• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Tentang Arah Perkembangan Administrasi Publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Isu Tentang Arah Perkembangan Administrasi Publik"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Isu Tentang Arah Perkembangan Administrasi Publik

Oleh : Dr. Abdul Kadir, M.Si.

(2)

Salah satu isu penting yang sering diungkapkan para ahli administrasi publik adalah ke arah mana administrasi publik sekarang ? Stillman II (1991) mengungkapkan bahwa arah teori administrasi publik sangat tergantung dari apa persepsi tentang Who should rule ? What is the meaning of the good life ? What are the methods for realizing the best organization formats ? What is the vision of the ideal state ?

(3)

Mengacu pada empat model administrasi publik yang dinamis dimana salah satu cenderung dianut oleh suatu negara pada masa tertentu. Keempat model tersebut adalah model no state, bold state, pre-state dan pro state. Masing-masing model tersebut memiliki karakteristik yang sangat spesifik, sesuai dengan perkembangan suatu negara.

Berikut ini dijelaskan masing-masing model tersebut

(4)

Model ini tumbuh dari filsafat “anti campur tangan” pemerintah dalam masyarakat, dengan mempromosikan suatu kebijakan publik yang memberi peluang lebih besar kepada kegiatan industri dan bisnis untuk bertumbuh dan berkembang. Semboyan utama adalah to let people do as they please.

Pendukung model ini adalah para monetarist dan public choice economists.

1. No-State Model

(5)

Para administrator hanyalah sebagai aparat-aparat yang diangkat secara politis saja, tidak harus diangkat berdasarkan karier atau spesialisasi. Karena pemerintah cenderung menjamin kebebasan individu, maka usaha untuk memperkuat pertahanan dan keamanan nasional cendrung diutamakan.

(6)

2. Bold State Model

Model ini lebih melihat negara sebagai suatu yang positif dalam mempromosikan dan menjaga kehidupan publik. Para pendukung model ini tidak takut akan campur tangan pemerintah dan kehidupan publik sehingga usaha mereka diarahkan untuk mewujudkan organisasi pemerintah yang kuat dan efektif.

Model ini menuntut adanya perluasan peranan lembaga pemerintah yang dapat mampu menanggapi perubahan-perubahan yang datang dari masyarakat dan individu-individu, menuntut agar pemerintah harus mengambil prakarsa untuk melakukan tugas-tugas manajerial dalam berbagai kehidupan kenegaraan, daerah, dan sektor privat.

(7)

Peningkatan kemampuan kelembagaan dalam melaksanakan kebijakan publik lewat instansi-instansi pemerintah, memberi perhatian khusus untuk perbaikan dalam efektivitas organisasi, peningkatan kemampuan para eksekutif untuk dapat melakukan tugasnya bagi kepentingan masyarakat, membatasi pengaruh politik kedalam manajemen publik sehingga para manajer publik dapat lebih profesional atau setidak-tidaknya adanya kerja sama antara unsur politik dan administrasi.

(8)

Menekankan tanggung jawab dari bawah ketimbang pengarahan dari atas sehingga lebih tanggap terhadap masyarakat, kelompok-kelompok kepentingan tertentu, dan menekankan nilai-nilai efektivitas manajemen yang lebih luas dan elastis yang dapat menjadi basis untuk memenuhi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

(9)

3. Pre-state Model

Model ini merupakan suatu model yang berada di tengah-tengah antara model no state dan bold state. Ide dari model tersebut datang dari reaksi terhadap kelemahan- kelemahan kedua pendekatan sebelumnya.

(10)

Dalam model ini, kepercayaan terhadap kekuatan pasar sangat tergantung dari situasi, peranan pemerintah pusat juga sangat tergantung dari kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi. Kebijakan yang disarankan biasanya dipengaruhi oleh semua pihak baik dari pemerintah itu sendiri maupun dari masyarakat.

(11)

Mereka menuntut adanya intuisi, kreativitas, kebijaksanaan (wisdom), dan perhatian terhadap konteks dari situasi dimana administrasi publik hendak diterapkan.

(12)

Mereka lebih suka melakukan perubahan yang tidak fundamental. Mereka lebih senang dengan perubahan incremental. Mereka adalah kaum evolusionist, dan seringkali mereka dikenal sebagai pakar yang menyukai pemecahan masalah dengan kriteria satisficing atau nonoptimizing. Bagi mereka, apa yang dapat berjalan adalah kriteria terpenting dalam administrasi publik.

(13)

Model ini kurang memperhatikan standard metode dan teknik yang memadai untuk diterapkan dalam praktek, tetapi lebih mementingkan sejarah, pengalaman, dan kenyataan politik. Karena itu, model tersebut kurang didukung oleh kebanyakan pakar administrasi publik.

(14)

4. Pro-state Model

Model ini merupakan output dari sistim kenegaraan setelah Perang Dunia II, dimana globalisme, profesionalisme, dan teknokrasi menjadi pusat perhatian. Pendidikan tinggi, pengetahua, profesionalisme, dan kemajuan teknologi menjadi sumber utama kekuatan model tersebut (Stillman, 1991).

(15)

Model ini melihat bahwa batas-batas antar negara, dan antara swasta dan pemerintah semakin suram. Model ini mementingkan pandangan global ini melihat bahwa identitas nasional nampak mulai redup.

(16)

Hal ini tentunya membawa akibat pada perubahan kriteria administrator. Para administrator yang terlatih, para ahli, dan spesialist dipandang sebagai penuntun, pengambil keputusan, dan pengarah bagi sistim administrasi secara keseluruhan.

(17)

Bahwa berbagai jenis teknologi merupakan driving forces dari dunia administrasi publik.

Dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi tersebut merupakan masalah etika yang harus diperhatikan dalam dunia administrasi publik.

(18)

Model tersebut percaya akan aplikasi teknologi dan penemuan ilmiah untuk dimanfaatkan dalam dunia administrasi publik. Karena itu, semua intuisi, kebijakan (wisdom), dan berbagai bentuk pertimbangan yang tidak rasional, kurang dimanfaatkan oleh model tersebut.

(19)

Stillman II (1991) mengeritik bahwa, pertama, pandangan atau model tersebut terlalu melihat administrasi publik dalam konteks yang mekanistik dan positivist yaitu sebagai suatu rangkaian alat analisis dimana para ahli seharusnya pegang sebagai penuntun dalam pekerjaan mereka.

(20)

Pandangan yang sangat teknis ini tidak dapat dipisahkan dari sistim politik suatu negara. Kedua, pandangan tersebut menjadi

“buta” terhadap dimensi-dimensi intuitif dan kreatif dalam memecahkan masalah-masalah politik, kelembagaan, dan masyarakat.

(21)

Para ahli atau spesialist merupakan orang yang harus ditiru atau dipanuti, seperti yang dituntut dalam model ini, mempunyai akibat yang kurang baik bagi kedudukan para generalist atau yang tidak ahli. Akhirnya, pandangan ini sangat berorientasi instrumentalist sehingga sangat mungkin memberi peluang untuk pemakaian untuk penerapan analisis kebijakan teknis, implementasi, statistik, dan riset evaluasi, tanpa melihat kemampuan instrumen tersebut dalam memecahkan masalah publik.

(22)

Terima Kasih 

Referensi

Dokumen terkait

malcen olthnjJ Alah Dian dan .ada leldlri d.arj 108 OOc.ll kLllas itJrlI.n jang lceljll teljll, Olth Icclna 3d.Jnj3 Itoe Pfrm.lcnan mtmbiletn 1~k.anlC 1Ot:Ie~n8 paRljlna Ibn I·lng