Rasio gender responden menggambarkan jumlah pemilih pekerja migran Indonesia di Hong Kong pada pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019. Peneliti menyajikannya sebagai gambaran keseluruhan untuk melihat pekerja migran Indonesia di Hong Kong secara keseluruhan. Di Asia Pasifik, Hong Kong menjadi negara yang menerima jumlah pekerja migran Indonesia terbanyak yaitu sebanyak 70.840 orang pada tahun 2019 (Bnp2tki, 2020).
Berdasarkan data di atas, terlihat jelas bahwa Hong Kong bukanlah negara yang sempurna bagi pekerja migran Indonesia. Jika berbicara tentang minat memilih menjadi pekerja migran Indonesia di Hong Kong, Hong Kong merupakan negara maju sekaligus modern. Melihat tabel di atas, terlihat remitansi yang dikirimkan oleh pekerja migran Indonesia asal Hongkong cukup besar.
Kondisi ini sejalan dengan Hong Kong yang menjadi tujuan utama pekerja migran Indonesia untuk bekerja. Hal ini menjadi salah satu daya tarik karena para pekerja migran Indonesia berharap dengan bekerja di Hong Kong dapat meningkatkan taraf perekonomian keluarganya. Data di atas menunjukkan bahwa data remitansi pekerja migran Indonesia di Hong Kong juga cukup tinggi.
Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong Dalam Data Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan melalui pemilihan umum, yang dipilih langsung oleh seluruh warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak pilih dan juga terdaftar sebagai pemilih. Pemilihan umum yang diselenggarakan di Indonesia mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh penduduk Indonesia. Ketua dan wakil ketua dapat diusulkan atau dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
Umumnya pemilu presiden dan wakil presiden dilaksanakan serentak di Indonesia, namun untuk di luar negeri waktunya berbeda. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dalam penelitian ini adalah pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2019 di Hong Kong. Peneliti akan menjelaskan secara detail rangkuman pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 di Hongkong terkait dengan data pemilih, data pemilih penyandang disabilitas, data penggunaan surat suara, dan data pemungutan suara presiden dan wakil presiden. kandidat di Hong Kong.
Adapun pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik, hal itu jelas tertuang dalam UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Berikut ini peneliti sajikan data detail pemilu presiden dan wakil presiden Hong Kong 2019. Setelah memaparkan data pemilih berdasarkan dokumen KPU, peneliti selanjutnya memaparkan hak pilih pada pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019 bagi pekerja migran Indonesia di Hong Kong.
Selanjutnya peneliti menunjukkan pemanfaatan surat suara dalam pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2019 di Hong Kong. Dihimpun dari surat suara yang tidak dikembalikan pemilih sebanyak 9.970, kemudian surat suara yang dikembalikan ke KPU luar negeri (dikembalikan ke pengirim) sebanyak 2.238, kemudian surat suara yang tidak terpakai termasuk sisa cadangan surat suara sebanyak 124.997. Selanjutnya, peneliti juga memaparkan hasil perolehan suara masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden tahun 2019 yang berlangsung di Hong Kong.
Surat suara yang direkapitulasi berasal dari Hong Kong, pasangan calon presiden dan wakil presiden bernomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf. Pemilih tersebut terdiri dari daftar pemilih tetap, daftar pemilih tambahan, dan pemilih kategori khusus pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden RI tahun 2019 di Hong Kong. Sebanyak 45.464 suara dari daftar pemilih tetap, jumlah surat suara yang digunakan sebanyak 46.510 surat suara.
Berikut ini peneliti sajikan surat suara sah dan suara tidak sah pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2019 di Hong Kong.
Partisipasi Politik Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2019
Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 100 responden mengenai status responden apakah menjadi relawan atau tim sukses dari salah satu pasangan presiden dan wakil presiden Indonesia 2019, menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan bukan bagian dari relawan. atau tim sukses, sedangkan data kuisionernya dapat dilihat pada grafik 3.2 dibawah ini;. Pertanyaan selanjutnya terkait partisipasi responden terhadap informasi pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI Tahun 2019, sedangkan data kuesioner dapat dilihat pada grafik 3.3 di bawah ini; Pertanyaan selanjutnya yang juga ditujukan kepada responden dalam kuesioner adalah pernah atau tidaknya mereka mengikuti kampanye calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019.
Sehubungan dengan tahapan pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019, peneliti juga menanyakan kepada responden pada tahapan apa saja responden mengikuti pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019. Pertanyaan selanjutnya yang peneliti ajukan kepada responden adalah kapan terdakwa menggunakan haknya. untuk memilih dengan memilih calon presiden dan wakil presiden Indonesia pada tahun 2019, hal ini merupakan bagian dari partisipasi politik. Selanjutnya peneliti juga menanyakan apakah dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini para responden masih mau memilih calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019.
Grafik 3.9 di atas menunjukkan mayoritas responden kurang begitu memperhatikan persoalan kemajuan dan ada kaitannya dengan penggunaan hak pilih. Pada pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019, terungkap 75 responden tetap memilih YA, meski zaman sudah maju. Pekerja migran Indonesia di Hong Kong tentu saja jaraknya sangat jauh, kampanye relawan dan tim sukses Capres dan Cawapres 2019 tidak se-masif dan sesering di Indonesia.
Peneliti kemudian menanyakan kepada responden mengenai penggunaan hak pilihnya pada pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019. Grafik di atas menunjukkan bahwa sebanyak 82 responden menjawab YA bahwa mereka menggunakan hak pilihnya pada pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019.
Dinamika Partisipasi Politik Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap beberapa sumber,
Pada pemilu Hong Kong, terdapat beberapa lokasi antara lain Stadion Queen Elizabeth (Wan Chai) dan Balai Asosiasi Distrik Kai Fong (Tsim Sha Tsui). Berbicara mengenai kegiatan pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019 yang berlangsung di Hong Kong sangatlah menarik mengingat Hong Kong merupakan negara demokrasi. Penghitungan suara pada pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019 di 31 TPS di Hong Kong dapat dilihat pada Tabel 3.16 sebagai berikut;
Berdasarkan data perhitungan Pilpres dan Wakil Presiden 2019, jumlah pemilih pekerja migran Indonesia atau WNI di Hong Kong sebesar 25,69%. Mengharapkan partisipasi politik yang tinggi dari para pekerja migran Indonesia di Hong Kong merupakan praktik yang memiliki tantangan tersendiri. Peneliti juga berupaya mendapatkan informasi tambahan dengan mewawancarai Wiji Pasianie sebagai narasumber sebagai calon presiden dan wakil presiden sukses pada pemilu 2019 mengenai tantangan dan hambatan dalam mendorong partisipasi politik pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Kong.
Terkait partisipasi politik pekerja migran Indonesia di Hong Kong dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah hari libur di akhir minggu. Sikap pasif politik para pekerja migran Indonesia di Hong Kong ini bukan tanpa alasan, mengingat selama 6 (enam) hari mereka bekerja full time di rumah, kemudian 1 (satu) hari yaitu hari minggu mereka manfaatkan untuk bersantai. Berbagai kejadian yang terjadi di lapangan pada saat pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia di Hong Kong, seperti diungkapkan salah satu pekerja migran Indonesia di Hong Kong:
Wawancara telepon dengan Siti Munawaroh, salah satu pekerja migran Indonesia di Hong Kong, pada 11 November 2022). Sekelompok orang yang diduga WNI di Hong Kong menerobos masuk ke TPS. Ketua Komisi Pemilihan Umum Hong Kong sekaligus Ketua Komisi Pemilihan Umum Luar Negeri membenarkan kejadian tersebut dalam surat resminya.
Akibat tragedi setelah TPS ditutup, panitia pengawas pemilu Hong Kong dan panitia pemilu luar negeri sepakat untuk tidak memperbolehkan 20 orang memasuki tempat pemungutan suara. Dinamika yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa kesadaran politik pekerja migran Indonesia di Hong Kong sudah bangkit, namun hal ini masih memerlukan penyuluhan dan dukungan dari pemerintah.
Faktor Utama Partisipasi Politik Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong
Sebagian besar pekerja migran Indonesia di Hong Kong, khususnya saya, sudah mempertimbangkan untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu presiden dan wakil presiden 2019. Dimana saya memilih calon presiden dan calon wakil presiden yang mampu mengubah masa depan menjadi lebih baik, bagi para pekerja migran dan juga memiliki kepedulian terhadap status kita sebagai pekerja migran Indonesia. Misalnya saja calon presiden dan wakil presiden yang menjanjikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum bagi kita yang berstatus pekerja migran Indonesia di luar negeri (wawancara telepon dengan pekerja migran Indonesia di Hong Kong, 20 Mei 2022)”.
Berikut pendapat Nani Wijayanti selaku TKI yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang ditujukan terhadap TKI, beliau menyampaikan bahwa: Sejauh ini pemerintah sudah banyak mengalami perbaikan dalam hal kebijakannya terhadap TKI. pekerja, namun akan lebih baik lagi jika pemerintah memberikan peraturan yang memudahkan pekerja migran Indonesia. Dari paparan Nani Wijayanti dapat dipahami bahwa calon presiden dan wakil presiden memiliki fokus dalam merumuskan kebijakan yang ditujukan kepada pekerja migran Indonesia.
Tentu saja hal tersebut mempunyai pengaruh terhadap para pekerja migran Indonesia untuk berpartisipasi secara politik pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019. Sementara itu, ada pula pendapat lain yang berbicara mengenai kebijakan yang ditujukan kepada pekerja migran Indonesia. Hal ini seperti diungkapkan Nunuk Margiati, seorang pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang bekerja sebagai asisten pengasuh lansia, menurutnya:
Menempatkan orang-orang yang benar-benar mengetahui kondisi di lapangan untuk mengetahui apa, bagaimana dan bagaimana menangani ketika ada permasalahan yang dialami oleh pekerja migran Indonesia. Seperti yang diungkapkan Siti Nur Asiyah selaku pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang bekerja sebagai perawat lansia. Hal tersebut diungkapkan aktivis buruh migran di Hong Kong yang juga merupakan Ketua Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) Sringatin.
Sringatin mengatakan, pada saat pemungutan suara, cukup banyak pekerja migran Indonesia yang gagal menggunakan hak politiknya di Wanchai, Hong Kong. Ia juga mengatakan, selain tidak mendapat undangan memilih, banyak pekerja migran lainnya yang tidak bisa memilih melalui pos karena tidak diberikan surat suara.