• Tidak ada hasil yang ditemukan

IRI 1-3 GASI

N/A
N/A
RYSA SIMANJUNTAK

Academic year: 2025

Membagikan "IRI 1-3 GASI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Untuk merencanakan suatu jaringan irigasi terkhususnya pada lahan pertanian padi dan palawija memerlukan sebuah konsep perancangan dan perhitugan yang akurat agar dapat memenuhi persyaratan teknis. Dengan demikian, pada Project Based Learning ini akan menjelaskan secara sistematis dan rinci perencanaan jaringan irigasi pada lahan padi – palawija - palawija yang terdapat pada Kabupaten Lampung Timur. Oleh karena itu, Project Based Learning ini akan secara sistematis dan rinci menjelaskan perencanaan jaringan irigasi di Wilayah Lampung Timur dengan luas daerah irigasi 2000 Ha, mengintegrasikan aspek teknis, keberlanjutan, dan manfaat ekonomi.

Bagaimana menentukan lokasi bendung dan merancang jaringan irigasi permukaan yang efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan air lahan. Merencanakan lokasi bendung dan sistem jaringan irigasi permukaan dalam pemenuhan kebutuhan air lahan persawahan di daerah Kabupaten Lampung Timur. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi.

Daerah irigasi biasanya dibagi menjadi beberapa tingkatan, seperti daerah irigasi primer, sekunder, tersier, kuarter, dan kuintal, sesuai dengan ukuran, fungsi, dan status jaringan irigasi. Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh suatu kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang sama.

Dalam banyak hal, perbedaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana dan jaringan semiteknis adalah bahwa jaringan semiteknis ini bendungnya terletak di sungai lengkap dengan bangunan pengambilan dan bangunan pengukur di bagian hilirnya.

Kebutuhan Air Untuk Irigasi

  • Evapotranspirasi
  • Penggunaan Konsumtif
  • Perlokasi
  • Hujan Efektif
  • Kebutuhann Air Untuk Pengolahan Lahan
  • Kebutuhan Air Sawah
  • Efisiensi Irigasi

Untuk perhitungan kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan, metode tersebut didasarkan pada laju air konstan dalam l/dt selama periode penyiapan lahan dan menghasilkan rumus berikut. M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan,. Kebutuhan Air untuk Genangan Kebutuhan air irigasi dapat dihitung berdasarkan pada kondisi yang terbaik, dimana diperhitungkan adanya tinggi genangan di sawah dan berdasarkan pada neraca (imbangan) air mingguan Departemen Pekerjaan Umum, memberikan rumusan perhitungan kebutuhan air irigasi baik untuk padi maupun palawija adalah sebagai berikut (KP.

Curah hujan efektif merupakan bagian dari seluruh curah hujan yang efektif tersedia bagi kebutuhan air. Curah hujan efektif ditentukan besarnya R80 yang merupakan curah hujan yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau. Curah hujan efektif untuk padi adalah 70% dari curah hujan tengah bulanan yang terlampaui 80% dari waktu periode tersebut.

Untuk curah hujan efektif untuk palawija ditentukan dengan periode bulanan (terpenuhi 50%) dikaitkan dengan tabel ET tanaman rata-rata bulanan dan curah hujan rata- rata bulanan. Curah hujan efektif merupakan bagian dari curah hujan suatu proses hidrologi yang bisa dimanfaatkan. Curah Hujan efektif Rata-Rata Bulanan dikasi dengan ET Tanaman. Sumber: Standar Perancangan Irigasi KP-01). Jika tidak adalah curah hujan dengan P=50% dan P=80% maka digunakan interpolasi menggunakan nilai curah hujan dengan tingkat probabilitas terdekat. Tujuan dari kebutuhan air ini yaitu untuk menghitung kebutuhan irigasi selama penyiapan lahan, digunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlsha pada tahun 1968.

M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan. Besarnya kebutuhan air di sawah bervariasi menurut tahap pertumbuhan tanaman dan bergantung kepada cara pengolahan lahan. Besarnya kebutuhan air irigasi pada lahan rawa perlu dilakukan perhitungan secara khusus mengingat asumsi besaran komponen kebutuhan air pada lahan rawa berbeda dengan sawah biasa.

Kebutuhan air untuk tanaman padi selama masa pertumbuhan, memiliki debit kebutuhan air irigasi selama masa pertumbuhan termasuk di dalam debit tersebut air yang hilang dalam perjalanan. IR = Kebutuhan air pertumbuhan lahan Re = Curah hujan efektif (mm/hari) WLR = Penggantian lapisan air (mm/hari) b. Efisiensi irigasi adalah kemampuan suatu sistem irigasi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dengan menggunakan jumlah air yang minimum.

EPA adalah perbandingan jumlah air irigasi yang diperlukan tanaman (tersedia untuk tanaman) dengan jumlah air yang diberikan di petakan sawah, sedangkan air irigasi yang diperlukan tanaman adalah air untuk konsumsi dikurangi hujan efektif. Efisiensi Pengaliran (Water Conveyance efficiency), yaitu perbandingan antara jumlah air yang sampai di areal irigasi (petak persawahan) terhadap jumlah air yang dialirkan dari bangunan sadap.

Pola Tanam

Asa : jumlah air yang sampai di areal irigasi Adb : jumlah air yang diambil dari bangunan sadap 3. Efisiensi penyimpanan dapat ditingkatkan melalui desain yang cermat, manajemen yang tepat, dan praktik konservasi air lainnya. Tersedia Air Dalam Jumlah Cukup Padi-Padi Bera Padi-Palawija-Palawija Ketersediaan Air Untuk Jaringan Irigasi Pola Tanam Dalam Satu Tahun.

Daerah yang Cenderung Kekurangan Air Padi-Palawija-Bera Palawija-Padi-Bera Sumber: Standar Perencanaan Irigasi, 2013.

Debit Kebutuhan

Dimensi saluran dirancang guna membentuk dimensi yang ekonomis dan tidak menimbulkan masalah karena daya tampung yang tidak memadai. Dalam mencegah aliran runoff air hujan dan erosi dari areal perbukitan masuk ke saluran irigasi, dibutuhkan saluran drainase yang sejajar dengan saluran irigasi untuk membuang aliran runoff.

Debit Saluran

Perencanaan Jaringan Irigasi

  • Data yang Diperlukan
  • Perencanaan Jaringan Tersier
  • Perencanaan Jaringan Sekunder
  • Perencanaan Jaringan Utama

Berdasarkan data-data diatas akan dikumpulkan, dianalisis, dan dievaluasi dalam tahap studi proyek. Dalam tahap perencanaan, hasil evaluasi hidrologi akan ditinjau kembali karena harus dikerjakan lebih mendetail berdasarkan data-data tambahan dari lapangan dan hasil-hasil perbandingan. Jaringan tersier adalah jaringan saluran yang melayani areal didalam petak tersier. Saluran irigasi tersier adalah saluran pembawa yang mengambil airnya dari bangunan sadap melalui petak tersier sampai ke boks bagi terakhir. Fungsi jaringan ini membawa air dari saluran sekunder dan membagikannya ke petak-petak sawah dengan luas petak maksimal yaitu 75Ha. Perencanaan jaringan sekunder menjadi kunci dalam efisiensi irigasi secara keseluruhan. Saluran sekunder akan menyadap air dari saluran primer guna mengairi daerah-daerah yang sedapat mungkin dikelilingi oleh saluran-saluran alam yang dapat digunakan untuk membuang air hujan dan air yang kelebihan. Perencanaan jaringan utama berfungsi membawa air dari sumbernya dan membagikannya ke saluran sekunder. Air yang dibutuhkan untuk saluran irigasi didapat dari sungai, danau atau waduk. Pada umumnya pengairan yang didapat dari sungai jauh lebih baik dari yang lainnya. Air dari sungai mengandung banyak zat lumpur yang biasanya merupakan pupuk bagi tanaman sehingga gunanya terutama ialah menjaga agar tanaman tidak mati kekeringan dalam musim kering. Sumber : Kriteria Perencanaan Irigasi KP-01).

Perencanaan Bangunan Sadap

Bentuk numbak meletakkan bangunan bagi sekunder, sadap tersier dan bangunan pengatur pada posisi sejajar, sehingga arah alirannya searah. Tetapi bentuk ini mempunyai kelemahan memerlukan areal yang luas, semakin banyak bangunan sadapnya semakin luas areal yang diperlukan.

Perencanaan Bangunan Bagi

METODOLOGI

Data Hidrologi

  • Suhu
  • Penyinaran Matahari
  • Kelembapan Udara
  • Kecepatan Angin

Data lama penyinaran matahari dapat berupa persentase rasio sinar matahari, jam sinar matahari, dan fraksi sinar matahari dalam satuan jam. Jika kelembaban udara naik, maka kemampuannya untuk menyerap air akan berkurang sehingga laju evaporasi akan menurun. Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara dengan udara yang sama kelembaban relatifnya tidak akan menolong untuk memperbesar laju evaporasi.

Semakin tinggi kecepatan angin, semakin cepat molekul air di permukaan akan terbawa menjauh, sehingga mempercepat proses evaporasi. Kecepatan angin menjadi salah satu faktor pendukung evaporasi agar dapat berjalan terus dikarenakan dalam proses pemindahan lapisan udara jenuh tergantikan dengan lapisan udara lainnya.

Diagram Alir

Referensi

Dokumen terkait

2 Dengan adanya Bendungan Bener diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air irigasi di sawah eksisting maupun untuk pembukaan lahan baru serta kebutuhan air baku

Dalam mencari besarnya kebutuhan air untuk irigasi tanaman, dilakukan analisa kebutuhan air yang dipengaruhi oleh faktor pengolahan tanah, perkolasi, curah hujan

Embung Tamanrejo direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di wilayah Kecamatan Sukorejo, Daerah irigasi yang akan dilayani diperkirakan seluas 750 Ha.. Debit

Pada sistem sawah irigasi jumlah air yang diperlukan untuk irigasi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alam, untuk itu diperlukan sistem pengaturan yang baik agar kebutuhan

Pengolahan data yang digunakan dalam perhitungan kebutuhan air irigasi adalah perhitungan curah hujan wilayah, perhitungan curah hujan rencana, uji kecocokan

2 Dengan adanya Bendungan Bener diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air irigasi di sawah eksisting maupun untuk pembukaan lahan baru serta kebutuhan air baku

Jaringan Irigasi adalah suatu system hidrolis dari saluran pembawa dan bangunan-bangunan kontrolnya untk membawa air dari sumbernya dan mendistribusikannya sampai ke petak sawah

Analisis curah hujan dilakukan dengan maksud untuk menentukan :  Curah hujan efektif, yang digunakan untuk menentukan kebutuhan air irigasi  Curah hujan lebih, yang digunakan untuk