• Tidak ada hasil yang ditemukan

interaksi sosial masyarakat plural agama

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "interaksi sosial masyarakat plural agama"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

Buku ini merupakan hasil penelitian saya di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri pada tahun 2006. Namun meskipun demikian, umat Islam di Desa Tanon tidak menampakkan diri sebagai agama dominan yang mengintimidasi.

BAGIAN IV

BAGIAN V

BAGIAN VI

Penting Pluralitas Agama di Tengah

Agama

Sebagai bagian dari uraian tersebut, pengertian agama yang digunakan adalah yang secara empiris menggambarkan kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat.

Interaksi Sosial

Maka yang perlu diketahui lebih lanjut dalam proses sosial ini adalah faktor-faktor yang terjadi dalam interaksi sosial dan bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi. Terjadinya interaksi sosial yang didorong oleh keempat faktor tersebut tidak lepas dari adanya jarak sosial antar pelaku interaksi (Susanto, 1989).

Teori Strukturisme Fungsional

Sedangkan integrasi melibatkan penyatuan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah satu sama lain dengan menghilangkan perbedaan tersebut. Ketiga, akibat dari konflik ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang ditentukan secara ekonomi dan kelompok-kelompok bawahan.

Elite Agama dan Kajian Sosiologis

Belakangan, istilah ini digunakan untuk merujuk pada kelompok sosial tertinggi, seperti unit militer khusus atau bangsawan. Pertama, spekulan adalah elit yang perilakunya didasarkan pada kombinasi naluri, baik sebagai perencana maupun pembaharu.

Makna Sosial

Perubahan Sosial

Kerangka Konseptual

  • Metode Pembahasan
    • Penetapan Pendekatan Penelitian
    • Proses Pengumpulan Data
    • Teknik Analisis Data

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan interaksi sosial masyarakat plural beragama dalam konteks relasi elite agama di Desa Tanon Kecamatan Papar Kabupaten Kediri. Unit observasi dalam penelitian ini adalah interaksi antar umat yang berbeda keyakinan dan antar elit agama yang berbeda yang berada di Desa Tanon Kecamatan Papar Kabupaten Kediri.

Teknik Analisis Data

  • Langkah Analisis Data

Grounded theory adalah metode yang berorientasi pada tindakan atau interaksi dalam pengembangan teori. Keempat, masih adanya kondisi penghalang yang mengutamakan atau membatasi tindakan atau interaksi.

Desa Tanon, Agama Islam, Agama Hindu,

  • Kondisi Geografis dan Demografis
  • Kondisi Sosial-Ekonomi
  • Kondisi Pendidikan
    • Sarana Pendidikan
    • Lembaga Sosial dan Keagamaan
  • Sejarah Masuknya Agama Islam,

1 Kisah Kakek Akup diceritakan oleh cucunya yang saat ini menjabat sebagai lurah di Desa Tanon. Dalam hal ini Desa Tanon membentuk sebuah organisasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat, seperti LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa). Anak-anak muda yang tidak bisa melanjutkan sekolah atau putus sekolah pun merasa tidak puas bekerja di Desa Tanon.

Selama ini Desa Tanon merupakan salah satu desa yang banyak mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri. Berikut adalah jumlah mata lima harian warga Desa Tanon di subsektor jasa perdagangan.

Tabel 1  Jumlah Penduduk
Tabel 1 Jumlah Penduduk

Hindu, Katolik, dan Kristern di Desa Tanon

  • Sejarah Masuknya Agama Islam dan Perkembangannya di Desa Tanon
  • Sejarah Masuknya Agama Hindu dan Perkembangannya di Desa Tanon
  • Sejarah Masuknya Agama Katolik di Desa Tanon dan Perkembangannya
  • Sejarah Masuknya Agama Kristen di Desa Tanon dan Perkembangannya
  • Kepala Desa Tanon Sebagai Kepala Pemerintahan Desa

Dari keterangan informan di atas diketahui bahwa agama Islam sudah ada di desa Tanon sebelum tahun 1965. Bertentangan dengan pendapat di atas, sumber lain menyebutkan bahwa agama Hindu masuk dan menyebar di desa Tanon pada tahun 1968. 2 Wawancara Sumart Sumiran ( 81 tahun), yang merupakan salah satu sesepuh agama Hindu desa Tanon.

Ia menjadi pendeta Hindu (orang yang mengurus jika ada yang mau menikah atau meninggal, yang memimpin doa) di Desa Tanon sejak tahun 1968. Saat itu, hanya Sastro di Desa Tanon yang beragama Kristen, selebihnya kebanyakan. Muslim. 8.

Masyarakat

Mobilitas Masyarakat

Mobilitas masyarakat Desa Tanon sejak masuknya agama selain Islam telah menciptakan dinamika baru dalam kehidupan beragama yang pluralistik. Cohen menyebut mobilitas sosial sebagai perpindahan individu dari satu status sosial ke status sosial lainnya. Hal ini menjadi kekuatan untuk menaiki tangga sosial (vertikal) ke strata sosial yang lebih tinggi.

Dalam realitas sosial, tidak banyak anak yang berhasil mencapai posisi sosial yang lebih tinggi dari orang tuanya. Seperti disebutkan di atas, banyak orang di desa Tanon bekerja di bidang pertanian, perdagangan, keterampilan dan jasa.

Sarana dan Kegiatan Umat Beragama

  • Sarana Keagamaan
  • Kegiatan Keagamaan di Kalangan Umat Islam Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa rata­rata
  • Kegiatan Keagamaan di Kalangan Umat Hindu Kegiatan keagamaan di kalangan Hindu biasanya dilaksana
  • Kegiatan Keagamaan di Kalangan Umat Katolik dan Kristen

Bagi umat Katolik dan Kristen, tidak ada tempat ibadah di Desa Tanon, namun mereka bergabung dengan gereja di Kecamatan Papar atau di tempat lain. Selain ritual keagamaan sehari-hari, komunitas muslim Desa Tanon juga menggelar kegiatan penyambutan pada perayaan hari besar, seperti Maulid Nabi, Isra' Mi'raj dan lain-lain. Selain kegiatan yang disebutkan di atas, umat Islam di Desa Tanon melakukan beberapa kegiatan setiap bulan Ramadan.

Sementara itu, umat Islam di Desa Tanon mengadakan acara penyembelihan hewan kurban di masjid dan mushola saat Idul Adha. Selain kegiatan di atas, warga desa Tanon yang beragama Hindu juga melaksanakan peringatan Waisak Dudan Galungan dengan berdoa bersama di pura.

Partisipasi Umat Beragama dalam Pembangunan

Sedangkan bagi umat Kristiani Jawi Wetan, mereka belajar kitab suci setiap Minggu pagi di Gereja Jawi Wetan Purwoasri. Umat ​​\u200b\u200bBethel melakukan kegiatan keagamaannya setiap Minggu pagi dengan belajar kitab suci di desa Purwotengah kecamatan Purwoasri. Selain itu, setiap Rabu malam mereka berkunjung ke rumah masing-masing umat Kristiani secara bergiliran.

Selain kegiatan di atas, umat Katolik dan Kristen juga melakukan kegiatan keagamaan seperti Natal, Paskah dan Download Download.

Agama-Agama dan Sosial Budaya

Interaksi Sosial Agama-Agama dan Budaya di Desa Tanon

  • Interaksi Sosial dalam Perspektif Aqidah Islam Sebagaimana dijelaskan dalam al­Qur’an, surat Ali Imron

Mengamalkan ajaran bersaing dalam kebaikan, masyarakat Tanon menerapkannya dalam pelaksanaan dakwah Islamiah, melalui takbir yang dibebankan untuk memperkukuh kewujudan Islam di Desa Tanon, serta persaingan antara masjid dan masjid yang diusahakan. Kerana dalam Islam diajarkan bahawa yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah yang paling bertaqwa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran: (Wama arsalna illa rahamatal lil'alamin) bermaksud: "Sesungguhnya Kami mengutus kamu (Muhammad) hanyalah sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. alAmbiya': 107).

Keberadaan elite agama Islam memiliki pengaruh yang kuat dalam setiap aktivitas keagamaan umat Islam di Desa Tanon. Selain itu, di Desa Tanon, elit agama menjadi panutan bagi masyarakat yang berperan sebagai pembela.

Interaksi Sosial dalam Perspektif Agama Hindu

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa agama Hindu di desa Tanon tidak terlalu mementingkan kasta. Elit agama Hindu menerapkan ajarannya sesuai dengan adat istiadat budaya masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Interaksi Sosial dalam Perspektif Agama Katolik

Hal ini menunjukkan adanya interaksi sosial yang positif antara umat Katolik dengan lingkungannya. Dari pemaknaan interaksi sosial dari sudut pandang kekatolikan di desa Tanon dapat disimpulkan bahwa elite agama Katolik lebih mengutamakan keutuhan batin umat dalam praktik kehidupan beragama.

Interaksi Sosial dalam Perspektif Agama Kristen

Dari pemaparan interaksi sosial dalam perspektif Katolik di Desa Tanon, dapat diperoleh temuan bahwa elite agama Kristen dalam menjalankan aktivitas keagamaannya lebih berasimilasi dalam aspek adat Jawa.

Tipologi Mayarakat Tanon

Kondisi ini menciptakan keharmonisan dalam kehidupan umat beragama di Desa Tanon berdasarkan kepercayaan agama dan budaya yang ada. Eksistensi agama di desa Tanon berinteraksi dengan budaya lokal bahkan terjadi integrasi budaya, terutama yang berkaitan dengan ritual. Karena kesamaan budaya dan integrasi budaya dan agama ini, umat beragama di Tanon tidak merasa bahwa agamanya paling benar.

Sehingga perbedaan agama bukan menjadi penghalang atau jarak sosial bagi pemeluk agama di desa Tanon. Umat ​​beragama di desa Tanon memiliki local genius yaitu agama, namun mereka juga memiliki kepercayaan lain yang diyakini dan berdampak pada masyarakat.

Grafik 1 Umat Beragama Dalam Stratifikasi Keberagaman
Grafik 1 Umat Beragama Dalam Stratifikasi Keberagaman

Elite

Agama

Kondisi Keagamaan

Situasi setelah tahun 1965, pluralitas agama terbentuk di Desa Tanon, yaitu dengan munculnya empat agama: Islam, Kristen, Hindu, dan Katolik. Untuk menggalakkan kerjasama internal antar umat Islam di Desa Tanon diperlukan suatu lembaga pendidikan untuk mendidik anak-anaknya agar menimba ilmu agama yang lebih baik, maka para tokoh Islam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang disebut madrasah. Berkembangnya keberagaman agama di Desa Tanon telah meningkatkan kesadaran untuk memeluk dan menjalankan ajaran masing-masing agama serta menjaga adat dan seni budaya yang ada.

Kondisi desa Tanon sejalan dengan pendapat Isomudin dalam Sociology of Religion (2002, hlm. 29), bahwa agama merupakan ciri universal kehidupan sosial manusia. Di desa Tanon, seiring dengan perkembangan agama, berkembang pula kegiatan seni dan budaya yang berwawasan agama, yang umumnya dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu kondisi agama, ekonomi, dan pendidikan.

Rekonstruksi Model Teoretik

Elit agama di desa Tanon masih memiliki status yang tinggi di mata masyarakat, mereka sangat dihormati dan diposisikan sebagai pemimpin masyarakat yang sebenarnya. Penduduk Tanon menempati posisi sosial budaya yang diwariskan oleh elit agamanya secara turun-temurun sebagai pedoman dalam kehidupan masyarakat. Dari gambaran keadaan dan tingkat persepsi keagamaan di desa Tanon, ternyata agama dapat berperan sebagai penggerak perubahan, dan di sisi lain berperan sebagai penjaga status quo (Islam, Hindu, Kristen, Katolik). ).

Jika elite agama mendorong, bahkan menjadi aktor perubahan sosial, maka ini berarti agama dipisahkan dari masyarakat modern. Isomudin, elit agama yang ada, mendapat pengakuan dari para pengikutnya dan dari elit agama lainnya.

Temuan dan Proposisi

Hidup

Beragama

Kerukunan di Kalangan Umat Islam

Dengan demikian, persoalan konflik internal umat Islam di Desa Tanon dapat tertangani dengan baik saat ini. Keberadaan kelompok umat Islam di daerah ini seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama tidak menjadi kendala dalam upaya membangun masyarakat Islam di daerah ini menuju persatuan dan kesatuan. Terlebih lagi, masyarakat menilai pembahasan masalah khilafah akan merugikan perjuangan umat Islam.

Mereka menyadari bahwa persatuan yang diinginkan di antara umat Islam Tanon harus dimulai dari ulama dan pemimpin kelompok agama. Di sisi lain, umat Islam di Tanon menyadari bahwa perpecahan antar umat Islam dan antar umat beragama dapat merusak persatuan bangsa dan bertentangan dengan falsafah hidup bangsa.

Kerukunan Antar Umat Beragama

Khoirul Anwar selaku kepala desa terpilih mengundang para calon kepala desa lainnya untuk makan malam dan berbincang bersama di balai desa. Upaya mereka berintegrasi dengan berbagai cara, antara lain dengan menyelenggarakan olah raga bagi para pemuda, saling berkunjung terutama pada saat hari raya umat Islam. Mereka berharap kejadian seperti di Meulaboh tahun 1968 tidak terulang dan terjadi di daerah Tanon.

Bagi umat Islam di kawasan Tanon, isu keharmonian beragama bukanlah isu baharu, tetapi sesuatu yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Selain daripada soal akidah, upacara keagamaan dan Syariah Islam membolehkan kompromi antara penganut agama.

Kerukunan Umat Beragama dengan Pemerintah

Setiap gerak-gerik pemuda ini diawasi ketat oleh masyarakat dan pemerintah setempat, sementara pendirinya dimutasi. Sehingga pemerintah mengambil kebijakan pemberian fasilitas rumah ibadah kepada kelompok non muslim sebagaimana diberikan kepada kelompok muslim. Sehingga pendirian rumah ibadah tidak dimaknai oleh kelompok Islam sebagai kegiatan mereka sendiri.

Pertama, elite agama Desa Tanon berperan sebagai patron dan selalu berinteraksi melalui kegiatan kemasyarakatan. Ketiga, kegiatan ritual masyarakat, adat istiadat dan budaya merupakan sarana komunikasi dan interaksi sosial dalam masyarakat yang majemuk beragama untuk membentuk kehidupan sosial yang harmonis.

Saran-Saran

Pluralisme agama merujuk pada peran elite agama dalam interaksi sosial, dengan tetap berpegang pada norma agama, budaya, dan adat istiadat masyarakat setempat. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa interaksi elit agama yang berbeda mampu menciptakan keharmonisan berdasarkan pemahaman elit agama terhadap agama lain bahwa agama pada hakekatnya adalah satu, hanya caranya yang berbeda. Keharmonisan antar elit agama juga bisa terjadi dengan kegiatan ritual yang langsung melibatkan elit agama.

Lahir di Kediri pada tanggal 26 Oktober 1960, menyelesaikan program S1 di IAIN Surabaya Fakultas Tarbiyah tahun 1996, dan menyelesaikan program S2 di Universitas Muhammadiyah Malang tahun 1999, serta menyelesaikan program S3 Ilmu Sosial Universitas Merdeka Malang tahun 2007. Selain sebagai akademisi, ada beberapa rangkaian organisasi yang pernah ditekuninya seperti Pengurus MUI Kota Kediri tahun 2014, Majelis Pakar Musliat tahun 2012 dan Ketua Program Studi Ilmu Hadits tahun 2014-sekarang.

Gambar

Tabel 1  Jumlah Penduduk
Tabel 11 Daftar Keluarga dalam “Perkawinan Pelangi” (Beda Agama) di Desa Tanon NoNamaJenis KelaminTahun LahirHubungan KeluargaAgamaStatus 1.
Grafik 1 Umat Beragama Dalam Stratifikasi Keberagaman

Referensi

Dokumen terkait

The encoder Power LED steady green: async mode, switches between async/ Power LED flashes green: sync mode sync mode by means of a teach pulse Effective mode Bridge Pin 2 UB and