• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUAL BELI MAROSOK MENURUT MEKANISME PASAR ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "JUAL BELI MAROSOK MENURUT MEKANISME PASAR ISLAM"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 90

Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam

http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/tamwil/index

E- ISSN : 2775-8125 P- ISSN : 2476-9452

JUAL BELI MAROSOK MENURUT MEKANISME PASAR ISLAM Robbil Alfires

Pengadilan Agama Talu

Jl. Jati II, Pasaman Baru, Simpang Empat, Lingkuang Aua, Pasaman, Pasaman Barat

email: [email protected]

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji praktik jual beli marosok di Pasar ternak Nagari Cubadak, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar menurut mekanisme pasar Islam. Jenis penelitian yaitu penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara, kemudian diolah dengan menganalisis fenomena dan dihubungkan dengan kajian mekanisme pasar islam. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pertama pelaksanaan akad dengan perbuatan boleh dilakukan karena perbuatan tersebut dilakukan oleh pelaku pasar yang telah mengerti dengan simbol-simbol tersebut dan telah diketahui secara umum oleh para pelaku pasar kedua kerahasiaan yang terkandung dalam jual beli marosok merupakan mekanisme pasar yanga sangat dihargai dalam Islam guna menghindari pelaku pasar yang akan berbuat curang dengan menurunkan harga dibawah harga pasar ketiga kebijakan pemerintah yang melarang menjual hewan ternak produktif merupakan kebijakan yang memberikan kemashalatan terhadap keseimbangan pasar terutama keseimbangan harga dan mencegah kelangkaan barang keempat pekerjaan calo atau perantara dalam praktek marosok tidak ada masalah selagi memenuhi ketentuan adanya perjanjian yang jelas antara kedua belah pihak, objeknya harus nyata dan bisa diserahkan dan objek akad bukan hal-hal yang dilarang syariat

Kata Kunci: Marosok, Mekanisme Pasar, Perantara

Abstract: The aim of this research is to examine the practice of buying and selling marosok at the Nagari Cubadak livestock market, Lima Kaum District, Tanah Datar Regency according to Islamic market mechanisms. The type of research is field research with a qualitative approach.

Data was obtained through interviews, then processed by analyzing phenomena and connected to the study of Islamic market mechanisms. Based on the research results, it was found that firstly, the implementation of contracts with actions may be carried out because these actions are carried out by market players who understand these symbols and are generally known by market players, secondly, the confidentiality contained in buying and selling marosok is a market mechanism that is highly valued. in Islam to avoid market players who will cheat by lowering prices below market prices. Thirdly, the government policy which prohibits selling productive livestock is a policy which provides benefits to market balance, especially price balance and preventing shortages of goods. Fourthly, the work of brokers or intermediaries in Marosok practice does not exist. The problem is that while fulfilling the provisions of a clear agreement between the two parties, the object must be real and can be delivered and the object of the contract is not something that is prohibited by the Shari'a.

Keywords: Marosok, Market Mechanism, Intermediaries

(2)

91 | Jurnal Tamwil, Vol 9, No 2 (2023) PENDAHULUAN:

Konsep fikih menjelaskan bahwa selain pelaksaanaan akad secara lisan terdapat bentuk atau cara berakad dengan menggunakan isyarat atau dengan perbuatan-perbuatan (Laila Nur Amalia, 2015), perbuatan tersebut harus dapat dimengerti oleh kedua belah pihak, kondisi ini dapat dicontohkan seperti seorang pembeli yang telah mengetahui harga suatu barang, kemudian pembeli tersebut mengambil barangnya dari penjual dan memberikan uangnya sebagai pembayarannya. Akad ini disebut juga dengan akad mu’athah yaitu akad mengambil dan memberikan dengan tanpa perkataan atau ijab dan qabul (Hendri Suhendi, 2002, h.74).

Salah satu bentuk jual beli yang akadnya dilakukan dengan cara isyarat adalah praktek jual beli dengan tradisi marosok di Minangkabau. Praktek ini sudah berlangsung cukup lama, proses pelaksanaannya dilakukan di pasar tradisional atau balai yang khusus memperjual belikan hewan ternak, pasar atau balai tersebut tersebar di daerah Palangki Kabupaten Sijunjung, Koto Baru Kabupaten Tanah Datar, Sungai Sariak Kabupaten Solok, Muaro Paneh Kabupaten Solok, Payakumbuh dan Cubadak Kabupaten Tanah Datar, ternak yang diperjual belikan biasanya berupa sapi, kerbau, dan kambing.

Islam mengatur jual beli harus dilaksanakan secara transparan, jujur dan jelas tanpa mengandung unsur keragu- raguan dan penipuan. Mekanisme pasar dalam islam sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah adalah dibangun dengan landasan kebebasan antara individu (Yenti Afrida, 2015). Dalam ekonomi Islam setiap akad yang dilakukan oleh dua orang atau lebih harus saling menguntungkan. Sistem ekonomi Islam tidak menghendaki adanya unsur kezaliman (Yusrizal dan Zainuddin

2022). Akad yang dilakukan juga harus jelas dari proses tawar menawar yang terbebas dari distorsi sehingga menghasilkan harga yang adil bagi pembeli dan penjual.

Sedangkan pelaksanaan jual beli marosok yang terjadi di Minangkabau, akad dimulai ketika penjual ternak yang diistilah dengan toke menawarkan hewan-hewan ternak yang akan dijualnya, kemudian pembeli datang untuk melihat-lihat dan memilih ternak yang disukainya, dalam proses memilih dan dan melihat ini pembeli dapat meraba-raba ternak tersebut, proses meraba ini sebagai bentuk mamatuik atau memperkirakan padat atau tidaknya daging ternak tersebut, sehingga pembeli mempunyai pedoman untuk mematok harga (Taufik Hidayat, Zikra Rahmi, Welan Safitri; Syahril Huda, Okto Viandra Arnes, 2022). Setelah pembeli menemukan ternak yang cocok dengan keinginannya, pembeli dan penjual akan melakukan proses tawar menawar harga ternak. Tawar menawar ini dilakukan dengan berpegangan yang ditutupi dengan kain, sarung, topi atau handuk secara rahasia. Disaat tawar- menawar berlangsung, penjual dan pembeli saling bersalaman, memegang jari-jari, menggoyang tangan kekiri ataupun kekanan, dimana pihak penjual menawarkan dan pihak pembeli menawar sampai harga yang disepakati tercapai. Masing-masing jari melambangkan nilai nominal sepuluh ribu, seratus ribu, satu juta, atau bahkan satu miliar rupiah. Jika telah terjadi kesepakatan harga, maka jari-jari tersebut akan berhenti meraba kemudian diakhiri dengan bersalaman dengan agak menekan sebagai bentuk kata sepakat.

Mekanisme pasar sebagaimana disebutkan sebelumnya juga sangat menjunjung tinggi kebebasan antara individu dalam bertransaksi (Tri Wahyuni, 2019), berbeda halnya dengan praktek marosok dimana pada umumnya penjual dan pembeli adalah orang-orang yang sudah mengerti dengan simbol-simbol jari dalam

(3)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 92 marosok, namun jika terdapat pembeli yang

datang ke pasar ternak untuk membeli ternak (biasanya untuk kebutuhan pesta dan hajatan lainnya) bukan pelaku pasar yang mengerti simbol-simbol marosok, maka akan ada perantara untuk melaksanakan akad yang disebut dengan calo, calo akan menjadi wakil bagi pembeli dalam proses tawar menawar.

Pada masa Rasulullah mekanisme pasar sangat dihargai, Rasulullah tidak mau membuat aturan-aturan untuk menetapkan harga selama kenaikan harga tersebut disebabkan oleh permintaan dan penawaran yang murni (Zuwardi dan Annita Sari, 2023).

Sedangkan praktek dalam jual beli marosok terdapat aturan dari pihak pasar terhadap hewan ternak yang masih produktif, pembeli dilarang untuk membeli hewan tersebut dengan tujuan untuk menyembelihnya, hewan ternak tersebut boleh dibeli hanya untuk keperluan diperjualbelikan lagi atau untuk dikembangbiakkan, aturan ini tertuang dalam pasal 18 ayat 4 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan hewan.

Pembahasan mengenai jual beli marosok ini tentu sangat menarik untuk dikaji. Beberapa penelitian terdahulu seperti penelitian Taufik Hidayat, Zikra Rahmi, Welan Safitri, Syahril Huda dan Okto Viandra Arnes yang berjudul analisis jual beli marosok dalam perspektif maqashid Syariah. Penelitian Ade Rikka Umassari yang berjudul Interaksi Simbolik Dalam Proses Komunikasi Jual Beli Ternak

“Marosok” di Payakumbuh Sumatera Barat.

Penelitian Kori Lilie Muslim yang berjudul Budaya Marosok Pasar Ternak Cubadak Batusangkar Kabupaten Tanah Datar 2004- 2022.

Berdasarkan tiga penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa sejauh ini belum ada tulisan yang membahas mengenai praktek jual beli marosok di tinjau dari mekanisme

pasar Islam. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat tinjaun mekanisme pasar terhadap praktek jual beli marosok.

METODE PENELITIAN:

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan Pasar ternak Nagari Cubadak, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, mendeskripsikan hasil wawancara dengan informan (Toke atau pemilik hewan ternak dan pembeli hewan ternak) sebagai pelaku jual beli ternak dengan cara marosok.

Metode kajian fikihnya merujuk kepada Al- Qur’an, Hadis, dan pendapat ulama serta mekanisme pasar

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam

Pelaksanaan jual beli ternak dengan sistem marosok ini sebagian besar dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, sedangkan pembeli bisa berasal dari luar daerah Minangkabau seperti Bangkinang dan Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan di pasar tradisional khusus memperjual belikan hewan ternak, masyarakat Minangkabau mengistilahkannya dengan pasar ternak atau balai ternak.

a. Analisis Pelaksanaan Akad Marosok Salah satu rukun dalam pelaksanaan untuk melaksanakan akad adalah ijab dan qabul dalam istilah fikih disebut dengan sighat akad (Nurlailiyah Aidatus Sholihah dan Fikry Ramadhan Suhendar, 2019).

ketika penjual dan pembeli bertemu dan mengadakan transaksi secara langsung maka sighat akad akan dilakukan secara lisan, kemudian bagaimana jika pelaku transaksi mengalami kekurangan yang menghambat adanya akad dengan lisan seperti jual beli di tempat yang sangat ramai atau salah satunya

(4)

93 | Jurnal Tamwil, Vol 9, No 2 (2023) tunarungu, atau berada diwilayah yang jauh sehingga menghambat berakad dengan lisan dan memerlukan media lain agar akad tersebut terlaksana dengan kehendak pelaku transaksi.

Konsep fikih menjelaskan selain berakad secara lisan terdapat bentuk atau cara berakad dengan menggunakan isyarat atau dengan perbuatan-perbuatan, perbuatan tersebut harus dapat dimengerti oleh kedua belah pihak, kondisi ini dapat dicontohkan seperti seorang pembeli yang telah mengetahui harga suatu barang, kemudian pembeli tersebut mengambil barangnya dari penjual dan memberikan uangnya sebagai pembayarannya. Akad ini disebut juga dengan akad mu’athah yaitu akad mengambil dan memberikan dengan tanpa perkataan atau ijab dan qabul (Hendri Suhendi, 2002, h.74).

Dalam sebuah transaksi jual beli, jika suatu barang sudah dilabeli dengan harga dan pembeli melihat barang beserta lebel harganya tersebut, kemudian pembeli memberikan uangnya kepada penjual dan mengambil barang tersebut, meskipun tanpa ada pembicaraan apapun (tanpa ijab dan qabul) secara lisan, maka jual beli tersebut sah karena perbuatan tersebut telah menunjukkan keridhaan dalam sesuatu yang sudah lazim terjadi. (Az-Zuhailiy, 2007, h..435).

Ulama berbeda pendapat mengenai akad mu’athah, yang pertama pendapat dari hanafiyah dan hanabilah, keduanya berpendapat bahwa akad mu’athah sah apabila transaksi dilakukan terhadap sesuatu yang sudah dikenal secara umum oleh masyarakat baik barang tersebut bernilai kecil ataupun barang-barang berharga.

Karena sesuatua yang sudah dikenal umum

oleh masyarakat menunjukkan keridhaan, namun keduanya mensyaratkan harga-harga barang tersebut benar-benar sudah diketahui secara umum oleh masyarakat dan orang yang berakad tidak pernah menyatakan secara jelas dan nyata ketidakridhannya karena kalau itu terjadi akad tersebut akan fasid (rusak) (Az- Zuhailiy, 2007, h..435).

Sedangkan pendapat Malikiyah dan Ahmad juga menyatakan akad mu’athah sah jika jelas menunjukkan keridhaan, meskipun terhadap hal-hal yang tidak dikenal luas oleh masyarakat, yang menjadi ukuran dalam pendapat ini adalah adanya sesuatu yang menunjukkan keinginan pelaku transaksi untuk menciptakan akad serta menyetujuinya, sehingga sudah menjadi penunjuk yang cukup untuk adanya keridhaan. (Az-Zuhailiy, 2007, h..436).

Pendapat Syafi’iyah, Syi’ah dan Zhahiriyah menyatakan menyatakan akad mu’athah tidak sah karena tidak kuat untuk menunjukkan proses akad, ridha merupakan sesuatu yang abstrak, sehingga indikasinya adalah lafaz itu sendiri, sedangkan perbuatan bisa jadi berarti berbeda dengan yang dimaksudkan akad yang bedampak tidak terjadinya akad. Syarat terjadinya akad dilakukan dengan lafaz yang tegas ataupun kiasan atau sesuatu yang dapat menggantikannya seperti isyarat atau tulisan.

(Az-Zuhailiy, 2007, h.436).

Beberapa ulama dari mazhab Syafi’i seperti Imam Nawawi, Baghawi dan Mutawalli memilih mengatakan sahnya akad tersebut dalam hal yang sudah dianggap manusia sebagai jual beli, karena tidak ada nash yang mensyaratkan akad harus dilakukan dengan lafaz, sehingga dikembalikan kepada kebiasaan manusia,

(5)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 94 pendapat ini berbeda karena melihat sisi

kekakuan dalam pendapat sebelumnya dan tidak sesuai dengan prinsip fleksibelitas, toleransi dan kemudahan. (Az-Zuhailiy, 2007, h..436).

Sebagian ulama mazhab syafi’i, seperti Ibnu Suraij dan Ar-Ruyani juga membolehkan akad mu’athah tersebut untuk sesuatu yang barang yang remeh-temeh atau yang tidak beharga dan sudah biasa dilakukan secara mu’athah.( Az-Zuhailiy, 2007, h. 436).

Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, menjelasakan akad mu’athah, sebagai berikut (Heru Wahyudi : 2012 hal. 96);

a. Penjual hanya menyebutkan lafaz menjual dengan menyebutkan harga, kemudian pembeli mengambilnya tanpa lafaz.

b. Pembeli hanya menyebutkan lafaz, kemudian penjual menyerahkan tanpa lafaz dengan catatan harga sudah pasti.

c. Pembeli dan penjual tidak mengucapkan lafaz apapun, hanya meletakkan uang dan mengambil barang sesuai dengan harga yang ada.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses akad jual beli marosok dengan perbuatan dan menggunakan jari-jari sebagai media tawar menawar sah dan boleh dilakukan karena perbuatan tersebut dilakukan oleh pelaku pasar yang telah mengerti dengan simbol- simbol tersebut dan telah diketahui secara umum oleh para pelaku pasar tersebut sejak dahulunya. Terbentuknya harga juga melalui proses alamiah tanpa ada kecurangan, pembeli menawar dan penjual menyampaikan harga melalui permainan jari, sampai proses tersebut berakhir dengan kesepakatan harga;

Dalam akad jual beli marosok perlu juga dilihat bahwa niat yang terbesit dalam hati penjual dan pembeli sewaktu melakukan akad menjadi penentu terhadap nilai dan status akad yang dilakukan. Tujuan disyari’atkannya niat adalah untuk membedakan perbuatan ibadah dengan adat, sesuai dengan kaidah sebagai berikut;

ىنابملاو ظافللأل لا ىناعملاو دصاقملل دوقعلا ىف ةربعلا Artinya; Yang dianggap dalam aqad adalah maksud-maksud, bukan lafadz-lafadz dan bentuk-bentuk perkataan.

Berdasarkan kaidah tersebut, maka yang dilihat dari akad tidak tergantung kepada lafaz yang digunakan para pihak yang berakad tapi tergantung pada maksud dan makna hakiki dari lafaz yang diucapkan tersebut, dalam tradisi marosok sangat jelas yang dituju oleh pembeli dan penjual adalah jual beli hewan ternak.

Titis Indrawati dan Iza Hanifuddin menyebutkan dalam menetapkan hukum akad dengan perbuatan (tha’athi), kalangan syafi’iyah berpendapat akad tidak sah, mereka beralasan bahwa akad ini tidak kuat menunjukkan kerelaan para pihak karena kerelaan merupakan urusan yang tersembunyi dan tidak bisa diukur tanpa dilafazkan. Sedangkan kalangan beberapa ulama mazhab Syafi’i seperti Imam Nawawi, Mutawaali dan Baghawi menyatakan akad dengan cara ta’athi sah, karena hal ini sudah menjadi ‘urf di tengah masyarakat dan itu merupakan petunjuk nyata akan kerelaan dalam akad dan tidak ada nash yang mensyaratkan akad harus dilakukan dengan lafaz sesuai dengan kaidah.

ةمكحمةداعلا..

Artinya; adat istiadat dapat dijadikan pijakan hukum

(6)

95 | Jurnal Tamwil, Vol 9, No 2 (2023) Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, kenyatannya jual beli ta’athi ini sudah menjadi kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat, baik di swalayan maupun pasar- pasar tradisional seperti dalam jual beli marosok, sehingga perlu juga dikemukakan kaidah.

ِلا َوْح ْلأا َو ِةَنِكْمَ ْلأا َو ِةَنِم ْز ْلأا ِرُّيَغَتِب ِماَكْحَلأا ُرُّيَغَت ُرَكْنُي َلا ( ةنمزلأا ريغت بسحب اهفلاتخاو ىوتفلا ريغت

دئاوعلاو تاينلاو لاوحلأاو ةنكملأاو -

)صاخسلأاو

Artinya; Tidak dipungkiri bahwasanya perubahan hukum-hukum disebabkan adanya perubahan waktu, tempat, dan keadaan/kondisi.

b. Analisis Makna Kerahasiaan Dalam Akad Marosok Ditinjau dari Mekanisme Pasar Islam

Seperti pasar pada umumnya, pasar ternak di Minangkabau adalah tempat dimana bertemunya penjual dan pembeli.

Terbentuknya harga dalam di pasar menurut ketentuan islam sangat dipengaruhi oleh interaksi penawaran dan permintaan dalam kondisi persaingan pasar sempurna dengan arti terhindar dari monopoli atau prilaku- prilaku yang merusak mekanisme pasar, diantaranya kezaliman, riba, gharar, judi dan lainnya. Oleh karena itu faktor-faktor moralitas, ekonomi, spiritualitas, materialisme harus menyatu dalam proses pembentukan wujud pelaku-pelaku pasar yang bermartabat. Pasar seperti itu pernah terjadi di masa Rasulullah Saw. ketika memimpin Madinah dan di akui oleh Adam Smith (1723-1790) dalam bukunya Wealth of Nation (Iza Hanifuddin, 2014 h.38).

Makna jual beli marosok dengan menggunakan simbol jari yang ditutupi dengan sarung atau kain dilakukan untuk menjaga kerahasiaan tawar menawar dan

kesepakatan harga yang diperoleh oleh penjual dan pembeli. Kerahasiaan tersebut dijaga karena berkaitan dengan nilai-nilai moral berupa kesopanan, sehingga tidak ada peluang-peluang kecurangan pihak ketiga saat tawar menawar (Bpk. Reinaldo, wawancara, 4 September 2023).

Hukum Islam sangat menjunjung tinggi pelaksanaan akad yang muncul dari keinginan dan kemauan penjual dan pembeli itu sendiri yang menimbulkan kerelaan dan kesepakatan antara keduanya, sebagaimana firman Allah dalam surat An- Nisa ayat 29 ;

نَأ َٰٓ َّلاِإ ِلِطََٰبۡلٱِب مُكَنۡيَب مُكَل ََٰو ۡمَأ ْا َٰٓوُلُكۡأَت َلا ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَََٰٰٓي َ َّللَّٱ َّنِإ ۡۚۡمُكَسُفنَأ ْا َٰٓوُلُتۡقَت َلا َو ۡۚۡمُكنِ م ٖضا َرَت نَع ًة َر ََٰجِت َنوُكَت ا ٗمي ِح َر ۡمُكِب َناَك ٢٩

Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Makna kerahasiaan yang terkandung dalam jual beli marosok sehingga proses tawar menawar sampai terjadinya kesepakatan mengenai harga hanya diketahui penjual merupakan suatu bentuk mekanisme pasar yanga sangat dihargai dalam Islam, kegiatan marosok ini juga menghindari pelaku-pelaku pasar yang akan berbuat curang dengan menurunkan harga dibawah harga para penjual yang lain.

Mereka menurunkan harga ternaknya di bawah harga penjual sebelumnya, lalu menjualnya sehingga merugikan pedagang lain.

Perbuatan curang semacam ini yang dilakukan oleh beberapa paus kapitalis

(7)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 96 terhadap orang-orang Yahudi dan teman-

teman mereka. Mereka menurunkan harga barangnya di bawah harga normal lalu menjualnya meskipun berisiko rugi sehingga pasar ambruk, sehingga pedagang kecil mengalami kerugian atau bahkan bangkrut.

Mereka kemudian menguasai pasar dan memonopoli barang sehingga bisa menguasai penjualan dengan harga yang mereka inginkan (Evra Willya, 2013)

c. Analisis Kebijakan Pelarangan Pemerintah terhadap Pembeli Hewan Ternak Produktif Untuk di Sembelih

Pada dasarnya jika pasar telah bekerja dengan sempurna, maka tidak ada alasan untuk mengatur tingkat harga. Jika penetapan harga tetap dilakukan akan memungkinkan terjadinya ketidak seimbangan harga yang berdampat terganggunya mekanisme pasar. Pada masa Rasulullah Saw. pernah terjadi kenaikan harga, kemudian orang-orang berkata berkata “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau melakukan pematokan harga? Rasulullah Saw.

Menjawab;

ِإ َو ُق ِز ا َّرل ا ُطِس اَبْل ا ُضِب اَقْل ا ُرِ عَسُمُلْ ا َوُه لله ا َّنِإ ِم ٌدَح َأ َسْيَل َو لله ا ىَقْل َأ ْنَأ ْوُج ْر َ َلأ ْيِ ن ْيِنُبِل اَطُي ْمُكْن

.ٍل اَم َلا َو ٍم َد ْيِف ٍةَمَلْظَمِب

“Sesungguhnya Allah-lah Dzat yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Maha Melapangkan, dan Maha Memberi rezeki.

Sesungguhnya aku berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun diantara kamu sekalian menuntutku mengenai kezhaliman dalam hal darah dan harta. ” (HR Abu Dawud).

Terdapat aturan di pasar ternak di Minangkabau yaitu untuk hewan ternak yang masih produktif si pembeli dilarang membeli jika bertujuan untuk menyembelihnya, hewan ternak tersebut

boleh dibeli hanya untuk keperluan diperjualbelikan lagi atau untuk dikembangbiakkan, tujuannya untuk menjaga agar hewan ternak tidak menjadi langka (Bpk. Boy Rahmad, wawancara, 4 September 2023).

Aturan tersebut sudah diketahui secara umum oleh pelaku transaksi jual beli ternak.

Aturan tersebut merupakan implementasi dari kehendak pasal 18 ayat (4) Undang- Undang Nomor 41 Tahun pasal 18 atas perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang meyebutkan bahwa setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif.

Ditinjau dari perspektif mekanisme pasar islam, aturan ini sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan pasar, terutama ketersediaan barang atau hewan ternak itu sendiri. Dengan adanya larangan untuk tidak menyembelih hewan ternak yang masih produktif maka kelangkaan barang tidak akan terjadi, jika tidak terjadi kelangkaan, harga akan menjadi stabil, penawaran dan permintaan menjadi seimbang (equilibrium).

Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar bin Khatab pernah menetapkan kebijakan dengan mengimpor gandum dari Mesir secara besar-besaran ketika terjadi kegagalan panen di Kota Madinah (Miftakhul Huda, 2019), sehingga penawaran barang di Madinah kembali melimpah dan harga mengalami penurunan, sedangkan Khalifah Umar bin Khatab pernah mengeluarkan sejenis kupon yang bisa ditukarkan dengan sejumlah barang kemudian di bagikan kepada fakir miskin yang berdampak meningkatnya daya beli masyarakat (Pusat

(8)

97 | Jurnal Tamwil, Vol 9, No 2 (2023) Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, 2008, h. 335).

Meskipun menurut mekanisme pasar Islam pemerintah tidak boleh membuat kebijakan-kebijakan yang mengintervensi harga, karena harga ditetapkan oleh mekanisme pasar (Noufal Azmi, 2022).

Namun ketidakmauan Rasulullah untuk menetapkan harga ketika harga naik di Madinah, karena beliau tahu kenaikan itu hanya karena interaksi permintaan dan penawaran secara murni. Selain itu, kenaikan harga tidak merugikan masyarakat luas yang kebutuhan pokoknya tetap terpenuhi. Artinya Rasulullah SAW.

menolak intervensi harga karena tidak ingin merugikan mekanisme pasar berbeda jika harga pasar naik karena adanya distorsi.

Oleh karena itu kebijakan pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun pasal 18 atas perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan yang melarang membeli hewan ternak produktif untuk disembelih akan memberikan kemashalatan bagi pasar, terutama menghindarai kelangkaan hewan ternak dan menjaga kestabilan harga.

Sehingga hal itu dibolehkan. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh yang berbunyi:

ةحلصملاب طونم ةيعرلا ىلع ماملاا فرصت Artinya: "Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat harus berdasar maslahah,"

d. Analisis penggunaaan calo / perantara dalam akad marasok Secara umum, penjual dan pembeli di pasar ternak adalah orang-orang yang sudah mengerti dengan simbol-simbol jari dalam marosok, namun jika terdapat pembeli yang datang ke pasar ternak untuk membeli

ternak (biasanya untuk kebutuhan pesta dan hajatan lainnya) bukan pelaku pasar yang mengerti simbol-simbol marosok, maka akan ada perantara untuk melaksanakan akad yang disebut dengan calo (Bpk.

Reinaldo, wawancara, 4 September 2023).

Penggunaan kata calo yang berkonotasi negatif merupakan sesuatu yang lazim yang dikenal masyarakat yang artinya perantara, sedangkan dalam praktek perantara dalam marosok tersebut lebih berarti kepada samsarah dalam bahasa fiqih.

Awalnya samsarah berarti orang yang membantu petani untuk menjulan gandumnya kepada orang-orang, namun samsarah telah berubah arti yang dapat dipahami sebagai suatu cara untuk memperoleh harta dengan bekerja untuk orang lain dengan upah dalam hal menjualkan atau membelikan. Dizaman Rasulullah Saw. pekerjaan samsarah juga digunakan untuk pekerjaan penerjemah bahasa asing untuk kepentingan dakwah di Baghdad (Iza Hanifuddin, 2014 h. 15).

Secara umum, samsarah tersebut diperbolehkan, karena dengan adanya simsar seseorang dapat menjual atau membeli barang yang diinginkannya. Samsarah juga termasuk dalam hal pekerjaan yang digunakan untuk memiliki harta secara sah (Luluk Latifah, 2023), hal ini berdasarkan Firman Allah Swt. Surat Yusuf ayat 72 yang berbunyi

ۦِهِب ۠اَنَأ َو ٖريِعَب ُل ۡم ِح ۦِهِب َءَٰٓاَج نَمِل َو ِكِلَمۡلٱ َعا َوُص ُدِقۡفَن ْاوُلاَق ٞميِع َز ٧٢ Artinya; Berkata Yusuf: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim.

(9)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 98 Calo dalam jual beli marosok biasanya

melakukan tugasnya dengan 2 (dua) cara pertama calo akan menunggu penjual sapi dan menwarkan jasanya untuk menjual sapi tersebut, Ia akan menanyakan berapa harga yang dipatok oleh penjual terhadap sapi tersebut, setelah ada kesepakatan, calo kemudian mencoba menawarkan ke pembeli sesuai harga yang dipatok, disini calo akan mendapatkan keuntungan dari kelebihan penjualan tersebut, disisi lain proses ini akan memberikan kemudahan bagi si penjual kedua Calo bekerja dengan cara menunggu pembeli yang tidak mengerti tentang harga yang sepatutnya untuk hewan ternak yang akan dibeli, tidak mengerti mengenai cara memilih hewan ternak yang berkualitas dan proses tawar menawar dengan cara marosok, peran calo disini adalah memberikan jasa keahlian dan pengetahuannya terhadap jual beli hewan ternak dengan cara marosok, manfaatnya adalah pekerjaan calo ini memberikan sisi kemudahan kepada si pembeli, mendapatkan harga yang wajar dan sapi-sapi yang berkualitas sedangkan calo akan mendapatkan upah dari pembeli atas jasanya tersebut (Bpk. Reinaldo, wawancara, 4 September 2023).

Di satu sisi pekerjaan calo ini telah memberikan manfaat kepada penjual dan pembeli serta calo itu sendiri, namun disisi lain praktek calo ini juga berpotensi terhadap ketidaksempurnaan bekerjanya mekanisme pasar dengan mendongkrak harga pasaran hewan ternak menjadi lebih tinggi, kemungkinan ini terjadi jika calo tidak bekerja dengan jujur, menawarkan kepada pembeli dengan harga yang sangat tinggi dari harga yang dipatok oleh sipenjual demi mendapatkan keuntungan lebih.

Praktek seperti ini tentu tidak sesuai dengan mekanisme pasar islam yang mengedepankan nilai-nilai moralitas pasar yang jujur dan terbuka.

Iza Hanifuddin menyebutkan kemungkinan terjadinya praktek calo atau perantara yang tidak diperbolehkan sehingga mengganggu terhadap kesempurnaan bekerjanya pasar juga dijelasakan dalam literature fiqih disebabkan adanya penipuan tersebut (al- gubn) yang memicu adanya kenaikan harga (al-tsaman al-ghaliy, ziyadah al-si’r, ghala al-si’r dan irtifa’ al-si’r), sehingga dalam kondisi ini fiqih sangat menjunjung tinggi keridhaan individu dalam bertransaksi untuk menentukan harga pasar tanpa ikut campur pihak lain.

Namun, secara umum pelaksaanaan calo dalam praktek marosok dapat dibenarkan sepanjang terdapat kejelasan dalam pelaksanaannya, baik antara penjual dengan calo, atau sipembeli dengan calo sebagaimana pengertian samsarah diatas.

Dalam kondisi tugas calo membelikan hewan ternak bagi pembeli, calo dan pembeli harus membuat kesepakatan yang jelas tentang jenis hewan, bobot dan kadar hewan serta harga yang diinginkan pembeli, kemudian disepakati juga secara jelas berapa jasa yang harus dibayar oleh pembeli terhadap calo tersebut, setelah semuanya disepakati dengan jelas, calo harus bekerja dengan profesional dan jujur sehingga upahnya dapat dibayarkan.

Jika dalam kondisi tugas calo menjualkan hewan milik penjual, maka perlu ada kesepakatan yang jelas antara penjual dan calo mengenai harga final yang dipatok oleh penjual, disepakati juga mengenai bagian keuntungan dari penjualan

(10)

99 | Jurnal Tamwil, Vol 9, No 2 (2023) hewan untuk penjual dan calo tersebut secara jelas sebagai bentuk penerimaan manfaat, setelah disepakati, calo boleh menawarkan hewan ternak tersebut kepada pembeli dengan jujur sesuai dengan harga yang dipatok oleh penjual sehingga tidak mengganggu harga pasar.

Mengenai hasil kerja para perantara tersebut, Ibnu Sirin, Atha, Ibrahim dan Hasan memperbolehkan perantara tersebut dibayar atas penjualannya, Ibnu Abbas memperbolehkan mereka mengambil keuntungan yang dijanjikan dari penjualan barang, Ibnu Sirin juga memperbolehkan mereka mengambil gaji dari keuntungan yang dibutuhkan, misalnya dibagi dua. Oleh karena itu, calo dilarang untuk menaikkan harga dari harga ya g telah ditetapkan secara final oleh penjual hewan ternak (Iza Hanifuddin, 2014 h.97)

Oleh karena itu perantara dalam praktek marosok ini tidak ada masalah selagi memenuhi ketentuan pertama adanya perjanjian yang jelas antara kedua belah pihak, kedua objeknya samsarah harus nyata dan bisa diserahkan, ketiga objek akad bukan hal-hal yang dilarang syariat.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah penulis jelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan pertama pelaksanaan akad proses akad jual beli marosok dengan perbuatan dan menggunakan jari-jari sebagai media tawar menawar sah dan boleh dilakukan karena perbuatan tersebut dilakukan oleh pelaku pasar yang telah mengerti dengan simbol-simbol tersebut dan telah diketahui secara umum oleh para pelaku pasar tersebut sejak dahulunya.

Terbentuknya harga juga melalui proses alamiah tanpa ada kecurangan kedua makna kerahasiaan yang terkandung dalam jual beli marosok merupakan suatu bentuk mekanisme pasar yanga sangat dihargai dalam Islam guna menghindari pelaku- pelaku pasar yang akan berbuat curang dengan menurunkan harga dibawah harga pasar ketiga kebijakan pemerintah yang melarang menjual hewan ternak produktif merupakan kebijakan yang memberikan kemashalatan terhadap keseimbangan pasar terutama keseimbangan harga dan mencegah kelangkaan barang keempat pekerjaan calo atau perantara dalam praktek marosok tidak ada masalah selagi memenuhi ketentuan adanya perjanjian yang jelas antara kedua belah pihak, objeknya harus nyata dan bisa diserahkan dan objek akad bukan hal-hal yang dilarang syariat

KEPUSTAKAAN ACUAN

Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006

Az-zuhailiy, wahbah, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Jilid 4. Jakarta: Gema Insani. 2011

Haroen Nasrun, Fiqh Mu’amalah, Jakarta:

Gaya Media Pratama, 2000.

Heru Wahyudi, Fiqih Ekonomi, Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung, 2012

Iza Hanifuddin, Fiqh Samsarah dan Praktik Pemakelaran, Batusangkar: STAIN Batusangkar Press, 2014

Luluk Latifah, 2023, DropshipDitinjau Dari Fikih, Brilliant: Journal of Islamic Economics and Financehttps Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023

Laili Nur Amalia, Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Penerapan Akad Ijarah Pada Bisnis Jasa Laundry (Studi Kasus di

(11)

Jual Beli Marosok Menurut Mekanisme Pasar Islam | 100 Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar),

Economic: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol.5, No. 2, ISSN:

2088-6365, e-ISSN: 2477-5576

Miftakhul Huda, 2019, Intervensi Negara Melalui Lembaga Hisbah Untuk Keseimbangan Harga Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah, jurnal pemikiran dan hukum islam Vol. 5 No.

2 tahun 2019 issn: 2443;3950

Muhammad, Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam, Yogyakarta: BPFE, 2004

Nurlailiyah Aidatus Sholihah dan Fikry Ramadhan Suhendar. 2019, Konsep Akad Dalam Lingkup Ekonomi Syariah, Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN : 2548-1398 Vol. 4, No. 12 Desember 2019

Noufal Azmi,2022,Aktualisasi Peran Pemerintah Dalam Menjaga Stabilitas Harga Melalui Mekanisme Tas’īr (Studi Pendapat Wahbah al-Zuḥailī)Journal of Sharia Economics| Vol, 2022, http://doi.org/10.22373/jose.v3i2.185 1

Neneng Nurhasanah, Analisis Keabsahan Jual Beli Menurut Fiqih Muamalah dan KUH Perdata, Jurnal Prosiding Keuangan dan Perbankan Syariah, Vol 3 No.2 (2017), akses 10 Desember 2021

Pusat Pengkajian dan pengembangan ekonomi islam, Ekonomi Islam, Jakarta;

PT Raja Grafindo Persada, 2008.

Rizal Fahlefi, Ekonomi Mikro Islam, Batusangkar; STAIN Batusangkar press, 2008

Suhendi, Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta: PT.

Raja Grafindo, 2002

Titis Indrawati, Iza Hanifuddin 2021.

Eksistensi akad dalam bingkai transaksi bisnis modern: Transaksi bai’mu’athah di supermarket (Existence of Akad in Modern Business Transaction Framework:

Bai'mu'athah Transaction in Supermarket).

Journal of Sharia and Economic Law Vol. 1, No. 2, December 2021

Tri Wahyuni, 2019, Permasalahan Dalam Penerapan Mekanisme Pasar Perspektif Islam, Jurnal Ekonomica Sharia Volume 5 Nomor 1 Edisi Agustus 2019

Taufik Hidayat, Zikra Rahmi, Welan Safitri, Syahril Huda, Okto Viandra Arnes, 2023, Analisis Jual Beli Marosok Dalam Perspektif Maqashid Syariah, Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/

ojs/index.php/tamwil/index E- ISSN : 2775-8125 P- ISSN : 2476-9452

Yusrizal dan Zainuddin (2023), Tinjauan Fikih Ekonomi Terhadap Gadai Kebun Kelapa Sawit (Studi Kasus di Desa Trans Parit Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat), Jurnal Tamwil: Jurnal Ekonomi Islam http://

ecampus.iainbatusangkar.ac.id /ojs /index.php /tamwil /index E- ISSN : 2775-8125 P- ISSN : 2476-9452

Yenti Afrida, 2016, Intervensi Pemerintah Indonesia Dalam Menetapkan Harga Bbm Ditinjau Dari Mekanisme Pasar Islam, jurnal kajian ilmu-ilmu ke islaman, Vol 1, No 1 (2015): 11 Articles, Pages 1-188

Wilya, Evira, Jurnal al-Syir’ah 2013(Ketentuan Hukum IslamTentang At-Tas’ir Al-Jabari), IAIN Manado;

Zuwardi Annita Sari, 2023, Peran dan Mekanisme Pasar, jurnal Astina Mandiri, e-ISSN 2829-7652 Volume 2 Nomor 2 Juli 2023 Hlm. 123-137

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil wawancara lainnya juga didapatkan informasi, bahwa pada mulanya pelaksanaan jual beli dengan cara marosok tidak saja ditunjukkan kepada hewan ternak

(2) Pandangan etika bisnis Islam terhadap jual beli bawang merah di pasar Panampu Kota Makassar dapat disimpulkan bahwa perilaku pedagang di pasar Pannampu

Artinya jual beli online pada situs shopee boleh dilakukan, dengan catatan harus sesuai dengan tampilan dan deskripsi (spesifikasi barang) pada etalase-etalase yang

Dalam transaksi di Pasar Terapung tersebut, penjual dan pembeli tetap melakukan akad jual beli (ijab qabul) sesuai dengan ketentuan hukum Islam, padahal sebenarnya situasi

Membeli efek atas namanya sendiri. Dengan demikian, dealer juga merupakan investor di pasar modal. Pedagang efek bisa juga berfungsi sebagai pialang. Dalam hal. menjalankan

Oleh karena itulah, tidak boleh ada akad jual beli terhadap barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada (Rahman, 2010). 2) Suci, yakni barang yang dijadikan

Telah disebutkan dalam pasal 8 Undang-undang perlindungan konsumen tentang perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha, diantaranya yaitu pelaku usaha dilarang menjual

awal transaksi dilakukan dengan cara memberikan uang muka DP dan harga telah disepakati pada awal akad, harga harus dinyatakan jelas namun praktiknya tidak dinyatakan dengan jelas