Tugas 2 HKUM4310
Tindak Pidana Korupsi 24
Nama: Bagus Arif Wahyudi NIM: 044158384 UPBJJ-UT JAMBI
Pertanyaan:
Ketentuan apa saja dalam perubahan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK yang dapat dianggap tidak sesuai dengan semangat Reformasi khususnya dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia? Berikan pendapat saudara
JAWABAN:
Menurut saya, ada beberapa di dalam UU No. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang tidak sesuai dengan semangat Refomasi khususnya dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Mengganggu Independensi Lembaga KPK
Di peraturan sebelumnya menjelaskan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah lembaga negara yang dibentuk dengan sifat independen. Dengan sifat ini, maka terdapat jaminan terhadap penindakan dan pencegahan korupsi yang dapat dilaksanakan tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Sehingga penindakan dan pencegahan korupsi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dengan adanya perubahan UU KPK memunculkan Dewan Pengawas sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a yang menyatakan:
Komisi Pemberantasan Korupsi terdiri atas :
a. Dewan Pengawas yang berjumlah 5 (lima) orang.
Keberadaan dewan ini berpotensi mengganggu independensi KPK dalam melakukan tugas dan fungsinya. Akibatnya penindasan dan pencegahan korupsi tidak maksimal dan berpotensi menyuburkan korupsi di Indonesia.
2) Runtuhnya Independensi Kepegawaian KPK
Dalam hal ini apabila pada batas waktu dua tahun pasca pengundangan, seluruh pegawai dengan sendirinya akan beralih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Dampak perubahan ini akan mengakibatkan kepegawaian KPK tunduk pada Kementerian Pemberdayaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi. Setidaknya ada tiga konsekuensi serius yang akan dihadapi oleh lembaga anti rasuah tersebut, mulai dari menghambat kerja KPK saat ingin mengusut praktik korupsi di lingkup eksekutif, potensi perpindahan pegawai ke lembaga negara lain sampai pada status penyidik yang berada di bawah pengawasan Kepolisian.
3) Penambahan Syarat untuk Penyelidik dan Penyidik KPK
Pada regulasi peraturan tersebut dituliskan yakni pada Pasal 43A ayat (1) huruf b dan ayat (2) serta Pasal 45A ayat (1) huruf b dan ayat (2) yang intinya menyatakan bahwa setiap calon penyelidik dan penyidik mesti mengikuti pendidikan yang dilakukan oleh KPK dengan bekerjasama dengan penegak hukum lain, yakni Kepolisian dan Kejaksaan.
Poin ini semakin memperkeruh nilai independensi penindakan yang ada di KPK.
Sumber Referensi:
1) BMP HKUM4310 Tindak Pidana Korupsi
2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
3) https://www.mkri.id/index.php?page=web.Berita&id=15921&menu=2
4) https://antikorupsi.org/id/article/catatan-akhir-tahun-pemberantasan-korupsi-tahun-2020- pandemi-kemunduran-demokrasi-dan