TAHUN 2018
SKRIPSI
diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
ROBI’ATUL HASANAH NIM: 084 141 222
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
NOVEMBER 2018
Artinya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung”.1
1 Al-Qur’an, 3:104.
kelancaran peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Teristimewa kepada ayah tersayang Bapak Syamsudin yang senantiasa memberikan doa, dukungan, nasehat, dan motivasi dalam menyelesikan skripsi ini dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun. Tak lupa pula untuk ibu tercinta Almarhumah Ibu Marfi’atin, semoga Allah mengampuni segala dosa dan menerima amal kebaikan beliau.
2. Kakakku Siti Mu’awanah beserta keponakan-keponakanku Zahrotul Jannah Khumairo dan Rif’ah Indana Zulva, terimakasih telah menjadi penyemangat terbaik bagiku dan selalu setia menjadi sandaran untuk berkeluh kesah.
3. Guru-guruku mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi semoga senantiasa diberi kesehatan dan tetap dalam lindungan Allah SWT.
4. Guru-guru mengaji khususnya Almarhum KH. Shohibul Munir selaku pengasuh Musholla At-Taqwa Tegalwangi beserta Ibu Nyai Hj. Mujahidah Bastomi dan KH. Syu’aib Saifulloh selaku pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah 02 Tegalwangi beserta Ibu Nyai Ummi Halimatul Hasanah yang senantiasa berdoa untuk kesuksesan santri-santrinya.
5. Keluarga Besar Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi yang telah berkenan meluangkan waktunya dalam membantu penyusunan skripsi ini.
Segenap puji syukur peneliti sampaikan kepada Allah azza wa jalla. Karena atas rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi yang berjudul “Upaya Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa Studi Kasus di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember Tahun 2018/2019”
sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar, dan semoga Sholatullah wa salamuhu semoga tetap tercurah limpah ke haribaan Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah menerangi dunia dari gelap gulitanya jahiliyyah dan kedhaliman dengan cahaya Islam, Iman, dan Ihsan.
Dengan selesainya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi baik materil maupun non materil, khususnya kepada :
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM., selaku Rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menempuh pendidikan di lembaga yang dipimpinnya.
2. Dr. H. Abdullah, S.Ag., M.H.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, yang telah banyak memberikan fasilitas untuk belajar.
3. Dr. H. Mundir, M.Pd., selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam, yang telah menyetujui beberapa persyaratan terselesaikan skripsi.
4. H. Mursalim, M.Ag., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, yang telah membantu peneliti dalam pengajuan judul.
6. Drs. Anwar Sanusi, selaku Kepala Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari, Segenap dewan guru, karyawan, dan para siswa-siswi beserta wali murid yang telah memberikan izin dan sangat membantu peneliti, dalam penyusunan skripsi ini.
7. Alfisyah Nurhayati, S.Ag., M.Si selaku kepala perpustakaan IAIN Jember beserta karyawan yang telah memberikan pelayanan dan kemudahan fasilitas referensi bagi mahasiswa.
8. Segenap dosen yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peneliti.
9. Seluruh karyawan dan aparat IAIN Jember yang senantiasa ikhlas dalam melayani segala urusan akademik.
Dalam proses penyusunan skripsi selama ini telah diusahakan semaksimal mungkin. Namun, penulis menyadari bahwa selalu ada celah dan kekurangan dalam setiap upaya manusia, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena itu, penulis selalu membuka diri untuk menerima saran dan kritikan dari semua pihak demi perbaikan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin
Jember, 30 Oktober 2018 Penulis
Robi’atul Hasanah
Pelanggaran tata tertib merupakan hal yang meresahkan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Pelanggaran tata tertib merupakan tindakan yang mengarah kepada kenakalan remaja yang dapat merugikan banyak pihak karena tidak sejalan dengan norma, baik norma agama maupun norma yang ada di masyarakat. Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember merupakan lembaga pendidikan swasta tertua di kecamatan Umbulsari yang dalam pandangan masyarakat pengaruh keagamaannya sangat kental.
Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana upaya preventif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018? 2) Bagaimana upaya kuratif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018?
Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui upaya preventif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018, 2) Untuk mengetahui upaya kuratif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian study kasus dengan subjek penelitian menggunakan purposive sampling dan metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan teknik.
Hasil dari penelitian ini adalah: 1) Upaya preventif penanganan pelanggaran tata tertib siswa yaitu dengan adanya peran orang tua dan guru. Peran orang tua yaitu dengan pembekalan ilmu agama sejak dini, keteladanan, kasih sayang dan perhatian, menciptakan kondisi keluarga yang harmonis, tidak melarang anak bergaul dengan teman, menjadi tempat curhat ternyaman, dan pengawasan yang intensif. Guru berperan sebagai pembimbing kepribadian, mendukung hobi anak, melakukan kerjasama dengan orang tua siswa, menciptakan nuansa pesantren, dan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi tempat penyaluran bakat siswa. Selain itu juga adanya kemauan dari siswaitu sendiri yaitu dengan memilih lingkungan pergaulan yang tepat dan baik serta membentuk ketahanan diri. 2) Upaya kuratif penanganan pelanggaran tata tertib siswa yaitu dengan pemberian nasehat, membaca surat Yasin di halaman, dan menulis istighfar sebanyak 50 kali bagi pelanggaran ringan.
Sedangkan untuk pelanggaran berat yaitu dengan mengadakan konferensi kasus dan mengembalikan anak kepada orang tua atau walinya.
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
MOTTO ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Definisi Istilah ... 7
F. Sitematika Pembahasan ... 8
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 11
A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Teori... 15
1. Upaya Preventif Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa 16 2. Upaya Kuratif Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa 23 BAB III METODE PENELITIAN ... 31
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 31
B. Lokasi Penelitian ... 32
C. Subyek Penelitian ... 32
D. Teknik Pengumpulan Data ... 34
E. Analisis Data ... 36
F. Keabsahan Data ... 38
G. Tahap-tahap Penelitian ... 39
ix
C. Pembahasan Temuan ... 54
BAB V PENUTUP ... 59
A. Kesimpulan... 59
B. Saran-saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 61 LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Pernyataan keaslian 2. Matrik penelitian 3. Pedoman penelitian 4. Pedoman wawancara 5. Foto kegiatan 6. Jurnal penelitian
7. Denah MA Walisongo Tegalwangi
8. Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 9. Surat selesai penelitian
10. Biodata penulis
x
Hal Tabel 1.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu ... 15 Tabel 4.1 Struktur Organisasi Pelayanan Bimbingan dan Konseling
MA Walisongo Tegalwangi Tahun Pelajaran 2018/2019 ... 42
A. Latar Belakang
Pembangunan masyarakat Indonesia bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya dan membangun masyarakat seluruhnya. Manusia merupakan kekuatan utama pembangunan sekaligus tujuan dari pembangunan.
Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan kualitas manusia sebagai sumber daya manusia. Dalam usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, pendidikan merupakan kunci pokok untuk menjawab tantangan zaman. Melalui pendidikan, selain diperoleh kepandaian berolah pikir juga memperoleh wawasan baru yang kesemuanya akan membantu upaya manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya, baik sebagai pribadi yang dewasa maupun sebagai anak bangsa.1
Dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.2
1 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), 1.
2 UU No. 2 tahun 2003 tentang Sisdiknas (Bandung: Bandung Citra Umbara, 2010), 14.
Sehubungan dengan pembinaan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Artinya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imron:104)3
Perkembangan informasi dan teknologi yang sangat pesat di era globalisasi sekarang ini memberikan pengaruh terhadap budaya, tradisi, serta karakter dari masyarakat dunia. Pengaruh yang diberikan tidak hanya bersifat positif namun juga bersifat negatif. Pihak yang dominan terkena pengaruh negatif ini adalah para generasi penerus bangsa. Sudah selayaknya para orang tua, pendidik, serta pemerintah mengambil alih upaya penanggulangan terhadap dampak negatif ini. Salah satu upayanya adalah dengan pembentukan karakter pribadi melalui pendidikan.4
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tata tertib adalah peraturan yang harus dipatuhi dan ditaati. Tata tertib sekolah adalah peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan ditaati oleh siswa. Seorang siswa dikatakan nakal jika siswa tersebut melanggar tata tertib sekolah. Pelanggaran tata tertib adalah perbuatan- perbuatan yang sering menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat,
3 Al-Qur’an, 3:104.
4 Sofyan S. Wilis, Remaja dan Masalahnya. Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja, seperti Narkoba, Free Sex, dan Pencegahannya (Bandung: Alfabeta, 2014), 3.
sekolah, maupun keluarga serta merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum tertulis, baik perdata maupun pidana.5
Penanganan pelanggaran tata tertib sekolah yang dapat dilakukan oleh guru yaitu melalui bimbingan dan konseling. Peran guru dalam program layanan BK diantaranya adalah guru sebagai tokoh kunci dalam bimbingan dan sebagai perbaikan tingkah laku remaja. Sebagai tokoh kunci dalam bimbingan, guru berada pada posisi yang lebih baik untuk mengetahui masalah, sikap, dan kebutuhan siswa. Sedangkan dalam perbaikan tingkah laku, dengan terlebih dahulu mengetahui sebab-sebab siswa tersebut bertingkah laku tertentu.
Penanganan pelanggaran tata tertib yang dapat dilakukan orang tua diantaranya adalah berperan sebagai pendidik, panutan, dan pendorong.
Sebagai pendidik, orang tua hendaknya menanamkan nilai-nilai agama kepada anaknya sejak dini sebagai bekal dan benteng mereka untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Sebagai panutan, orang tua perlu memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anaknya.6
Secara geografis Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember adalah salah satu sekolah swasta tertua yang berada di Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember menurut masyarakat merupakan lembaga pendidikan Islam yang pengaruh agamanya sangat kental karena pendirinya merupakan para tokoh agama alumnus dari pesantren-pesantren yang ada di Jawa Timur.
5 Heriana Eka Dewi, Memahami Perkembangan Fisik Remaja (Yogyakarta: Gosyen Publishing, 2012), 86.
6 Sarwan, Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Sebagai Alternatif dalam Memecahkan Berbagai Masalah yang Sedang Dihadapi (Jember: CV Salsabila Putra Pratama, 2011), 33.
Pelanggaran tata tertib siswa menjadi buah bibir warga sekitar karena dinilai telah meresahkan warga. Para siswa yang melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan-aturan sekolah dan norma-norma yang ada di masyarakat merupakan kondisi yang memprihatinkan dan membuat warga masyarakat geram. Pelanggaran tata tertib ini salah satunya yaitu membolos dan mengkonsumsi obat terlarang.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kepala Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi yaitu Bapak Drs. Anwar Sanusi, bahwa pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa di Madrasah Aliyah Walisongo mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi karena adanya kerjasama antara guru dan orang tua dalam menangani pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi. Selain itu juga dikarenakan diadakannya kegiatan-kegiatan yang mengarahkan siswa pada hal-hal yang positif dan mengurangi kegiatan-kegiatan negatif siswa yang dapat mengganggu prestasi belajar siswa.
Dari dasar pemikiran inilah, penulis tertarik untuk meneliti mengenai
“Upaya Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa Studi Kasus di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember Tahun 2018”.
B. Fokus Penelitian
Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui fokus penelitian. Fokus penelitian harus
disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam bentuk kalimat Tanya.7 Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana upaya preventif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018?
2. Bagaimana upaya kuratif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan pada fokus penelitian.8 Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan upaya preventif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018 2. Mendeskripsikan upaya kuratif penanganan pelanggaran tata tertib siswa di
Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember tahun 2018
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Manfaatnya dapat berupa yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis. Akan tetapi manfaat tersebut harus realistis.9 Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
7 Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 44.
8 Ibid., 45.
9 Ibid., 45.
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang upaya penanganan pelanggaran tata tertib siswa serta dapat memberikan manfaat dalam mengidentifikasi dan mengkaji terkait bagaimana menangani pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa.
2. Manfaat praktis a. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan menambah pengalaman tentang penilaian dan penulisan karya ilmiah, baik secara teori maupun praktek.
b. Bagi instansi yang diteliti
1) Diharapkan penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dalam meningkatkan implementasi pengelolaan dan eksistensi lembaga.
2) Sebagai bahan masukan bagi lembaga dalam menangani pelanggaran tata tertib pada siswa siswi Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember.
c. Bagi IAIN Jember
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur atau referensi bagi penelitian-penelitian yang akan dilakukan di masa yang akan datang.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak
terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.10 Agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna pada judul penelitian ini, peneliti memberikan penjelasan tentang istilah-istilah yang terdapat dalam judul, yaitu:
1. Penanganan
Penanganan adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk mengatasi suatu masalah dengan tujuan mengarahkan ke arah yang lebih baik.
2. Pelanggaran
Pelanggaran adalah bentuk-bentuk tingkah laku atau perbuatan yang bertentangan atau menyimpang dari aturan yang berlaku.
3. Tata Tertib
Tata tertib adalah aturan-aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama yang harus dipatuhi dan ditaati.
Jadi, judul penelitian “Upaya Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa Studi Kasus di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember Tahun 2018” ini adalah penelitian yang mengkaji tentang bagaimana cara menangani dan membimbing perilaku siswa yang menyimpang dari tata tertib sekolah di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember.
10 Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah..., 73.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.11 Format penulisan sistematika pembahasan adalah dalam bentuk deskriptif naratif agar dapat dipelajari dan dipahami oleh pembaca. Sistematika pembahasan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab satu, pendahuluan. Pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.
Bab dua, kajian kepustakaan. Pada bab ini membahas tentang penelitian terdahulu yang terkait dan memiliki kemiripan dengan penelitian yang akan dilakukan, serta memuat tentang kajian teori yang digunakan sebagai perspektif oleh peneliti tentang penanganan pelanggaran tata tertib siswa studi kasus di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember.
Bab tiga, metode penelitian. Pada bab ini membahas tentang metode penelitian yang digunakan oleh peneliti meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti.
Bab empat, penyajian data dan analisis data. Pada bab ini mengemukakan penyajian data dan analisis data yang diperoleh dalam pelaksanaan penelitian secara empiris yang terdiri dari gambaran obyek penelitian, penyajian data dan
11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiyah…, 48.
analisis data serta pembahasan temuan yang diperoleh di lapangan. Bab ini berfungsi sebagai bahan kajian untuk memaparkan data yang diperoleh guna menemukan kesimpulannya.
Bab lima, penutup. Bab ini merupakan bab terakhir yang di dalamnya berisi kesimpulan dari semua pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, sekaligus penyampaian saran-saran bagi pihak yang terkait.
Selanjutnya penelitian ini diakhiri dengan daftar pustaka dan lampiran- lampiran sebagai pendukung di dalam pemenuhan kelengkapan data penelitian.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini peneliti mecantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Adapun penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini antara lain:
a. Hamzah A. Usman (2015). Dalam skripsi di IAIN Jember yang berjudul
“Peran Orang Tua dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Dawuhan Grujugan Bondowoso Tahun Pelajaran 2014/2015”. Hasil dari penelitian ini terfokus pada bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kenakalan remaja, dan peran orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja. Adapun hasil dari penelitian ini adalah bentuk-bentuk kenakalan remaja yaitu minum-minuman keras, obat-obatan, pergaulan bebas, dan berkelahi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja yaitu ingin mencoba dan pengaruh ajakan teman. Peran orang tua dalam menanggulangi terjadinya perilaku menyimpang di kalangan remaja melalui cara orang tua mendoakan anak-anaknya.12
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu sama-sama membahas mengenai kenakalan remaja dan sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan perbedaannya yaitu dalam penelitian ini hanya orang tua yang berperan menangani kenakalan remaja
12 Hamzah A. Usman, Peran Orang Tua dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja di Desa Dawuhan Grujugan Bondowoso Tahun Pelajaran 2014/2015 (Skripsi, IAIN Jember, 2015).
dan penelitian yang akan dilakukan peneliti cara penanganan kenakalan remaja yang berperan adalah guru dan orang tua.
b. Elok Suprihatin (2006). Dalam skripsi di IAIN Jember yang berjudul
“Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menghadapi Kenakalan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Langon Kecamatan Ambulu Tahun Pelajaran 2005/2006”. Penelitian ini terfokus pada upaya guru bimbingan dan konseling yang di dalamnya terdapat adanya penyiapan program bimbingan dan konseling, pelaksanaan program bimbingan dan konseling, sistem evaluasi program bimbingan dan konseling, serta pengendalian dalam menghadapi kenakalan siswa di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Langon Kecamatan Ambulu Tahun Pelajaran 2005/2006. Hasil dari penelitian ini adalah penanggulangan kenakalan siswa di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Langon Ambulu dilakukan dengan tindakan preventif, kuratif, dan pembinaan.13
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama-sama membahas mengenai kenakalan remaja dan sama- sama menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan perbedaannya yaitu dalam penelitian ini hanya guru bimbingan dan konseling yang berperan sedangkan penelitian yang peneliti lakukan adalah mengkaji tentang peran guru dan orang tua dalam menangani kenakalan remaja.
c. Quratul Aini (2012). Dalam skripsi IAIN Jember yang berjudul “Peranan Guru Bimbingan Konseling dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja pada
13 Elok Suprihatin, Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menghadapi Kenakalan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Langon Kevamatan Ambulu Tahun Pelajaran 2005/2006 (Skripsi, IAIN Jember, 2006).
Siswa SMA Negeri 2 Tanggul Tahun Pelajaran 2011/2012”. Penelitian ini terfokus pada peran guru bimbingan konseling dalam menggunakan metode bimbingan dan konseling serta peran guru bimbingan dan konseling dalam mengaplikasikan fungsi bimbingan dan konseling dalam menanggulangi kenakalan remaja pada siswa di SMA Negeri 2 Tanggul Tahun Pelajaran 2011/2012. Adapun hasil temuan dalam penelitian ini adalah kenakalan remaja di SMA Negeri 2 Tanggul dapat ditanggulangi dengan menggunakan metode individual berupa konseling direktif, konseling non direktif, dan konseling eklektif, serta teraplikasinya semua fungsi bimbingan konseling dalam berbagai masalah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh siswa.14
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama-sama membahas mengenai kenakalan remaja dan sama- sama menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan perbedaannya yaitu dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode individual berupa konseling direktif, konseling non direktif, dan konseling eklektif, serta teraplikasinya semua fungsi bimbingan konseling dalam berbagai masalah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh siswa sedangkan penelitian yang peneliti lakukan adalah mengkaji tentang peran guru dan orang tua dalam menangani kenakalan remaja.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang sebelumnya dan yang akan peneliti lakukan:
14 Qurratul Aini, Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja pada Siswa di SMA Negeri 2 Tanggul Tahun Pelajaran 2011/2012 (Skripsi, IAIN Jember, 2012).
Tabel 1.1
Tabel persamaan dan perbedaan
No Nama Tahun Judul Persamaan Perbedaan
1. Hamzah A. Usman
2015 Peran Orang Tua dalam Menanggula ngi
Kenakalan Remaja di Desa Dawuhan Grujugan Bondowoso Tahun Pelajaran 2014/2015
a. Sama-sama meneliti kenakalan remaja b. Sama-sama
menggunaka n penelitian kualitatif
Dalam penelitian ini hanya orang tua yang berperan menangani kenakalan remaja dan penelitian yang dilakukan peneliti yang berperan adalah guru dan orang tua melalui upaya preventif dan kuratif 2. Elok
Suprihatin
2006 Upaya Guru Bimbingan dan
Konseling dalam Menghadapi Kenakalan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Langon Kecamatan Ambulu Tahun Pelajaran 2005/2006
a. Sama-sama meneliti kenakalan remaja b. Sama-sama
menggunaka n penelitian kualitatif
Dalam penelitian ini hanya guru bimbingan dan konseling yang berperan
sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan adalah mengkaji tentang peran guru dan orang tua dalam menangani pelanggaran yang dilakukan oleh siswa yaitu dengan upaya preventif dan kuratif
3. Quratul Aini
2012 Peranan Guru Bimbingan Konseling dalam Menanggula ngi
Kenakalan
a. Sama-sama meneliti kenakalan remaja b. Sama-sama
menggunaka n penelitian kualitatif
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode individual berupa konseling direktif, konseling non direktif, dan konseling eklektif,
Remaja pada Siswa SMA Negeri 2 Tanggul Tahun Pelajaran 2011/2012
sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan adalah meneliti upaya penanganan pelanggaran tata tertib siswa dengan cara preventif dan kuratif
B. Kajian Teori
Tata tertib sekolah merupakan salah satu bentuk aturan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa sebagai satu perwujudan kehidupan yang sadar akan hukum dan aturan. Tata tertib sekolah adalah rambu-rambu kehidupan bagi siswa dalam melaksanakan kehidupan dalam masyarakat sekolah.
Sebagaimana diketahui dewasa ini banyak sekali siswa sekolah yang terlibat dalam kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, penggunaan narkoba, tawuran antar sekolah serta penggunaan etika yang salah dalam pergaulan. Oleh karena itu, melalui pembinaan tata tertib sekolah diharapkan siswa melaksanakan kehidupan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Menurut Hurlock yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, peraturan bertujuan untuk membekali anak dengan pedoman berperilaku yang disetujui dalam situasi tertentu.15 Misalnya dalam peraturan sekolah, peraturan ini memuat apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh siswa sewaktu berada di lingkungan sekolah. Tujuan tata tertib adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang menunjang terhadap kelancaran, ketertiban dan suasana yang damai dalam pembelajaran.
15 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012), 140.
Pelanggaran tata tertib sekolah dapat ditangani dengan upaya preventif dan kuratif yang melibatkan peran guru, orang tua, dan masyarakat. Guru, orang tua, dan masyarakat merupakan pihak-pihak yang paling berperan dalam menangani pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa karena tri pusat pendidikan adalah guru, orang tua, dan masyarakat.
1. Upaya Preventif Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa
Dalam menghadapi siswa yang usianya tergolong remaja ada beberapa hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang penuh gejolak dan bahwa lingkungan sosial remaja juga ditandai dengan perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota-kota besar dan daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan) yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma. Kondisi intern dan ekstern yang sama-sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja lebih rawan dari pada tahap-tahap lain dalam perkembangan jiwa manusia.16
Yang dimaksud dengan upaya preventif adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis, berencana, dan terarah, untuk menjaga agar kenakalan/pelanggaran itu tidak timbul. Upaya preventif lebih besar manfaatnya daripada upaya kuratif, karena jika kenakalan itu sudah meluas, amat sulit menanggulanginya. Banyak bahayanya kepada masyarakat, menghamburkan biaya, tenaga, dan waktu, sedang hasilnya tidak seberapa.17
16 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Rajawali Press, 2007), 219.
17 Sofyan S. Wilis, Remaja & Masalahnya..., 128.
Beberapa upaya preventif dapat dilakukan, tetapi secara garis besarnya dapat dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu:18
a. Di Rumah Tangga (Keluarga)
1) Orang Tua Menciptakan Kehidupan Rumah Tangga yang Beragama Artinya membuat suasana rumah tangga atau keluarga menjadi kehidupan yang taat dan taqwa kepada Allah dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini dapat dilakukan dengan sholat berjamaah, pengajian Al- Qur’an, keteladanan akhlak mulia, ucapan-ucapan serta doa-doa tertentu misalnya mengucapkan salam ketika akan masuk rumah dan pegi, membaca basmalah akan melakukan perbuatan baik, dan sebagainya. Hal ini dapat berhasil jika orang tua memberikan pimpinan dan teladan setiap hari serta tingkah laku orang tua hendaklah merupakan manifestasi dari didikan agama pada dirinya yang sudah mendarah daging.
2) Menciptakan Kehidupan Keluarga yang Harmonis
Dimana hubungan antara ayah, ibu, dan anak tidak terdapat percekcokan atau pertentangan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan waktu terluang untuk berkumpul bersama anak-anak, misalnya di waktu makan bersama. Di waktu makan bersama itu sering keluar ucapan-ucapan dan keluhan-keluhan anak secara spontan. Orang tua sebaiknya langsung berdialog dengan anak tentang hal yang menjadi keluhannya.
18 Ibid., 128.
3) Adanya Kesamaan Norma-Norma yang Dipegang antara Ayah, Ibu, dan Keluarga Lainnya di Rumah Tangga dalam Mendidik Anak-Anak
Perbedaan norma dalam cara mengatur anak-anak akan menimbulkan keraguan mereka dan pada gilirannya menimbulkan sikap negatif pada anak remaja yang akan menimbulkan menurunnya kepatuhan anak karena norma keluarga tidak mantap, anak akan memihak pada salah satu anggota keluarga yang membelanya, dan anak semakin membandel.
4) Memberikan Kasih Sayang Secara Wajar kepada Anak-anak
Kasih sayang yang wajar bukanlah dalam rupa materi berlebihan, melainkan dalam bentuk hubungan psikologis dimana orang tua dapat memahami perasaan anaknya dan mampu mengantisipasinya dengan cara-cara edukatif. Orang tua yang terlalu sibuk tidak akan dapat memberikan kasih sayang yang wajar kepada anak-anaknya. Anak akan mencari kompensasi kasih sayang itu di luar rumah, misalnya dalam kelompok anak-anak nakal. Kasih sayang diberikan orang tua berupa hubungan emosional yang akrab akan menimbulkan rasa aman pada diri anak. Kehilangan kasih sayang menimbulkan kegelisahan, dan kegelisahan akan menimbulkan tingkah laku negatif yang dapat merusak diri anak dan lingkungannya.
5) Memberikan Perhatian yang Memadai Terhadap Kebutuhan Anak- anak
Memberikan perhatian kepada anak berarti menumbuhkan kewibawaan pada orang tua dan kewibawaan akan menimbulkan sikap kepenurutan yang wajar kepada anak. Sikap kepenurutan yang wajar itu akan menimbulkan kata hati pengganti dalam diri anak.
Kewibawaan terjalin dalam hubungan antara anak dengan orang tua melalui proses yang berlangsung lama di dalam upaya pendidikan.
6) Memberikan Pengawasan Secara Wajar Terhadap Pergaulan Anak Remaja di Lingkungan Masyarakat
Hal-hal yang perlu diawasi ialah teman-teman bergaulnya, disiplin waktu, pemakian uang, dan ketaatan melakukan ibadah kepada Tuhan. Mengenai teman bergaul banyak hubungannya dengan berhasil tidaknya upaya orang tua mendidik anak. Mengenai peraturan disiplin waktu, terutama ditujukan terhadap kegiatan belajar.
Termasuk dalam ruang lingkup disiplin ini ialah soal beribadah kepada Tuhan dan soal pengaturan uang.19
b. Di Sekolah
Upaya preventif di sekolah terhadap perbuatan pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa tidak kalah pentingnya dengan upaya di keluarga. Hal ini dikarenakan sekolah memberikan pendidikan formal dimana kegiatan anak diatur sedemikian rupa dan jangka waktu tertentu.
19 Ibid., 128-133.
Untuk menjaga agar tidak terjadi pelanggaran tata tertib, perlu adanya upaya-upaya preventif sebagai berikut:
1) Guru Hendaknya Memahami Aspek-Aspek Psikis Murid
Untuk memahami aspek-aspek psikis murid, guru sebaiknya memiliki ilmu-ilmu tertentu antara lain psikologi erkembangan, bimbingan dan konseling, serta ilmu mengajar (didaktik-metodik).
Dengan adanya ilmu-ilmu tersebut maka teknik pemahaman individu murid akan lebih objektif sehingga memudahkan guru memberikan bantuan kepada murid-muridnya.
2) Mengintensifkan Pelajaran Agama dan Mengadakan Tenaga Guru Agama yang Ahli dan Berwibawa serta Mampu Bergaul Secara Harmonis dengan Guru-Guru Umum Lainnya
Ada sebagian guru agama yang nerasa rendah diri yang disebabkan oleh berbagai hal jika mengajar di sekolah umum yang agak baik dalam fasilitas dan mutu. Jika guru agama bermutu dan memiliki keterampilan, maka pelajaran agama akan efektif dan efisien dalam rangka membantu tercapainya tujuan pendidikan.disamping itu bantuan kepala sekolah dan guru umum lainnya amat diperlukan untuk menyukseskan pelajaran agama di sekolah.
3) Mengintensifkan Bagian Bimbingan dan Konseling di Sekolah dengan Cara Mengadakan Tenaga Ahli atau Menatar Guru-Guru untuk Mengelola
Kebanyakan guru BK bukan dari sarjana atau sarjana muda yang dididik jurusan BK, melainkan sembarang guru yang mau duduk di bidang tersebut karena bidang BK dianggap sama seperti pekerjaan mengajar mata pelajaran lainnya. Kekurangan guru bimbingan dan konseling (BK) menyebabkan program bimbingan dan konseling yang begitu penting menjadi terabaikan. Program-program preventif yang menjadi tugas utama guru bimbingan dan konseling antara lain konsultasi dengan orang tua siswa, konsultasi/bimbingan terhadap siswa secara individual, konsultasi dengan guru dan wali kelas.
4) Adanya Kesamaan Norma-Norma yang Dipegang oleh Guru-Guru Hal ini menimbulkan kekompakan dalam membimbing siswa- siswa. Adanya kekompakan itu akan menimbulkan kewibawaan guru di mata murid-murid sekaligus memperkecil timbulnya pelanggaran.
5) Melengkapi Fasilitas Pendidikan
Yaitu seperti gedung, laboratorium, masjid, alat-alat pelajaran, alat-alat olahraga dan kesenian, alat-alat keterampilan, dan sebagainya. Dengan lengkapnya fasilitas tersebut akan dapat digunakan untuk mengisi waktu luang misalnya selama libur sekolah.
Disamping itu dapat pula mengembangkat bakat siswa dalam rangka
menuju hidup berwiraswasta dan berdikari nantinya setelah anak terjun ke masyarakat.
6) Perbaikan Ekonomi Guru
Jika gaji guru kecil sekali, besar kemungkinan ia mencari tambahan di luar sekolah seperti berdagang, menghonor di sekolah lain atau bolos untuk mengurus keperluan di rumah. Jika gaji guru cukup dan mempunyai rumah yang layak, tentu ia mempunyai waktu untuk memikirkan tugasnya sebagai seorang guru dan akan mempunyai kesempatan untuk membina diri sendiri. Dengan demikian mutu guru tentu akan meningkat dan pembinaan anak didik akan terjamin.20
c. Di Masyarakat
Masyarakat adalah tempat pendidikan ketiga sesudah rumah dan sekolah. Ketiganya haruslah mempunyai keseragaman dalam mengarahkan anak untuk tercapainya tujuan pendidikan. Apabila salah satu pincang maka yang lain akan turut pincang pula. Pendidikan di masyarakat biasanya diabaikan oleh orang karena banyak orang berpendapat bahwa jika anak disekolahkan berarti semua sudah beres dan gurulah yang memegang segala tanggung jawab soal pendidikan.
Pendapat ini perlu dikoreksi karena apalah artinya pendidikan yang diberikan di sekolah dan di rumah jika di masyarakat terdapat pengaruh- pengaruh negatif yang merusak tujuan pendidikan.
20 Ibid., 133-138.
Khusus mengenai mengisi waktu luang bagi siswa setelah pulang sekolah atau libur, perlu dipikirkan kegiatan-kegiatan yang membantu tercapainya tujuan pendidikan. Berarti diperlukan upaya bimbingan waktu luang (leisure time guidance) oleh guru, orang tua, dan pimpinan masyarakat lainnya.
Pemerintah sudah mendirikan beberapa Gelanggang Remaja di berbagai kota besar di Indonesia ini yang bermaksud untuk menampung semua kegiatan remaja. Akan tetapi untuk mendirikan Gelanggang Remaja hingga ke desa-desa, mungkin diperlukan biaya yang amat besar.
Oleh karena itu hendaklah dicarikan suatu cara yang efisien untuk menampung kegiatan-kegiatan remaja.
Di kota-kota besar saat ini sedang berkembang organisasi- organisasi Remaja Islam di masjid-masjid. Merupakan suatu kenyataan bahwa masjid dapat digunakan sebagai pusat kegiatan dan pembinaan remaja. Disamping itu, bagi remaja masjid dijadikan pula untuk tempat kegiatan dakwah dan pengembangan ilmu agama khususnya. Hal ini dikarenakan cara demikian akan membantu pembinaan moral remaja.21 2. Upaya Kuratif Penanganan Pelanggaran Tata Tertib Siswa
Yang dimaksud dengan upaya kuratif dalam menangani masalah pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa ialah upaya antisipasi terhadap gejala-gejala pelanggaran tersebut supaya pelanggaran itu tidak meluas dan merugikan masyarakat. Upaya kuratif secara formal dilakukan
21 Ibid., 139.
oleh Polri dan Kejaksaan Negeri karena jika terjadi pelanggaran tata tertib berarti sudah terjadi pelanggaran hukum yang dapat berakibat merugikan diri sendiri dan masyarakat.22
Karena yang melakukan tindakan pelanggaran tersebut merupakan seorang siswa yang tergolong anak-anak dibawah usia 16 tahun maka kemungkinan tindakan negara terhadapnya adalah anak itu dikembalikan kepada orang tua atau walinya, anak itu dijadikan anak negara, dan dijatuhi hukuman seperti biasa hanya dikurangi sepertiganya.
Upaya kuratif secara formal memang sudah jelas tugas pihak yang berwajib, dalam hal ini polisi dan kehakiman. Akan tetapi anggota masyarakat juga bertanggung jawab mengupayakan pembasmian pelanggaran tata tertib di lingkungan RT, RW, dan desa. Hal ini dikarenakan jika mereka membiarkan, berarti secara tidak sengaja merusak lingkungan masyarakat itu sendiri.
Upaya masyarakat untuk mengantisipasi suatu pelanggaran tata tertib sebaiknya dengan berorganisasi secara baik. Gunanya untuk mencapai suatu tingkat kekompakan dalam menangani masalah tersebut. Kerjasama antar pemerintah, ulama, dan orang tua amat diperlukan dalam menangani pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa.23
Dalam praktiknya ada beberapa teknik yang biasa dilakukan oleh tenaga professional dalam menangani masalah pelanggaran yang dilakukan
22 Ibid., 140.
23 Ibid., 141.
oleh siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Adams & Gullota dalam Sarlito Wirawan Sarwono:24
a) Penanganan Individual
Remaja ditangani sendiri, dalam tatap muka empat mata dengan psikolog atau konselor. Kalaupun diperlukan informasi dari orang tua atau orang-orang lainnya, mereka diwawancara tersendiri pada waktu yang berlainan. Dalam penanganan individual ini bisa dilakukan beberapa teknik.
1) Pemberian Petunjuk atau Nasehat (Guidance)
Dalam hal ini konselor atau psikolog memanfaatkan pengetahuannya yang lebih banyak dari siswa untuk memberikan informasi atau mencarikan jalan keluar mengenai hal-hal atau masalah-masalah yang belum diketahui oleh siswa. Dengan mendapatkan pengetahuan tambahan ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalahnya.
2) Konseling
Konselor atau psikolog tidak mendudukkan dirinya pada posisi yang lebih tau dari siswa yang melakukan pelanggaran, melainkan dari posisi yang sejajar mencoba bersama-sama siswa memecahkan masalahnya. Tugas konselor atau psikolog dalam hal ini adalah menjadi mitra siswa sebagai tempat penyaluran perasaan atau sebagai pedoman dan sebagai pemberi semangat.
24 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Rajawali Press, 2007), 235.
Tujuan konseling adalah mengutuhkan kembali pribadinya yang tergoncang untuk kemudian mencoba menghadapi kenyataan dan menyesuaikan diri terhadap kendala yang ada serta akhirnya mencari jalan keluar dari masalah.
3) Psikoterapi
Yang dimaksud dengan psikoterapi adalah menyembuhkan jiwa yang terganggu, mulai dari gangguan ringan sampai gangguan yang berat dan sangat berat. Sasarannya adalah mengubah struktur kejiwaan siswa agar dia mampu untuk lebih menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dalam hubungan ini ada beberapa aliran psikoterapi:
(a) Terapi tingkah laku yang berorientasi pada aliran behaviorisme.
Tujuannya adalah menghilangkan perilaku yang mengganggu dengan memberikan latihan-latihan sedemikian rupa sehingga tingkah laku pelanggaran itu hilang.
(b) Terapi psikoanalitis. Tujuannya adalah untuk menjelajahi alam ketidaksadaran sampai faktor penyebab pelanggarannya terbongkar.
(c) Terapi humanistis. Tujuannya adalah membantu siswa untuk menerima dirinya sendiri, menyadari potensi-potensinya dan mengembangkannya secara optimal, menumbuhkan kepercayaan diri dan belajar untuk puas pada apa yang telah dicapainya.
(d) Terapi transpersonal. Tujuannya adalah untuk mengajak siswa menempatkan dirinya sebagai bagian dari kosmos dan mencoba
menerima segala sesuatu yang terjadi pada dirinya sebagai hal yang wajar.
b) Penanganan Keluarga
Dalam rangka menangani opelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa adakalanya dilakukan terapi sekaligus terhadap seluruh atau sebagian keluarga. Tujuannya agar keluarga sebagai suatu kesatuan bisa berfungsi dengan lebih baik dan setiap anggota keluarga bisamenjalankan perannya masing-masing yang saling mendukung dan saling mengisi dengan anggota yang lain.
Metode yang digunakan dalam terapi keluarga ini antara lain adalah diskusi, bermain peran, pemecah soal, simulasi, dan sebagainya.
Disamping itu, tentu saja prosedur konseling biasa. Biasanya terapi keluarga ini dikombinasikan juga dengan terapi individual.
c) Penanganan Kelompok
Tujuan dan dasar teorinya juga hamper sama dengan terapi keluarga. Anggota kelompok yang diterapi bersama-sama ini tidak perlu saling ada hubungan keluarga, tetapi bisa orang-orang lain. Biasanya konselor atau psikolog memilih orang-orang yang persoalannya sama, keluhannya sama, usia atau latar belakangnya sama untuk dijadikan satu dalam satu kelompok terapi.
d) Penanganan Pasangan
Jika dikehendaki terapi melalui hubungan yang intensif antara dua orang, bisa juga dilakukan terapi pasangan. Siswa ditangani berdua
dengan temannya, sahabatnya atau salah satu anggota keluarganya, dan sebagainya. Maksudnya adalah agar masing-masing bisa betul-betul bisa menghayati huibungan yang mendalam, mencoba saling mengerti, saling memberi, saling membela, dan sebagainya.
Menurut Raihan Putri, upaya kuatif dalam menangani pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa disekolah yaitu dengan:
a) Menyelidiki latar belakang siswa yang bersangkutan
Maksudnya adalah mencari dan menemukan masalah yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Tujuannya yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang perlu dihadapi dan mengetahui faktor-faktor penyebab yang menimbulkan masalah.
b) Mengklasifikasikan terhadap bentuk kenakalan atau pelanggaran
Pengklasifikasian ini sesuai dengan peristiwa yang dihadapi oleh siswa atau dapat disebut dengan langkah diagnosa. Diagnosa yaitu menentukan dan menetapkan masalah-masalah yang dihadapi siswa yang didasari oleh fakta-fakta yang kongkrit yang telah diperoleh setelah mengadakan penyelidikan tentang latar belakang masalah.
c) Memberikan bantuan atau terapi
Pemberian bantuan ini melalui nasehat-nasehat atau pengarahan.
Jika peristiwa itu berat, maka diserahkan kepada yang lebih berhak yaitu TNI atau Polri.25
25 Raihan Putri, Bimbingan & Konseling (Yogyakarta: UIN Suka Press, 2014), 64.
Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa pasti ada faktor yang mendorongnya. Jika pelanggaran tata tertib tergolong tindak kriminal, maka perlu diadakan konferensi kasus. Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan siswa dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa.
Memang tidak semua pelanggaran yang dihadapi siswa harus dilakukan konferensi kasus. Tetapi untuk masalah-masalah yang tergolong pelik dan perlu keterlibatan pihak lain tampaknya konferensi kasus sangat penting untuk dilaksanakan. Melalui konferensi kasus, proses penyelesaian masalah siswa tidak hanya mengandalkan konselor di sekolah semata tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten dan memiliki kepentingan dengan permasalahan yang dihadapi siswa.
Prosedur konferensi kasus dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a) Kepala sekolah atau coordinator BK/konselor mengundang siswa yang bersangkutan, baik atas inisiatif guru, wali kelas, atau konselor itu sendiri. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat memiliki keahlian tertentu terkait dengan pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa seperti orang tua, psikolog, dokter, polisi, dan ahli lain yang terkait.
b) Pada saat awal konferensi kasus, kepala sekolah atau konselor membuka acara pertemuan dengan menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakan konferensi kasus dan permintaan komitmen dari para peserta untuk membantu mengentaskan masalah yang dihadapi siswa, serta menyampaikan pentingnya pemenuhan asas-asas dalam bimbingan dan konseling.
c) Guru atau konselor menampilkan dan mendeskripsikan permasalahan yang dihadapi siswa. Dalam mendeskripsikan masalah siswa, seyogyanya terlebih dahulu disampaikan tentang hal-hal positif dari siswa sehingga para peserta bisa melihat hal-hal positif dari siswa yang bersangkutan.
Selanjutnya disampaikan berbagai gejala dan permasalahan siswa dan data/informasi lainnya tentang siswa yang sudah teridentifikasi serta upaya-upaya pengentasan yang telah dilakukan sebelumnya.
d) Setelah pemaparan masalah, selanjutnya para peserta lain mendiskusikan dan dimintai tanggapan, masukan, dan kontribusi persetujuan atau penerimaan tugas dan peran masing-masing dalam rangka pengentasan/remedial atas masalah.
e) Setelah berdiskusi maka selanjutnya konferensi menyimpulkan beberapa rekomendasi/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor, para peserta, dan siswa yang bersangkutan untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa.26
26 Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan (Bandung: Pustaka Setia, 2012), 120-121.
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori.27 Pendekatan kualitatif dipilih dan digunakan pada penelitian ini dikarenakan bahwa dengan pendekatan ini dapat mengungkap data secara lebih detail dan mendalam mengenai upaya penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian studi kasus. Studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitinya mengeksplorasi kehidupan nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau beragam sistem terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dan mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi.28 Pertimbangan peneliti, menggunakan jenis penelitian studi kasus ini dikarenakan cara pengumpulan data yang melibatkan beragam sumber informasi yang terlibat dalam hal upaya
27 Djam’an Satori, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2017), 22.
28 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Memilih di Antara Lima Pendekatan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 135.
penanganan pelanggaran tata tertib siswa di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penilaian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember yang beralamat di Desa Tegalwangi Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Alasan peneliti memilih lokasi di sekolah tersebut merupakan sekolah swasta yang pertama kali berdiri di Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Madrasah Aliyah Walisongo dikenal dengan sekolah yang pendidikan agamanya sangat mendalam oleh masyarakat.
Melalui pembinaan keagamaaan yang dilakukan oleh guru dan kerjasama dengan orang tua siswa diusahakan untuk menangani kenakalan remaja.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah sumber bagi peneliti untuk memperoleh keterangan atau data penelitian. Memilih subyek penelitian harus sesuai dengan obyek penelitian. Penentuan subyek penelitian yang akan digunakan adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah penentuan sumber data pada orang yang diwawancarai yang dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu.29 Subyek yang dipilih haruslah subyek yang berkaitan dengan obyek penelitian.
Dalam penelitian ini, subyek penelitian atau informan yang dipandang mengetahui terhadap masalah yang diteliti adalah sebagai berikut:
29 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2017), 218- 219
1. Kepala Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember
Bapak Drs. Anwar Sanusi selaku Kepala Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember menjadi subyek penelitian karena kepala madrasah adalah salah satu orang yang memiliki hak untuk meniliki wewenang dalam mengambil kebijakan terhadap aktivitas bimbingan dan konseling.
2. Guru BK
Ibu Sefrinta Arifani, S.Pd selaku guru bimbingan dan konseling di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember menjadi subyek penelitian dikarenakan guru bimbingan dan konseling yang menangani pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa. Ibu Sefrinta Arfani juga yang bertugas menghubungi orang tua siswa guna melaporkan jika terjadi masalah.
3. Guru Akidah Akhlak
Bapak Muhammad Muhtarom, S.Pd.I selaku guru mata pelajaran akidah akhlak di Madrsah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari Jember menjadi subyek penelitian karena guru akidah akhlak yang berinteraksi langsung dengan siswa dalam menanamkan nilai-nilai agama pada diri siswa.
4. Orang tua
Orang tua menjadi subyek penelitian karena orang tua berperan dalam penanganan pelanggaran tata tertib dan bekerja sama dengan pihak madrasah. Orang tua betugas mendidik anak ketika anak berada di rumah.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah rangkaian aktifitas yang saling terkait yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan penelitian yang muncul.30 Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.31
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah suatu cara mengadakan penyelidikan dengan menggunakan pengamatan terhadap suatu obyek dari suatu peristiwa atau kejadian yang akan diteliti. Observasi sebagai alat pengumpul data harus sistematis artinya observasi serta pencatatannya dilakukan menurut prosedur dan aturan-aturan tertentu sehingga dapat diulangi oleh peneliti lain. Selain itu hasil observasi itu harus memberi kemungkinan untuk menafsirkannya secara ilmiah.32
Adapun jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan, yakni peneliti hanya sebagai pengamat saja dan tidak ikut terlibat secara langsung dalam proses kegiatan
30 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset. Memlilih di Antara Lima Pendekatan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 206.
31 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D…, 224.
32 Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah) (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 107.
yang sedang ditelitinya. Adapun data yang ingin diperoleh dari teknik observasi non partisipan ini adalah:
a. Letak geografis obyek penelitian b. Situasi dan kondisi obyek penelitian c. Aktifitas obyek penelitian
2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal.33 Secara umum wawancara dibagi menjadi dua yakni wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur.
Adapun wawancara yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstandar atau wawancara tak terstruktur.
Wawancara ini menggunakan tujuan penelitian sebagai pedoman wawancara. Pewawancara dengan informannya melakukan wawancara secara informal dengan bentuk pertanyaan yang diajukan sangat tergantung pada spontanitas, terjadi dalam suasana wajar dan bahkan informan tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai.34
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya menumental dari
33 Ibid., 107.
34 Djam’an Satori, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2017), 136.
seseorang.35 Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.36
Jadi selain menggunakan teknik observasi dan wawancara, data penelitian dalam penelitian ini juga dapat dikumpulkan dengan cara dokumentasi. Adapun data-data yang ingin diperoleh dari teknik dokumentasi ini adalah sebagai berikut:
a. Sejarah Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari b. Visi dan misi Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari c. Struktur organisasi Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari d. Data guru BK Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari e. Data siswa yang pernah bersangkutan dengan BK di Madrasah Aliyah
Walisongo Tegalwangi Umbulsari
f. Foto kegiatan BK di Madrasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari E. Analisis Data
Miles dan Hubberman dalam Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa analisis data kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.37 Miles dan Hubberman dalam Sugiono juga mengemukakan bahwa aktifitas dalam data
35 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2017), 240.
36 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010, 274.
37 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik…, 142.
kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.38
Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Hubberman, yaitu data reduction, data display, dan verification.39 1. Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data seperti merangkum, memilih hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan untuk merencanakan langkah yang akan dilakukan selanjutnya.
3. Conciusion Drawing atau Verification (Penarikan Kesimpulan)
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan
38 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D…, 246.
39 Ibid., 247-253.
rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
F. Keabsahan Data
Pengujian keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.40 Dengan demikian, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengklarifikasi data yang telah diperoleh kepada sumber data atau informan untuk mengetahui keabsahan dari data tersebut. Sedangkan triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner.41
40 Ibid., 273.
41 Ibid., 274.
G. Tahap-Tahap Penelitian yang Dilaksanakan
Tahap-tahap penelitian ini menguraikan proses pelaksanaan penelitian, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, dan sampai pada penulisan laporan.42 Tahap-tahap penelitian menurut Moleong ialah menyajikan tiga tahapan, yaitu tahap pra-lapangan, tahap kegiatan atau pelaksanaan lapangan, dan tahap analisis intensif.43
Adapun rincian dari masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap pra-lapangan atau persiapan, meliputi: Menyusun rencana penelitian, memilih lokasi penelitian, mengurus perizinan, menentukan informan dan menyiapkan perlengkapan penelitian.
2. Tahap pelaksanaan lapangan, meliputi: Memahami latar belakang penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan penelitian, mengumpulkan data dan menyempurnakan data yang belum lengkap.
3. Tahap analisis data, meliputi: Menganalisis data yang diperoleh, menyajikan data dalam bentuk laporan dan merevisi laporan yang telah disempurnakan.
42 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 76.
43 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 195.
A. Gambaran Obyek Penelitian
1. Sejarah Madarasah Aliyah Walisongo Tegalwangi Umbulsari
Lembaga pendidikan Islam Walisongo berdiri pada tahun 1969, bermula dari PGAP 4 Tahun. Setelah berjalan beberapa tahun tepatnya pada tahun ajaran 1977-1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Walisongo hingga saat ini. Lembaga ini didirikan oleh beberapa tokoh agama di Desa Tegalwangi Kecamatan Umbulsari Jember yaitu KH. Utsman, KH.
Mustaqim, KH. Shobari, KH. Dasuqi, KH. Mukhtar, KH. Taslim, KH.
Zairin, KH. Dawam Mukhtar, Kiai Muchshon, dan Kiai Hadlori. Selain tokoh agama tersebut, beberapa tokoh masyarakat juga turun mendirikan lembaga pendidikan ini, diantaranya Ustadz Badar Abbas, Ustadz Sofyan Syafa’at, Ustadz Uzair Musthofa, Ustadz Qomari AR, dan Ustadz Furqon Syu’aibi. Yang melatarbelakangi pendirian lembaga ini yaitu kaderisasi Nahdhatul Ulama’.44
Lembaga pendidikan Walisongo berdiri di atas tanah wakaf dari almarhum H. Thohir dengan luas tanah 2.768 M2 dan luas bangunan 1.117 M2. Jumlah siswa pada tahun pertama hanya 15 siswa yang ditampung dalam satu ruangan kecil. Seiring berjalannya waktu yaitu pada tahun kedua meningkat menjadi 40 siswa.
44 Anwar Sanusi, Wawancara, Jember, 29 Agustus 2018.