PENGELOLAAN BANK “KIR” (KERAJINAN IBU RUMAH TANGGA) SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT
( Study Kasus di RT 002 dan 003 Mulyorejo - Surabaya)
Dewi Kurniasih 1 ; Indri Santiasih2 ; Anda Iviana Juniani 3 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Jalan Teknik Kimia Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Sukolilo Surabaya 60111
Email : [email protected]1) [email protected]2) [email protected]3) Abstrak
Pemerintah telah mengatur tentang pengelolaan sampah untuk mengurangi sampah yang ada di masyarakat. Sampah selain memicu munculnya penyakit, permasalahan pencemaran menjadi penyebab banjir. Salah satu tempat yang menghasilkan sampah terbanyak adalah daerah Mulyorejo, khususnya di RT 003 dan RT 002. Hal ini terkait dengan padatnya jumlah Kepala Keluarga (KK) di wilayah ini karena pada umumnya daerah ini adalah rumah petak (daerah kos rumah tangga) sehingga jumlah sampah yang dihasilkan cukup banyak.
Penelitian ini menggunakan penggabungan metode evaluasi dan deskripsi untuk menjawab research question dari penelitian ini.
Untuk mengurangi sampah yang menumpuk, maka dilakukan program BANK KIR (Kerajinan Ibu Rumah Tangga) yang dikelola oleh ibu rumah tangga, dimana Karakteristik ibu rumah tangganya mendukung untuk menjalankan program. Jenis sampah yang paling banyak disetorkan oleh warga Mulyorejo adalah botol dan plastik lembaran di tiap minggunya. Problematika yang dihadapi pada pengelolaan Bank “KIR terjadi dalam tiap kegiatan, tetapi semua dapat dicarikan alternatifnya.
Kata Kunci : Sampah, Program Bank KIR, Mulyorejo
I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah beserta Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 mengamanatkan perlunya perubahan paradigma yang mendasar dalam pengelolaan sampah yaitu dari paradigma kumpul – angkut – buang menjadi pengolahan yang bertumpu pada pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Kegiatan pengurangan sampah bermakna agar seluruh lapisan masyarakat, baik pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat luas melaksanakan kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali sampah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Reduce, Reuse dan Recycle (3R) melalui upaya-upaya cerdas, efisien dan terprogram. Kota Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan yang ada di Indonesia.
Masyarakat Surabaya sering membuang sampah di tempat-tempat yang salah. Hal ini terlihat dari banyaknya sampah di tempat-tempat umum, di sungai di selokan dan sebagainya.
Sehingga tidak mengherankan jika sering kali kita mendengar lewat media massa, bahwa pada musim penghujan Surabaya sering terkena banjir. Selain memicu munculnya penyakit, permasalahan pencemaran menjadi dampak lain dari perilaku masyarakat ini. Di lain pihak, terdapat masalah pada sistem pembuangan sampah Kota Surabaya yaitu sudah membludaknya sampah di satu-satunya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kota Surabaya, TPA Benowo.
Upaya yang perlu dilakukan guna meminimalisir pencemaran sampah di lingkungan dan untuk membantu pemerintah Kota Surabaya dalam mengelola sampah, dapat dilakukan dengan meningkatkan pemanfaatan sampah di Kota Surabaya dengan melibatkan peran serta masyarakat sebesar-besarnya untuk melakukan program 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).
Namun kegiatan 3R ini masih menghadapi kendala utama, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu melalui pengembangan Bank Sampah yang merupakan kegiatan bersifat social engineering yang mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah serta menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam pengolahan sampah secara bijak dan pada gilirannya akan mengurangi sampah yang diangkut ke TPA. Pembangunan bank sampah ini harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memulai memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah, karena sampah mempunyai nilai jual yang cukup baik, sehingga pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan menjadi budaya baru Indonesia.
Disamping itu peran Bank Sampah menjadi penting dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang mewajibkan produsen melakukan kegiatan 3R dengan cara menghasilkan produk dengan menggunakan kemasan yang mudah diurai oleh proses alam dan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, menggunakan bahan baku produksi yang dapat didaur ulang dan diguna ulang dan/atau menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang dan diguna ulang. Bank Sampah dapat berperan sebagai dropping point bagi produsen untuk produk dan kemasan produk yang masa pakainya telah usai. Sehingga sebagian tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan sampah juga menjadi tanggungjawab pelaku usaha. Dengan menerapkan pola ini diharapkan volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang. Penerapan prinsip 3R sedekat mungkin dengan sumber sampah juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah sampah secara terintegrasi dan menyeluruh sehinga tujuan akhir kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia dapat dilaksanakan dengan baik.
Statistik perkembangan pembangunan Bank Sampah di Indonesia pada bulan Februari 2012 adalah 471 buah jumlah Bank Sampah yang sudah berjalan dengan jumlah penabung sebanyak 47.125 orang dan jumlah sampah yang terkelola adalah 755.600 kg/bulan dengan nilai perputaran uang sebesar Rp. 1.648.320.000 perbulan. Angka statistik ini meningkat menjadi 886 buah Bank Sampah berjalan sesuai data bulan Mei 2012, dengan jumlah penabung sebanyak 84.623 orang dan jumlah sampah yang terkelola sebesar 2.001.788 kg/bulan serta menghasilkan uang sebesar Rp. 3.182.281.000 perbulan. ( Profil Bank Sampah Indonesia, 2012).
Mulyorejo merupakan salah salu kelurahan di kecamatan Mulyorejo yang mempunyai permasalahan di bidang pembuangan sampah khususnya di RT 003 dan RT 002. Hal ini terkait dengan padatnya jumlah Kepala Keluarga (KK) di wilayah ini karena pada umumnya daerah ini adalah rumah petak (daerah kos rumah tangga) sehingga jumlah sampah yang dihasilkan cukup banyak. Disamping itu, hal lain yang menyebabkan jumlah sampah yang dihasilkan cukup besar adalah karena di RT 002 terdapat beberapa KK yang mempunyai usaha di bidang pembuatan makanan. Permasalahan semakin besar apabila petugas pengangkut sampat tidak datang untuk mengambil sampah. Sampah bisa sampai overload keluar dari bak sampah, bahkan bisa sampai berserakan di jalan gang RT 002. Sehingga perlu upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah dan memanfaatkan sampah kembali dengan membuat sampah mempunyai "daya tarik" di bidang ekonomi, yaitu dengan Bank Sampah.
I.2. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang menjadi pertanyaan penelitian (research question) sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran pengelolaan sampah rumah tangga yang ada sebelum dilaksanakannya Bank KIR di daerah Mulyorejo serta karakteristik masyarakat di daerah Mulyorejo untuk mendukung terlaksananya Program Bank KIR ?
2. Sampah apa yang paling banyak disetorkan oleh masyarakat daerah Mulyorejo tiap minggunya ?
3. Apa problematika yang dihadapi pada pengelolaan Bank “KIR” (Kerajinan Ibu Rumah Tangga) sampah berbasis masyarakat di daerah mulyorejo dan bagaimana rekomendasi pemecahan masalahnya ?
I.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian (research question) yang muncul dengan latar belakang seperti yang diuraikan di atas. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh gambaran pengelolaan sampah rumah tangga yang ada sebelum dilaksanakannya Bank KIR di daerah Mulyorejo dan mengetahui karakteristik masyarakat di daerah Mulyorejo untuk mendukung terlaksananya Program Bank KIR
2. Mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat daerah Mulyorejo tiap minggunya
3. Mengidentifikasi problematika yang dihadapi pada pengelolaan Bank “KIR” (Kerajinan Ibu Rumah Tangga) sampah berbasis masyarakat di daerah mulyorejo dan memberi rekomendasi pemecahan masalahnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Sampah
Menurut Hadiwijoto (1983), sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan baik telah diambil bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi ekonomi sudah tidak ada harganya serta dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian alam. Murtadho dan Gumbira (1988) dalam Gilbert (1996) membedakan sampah atas sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik meliputi limbah padat semi basah berupa bahan organik yang umumnya berasal dari limbah hasil pertanian. Sampah ini memiliki sifat mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk karena memiliki rantai karbon relatif pendek.
Sedangkan sampah anorganik berupa sampah padat yang cukup kering dan sulit terurai oleh mikroorganisme karena memiliki rantai karbon yang panjang dan kompleks seperti kaca, besi, plastik, dan lain-lain
II.2. Pengelolaan Sampah
Perkembangan kota akan diikuti pertambahan jumlah penduduk, yang juga akan di ikuti oleh masalah – masalah sosial dan lingkungan. Salah satu masalah lingkungan yang muncul adalah masalah persampahan. Permasalahan lingkungan yang terjadi akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan (Alkadri et al, 1999).
Sistem pengelolaan sampah adalah proses pengelolaan sampah yang meliputi 5 (lima) aspek/komponen yang saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan (Dept. Pekerjaan Umum, SNI 19-2454-2002). Kelima
aspek tersebut meliputi: aspek teknis operasional , aspek organisasi dan manajemen, aspek hukum dan peraturan, aspek pembiayaan, aspek peran serta masyarakat.
Gambar 1. Teknis Operasional Pengelolaan Sampah
(Sumber: Standar Nasional Indonesi(SNI 19-2454-2002)
II.3. Perilaku Yang Mempengaruhi dalam Kepedulian Terhadap Sampah
Menurut Skiner (1938) seorang ahli psikologi dalam Soekidjo Notoadmodjo (2007) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespons. Meskipun demikian, dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti, meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
1. Determinan (faktor) internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya.
2. Determinan (faktor) eksternal yakni lingkungan baik lingkungan fisik, budaya, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang (Notoadmodjo, 2007)
Komponen afektif dari sikap meliputi perasaan atau emosi seseorang terhadap objek.
Adanya komponen afeksi dari sikap, dapat diketahui melalui perasaan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Isi perasaan atau emosi pada penilaian seseorang terhadap objek sikap inilah yang mewarnai sikap menjadi suatu dorongan atau
kekuatan/daya. Apabila orang suka dengan objek, maka dia akan memilih objek tersebut. Hal ini terjadi karena didorong perasaan dan keyakinan terhadap objek tersebut.
II.4. Partisipasi Masyarakat
Menurut WHO (1979), memberikan pengertian bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan masyarakat merupakan hak dan kewajiban anggota masyarakat baik sebagai individu maupun dalam kelompok. Sedangkan Davis dan Newstorn dalam Alfiandra (2010) memberikan pengertian partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang- orang dalam suatu kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagai tanggung jawab pencapaian tujuan itu. Menurut Notoadmojo (2007) dalam Alfiandra (2010) , partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat tersebut. Partisipasi masyarakat di bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri. Dalam hal ini masyarakat sendirilah yang aktif memikirkan, memecahkan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program kesehatan. Kontribusi tersebut bukan hanya terbatas pada dana dan finansial saja tetapi dapat dibentuk dalam tenaga (daya) dan pemikiran (ide). Dalam hal ini dapat diwujudkan dalam 4M yakni, manpower (tenaga), money (uang), material (benda-benda), dan mind (ide atau gagasan). Intinya bahwa partisipasi masyarakat dalam keikut sertaan atau keterlibatan masyarakat secara aktif baik secara moril maupun materil, yang bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama yang didalamnya menyangkut kepentingan individu.
II.5. Bank Sampah
Bank Sampah lahir dari program Jakarta Green and Clean yaitu salah satu cara pengelolaan sampah skala rumah tangga, yang menitik beratkan pada pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Cara kerja bank sampah pada umumnya hampir sama dengan bank lainnya, ada nasabah, pencatatan pembukuan dan manajemen pengelolaannya, apabila dalam bank yang biasa kita kenal yang disetorkan nasabah adalah uang akan tetapi dalam bank sampah yang disetorkan adalah sampah yang mempunyai nilai ekonomis, sedangkan pengelola bank sampah harus orang yang kreatif dan inovatif serta memiliki jiwa kewirausahaan agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Konsep bank sampah ini tidak jauh berbeda dengan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Jika dalam konsep 3R ditekankan bagaimana agar mengurangi jumlah sampah yang ditimbulkan dengan menggunakan atau mendaur ulangnya, dalam konsep bank sampah ini,
paling ditekankan adalah bagaimana agar sampah yang sudah dianggap tidak berguna dan tidak memiliki manfaat dapat memberikan manfaat tersendiri dalam bentuk uang, sehingga masyarakat termotivasi untuk memilah sampah yang mereka hasilkan. Proses pemilahan inilah yang mengurangi jumlah timbunan sampah yang dihasilkan dari rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar di perkotaan. Konsep Bank Sampah membuat masyarakat sadar bahwa sampah memiliki nilai jual yang dapat menghasilkan uang, sehingga mereka peduli untuk mengelolanya, mulai dari pemilahan, pengomposan, hingga menjadikan sampah sebagai barang yang bisa digunakan kembali dan bernilai ekonomis (Aryeti, 2011).
III. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian BANK KIR ini menggunakan metode evaluasi. Menurut Sugiyono (1999), penelitian evaluasi bermaksud membandingkan suatu kejadian atau kegiatan dengan standar yang telah ditetapkan. Evaluasi sebagai penelitian berarti akan berfungsi untuk menjelaskan fenomena. Pengambilan data dilakukan melalui observasi, yaitu berupa pengamatan lapangan, pengambilan gambar, dan pencatatan fenomena.
Dari hasil metode evaluasi ini dikombinasi dengan metode deskriptif dengan analisa kuantitatif bertujuan untuk mencari pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Analisis deskriptif akan dilakukan dengan menggunakan tabel dan grafik. Berikut adalah alur penelitian yang dilakukan pada BANK KIR di Mulyorejo :
Gambar 2. Alur Kegiatan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan bank sampah dapat memberikan output nyata bagi masyarakat berupa kesempatan kerja dalam melaksanakan manajemen operasi bank sampah dan investasi dalam bentuk tabungan (Kementrian Lingkungan Hidup, 2011). Pembangunan bank sampah sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus disertai integrasi dengan gerakan 3R secara menyeluruh di kalangan masyarakat serta pasrtisipasi aktif dari masyarakat Mulyorejo.
Sebelum dibentuknya BANK KIR di daearah Mulyorejo ini, pengangkutan sampah dilakukan hanya dilakukan oleh petugas sampah, yang dilakukan 2 kali dalam seminggu. Hal ini dapat mengganggu jika tidak ada pengambilan sampah, karena terjadi penumpukan sampah, ditambah dengan perumahan kampung yang sangat padat penduduk maka bau sampah bisa sangat menyengat dan dapat mengganggu kesehatan warga. Hal ini sejalan dengan Kegiatan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah (Pasal 11 ayat (3) meliputi : pengumpulan & pengangkutan ke Tempat Pembungan Sampah Akhir (TPSA) sampah di jalan nasional, jalan provinsi, jalan Kota dan lapangan terbuka, pengangkutan sampah dari TPSS ke TPSA, pemusnahan/pemanfaatan sampah dengan cara-cara yang memadai sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Karakteristik ibu rumah tangga yang berada di daerah mulyorejo yang tergabung dalam pengurus bank sampah KIR ini adalah :
1. Ibu – ibu rumah tangga yang tidak bekerja, kalaupun bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
2. Tingkat penguasaan ibu-ibu tersebut terhadap IPTEK yang rendah karena mayoritas berpendidikan rendah (SMP) baik yang tamat maupun yang tidak tamat.
3. Haus informasi untuk memperbaiki dan meningkatkan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga.
Berdasarkan karakteristik dari ibu rumah tangga yang berada di wilayah ini maka sesuai dengan pendapat dari Davis dan Newstorn dalam Anisatullaila (2010), memberikan pengertian partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam suatu kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagai tanggung jawab pencapaian tujuan itu, dimana tujuan dari BANK KIR ini adalah menghasilkan “tabungan mini” dengan cara memilah dan memanfaatkan lagi sampah kering (plastik, kertas dan kaca) sehingga dapat berdaya jual, yang dapat dimanfaatkan setelah melakukan penabungan selama 4 bulan.
Jumlah pengurus bank sampah berjumlah 8 orang yang terdiri atas manager, ketua pelaksana, sekretaris, bendahara, pemilah, penimbang dan pengepak sampah yang sudah disetorkan warga. Secara umum, pengurus aktif melakukan tugas sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya. Sebagai indikator, selama berlangsungnya program, proses pengelolaan sampah dapat dijalankan sesuai rencana. Setiap pengurus bank sampah ini tiap minggunya mendapat kan bayaran Rp.25.000 / orang. Warga yang menyetorkan sampah selanjutnya disebut dengan nasabah BANK KIR Mulyorejo.
Langkah operasional kerja pelaksanaan BANK KIR sebagai berikut :
1. Ibu rumah tangga dari tiap RT tersebut mengumpulkan sampahnya masing-masing di rumah dan dipilah (memisahkan sampah keringnya saja)
2. Jika ikut bergabung dalam bank sampah yang terbentuk maka Ibu rumah tangga tersebut akan mendapatkan 1 buah buku keanggotaan, buku tabungan, dan 1 buah foto copian harga sampah sesuai jenisnya secara GRATIS...TIS...TIS...
3. Sampah disetorkan ke bank sampah yang dibuka tiap 1 minggu sekali, yaitu setiap hari minggu mulai dari pukul 8.00 – 11.30 wib
4. Sampah akan dipilah dan ditimbang kemudian dihargai sesuai hasil timbangan dan sesuai jenisnya
5. Ibu rumah tangga yang menyetorkan sampah akan dicatat di dalam pembukuan besar (nama penyetor, jumlah timbangan sampah dan rupiah yang didapatkan.
6. Uang hasil penjualan sampah akan disimpan di bank sampah yang dibentuk dan baru dapat diambil setelah 3 bulan berjalan untuk pemanfaatan pada bulan ke 4 (jadi uangnya baru bisa diambil tiap 4 bulan sekali).
Sampah yang dapat disetor di BANK KIR adalah Sampah kering atau biasa disebut dengan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat diuraikan oleh alam. Contohnya kertas, logam, plastik, kain, kaca, karet, dan lainnya. Sampah kering memerlukan waktu yang lama untuk dapat hancur. Menghilangkan sampah kering dengan cara membakarnya dan cara ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan polusi udara dan gangguan pernafasan. Sampah yang dikumpulkan dan ditabung di BANK KIR ini berupa sampah kering. Adapun sampah yang paling banyak disetorkan oleh warga tiap minggunya adalah botol dan plastik , dapat dilihat dengan jelas pada gambar grafik dibawah ini.
Gambar : Grafik sampah yang Paling Banyak disetorkanWarga
Alur Kegiatan BANK KIR sampah di Mulyorejo dapat lebih jelas pada bagan dibawah ini.
0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00
Jumlah Sampah (ons)
Tanggal
Jumlah Sampah Per Jenis Sampah Per Minggu
Tembaga Kuningan Aluminium Besi Kertas Botol
Plastik Lembaran Plastik
Lain-Lain Campur
Gambar 3. Alur Bank Sampah
Dari alur kegiatan yang dijalankan di BANK KIR Mulyorejo, problematika yang dihadapi pada pengelolaan Bank “KIR” (Kerajinan Ibu Rumah Tangga) sampah berbasis masyarakat di daerah mulyorejo dan cara rekomendasi pemecahan masalahnya dapat dilihat pada tabel berikut : No Kegiatan Hambatan & Tantangan Solusi yang dilakukan
1. Koordinasi dan Persiapan
Sulitnya mengumpulkan kedua ketua RT yang terpilih dan fiksasi waktu dengan TIM Pengmas
Waktu yang dipilih adalah hari minggu dan malam hari
Ketakutan ketua RT yang terpilih jika program ini tidak berjalan baik takut jika warga tidak berminat, dan program berhenti di tengah jalan.
Mendatangkan narasumber bank sampah dari daerah jambangan, untuk berbagi pengalaman selama mengelola bank sampah didaerahnya.
Kesulitan dalam meminta data warga untuk membuat
undangan dan persiapan sosialisasi, dengan alasan data KK yang ada masih berupa fotokopian KK yang
Meminta data mentah dan membantu membuatkan data
KK
dikumpulkan
Ketua RT 002 mengundurkan diri dalam program pengmas ini, dikarenakan ketua RT tersebut menginginkan
pengurus bank sampah dipisah antar RT dan pusat
pengumpulan sampah dipusatkan di rumahnya, dengan berbagai macam permintaan
Sosialisasi Program tetap dijalankan di dua RT, tetapi ketua RT 002 tidak ikut dilibatkan atas keputusan bersama
Mencari pengepul sampah Mencari pengepul sampah yang ada di internet dan mencoba membuat MoU kerjasama
2. Tahap
Pembentukan Pengurus Bank sampah
Mencari rollmodel dari bank sampah yang akan dibentuk
Mencari bank sampah yang sudah berhasil jalan untuk diminta berbagi pengalaman Melakukan observasi di bank sampah yang sudah berjalan Sulitnya mencari pengurus
yang dapat konsisten dan selalu hadir tiap minggunya
Tiap pemilah, penimbang dan pengepak terdiri dari 2 orang untuk masing-masingnya, sehingga jika salah satu berhalangan hadir masih ada yang lain untuk
menggantikan.
3. Kegiatan sosialisai
Sulitnya mengumpulkan seluruh warga dalam satu waktu
Dicari hari minggu yang bertepatan dengan jadwal arisan warga, sehingga diharapkan warga banyak yang menghadiri acara sosialisasi
4. Kegiatan Pelaksanaan
Hambatan pada kegiatan ini adalah pada pengepul, pengepul hanya dapat mengambil sampah dalam waktu 2 minggu sekali, kemudian pada 2 bulan pertama pengepul mengambil sampah tidak sesuai perjanjian ( 1 minggu sekali disesuaikan dengan bukanya bank sampah), hal ini terjadi dengan alasan keterbatasan armada mereka dalam mengambil sampah yang telah terkumpul, sehingga menyebabkan menumpuknya sampah di rumah yang dijadikan tempat operasi
Mencari pengepul lain yang dapat mengambil sampah tiap minggunya.
BANK KIR.
5. Kegiatan Evaluasi
Pada bulan ke 6 dari 8 bulan perencanaan pelaksanaan ketika dilakukan evaluasi, kekurangan program baru terasa, yaitu pada saat merekap hasil kegiatan seluruhnya.jika selama ini dilakukan dengan manual dan bantuan excel.
Agak sulit menemukan formulasinya
Membuatkan software untuk mempermudah pengecekan mulai dari jumlah keuangan, jumlah total nasabah,
banyaknya sampah yang dihasilkan per nasabah, dll.
Dampak sosial dengan adanya keberadaan Bank KIR di Mulyorejo dianalisis berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terserap (ada 8 warga yang menjadi pengurus di Bank KIR Mulyorejo ini), adanya perubahan persepsi warga sekitar tentang sampah jika selama ini sampah adalah sampah, maka dengan adanya BANK KIR bagi mereka Sampah adalah Uang, dan adanya perubahan perilaku dalam penanganan sampah rumah tangga, artinya sudah tidak ada lagi sampah kering yang berserakan di daerah Mulyorejo ini.
Sesuai pendapat Slamet (2004) masalah pengelolaan sampah di Indonesia merupakan masalah yang rumit jika salah satunya adalah kurangnya memperhatikan faktor non teknis seperti partisipasi masyarakat dan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih.
KESIMPULAN
Sistem pengelolaan sampah dengan metode bank sampah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di daerah Mulyorejo, dimana sistem sebelumnya sampah hanya dibuang tanpa ada pengelolaan. Sampah yang paling banyak dihasilkan dan disetorkan ke Bank KIR Mulyorejo adalah botyol dan plastik lembaran. Selain itu problematika selalu terjadi di tiap kegiatan BANK KIR tetapi tidak ada masalah yang tidak ada solusinya dan ini pun berlaku di Mulyorejo.
TINJAUAN PUSTAKA
Alfiandra., 2010 Kajian partisipasi masyarakat yang melakukan pengelolaan persampahan 3r di kelurahan ngaliyan dan kalipancur Kota semarang. Tesis,Program pascasarjana Magister teknik pembangunan wilayah dan kota Universitas diponegoro Semarang
Alkadri, et al., 1999, Tiga Pilar Pengembangan Wilayah, Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah-BPPT, Jakarta
Dept. Pekerjaan Umum, SNI 19-2454-2002
Gelbert, M., et. al., 1996, Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup dan ”Wall Chart”, Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup, PPPGT/VEDC,Malang.
Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Jakarta: Yayasan Idayu.
Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, 2003, Revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03 – 3242 -1994 tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman, Jakarta
Profil Bank Sampah.2012. Profil Bank Sampah 2012 .Kementrian Lingkungan Hidup:
Jakarta