- Surat Keterangan Bebas Pustaka Perpustakaan
- Outline
- Alat Pengumpul Data
- Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi
- Riwayat Hidup
OPLEVELSEN AF POLYGAMY KONE MOD POLYGAMY (Sag i Taman Negeri Village, Way Bungur District, Lampung Regency, East). Interview med polygame koner i Taman Negeri Village, Way Bungur District, East Lampung Regency.