1
Media Informasi Pendidikan Islam e-ISSN: 2621-1955 | p-ISSN: 1693-2161 http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/attalim/
Integrasi Nilai Pendidikan Islam Dalam Keberagaman Masyarakat Kampung Jawa Di Provinsi Bali
Khoirus Salimah1, Mualamatul Musawamah2, Khoirul Umamah3, Istibsyarotun Ni’mah4, Muhammad Zainulhaq5
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected],
4[email protected], 5[email protected],
1,2,3,4,5 Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, IAIN Kudus
Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus, Indonesia.
Received: November 17th, 2022 Accepted: May 22nd 2023 Published:June 10th 2023 Abstract: Integration of the Values of Islamic education in the Diversity of Javanese Village Communities in the Province of Bali
This study aims to explain the learning model of Islamic education in Kampung Jawa, the name for the village in Wanasari Hamlet which is in the province of Bali and explain how the concept of community diversity in Kampung Jawa (Bali) and the integration of the values of Islamic education with the concept of diversity. This research is a qualitative descriptive research with data sources from local residents and Islamic religious leaders of Wanasari Hamlet. Data collection techniques were carried out through interviews, direct observation, and literature study by going through a testing process using the data triangulation method.
Data analysis using data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study provide an understanding that the learning model of Islamic education in Kampung Jawa (Bali) combines formal and informal education with the strengthening of the concept of religious moderation. The diversity of the village community, which has a background of Madurese living in Bali with a Muslim majority, strengthens the linkage (integration) of Islamic education values to the diversity of Javanese (Balinese) village communities in the form of implementing I'tiqadiyah values with the concept of trustworthiness (trust); Khuluqiyah values related to morals, morals, and ethics; Amaliyah values with two main concepts of equality and democracy, the ability of the Kampung Jawa community to hold deliberations based on critical awareness and based on high tolerance to always lead to the common good which is the highest manifestation of social life.
Keyword: diversity, javanese village, and the value of islamic education
Abstract: Integrasi Nilai Pendidikan Islam dalam Keberagamaan Masyarakat Kampung Jawa di Provinsi Bali.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan model pembelajaran pendidikan islam di Kampung Jawa, sebutan bagi kampung di Dusun Wanasari yang berada di Provinsi Bali dan menjelaskan bagaimana konsep keberagaman masyarakat di Kampung Jawa (Bali) serta integrasi nilai pendidikan islam dengan konsep keberagamannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data dari penduduk setempat dan tokoh agama islam Dusun Wanasari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi langsung, dokumentasi, dan studi pustaka dengan melalui proses pengujian menggunakan metode triangulasi data . Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian memberikan pemahaman bahwa model pembelajaran pendidikan islam di Kampung Jawa (Bali) memadukan pendidikan formal dan informal dengan
penguatan konsep moderasi beragama. Keberagaman masyarakat Kampung yang dilatarbelakangi penduduk Madura yang menetap di Bali dengan mayoritas beragama islam memperkuat keterkaitan (integrasi) nilai pendidikan islam terhadap keberagaman masyarakat kampung Jawa (Bali) berupa penerapan Nilai I'tiqadiyah dengan konsep amanah (dapat percaya); Nilai Khuluqiyah yang berhubungan dengan akhlak, moral, dan etika; Nilai Amaliyah dengan dua konsep utama keseteraan dan demokratis, Kemampuan masyarakat Kampung Jawa bermusyawarah yang dilandasi kesadaran kritis dan didasari toleransi tinggi untuk selalu mengarah pada kebaikan bersama yang mana merupakan manifestasi tertinggi dari kehidupan sosial.
Kata kunci : keberagaman, kampung jawa, dan nilai pendidikan islam To cite this article:
Salimah, K., Musawamah, M., Umamah, K., Ni’mah. I., & Zainulhaq, M. (2023). Integrasi Nilai Pendidikan Islam dalam Keberagaman Masyarakat Kampung Jawa di Provinsi Bali . At-Ta'lim : Media Informasi Pendidikan Islam, 22(1), 1-11.
http://dx.doi:10.29300/atmipi.v22.i1.8435.
A.Pendahuluan
Indonesia merupakan negara dengan sistem kebebasan beragama serta kekayaan budaya di dalamnya. Pasal 29 UUD 1945 dijelaskan bahwa negara berdasar atas ke-Tuhanan yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu.
(Draft UUD 1945). Kebebasan beragama terbukti dengan kemajemukan agama yang dianut di Indonesia, lebih jelas peneliti menemukan konsep kebebasan beragama di Kampung Jawa (sebutan bagi salah satu dusun di kecamatan Denpasar Utara, Dusun Wanasari Desa Dauh Puri Kaja) sebutan ini dilatar belakangi oleh mayoritas penduduknya beragama islam, dan menjadi komunitas muslim terbesar di Provinsi Bali yang kita tahu banyak yang menganut agama Hindu disana. Kampung jawa dengan masyarakat heteorgen berasal dari luar Bali memiliki masjid yang dikenal dengan Masjid raya Baiturrohmah. Masjid ini dijadikan pusat tempat dakwah menyebarkan agama islam dan pusat pembelajaran pendidikan islam.
Diantara cita-cita agama Islam sebagaimana yang tertulis dalam QS. Al-Hujurat :137 adalah untuk saling mengenal dan menghormati berbagai budaya, ras, dan agama sebagai suatu realitas kemanusiaan. Namun, pada saat yang sama peta dunia diwarnai oleh konflik akibat intoleransi rasial. Kesenjangan antara idealitas dan kenyataanlah yang perlu dijembatani dengan memberikan pemahaman tentang integrasi keberagaman dalam proses pendidikan khususnya pada nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan islam.
Pendidikan islam menjadi salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia, dengan pendidikan islam manusia dapat menempati tempat tertinggi di dunia dan di akhirat.
Di sisi lain,tanpa pendidikan manusia akan menempati tempat yang rendah, oleh karena itu pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar dapat menjadi manusia yang utuh, baik secara jasmani maupun rohani.
Pendidikan tidak hanya menjadikan orang sekedar mengenal atau paham akan nilai-nilai kebaikan, melainkan menjadikan manusia juga menyadari dan mengamalkan nilai-nilai kehidupan dalam kehidupan sehari-hari sebagai akhlak yang positif atau kepribadian yang luhur.
Keterpaduan antara nilai Pendidikan Islam dengan keberagaman masyarakat di Kampung Jawa, Bali dari hasil oleh data dan pengamatan peneliti di lapangan secara berupa tiga nilai utama yaitu, nilai I’tiqadiyah, nilai khuluqiyah, dan nilai amaliyah. Nilai I’tiqadiyah didasarkan rukun iman, dalam konsep keberagaman masyarakat di Kampung diambil rukun Iman ke-empat yaitu iman kepada Rasul Allah beserta sifat yang dimilikinya, dalam hal ini
sifat yang ada berupa sidiq (jujur dan tidak berbohong antar umat beragama), amanah (dapat dipercaya) ketika ada hajatan atau upacara keagamaan dipercaya untuk membantu mengamankan jalan dan mempersiapkan posesi upacara. Nilai khuluqiyah dan amaliyah lebih lanjut dipaparkan dalam bab hasil dan pembahasan di sub bab integrasi nilai pendidikan islam dalam konsep keberagaman masyarakat Kampung Jawa.
Penelitian tentang integrasi nilai pendidikan islam dalam keberagaman masyarakat di kampung jawa-bali secara spesifik belum ada yang melakukan, tapi ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, seperti integrasi nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran pendidikan agama islam, Integrasi nilai islam moderat dalam pendidikan islam untuk menguatkan harmoni sosial keagamaan pada masyarakat plural, dan integrasi pendidikan islam (nilai islam dalam pembelajaran).
Penelitian relevan yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah pertama yang dilakukan oleh Yumnah, (2020) yang menyatakan bahwa keselarasan antara nilai pendidikan agama Islam yang Multikultural dengan dapat membentuk karakter toleransi. Kedua, Ramadhan 2019) yang menyatakan bahwa terciptanya kerukunan sosial keagamaan pada masyarakat heterogen dengan mengaitkan nilai pendidikan Islam yang moderat, tidak kaku dan fleksibel. Penelitian ini memuat kesimpulan bahwa untuk memperkuat kerukunan sosial dan keagamaan diperlukan integrasi nilai-nilai islam khususnya islam moderat, karena dengan kerukunan sosial yang kuat pada masyarakat majemuk akan tercipta lerukunan, saling toleransi, dan saling menyayangi antar umat beragama dalam kemajemukan.
Kemudian yang ketiga yakni Ikhwan, A. (2014) menyimpulkan bahwa salah satu upaya untuk membuat peserta didik yang jiwa religius, multikulturalis, dan toleransi adalah dengan melalui pengintegrasian nilai-nilai multikultural ke dalam pembelajaran pendidikan agama islam
Ketiga penelitian diatas digunakan menjadi sumber rujukan tentang integrasi nilai pendidikan islam dalam keberagaman masyarkat Kampung Jawa di Provinsi Bali. Dapat kami tarik kesimpulan bahwa kandungan nilai pendidikan Islam yang cinta damai dan tidak memandang kasta dengan kondisi keberagaman masyarakat di kampung Jawa-Bali, mengingat Kampung Wanasari (nama asli desa dari sebutan kampung Jawa) memiliki budaya, ras, adat, bahkan kepercayaan yang heterogen namun masih bisa hidup dengan damai, rukun, menghargai satu sama lain dan mempunyai nilai toleransi yang tinggi. Dalam berhubungan dengan orang-orang yang tidak seagama sendiri, Islam mengajarkan agar umatnya selalu bertindak baik dan bertindak adil. Selama hal itu tidak menyakiti terhadap umat Islam yang lain, maka tidak ada alasan untuk memusuhi apalagi memerangi mereka (Non Muslim). Al quran juga telah mengajarkan kepada umat islam agar mengutamakan terciptanya suatu perdamaian hingga timbul rasa-kasih sayang baik antar sesama umat Islam maupun umat beragama lainnya (Non Muslim). Umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan paham Islam yang rahmatan’ lil ‘alamin, sehingga dituntut untuk mempunyai sikap modern, membangun toleransi dan harmoni dengan semua kelompok- agama yang ada di masyarakat, keyakinan dan kepercayaan lainnya. Islam rahmatan lil- alamin, sering dihubungkan dengan misi Nabi Muhammad SAW atau misi ajaran islam yang telah dibawa sejak dulu.
Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai pentingnya Nilai Pendidikan Islam di tengah masyarakat beragama hindu. Setelah mengkaji literatur dan gambaran tentang problematika sosial yang ada di kampung Jawa, desa Wanasari maka timbul beberapa rumusan masalah diantaranya yaitu bagaimana konsep keberagaman masyarakat di Kampung Jawa, bagaimana model pembelajaran pendidikan Islam serta penerapannya dalam masyarakat Kampung Jawa. Hal kini bertujuan untuk mengetahui tentang keberagaman budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat kampung Jawa Bali serta sejuah mana nilai-nilai pendidikan Islam diterapkan dalam setiap sudut kehidupan.
B.Metode
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif yang menelaah tentang integrasi nilai pendidikan islam dalam keberagaman masyarakat kampung jawa (Bali). Penelitian ini dilakukan di kompleks masyarakat kampung jawa yang terletak di Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali pada tanggal 21-25 Maret 2022. Alasan pemilihan lokasi ini karena didasarkan pada keunikan masyarakat kampung jawa yang mayoritas beragama islam dan berasal dari luar provinsi Bali namun mereka mampu menyesuaikan dengan segala keberagaman ras, agama, serta aturan masyarakat Bali. Dusun Wanasari juga memiliki masjid terkenal dengan nama Masjid Baiturrohmah yang digunakan sebagai pusat peribadatan dan pembelajaran pendidikan islam.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan melakukan wawancara pada Bapak H. Umar Dani dan Bapak H. Junaedi, S.Ag. selaku pengurus Masjid Baiturrohmah, serta mas Ahmad Irfan Fahmi, warga masyarakat kampung jawa yang asli dari banyuwangi yang menetap di Dusun Wanasari. Peneliti juga memperoleh data melalui pengamatan langsung terhadap keadaan penduduk tentang toleransi dan kehangatan didalamnya serta dokumentasi dari file dokumen sejarah berdirinya Masjid Baiturrohmah. Teknik studi pustaka dilakukan dengan mencari literature yang sesuai dengan kajian penelitian baik dari artikel jurnal, website, dan situs media online lainnya. Peneliti mengolah data menggunakan metode triangulasi data dengan mencocokkan sumber data dari fakta lapangan yang diperoleh dengan dokumen, literature, dan referensi yang sudah didapatkan melalui pereduksian data, penyajian, dan kemudian diperoleh kesimpulan.
C.Hasil dan Pembahasan
1. Profil Singkat Kampung Kampung Jawa di Provinsi Bali
Dusun Wanasari dikenal dengan Kampung Jawa. adalah sebuah desa di Desa Dauh Puri Kaja di Denpasar utara. Salah satu desa tersebut berada di Kota Denpasar dan memiliki wilayah yang sebagian besar penduduknya berasal dari luar Bali. Letak Dusun Wanasari sangat strategis karena berada di pintu masuk utara Kota Denpasar di sebelah utara, namun dengan pemekaran wilayah Kota Denpasar, Dusun Wanasari menjadi bagian dari Denpasar Utara yang dulunya merupakan bagian dari Kota Denpasar Barat. Dusun Wanasari berdiri pada tahun 1904. Pada tahun 1904 di Desa kecil Wanasari ada sebuah barak Belanda (Loji), yang banyak ditumbuhi rumput (jerami) di sekitarnya.
Disebut dengan nama Kampung Jawa karena masyarakat pendatang tersebut bukan orang Bali dan masyarakat Bali menyebut para pendatang dengan sebutan orang Jawa/ orang Islam. Walaupun sebenarnya masyarakat pendatang tersebut bukan hanya dari Jawa saja, akan tetapi masyarakat Bali menyebut pendatang dengan sebutan orang Jawa, sebutan ini telah lama dipergunakan oleh masyarakat Bali bagi para pendatang yang berasal dari pulau Jawa, Bugis, Palembang, dan Madura sudah berada di Denpasar sejak tahun 1906 dan tinggal di Pasar Badung dengan mata pencaharian dalam bidang perdagangaan. Dulu, penduduknya terdiri dari 20 KK saja kemudian seiring berjalannya waktu menjadi sekitar 700 KK dan sekarang terbagi menjadi 8 RT.
Namun pemberian nama Kampung Jawa dahulu tidak dipermasalahkan oleh masyarakat yang menempati Kampung Jawa, akan tetapi masyarakat yang menempati lokasi tersebut sangat menghargai sekali pemberian nama tersebut. Nama Kampung Jawa pada tahun 1956 diubah menjadi Dusun Wanasari atas arahan dari bapak Sumarma (Camat Denpasar Barat). Alasan diubahnya menjadi Dusun Wanasari karena agar tidak adanya hal yang terkesan dalam suatu identitas kesukuan dan menghindari adanya perpecahan antara para pendatang di Dusun Wanasari (Atmadja et al, 2019).
2. Keberagaman Masyarakat Kampung Jawa di Provinsi Bali
Konsep keberagaman sangat erat berhubungan dengan kehidupan bangsa Indonesia, keberagaman harus dipandang sebagai kesetaraan dan persamaan. Penanaman nilai keberagaman sangat penting mejaga keutuhan bangsa dan masyarakat. Keberagaman Masyarakat Kampung Jawa di Bali erat kaitannya dengan sikap kerukunan dan toleransi antar masyarakat yang beragama hindu dan islam. Kerukunan antara umat Islam dan umat beragama lainnya di Kampung Jawa, Bali adalah simbol terciptanya sikap toleransi antar umat beragama,hal ini menunjukkan bahwa keberadaan umat beragama lain tidak tersisihkan. Terciptanya sikap kerukunan dan toleransi masyarakat di Kampung Jawa maupun dengan masyarakat luar Kampung Jawa dapat dilihat dari adanya sikap saling berinteraksi, saling memberi kebebasan bagi setiap masyarakat dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan dengan damai, serta masyarakat tidak merasa terganggu dengan peribadatan antar umat beragama. Kerukunan yang seperti ini lah yang harus dipertahankan dan diperjuangkan di Indonesia. Dengan Dipertahankannya sebuah kerukunan merupakan suatu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kerukunan merupakan sebuah visioner kehidupan yang perlu diwujudkan (Naim, 2016). Keberagaman yang jelas ada di kampung jawa adalah aspek bahasa dan tradisi kebudayaan berikut ini akan dijabarkan :
a. Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk interaksi dengan makhluk hidup. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi dengan makhluk hidup. Hubungan komunikatif antar suku dapat memberikan keuntungan dalam pelaksanaannya, seperti: peningkatan pengetahuan dan pembentukan perspektif baru untuk semua melalui bahasa yang berbeda. Hubungan komunikatif antara orang- orang dari latar belakang budaya yang berbeda membawa tantangan unik di mana orang dapat menemukan dan membangun kesamaan di balik perbedaan yang berbeda (Ahyat, 2017). Kesadaran akan persatuan melalui penggunaan bahasa Bali sebagai alat komunikasi antar masyarakat desa yang telah lama tinggal di Bali dan mahir berbahasa Bali. Bugis, Jawa, Lombok hanya digunakan di daerah terbatas, suku atau keluarga.
Dalam organisasi sosial masyarakat Desa Dauh Puri Kaja dan Dusun Wanasari, penggunaan komunikasi bahasa Bali bersifat informal, sedangkan bahasa Indonesia tetap digunakan secara formal oleh masyarakat.
b. Tradisi Kebudayaan
Tradisi adalah kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat baik sebagai kebiasaan maupun melalui ritual adat dan keagamaan. Dalam perkembangan tradisi Islam di Dusun Wanasari tidak terlepas dari budaya masyarakat Madurai dan Jawa yang merupakan mayoritas pendatang di Dusun Wanasari. Salah satu tradisi dusun Wanasari adalah Ngejot, Lebaran Ketupat, Nyekar, Maulid Nabi, Kampung Ramadhan. Setiap keyakinan dan agama di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda. Tradisi yang tersebar luas di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah ikut serta dalam upacara pemakaman orang yang meninggal.
Kampung Jawa menjadi wilayah Muslim terbesar di Bali. Dengan bercampurnya agama yang berbeda menjadikan akulturasi kebudayaan yang sangat beragam. Di tengah kaum mayoritas beragama Hindu, Umat Islam di Kampung Jawa menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati.
Toleransi antar umat beragama pada dasarnya ialah mekanisme sosial yang dilakukan oleh warga sebagai respon terhadap keragaman serta pluralisme agama. membentuk toleransi antar umat beragama membutuhkan hubungan sosial yg harmonis yg muncul asal hubungan sosial yang dinamis. Setiap orang memiliki nilai-nilai yang diyakini, diikuti serta dilaksanakan buat menjaga keharmonisan antar masyarakat. Nilai-nilai tadi disebut menjadi kearifan lokal, yang merupakan suatu bentuk pengetahuan, agama, pemahaman atau
pandangan, serta norma istiadat atau etika yang membimbing insan buat menjalin korelasi baik dengan orang-orang di sekitarnya. Kearifan lokal mengajarkan perdamaian antara manusia serta lingkungannya.
3. Model Pembelajaran Pendidikan Islam Kampung Jawa di Provinsi Bali
Model Pembelajaran Pendidikan Islam di Kampung Jawa menerapkan desain pembelajaran formal dan informal. Lembaga pendidikan formal keislaman disana hanya memberikan pengaruh sedikit dalam pendidikan islam, mungkin hanya beberapa materi keislaman yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah Miftahul Ulum.
Pendidikan informal dengan menitik beratkan pada kegiatan di masjid, dikenal dengan Masjid Baiturrohmah dalam sejarah singkatnya sudah berdiri sejak 1910 yang dibangun atas swadaya dari masyarakat. Masjid yang didirikan atas prakarsa Syayid Ummar terbuat dari kayu papan dan bedek bambu dan di bangun di perempatan jalan Ahmad Yani . Setahun kemudian 1911 masjid ini dipindah ke daerah yang sampai saat ini kita jumpai, di kampung Wanasari, atas usul dari masyarakat hindu, karena bangunan itu dulunya bekas pura yang sudah tidak terpakai (Wawancara Pak Umar Dani, 22 Maret 2022).
Adapun wujud dari kegiatan pendidikan islam di Masjid Baiturrahmah, Kampung Wanasari (Kampung Jawa) menurut Informan(Junaedi 2022) yaitu setiap seminggu sekali diadakan khataman al-Qur'an pada hari sabtu dengan pembacaam dimulai pada hari senin sampai jumat dilanjut dengan pembacaan surah al kahfi secara bersama-sama. Pada kegiatan rutinan ini secara tidak sadar melatih kefasihan dan kelancaran membaca al-quran serta belajar tajwid pada masyarakat islam kampung jawa. Selain itu, dalam kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) mengundang ulama ternama baik dari dalam dan luar negeri dengan pembawaan yang khas dan materi kajian yang luar biasa bermanfaat bagi masyarakat kampung jawa sehingga dapat menambah ilmu keislaman dan ketakwaan pada Allah Subhanahu wata'ala.
Pendidikan Islam tidak jauh dengan kata ilmu pengetahuan dan pembelajaran, keduanya, tidak hanya bisa didapatakan di bangku sekolah atau di pondok saja misalnya di ruang lingkup keluarga, komunitas sosial, dan sekelompok kecil masyarakat desa/perkotaan.
Dalam lingkup keluarga diajarkan bahwa bapak adalah figur utama dalam rumah tangga dengan tanggung jawab berat dipikulnya. Beliau mencukupi semua keperluan rumah, dan mencari solusi terbaik dari setiap problematika yang ada di keluarga. Ini memberikan pembelajaran tentang tanggung jawab serta bagaimana permasalahan bisa dipecahkan dengan jalan yang terbaik. Dalam komunitas atau organisasi sosial, ada struktur kepengurusan dengan ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota dari setiap departemen.
Mereka semua menumpahkan pikirannya untuk berdiskusi melatih keberanian untuk menyampaikan pendapat, sanggahan dan argumen. Hal ini sejalan lurus dengan pembelajaran tentang berbicara di depan umum (public speaking ). Adapun dalam sekelompok masyarakat kita bisa mengambil ibrah berupa peraturan klasikal, budaya, adat istiadat serta kebiasaan yang berkembang.
Selain dalam ruang lingkup masjid dan madrasah, pembelajaran pendidikan islam di Kampung Jawa ditemukan pada Interaksi antar umat beragama dengan balutan moderasi beragama dan toleransi didalamnya. Moderasi Beragama yang selalu disosialisasikan oleh Kemenag dan menjadi topik hangat ini berisikan tentang islam wasatiyyah, islam dengan konsep menghargai dan memahami berbagai aliran dalam agama islam dan ajaran agama lain dengan tanpa mendiskriminasi dan menyudutkan satu pihak. Hal ini sejalan dengan keadaan di Desa Wanasari (Kampung Jawa), masyarakat yang heterogen dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya. Mereka hidup bersama tanpa adanya perselisihan yang berarti, suasana yang tercipta damai dan tenteram. Contohnya pada saat kegiatan keagamaan di Masjid Baiturrahmah polisi adat bali (pecalang) yang umumnya beragama hindu dengan tulus mengamankan serta mengatur lalu lintas hingga acara selesai. Selain itu pada saat hari raya
Nyepi, masyarakat yang beragama islam tidak keluar rumah dan tidak mengadakan kegiatan yang menganggu ketenangan umat agama hindu. Dari kedua contoh diatas merupakan bentuk kecil dari penerapan moderasi beragama serta toleransi masyarakat kampung jawa.
Sesuai dengan nilai pembelajaran islam yang rahmatal lil alamin, masyarakat islam di kampung jawa memiliki jiwa sosial dengan kepedulian tinggi untuk menghargai syariat ajaran agama hindu.
Banyak penafsiran mengenai pendidikan Islam, diantaranya adalah, Arifin dengan pemikirannya tentang pendidikan Islam merupakan suatu proses sistem pendidikan yang mencakup semua komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah yang berporoskan pada ajaran Islam. kemudian Mulkhan menyempurnakan pengertian tersebut sebagai suatu kegiatan manusia yang mampu memberikan peluang untuk dapat teraktualisasinya segala potensi yang dimiliki manusia, sehingga peserta didik yang belajar islam tidak hanya mampu hidup di lingkungannya, namun juga mau mengetahui Tuhannya.
Selanjutnya pendidikan Islam juga dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam serta mengamalkannya dengan bentuk pengamalan agama yang kuat, serta berakhlak mulia (Ramadhan, 2019).
Nilai Islam yang cinta damai dan berprinsip moderat perlu diintegrasikan dalam pendidikan Islam untuk menciptakan keharmonisan antar umat beragama. Islam merupakan agama yang mempunyai jiwa tasamuh yang tinggi. Pengintegrasian nilai islam moderat dengan nilai pendidikan islam bersifat moderat yakni adil dan mengambil jalan tengah diantaranya yaitu pemahaman realitas kehidupan dinamis sesuai zaman, lebih mengutamakan keadilan, kedamaian, kesetaraan dan kemanusiaan, saling menghargai satu sama lain, lebih mengutamakan kasih sayang daripada kekerasan dan demokratis. Nilai Islam Moderat dalam hal ini adalah nilai-nilai Islam moderat yang ada pada proses belajar dan materi pembelajaran yang diintegrasikan pada pendidikan karakter. Integrasi berarti percampuran, perpaduan dan pengombinasian. Integrasi biasanya dilakukan dalam dua hal atau lebih yang mana masing-masing dapat saling mengisi.
4. Integrasi Nilai Pendidikan Islam dalam Masyarakat Kampung Jawa (Bali)
Nilai dalam tataran kehidupan merupakan satu hal penting untuk memahami arti dari ibrah atau pembelajaran suatu permasalahan. Nilai merupakan suatu identitas dengan karakter khusus didalamnya mencangkup perilaku, pola pikir, keterikatan maupun perasaan yang berangkat dari seperangkat keyakinan dan kemantapan. Menurut Darmadi (2016) mengaitkan nilai atau value masuk dalam bidang kajian tentang filsafat. Maksudnya disini adalah nilai dalam bidang filsafat di pakai untuk menunjukkan kata benda abstrak yang artinya “keberhargaan” atau kebaikan, dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian (Darmadi, 2016). Adapun untuk pembagian nilai berrdasarkan versi Burbecher, dibedakan dalam dua bagian pertama, nilai yang ada dalam jiwanya dengan anggapan baik serta tidak ada campur tangan sesuatu yang lain (nilai Intrinsik), kedua nilai yang hadir pada orang lain karena suatu nilai itu sudah dianggap baik nilai
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, terkait dengan definisi nilai dan klasifikasinya baik secara umum maupun para ahli. Selanjutnya mengenai nilai pendidikan Islam nilai-nilai yang ada dalam ajaran agama Islam yang berupaya untuk mengembangkan fitrah manusia dengan mendidik dalam hal kebaikan sehingga tercipta kepribadian yang seutuhnya sesuai dengan norma Islam atau dengan kata lain terbentuknya kepribadian muslim. Jadi, nilai pendidikan Islam memiliki peran yang sangat penting untuk mengembangkan dan mewujudkan manusia yang sempurna (insan kamil). Pada bagian ini, sampailah pada nilai pendidikan Islam, di dalam Al-Quran sekurangnya terdapat tiga poin nilai utama yaitu nilai akidah tentang kepercayaaan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan takdir ( Nilai I'tiqadiyah ), nilai ini mempunyai tujuan membangun
kepercayaan pada seseorang dan dalam penjelasannya, nilai i'tiqadiyah ini berpedoman pada substansi rukun iman. ; nilai yang kedua yaitu nilai yang memuat ajaran tentang hal yang baik dan hal yang buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia ( Nilai Khuluqiyah ), nilai ini mencangkup tingkah laku dan etika yang bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku yang tercela dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji.
Nilai yang terakhir yaitu nilai yang berkaitan dengan tingkah laku sehari-hari baik yang berhubungan dengan pendidikan Ibadah dan pendidikan mu'amalah ( Nilai Amaliyah ) , ketiga nilai tersebut menjadi dasar dan pedoman dalam pendidikan Islam (Wahid et al., 2021).
Tiga aspek nilai utama dalam integritas nilai pendidikan islam dalam keberagaman masyrakat kampung jawa yaitu :
a. Nilai I’tiqodiyah
Nilai ini bersumber dari kepercayaan dan penjabaran lebih lanjut dalam rukun iman.
Pada ranah ini pengintegrasian nilai pendidikan Islam dalam masyarakat kampung jawa lebih condong pada Iman yang keempat , yaitu percaya adanya Rasulullah Sollohu alaihi Wassalam beserta sifat yang ada dalam dirinya. Berbicara tentang sifat yang dimiliki oleh Rasulullah terdapat empat sifat wajib yaitu sidiq, Fatonah, Tabligh, dan Amanah.
Pertama, Sidiq artinya benar, jujur tidak berbohong . Dalam penerapan pada masyarakat kampung jawa jikalau tidak jujur pasti tidak akan tercipta suatu toleransi yang luar biasa antar umat islam dan hindu. lalu sifat kedua fatonah yang berarti cerdas, kita tahu bahwa tingkat kecerdasan seorang yang satu dengan yang lain itu berbeda, begitupun pada masyarakat kampung jawa, tapi secara garis besar masyarakat disana cenderung kreatif dan inovatif terbukti dengan adanya konsep pengembangan ajaran agama islam secara sentral di masjid, yang kita tahu masjid itu merupakan salah satu masjid terkenal di Bali.
Selanjutnya sifat yang ketiga, Tabligh menyampaikan wahyu atau ajaran syariat islam, langsung ke penerapan pada masyarakat kampung jawa yaitu ketika ada suatu keluhan disampaikan dan didiskusikan secara damai serta dalam keadaan kepala dingin. Sifat yang terakhir yaitu dapat dipercaya (amanah) . Amanah merupakan salah satu sifat wajib nabi muhammad Saw., sifat mahmudah yang patut kita teladani sebagai seorang muslim, meskipun itu tidak mudah. Dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 58 yang artinya
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” Salah satu contoh kecil penerapan nilai Amanah pada masyarakat kampung jawa yaitu dalam program penanggulangan kemiskinan di perkotaan :
1) Membangun masyarakat Kampung Jawa saling percaya satu sama lain dan pengembangan Kelompok Swadaya Masyarakat.
2) Keterbuakaan satu sama lain baik dalam lingkup pemerintahan, maupun masyarakat yang disertai dengan kejujuran, keikhlasan, saling menghargai, saling peduli, keadilan, dan nilai-nilai positif lainnya.
b. Nilai Khuluqiyah
Nilai ini berkaitan dengan nilai akhlak, moral dan etika seperti telah di jelaskan sebelumnya bahwa akhlak merupakan ajaran tentang hal yang baik dan hal yang buruk, yang mencangkup tingkah perbuatan dan perilaku manusia. Penerapan pada nilai khuluqiyah dalam masyarakat kampung jawa Bali ini misalnya, toleransi dalam agama dengan sikap saling menghormati hak dan kewajiban antar agama. Penerapan nilai pendidikan islam al Khuluqiyah yang paling mencolok dalam lingkungan masyarakat kampung jawa adalah sikap tenggang rasa atau toleransi antar masyarakat. Tasamuh dapat diartikan sebagai sikap toleran, selain itu juga memiliki arti tenggang rasa, saling menghormati satu sama lain, perilaku menerima dan mendamaikan perbedaan yang ada.
Dalam lingkup masyarakat Kampung Jawa, sikap tasamuh yang tercermin diantaranya : :
1) Tidak membeda-bedakan (mendiskriminasi) dan tetap bersikap baik pada masyarakat yang berbeda keyakinan. Terbukti masyarakat islam kampung jawa hidup berdampingan dengan masyarakat hindu dengan tanpa adanya gesekan besar.
2) Tidak memaksakan orang lain dalam hal keyakinan (agama). Pada poin ini jelas bahwa masyarakat hindu tetap dengan prinsipnya memegang ajaran nenek moyang, kalaupun menjadi muallaf tidak adanya paksaan dan atas kemauannya sendiri.
Seperti yang telah dikatakan oleh bapak Made Handoko, bahwa dalam adat bali, ketika putri Bali menikah dengan laki-laki yang tidak sekeyakinan maka dia harus mengikuti keyakinan sang suami dan tidak mendapat warisan dari orangtuanya yang non muslim sedikitpun (Wawancara, 22 Maret 2022).
3) Tidak mengganggu orang lain yang berbeda keyakinan (masyarakat hindu) ketika mereka beribadah. Dalam hal ini contoh kecilnya pada acara keagamaan hindu hari raya nyepi, pada posisi itu masyarakat islam kampung jawa ikut berdiam diri dirumah dan tidak berinteraksi dengan saudara di luar jangkauan, hal ini bertujuan untuk menghargai masyarakat yang beragama hindu.
4) Ikut membantu bila satu sama lain sedang ada acara ibadah atau acara lain. Seperti ketika masyarakat muslim kampung jawa memperingati Hari Besar Islam masyarakat Hindu ikut serta mensukseskannya dengan menjadi seorang polisi adat atau dalam bahas abali dikenal dengan sebutan pecalang.
Dengan begitu, nilai i’tiqodiyah merupakan suatu nilai pendidikan yang erat kaitannya dengan akhlaq atau perilaku yang memiliki sebuah tujuan untuk membersihkan diri dari sifat yang buruk dan menghiasi diri dengan sifat yang baik. Sejauh ini, masyarakat Kampung Jawa telah membangun dengan baik nilai i’tiqodiyah guna untuk menjaga dan mempertahankan sebuah kata perdamaian antar umat beragama.
c. Nilai Amaliyah
Nilai Amaliyah mencangkup hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablum minallah) seperti salat, puasa, zakat, dan haji yang merupakan manifestasi dari nilai ubudiyah cakupan yang kedua yaitu pada hubungan manusia dengan manusia (hablum minann nass) . Pada bagian ini cenderung kepada pendidikan muamalah baik berupa perilaku individu ( hubungan keluarga dekat, suami dan kerabat) serta perilaku yang berkaitan dengan perdagangan ( Jual beli, kongsi, gadai dan sebagainya).
Terdapat dua aspek dalam nilai amaliyah dyang saling berkaitan satu sama lain, yaitu dalam aspek ibadah dan muamalah. Amaliyah disini berarti sebuah perbuatan atau sebuah pengamalan. Dengan begitu, ketika nilai amaliyah ini dikaitan dengan masyarakat kampung jawa, hablum minallah dan hablum minannass bisa dikembangkan lagi dalam dua aspek penting yang tercermin dalam nilai kesetaraan dan nilai demokratis :
1) Kesetaraan
a) Pembangunan tempat ibadah, hal ini mengajarkan kepada masyarakat adanya kesetaraan di mana tidak ada deskriminasi atau pelarangan dalam membangun tempat ibadah sesuai keyakinan masing-masing .
b) Kesetaraan Sosial, semua orang atau mayarakat Kampung Jawa berhak memperoleh hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara juga sebagai manusia. Contoh yang terlihat, yakni di lembaga pendidikan negeri. Semua guru baik yang beragama Islam maupun Hindu berhak ikut serta mengajar di lembaga pendidikan tersebut yang penting tidak saling menjatuhkan dan tidak bertentangan dengan keyakinan masing-masing.
2) Demokratis
Nilai demokratis tercermin dalam pembangunan daerah Kampung Jawa, mengajarkan kepada masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi
dalam setiap keputusan yang diambil secara intensif melalui tindakan musyawarah.
Kemampuan masyarakat Kampung Jawa dalam bermusyawarah dilandasi oleh kesadaran kritis untuk senantiasa menuju kebaikan bersama, pada hakekatnya merupakan manifestasi tertinggi dari suatu kehidupan bermasyarakat agar mampu membangun dan memperkuat lembaga pimpinan kolektif masyarakat.
D.Kesimpulan
Sikap kerukunan dan toleransi masyarakat di Kampung Jawa maupun dengan masyarakat luar Kampung Jawa dapat dilihat dari adanya sikap saling berinteraksi, saling memberi kebebasan bagi setiap masyarakat dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing, serta masyarakat tidak merasa terganggu dengan peribadatan antar umat beragama lainnya. Tiga poin utama nilai pendidikan islam yang terkandung dalam sikap keberagaman dikampung jawa diantaranya yaitu nilai akidah tentang kepercayaaan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan takdir ( Nilai I'tiqadiyah ), nilai yang kedua yaitu nilai yang memuat ajaran tentang hal yang baik dan hal yang buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia ( Nilai Khuluqiyah ) Sedangkan, nilai yang terakhir yaitu nilai yang berkaitan dengan tingkah laku sehari-hari baik yang berhubungan dengan pendidikan Ibadah dan pendidikan mu'amalah ( Nilai Amaliyah ).
E.Daftar Pustaka
Basir, A. (2022). Urgensi Pendidikan bagi Kaum Perempuan dalam Kerangka Nilai Pendidikan Islam: I’tiqadiyah, Khuluqiyyah dan Amaliyah. AN-NISA: Jurnal Studi Gender Dan Anak, 15(2), 71–80.
Darlis, A. (2017). Hakikat Pendidikan Islam: Telaah Terhadap Hubungan Pendidikan Informal, Non Formal dan Formal. Jurnal Tarbiyah, 24(1).
Ikhwan, A. (2014). Integrasi Pendidikan Islam (Nilai-Nilai Islami dalam Pembelajaran).
Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam, 2(2), 179–194.
Jalwis, J., & Habibi, N. (2019). Konstruk Pendidikan Multikultural (Studi Urgensi Integrasi Nilai-nilai Multikultural dalam Kurikulum Pendidikan). Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(2), 233–247.
Koentjaraningrat, P. I. A., & Pembangunan, M. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi Cet. 9;
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Krismoniansyah, R., Warsah, I., & Abdu, M. (2020). Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Suroan: Studi di Desa IV Suku Menanti, Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong. At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 1–14.
Meningkatkan, U., Dalam, K., Bimbingan, P., Konseling, D., Hayati, R., Fakultas, D., Tarbiyah, I., Uin, K., & Utara, S. (2019). NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER DALAM PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING. AL-IRSYAD: JURNAL PENDIDIKAN DAN KONSELING, 9(2).
https://doi.org/10.30829/AL-IRSYAD.V9I2.6754
Muspiroh, N. (2013). Integrasi nilai Islam dalam pembelajaran IPA (perspektif pendidikan Islam). Jurnal Pendidikan Islam, 28(3), 484–498.
Nur, M. (2019). Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Konsep Pendidikan Multikultural. El-Buhuth: Borneo Journal of Islamic Studies, 1–7.
Putri, A. A. (2018). Rekonstruksi Pendidikan Islam Kontemporer Dalam Perspektif Transformasi Sosial. HIKMAH: Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 1–21.
Ramadhan, M. R. (2019). Integrasi Nilai Islam Moderat dalam Pendidikan Islam untuk Menguatkan Harmoni Sosial Keagamaan pada Masyarakat Plural. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, 3(1), 701–709.
Saebani, B. A. (2012). Pengantar antropologi. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sormin, N., Khoiri, Q., & Walid, A. (2020). Kegiatan Ekstrakurikuler Marawis Dalam Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Berbasis Kebudayaan. JPT: Jurnal Pendidikan Tematik, 1(2), 37–41.
Ufie, A. (2014). Mengintegrasikan Nilai Nilai Multikulturalisme Berbasis Kearifan Lokal sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, 3(2).
Yanti, S. R., & Rabiaty, R. (2023). Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman Dan Kemasyarakatan, 22(2).
Yumnah, S. (2020). Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Mengintegrasikan Nilai Nilai Multikultural Untuk Membentuk Karakter Toleransi.
Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan, 2(1), 11–19.