• Tidak ada hasil yang ditemukan

JADWAL MATERI MENGAJAR MASJID AL IKHLAS KALIBAJING 1445H/2024

N/A
N/A
Aziz FM

Academic year: 2024

Membagikan "JADWAL MATERI MENGAJAR MASJID AL IKHLAS KALIBAJING 1445H/2024 "

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

JADWAL MATERI MENGAJAR MASJID AL IKHLAS KALIBAJING

1445H/2024

No Tanggal Jadwal Materi Mengajar

1 13/03/2024 Puasa

2 14/03/2024 Mewarnai & Kaligrafi

3 15/03/2024 Wudhu

4 16/03/2024 Sholat

5 17/03/2024 Lomba GAC

6 18/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak 7 19/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak 8 20/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak 9 21/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak 10 22/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak 11 23/03/2024 Pendalaman Materi Tiap Anak

12 24/03/2024 Ramadhan

13 25/03/2024 Rukun Iman dan Islam 14 26/03/2024 Nabi dan Rosul 15 27/03/2024 Wudhu, Sholat, Adzan, DLL 16 28/03/2024 Mewarnai & Kaligrafi

17 29/03/2024 Puasa

18 30/03/2024 Asmaul Husna

19 31/03/2024 Karya Dengan Barang Bekas 20 01/04/2024 Doa Sehari hari 21 02/04/2024 Mewarnai & Kaligrafi 22 03/04/2024 Nabi dan Rosul 23 04/04/2024 Nonton Bareng 24 05/04/2024 Hafalan Surat Pendek 25 06/04/2024 Doa Sehari hari 26 07/04/2024 Asmaul Husna

27 08/04/2024 Wudhu, Sholat, Adzan, DLL 28 09/04/2024 Materi Idul Fitri

(2)

Materi Puasa

Pengertian Puasa Secara Bahasa dan Istilah

Dalam bahasa Arab, puasa disebut dengan Shiyam atau Shaum. Puasa secara bahasa berarti menahan diri dari suatu hal. Adapun pengertian puasa secara istilah adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan syarat dan rukun tertentu. Allah SWT bersabda dalam surat Al Baqarah berikut ini:

“Hai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Quran Surat Al Baqarah ayat 183)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman :

”…Dan makan dan minumlah kamu hingga waktu kelihatan benang yang putih dan benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai malam…” (Al Quran surah Al Baqarah ayat 187)

a. Syarat Puasa

Syarat merupakan segala hal yang harus ada dan harus dipenuhi sehingga seorang diwajibkan untuk berpuasa. Syarat puasa terdiri dari atas syarat wajib dan syarat sah puasa.

1. Syarat wajib puasa

• Islam, artinya orang kafir tidak diwajibkan puasa.

• Balig, untuk laki-laki ditandai dengan mimpi basah, sedangkan perempuan mengalami haid.

• Berakal sehat, orang gila tidak wajib puasa.

• Suci dari haid dan nifas, artinya seorang perempuan yang mengalami haid atau nifas tidak terkena kewajiban berpuasa, namun harus diganti di lain hari.

• Mampu melaksanakan puasa.

• Tidak sedang dalam perjalanan jauh.

2. Syarat sah puasa

• Islam

• mampu membedakan yang baik dan buruk.

• Suci dari haid dan nifas.

• Bukan pada hari-hari yang diharamkan puasa.

Hal-hal yang membatalkan puasa

• Makan dan minum dengan sengaja.

• Berhubungan suami istri di siang hari atau keluar air mani dengan sengaja.

• Muntah dengan disengaja.

• Hilang akal contohnya seperti mabuk, pingsan, atau gila.

• Haid, nifas, atau wiladah.

• Murtad.

(3)

Materi Sholat, Wudhu, DLL

A. WUDHU

1. Keutamaan Wudhu

Keutamaan Wudhu Sesuai Tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam oleh Ustadz Muhammad Wasitha MA

Wudhu termasuk dari amalan yang paling utama lagi mulia, dan cukuplah yang menunjukkan dalil akan keutamaannya adalah bahwa dia merupakan syarat sahnya shalat yang merupakan tiang agama dan rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Karenanya barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa wudhu (bagi yang berhadats kecil) maka shalatnya tidak sah dan dia telah terjatuh ke dalam dosa besar.

Ibadah Wudhu apabila dilakukan dengan sempurna sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka akan mendatangkan keutamaan yang sangat banyak bagi pelakunya, di antaranya:

a. Berwudhu dengan benar dan sempurna akan menghapus kesalahan dan dosa-dosa (kecil) yang telah lalu.

b. Dan akan meninggikan derajat pelakunya. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan menaikkan derajat ?” Para shahabat menjawab: “Mau, wahai Rasulullah !” Beliau bersabda: ”Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu sholat berikutnya setelah melakukan sholat. Maka itulah yang dinamai ribath (berjaga-jaga di garis perbatasan)”. (Shohih. HR. Ahmad II/303 no.8008, Muslim I/219 no.251, Tirmidzi I/72 no.51, dan an-Nasa’i I/89 no.143).

Ribath adalah amalan berjaga-jaga di daerah perbatasan antara daerah kaum muslimin dengandaerah musuh. Maksudnya pahalanya disamakan dengan pahala orang yang melakukan ribath.

c. Pada hari Kiamat, orang yang berwudhu dengan benar dan sempurna akan mendapatkan cahaya pada wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya dengan sebab dia mencuci wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya dalam berwudhu. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah, tangan, dan kaki yang bercahaya karena bekas- bekas wudhu mereka. Karenanya barangsiapa di antara kalian yang bisa memperpanjang cahayanya maka hendaklah dia lakukan.” (Shohih. HR. Bukhari I/63 no. 136, dan Muslim I/216 no. 246).

d. Berwudhu Merupakan separuh dari keimanan. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

(4)

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu, Dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanalloh dan alhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, sholat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti, kesabaran itu merupakan sinar, dan Al Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Allah) dan sebagian lain ada yang

menjerumuskannya (dalam

siksa-Nya).” (Shohih. HR Muslim I/203 no.223, dan Ahmad V/342 no.22953)

e. Orang yang berwudhu dengan benar dan sempurna maka dosa-dosa yang diperbuat oleh anggota wudhunya akan keluar (terhapus) bersamaan dengan keluarnya tetesan air wudhunya. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu lalu membaguskan wudhunya’, keluarlah dosadosanya dari badannya bahkan (dosa-dosanya) akan keluar dari bawah kukukukunya.” (Shohih. HR.Muslim I/149 no.601) Maksud memperbaiki wudhu adalah mengerjakannya secara sempurna (mencakup rukun, wajib, dan sunnah wudhu) sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, lalu membasuh wajahnya maka keluarlah dari wajahnya segala dosa-dosa karena penglihatan matanya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir.

Apabila membasuh kedua tangannya maka keluarlah dari kedua tangannya segala dosa-dosa karena perbuatan kedua tangannya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya maka keluarlah dari kedua kakinya segala dosa-dosa yang ditempuh oleh kedua kakinya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa”. (Shohih. HR. Ahmad II/303 no.8007, Muslim I/215 no.244, Tirmidzi I/6 no.2, dan selainnya).

Oleh karena itu, disunnahkan untuk tidak mengelap air wudhu dengan kain karena hal itu akan menghilangkan tetesan wudhu.

f. Orang yang berwudhu dengan benar dan sempurna maka akan diampuni semua dosanya yang telah berlalu, dan setiap langkah kakinya ke masjid akan dihitung sebagai amalan sunnah. Demikian pula shalat (sunnah wudhu) yang dia lakukan setelahnya. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu seperti ini maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sholat dan berjalannya menuju ke masjid merupakan nafilah (sunnah).” (Shohih. HR.Muslim I/207/229)

(5)

Karenanya, disunnahkan untuk berjalan kaki ke masjid selama masih memungkinkan dan tidak menaiki kendaraan, demikian pula disunnahkan untuk mengerjakan shalat sunnah wudhu.

Dan yang dimaksud dengan sabda Nabi dalam hadits di atas: (maka akan diampuni dosadosanya yang telah lalu) adalah dosa-dosa kecil, karena para ulama menyatakan bahwa dosa besar hanya bisa terhapus dengan taubat nasuha dan istighfar.

g. Orang yang selalu berwudhu dengan sempurna akan diberi pilihan masuk surga melalui delapan pintu surga yang dia sukai. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa salam, beliau bersabda: “Barang siapa di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berkata, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah Melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul (utusan)-nya, maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan dan dia bisa masuk ke dalamnya lewat pintu mana saja yang dikehendakinya.” (Shohih. HR. Muslim I/209 no.234).

Imam Tirmidzi rahimahulloh menambahkan: “Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri.”

Demikian beberapa keutamaan besar yang diperoleh oleh setiap muslim dan muslimah yang melakukan wudhu sebagaimana wudhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Semoga kita dapat melakukannya dengan benar dan sempurna.

2. Pengertian wudhu dan jenis air

Wudu (Arab: ءوضولا al-wuḍū', Persia: تسدبآ ābdast, Turki: abdest, Urdu:

وضو wazū') adalah salah satu cara menyucikan anggota tubuh dengan air. Seorang muslim diwajibkan bersuci setiap akan melaksanakan salat. Berwudu bisa pula menggunakan debu yang disebut dengan tayammum.

Jenis air yang diperkenankan

Air hujan,...

Air sumur,

Air terjun, laut atau sungai,

Air dari lelehan salju atau es batu,

Air dari tangki besar atau kolam.

Jenis air yang tidak diperkenankan

Air yang tidak bersih atau ada najis,

Air sari buah atau pohon,

Air yang telah berubah warna, rasa dan bau dan menjadi pekat karena sesuatu telah direndam di dalamnya,

(6)

Air dengan jumlah sedikit (kurang dari 1000 liter) yang terkena sesuatu yang tidak bersih seperti urin, darah atau minuman anggur atau ada seekor binatang mati di dalamnya,

Air bekas wudu

Air yang tersisa setelah binatang haram meminumnya seperti anjing, babi atau binatang mangsa,

Air yang tersisa oleh seseorang yang telah mabuk karena khamr (minuman keras).

3. Syarat, pembatal wudhu dan rukun wudhu a. Syarat Wudhu

1) Islam 2) Berakal

3) Air yang digunakan harus thorur (suci dan mensucikan) b. Pembatal wudhu

1) Kentut

2) Buang air besar dan atau kecil

3) Hilangnya akal (pingsan, mabuk, gila) 4) Tidur lelap

c. Rukun wudhu

Ada beberapa dasar rukun wudhu, namun kita ambil dari yang paling lengkap.

1) Niat dan berdoa.

2) Mencuci telapak tangan 3X.

3) Berkumur dan membersihkan hidung sebanyak 3X

4) Membasuh muka/wajah sebanyak 3X dengan cara meratakan air keseluruh wajah. Mengusap dua sudut mata serta menyelai jenggot jika ada.

5) Membasuh tangan kanan sampai siku 3 x terus tangan kiri 3X. Jangan lupa menyela diantara jari jari.

6) Membasuh kepala dengan menjalankan kedua tangan.

7) Mengusap kedua telinga dengan ibu jari sebanyak 3X.

8) Membasuh kaki kanan sampai dengan mata kaki sebanyak 3x dan dilanjutkan kaki kiri sebanyak 3x.

9) B. ADZAN

Pengertian Adzan

Menurut bahasa azan berarti pemberitahuan tentang sesuatu. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 3 yang berbunyi :

Artinya: Dan (inilah) suatu seruan atau pemberitahuan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia – (QS. At-Taubah : 3)

Dan dalam surat yang lain yakni surat Al-Anbiya Ayat 109 Allah Berfirman :

(7)

Artinya: Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) –(QS. Al-Anbiya : 109)

Maksudnya Aku beritahu kalian maka kita sama-sama mengetahui.

Sedangkan adzan menurut syara atau syariat adalah pemberitahuan tentang waktu shalat dengan lafadz-lafadz khusus sebagaimana yang ditetapkan oleh syariat.

Dari pengertian-pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa adzan merupakan suatu pemberitahuan seorang mu’azin (orang yang adzan) kepada orang lain tentang masuknya waktu shalat.

Lafal azan terdiri dari tujuh bagian:

1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"

2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"

3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)

"Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah"

4. Hayya 'alash sholah (2 kali)

"Mari menunaikan salat"

5. Hayya 'alal falah (2 kali)

"Mari meraih kemenangan"

6. Ashsalatu khairum minan naum (2 kali)

"Salat itu lebih baik daripada tidur" (hanya diucapkan dalam azan Subuh) 7. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"

8. Lailaha ilallah (1 kali)

"Tiada Tuhan selain Allah"

Adapun adab melaksanakan azan menurut jumhur ulama adalah sebagai berikut:

Kriteria muazin 1. Muslim dan berakal;

2. Baik agamanya;

3. Diutamakan orang dewasa, namun jika terpaksa anak kecil tidak mengapa;

4. Memiliki sifat amanah;

5. Tidak menerima upah azan;

6. Suara muazin lantang dan merdu;

Ketentuan dan tata cara azan

1. Muazin disunnahkan suci dari hadas besar dan kecil;

2. Berdiri;

3. Muazin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan;

(8)

4. Melakukan azan ditempat tinggi, atau dengan pengeras suara;

5. Memperhatikan tajwid, memperlambat azan dan mempercepat iqamah;

6. Meletakkan jari-jari di telinga ketika adzan;

Menjawab azan

Apabila mendengar suara azan, disunahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan: "Hayya alash- shalah", "Hayya alal-falah", dan "Ashsalatu khairum minan-naum" (dalam azan Subuh).

Apabila muazin mengucapkan "Hayya alash-shalah" atau "Hayya alal-falah", disunahkan menjawabnya dengan lafal "La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim" yang artinya "Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah". Apabila muazin mengucapkan "Ashsalatu khairum minan-naum" dalam azan Subuh, disunahkan menjawabnya dengan lafal "Shadaqta wa bararta wa ana 'ala dzalika minasy syahidin"

yang artinya "Benarlah engkau dan baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang menyaksikan kebenaran itu".

C. IQOMAH

Pengertian Iqomah

Berbeda dengan adzan. Jika adzan merupakan pemberitahuan masuknya waktu shalat, maka iqomah merupakan pemberitahuan tentang pelaksanaan shalat. Dari segi bahasa iqomah berarti menegakkan sesuatu, sedangkan menurut syara atau syariat, iqomah adalah pemberitahuan akan ditunaikannya shalat wajib dengan lafadz-lafadz khusus yang telah ditetapkan oleh syariat.

Lafadzh iqamah

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu alla ilaha illallah

Asyhadu anna Muhammadarrasullulah

Hayya 'alash sholah

Hayya 'alal falah

Qod qomatish sholah (2 kali), artinya "Salat akan didirikan"

Allahu Akbar, Allahu Akbar

La ilaha illallah

Hukum Adzan dan Iqomah

Mengenai hal ini, para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan hukum adzan dan iqomah adalah fardu kifayah. Perlu dicatat, hukum ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tidak bagi kaum perempuan, yakni pada shalat wajib 5 waktu dan pada shalat jum’at.

Keduanya disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 58 dan QS. Al-Jumu’ah ayat 9 yang artinya adalah sebagai berikut :

(9)

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya sebuah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal – (QS. Al-Ma’idah : 58)

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah –(QS. Al-Jumu’ah : 9)

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Malik bin Huwairits sebagai berikut :

“Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah satu orang diantara kalian mengumandangkan adzan, dan orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam (jika sama-sama memiliki ilmu dan keutamaan)

Ibnu Taimiah ra, berkata, “Berdasarkan sunnah yang mutawatir (banyak riwayatnya) menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulluah SAW selalu dikumandangkan adzan dalam setiap shalat wajib 5 waktu, maka umat ini sepakat menjadikan hal tersebut sebagai amal hingga seterusnya.”

D. SHOLAT

Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan Sholat. Sholat adalah tiang agama. Sholat berarti doa/pengabdiankepada Alloh. Sholat tersusun dari gerakan gerakan dimulai dari takbirotul ikhrom dan diakhiri dengan salam.

Shloat ada 2 macam yaitu :

1. Sholat wajib : contohnya adalah sholat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isyak = 17 rakaat dalam sehari semalam).

2. Sholat sunnah : contohnya: sholat taraweh, solat tahajud, solat dhuha, dsb Syarat Wajib Sholat :

Orang yang diwajibkan mengerjakan sholat adalah : 1. Orang yang bergama Islam

2. Berkal /tdak gila 3. baligh/dewasa Syarat sah Sholat

Agar sholat kita diterima Alloh Swt, maka harus dikejakan sesuai dengan ketentuaanya. Syarat sah sholat adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan sholat. Adapun syarat sah sholat adalah sebagai berikut :

1. Suci dari hadast besar dan kecil

2. Suci badan,pakaian, dan tempat dari najis

3. Menutup aurot, bagi laki laki antara pusat dan lutut, dan bagi perempuan seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan,

4. Sudah masuk waktu sholat

(10)

5. Menghadap kiblat (arah ka’bah)

Adapun rukun sholat adalah sebagai berikut : 1. Niat

2. Berdiri bila mampu 3. Takbirotul Ikhrom

ُرّبْكّا ُ ه ّاَلل Allahu’akbar

4. Membaca AL-Fatikhah pada setiap rokaat sebelum ruku’

5. Ruku’ dengan tuma’ninnah

َناَحْبُس َيِ بَر ِمْيِظَعْلا ِهِدْمَحِب َو

Subhaana rabbiyal azhiimi wa bi hamdih3 X (Tiga Kali)

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.”

6. I’tidal dengan thuma’ninnah

sami’allahu liman hamidah

Artinya : Allah mendengar orang yang memuji-Nya

Rabbanaa lakal hamdu Mil ussamaawaati wamil-ul ardhi wamil-u maasyi’ta min syai-in ba’du.

Artinya : “Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.”

7. Sujud dengan thuma’ninnah

Subhaana rabbiyal a’la wa bi hamdihi. 3x

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan dengan segala puji bagi-Nya.”

3x

8. Duduk diantara dua sujud dengan thuma’ninnah

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii warzuqnii 9. Duduk untuk takhiyat akhir

(11)

10. Membaca Takhiyat akhir

11. membaca sholawat nabi ketika takhiyat akhir 12. Salam

13. tertib

Hal Hal yang membatalkan sholat

Sholat itu dianggap tidak sah apabila kurang salah satu diantara rukun-rukun sholat atau apabila tidak melaksanakan salah satu dari syarat syahnya sholat atau karena sebab sebab lain.

Adapun hal hal yang dapat membatalkan sholat adalah : 1. Berhadast, baik hadast besar maupun kecil

2. Terkena najis 3. Terbuka aurotnya

4. Belum masuk waktu sholat 5. Sengaja berbicara atau berkata 6. Tertawa terbahak bahak

7. Bergerak secara berturut turut lebih dari 3 x 8. Makan dan minum walaupun sedikit

9. Mendahului imam

10. Meninggalkan salah satu rukun sholat Manfaat sholat adalah :

1. dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar 2. Meningkatkan Iman dan takwa

3. Menegakkan agama Islam

4. Hati merasa tenang dan tentram, dsb

(12)

Materi Asmaul Husna

Pengertian Asmaul Husna

Asma’ul husna merupakan nama-nama Allah, Tuhan Semesta Alam, yang indah dan baik.

Asma artinya nama dan husna artinya adalah “yang baik atau yang indah”. Jadi, Asma’ul Husna artinya adalah nama nama Allah yang baik lagi indah.

Asmaul Husna, berasal dari bahasa arab yang merupakan gabungan dari 2 kata yaitu al-Asma’

& al-Husna. Al- Asma’ merupakan bentuk jama’ dari ismun yang artinya adalah nama.

Sedangkan al-Husna ialah bentuk mashdar dari al-Ahsan yang artinya baik, bagus/indah.

Pendapat lain mengatakan, Asmaul Husna ialah nama-nama Allah yang terbaik dan juga agung, yang sesuai dengan sifat-sifat Allah SWT yang jumlahnya ada 99 nama. ( M. Ali Chasan Umar) Allah SWT berfirman yang tertulis di dalam Kitab Al Qur’anul Karim :

Terjemah : “Hanya milik Alloh Asmaa-ul Husna, maka berdo’alah kamu dengan Asmaa-ul Husna . Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (Menyebut) Nama-Nama-Nya itu, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. [QS Al A’rof : 180].

Selanjutnya bisa dibaca 99 asmaul husna atau tebak tebakan

(13)

Materi Doa dan Hafalan Surat

1. Doa sebelum tidur اَكِمْساِب َمُهَّلل اَيْحَأ َو اَك ِمْساِ ُتوُمَأ

Bismika allahumma ahya wa bismika amut.

Artinya: "Dengan nama-Mu Ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati."

Baca Juga :

11 Doa untuk Anak Perempuan agar Saleha, Pintar & Berkah Hidupnya 2. Doa bangun tidur

ُدْمَحْلا َِّ ِلِل يِذَّلا اَناَيْحَأ َدْعَب اَم اَنَتاَمَأ ِهْيَلِإ َو ُروُشُّنلا

Alhamdulillahi al-ladhi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihi-nnushur.

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan kehidupan, mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali."

3. Doa sehari-hari untuk anak sebelum makan َّمُهّٰللَا

ْك ِراَب اَنَل اَمْيِف اَنَتْق َز َر اَنِق َو َباَذَع ِراَّنلا

Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.

Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."

4. Doa sesudah makan

ُدْمَحْلَا ِللِ ْىِذَّلا اَنَمَعْطَا اَناَقَس َو اَنَلَعَج َو َنْيِمِلْسُم

Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin.

(14)

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk dari kaum Muslimin."

5. Doa harian untuk anak saat keluar rumah ِمْسِب

ِالل ُتْلَّك َوَت ىَلَع

،ِالل َل ْوَح َل َل َو َة َّوُق َّلِإ ِللاِب

Bismillahhi tawakkaltu 'alallah, laa haula wa laa quwwata illa billaah.

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah."

6. Doa masuk rumah

ِمْسِب ِالل اَنْجَل َو ِمْسِب َو ِالل اَنْج َرَخ

، ىَلَع َو ِالل اَنَّب َر اَنْلَّك َوَت

Bismillahi walajnaa wa bismillahi kharajnaa wa-alallaahi rabbina tawak-kalnaa.

Artinya: "Dengan nama Allah, kami masuk (ke rumah), dengan nama Allah, kami keluar (darinya) dan kepada Allah, kami berserah diri."

7. Doa sehari-hari sebelum belajar

ُت ِض َر ِاللاِب اَب َر ِمَلاْسِ ْلاِب َو اَنْيِد

دَّمَحُمِب َو اَيِبَن َل ْوُس َر َو ِب َر ْد ِز ْيِن ْيـِنْق ُز ْر َواـًمْلِع اـًمْهَف

Rodlittu billahiroba, Wabil islaamidiinaa, Wabimuhammadin nabiyyaa warasuula, Robbi zidnii ilmaan warzuqnii fahmaan.

Artinya: "Kami ridho Allah Swt sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik."

8. Doa harian untuk anak setelah selesai belajar

َّمُهّٰللَا ى ِنِا َكُعِد ْوَتْسِا ِهْيِنَتْمَّلَعاَم

ُهْدُد ْراَف َّىَلِا َدْنِع ْىِتَجاَح َل َو ِهْيِنَسْنَت َّب َراَي َنْيِمَلاَعْلا

(15)

Allaahumma innii astaudi'uka maa 'allamtaniihi fardud-hu ilayya 'inda haajatii wa laa tansaniihi yaa robbal 'alamiin

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku menitipkan kepada Engkau ilmu-ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan kembalikanlah kepadaku sewaktu aku butuh kembali dan janganlah Engkau lupakan aku kepada ilmu itu wahai Tuhan seru sekalian alam."

(16)

Materi Rukun Iman dan Islam

Rukun Iman Ada 6

Iman Kepada Allah

Seorang yang mengaku muslim tidak akan dikatakan beriman kepada Sang Khalik apabila tidak meyakini dan mengimani 4 hal;

beriman akan adanya Allah, beriman pada rubbubiah Allah, dimana tidak ada dzat lain yang menciptakan, menguasai, dan mengatur seluruh alam semesta kecuali Allah SWT. Bukan hanya itu saja, kita juga harus beriman pada uluhiyyah Allah, dimana tidak ada sembahan yang patut disembah kecuali Allah dan kita pun harus mengingkari sesembahan selain Allah SWT.

Iman kepada Malaikat – Malaikat Allah

Malaikat adalah makhluk Allah yang sepanjang hidupnya selalu patuh dan taat kepada Allah.

Untuk itu, kita sebagai seorang muslim harus mengimani adanya malaikat – malaikat Allah.

Kita juga harus percaya bahwa malaikat memiliki wujud.

Malaikat telah Allah ciptakan dari cahaya.

Keharusan untuk meyakini adanya malaikat ini sejalan dengan apa yang Allah firmankan dalam al – Qur’an;

“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada memiliki rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya” (QS. Al-Anbiya: 19-20).

Iman Kepada Kitab – Kitab Allah

(17)

Seorang muslim harus mengimani dan meyakini bahwa al – Qur’an adalah penghapus hukum dari semua kitab – kitab yang sudah turun sebelumnya. Untuk itu, agar menjadi muslim yang baik lagi sempurna, marilah kita isi hari – hari kita dengan memperbanyak membaca al – Qur’an. Berpedoman kepada al – Qur’an akan menjadikan hidup lebih berkah dan bermanfaat.

Selain itu kita menjadi semakin dekat dengan Allah.

Iman kepada Rasul – Rasul Allah

(18)

Rukun Iman ke-4 ini menegaskan kita akan keharusan beriman pada Rasul – Rasul Allah. Di antara laki – laki terpilih ini telah Allah tugaskan untuk menjadi perantara untuk diri-Nya dengan seluruh makhluk-Nya. Kita harus mempercayai bahwa wahyu yang telah diberikan kepada Nabi dan Rasul ialah benar dan bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian bisa dikatakan jika seseorang mengingkari salah satu dari Rasul – Rasul Allah, maka sama artinya seseorang tersebut telah mengingkari semua Nabi dan Rasul Allah yang lain.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam al – Qur’an : “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahhyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud” (QS. An Nisa:163).

Iman kepada hari Kiamat (Akhir)

Sebagai muslim yang bertaqwa, kita harus percaya akan adanya kehidupan setelah kematian.

Yakni alam barzakh ( alam di antara dunia dan akhirat). Kita juga harus mempercayai dan mengimani akan adanya tanda – tanda hari akhir. Selain itu, wajib pula bagi kita untuk mempercayai adanya hari kebangkitan di Padang Mahsyar, dan akan berakhir di Surga atau Neraka.

Lalu, mereka yang telah mati akan Allah bangkitkan untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua amal perbuatan yang pernah dilakukan selama masih hidup di dunia. Sebagaimana yang telah Allah nyatakan dalam firman-Nya; ”Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan perrtama begitulah Kammi akan mengulanginya, janji dari Kami, sesungguhnya Kami pasti akan melakukannya.” (QS. Al-Anbiya: 104)

(19)

Iman kepada Qada’ dan Qadar (Takdir Baik dan Takdir Buruk)

Seseorang yang meyakini Qada’ dan Qadar Allah tidak akan menjadi muslim yang sering mengeluh, sebab mereka meyakini bahwa semua kejadian yang baik atau buruk adalah dari Allah SWT. Allah telah menetapkan takdir baik dan buruk untuk semua makhluk-Nya, bahkan jauh sebelum kita lahir ke dunia ini.

(20)

Rukun Islam Ada 5

Mengucapkan dua kalimah syahadah

Yang dimaksud dengan syahadat ini ialah, bagaimana seorang muslim harus bisa mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengamalkannya dalam bentuk perbuatan. Apabila kita hanya mengucapkannya secara lisan tapi tidak meyakini dalam hati apalagi tidak mengamalkannya, maka ini adalah hal yang sia – sia dan rugilah kita. Saat kita mengucapkan syahadat, ini adalah bentuk ikrar bahwa kita siap menjadi hamba dan umat yang taat kepada Allah dan Rasul. Jadi tidak setengah hati dalam menghamba Allah dan meneladani Rasul.

Mendirikan Sholat

Sholat menjadi salah satu ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam. Sholat menjadi tiang agama bagi umat Islam. Banyak keutamaan dan kedudukan sholat yang telah dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an dan hadits. Sholat adalah ibadah vertikal yang akan menghubungkan kita dengan Allah.

Umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat 5 waktu dalam sehari. Hal ini telah difirmankan Allah dalam surat at-Taubah:103.

“Dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah:103).

Menunaikan Zakat

(21)

Selain sholat, zakat juga diwajibkan bagi umat Islam.

Zakat ini merupakan bentuk dari kerelaan dan keikhlasan kita dalam menyisihkan dan menyalurkan harta kepada orang tertentu dan pada waktu tertentu. Seorang muslim yang berharta dan sudah mencapai nisab, maka dia diwajibkan untuk menyalurkan zakat harta tiap tahun.

Allah menegaskan dalam surat al – Baqarah: 43: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”

Berpuasa di bulan Ramadhan

Puasa adalah salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah dalam menjalankan perintah-Nya. Kita diwajibkan untuk berpuasa, menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa merupakan ibadah yang menjadi sarana agar kita bisa menjadi hamba yang bertaqwa kepada-Nya.

(22)

Menunaikan haji di Mekkah bagi muslim yang mampu

Rukun Islam yang ke-5 ini menegaskan kepada muslim yang mampu untuk menunaikan haji di Makkah, setidaknya satu kali seumur hidup. Ibadah haji adalah ibadah yang melibatkan antara ruh, badan dan harta.

Syarat untuk haji adalah; kita beragama Islam, baligh dan berakal sehat, serta mampu.

(23)

Materi Nabi dan Rosul

Rukun iman ada 6 :

1. Iman kepada Allah 2. Iman kepada malaikat 3. Iman kepada kitab suci 4. Iman kepada nabi dan rasul

5. Iman kepada Hari akhir / hari kiamat 6. Iman kepada Qada’ dan Qadar

Iman kepada Rasul Allah merupakan rukun iman yang ke 4 yang wajib kita percayai dan yakini, dan seperti yang kita ketahui bahwa umat manusia sangat sering melakukan perbuatan dosa sejak ribuan tahun lalu. Rasul diutus oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar, sehingga bisa selamat dunia dan akhirat.

PENGERTIAN IMAN KEPADA RASUL ALLAH

Beriman kepada rasul berarti percaya dan yakin bahwa rasul itu benar-benar utusan Allah SWT yang ditugaskan untuk membimbing umatnya agar menempuh jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah sehingga selamat dunia dan akhirat.

PERBEDAAN NABI DAN RASUL

Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu yang diberi Allah untuk umatnya.

Sedangkan,

Nabi adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri tetapi tidak wajib menyampaikannya kepada umatnya. Sehingga seorang rasul pasti adalah nabi, tetapi nabi belum tentu rasul.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

“Dan kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS.

Al An’am 6:48)

25 RASUL DAN SIFATNYA

1. Adam As 6. Ibrahim As 11. Yusuf As 16. ZulkiFli As 21. Yunus As

(24)

2. Idris As 7. Luth As 12. Ayub As 17. Daud As 22. Zakaria As 3. Nuh As 8. Ismail As 13. Syu’aib As 18. Sulaiman As 23. Yahya As 4. Hud As 9. Ishaq As 14. Musa As 19. Ilyas As 24. Isa As

5. Sholeh As 10. Yaqub As 15. Harun As 20. Ilyasa As 25. Muhammad Saw

Rasul Allah mempunyai sifat yang sangat terpuji dan terhindar dari sifat tercela, sifat ini biasa disebut sifat wajib rasul. Sedangkan sifat tercela yang tidak mungkin dimiliki oleh para Rasul disebut sifat mustahil rasul.

Sifat wajib Rasul antara lain:

Sidiq : berkata benar Amanah : dapat dipercaya Tabligh : menyampaikan Fathonah : cerdik,pandai

Sifat mustahil Rasul yaitu:

Kizib : berkata bohong Khianat : tidak dapat dipercaya Kitman : menyembunyikan Baladah : bodoh

(25)

TUGAS PARA RASUL

1. Menyampaikan ajaran agama kepada manusia dan mengajak nya untuk beribadah kepada Allah.

2. Menjelaskan semua permasalahan agama yang diturunkan oleh Allah.

3. Membimbing manusia kepada kebaikan dan menjauh dari kejahatan.

4. Membawa kabar gembira (surga) dan peringatan (neraka) 5. Memperbaiki kondisi umat manusia

6. Memberikan teladan yang baik (perkataan dan perbuatan)

7. Menegakkan syari’at Allah dan mempraktekan nya di tengah-tengah umat manusia

8. Memperbaiki kesaksian atas umat mereka pada hari kiawat, bahwa rasul telah menyampaikan misi yang diterima dengan jelas.

RASUL ULUL AZMI

Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.

5 rasul yang diberi gelar ulul azmi, sbb:

1. Nabi Nuh As 2. Nabi Ibrahim As 3. Nabi Musa As 4. Nabi Isa As

5. Nabi Muhammad SAW

(26)

KISAH NABI NUH AS

Nabi Nuh (Arab: حوُن Nūḥ) adalah seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah kepada umat manusia sebelum terjadinya sebuah malapetaka dahsyat yang hampir memunahkan kehidupan di muka bumi.nabi Nuh dikenal sebagai pendiri serta penghuni bahtera sewaktu kejadian banjir bah melanda seisi bumi.nabi Nuh termasuk dalam golongan Rasul Ulul Azmi.

Nama nabi Nuh disebut sebanyak 43 kali dalam kitab Al-Qur'an serta diabadikan sebagai nama sebuah surah.yaitu Surah Nuh.

a. Dakwah Nabi Nuh

Sebelum mendapat tugas kerasulan,nabi Nuh merupakan seorang yang tekun, gemar bersyukur, dan beriman kepada Allah. Sementara itu, sebagian besar umat manusia di zamannya merupakan orang-orang kafir yang menganggap kedudukan sang nabi tidak lebih terhormat dibanding diri mereka. Kaum kafir tersebut tidak mau memandang nabi Nuh sebagai sosok nabi oleh sebab mereka mempunyai lebih banyak harta maupun anak-anak, Menghadapi tantangan semacam ini,nabi Nuh tetap bertekun menyampaikan risalah Allah supaya kaumnya beriman kepada Allah serta supaya kaumnya meninggalkan penyembahan dewa-dewa, selain itu nabi Nuh memperingatkan adanya ancaman dari Allah bahwa akan ada malapetaka dahsyat apabila kaum tersebut tidak mau meninggalkan kebiasaan keji yang diwarisi dari para leluhur.

Kaum yang dihadapi nabi Nuh merupakan salah satu generasi manusia yang diberi umur panjang serta dilimpahi kemakmuran juga dianugerahi perawakan tubuh yang jauh lebih perkasa daripada generasi manusia pada zaman sekarang. Kemakmuran duniawi di generasi nabi Nuh menimbulkan sikap angkuh serta sikap sewenang-wenang memandang diri sebagai golongan terkuat dan berkuasa, yang kemudian berujung pada keengganan serta kecongkakan untuk mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa maupun Yang lebih berwenang atas hidup mereka. Allah menyebut kaum nabi Nuh sebagai kaum paling rusak di muka bumi.

Nabi Nuh sangat bertekun untuk mendakwahkan risalah Allah ke berbagai tempat di muka bumi. Baik siang dan malam,nabi Nuh berkeliling sambil berdakwah kepada kaumnya agar bersedia menuruti ajaran Allah yang disampaikan melalui dirinya. Tetapi kaum itu tidak menerima risalah-risalah tersebut, bahkan kaum itu menuduh Nuh sebagai seorang pendusta.

Hal ini membuat sang nabi berupaya dengan cara sembunyi-sembunyi untuk mengajak banyak orang menuruti risalah Allah. Walaupun demikian, kaum nabi Nuh justru menuduh ia merasa iri terhadap kemewahan dan kekayaan mereka sehingga nabi Nuh dianggap membutuhkan harta benda mereka; akan tetapi nabi Nuh menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menghendaki uang mereka sebagai upah sebab upahnya berasal dari Allah. Kaum kafir itu tetap berkeras melakukan tindakan keji, meski ada nabi yang berdakwah di tengah-tengah mereka.

b. Penolakan kaum Nuh

Perjuangan Nuh dalam menyampaikan risalah-risalah tidak disambut oleh kaumnya, akibat kaum itu hanya memperhitungkan derajat nabi namun tidak sedikitpun mau memperhatikan risalah-risalahnya. Kaum itu menilai Nuh sebagai seorang yang menyimpang terhadap tradisi leluhur sehingga mereka menyebut ia sebagai orang sesat. Nuh membantah hal ini dengan pernyataan bahwa Allah yang telah mengutus ia sebagai seorang rasul supaya menyampaikan amanat-amanatNya sebagai nasihat-nasihat untuk mereka, bahwa Nuh mengetahui ajaran Allah yang tidak diketahui oleh kaumnya. Akan tetapi, kaum Nuh merasa

(27)

ragu dan heran bahwa ada seorang pemberi peringatan tentang ajaran Allah dari kalangan mereka sendiri, oleh sebab mereka telah menganggap sosok Nuh setara dengan manusia biasa.

Kaum itu mempertanyakan pula mengapakah bukan sesosok malaikat, melainkan seorang manusia yang Allah utus kepada umat manusia; orang-orang kafir menganggap Nuh hanya sebagai orang biasa yang hendak menduduki kedudukan paling dihormati dalam masyarakat, lalu mereka enggan mengakui kenabiannya bahkan menuduh Nuh membuat-buat risalahnya.

Sewaktu mendengar tuduhan bahwa ajarannya adalah hasil karangan, Nuh menyatakan apabila ia yang mengarang sendiri risalah-risalah tersebut; tentulah ia akan membiarkan kaumnya berbuat sesuka hati dan ia takkan berupaya keras sampai siang dan malam untuk mengajak mereka ke Jalan yang dikehendaki Allah.

Sekalipun telah menegaskan bahwa ia adalah orang yang diperintah oleh Allah, kaum Nuh mencari dalih untuk menentang risalah-risalah tersebut. Kaum itu menilai para pengikut Nuh merupakan orang-orang bodoh yang didoktrin oleh ajakan Nuh, serta menuduh para pengikut sang nabi merupakan orang-orang lemah, miskin dan bukan dari kalangan terpandang di kaumnya. Golongan kaya raya di kaum Nuh menuduh bahwa tiada seorangpun yang mengikuti ajaran Nuh selain orang-orang tak berwibawa yang lekas terbujuk. Nuh membela para pengikutnya dengan menyatakan bahwa Allah tidak memandang kedudukan manusia, sebab Allah sendiri yang menentukan kadar karunia untuk seluruh manusia. Nuh tidak mengetahui mengapa para pengikutnya bukan berasal dari kalangan kaya ataupun kalangan terhormat, sebab hal ini merupakan perkara ghaib yang berada pada sisi Allah. Oleh karena merasa tidak sederajat dalam hal kedudukan duniawi, kaum Nuh menuntut sang nabi supaya mengusir orang-orang rendahan dari kalangan pengikutnya. Hal ini ditolak oleh Nuh sebab orang-orang tersebut bersedia ikut kepada dirinya karena memiliki keimanan kepada ajaran yang berasal dari Allah, sedangkan tindakan mengusir orang-orang yang beriman merupakan tindakan berdosa yang bertentangan dengan kewajiban seorang nabi, yakni mengabarkan risalah serta mengajak siapapun supaya menerima seruan Allah.

Risalah yang disampaikan Nuh tidak lain merupakan Kehendak Allah sebagai bukti rahmat Allah, Yang Maha Pengasih untuk umat manusia; supaya umat manusia tidak ditimpa Malapetaka melainkan diselamatkan apabila bersedia untuk berserah diri kepada Kehendak Allah, sehingga Allah melindungi segala yang berserah dalam kuasa KehendakNya.

Sebaliknya, jika manusia tersebut mengabaikan, meremehkan, bahkan sewenang-wenang melawan Kehendak Allah; maka Yang Maha Kuasa berhak menyingkirkan ataupun melenyapkan makhluk yang tidak pantas hidup di langit maupun bumiNya. Sikap penolakan kaum Nuh serupa keadaan Iblis yang diusir dari surga akibat Iblis secara terang-terangan berani melawan Kehendak Allah sewaktu Iblis diperintah bersujud terhadap Adam.

Nuh berjuang keras mengajak kaumnya bertobat serta beriman kepada Allah supaya Allah mengampuni dosa-dosa mereka, melimpahkan rahmat dan menghindarkan mereka menghadapi Malapetaka dahsyat.[26] Namun orang-orang kafir tersebut mempertanyakan bahwa ajaran-ajaran yang disampaikan Nuh tidak pernah ada dari leluhur mereka, sehingga mereka menuduh ajaran Nuh adalah sesat. Kaum Nuh menantangnya untuk seketika mendatangkan azab yang telah ia sebut-sebut; Nuh menjawab bahwa Allah yang berhak menimpakan azab, bukan dirinya; sebab seorang nabi diperintah menyampaikan risalah beserta peringatan. Kegigihan Nuh dalam berdakwah tidak berhenti meski telah didustakan berulang- ulang. Bahkan Nuh dituduh sebagai orang gila yang pergi kesana-kemari untuk mengajak orang lain turut menjadi gila. Kemudian kaumnya menyerukan ancaman rajam apabila ia tidak mau

(28)

menghentikan dakwah tersebut. Nuh tidak lekas takut terhadap ancaman ini, dengan berbalik menantang mereka melaksanakan ancaman itu terhadap dirinya. Pada akhirnya kaumnya memutuskan berpaling terhadap Nuh.

Selama bertahun-tahun berdakwah di berbagai tempat untuk mengabarkan berbagai risalah, Nuh mendapati sebagian besar umat manusia pada zaman itu merupakan orang-orang yang berkeras diri dalam kekafiran. Mereka berusaha lari menghindar walaupun Nuh tetap mengejar sambil menyampaikan berbagai risalah, tatkala orang-orang itu telah mengingkar dan muak, mereka menutup kedua telinga dengan ujung jari agar tidak mendengar ajakan Nuh.

Orang-orang kafir tersebut lebih memilih mempercayai ajaran dari kalangan terpandang menurut mereka daripada mempercayai risalah Allah melalui seorang nabi. Berbagai penentangan ini membuktikan keangkuhan serta keengganan kaum Nuh untuk merendah diri serta menerima pengajaran Allah; akibat kaum itu berlaku angkuh dan bersikap meninggikan diri supaya tidak disebut sederajat dengan orang-orang rendahan di mata mereka ataupun supaya tidak menjadi bawahan Nuh, seorang yang tidak lebih terhormat menurut kaum itu.

Namun kaum Nuh secara tak sadar telah melawan Kehendak Allah, kaum itu juga tidak menghargai kedudukan Allah yang mengirimkan risalah melalui Nuh, bahkan kaum itu secara berani merendahkan kedudukan hamba Allah yakni Nuh, yang pada akhirnya membuktikan bahwa kaum Nuh menolak diselamatkan oleh Allah. Penentangan ini serupa dengan Iblis sewaktu menolak kehendak Allah supaya bersujud terhadap Adam, dengan alasan bahwa Adam lebih rendah kedudukannya menurut Iblis.

Berbagai penolakan kaum kafir yang sewenang-wenang menentang risalahnya membuat Nuh memikirkan cara lain, yakni berdakwah kepada generasi penerus dari kaum kafir tersebut. Walaupun demikian, terdapat tindakan keji diperbuat oleh generasi pada zamannya yakni mengadakan sumpah larangan menyembah kepada selain dewa-dewa mereka; larangan ini yang diwariskan secara turun-temurun sehingga kaum Nuh melarang seluruh keturunan mereka untuk menyembah Allah sampai selama-lamanya. Tindakan keji ini mengakibatkan dari generasi ke generasi pada zaman Nuh menolak mengakui Allah, yang berakibat banyak generasi hidup sesuka hati di muka bumi tanpa aturan dari Allah. Keadaan ini mengecewakan Allah, sebab kehidupan di muka bumi telah rusak dan perilaku umat manusia menjadi tanpa kendali. Kesedihan juga dirasakan pula oleh Nuh, sebab hal ini menjadikan perjuangan dakwahnya selama ini seakan berakhir sia-sia.

c. Pengaduan nabi Nuh

Nuh mengalami duka cita mendalam terhadap kekafiran maupun sikap keras kepala kaumnya yang berlangsung turun-temurun meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga selama bertahun-tahun untuk membimbing kaum itu supaya bertobat dan berserah diri kepada Allah.

Nuh meratapi nasib kaumnya kemudian ia mengadu kepada Allah:

Nuh berseru, "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah menuruti orang-orang yang harta maupun anak-anaknya tidak menambah apapun melainkan kejahatan belaka, dan mereka melakukan tipu daya yang keterlaluan. dan mereka telah berpesan, "Jangan pernah sekalipun kamu meninggalkan (penyembahan) dewa-dewa kamu dan jangan pernah pula kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaguts, Ya'uq dan Nasr." dan sesudahnya mereka telah menyesatkan banyak (manusia), dan janganlah Engkau tambahkan terhadap orang-orang yang lalim itu selain kesesatan. disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke Neraka, maka tiada penolong untuk mereka selain dari Allah." (Nuh 71:21-25)

(29)

Dalam kepedihan kalbu, Nuh memohon kepada Allah supaya tidak meluputkan seorang pun dari generasi-generasi kafir itu bertahan hidup di muka bumi, melainkan melenyapkan seluruh orang kafir itu; sebab orang-orang kafir itu telah berani menantang azab Ilahi yang diancamkan kepada mereka. bahkan generasi-generasi tersebut akan seterusnya menjadi makhluk-makhluk yang rusak di muka bumi; sehingga Allah Yang Maha Kuasa dapat mengganti umat tak berkenan bagiNya dengan umat yang lebih baik. Nuh juga memohonkan pengampunan kepada Allah untuk dirinya beserta orang tuanya maupun orang-orang yang beriman, kemudian Allah mengabulkan pengaduan ini.

d. Bahtera Nuh

Allah memerintahkan Nuh mendirikan sebuah bahtera sebagai tempat perlindungan menghadapi air bah yang akan menenggelamkan seisi bumi serta melenyapkan segala makhluk di muka bumi. Nuh juga diperintahkan supaya berhenti meratapi perilaku keji kaumnya.

Sewaktu Nuh bersama para pengikutnya sedang mendirikan bahtera, terdapat orang-orang dari kaum kafir yang mencela; namun Nuh menyatakan bahwa kelak kaum kafir akan dicampakkan.

Setelah pembangunan bahtera terselesaikan, Allah mewahyukan kepada Nuh supaya menempatkan berbagai jenis hewan secara berpasang-pasang ke dalam bahtera tersebut supaya menyelamatkan keberlangsungan hewan-hewan tersebut di bumi. Selain itu, seluruh penghuni bahtera diperintah supaya memuja seraya berdoa kepada Allah selama berada dalam tempat tersebut. Orang-orang yang turut dalam bahtera, hanyalah Nuh dan para pengikutnya yang berjumlah sedikit, namun mereka inilah para leluhur ras manusia sebagai golongan pewaris kuasa, yang kemudian menjadi berbangsa-bangsa di bumi.

e. Bencana banjir bah

Badai yang sangat lebat disertai luapan air dari dalam tanah selama berhari-hari menyebabkan permukaan bumi hilang tersapu air dan melenyapkan segala makhluk hidup terkecuali para penghuni dalam bahtera Nuh. Air bah bahkan menutupi seluruh permukaan bumi; baik bukit maupun pegunungan tidak luput tenggelam terhadap terjangan ombak yang menjulang tinggi. Ketika air hampir menenggelamkan seluruh permukaan bumi, Nuh mendapati salah satu putranya, Kan'an, sedang mencari perlindungan terhadap air bah dengan berlindung ke sebuah puncak gunung. Kan'an sejak semula tidak percaya terhadap ajaran sang ayah, dan Kan'an justru memilih ikut dengan generasi-generasi pembangkang yang dibinasakan. Didasari rasa sayang terhadap sang anak, Nuh memanggil-manggil anak itu supaya masuk kedalam bahtera, namun anak itu justru berlari menghindar lalu anak itu turut bersama-sama kaum kafir tersebut. Nuh hendak meminta pengampunan untuk anaknya, namun Allah menegur supaya nabi tidak melakukan hal ini.

Setelah air bah surut, Allah menempatkan bahtera Nuh berlabuh di bukit Judi, kemudian Nuh beserta seisi makhluk hidup penghuni bahtera diselamatkan supaya meneruskan keberlangsungan makhluk hidup di muka bumi. Allah juga memberkahi Nuh beserta keturunan dari orang-orang yang menghuni bahtera tersebut. Allah menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran untuk seluruh umat manusia, sebab umat manusia mengalami hal serupa, sebagian besar manusia memandang diri mereka dan agama mereka sendiri sebagai kebenaran sejati, sehingga sulit menerima cara pandang dan kebenaran menurut Allah; maka sebagian besar manusia akan berada dalam kesesatan kemudian tenggelam dalam neraka, sementara itu hanya orang-orang tertentu yang sanggup memandang sebagaimana cara pandang Allah sehingga mengorbankan pandangan diri sendiri supaya berkenan untuk Allah dan layak sebagai penghuni surga.

(30)
(31)

KISAH NABI IBRAHIM AS

Ibrahim (bahasa Arab: ميهاربإ ) merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia bergelar Khalilullah (اللليلخ, Kesayangan Allah).[1] Ibrahim bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai para pendiri Baitullah. Ia diangkat menjadi nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di negeri Ur, yang sekarang dikenal sebagai Iraq. Ibrahim merupakan sosok teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai hal. Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha merupakan beberapa perayaan untuk memperingati sikap berbakti Ibrahim terhadap Allah.

Ibrahim termasuk golongan manusia pilihan di sisi Allah, serta termasuk golongan Ulul Azmi.

Nama Ibrahim diabadikan sebagai nama sebuah surah, serta disebut sebanyak 69 kali di Al- Qur'an.

LAHIR 2510 sebelum Hijiriyah di Ur, Iraq

MENINGGAL 2329 Sebelum Hijriyah (umur 175 tahun)

di Hebron, Tepi Barat

TEMPAT PERISTIRAHATAN Masjid Ibrahim

PENDAHULU Nuh

PENGGANTI Ishaq, Ya’qub

SUAMI/ISTRI Sarah, Hajar

ANAK Ismail, Ishaq

a. Kelahiran dan masa muda

Pada 2295 SM. Kerajaan Babilonia waktu itu diperintah oleh Namrudz, seorang raja bengis yang berkuasa secara absolut dan zalim. Kerajaan itu mendapat pertanda langka pada bintang-bintang bahwa akan ada seorang anak laki-laki perkasa lahir dan keturunannya akan memenuhi seisi bumi, dengan salah seorang keturunannya akan membunuh Namrudz.

Ketakutan terhadap kabar ini, maka ada perintah keji supaya bayi laki-laki itu harus dibunuh.[8]

Pada waktu yang hampir bersamaan, Azar merasakan kebahagiaan sekaligus kekhawatiran karena ia mendengar kabar bahwa istrinya sedang mengandung seorang anak, beberapa waktu setelah ia dinobatkan sebagai panglima kerajaan sehingga Azar diperintah Namrudz supaya kelak menyerahkan bayinya itu. Kemudian kedua putra Azar, yakni Nahor dan Haran, memberi pendapat tentang persoalan ini. Haran, sebagai seorang ahli nujum serta memiliki ilmu nubuat, berpendapat bahwa sang ayah dapat menyerahkan anak itu kepada raja, sebab Haran meyakini bahwa belum ada pertanda di langit yang gagal; sekalipun harus diserahkan ke pedang atau perapian, Haran percaya akan ada keajaiban yang membuat anak itu tetap hidup. Sementara itu, Nahor memberi saran supaya sang ibu meninggalkan Babilonia untuk sementara waktu, sehingga sang ayah dapat menyerahkan bayi lain sebagai ganti bayinya. Azar menerima saran Nahor supaya meninggalkan Babilonia.

Ketika telah menempatkan istrinya bersama seorang bidan supaya berlindung di sebuah gua sampai hari bersalin; Azar mengambil seorang bayi dari seorang hambanya untuk diserahkan ke Namrudz. Ketika penyembelihan bayi dilakukan, Namrudz bergembira sebab ia menyangka ancaman bagi kerajaannya telah lenyap. Sementara itu, ketika istri Azar telah mengalami persalinan, ia bersama seorang bidan merawat bayi yang dinamai Ibrahim. Setelah beberapa waktu, Ibrahim masih ditempatkan di dalam gua tersebut supaya menghindari

(32)

kecurigaan Namrudz. Kemudian Ibu kandung Ibrahim bersama seorang bidan harus beranjak pergi dalam keadaan berat hati, sehingga sang ibu menangis seraya berdoa: "Semoga Sang Pelindung selalu menyertaimu, wahai anakku..." maka Allah mengutus malaikat Jibril supaya hadir dan merawat Ibrahim.[8]

Haran masih mempercayai pertanda di langit bahwa adiknya masih selamat, sehingga Haran pergi mendatangi gua yang telah digunakan sebagai tempat perlindungan. Haran takjub ketika mendapati adiknya, yakni Ibrahim, telah menjadi seorang anak laki-laki yang dapat berbicara. Haran mengajak Ibrahim pulang ke negeri Babilonia, namun Ibrahim sempat menolak seraya menyatakan bahwa ia tidak mempunyai rumah karena ia mengaku telah tersesat di sebuah tempat yang tidak ia kenal. Pada akhirnya Haran berhasil membawa Ibrahim ke rumah sang ayah di Babilonia. Ketika Haran mempertemukan Ibrahim, sang ayah tidak percaya bahwa anak yang diajak Haran merupakan bayi yang telah ditinggalkan di gua. Ketika Ibrahim ditanyai tentang siapa yang selama ini memberinya makan, ia menjawab bahwa Yang Maha Pemberi yang menyediakan makanan untuknya, lalu ia kembali ditanya tentang siapa yang merawatnya saat sakit, ia menjawab bahwa Yang Maha Menyembuhkan yang melakukannya, kemudian ketika ditanya tentang siapa yang memberitahunya tentang jawaban- jawaban ini, Ibrahim menjawab bahwa Yang Maha Mengetahui yang mengajarinya. Maka Azar, ayah kandung Ibrahim, merasa heran dan takjub terhadap Ibrahim. Untuk menghindari kecurigaan Namrudz, Ibrahim diasuh di rumah Haran yang berada di luar wilayah Babilonia.

Di sana Ibrahim dibesarkan bersama anak-anak Haran yaitu Luth, Sarah dan Milka.

b. Mencari Tuhan yang sebenarnya

Ketika Ibrahim telah beranjak dewasa, ia merasa kehilangan sosok yang sebelumnya memberi makan dan perlindungan untuk dirinya, terlebih ia telah mendapati banyak orang yang merupakan para penyembah berhala tetapi Ibrahim mengingkari anggapan bahwa patung berhala adalah dewa; sehingga Ibrahim berniat untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya.

Maka Ibrahim memilih untuk berpindah ke rumah nabi Nuh selama beberapa waktu.[8]

Beberapa waktu kemudian, Ibrahim memutuskan pergi sebab ia belum mendapat jawaban yang memuasakan dalam pencariannya; walau demikian, Ibrahim pulang sambil memperoleh berbagai ilmu maupun risalah berharga dari nabi Nuh. Tatkala Ibrahim kembali ke rumah Azar, ayah kandungnya, ia sering mendapati sang ayah sedang membuat patung-patung serta meletakkan makanan di depan patung-patung itu sehingga menyebabkan Ibrahim bertanya- tanya tentang perilaku sang ayah. Mendapati jawaban bahwa sang ayah menyembah patung lantaran tradisi leluhur, Ibrahim mempertanyakan tradisi ini namun sang ayah membiarkan Ibrahim. Pada zaman Ibrahim, sebagian besar orang di Mesopotamia beragama politeisme, yakni sebuah tradisi penyembahan kepada lebih dari satu sembahan, baik sembahan-sembahan yang dianggap berada di muka bumi maupun sembahan-sembahan yang dianggap berada di langit, dan orang-orang tersebut membuat berbagai patung sebagai perlambangan sembahan- sembahan itu. Nahor menyatakan bahwa di langit ada berbagai sembahan, namun Ibrahim merasa perlu membuktikan ucapan ini.

Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan sebagian kisah tentang pencarian Ibrahim mengenai Tuhannya:

Ketika malam telah gelap, ia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: "aku tidak suka kepada yang tenggelam."

(33)

Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit ia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: "Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan."

— Al-An'am 6:76-78

Inilah daya logika yang Allah karuniakan untuk nabi Ibrahim sehingga ia menolak agama penyembahan langit yang sedang dipercayai kaumnya. Ibrahim pun menyadari bahwa Yang Mengendalikan bulan, bintang, matahari, siang dan malam; juga Yang Menciptakan seluruh makhluk di bumi adalah Tuhan yang sebenarnya.[9]

c. Peringatan terhadap para penyembah berhala

Semasa remaja, Ibrahim masih sering bertanya kepada sang ayah tentang Tuhan yang sesungguhnya. Walau demikian, ayahnya tetap tak menghiraukan Ibrahim. Sampai suatu ketika Ibrahim bertanya: "Terbuat dari apakah patung-patung ini?" maka ayahnya menunjukkan kayu sebagai bahan. Ibrahim pun mempertanyakan: "Patutkah kayu disebut sebagai sembahan?

benda mati yang hangus lenyap di perapian?" untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lain, Azar menyuruh Ibrahim menjual patung-patung. Tetapi didasari iman dan tauhid yang telah Allah ilhamkan, Ibrahim menyadari kesia-siaan patung berhala sehingga ia justru berdakwah kepada banyak orang tentang betapa tak berdaya patung buatan ayahnya: "Siapakah yang mau membeli patung-patung diam dan tidak berguna ini?" melalui berbagai cara, Ibrahim berusaha menyadarkan tentang kesia-siaan patung berhala, juga Ibrahim berupaya menyebarkan dakwah tentang Tuhan yang sesungguhnya.

Sewaktu mendapati Azar, ayah kandungnya, tetap tidak mau meninggalkan penyembahan patung berhala kayu, Ibrahim merasa sedih dan ingin menyadarkan sang ayah tentang kekeliruan ini. Ibrahim berusaha memperingatkan secara berulang-ulang, hingga Ibrahim menyatakan: "Sekiranya kayu memang sembahan, bukankah api dapat menghanguskan kayu? sekalipun api dianggap sebagai sembahan, maka air dapat memadamkan dan melenyapkan api; meskipun air dianggap sebagai sembahan, maka air akan lenyap diserap oleh tanah; sekalipun tanah dianggap sebagai sembahan, maka matahari mengeringkan tanah dan menjadikannya tandus; sekalipun matahari bersinar terang, tidaklah itu patut dianggap sebagai sembahan sebab matahari akan kehilangan cahaya karena awan yang bergumpal-gumpal dan lenyap dalam kegelapan malam lalu tergantikan sinar bulan dan bintang-bintang; Awan-awan ataupun malam tidaklah patut dianggap sebagai sembahan;

apakah sembahan hanya hadir dalam waktu tertentu dan menghilang dalam waktu tertentu pula, sementara umat manusia beserta segala makhluk di bumi selalu hidup dan hadir setiap waktu?

Bukankah Yang telah Menciptakan langit dan bumi beserta segala hal yang berada antara keduanya merupakan Tuhan yang sesungguhnya? kiranya kamu mau merenungkan."

Ibrahim berseru kepada kaumnya: "Apapun yang kalian sembah itu adalah segala yang kubenci selain Tuhannya alam semesta, Dialah yang menciptakan diriku dan membimbing diriku,[12] sebab Dialah yang menciptakan sesuatu berdasar TujuanNya dan KehendakNya, Dialah yang menghadirkan kebenaran kepadaku melalui pendengaranku, sebab semula aku hanya ciptaan yang bahkan tidak mengenali diri sendiri, Dialah yang menampakkan cahaya yang menerangi supaya aku mengetahui jalan yang harus kutempuh karena aku hanyalah

(34)

ciptaan yang tersesat di antara bumiNya dan langitNya, Dialah yang selalu hadir untukku sebab Dialah yang menyediakan segala hal untuk kumakan dan kuminum, Dialah yang menghidupkan orang yang mati untuk Dia dan yang mematikan orang yang hidup tanpa Dia.

Aku sendiri tidak mengetahui untuk apa aku dihidupkan maka tiada tugas bagiku di dunia selain melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Sang Pencipta yang menghidupkan diriku, dan aku pun bersedia mati, sekiranya Dia pula yang menghendaki hal tersebut. Lalu patutkah aku bersujud memuja benda-benda yang kalian serukan itu daripada menyembah Tuhan yang menghidupkan seluruh makhluk di bumi?" Dengan cara demikian, Ibrahim berusaha untuk menyadarkan kaumnya; walau mereka mengabaikan berbagai seruan Ibrahim;

bahkan mereka tetap berkeras meneruskan penyembahan berhala.

Sewaktu telah memperoleh berbagai risalah Allah, Ibrahim tetap bertekun dalam menyampaikan berbagai dakwah menentang tindakan penyembahan berhala yang berlangsung di tengah-tengah kaumnya; hingga ketika Ibrahim menyadarkan ayah kandungnya beserta kaumnya, tentang kesesatan penyembahan berhala:

"...dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, "Patutkah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

— Al-An'am 6:74

d. Ibadah Qurban

Ketika seorang putra Ibrahim telah mencapai usia dewasa, Allah hendak menguji kesetiaan Ibrahim terhadap perintah-perintahNya melalui sebuah mimpi tentang penyembelihan anak. Keimanan Ibrahim, yang telah berhasil menghadapi ujian-ujian sebelumnya, sama sekali tidak berubah sewaktu menerima perintah ini. Ibrahim mengajak putranya berangkat untuk melaksanakan perintah Allah, ia tidak sedikitpun mengeluh ataupun memohon keringanan dari Allah tentang perintah ini melainkan ia melaksanakan sebagaimana yang Allah perintahkan. Ketika Ibrahim membaringkan putranya untuk melaksanakan perintah Allah, terlebih dahulu ia meminta tanggapan dan persetujuan dari sang putra. Ibrahim berkata:

"Wahai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam sebuah mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka sampaikanlah apa pendapatmu!" putranya menjawab: "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; dengan perkenan Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."[53] Tatkala putranya telah merelakan diri serta Ibrahim telah bersiap mengulurkan tangan untuk menyembelih putranya, seketika Allah memanggil Ibrahim supaya menahan tangannya, sebab tindakan ini membuktikan bahwa Ibrahim bersedia melaksanakan apapun untuk Allah, juga membuktikan wujud seorang hamba yang berbakti serta seorang sosok yang terpercaya bagi Allah.[54] Kemudian Ibrahim mendapati seekor sembelihan besar sebagai kurban pengganti putranya.[55] Sumber Alkitabiah menjelaskan bahwa Ishaq adalah putra Ibrahim yang hendak dikurbankan. Walau demikian, sebagian besar sumber yang digunakan umat Islam merujuk kepada Ismail.[8]

Atas pengabdian sepenuhnya ini, maka Allah memberkahi Ibrahim, serta menyampaikan kabar bahwa Ishaq merupakan nabi yang termasuk golongan saleh,[56]

(35)

demikian pula Ya'qub sebagai penerus, sehingga Allah mengistimewakan ketiga sosok ini dengan buah tutur serta gelar terbaik di antara umat manusia yang pernah ada.[57] Ibrahim masih hidup untuk mendidik cucunya, Ya’qub, serta memberkati sang cucu. Sebelum meninggal dunia, Ibrahim bersyukur kepada Allah,[58] kemudian Ibrahim mengumpulkan putra-putranya untuk mewariskan agama kepada putra-putranya beserta kepada Ya’qub.[59]

e. MUKJIZAT NABI IBRAHIM AS 1. Melihat burung dihidupkan kembali

Sewaktu Ibrahim telah bertekad memerangi perilaku syirik dan penyembahan berhala, ia masih ingin meneguhkan keimanan terlebih dahulu sehingga dapat menenteramkan kalbu. Maka Ibrahim memohon kepada Allah, agar diperlihatkan kepada dirinya tentang cara Allah menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

"...dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepada diriku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap." Allah berfirman, "Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian- bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

— Al-Baqarah 2:260

2. Diselamatkan ketika berada di Perapian

Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan diri kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan.[5] Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair bahwasanya Malaikat Ar-Ra'd (malaikat pengatur awan dan hujan) mengatakan: "Kapan saja aku diperintah, maka aku akan menurunkan hujan" namun Firman Allah hadir lebih cepat,

"Kami berfirman, "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim."

— Al-Anbiya' 21:69

Ka'ab al-Ahbar meriwayatkan, "Saat itu seluruh penduduk bumi tidak bisa menyalakan api, sedangkan Ibrahim tidak terbakar sedikitpun selain tali yang mengikat dirinya."

Sedangkan menurut As-Suddiy, "Saat itu Ibrahim didampingi oleh Malaikat Azh-Zhil (malaikat pemberi naungan), sehingga sewaktu Ibrahim berada di kobaran api, sebenarnya ia berada di taman hijau. Orang-orang melihatnya namun tidak mampu memahami keadaan itu dan ia pun tidak keluar untuk menemui mereka." Ibnu Majah meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim dilempar ke dalam kobaran api besar; semua hewan di muka bumi berusaha memadamkan api tersebut, kecuali tokek yang berusaha membuat api membesar.[6]

3. Pasir berubah menjadi makanan

Abdur Razzaq meriwayatkan bahwasanya ketika Namrudz memiliki banyak persediaan makanan, terdapat orang-orang yang hadir untuk memperoleh kebutuhan makanan, termasuk Ibrahim yang turut hadir. Menurut kitab "Qashash al-Anbiyaa", pada sebuah

(36)

hari ketika persediaan makanan telah habis, Ibrahim mengambil gundukan pasir, yang kemudian berubah menjadi bahan makanan tatkala ia sampai di rumah.[7]

Referensi

Dokumen terkait