• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI PEMBAJAKAN SASTRA

N/A
N/A
Eka Nuralisah

Academic year: 2025

Membagikan "INTERPRETASI PEMBAJAKAN SASTRA "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

INTERPRETASI PEMBAJAKAN LITERASI DALAM NOVEL TERE LIYE BERJUDUL

“SELAMAT TINGGAL”: SEBUAH STUDI SOSIOLOGI SASTRA

Mukodas

Abstrak

Sosiologi sastra ibarat tiruan, untuk melihat keadaan nyata dan fenomena sosial yang terjadi.

Di dunia imajinatif, selalu ada kejadian di dunia nyata yang kemudian menjadi bagian dari penceritaan. Sastra kemudian memadukan dan memadukan antara peristiwa nyata dan peristiwa fiksi. Objek penelitian ini adalah sebuah novel berjudul "Selamat Tinggal". Novel ini menceritakan tentang Sintong, seorang mahasiswa yang bekerja sebagai penjaga toko buku bajakan: "Berkah". Novel ini berisi pergulatan batin Sintong yang tidak setuju dengan pekerjaannya sebagai penjual buku bajakan. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Agar penelitian kualitatif ini dapat memahami fenomena-fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku perseptual, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, secara khusus. Dengan demikian data yang disajikan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat, dan konteks cerita dalam novel. Penelitian deskriptif kualitatif ini bersifat deskriptif dan menganalisis permasalahan yang terdapat dalam novel secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan peristiwa fiksi dalam novel dengan kenyataan yang terjadi di dunia nyata.

Juga mencari keinginan ideal dari penyelesaian permasalahan yang ada.

Pendahuluan

Di Indonesia, peredaran buku bajakan adalah kejahatan yang tak pernah bisa diberantas sampai tuntas. Banyak sekali penjual buku bajakan yang memasarkannya secara terang- terangan, tanpa pernah merasa takut. Sering dijumpai kios buku-buku bajakan berada di area universitas-universitas besar. Tak jarang, tempat fotokopi nakal pun ikut menjual buku-buku bajakan yang diperbanyak sendiri. Pembajakan ini bisa diartikan sebagai pemalsuan produk yang dibuat persis dengan aslinya (menyalin 100%), dengan perbedaan harga yang signifikan sehingga pembeli sadar bahwa produk yang dibelinya adalah palsu.

Banyaknya kasus transaksi buku bajakan tidak bisa lepas dari kemauan masyarakat untuk mendapatkan barang yang sama tetapi dengan harga yang lebih murah. Tidak hanya harga yang lebih murah saja, akses mendapatkannya pun juga sangat mudah. Kios buku bajakan berada di tempat-tempat strategis dan banyak dijumpai di pasar-pasar. Berbeda dengan toko buku resmi yang hanya di tempat keramaian dengan target pasar orang dengan ekonomi menengah ke atas.

(2)

Kesulitan mencari literatur buku dengan harga yang murah, banyak dialami oleh kalangan berbagai kalangan terutama pelajar dan mahasiswa. Sehingga akhirnya mereka menjadi konsumen buku-buku bajakan.

Realitas keadaan masyarakat yang hobi dengan buku bajakan, menjadi tema utama dalam novel berjudul “Selamat Tinggal”. Tere Liye sebagai penulis menyindir keadaan tersebut dengan cerita yang dibuatnya. Tentu saja, novel pada dasarnya adalah mimesis kenyataan.

Semacam tiruan dari realitas yang terjadi di dunia kita. Kita dapat melihat fenomena sosial yang terjadi secara tersirat dalam sastra. Kita hidup di dunia nyata yang diciptakan Tuhan, sedangkan fiksi adalah dunia imajinatif yang diciptakan manusia. Di dunia imajinatif ini, selalu ada kejadian di dunia nyata yang kemudian bersinggungan dan menjadi bagian dari penceritaan. Sastra kemudian memadukan antara peristiwa nyata dan peristiwa fiksi. Dengan melihat fenomena yang ada terjadi di dunia fiksi, realitas-realitas yang tersembunyi di dunia nyata dapat dihadirkan kembali.

Novel “Selamat Tinggal” ini menceritakan tentang Sintong Tinggal, seorang mahasiswa yang bekerja sebagai penjaga toko buku bajakan bernama: "Berkah". Sintong adalah seorang mahasiswa di fakultas sastra. Dia aktif berkegiatan di kampus dan menjadi anggota UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di bidang Jurnalistik. Sintong sendiri adalah seorang penulis yang aktif di tahun-tahun awal kuliah.

Sintong sebenarnya tidak setuju dengan pekerjaannya sebagai penjual yang menjual buku-buku bajakan. Namun ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Sintong adalah anak rantau yang tidak lagi menerima kiriman uang dari orang tuanya. Dia dititipkan pada Paklik Maman, yang memiliki beberapa toko buku bajakan. Sintong akan dibiayai kuliah, indekos, dan kebutuhan sehari-hari, dengan catatan jika Sintong mau bekerja untuk Paklik Maman sebagai pedagang buku bajakan di salah satu toko buku bajakan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif, yakni mendeskripsikan kenyataan dan masalah-masalah yang terjadi dalam pembajakan literasi, serta penyelesaiannya berdasarkan novel “Selamat Tinggal” Karya Tere Liye. Melalui pengodean dan pencatatan data, kemudian dikelompokkan dan diklasifikasi sesuai dengan realitas yang terjadi. Data dianalisis dengan memanfaatkan reduksi data, penyajian, dan penarikan simpulan.

(3)

Hasil dan Pembahasan

Membedakan Buku Original dan Bajakan

Hal pertama yang perlu menjadi titik awal pembahasan adalah membedakan buku bajakan dengan buku original. Buku bajakan sering disebut dengan buku KW atau buku non- ori. Hal yang paling membedakan adalah harganya yang jauh. Peneliti mengambil contoh penjualan yang dilakukan oleh dua toko berbeda di marketplace yang berbeda pula.

Gambar 1 : Perbandingan Buku KW (Kiri) dengan Buku Original (Kanan)

Dari ilustrasi tersebut, dapat dicermati bahwa buku original hampir 4 kali lebih mahal daripada buku bajakan. Sehingga banyak pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, lebih memilih buku bajakan. Namun tentu saja, secara kualitas buku bajakan jauh lebih buruk daripada buku original. Hal ini untuk menekan biaya produksi.

Tere Liye mendeskripsikan secara jelas tentang ciri-ciri buku bajakan.

“Ini beberapa halamannya juga tidak jelas cetakannya, Bang. Cover-nya juga pengok.” (Liye, 2020:9)

Benar juga, buku-buku ini berbau menyengat saat dibuka, cetakannya juga buram, cover-nya berbeda sekali dengan buku yang biasa dia pegang. (Liye, 2020:22)

Produk KW, non-ori, kualitas sesuai harga. Tidak terima komplain kalau kertasnya robek, tintanya menyengat, cover-nya buram, mudah copot. (Liye, 2020:69)

Di dunia bajakan, harga buku hanya dilihat dari tebal atau tipisnya saja. (Liye, 2020:14)

(4)

Buku bajakan selalu menggunakan kualitas buku yang jelek. Kertasnya adalah kertas buram yang mudah sobek. Cetakannya lebih jelek daripada fotokopian, bau tintanya menyengat. Kadang ada satu atau dua halaman yang kosong, lupa dicetak. Kertas-kertas isi buku dan sampulnya disatukan dengan lem seadanya. Sering sekali lepas ketika dibuka menganga. Buku bajakan itu idealnya hanya sekali baca. Agar tidak rusak, jangan sampai dipinjamkan ke orang lain. Ketika dikembalikan selalu berceceran, namun itu lebih baik daripada tidak kembali sama sekali.

Yang menjadi keunggulan dari buku bajakan hanya satu, harganya yang murah. Tentu saja target pasar dari buku bajakan adalah para pelajar. Siswa sekolah dan mahasiswa sering membeli buku bajakan karena harganya. Namun setelah membeli buku bajakan, kadang merasa menyesal karena kualitasnya, terutama lembaran-lembaran buku yang sering lepas. Namun ketika ingin membeli buku original, masalahnya adalah harganya yang tinggi.

Yang menjadi dasar alasan buku original berharga mahal adalah karena proses panjang yang ada dalam penerbitan buku. Hal ini terkait dengan rantai produksi yang cukup tidak sebentar dan membutuhkan ongkos yang tidak murah.

Proses panjang tersebut dimulai dari mulai naskah diterima redaksi sampai jadi buku yang bisa dipegang konsumen. Naskah yang masuk ke meja redaksi ada ratusan atau mungkin ribuan. Kemudian tim seleksi naskah mencari naskah bagus yang berpotensi terjual laris.

Belum tentu buku bagus akan diterbitkan, jika tidak berpotensi terjual, tentu tidak akan diterbitkan karena tidak akan balik modal.

Setelah itu ada proses editing. Bagaimana membuat naskah buku awal dari penulis menjadi lebih baik secara bahasa dan penyampaian. Naskah nonfiksi harus lebih diteliti agar isinya tidak salah. Proses tersebut dilanjutkan dengan lay out atau perwajahan tata halaman buku. Ada juga tim yang mengurus sampul agar tampilan luar fisik buku agar menjadi menarik.

Barulah setelah dummy buku selesai mulai dari penerbit mulai memperhitungkan, produsen kertas, percetakan, distributor, ekspeditur hingga toko buku atau agen. Di luar itu juga, untuk setiap eksemplar buku yang terjual, penerbit wajib membayar royalti kepada penulis buku. Hal itu masih ditambah dengan banyaknya pajak yang harus ditanggung oleh penerbit dan percetakan seperti pajak atas kertas, pajak ongkos cetak, pajak buku, pajak penghasilan penulis dan lain-lain. Keseluruhan biaya tersebut yang kemudian diakumulasi menjadi harga pada sebuah buku. Sementara itu, dalam proses membajak buku, ongkos-ongkos

(5)

tersebut langsung terpangkas karena tidak melalui rantai produksi yang panjang. Oleh karena nirpajak, harga cetak pereksemplar buku bajakan menjadi jauh lebih murah.

Berbeda dengan proses pembuatan buku bajakan. Hanya mencari buku yang sudah bestseller di pasaran. Beli satu, kemudian cetak banyak. Harga 22.000 untuk sebuah buku bajakan, sudah sangat menguntungkan buat mereka. Karena hanya membayar ongkos produksi yang murah.

“Lihat tuh penerbit kayak Gramedia, mereka harus capek-capek menyeleksi naskah, memilih naskah yang bagus, terus mengedit, di-lay out, dibuatkan cover, baru dicetak. Pasti laku? Belum tentu. Dari sepuluh buku, paling hanya satu-dua yang laku.” (Liye, 2020:215)

“Pak Bos kan tidak. Dia cukup comot saja buku-buku yang sudah laku di pasar, yang sudah pasti. Lantas bikin bajakannya, beres. Tidak ada risiko tidak laku, karena orisinalnya saja yang mahal laku, apalagi bajakannya yang harganya hanya seperempat atau seperlimanya. Pasti laku. Dan dia tidak perlu capek ngurusin penulis, setor pajak ke pemerintah, dan sebagainya. Paling urusannya ke petugas berseragam.” (Liye, 2020:215)

Sindiran untuk Konsumen Buku Bajakan

Sastra adalah mimesis dari realitas sosial, tetapi tidak hanya sebatas itu. Setelah penulis menyampaikan realitas sosial yang ada di masyarakat, tentu dia tidak hanya sekadar memotret.

Sastra juga berfungsi sebagai kontrol terhadap realita. Tere Liye sebagai penulis melakukan kritik sosial dalam karyanya. Dia memberikan suatu tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang dilihat pada masyarakat. Bagi pengarang sendiri, karya sastra merupakan suatu sarana untuk mengomunikasikan ide-ide atau pemikiran yang dimiliki oleh pengarangnya yang kemudian dituangkan dalam tulisannya. Hal ini dilakukan pengarang sebagai bentuk ungkapan perasaan atau bahkan protesnya terhadap realitas masalah sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dilakukan pengarang sebagai bentuk ungkapan perasaan atau bahkan protesnya terhadap realitas masalah sosial dalam kehidupan masyarakat. Realitas masalah sosial tersebut adalah adanya gap antara keinginan dan kenyataan.

Tere Liye memberikan sindiran halus kepada para pembaca yang masih mengonsumsi buku bajakan.

(6)

Fantastis sekali. Mereka belajar tentang hukum dari buku bajakan. Hukum seperti apa coba yang hendak mereka tegakkan? Sapunya kotor, kok hendak membersihkan lantai. (Liye, 2020:51)

Bagus sekali. Mereka mau tes CPNS dengan belajar dari buku bajakan. Besok-besok kalau mereka lulus tes dan jadi PNS betulan, apa dong kualitas mereka? Bahkan urusan beli buku latihan saja, mereka santai membeli bajakan. PNS KW dong? Atau PNS aspal? (Liye, 2020:75)

Tere Liye menyindir kepada para pembaca, bahwa ilmu yang berasal dari buku-buku bajakan tidak akan mendapatkan kebaikan. Pembajakan dalam dunia literasi adalah tindakan pidana, mencuri kekayaan intelektual penulis. Transaksi pembajakan buku ini sangat merugikan penulis, karena penulis tidak menerima sepeser pun dari hasil penjualan buku bajakan. Padahal penulis sudah capek berpikir mendalam, meluangkan banyak waktu untuk menulis, namun ketika sudah dijual, dia tak mendapatkan apa-apa. Menurut Tere Liye, percuma belajar hukum, jika sarana belajar saja masih melanggar hukum dengan membajak buku. Percuma juga menjadi PNS, jika ilmu yang didapat berasal dari buku bajakan yang sangat merugikan para penulis.

Tere Liye melanjutkan sindirannya kepada masyarakat yang mengonsumsi buku-buku bajakan. Dia tidak rela orang yang memiliki attitude rendah malah sok-sokan bijak mengkritik hasil karya pemikiran penulis. Menurutnya, pembajakan adalah pencurian kreativitas, intelektual, dan nilai ekonomi para penulis.

Empat remaja ini fantastis sekali. Mereka asyik mengkritik penulis yang buku bajakannya akan mereka beli. Bukankah itu jadi mirip ketika ada seorang pencuri, masuk ke rumah korbannya, dia mengambil televisi, ponsel, dan sebagainya, lantas mengomel, “Aduh, rumah ini kok miskin sekali? HP-nya jadul, televisi hitam putih, rugi waktu saya di sini.” (Liye, 2020:182)

Pencurian Intelektual

Tercantum dalam undang-undang nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta, “Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

(7)

Ketika hak cipta ini diperbanyak tanpa sepengetahuan pemegang hak cipta, ini kemudian menjadi hal yang bisa dipidanakan. Ketentuan pidana pengopian buku bajakan ini disinggung dalam pasal 72 ayat (1) “Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”

Pasal 72 ayat (2) berkenaan dengan penjual buku-buku bajakan. “Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima rarus juta rupiah).”

Namun pada kenyataannya, sampai sekarang di Indonesia tidak pernah ada kasus pembajakan literasi yang kemudian diangkat ke ranah hukum. Sehingga pelaku-pelakunya aman-aman saja. Oknum-oknum penegak hukum benar sesekali melakukan razia, namun itu terjadi atas sepengetahuan penjual. Ada kongkalikong yang terjadi. Begitu menurut pengetahuan penulisnya.

“… Kalaupun ada razia, pasti akan ada informasi, jadi kita bisa pura-pura diangkut beberapa kardus buku, dimusnahkan. Saya yakin, mereka tidak akan menghabisi semuanya.” (Liye, 2020:189)

Pembajakan di dunia literasi jadi lebih marak karena didukung oleh marketplace yang berkembang di Indonesia. Seperti yang peneliti sampaikan pada gambar pertama di atas, marketplace menjual buku-buku bajakan. Dan itu aman-aman saja, seperti yang tidak tersentuh oleh hukum.

“Alaaah, pemilik yunikon-yunikon itu kan yang penting bisnis mereka ramai.

Semakin banyak yang jualan, semakin besar transaksi mereka. Nilai perusahaan mereka semakin tinggi. Tutup mata saja mereka, mau isinya bajakan atau aspal. Di depan ngomong melarang, di belakang membiarkan saja.” (Liye, 2020:63)

Sebenarnya kegiatan tersebut bisa dibawa ke ranah hukum. Penulis sangat dirugikan dengan keberadaan buku-buku bajakan ini. Dalam buku-buku bajakan, penulis tidak mendapatkan sepeser pun dari jerih payahnya menulis. Pemikirannya yang dia sampaikan

(8)

dengan tulisan, waktu-waktu yang dihabiskan untuk menulis, meninggalkan aktivitas lain hanya demi menyelesaikan buku, semua itu tak berbuah apa-apa ketika hasil karyanya dibajak.

Tere Liye mengilustrasikan betapa menyedihkannya seorang penulis yang karya-karyanya dibajak.

Puluhan tahun terakhir, boleh jadi puluhan juta buku bajakannya terjual. Itu ironis, karena pengarangnya M. Shadily dan John M. Echols, seharusnya menjadi salah dua penulis terkaya di negeri ini. Nyatanya tidak. Jutaan orang mencuri hak mereka.

(Liye, 2020:158)

Industri bajakan itu bagaikan lintah yang diam-diam menyedot darah seekor hewan.

Lintah hanya menyedot darah hingga kekenyangan, berhenti. Tapi sebaliknya, industri bajakan terus rakus, lagi, lagi, dan lagi. Tidak peduli jika mangsa yang dia sedot mati tinggal tulang belulang, mereka sibuk mencari mangsa lain. Sementara penegak hukum, yang tidak peduli, tidak menegakkan hukum. Mereka bagaikan tikus got yang menjijikkan. Mereka melindungi lintah-lintah ini. Penikmat benda bajakan sama juga saja. Mereka menikmati penderitaan orang lain. (Liye, 2020:301)

“G.H. Subagja meninggal lima belas tahun lalu di rumahnya di Cipanas, dengan empat anak. Dia penulis buku dengan jutaan oplah, tapi sayangnya sebagian besarnya adalah bajakan. G.H. Subagja meninggal dalam kondisi miskin. Untuk berobat ke rumah sakit pun dia tidak punya uang. Anak-anaknya juga miskin, tidak mewarisi apapun. Mereka tidak menikmati sepeser pun royalti dari buku bajakan tersebut.” (Liye, 2020:315)

“Kejam sekali memang industri bajakan. Dan itulah salah satu realitasnya. Keluarga penulisnya hidup miskin. Sementara pembajak, penikmat buku bajakan, pembaca e- book ilegal, mereka bahkan memiliki HP, baju, sepatu yang harganya hanya mimpi bagi anak-anak penulis buku tersebut. (Liye, 2020:315)

Refleksi Akhir

Pada akhirnya, setelah sastra menyampaikan realitas yang terjadi dan menyampaikan gagasan penulis tentang kontrol sosial yang terjadi, tentu ada sebuah angan-angan ideal yang diinginkan penulis. Pembajakan tidak bisa berhenti karena semata-mata novel tentang

(9)

pembajakan. Bahkan novel yang berkisah tentang kejahatan pembajakan ini pun menjadi objek bajakan.

Tere Liye menyadari bahwa lingkaran produksi pembajakan terjadi karena banyaknya permintaan dari konsumen. Yang paling mudah adalah menyadarkan para konsumen, tentang bahaya buku bajakan. Jika semua konsumen kolektif dan sadar bahwa kasus buku bajakan adalah hal yang sangat merugikan penulis. Seorang penulis bisa jadi berhenti menulis karena tidak memiliki pemasukan dari penjualan buku bajakan. Jika pembaca mendukung sepenuhnya penulis, maka dia akan membeli buku original meski harganya mahal. Karena itu adalah bentuk dukungan kepada penulis untuk tetap eksis. Tujuan penelitian dan penulisan novel ini adalah menyadarkan pembaca sampai mereka berkata:

“Gue bukan pembaca sampah. Ngaku nge-fans sama penulisnya, eh malah baca bajakannya.” (Liye, 2020:345)

Daftar Pustaka

Damono, Supardi Djoko. (2010). Sosologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa.

Dhien, Cut Nyak et al. (2022). ANALISIS NILAI-NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL KANDE: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

https://doi.org/10.54259/diajar.v1i1.208

Hidayat, Anas dan Ian Phau. (2003). Pembajakan Produk : Dilema Budaya Antara Barat Dan Timur: Jurnal Siasat Bisnis No. 8 Vol. 2 DESEMBER 2003 page 189-217.

https://journal.uii.ac.id/JSB/article/view/1014/945

Liye, Tere. (2020). Selamat Tinggal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Moleong, L. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Mukodas dan Maurel Gharizah. (2022). Analisis Konflik Batin : Tinjauan Psikologi dalam Antologi Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA: Triangulasi Jurnal Pendidikan :Kebahasaan, Kesastraan dan Pembelajaran Volume 01, Nomor 01, Februari 2022, Hal. 01-10.

https://journal.unpak.ac.id/index.php/triangulasi/article/view/4405/pdf

Nurbaiti, Juanda, F. (2013). Konflik Sosial Dalam Novel Gadis Bima Karya Arif Rahman (Pendekatan Sosiologi Sastra Wellek&Werren). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

(10)

Nurgiyantoro, Burhan. (2005). Teori Pengkajian Fiksi. Cetakan kelima. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Shabrina, Lina et al. (2017). Implementasi Perlindungan Karya Cipta Buku Berdasarkan Uu Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta (Studi Pada Toko Buku Di Area Stadion Diponegoro Semarang): Diponegoro Law Journal Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 pages 1 - 15. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/dlr/article/view/19558/18549 Vedanti, Kausalya Ayu dan Sri Indrawati. (2021). Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak

Cipta Sinematografi Terhadap Pembajakan Film Di Aplikasi Tiktok: Jurnal Kertha

Desa, Vol. 9 No. 6, hlm. 34-43

https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthadesa/article/view/73239

Referensi

Dokumen terkait

gratis ongkir, dan cashback, (4) sistem pembayaran yang mudah, (5) harga barang yang cenderung lebih murah dibandingkan pada took-toko konvensional. Namun demikian,

Dalam sistem penjualan di dealer Suzuki masih dilakukan secara manual dan menimbulkan permasalahan seperti kesalahan dalam hal penulisan kode barang dan harga barang pada

Sebagai catatan kita, ternyata kecenderungan saat ini yang menempatkan harga murah dan kemudahan dalam mendapatkan barang atau layanan (cost and convinient channel) jika kita

Harga adalah suatu nilai yang dinyatakan dalam bentuk rupiah guna pertukaran/ transaksi atau sejumlah uang yang harus dibayar konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa. Penetapan

TERPERCAYA!!!, Klik https://wa.me/6281333554787, atau Email [email protected], Jual Plat Lubang, Jual Plat Bolong, Jual Plat Perforasi, Jual Plat Perforated, Plat Lubang, Plat Bolong, Plat Perforasi, Plat Perforated, Plat Lubang Stainless, Plat Lubang Galvanis, Distributor Plat Lubang, Toko Plat Lubang, Supplier Plat Lubang, Pabrik Plat Lubang, Jual Plat Stainless, Plat Lubang Murah, Harga Plat Lubang, Harga Plat Stainless, Plat Stainless 304, Plat Stainless 201, Grill Ram Lubang, Pagar Plat Lubang, Plat Galvanis, Plat Bordes, Plat Kapal, Plat Stainless Steel Kami Memudahkan Pelanggan Mendapatkan Informasi Dan Juga Barang Kebutuhan Tanpa Susah Payah. Cukup Buka Gadget Dan Pesan, Maka Barang Kebutuhan Anda Akan Sampai Tujuan. Apabila berminat silahkan hubungi CV Intan Bumi Perkasa: 0813 3355 4787 / 0851 7333 0012 Website: https://jualplatlubang.id/ | https://intanbumiperkasa.com/ Alamat : Jl. Mastrip, Kedurus Dukuh 1 No 45 Surabaya #jualplatlubang #platlubang #platlubangmurah #distributorplatlubang #platlubanggalvanis #platlubangstainlesssteel #platstainless #platlubanggalvanis #tokoplatlubang #platperforasi

50 Sedangkan alasan dari pihak pemesan adalah karena telah mendapatkan tawaran dari seorang pihak mampu membuat barang yang sama tetapi dengan harga yang lebih murah, berikut alasan