• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

N/A
N/A
Warsiyem, S.pd

Academic year: 2025

Membagikan "Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Teks Khotbah Jum’at

Judul : Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu Oleh : Ustadz Muhammad Idris, Lc.

Khotbah Pertama

ُمَﻼﱠﺳﻟا

ْمُﻛْﯾَﻠَﻋ

ُﺔَﻣ ْﺣَر َو

ُﮫُﺗﺎَﻛرَﺑ َو ِﷲ .

ّنِإ

َدْﻣ َﺣْﻟا

ُهُدَﻣ ْﺣَﻧ ِ ِ

ُﮫُﻧْﯾِﻌَﺗ ْﺳَﻧ َو

ُهُرِﻔ ْﻐَﺗ ْﺳَﻧ َو

ُذ ْوُﻌَﻧ َو

ِ ﺎِﺑ

ِر ْوُرُﺷ ْنِﻣ ﺎَﻧ ِﺳُﻔْﻧَأ

ِتﺎَﺋّﯾَﺳ َو ﺎَﻧِﻟﺎَﻣ ْﻋَأ

ْنَﻣ

ِهِدْﮭَﯾ

َﻼَﻓ ُﷲ

ّل ِﺿُﻣ

ْنَﻣ َو ُﮫَﻟ

ْلِﻠ ْﺿُﯾ

َيِدﺎَھ َﻼَﻓ

ُﮫَﻟ

ُدَﮭْﺷَأ

ۧ َﻻ ْنَأ

َﮫ ٰﻟِإ ﱠﻻِإ

ُهَد ْﺣ َو ُﷲ

َكْﯾ ِرَﺷ َﻻ

،ُﮫَﻟ

ُدَﮭْﺷَأ َو اًدﱠﻣ َﺣُﻣ ﱠنَأ

ُهُدْﺑَﻋ

ُﮫُﻟ ْوُﺳ َر َو .

ﱠمُﮭّٰﻠﻟَا

ْمﱢﻠَﺳ َو ﱢلَﺻ ﻰ ٰﻠَﻋ

ِدﱠﻣ َﺣَﻣ

،ﻰ ٰﺑَﺗ ْﺟُﻣْﻟﺎِﻧ ﻰ ٰﻠَﻋ َو

ِﮫِﻟآ

ِﮫِﺑ ْﺣَﺻ َو

ِلْھَأ ﻰ ٰﻘﱡﺗﻟا .ﻰ ٰﻓ َوْﻟا َو ﺎﱠﻣَأ

ُد ْﻌَﺑ ﺎَﮭﱡﯾَأﺎَﯾَﻓ

! َن ْوُﻣِﻠ ْﺳُﻣْﻟا

ْمُﻛْﯾ ِﺻ ْوُأ

ْﻲ ِﺳْﻔَﻧ َو ى َوْﻘَﺗِﺑ

ِﮫِﺗَﻋﺎَط َو ِﷲ

ْدَﻘَﻓ

َزﺎَﻓ ﻰَﻘﱠﺗا ِنَﻣ

َلﺎَﻘَﻓ ﻰ ٰﻟﺎَﻌَﺗ ُﷲ

ِﮫِﺑﺎَﺗِﻛ ْﻲِﻓ

ِمْﯾ ِرَﻛْﻟا :

ﺎَﯾ ﺎَﮭﱡﯾَأ

ُسﺎﱠﻧﻟا اوُﻘﱠﺗا

ُمُﻛﱠﺑ َر يِذﱠﻟا

ْمُﻛَﻘَﻠ َﺧ

ٍسْﻔَﻧ ْنِﻣ

ٍةَدِﺣا َو

َقَﻠ َﺧ َو ﺎَﮭْﻧِﻣ ﺎَﮭ َﺟ ْو َز ﱠثَﺑ َو

ﺎَﻣُﮭْﻧِﻣ

ًﻻﺎَﺟ ِر

ا ًرﯾِﺛَﻛ

ًءﺎَﺳِﻧ َو اوُﻘﱠﺗا َو

يِذﱠﻟا َ ﱠﷲ

َنوُﻟَءﺎَﺳَﺗ

ِﮫِﺑ

َمﺎ َﺣ ْرَ ْﻷا َو ﱠنِإ

َنﺎَﻛ َ ﱠﷲ

ْمُﻛْﯾَﻠَﻋ ﺎًﺑﯾِﻗ َر

Ma’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.

(2)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,

ْٓيِذﱠﻟا َوُھ

َلَﺳ ْرَا

ٗﮫَﻟ ْوُﺳ َر ى ٰدُﮭْﻟﺎِﺑ

ِنْﯾِد َو ﱢق َﺣْﻟا

ٗه َرِﮭْظُﯾِﻟ ﻰَﻠَﻋ

ِنْﯾﱢدﻟا

ٖۙﮫﱢﻠُﻛ

ْوَﻟ َو

َه ِرَﻛ

َن ْوُﻛ ِرْﺷُﻣْﻟا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS.

As-Saf: 9)

Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,

ﺎﱠﻧِا

ُن ْﺣَﻧ ﺎَﻧْﻟ ﱠزَﻧ

َرْﻛﱢذﻟا ﺎﱠﻧِا َو

َن ْوُظِﻔ ٰﺣَﻟ ٗﮫَﻟ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya.

Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di

antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya,

(3)

manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ُلِﻣ ْﺣَﯾ اَذَھ

َمْﻠِﻌﻟْا

ْنِﻣ

ٍفَﻠ َﺧ ﱢلُﻛ

،ُﮫُﻟ ْوُدُﻋ

َن ْوُﻔْﻧُﯾ

ُﮫْﻧَﻋ

َفْﯾ ِر ْﺣَﺗ

َنْﯾﱢﻟﺎَﻐﻟا

َلْﯾِوْﺄَﺗ َو

َنْﯾِﻠِھﺎ َﺟﻟا

َلﺎ َﺣِﺗْﻧا َو

َنْﯾِﻠ ِطْﺑُﻣْﻟا.

“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk

bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,

ا ْٓوُﻠَٔـْﺳﺎَﻓ

َلْھَا

ِرْﻛﱢذﻟا

ْمُﺗْﻧُﻛ ْنِا

َۙن ْوُﻣَﻠْﻌَﺗ َﻻ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai

pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43) Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu

kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani

berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.

(4)

Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,

Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih

mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah

mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong

ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang

dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah

halalkan.

Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﱠنإ

ِطا َرْﺷأ نِﻣ

ِﺔَﻋﺎﱠﺳﻟا

َﻊَﻓ ْرُﯾ ْنأ

،ُمْﻠِﻌﻟا

َرُﺛْﻛَﯾو

ُلْﮭ َﺟﻟا

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)

Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﱠنِإ ﷲ

ُﺾِﺒْﻘَﯾ ﻻ

َﻢْﻠِﻌﻟا

ًﺎَﻋاَﺰِﺘْﻧا

ُﮫُﻋِﺰَﺘْﻨَﯾ ﻦﻣ

ِدﺎﺒِﻌﻟا

ْﻦِﻜَﻟو

ُﺾِﺒْﻘَﯾ

َﻢْﻠِﻌﻟا

ِﺾْﺒَﻘِﺑ

ِﺀﺎَﻤَﻠُﻌﻟا ﻰﱠﺘﺣ

اذإ

ْﻢَﻟ

ِﻖْﺒُﯾ

ٌﻢِﻟﺎَﻋ

َﺬَﺨﱠﺗا سﺎﻨﻟا

ًﺎَﺳؤر

ًﻻﺎﱠﮭُﺟ

، اﻮﻠِﺌُﺴَﻓ اْﻮَﺘْﻓَﺄَﻓ

ِﺮْﯿَﻐِﺑ

ٍﻢْﻠِﻋ اﻮﱡﻠَﻀَﻓ اﻮﱡﻠَﺿَأ َو

(5)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah

mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat

orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR.

Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan,

“Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.

Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.

Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang

manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya.

Allah Ta’ala berfirman,

(6)

َﻻ َو ا ْوُﻟ ْوُﻘَﺗ ﺎَﻣِﻟ

ُف ِﺻَﺗ

ُمُﻛُﺗَﻧ ِﺳْﻟَا

َبِذَﻛْﻟا اَذ ٰھ

ٌل ٰﻠ َﺣ اَذ ٰھ ﱠو

ٌما َر َﺣ ا ْوُرَﺗْﻔَﺗﱢﻟ ﻰَﻠَﻋ

ِ ّٰﷲ

َۗبِذَﻛْﻟا

َنْﯾِذﱠﻟا ﱠنِا

َن ْوُرَﺗْﻔَﯾ ﻰَﻠَﻋ

ِ ّٰﷲ

َبِذَﻛْﻟا

َۗن ْوُﺣِﻠْﻔُﯾ َﻻ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.

Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

ﱠنِإ ﺎًﺑِذَﻛ ﱠﻰَﻠَﻋ

َسْﯾَﻟ

ٍبِذَﻛَﻛ ﻰَﻠَﻋ

ٍد َﺣَأ

ْنَﻣ ،

َبَذَﻛ ﱠﻰَﻠَﻋ اًدﱢﻣَﻌَﺗُﻣ

ْأ ﱠوَﺑَﺗَﯾْﻠَﻓ

ُهَدَﻌْﻘَﻣ

ِرﺎﱠﻧﻟا َنِﻣ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)

Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,

ﺎَﻣﱠﻧِا ْلُﻗ

َم ﱠر َﺣ

َﻲﱢﺑ َر

َشِﺣا َوَﻔْﻟا ﺎَﻣ

َرَﮭَظ ﺎَﮭْﻧِﻣ ﺎَﻣ َو

َنَطَﺑ

َمْﺛِ ْﻻا َو

َﻲ ْﻐَﺑْﻟا َو

ِرْﯾَﻐِﺑ ﱢق َﺣْﻟا

ْنَا َو ا ْوُﻛ ِرْﺷُﺗ

ِ ّٰ ﺎِﺑ

ْمَﻟ ﺎَﻣ

ْلﱢزَﻧُﯾ

ٖﮫِﺑ ﺎًﻧ ٰطْﻠُﺳ

ْنَا ﱠو ا ْوُﻟ ْوُﻘَﺗ ﻰَﻠَﻋ

ِ ّٰﷲ

َﻻ ﺎَﻣ

َن ْوُﻣَﻠ ْﻌَﺗ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi,

perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan

(7)

sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)

Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.

Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman,

ﺎَﻣﱠﻧِإ مُﻛُرُﻣْﺄَﯾ

ِءوﱡﺳﻟﺎِﺑ

ِءﺂَﺷ ْﺣَﻔْﻟا َو نَأ َو

اوُﻟوُﻘَﺗ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻣ ِﷲ

َنوُﻣَﻠ ْﻌَﺗ َﻻ

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)

Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala.

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner.

Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan

(8)

juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk

menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat.

Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,

َﻻ َو

ُفْﻘَﺗ ﺎَﻣ

َسْﯾَﻟ

ٖﮫِﺑ َكَﻟ

ٌمْﻠِﻋ ﱠنِاۗ

َﻊْﻣﱠﺳﻟا

َرَﺻَﺑْﻟا َو

َدا َؤُﻔْﻟا َو

َكِٕﯨٰۤﻟوُا ﱡلُﻛ

َنﺎَﻛ

ُﮫْﻧَﻋ

ًﻻ ْؤُـْﺳَﻣ

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’:

36)

Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman, اَذِإ َو

َمِﻠَﻋ ﺎَﻧِﺗ َٰﯾاَء ْنِﻣ

ﺎًٔـْﯾَﺷ ﺎَھَذ َﺧﱠﺗٱ ا ًوُزُھ

َۚكِﺋَٰٓﻟ ۟وُأ

ْمُﮭَﻟ

ٌباَذَﻋ

ٌنﯾِﮭﱡﻣ

“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9) Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang

(9)

memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,

اَذِا َو

َتْﯾَا َر

َنْﯾِذﱠﻟا

َن ْوُﺿ ْوُﺧَﯾ

ْٓﻲِﻓ ﺎَﻧِﺗ ٰﯾٰا

ْض ِرْﻋَﺎَﻓ

ْمُﮭْﻧَﻋ ﻰ ّٰﺗ َﺣ ا ْوُﺿ ْوُﺧَﯾ

ْﻲِﻓ

ٍثْﯾِد َﺣ

ٖۗه ِرْﯾَﻏ ﺎﱠﻣِا َو

َكﱠﻧَﯾ ِﺳْﻧُﯾ

ُن ٰطْﯾﱠﺷﻟا

َﻼَﻓ

ْدُﻌْﻘَﺗ

َد ْﻌَﺑ ى ٰرْﻛﱢذﻟا

ِم ْوَﻘْﻟا َﻊَﻣ

َنْﯾِﻣِﻠ ّٰظﻟا

“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang

memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)

Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan

melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan

kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab

masuknya kita ke dalam surga.

Jemaah yang berbahagia.

Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu,

menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati

(10)

ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.

ُل ْوُﻗَأ

ْﻲِﻟ ْوَﻗ اَذ ٰھ

ُرِﻔ ْﻐَﺗ ْﺳَأ َو

ْﻲِﻟ َﷲ

،ْمُﻛَﻟ َو

،ُه ْوُرِﻔ ْﻐَﺗ ْﺳﺎَﻓ

ُﮫﱠﻧِإ

ُر ْوُﻔَﻐْﻟا َوُھ

ُمْﯾِﺣ ﱠرﻟا

(11)

Khotbah Kedua

ُدْﻣ َﺣْﻟَا

ِ،ﻰَﻔَﻛ َو

ْﻲﱢﻠَﺻُأ َو

ُمﱢﻠَﺳُأ َو ﻰَﻠَﻋ

ٍدﱠﻣ َﺣُﻣ

،ﻰَﻔَط ْﺻُﻣْﻟا ﻰَﻠَﻋ َو

ِﮫِﻟآ

ِﮫِﺑﺎَﺣْﺻَأ َو

ِلْھَأ .ﺎَﻓ َوْﻟا

ُدَﮭْﺷَأ

ﱠﻻ ْنَأ

َﮫﻟِإ ﱠﻻِإ

ُهَد ْﺣ َو ُﷲ

َكْﯾ ِرَﺷ َﻻ

،ُﮫَﻟ

ُدَﮭْﺷَأ َو اًدﱠﻣ َﺣُﻣ ﱠنَأ

ُهُدْﺑَﻋ

ُﮫُﻟ ْوُﺳ َر َو ﺎﱠﻣَأ

ُد ْﻌَﺑ ،

ﺎَﯾَﻓ ﺎَﮭﱡﯾَأ

، َن ْوُﻣِﻠ ْﺳُﻣْﻟا

ْمُﻛْﯾ ِﺻ ْوُأ

ْﻲ ِﺳْﻔَﻧ َو ى َوْﻘَﺗِﺑ

ﱢﻲِﻠَﻌْﻟا ِﷲ

ِمْﯾ ِظَﻌْﻟا ا ْوُﻣَﻠ ْﻋا َو

َﷲ ﱠنَأ

ْمُﻛ َرَﻣَأ

ٍرْﻣَﺄِﺑ

،ٍمْﯾ ِظَﻋ

ْمُﻛ َرَﻣَأ

ِة َﻼﱠﺻﻟﺎِﺑ

ِم َﻼﱠﺳﻟا َو ﻰَﻠَﻋ

ِﮫﱢﯾِﺑَﻧ

ِمْﯾ ِرَﻛْﻟا :َلﺎَﻘَﻓ

ﱠنِإ

ُﮫَﺗَﻛِﺋ َﻼَﻣ َو َﷲ

َنوﱡﻠَﺻُﯾ ﻰَﻠَﻋ

، ﱢﻲِﺑﱠﻧﻟا

ﺎَﯾ ﺎَﮭﱡﯾَأ

َنﯾِذﱠﻟا اوُﻧَﻣآ اوﱡﻠَﺻ

ِﮫْﯾَﻠَﻋ اوُﻣﱢﻠَﺳ َو

ﺎًﻣﯾِﻠ ْﺳَﺗ ،

ﱠمُﮭﱠﻠﻟَا ﻰَﻠَﻋ ﱢلَﺻ

ٍدﱠﻣ َﺣُﻣ ﻰَﻠَﻋ َو

ٍدﱠﻣ َﺣُﻣ ِلآ ﺎَﻣَﻛ

َتْﯾﱠﻠَﺻ ﻰَﻠَﻋ

َمْﯾِھا َرْﺑِإ ﻰَﻠَﻋ َو

،َمْﯾِھاَرْﺑِإ ِلآ

َكﱠﻧِإ

ٌدْﯾِﻣ َﺣ

.ٌدْﯾِﺟَﻣ

ْك ِرﺎَﺑ َو ﻰَﻠَﻋ

ٍدﱠﻣ َﺣُﻣ ﻰَﻠَﻋ َو

ٍدﱠﻣ َﺣُﻣ ِلآ ﺎَﻣَﻛ

َتْﻛ َرﺎَﺑ ﻰَﻠَﻋ

َمْﯾِھا َرْﺑِإ ﻰَﻠَﻋ َو

،َمْﯾِھاَرْﺑِإ ِلآ

َكﱠﻧِإ

ٌدْﯾِﻣ َﺣ

ٌدْﯾِﺟَﻣ ﱠمُﮭّٰﻠﻟَا

ْرِﻔ ْﻏا

َنْﯾِﻣِﻠ ْﺳُﻣْﻠِﻟ

ِتﺎَﻣِﻠ ْﺳُﻣْﻟا َو

َنْﯾِﻧِﻣ ْؤُﻣْﻟاو

ِتﺎَﻧِﻣ ْؤُﻣْﻟا َو

ِءﺎَﯾ ْﺣَ ْﻷا

ْمُﮭْﻧِﻣ

ِتا َوْﻣَ ْﻷا َو ،

مﮭﻠﻟا

ْﻊَﻓ ْدا ﺎﱠﻧَﻋ

َء َﻼَﺑْﻟا

َء َﻼَﻐْﻟا َو

َءﺎَﺑ َوْﻟا َو

َءﺎَﺷ ْﺣَﻔْﻟا َو

َرَﻛْﻧُﻣْﻟا َو

َﻲ ْﻐَﺑْﻟا َو

َف ْوُﯾﱡﺳﻟا َو

َﺔَﻔِﻠَﺗ ْﺧُﻣْﻟا

َدِﺋاَدﱠﺷﻟا َو

، َن َﺣِﻣْﻟا َو

َرَﮭَظ ﺎَﻣ ﺎَﮭْﻧِﻣ ﺎَﻣ َو

، َنَطَﺑ

ْنِﻣ ﺎَﻧِدَﻠَﺑ اَذَھ

ًﺔﱠﺻﺎَﺧ

ْنِﻣ َو

ِناَدْﻠُﺑ

َنْﯾِﻣِﻠ ْﺳُﻣْﻟا

،ًﺔﱠﻣﺎَﻋ

َكﱠﻧِإ ﻰَﻠَﻋ

ٍء ْﻲَﺷ ﱢلُﻛ

ٌرْﯾِدَﻗ

ﺎَﻧّﺑ َر

ْذِﺧا َؤُﺗَﻻ

ْنِإ ﺎَﻧ ﺎَﻧْﯾ ِﺳَﻧ

ْوَأ ﺎَﻧْﺄَط ْﺧَأ ﺎَﻧّﺑ َر

َﻻ َو

ْلِﻣ ْﺣَﺗ ﺎَﻧْﯾَﻠَﻋ ا ًر ْﺻِإ ﺎَﻣَﻛ

ُﮫَﺗْﻠَﻣ َﺣ ﻰَﻠَﻋ

َنْﯾِذّﻟا

ْنِﻣ

ﺎَﻧِﻠْﺑَﻗ ﺎَﻧّﺑ َر

َﻻ َو ﺎَﻧْﻠّﻣ َﺣًﺗ

َﻻﺎَﻣ

َﺔَﻗﺎَط ﺎَﻧَﻟ

ِﮫِﺑ

ُف ْﻋا َو ﺎّﻧَﻋ

ْرِﻔ ْﻏا َو ﺎَﻧَﻟ

ﺎَﻧْﻣ َﺣ ْرا َو

َتْﻧَأ ﺎَﻧَﻻ ْوَﻣ ﺎَﻧ ْرُﺻْﻧﺎَﻓ

ﻰَﻠَﻋ

ِم ْوَﻘْﻟا

َنْﯾ ِرِﻓﺎَﻛْﻟا . ﱠمُﮭﱠﻠﻟا

َكُﻟَﺄ ْﺳَﻧ ﺎﱠﻧإ ىَدُﮭﻟا

، ﻰَﻘﱡﺗﻟاو

َفﺎَﻔَﻌﻟاو ،

، ﻰَﻧِﻐﻟاو

ّمﮭﻠﻟا

ْن ِﺳ ْﺣأ ﺎَﻧَﺗَﺑِﻗﺎَﻋ

ِروُﻣُﻷا ﻲِﻓ

،ﺎَﮭﱢﻠُﻛ ﺎَﻧ ْرِﺟأ َو

ِي ْزِﺧ ْنِﻣ ﺎَﯾْﻧﱡدﻟا

ِباَذَﻋ َو

ِة َرِﺧﻵا

ﺎَﻧَﺑ َر ﺎَﻧِﺗاَء ﺎَﯾْﻧّدﻟا ﻲِﻓ

ًﺔَﻧَﺳَﺣ ﻲِﻓ َو

ِة َرِﺧَﻷْا

ًﺔَﻧَﺳَﺣ ﺎَﻧِﻗ َو

َباَذَﻋ

ِرﺎّﻧﻟا .

ُدْﻣ َﺣْﻟا َو

ِﱢب َر

َنْﯾِﻣَﻟﺎَﻌﻟا

(12)

َدﺎَﺑِﻋ

،ِﷲ

َﷲ ﱠنإ

ُرُﻣْﺄَﯾ

ِل ْدَﻌْﻟﺎِﺑ

ِنﺎَﺳ ْﺣ ْﻹا َو

ِءﺎَﺗْﯾِإ َو ﻰَﺑ ْرُﻘْﻟا يِذ

ﻰَﮭْﻧَﯾو

ِءﺎَﺷ ْﺣَﻔﻟا ِنَﻋ

ِرَﻛْﻧُﻣْﻟا َو

،ِﻲْﻐَﺑﻟا َو

ْمُﻛُظِﻌَﯾ

ْمُﻛﱠﻠَﻌَﻟ . َن ْوُرﱠﻛَذَﺗ اوُرُﻛذﺎَﻓ

َمْﯾ ِظَﻌْﻟا َﷲ

ْمُﻛ ْرُﻛ ْذَﯾ

ُرْﻛِذَﻟ َو

ُرَﺑْﻛَأ ِﷲ

Referensi

Dokumen terkait

Mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Kindi, bahwa filsafat dan agama sesungguhnya adalah sama-sama berbicara dan mencari kebenaran, dan karena pengetahuan tentang kebenaran

Ilmu sejarah dan ilmu filsafat merupakan dua ilmu yang berbeda, akan tetapi keduanya saling membutuhkan satu sama lain, ilmu sejarah berbicara mengenai masa lalu, sedangkan

Sebagai seorang muslim yang telah mengerti pentingnya ilmu, sebaiknya kita tidak hanya mempelajari satu bidang ilmu misalnya ilmu agama atau ilmu pengetahuan saja karena jika

Hal inilah yang menyebabkan kajian terhadap ilmu-ilmu agama mempunyai hubungan atau berkaitan secara sistematis dengan kajian terhadap disiplin ilmu sosial maupun ilmu

Aplikasi berbasis Android ini dilengkapi dengan fitur-fitur penjelasan mengenai kebudayaan dan ilmu Agama Hindu, selain itu terdapat juga fitur komunitas yang

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tanjung Redeb Posisi Agama Islam di Antara Agama-Agama di Dunia.. Makalah Metodologi

KESIMPULAN • Ilmu Perbandingan Agama adalah subwacana Ilmu Kalam yang dua iaitu [1] wacana berkaitan kepercayaan antara penganut agama intrareligion atau intra-Islam yang disebut

Metode Penelitian Agama Perspektif Ilmu Perbandingan Agama untuk IAIN, STAIN, dan PTAIS.. Bandung: Pustaka Setia