Agama-Agama dan Sosial Budaya
A. Interaksi Sosial Agama-Agama dan Budaya di Desa Tanon
1. Interaksi Sosial dalam Perspektif Aqidah Islam Sebagaimana dijelaskan dalam alQur’an, surat Ali Imron ayat 13, yang artinya: “Sesungguhnya agama menurut pandang
an Allah itu adalah hanya agama Islam.” Maksudnya bahwa agama yang paling benar adalah agama Islam, agama yang dibawa oleh nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman yang artinya: “Jadilah kamu semua sebaikbaik umat, yang kepada manusia mengajak kepada kebaikan, dan melarang berbuat kajahatan dan mereka itulah orangorang berbahagia.” Ayat ini menjelaskan tentang interaksi sosial dalam perspektif Islam. Bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjadi sebaikbaiknya umat, sebagai teladan dan panutan, pelopor, dan pemikir kemajuan umat.
Sebagai tanda dari ini adalah mengajak kebaikan. Yang ter
masuk kebaikan di sini adalah sikap akomodatif, assosiatif, dan melarang berbuat tidak baik seperti mencaricari kesalah an sehingga menimbulkan pertengkaran yang merusak sila tu rah
mi. Bagi individu ataupun masyarakat yang bisa mewu judkan kondisi di atas, Allah SWT memberi jaminan keun tungan yang dalam bahasa sosiologi adalah tertib sosial.
Sebagai tanda bahwa masyarakat Islam merupakan sebaik
baik masyarakat adalah sebagai berikut:
a. Ta’aruf, saling mengenal satu sama lain. Namun, bukan sekadar kenal, tapi lebih dalam dari itu. Pengaplikasian ta’aruf bisa juga dalam bentuk menerima kelebihan dan kekurangan individu, ataupun kelompok lain.
b. Ta’awun, saling menolong antara individu satu dengan individu yang lain. Karena tidak ada individu yang sem
purna, semua dihiasi dengan kelebihan dan keku rangan, maka harus saling tolong menolong. Dengan ini, maka individu bisa memenuhi kebutuhan masingmasing.
Yang lebih bisa memberikan pada yang membutuhkan, sehingga terjadi suasana saling berperan dan saling beramal.
c. Tasaabakum, berlombalomba dalam meraih prestasi yang maksimal sebagai bukti rasa syukur atas potensi dan kompetensi yang diberikan oleh Allah SWT. Se
hingga hidup akan penuh nilai, baik dalam kehidupan individu, masyarakat, maupun di hadapan Allah SWT.
Dalam berinteraksi, umat Islam di Desa Tanon betulbetul mengamalkan ajaran Islam ini. Terbukti, adanya suasana keak
raban ketika bertemu di jalan, di sawah, di pengajian, atau pada suasana jemaah salat lima waktu. Mereka sangat bersahabat, terlebih dari ungkapan wajah ketika berpandangan, bersalaman satu sama lain, berbincangbincang membahas apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Kebersamaan dan kerukunan ini tercipta karena masyarakat saling mengenal dan sudah akrab.
Masyarakat Islam di Desa Tanon juga saling tolong me
nolong, terbukti ketika ada peristiwa kelahiran, pernikahan, kematian, atau dalam suasana yang membutuhkan bantuan banyak orang, mereka seolah satu badan, ketika anggota lain
merasa sakit, maka semua ikut merasakan, sehingga timbul suasana saling menolong.
Dalam mengamalkan ajaran tentang berlombalomba dalam kebaikan, masyarakat Tanon mengaplikasikannya pada pelaksanaan dakwah islamiyyah, melalui takbir keliling yang suasna yang ini bermuatan menguatkan eksistensi Islam di Desa Tanon, juga lomba antar mushola dan masjid yang sudah membudaya. Selain itu ada jamiah yasin, tahlilan, dhibaiyah, dan kajiankajian keislaman lainnya yang menciptakan suasana saling berbalas kebaikan, beramal sholeh antar umat Islam.
Islam tidak membedabedakan kaya dan miskin atau pangkat dan simbol stratifikasi yang lain. Sebab, dalam Islam diajarkan apa yang paling mulia di hadapan Allah SWT adalah yang paling taqwa. Allah berfirman dalam alQur’an:
“Inna akromakum ‘indallohi atqoqum” yang artinya: “Yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.”
(QS. alHujorot: 13). Hal di atas merupakan stratifikasi secara vertikal. Dalam sisi lain juga terdapat stratifikasi horizontal, yakni interaksi dengan sesama, dengan individu dan alam.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam alQur’an: (Wama arsalna illaa rahamatal lil‘alamin) artinya: “Tidak Kami utus kamu (Muhammad) kecuali untuk rahmat kepada seluruh alam.” (QS. alAmbiya’: 107).
Islam mengajarkan interaksi antar umat bergama. Islam memberi tempat bagi umat beragama lain untuk mengamalkan agama dan meyakini sesuatu dengan keyakinannya. Hal ini disandarkan dengan firman Allah SWT dalam alQur’an (Lakum dinukum waliyadin) (QS. alkafirun: 6), yang artinya:
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Islam mengajarkan tentang deferensi sosial, sebagaimana dalam alQur’an dijelaskan: (Yarfaillahul ladziina aamanu minkum walladziina uutul ‘ilma darojaat), artinya: “Allah akan mengangkat derajat seseorang yang beriman dan berilmu dari kamu dengan beberapa derajat.” (QS. Mujadilah: 13).
Selanjutnya, di dalam masyarakat Islam ada perspektif masyarakat mutamaddin atau civil society. Maksudnya, masya
rakat yang memiliki karakteristik mandiri, beretika, memi liki rasa tanggung jawab, berprestasi, egaliter, dan cerdas. Masya
rakat ini disebut juga dengan masyarakat terwujud.
Masyarakat madani hanya tercipta manakala terjadi perpa
duan dialektis antara kelompok jamaliyah, yakni kelompok masyarakat mayoritas yang umumnya diam dengan kelompok jalaliyah, yakni kelompok minoritas dalam masyarakat, tetapi berpengaruh. Kelompok jalaliyah adalah mereka yang dalam bahasa seharihari disebut sebagai kelompok elite, baik dalam bidang ekonomi, intelektual, agama, kekuasaan, ataupun lainnya.
Pada masyarakat Tanon, ciriciri ini sebagian sudah terlak
sana dan sebagian lain belum. Sebab, masyarakat Tanon adalah tipe masyarakat agraris dan paternalistik. Keberadaan elite agama Islam memiliki pengaruh kuat terhadap setiap kegiatan keagamaan umat Islam di Desa Tanon. Ada pun di dalamnya terjadi perpaduan antara Islam dengan budaya Jawa. Sehingga, terjadi apa yang diistilahkan dengan Islam Jawa. Ada beberapa amalan yang dikerjakan khusus umat Islam di Jawa. Kondisi ini membawa pengaruh positif terhadap kelangsungan kerukunan masyarakat plural agama di Desa Tanon.
Dari uraian tersebut, diperoleh temuan interaksi sosial agama Islam di Desa Tanon berlangsung dinamis. Elite agama Islam tidak menempatkan dirinya sebagai orang paling
dominan. Ia memiliki posisi setara dengan elite agama Hindu, Katolik, dan Kristen. Selain itu, di Desa Tanon elit agama adalah figur panutan masyarakat yang berperan sebagai penye
imbang antara kehidupan keagamaan dan adat istiadat budaya setempat.