Materi Nabi dan Rosul
3. Pasir berubah menjadi makanan
Abdur Razzaq meriwayatkan bahwasanya ketika Namrudz memiliki banyak persediaan makanan, terdapat orang-orang yang hadir untuk memperoleh kebutuhan makanan, termasuk Ibrahim yang turut hadir. Menurut kitab "Qashash al-Anbiyaa", pada sebuah
hari ketika persediaan makanan telah habis, Ibrahim mengambil gundukan pasir, yang kemudian berubah menjadi bahan makanan tatkala ia sampai di rumah.[7]
KISAH NABI MUSA AS
Musa adalah seorang rasul dan nabi pilihan Allah yang diutus menghadap kepada kaum Fir'aun, serta diutus membebaskan Bani Israel menghadapi penindasan bangsa Mesir.[1] Musa dikenal sebagai perantara dalam hal pengajaran agama dan pengampunan dosa untuk Bani Israel.[2] Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara dengan Allah).[3] Musa merupakan figur yang paling sering disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta termasuk golongan Ulul Azmi.
Musa dilahirkan di negeri Mesir sewaktu Bani Israel tinggal sebagai bangsa pendatang sejak zaman Nabi Yusuf. Imran dan Yukhabad merupakan kedua orang tua Musa yang berasal dari Suku Lawy. Musa merupakan adik kandung Nabi Harun dan Miryam.
a. Kelahiran
Sebelum Musa lahir, seluruh anggota keluarga Ya'qub tinggal sebagai masyarakat pendatang di negeri Mesir. Selama masa kekuasaan nabi Yusuf, Bani Israel dilimpahi banyak kemudahan hidup. Akan tetapi keadaan mulai berubah sepeninggal Yusuf, oleh sebab raja yang menggantikan Yusuf tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman hidup dengan bangsa Bani Israel. Bangsa ini diperbudak oleh Mesir lantaran Fir'aun pada zaman itu merupakan raja yang zalim serta memecah belah rakyatnya melalui tindakan menindas kalangan yang dipandang lemah.[4]
Tatkala Fir'aun mendapati sebuah mimpi yang mengguncangkan; seorang ahli tafsir mimpi memahami makna mimpi tersebut sebagai pertanda buruk bagi kekuasaan Fir'aun;
bahwa akan ada seorang anak laki-laki dari Bani Israel yang menjadi seorang laki-laki gagah perkasa yang kelak memimpin golongan pengikutnya melawan kekuasaan Mesir serta membawa berbagai kehancuran hebat di negeri Mesir; juga para pengikut orang tersebut akan mengangkut harta kekayaan yang berlimpah disertai bantuan kekuatan milik musuh Mesir lalu menumpas seluruh kaum pemuka di bangsa Mesir pula. Fir'aun beserta seluruh pemuka kaumnya merasa ketakutan bahwa penafsiran mimpi itu bermakna bahwa Bani Israel kelak bersekutu dengan musuh Mesir untuk menghancurkan negeri Mesir.[5] Pada saat bersamaan, jumlah lelaki di Bani Israel bertambah pesat sehingga kaum Fir'aun tidak bisa memperkirakan siapakah anak yang diramalkan itu. Maka diadakan sebuah perintah keji di Mesir bahwa seluruh anak laki-laki yang baru lahir harus dibunuh, sedangkan seluruh anak perempuan yang baru lahir boleh dibiarkan hidup.[6]
Namun terdapat seorang bangsawan di istana Fir'aun yang menyarankan supaya tidak berupaya melawan ketetapan tersebut melainkan tunduk menjadi pengikut orang Bani Israel tersebut, agar seisi istana Fir'aun tidak turut dilenyapkan. Walaupun demikian, Fir'aun justru berlaku sombong seraya sewenang-wenang mendakwakan diri sebagai dewa atas bangsa Mesir: "Haruskah dewa sehebat diriku tunduk berpasrah terhadap seorang manusia dari kalangan yang diperbudak oleh kaum kita sendiri?" kemudian Fir'aun membujuk para pengikutnya melaksanakan perintah keji ini.[7]
Mendengar kabar tentang perintah keji Fir'aun, Imran merasa sangat gelisah tentang keselamatan anak yang dikandung Yukhabad, istrinya. Kedua anak Imran; Harun dan Miryam, memberi tanggapan tentang kejadian ini; Miryam sebagai seorang nabiah, mendapati pertanda nubuat bahwa seorang anak laki-laki akan dilahirkan ibunya dan anak itu akan mengalami
kejadian hebat dalam perairan, sehingga Miryam menyarankan supaya anak tersebut diletakkan ke sebuah perairan atau sungai oleh sebab Miryam meyakini akan ada keajaiban Allah yang akan menyelamatkan anak itu menghadapi air. Akan tetapi Imran merasa khawatir bahwa nubuat yang disampaikan oleh putrinya itu tidak terwujud.[8] Harun, yang juga merupakan seorang nabi, menyampaikan saran supaya sang ibu ditempatkan di tempat yang aman, supaya anak tersebut dapat dilahirkan dalam keadaan tenang sementara seluruh anggota keluarga yang lain berpuasa serta berdoa secara bersungguh-sungguh demi keselamatan anak tersebut kemudian berpasrah menyerahkan nasib anak tersebut kepada Allah, oleh sebab Harun meyakini bahwa Allah sanggup menghadirkan sesosok malaikat yang selalu menyertai anak tersebut supaya kembali di tengah-tengah mereka dalam keadaan selamat. Imran merasa tentram ketika mendengar ucapan bijaksana Harun, sehingga Imran menempatkan Yukhabad bersama Miryam di sebuah gua supaya berlindung hingga hari bersalin.
Setelah Yukhabad melahirkan seorang anak laki-laki; tepat sebagaimana pertanda yang telah diperoleh Miryam, ia merasa sangat bahagia sekaligus tak tega apabila harus menyerahkan putranya kepada kaum Fir'aun. Miryam merasa bergembira bahwa pertanda nubuat yang diperoleh merupakan kebenaran lalu Miryam bersegera memberitahu ayahnya dan Harun, supaya berdoa demi keselamatan anak laki-laki ini. Sementara itu, Yukhabad berada dalam kegelisahan antara menyerahkan sang putra kepada pemuka kaum Fir'aun atau menuruti anjuran Miryam untuk menempatkan sang anak ke dalam wilayah perairan, Yukhabad berdoa seraya menangis untuk menentukan nasib anaknya. Maka Allah mewahyukan kepada Yukhabad,[9] supaya menenangkan diri lalu meletakkan anak tersebut ke dalam sebuah tabut kemudian menempatkan tabut itu menuju sebuah sungai seraya mempercayakan nasib anak tersebut kepada Yang Maha Melindungi. Yukhabad menempatkan sang anak dalam sebuah tabut yang ia temukan lalu melepas tabut itu sambil berdoa supaya Allah selalu menjaga keselamatan anak tersebut agar kembali kepada keluarganya, seraya supaya kelak diperkenan sebagai hamba yang berbakti kepada Allah.
Yukhabad mengakui bukti kebenaran pertanda nubuat Miryam lalu menyuruh gadis itu mengikuti kemana tabut akan menepi.[10] Miryam pun mendapati dari kejauhan sewaktu istri Fir'aun sedang menarik tubuh adiknya dari perairan seraya wanita itu berkata "Musa, Musa."
Miryam menduga hal ini merupakan pertanda buruk sehingga ia khawatir tentang keselamatan Musa. Miryam bersegera mendekat ke tengah kerumunan wanita yang hendak menyusui Musa, supaya memastikan apa yang akan terjadi pada sang adik. Tatkala Musa tidak mau menerima penyusuan dari siapapun; Miryam menyadari bahwa hal ini merupakan cara Allah untuk mengembalikan Musa ke ibu kandungnya, kemudian Miryam menawarkan bantuan supaya menghadirkan seorang wanita yang sanggup menyusui Musa. Ketika Yukhabad dipertemukan kembali dengan anaknya, perasaan sang ibu menjadi lega dan bersyukur bahwa Allah telah memenuhi janji tentang Musa; sehingga Yukhabad dapat mengasuh Musa, putra kandungnya.[11]
b. Kehidupan di Istana Mesir
Setelah beberapa waktu, Musa dijadikan sebagai anak angkat oleh istri Fir'aun serta Musa bergelar seorang pangeran negeri Mesir. Ia belajar di istana Mesir untuk mewarisi Ilmu- Ilmu khusus beserta Hikmah-Hikmah berharga yang ditinggalkan Nabi Yusuf, salah seorang putra Nabi Ya'qub, yang sebelumnya menjadi penguasa di negeri Mesir. Musa secara mudah menyerap berbagai Ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba pilihan Allah.[12] Musa tidak seperti para pemuka kaum Fir'aun yang tidak mengimani Allah sehingga kaum pemuka Fir'aun
mengalami kesulitan untuk memahami peninggalan berharga ini. Mewarisi Hikmah-Hikmah Yusuf, sosok Musa yang masih muda memiliki kebijaksanaan mengungguli kaum tetua di Mesir.
Seisi istana Fir'aun merasa heran terhadap Musa yang sanggup menyingkapkan berbagai perkara rumit sebagaimana kemampuan istimewa nabi Yusuf, sehingga kaum Fir'aun mulai menduga bahwa Musa merupakan anak laki-laki yang pernah diramalkan. Akan tetapi salah seorang pemuka dalam kaum Fir'aun menyatakan bahwa perlu ada pembuktian tentang kebenaran dugaan ini. Pemuka itu menyuruh Musa supaya memilih antara bara api yang panas atau batu permata. Tatkala Musa memilih bara api, kaum Fir'aun meyakini bahwa Musa bukanlah orang yang diramalkan. Setelah itu, Musa tidak lagi dihadirkan di tengah-tengah para pemuka kaum Fir'aun sebab mereka merasa malu apabila Fir'aun yang telah mengaku dewa kemudian dipimpin oleh Musa, berbeda dengan Raja Mesir terdahulu yang bersedia dipimpin oleh Yusuf.
c. Melarikan diri dari negeri Mesir
Sebagai seorang yang berkedudukan di negeri Mesir, Musa berhak pergi kemanapun ia kehendaki di wilayah Mesir, termasuk ketika Musa mengunjungi wilayah Mesir yang ditempati Bani Israel. Ia merasa iba hati sewaktu melihat Bani Israel diperlakukan secara sewenang- wenang di negeri Mesir. Tatkala mendapati ada seorang Mesir memukul seorang dari kalangan Bani Israel, Musa segera mendekat dan mempertanyakan tindakan orang Mesir itu. Orang Mesir menjawab bahwa seluruh Bani Israel adalah kaum budak sehingga boleh diperlakukan sekehendak hati; seketika Musa membantah dengan menyatakan bahwa Bani Israel adalah golongan pewaris hamba-hamba pilihan Allah. Lalu orang Mesir itu menertawakan Musa seraya menantang sebuah bukti kebenaran hukuman Allah akibat pemukulan kepada seorang hamba Allah, jika benar bahwa Bani Israel memang golongan hamba Allah. Musa yang dipenuhi amarah memberi balasan setimpal untuk membela seorang dari kalangannya, sehingga Musa meninju orang Mesir yang tanpa diduga menyebabkan kematian orang Mesir tersebut.[13]
Musa merasa bersalah karena telah menuruti hawa nafsu atas hal ini karena ia sebenarnya tidak memiliki niat membunuh orang Mesir.[14] Ia menguburkan orang Mesir itu lalu berlari sambil memohon pengampunan serta memohon perlindungan kepada Allah terhadap persoalan ini. Keesokan harinya Musa kembali mendapati dua orang berkelahi;
keduanya sama-sama berasal dari Bani Israel. Musa menyalahkan kedua orang itu, namun salah seorang dari keduanya menyatakan telah mengetahui tindakan Musa sehari sebelumnya,[15]
Musa pun merasa cemas dan berusaha mencari perlindungan. Tatkala seisi Istana Mesir mendengar kabar ini, mereka memperdebatkan tentang hukuman untuk Musa dalam beberapa waktu sehingga Allah menyelamatkan Musa menghadapi persoalan ini. Sewaktu ketetapan terhadap Musa telah diputuskan; salah seorang dari kalangan Musa yang mendengar keputusan ini segera berlari menjumpai Musa supaya dapat meluputkan diri terhadap hukuman kaum Fir'aun.[16]
Musa berdoa seraya memohon perlindungan terhadap kaum Fir'aun dalam kepergiannya.[17] Tatkala ia sampai di negeri Madyan, Musa mendapati dua orang perempuan sedang menggembalakan ternak. Ketika mengetahui bahwa mereka berdua sedang menunggu untuk memberi minum ternak, Musa membukakan sebuah sumur air sehingga ternak itu dapat minum. Tatkala Musa merasa letih akibat perjalanan meninggalkan Mesir, ia berdoa memohon pertolongan Allah.[18] Tak lama kemudian Musa mendapati seorang perempuan yang telah ia
bantu; perempuan itu mendekat dan bertanya tentang diri Musa, Musa menyatakan bahwa ia datang dari Mesir, kemudian Musa diundang ke rumah ayah perempuan itu yakni Yitro; sebab sang ayah hendak memberi hadiah kepada orang yang membantu menggembalakan ternaknya.[19]
Tatkala Musa sampai di rumah sang ayah dari perempuan itu, Musa memperkenalkan diri dan menceritakan permasalahan yang dihadapinya. Yitro menenangkan Musa seraya berkata "Jangan khawatir sebab kamu telah selamat menghadapi orang-orang zalim itu."[20]
Mendapati kekuatan tubuh Musa dan pribadi yang terpercaya untuk menggembakan ternak;
perempuan itu menyarankan kepada sang ayah supaya menjadikan Musa sebagai penggembala yang bekerja untuk keluarga mereka.[21] Yitro menyadari pula bahwa perempuan-perempuan tak seharusnya bekerja sebagai penggembala; maka Yitro berencana memberikan salah seorang putrinya untuk Musa, dengan syarat bekerja menggembalakan ternak selama delapan tahun, Yitro mengizinkan apabila Musa hendak menggenapi masa bekerja menjadi sepuluh tahun.
Musa bersedia menyanggupi persyaratan ini,[22] dan ia berjanji kepada Yitro; kemudian Musa dinikahkan dengan anak perempuan Yitro. Selama tinggal di negeri Madyan, Musa memperoleh dua putra, yakni Girsom dan Eliezer.
d. MUKJIZAT NABI MUSA AS 1. Membelah Lautan
Nabi Musa mampu membelah lautan dengan tongkatnya. cerita dimulai saat ia bersama pengikutnya dikejar oleh firaun yang juga bersama dengan pasukannya. namun nabi Musa akhirnya menemui jalan buntu dan harus berhadapan dengan luasnya lautan, Allah SWT pun memberikan wahyu kepada nabi Musa AS agar memukulkan tongkatnya ke laut dan atas izin Allah SWT maka lautan pun terbelah menjadi dua dan memberikan jalan bagi nabi Musa dan para pengikutnya untuk lewat. nabi Musa pun berhasil melewatinya dan sampai ke seberang, sedangkan firaun dan pasukannya yang juga melewati jalan tersebut ditenggelamkan oleh Allah SWT karena laut kembali menyatu dan membuat firaun mati bersama dengan seluruh pasukannya karena tenggelam. “… Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (QS. Taha: 77) “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah
lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’araa’: 26:63)