e-ISSN 2477-6300, DOI: 10.31602/jbkr.v9i1.11207
Studi Kasus Dampak Pengaruh Gadget Terhadap Komunikasi Dalam Keluarga
Yulianti, Tiara Dila Safitri, Daniel Ade. K, Muhammad Rai Farhan
Program Studi Bimbingan Dan Konseling, Universitas Jambi, indonesia.
Submitted: 24-05-2023 Accepted: 31-05-2023 Published: 30-06-2023 ABSTRACT
One of the negative impacts of increasing gadget users for mankind is the impact of gadgets on household communication patterns. Therefore, this study aims to find out what are the influences of gadgets on communication in the family using qualitative methods, namely by using interviews and observations. The results of this study show the influence of the use of gadgets in communication in the family is the deterioration of communication and relationships in the family, loss of empathy and concern for the outside environment and children feel foreign and parents lose their roles. The influence of the use of gadgets in family communication can occur due to excessive use of gadgets so that it can have a negative impact on parent-child communication in the family. The intensity of direct communication between parents and children becomes reduced because they are too engrossed in using gadgets, interaction and communication with the outside environment is also lacking which makes it difficult for children to empathize and care and parents who are addicted to gadgets will be more negligent with responsibilities at home so as to make children feel foreign because of lack of affection. From this study, it is hoped that future research can examine more deeply the influence of gadgets that can be caused by family communication and can make this research a reference in knowing what are the effects of gagdet on family communication.
Keywords: gadgets, communication, family
ABSTRAK
Salah satu pengaruh negatif meningkatnya pengguna gadget bagi umat manusia adalah pengaruh gadget terhadap pola komunikasi rumah tangga. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja pengaruh yang ditimbulkan gadget terhadap komunikasi dalam keluarga dengan menggunakan metode kualititatif, yaitu dengan menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh dari penggunaan gadget dalam komunikasi dalam keluarga adalah memburuknya komunikasi dan hubungan dalam keluarga, hilangnya rasa empati dan kepedulian terhadap lingkungan luar dan anak merasa asing serta orang tua kehilangan perannya. Pengaruh penggunaan gadget dalam komunikasi keluarga dapat terjadi dikarenakan penggunaan gadget yang berlebihan sehingga dapat berdampak negatif pada komunikasi orangtua-anak dalam keluarga. Intensitas komunikasi langsung antara orang tua dan anak menjadi berkurang karena terlalu asyik menggunakan gadget, interaksi dan komunikasi dengan lingkungan luar juga kurang yang menimbulkan anak susah berempati dan peduli, orang tua yang kecanduan gadget akan semakin lalai dengan tanggung jawab dirumah sehingga membuat anak merasa asing karna kurang kasih sayang. Dari penelitian ini diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih dalam pengaruh gadget yang dapat ditimbulkan terhadap komunikasi keluarga dan bisa menjadikan penelitian ini sebagai acuan dalam mengetahui apa saja pengaruh gagdet terhadap komunikasi keluarga.
Kata Kunci: gadget, komunikasi, keluarga
PENDAHULUAN
Kini teknologi sangat berkembang pesat sesuai dengan perkembangan zaman.
Teknologi hadir dengan beberapa macam jenis media elektronik yang sangat mengesankan.
Dimana setiap media memeiliki jenis dan fitur yang berbeda-beda. Ini menjadi bukti bahwa teknologi hadir atas dasar perkembangan zaman dan kebutuhan manusia yang semakin banyak.
Teknologi sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari selain itu teknologi dapat muda ditemukan sekarang dalam bentuk yang beragam.
Salah satu bentuk dari perkembangan teknologi itu sendiri yaitu gadget, gadget merupakan alat telekomunikasi yang paling banyak dimiliki manusia karena sangat mempermudah kegiatan manusia dan juga memiliki fitur yang menarik, Gadget dapat membantu manusia dengan waktu yang lebih cepat. Gadget tidak hanya dapat digunakan untuk kalangan orang dewasa saja melainkan anak-anak hingga lansia bisa mengakses penggunaan gadget dengan muda, maka dari itu gadget dapat mempengaruhi pola kehidupan manusia termaksud dalam komunikasi dalam keluarga.
Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut sebagai
"acang". Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur "kebaruan". Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Contoh-contoh dari gadget di antaranya telepon pintar (handphone) seperti iphone dan blackberry, serta notebook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet) (Rita & Kariyadi, 2023).
Saat ini pengguna gadget smartphone di Indonesia terus meningkat. Sebuah lembaga riset menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kelima daftar pengguna smart-phone terbesar di dunia. Data tersebut dilansir oleh Horace H. Dediu melalui blognya, asymco.com.
Pada laman detik.com tertulis jika populasi Android telah mrncapai lebih dari 1 miliar, sedangkan iOS mencapai 700 juta. Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan penjualan smartphone terbanyak di dunia antara lain diperingkat pertama adalah Brasil dengan 47 juta penjualan dan 38,2 juta pengguna baru, Indonesia dengan 46 juta penjualan dan 39,8 juta pengguna baru, Rusia dengan 31 juta penjualan dan 21,4 juta pengguna baru, Jepang dengan 30 juta penjualan dan 22,9 juta pengguna baru, Meksiko dengan 23 juta penjualan dan 16,3 juta pengguna baru, Jerman dengan 22 juta penjualan dan 12,2 juta pengguna baru, Prancis dengan 18,7 juta penjualan dan 11,21 juta pengguna baru, dan terakhir adalah Inggris dengan 17,7 juta penjualan dan 8,24 juta pengguna baru. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer pengguna aktif gadget khususnya penggunaan smartphone di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang tahun 2018. Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. ( Herna A, Nurhayati & Yulia, 2019). Riset ini menunjukan penggunaan gadget terjadi disemua kalangan dan dapat mempengaruhi siapapun, penggunan gadget berlebihan inilah yang berdampak terhadap bebrapa aspek kehidupan.
Gadget memiliki dampak yang baik apabilah tidak di salah gunakan dan pintar dalam memanfaatkan penggunaannya, begitupun sebaliknya apabila gadget digunakan secara berlebihan akan menimbulkan kecanduan dan berdampak negatif untuk diri sendiri bahkan orang lain. Salah satu guna gadget yaitu sebagai alat komunikasi, gadget dapat membuat penggunanya dapat melakukan komunikasi jarak jauh bahkan melakukan video untuk saling mengetahui kondisi. Hal Ini sangat menguntungkan untuk keluarga dalam menjaling komunikasi antar keluarganya yang berada berjauhan. Komunikasi sendiri merupakan hal yang sangat penting agar tersampainya pesan yang ingin disampaikan kepada penerima pesan, komunikasi sendiri bisa disampaikan secara langsung maupun tidak secara langsung.
Komunikasi pertama kali terjadi dilingkungan keluarga, orang tua dan anggota keluarga menjadi objek komunikasi yang terjadi. Keluarga merupakan suatu hubungan yang terjadi atas dasar pernikahan yang akan melahirkan keturunan baru dan terus berkembang biak. Komunikasi
dalam keluarga sangat penting untuk menjalin hubungan kasih sayang antar anggota keluarga.
Dengan perkembangan zaman kini komunikasi dapat di lakukan dengan sangat muda salah satunya dengan menggunakan gadget.
Namun fenomena sekarang ini lebih banyak orang kecanduan dalam penggunaan gadget, baik orang dewasa bahkan anak-anak. Ini sangat memprihatinkan untuk lingkungan keluarga, sebab anggota keluarga akan sibuk masing-masing dengan gadget yang dimilikinya.
Keharmonisan keluarga juga akan menurun karna kurangnya interaksi yang terjadi secara intens didalam keluarga. Dampak dari penggunaan gadget secara berlebihan dalam keluarga juga berakibat buruk terhadap komunikasi keluarga, membuat anak tidak dekat dengan orang tua, anak susah untuk diatur, anak melawan, hingga orang tua meninggalkan tanggung jawabnya.
Dari penelitian yang dilakukan herna dkk 2019, menunjukan penggunaan gadget terhadap pola komunikasi keluarga sekitar (97,8%) yang pola komunikasi dengan keluarganya kurang baik dan (2,2%) yang pola komunikasi dengan keluarganya baik. Dari 32 responden dengan penggunaan gadget kadang-kadang terdapat 5 orang (15,6%) yang pola komunikasi dengan keluarganya kurang baik dan 27 orang (84,4%) yang pola komunikasi dengan keluarganya baik.
Ini menunjukan ada hubungan dan pengaruh yang ditimbulkan gadget terhadap komunikasi keluarga.
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan berkaitan dengan dampak gadget terhadap komunikasi keluarga adalah penelitian yang dilakukan Nurliana & Nurul Aini. Penelitian ini mengkaji mengenai dampak gadget terhadap komunikasi orang tua dan anak dalam keluarga di TK Negeri Pembina Kecamatan Lut Tawar. Adapun hasil dari penelitian tersebut adalah Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh gadget pada murid di TK Negeri Pembina kecamatan Lut Tawar yaitu terbatasnya komunikasi antara orang tua dan anak, aspek psikomotorik dan fisik, serta aspek agama dan moral (Nurliana & Nurul, 2021).
Berbeda dengan penelitian diatas penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh yang ditimbulkan gadget dalam komunikasi keluarga, dengan latar belakang keluarga yang berbeda- beda dengan cara komunikasi keluarga yang berbeda pula. Menekankan kepada pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan gadget jenis handphone yang digunakan subjek dalam penelitian ini pada komunikasi keluarganya, tidak menekankan pada dampak yang terjadi pada komunikasi keluarga seperti pada penelitian terdahulu.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan studi kasus digunakan sebab penelitian ini memfokuskan kepada salah satu kasus khusus yang akan diolah secara terperinci dengan penggalian data secara dalam. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh), tidak mengisolasi individu ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai bagian dari keutuhan (Farida, 2014). Penelitian kualitatif dipilih dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan apa saja pengaruh yang ditimbulkan gadget terhadap komunikasi di dalam keluarga. Jenis gadget yang menjadi fokus sasaran penelitian ini adalah handphone, dimana handphone ini menjadi jenis gadget yang dimiliki oleh sampel penelitian.
Dalam metode kualitatif yang digunakan adapun alat pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan langsung terhadap perwakilan orang tua dan anak secara langsung, wawancara digunakan untuk mendapatkan informasih secara langsung dari responden. Observasi langsung di lakukan di rumah subjek penelitian, observasi dilakukan guna melihat kondisi nyata yang terjadi dilapangan. Adapun pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposif dimana peneliti menentukan kriteria responden yang akan menjadi sampel penelitian dengan kriteria yang sudah ditentukan seperti: (1) keluarga terdiri atas ibu, ayah dan anak, (2) masing-masing anggota keluarga memiliki gadget, (3) jam
penggunan gadget lebih dari dua jam sehari, dan (4) interaksi keluarga yang jarang dilakukan.
Hasil dari sampling purposif menghasilkan 3 rumah tangga yang kecanduan dalam penggunaan gadget (handphone) yang akan dijadikan responden dalam penelitian. Jenis data yang digunakan yaitu data primer yang mana data ini berupa informasi dalam penelitian didapatkan langsung di lapangan atau langsung dari responden. Responden terdiri dari 6 orang responden 3 orang tua dan 3 anak-anak.
Tabel 1. Responden Penelitian Responden Jenis Kelamin Umur
Orang tua 1 Perempuan 29
Orang tua 2 Perempuan 34
Orang tua 3 Laki-laki 34
Anak 1 Laki-laki 14
Anak 2 Laki-laki 11
Anak 3 Laki-laki 9
(Sumber: Data diolah, 2023)
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian
Dari pelaksanaan wawancara, ditemukan beberapa pernyataan unik responden yang terkait dengan pengaruh gadget terhadap komunikasi keluarga kepada orang tua dan anak.
Misalnya terkait pengaruh apa yang ibu/bapak/anak rasakan bila anggota keluarga kecanduan menggunakan gadget terhadap komunikasi yang terjadi di keluarga, direpresentasikan dalam sejumlah pernyataan berikut:
“Pastinya komunikasi di rumah menjadi tidak baik karena jarang komunikasi lebih fokus ke HP, anak-anak juga kalau diajak ngobrol tidak punya sopan santun lagi sebab kalau diajak ngomong mereka sibuk sama hpnya” (Orang tua 1).
“Karena orang rumah sering atau sibuk sama HP-nya, ya kita sebagai orang tua jadinya sering marah ya, tapi gitu lah kalau kita marah orang yang dimarahkan lebih marah lagi.
kadang di kasih tau ajah dikira marah jadinya ribut, anak-anak juga jadi melawan kalau diajak bicara” (Orang tua 2).
“Anak tidak bisa diajak berbicara dengan baik, keluarga jadinya jarang bicara, akhirnya kami orang tua tidak dekat sama anak dan tidak mengetahui apa yang dialami oleh anak selain itu anak jadi susah dikasih tau, anak juga tidak peduli sama sekitarnya anak-anak lebih suka bermain HP di kamar ketimbang bermain sama teman-temannya” (Orang tua 3)
“Kalau mama/bapak lagi main hp ya ngomongnya cuman singkat-singkat” (Anak 1)
“Nggak sering komunikasi, ngomong cuman pas nyuruh ajah” (Anak 2)
“Jadi sering marah-marah, kalau ngasih tau aja marah-marah, bapak juga sama mama jadi sering bertengkar” (Anak 3)
Sedangkan terkait pengaruh kecanduan gadget dengan responnya terhadap lingkungan luar anak/ orang tua dan sekitarnya, direpresentasikan dalam sejumlah pernyataan berikut:
“Anak saya kalau disuruh main diluar juga ngak mau katanya diluar juga ketemu kawan pasti mainnya HP” (Orang tua 1).
“Kalau anak-anak udah main HP mau adiknya nangis, mau ada yang jatuh pun nggak peduli lagi dia” (Orang tua 2).
“Pokoknya ya anak mah mau lagi lihat orang sakit, mau lagi ngomong, mau lagi makan juga sambil main HP, pokoknya itu HP ngak lepas dari tanggannya” (Orang tua 3).
“Main HP ajah di kamar, dirumah sama ajah, di gems juga ketemu kawan-kawan” (Anak 1)
“Temen-temen ku juga main HP semua, nanti bahas itu juga kalau ketemu, kalau disuruh mama ya aku bantuin” (Anak 2)
“Kalau disekolah ketemu kawan, kita main bareng, dirumah ajah baru bisa main HP.
Kadang kalau disuruh jagain adik jadi malas karna lagi main games” (Anak 3)
Terkait bagaimana hubungan antara anggota keluarga apabila sudah kecanduan gadget, direpresentasikan dalam sejumlah pernyataan berikut:
“Hubungannya ya tetap baik, cuman itulah jadi sibuk masing-masing, akhirnya kami sebagai orang tua juga ngak bisa dekat sama anak, ngak tau lagi ngapain ngerjain apa kita nggak tau” (Orang tua 1)
“Kita sebagai orang tua berusaha agar anak bisa membagi waktu main HP dan waktu lainnya tapi anak-anak juga susah dibilangin” (Orang tua 2)
“Pastinya karna kecanduan gadget kami selaku orang tua tidak begitu dekat dengan anak, dan kami juga tidak bisa mengawasi anak-anak kami, karna keseringan cekcok masalah main HP terus akhirnya anak juga seperti menghindar, ya seperti tidak mau memberi tahu sesuatu yang lagi dirasakan. Takut nanti anak-anak merasa sendiri, kesepian atau kurang kasih sayang kan kasian jadinya”. (Orang tua 3)
“Kalau mama yang main HP kami kadang ngurus apa-apa sendiri, mama jadi nggak tau kami lagi ngapain lagi dimana dia nggak tau, dia taunya kami lagi main HP di kamar kadang gitu si. (Anak 1)
“Jadi takut mau ngomongnya tu ke mama/bapak, kami juga jarang ngomong si, jadi sibuk masing-masing lah jadi kesepian juga kalau di rumah tu”. (Anak 2)
“Mama sama bapak jadi sering bertengkar, sering marah-marah lah gitu, jadinya aku lebih suka main sendiri di kamar”. (Anak 3)
Dalam penelitian ini observasi di lakukan langsung di beberapa rumah tangga yang menjadi responden penelitian, dalam waktu observasi awal adalah seminnggu lamanya untuk mengetahui benar adanya keluarga yang kecanduan gadget hingga akhirnya memilih untuk melakukan observasi lanjutan sesuai hasil penelitian. responden yang dipilih merupakan orang tua dan anak yang mengalami kecanduan gadget sesuai dengan penarikan sampel yang dijelaskan di metode penelitian.
Responden orang tua yang perempuan hanya tinggal dirumah mengurus pekerjaan rumah, sedangkan responden laki-laki bekerja diluar rumah bahkan sering bekerja dirumah lewat hp.
Sedangkan responden anak-anak semuanya sudah bersekolah.
Selama melakukan observasi didapatkan hasil yaitu frekuensi menggunakan gadget dilingkungan keluarga hampir 2 jam lebih dalam sehari, sehingga anggota keluarga akan sibuk dengan hp masing-masing, jarang melakukan komunikasi, sering terjadi cekcok, cara anak berbicara dengan orang tua kurang baik, anak-anak lebih suka bermain sendirian di kamar ketimbang main diluar, orang tua yang bermain gadget juga sering lupa waktu sehingga lupa mengerjakan pekerjaan rumah, kurang memperhatikan keperluan anak-anak, membebaskan anak-anak untuk melakukan sesuatu, orang tua bahkan tidak dekat dengan anaknya sehingga dilihat anak seperti asing dengan orang tuanya sendiri.
Dari penelitian yang dilakukan dapat ditemukan hasil mengenai pengaruh gadget terhadap komunikasi dalam keluarga sebagai berikut: (1) Memburuknya komunikasi dan hubungan dalam keluarga, (2) Hilangnya rasa empati dan peduli terhadap lingkungan luar, (3) Anak merasa asing dan orang tua kehilangan perannya.
Pembahasan
Saat ini gadget menjadi sebagai salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat, dimana pengguna gadget bukan hanya dari kalangan orang dewasa, remaja dan anak-anak pun sudah menjadi pengguna gadget. Gadget menyajikan berbagai media yang menarik mulai dari berita, jejaring sosial, informasi gaya hidup, hingga berbagai hiburan seperti game yang disajikan secara online maupun offline membuat gadget semakin menarik banyak perhatian masyarakat luas. Tetapi dari banyaknya kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu gadget, juga terdapat banyak dampak negatif bermunculan. Bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik (Herna, 2019).
Gadget dapat memberikan pengaruh yang baik maupun buruk pada penggunanya tergantung bagaimana bijaknya dalam menggunakan gadget. Didalam komunikasi keluarga gadget berpengaruh dalam menjalankan fungsinya sebagai alat telekomunikasi yang canggi dengan fitur komunikasi jarang jauh yang disediakannya. Namun, gadget juga dapat menjadi pengaruh buruk dalam komunikasi apabilah disalah gunakan atau penggunanya mengalami kecanduan dalam penggunaan gadget sendiri.
Komunikasi antara orang tua dengan anaknya sangat penting bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tapi juga untuk perkembangan kepribadian seorang anak. Jika komunikasi yang didapatkan dari orang tua memberikan pengaruh yang baik kepada anak, maka akan membuat anak berkebangan dengan baik pula. Bagaimana komunikasi yang terjadi didalam rumah juga menentukan perilaku yang akan ditimbulkan anak. Sedangkan pengaruh gadget suda mengubah norma berbicara dan perilaku seseorang.
Pada awalnya gadget yang berfungsi memudahkan upaya interaksi antar individu kini mulai berdampak sebaliknya. Pengguna gadget kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan gadgetnya daripada bercengkrama atau sekedar menghabiskan waktu mengobrol bersama dengan anggota keluarga yang lain. Penggunaan gadget yang tidak terkontrol seperti inilah yang dapat mengganggu proses interaksi sosial. Atau bahkan bisa jadi terisolasi dari lingkungan sosialnya, termasuk di dalam lingkungan sosial terdekatnya yaitu keluarga. Interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di masyarkat yang didorong oleh efek media berkemvang serta konsekuensi sosial macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahaan yang didorong oleh media itu sendiri (Indah, 2015). Untuk itu gadget memiliki pengaruh besar terhadap komunikasi dalam
keluarga dimana pengaruh tersebut dapat menjadi buruk untuk komunikasi dalam keluarga bila penggunan gadget terus dilakukan secara berlebihan.
Pengaruh gadget yang sangat di rasakan terhadap komunikasi dalam keluarga yaitu memburuknya komunikasi yang terjadi dalam keluarga. Penggunaan gadget dalam keluarga mempengaruhi keseluruhan interaksi sosial dalam keluarga tersebut. Dimana interaksi yang biasanya dilakukan antara orang tua pada anaknya sebagai bentuk pengasuhan dan komunikasi untuk menciptakan kekukuhan keluarga akan terganggu, hal tersebut dikarenakan keluarga merupakan kesatuan sistem yang utuh, dimana bila salah satu anggota keluarga mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi secara langsung, hal tersebut membuat keluarga secara sadar atau tidak akan mengurangi atau melakukan perubahan dalam pola interaksi sosialnya (Indah, 2015). Karena keseringan menggunakan gadget anggota keluarga cenderung mengahlikan pembicaraan ke gadget lebih senang mendiskusikannya di dalam gadget. Ini membuat sering terjadinya kesalah pahaman antar anggota keluarga, bila terjadinya komunikasi secara langsung yang terjadi tiba-tiba didalam keluarga tersebut tidak jarang respon yang ditimbulkan penuh dengan emosi. Seperti anak yang sedang bermain gadget diajak bicara orang tuanya dia akan merespon dengan marah karna telah menggangu dirinya yang sedang bermain gadget. Ini menunjukan memburuknya komunikasi dalam keluarga karna kecanduan penggunaan gadget juga mengubah cara bicara seseorang dan mengubah tingkah laku seseorang. Anggota keluarga akan sering berbicara dengan nada yang lebih tinggi sehingga memicu terjadinya cencok. Komunikasih yang buruk juga membuat anak menjadi ikut larut dalam komunikasi yang tidak baik, ikut meniru apa yang didengarnya atau bahkan tidak peduli lagi dengan apa yang di disampaikan oleh orang tuannya. Anak akan berani melawan dengan orang tuanya, anak akan lebih sering menggunakan gadget untuk mengahlikannya.
Orang tua seharusnya tau cara mengkomunikasikan sesuatu kepada anak-anaknya yang ada di rumah, isi atau pesan yang disampaikan harus dengan bahasa yang ringan, jelas, dan juga dengan nada bicara yang lembut. Ini dilakukan agar anggota keluarga yang menerima pesan akan mengerti maksud yang disampaikan dan tidak terjadi kesalah pahaman. Terutama untuk anak-anak, anak-anak sering merasa orang tua memarahinya bila diberi nasehatan ini dikarenakan cara penyampaian orangtua terbilang salah. Komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua didasari oleh prinsip keterbukaan. Yaitu bersikap terbuka dan jujur mengenai perasaan/pemikiran masing-masing, tanpa adanya rasa takut dan khawatir untuk mengungkapkannya, kemudian budaya mendengar dan memberi kesempatan, maksudnya adalah kita harus mendengarkan argumen, menerima diri dan menerima orang lain (Herna, 2019).
Pengaruh gadget selanjutnya terhadap komunikasi dalam keluarga yaitu hilangnya rasa empati dan peduli terhadap lingkungan luar. Anggota keluarga yang kecanduan gadget dan jarang melakukan komunikasi membuat rasa empati dan kepuduliannya berkurang. Mereka seakan-akan tidak mengetahui dan tidak peduli kabar satu sama lain, mereka tidak tau apa yang sedang dialami anggota keluarganya, bahkan takjarang anggota keluarga mengetahui kondisi anggota keluarga lainnya dari gadget masing-masing. Komunikasih yang jarang dilakukan juga membuat anggota keluarga tidak mau memberitahukan kondisinya dengan anggota keluarga lainnya. Bahkan kejadian yang terjadi langsung disekitar tidak begitu dipedulikannya.
Dari hasil wawancara tersebut membuktikan bahwasannya ketika anak kecanduan menggunakan gadget mereka akan menggunakan gadget hampir disetiap aktifitasnya. Sehingga empati yang diberikan keorang lain pun tidak akan sampai karna masih melibatkan gadget dalam menyampaikan empatinya. Dari hasil wawancara juga kita dapat mengetahui bahwa anak-anak yang kecanduan menggunakan gadget tidak peka akan lingkungan sekitarnya mereka cendrum mengandalkan gadget untuk mengekspresikan perasaannya. Anak juga tidak peduli dengan lingkungan diluar sebab mereka bisa mendapatakan informasi dari luar melalui gadget.
Anak yang bermain dan menghabiskan waktunya di gadget jarang merasakan bermain dan berbaur dengan teman-teman sebayanya. Tidak dapat dipungkiri, gadget sangat mempengaruhi kehidupan manusia, baik orang dewasa maupun anak-anak. Smartphone, notebook, tablet dan aneka ragam bentuk gadget dalam kehidupan sehari-hari sangat mudah ditemui pada zaman sekarang. Hal seperti ini bukan menjadi hal yang mewah untuk zaman sekarang, karena sebagian dari anak-anak sudah difasilitasi oleh orang tuanya sendiri agar orang tua lebih leluasa untuk melakukan aktivitas tanpa harus mendampingi anak bermain. Anak-anak tentunya sangat senang jika memperoleh gadget dari orang tuanya. Namun tanpa disadari, hal seperti ini sangat mempengaruhi kemampuan interaksi sosial pada anak (Pebriana, 2017). Ini membuat komunikasi dalam keluarga tidak tersampaikan karna tidak mampu mengutarakan kepeduliannya dan menunjukan rasa empatinya. Apabila hal ini terus terjadi komunikasi didalam keluarga tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang didalamnya. Anak pun menjadi trisolir oleh aktifitas dari luar mereka tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi diluaran sana.
Pengaruh gadget terhadap komunikasi dalam keluarga yaitu dapat menjadikan anak merasa asing dengan anggota keluarganya dan orang tua yang kecanduan gadget juga kehilangan tanggung jawabnya. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh yang dirasakan dan timbulkan anak dan orang tua dari hasil observasi penelitian yang dilakukan ditemukan hasil sebagai berikut;
Anak tidak banyak bercerita tentang apa yang dirasakan dan dialaminya
Anak lebih baik tidak memberitahukan kepada orangtuanya bila terjadi sesuatu
Anak merasa takut dan segan saat memulai obrolan
Orangtua membebaskan anak melakukan sesuatu
Orangtua merasa bahwa anaknya mampu secara mandiri melakukan aktifitas biasanya Dari hasil kesimpulan atas observasi yang dilakukan terlihat bahwasannya anak tidak begitu dekat dengan orang tuannya sehinnga merasa asing ketika memerlukan bantuan atau melakukan obrolan santai dengan orangtuanya. Seperti yang kita ketahui bahwasannya bukan hanya anak-anak saya yang menggunkan gadget orang dewasapun mulai kecanduan menggunakan gadget. Orangtua yang kecanduan menggunakan gadget juga tatkala melalaikan tanggung jawabnya sehingga terkadang anak merasa kehilangan peran orang tuannya. Orang tua yang sibuk dengan gadget tidak sempat melakukan pekerjaan rumah dan mengetahui kondisi anak-anaknya. Bahkan orangtua yang suda kemakan iklan yang ditemui di gadget sering memesan barang elektronik untuk membantu pekerjaan rumah dan membeli makan siap saji yang nantinya diberikan ke anggota keluarganya. Orang tua yang sibuk dengan gadget yang suda menjadikan gadget untuk alat berkomunikasi dengan teman-temannya dan membuat janji pertemuan melalui fitur komunikasi di gadget sering lupa akan kondisi keluarganya baik itu kebutuhan anak-anak dan suaminya.
Orang tua yang sibuk bekerja di gadget juga jarang memberikan waktu luangnya untuk mengobrol bersama keluarga membuat anak merasa kesepian dan tidak punya tempat untuk bercerita, bahkan tak jarang anak tidak merasa peran orang tua yang akhirnya membuat anak menjadi tertututup dan merasa asing dikeluarga sendiri. Kesibukan orang tua karna gadget juga bisa menimbulkan miskomunikasi yang akhirnya membuat komunikasi menjadi komunikasi satu arah, itulah mengapa orang tua harus pintar membagi waktu dan tidak kecanduan menggunakan gadget dan tetap menjaga komunikasi agar tetap terjalin komunikasi dalam keluarga yang sehat. Banyak hal yang mungkin terkjadi oleh anak-anak yang tidak diketahui orang tuanya karna kurangnya komunikasi padahal salah satu tanggung jawab orang tua adalah untuk mengetahui perkembangan fisik, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan moral, perkembangan minat, dan perkembangan kepribadian dari setiap anak-anaknya. Ketidakadaan komunikasi dalam keluarga juga dapat menjadikan keluarga terjadi kesenjangan, anak-anak dapat menunjukan rasa hormat hanya dirumah tetapi apabila diluar rumah maka mereka melakukan sesuatu yang bersifat negatif (Rahmawati, 2018).
PENUTUP
Pengaruh gadget terhadap komunikasi dalam keluarga terjadi akibat menggunakan gadget secara berlebihan, dan tidak mampu mengimbangin penggunaan gadget dalam komunikasi keluarga. Komunikasi dalm keluarga tidak berjalan semestinya bahkan menimbulkan permasalahan pada komunikasi dalam keluarga karna pengaruh dari penggunan gadget secara berlebihan. Pengaruh penggunaan gadget pada komunikasi dalam keluarga dapat membuat buruknya komunikasi dan hubungan dalam keluarga, ini bisa terjadi karna tidak ada waktu untuk melakukan komunikasi secara langsung didalam keluarga karna banyaknya waktu yang dihabiskan untuk gadget masing-masing. Selanjutnya pengaruh penggunaan gadget terhadap komunikasi dalam keluarga yaitu hilangnya rasa empati dan kepudilikan terhadap lingkungan luar, sibuknya anggota keluarga terhadap gadget masing-masing membuat mereka tidak memperdulikan anggota keluarga lainnya dan kegiatan diluar rumah. Anak merasa asing dan orang tua kehilangan perannya menjadi salah satu pengaruh yang ditimbulkan akibat gadget pada komunikasi dalam keluarga, anak yang kekurangan komunikasi dan waktu dengan keluarganya akan merasa asing terhadap keluarganya sendiri dan orang tua yang sibuk dengan gadgetnya akan lalai akan tanggung jawabnya sehingga anak merasa kehilangan peran dari orang tuannya.
Dari hasil penelitian ini masih banyak pengaruh yang akan ditimbulkan dari penggunaan gadget terhadap komunikasi keluarga dari latar belakang keluarga yang berbeda, jenjang kecanduan gadget yang berbeda sehingga akan menimbulkan pengaruh yang berbeda pula. Untuk itu diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk memperbesar responden penelitian untuk dapat mendeskripsikan pengaruh gadget terhadap komunikasi keluarga dari aspek keluarga yang berbeda-beda.
REFERENSI
Albi, A., & Johan, S. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Suka Bumi: CV Jejak.
Damayanti, E., Ahmad, A., & Bara, A. (2020). Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berdasarkan Aspek Perkembangan Anak Di Sorowako. Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak, 4 (1), 1-22. https://doi.org/10.21274/martabat.2020.4.1.1-22
Herna, A., Nurhayati, & Yulia, N. (2019). Analisis Penggunaan Gadget Terhadap Pola Komunikasi Keluarga. Jurnal Faletehan Health, 6 (2), 51-55.
https://doi.org/10.33746/fhj.v6i2.16
Indah, L., Agus, W, R., & Budi, M.T. (2015). Pengetahuan Gadget Pada Interaksi Sosial Dalam Keluarga. Jurnal Prosiding KS: RISET & PKM, 2 (2), 147- 300.
https://doi.org/10.24198/jppm.v2i2.13280
Karlina, D. A. (2020). Mengenal Dampak Positif Dan Negatif Internet Untuk Anak Pada Orang Tua. Jurnal Pasca Dharma Pengabdian Masyarakat, 1 (2), 53–56.
https://doi.org/10.17509/jpdpm.v1i2.24002
Nanndo, Y., Dkk. (2020). Pengaruh Gadget Pada Anak-Anak. Jombang: LPPM UNHASY Tebuireng Jombang.
Nugrahani, F. (2014). Metode Penelitian Kualitatif Dalam Pendidikan Bahasa. Surakarta: Uns Press.
Nurliana, N. A. (2021). Dampak Gadget Terhadap Komunikasi Orang Tua Dan Anak Dalam Keluarga Di Tk Negeri Pembina Kecematan Lut Tawar. Jurnal As-Salam, 5 (1), 101- 109. https://doi.org/10.37249/assalam.v5i1.247
Marpaung, J. (2018). Pengaruh Penggunaan Gadget Dalam Kehidupan. KOPASTA: Jurnal Program Studi Bimbingan Konseling, 5 (2), 55–64.
https://doi.org/10.33373/kop.v5i2.1521
Putri. H. P. (2017). Analisis Penggunaan Gadget Terhadap Kemampuan Interaksi Soial Pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1 (1), 1-11.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v1i1.26
Rahmawati, & Muragmi. G. (2018). Pola Komunikasi Dalam Keluarga. Jurnal Al-Munzir, 11 (2), 163-181. http://dx.doi.org/10.31332/am.v11i2.1125
Retnowati, Y. (2021). Pola Komunikasi Dan Kemandirian Anak Panduan Komunikasi Bagi Orang Tua Tunggal. Yogyakarta: Mevlana Publishing.
Rita, R, P., & Kariadi. (2021). Penggunaan Gadget Bagi Anak. Lombok Tengah: Yayasan Insan Cendikia Indonesia Raya.
Ulfah, M. (2020). Digital Parenting Bagaimana Orang Tua Melindungi Anak-Anak Dari Bahaya Digital. Tasikmalaya: Edu Publisher.