• Tidak ada hasil yang ditemukan

interpretasi dan tanggapan mahasiswa unismuh

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "interpretasi dan tanggapan mahasiswa unismuh"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

RumusanMasalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Kajian Pustaka

  • Penelitian yang Relevan
  • Konsep Sastra
  • Jenis-jenis Sastra
  • Sastra Lama
  • Pendekatan Sastra
  • Pendekatan Hermeneutika
  • Resepsi Sastra
  • Lagu Bugis
  • Lagu Sajang Rennu

Pendekatan pragmatis adalah salah satu yang melihat sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam praktiknya, pendekatan ini cenderung menilai karya sastra dari keberhasilannya mencapai tujuan membaca tertentu (Pradopo, 1994). Were (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena kajiannya menitikberatkan pada unsur-unsur intrinsik karya sastra yang diyakini memiliki kelengkapan, koherensi dan self-righteousness.

Penerimaan berarti tanggapan. Dari pengertian tersebut, kita dapat memahami pentingnya resepsi sastra sebagai respon pembaca terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan ini mencoba memahami dan menilai karya sastra berdasarkan tanggapan pembacanya. Teori resepsi tidak hanya memahami bentuk karya sastra dalam pengertian sejarah menurut pengertiannya. Pada pentas sejarah, penerimaan karya sastra dalam sejarah sastra sangat penting, yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses penerimaan pasif, yang merupakan bagian dari pengarang.

Metode resepsi didasarkan pada teori bahwa karya sastra selalu mendapat tanggapan dari pembaca sejak awal kemunculannya. Penilaian suatu karya sastra oleh pembaca pertama akan dilanjutkan dengan tanggapan pembaca berikutnya (Jauss 1983: 14). Kehadiran makna sebuah karya sastra dalam diri pembaca merupakan respon terhadap persepsi pembaca, yang sekaligus menunjukkan cakrawala harapannya.

Tafsir pembaca adalah jembatan antara sastra dan sejarah, dan antara pendekatan estetika dan sejarah. Koherensi karya sastra sebagai peristiwa terutama dijembatani oleh cakrawala harapan pengalaman sastra dan cakrawala harapan pembaca, kritikus, dan penulis (Jauss 1983:21). Pada tahapan sejarah, penerimaan karya sastra sangat penting bagi sejarah sastra, yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai sebuah proses.

Metode resepsi ini mengkaji tanggapan setiap periode, yaitu tanggapan karya sastra pembacanya (Pradopo 2007: 209). Dalam hal ini, sekelompok pembaca bereaksi secara psikologis dan sosiologis terhadap karya sastra tersebut dalam kurun waktu yang sama. Namun, karena cakrawala harapan masing-masing pembaca berbeda, pembaca akan menanggapi sebuah karya sastra dengan cara yang berbeda.

Setiap individu atau kelompok pembaca yang telah ditentukan disuguhkan sebuah karya sastra, setelah itu kepada pembaca diberikan pertanyaan baik secara lisan maupun tulisan, jawaban diperoleh dari pembaca. Setelah mengajukan pertanyaan kepada pembaca, pembaca diminta untuk menginterpretasikan karya sastra yang sedang dibacanya. Hasil interpretasi pembaca ini dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif.

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Fokus Penelitian
  • Defenisi Istilah
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Instrumen Penelitian
  • Teknik Analisis Data

Pada teks 1, penggunaan kata awwi berarti 'celaka', yang merupakan interjeksi atau interjeksi. Pada baris 2, kata terri yang berarti 'menangis' merupakan kiasan duka; kata peddi berarti 'sakit', mengacu pada hati atau hati yang sakit; serta kata atikku yang berarti 'hatiku' yang menyinggung organ tubuh manusia. Kata tekkareba artinya tidak ada kabar yang tersusun dari kata teng artinya tidak ada karebayang artinya.

Pada baris ke-7 terlihat penggunaan kata naulleku tappakua yang artinya 'kamu berani sekali terhadapku' yang menyinggung seseorang yang terlalu kejam yang bisa melakukan ini. Pada baris ke-9 terlihat penggunaan kata Mutaroa sajang rennu yang artinya 'membuatku sedih karena merindukan sesuatu yang tidak terpenuhi'. Pada larik ke-15 terlihat bahwa kata naullekku terdiri dari kata ganti na artinya kamu, ulle artinya bisa, -ku artinya.

Pada baris 17 Anda dapat melihat kata kubburu yang berarti 'kuburan', menunjukkan tempat di mana orang dimakamkan ketika mereka meninggal. Pada baris ke 19 terdapat kata utiwi yang berarti 'saya bawa' yang melambangkan resah hati yang akan selalu mengisi hati. Pada baris ke-20, terlihat kata utiwi yang berarti 'sudah kubawa', menyiratkan rasa sedih yang selalu menyertainya.

Kata limbang, yang artinya 'menyeberang', melambangkan alat untuk pergi ke suatu tempat. Kata ri, yang berarti 'di', menunjukkan preposisi. Kekecewaan bagi sebagian pria Bugis ini adalah sirik, yang artinya 'kecerobohan' yang harus dilestarikan. Hal ini terdapat pada bait 4, yaitu: kebaja sangadie //engka jera baru//kubburu tenri bungai//iyaknatu ri lalengna yang berarti "besok atau lusa//ada kuburan baru//kuburan tidak tertutup bunga // Akulah yang ada di dalamnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Elokku sedding ro mate (mau rasanya mati). tapi hidup tidak mau pergi) Nataro massajang rennu. membuatku sedih) Na'ulleklu tappakua. Bait di atas mengandung arti bahwa rasa sakit yang begitu dalam membuat seseorang ingin mengakhiri hidupnya, tetapi nyawanya tidak mau pergi karena rasa sakit yang begitu kuat menyerangnya. Bait di atas bermakna bila lusa ada pusaran baru, kuburan yang tidak bertabur bunga, maka yang ada di dalam adalah dirinya sendiri, membawa sakitnya ke akhirat.

Dalam lagu Bugis berjudul Sajang Rennu yang digubah oleh Yusuf Alimudi ini mengandung makna bahwa ada seorang lelaki yang sangat kecewa dan sangat terluka oleh pacarnya yang bersandingan dengan orang lain di pelaminan, bukan dengan dia tidak. Siswa 1 berkesimpulan bahwa rasa sakit yang dirasakan seseorang ketika orang yang dicintainya menikah dengan orang lain adalah wajar karena cintanya begitu dalam. Siswa ke-2 berkesimpulan bahwa kekecewaan seseorang tidak boleh berupa pikiran untuk mengakhiri hidup karena hal itu akan merugikan diri sendiri.

Siswa ketiga berkesimpulan bahwa rasa sakit yang dialami pria tersebut sangat berpengaruh bagi kehidupannya di masa depan karena cintanya telah mati dengan kekasihnya yang telah memilih pria lain. Siswa 4 berkesimpulan bahwa seseorang yang telah memberikan harapan kepada kekasihnya namun kekasihnya lebih memilih menikah dengan orang lain. Siswa ke-5 menyimpulkan bahwa masih banyak orang baik di luar sana yang mau menerima cinta kita dengan tulus tanpa memberikan rasa kecewa yang berlebihan.

Siswa ke-6 berkesimpulan bahwa berdasarkan kata awwi yang artinya oh, lagu sajang rennu memberikan tanda keluh kesah atau semacamnya. Jika Anda mendengar suara lembut penyanyi saat mengucapkan kata awwi dalam lagu ini, tidak sulit untuk mempercayai rasa sakit yang dialami pencipta lagu. Siswa ke-7 berkesimpulan bahwa rintihan kesakitan adalah kenyataan bahwa pria idaman menikah dengan wanita lain masih sulit diterima.

Siswa ke-8 menyimpulkan bahwa penyanyi yang menemukan inti permasalahan sebenarnya tidak dapat menahan air mata yang mengalir di pipinya. Rasa sakit akibat rindu yang tak terpenuhi idealnya memang disematkan pada kata majemuk sajang rennu. Siswa ke-10 berkesimpulan karena rasa sakit yang dirasakan penyanyi tersebut, sepertinya penyanyi tersebut mulai kehilangan relasi dalam berpikir dan memecahkan masalah.

Pembahas anHasilPenelitian

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Ketika kita mendengarkan lagu Sajang Rennu, ingatan Setelah kita memahami terjemahan lagu Sajang Rennu ciptaan Yusuf Alimudi dalam bahasa Indonesia yang dianalisis dengan pendekatan reseptif dan hermeneutika, maka kita dapat menemukan makna yang terkandung di dalamnya melalui proses wacana. analisis atau dengan membaca secara keseluruhan. Salah satu aspek yang mempengaruhi pembaca sehingga tidak bisa atau tidak bisa menikmati dan memahami isi sebuah lagu Bugis adalah karena kompleksitas konteks lirik lagu Bugis tersebut. Dengan demikian, disinilah peran hermeneutika adalah memperjelas makna simbolik suatu teks dalam sebuah karya sastra, khususnya dalam puisi atau tembang Makna lagu Sajang Rennu karya Jusuf Alamudi. Peneliti sastra akhir-akhir ini telah memahami pentingnya pembaca sebagai penerima informasi dan pemberi makna sebuah karya sastra. .

Resepsi sastra adalah genre sastra yang mempelajari teks sastra dengan memperlakukan pembaca sebagai orang yang berbicara atau menanggapi. Saat memberikan komentar dan jawaban, tentunya faktor ruang, waktu dan kelas sosial ikut mempengaruhi. Resepsi sastra pasti berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris). ), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti yang lebih luas, resepsi diartikan sebagai pengolahan teks, cara-cara memaknai karya, sehingga kita dapat menanggapinya. Maka makna dan tanggapan yang umumnya kita temukan adalah seorang laki-laki merasa cemburu atau malu karena kekasih hatinya menikah dengan orang lain tanpa ada kabar.

Saran

Jika Anda ingin melakukan sesuatu, Anda harus memberi kabar atau pesan kepada orang yang Anda janjikan untuk tidak mengecewakan orang lain. Nilai-nilai budaya Suriah sebagai motivasi peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Selatan 208. Makalah seminar budaya. Makassar.

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir KARYA SASTRA

Referensi

Dokumen terkait

As so, to improve teenage awareness of healthy behavior, then the implementation of the MAPM Framework is important to be done in order to solve the health problem that