• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Metabasa Volume 1, Nomor 2, Desember 2019 E-ISSN: 2714-6278

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Jurnal Metabasa Volume 1, Nomor 2, Desember 2019 E-ISSN: 2714-6278"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KESESUAIAN TINGKAT KETERBACAAN PADA CERITA RAKYAT

“ASAL MUASAL SITU SANGHYANG DAN SI BUNCIREUNG”

SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR DI SMA KELAS X SEMESTER 1

Fiqhi Dzulfikar Rabbani1, Rizky Maudy Effendi2, Ai Sri Mulyani3

1, 2, 3

Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Siliwangi [email protected]

Abstrak

Teks cerita rakyat yang disajikan untuk peserta didik khususnya dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA/ Sederajat kelas X masih tidak sesuai dengan tingkat keterbacaan yang semestinya. Teks cerita rakyat tersebut seharusnya dianalisis dahulu sebelum diberikan kepada peserta didik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk: 1) Mengetahui kesesuaian tingkat keterbacaan pada cerita rakyat, “Asal Muasal Situ Sanghyang dan Si Buncireung”. 2) Memberikan alternatif bahan ajar cerita rakyat, “Asal Muasal Situ Sanghyang dan Si Buncireung” yang sesuai dengan tingkat keterbacaan. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode studi pustaka dengan menggunakan grafik Fry dan Raygor sebagai media perhitungan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini yaitu: 1) Keterbacaan teksnya dengan menggunakan grafik fry yaitu rata-rata jumlah kalimat per 100 kata adalah 5,7 dan rata-rata jumlah suku kata per 100 kata adalah 152. Sedangkan dalam grafik raygor teks cerita rakyat tersebut memiliki kata sukar sebanyak 32 per 100 kata dan jumlah kalimatnya yaitu 5,7. 2) Teks cerita rakyat Asal Muasal Situ Sanghyang dan Si Buncireung” sangat cocok untuk diberikan kepada siswa kelas X.

Kata Kunci: Cerita Rakyat, Analisis Keterbacaan, Alternatif Bahan Ajar Abstract

Texts of folklore presented to students, especially in Bahasa Indonesia SMA/ Sederajat kelas X, are still not in accordance with the level of readability that is appropriate. The folklore text should be analyzed before giving it to students. The purpose of this study is to: 1) Know the suitability of the level of readability in folklore "The Origin of Situ Sanghyang and Si Buncireung". 2) Provide alternative folklore teaching materials "The Origin of Situ Sanghyang and Si Buncireung" which are in accordance with the level of readability. The research method that the researcher uses is a literature study method using Fry and Raygor graphics as a calculation medium. Data collection techniques used are observation, interview and documentation techniques. From the results of this study, namely: 1) The readability of the text by using fry graphs is the average number of sentences per 100 words is 5.7 and the average number of syllables per 100 words is 15. Whereas in raygor graphics the folklore text has the word difficult as much as 32 per 100 words and the number of sentences is 5.7. 2) The folklore text of the Origin of Situ Sanghyang and Si Buncireung "is very suitable to be given to class X students.

Keywords: Folklore, Readability Analysis, Alternative Teaching Materials PENDAHULUAN

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 diketahui bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta metode yang digunakan

(2)

sebagai pedoman penyelenggaraan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kurikulum menjadi hal yang mendasar bagi baik dan buruknya suatu pendidikan, karena kurikulum merupakan acuan dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum di Indonesia diawali dari tahun 1947 yang diberi nama Leer Plan (Rencana Pelajaran). Seiring berjalannya waktu kurikulum ini terus mengalami perubahan yang mulanya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 hingga menjadi kurikulum 2013 (Idhoofiyatul, 2017:25).

Kurikulum 2013 masih mengalami perubahan, terutama pada pelajaran bahasa Indonesia sebagai salah satu perubahan dalam kurikulum ini terjadi dalam materi yang diajarkan. Seperti materi kelas X kurikulum 2013 sebelum revisi adalah anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi, prosedur komplek, dan negosiasi. Sedangkan materi yang diajarkan setelah revisi adalah laporan hasil observasi, eksposisi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, debat, puisi dan ikhtisar buku.

Perubahan kurikulum berdampak pada buku teks atau buku paket yang menjadi pegangan dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut menjadi konsekuensi logis, sebab buku teks atau buku paket Bahasa Indonesia merupakan sarana penting dalam menunjang keberhasilan sebuah kurikulum. Selain itu, guru dituntut harus memilih tingkat keterbacaan yang sesuai dengan jenjangnya. Terutama untuk mata pelajaran bahasa, salah satunya yaitu bahasa Indonesia. Buku pegangan hanya sebagai dasar dalam melaksanakan kegiatan belajar.

Dalam pemilihan bahan ajar tersebut guru dapat menyesuaikan materi yang dicari sesuai dengan pasal 3 Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan. Berdasarkan pasal 3 tersebut materi pelajaran dan penyajian materi harus memenuhi kriteria yang sesuai. Salah satu dari aspek penyajian materi adalah tingkat keterbacaan teks agar siswa tidak kesulitan ataupun tidak semangat karena membaca bacaan yang terlalu mudah.

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Idhoofiyatul Fatin (2017) bahwa tingkat kerterbacaan dalam buku teks Bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 edisi revisi 2016 dengan menggunakan formula fry hasilnya buku teks Bahasa Indonesia X kurikulum 2013 edisi revisi 2016 tingkat keterbacaannya rendah dengan keterangan pada teks sastra, terdapat 8 teks yang termasuk dalam kategori tingkat keterbacaan dibawah kelas X dan 3 teks yang termasuk dalam kategori invalid. Pada teks non-sastra, terdapat 7 teks yang termasuk dalam kategori tingkat keterbacaan dibawah kelas X, 5 teks yang sesuai untuk kelas X, 2 teks yang termasuk dalam kategori tingkat keterbacaan di atas kelas X dan 1 teks invalid.

Sumber bahan ajar untuk kegiatan belajar sangat banyak jumlahnya, tetapi tidak mengharuskan agar terpaku pada bahan ajar yang ada. Dalam kehidupan di masyarakat bahan bacaan untuk dikonsumsi itu sangat beragam, seperti buku teks atau buku paket, buku ilmiah, majalah, surat kabar dan lainnya. Semua bahan bacaan tersebut dapat dijadikan sebagai peluang untuk bahan ajar dalam kegiatan belajar karena masih banyak ditemukan tingkat keterbacaan dalam buku teks yang tidak sesuai dengan jenjangnya maka harus memahami kurikulum yang digunakan. Namun, dalam pembelajaran yang efektif teks yang diberikan bukanlah hanya dari buku teks saja. Sebagai contoh, jika dalam buku teks itu terdapat teks mengenai pegunungan tetapi yang menggunakan itu daerahnya berasal dari pantai justru akan membuat peserta didik kesulitan untuk membayangkan hal tersebut. Hal ini yang harus

(3)

mendorong guru untuk mencari kembali bahan ajar yang sesuai dengan kriteria tempat pembelajaran tersebut berada.

Maka dari itu, kami mengambil penelitian ini untuk memberikan bahan ajar yang sesuai dengan tingkat keterbacaan mengingat dari hasil penelitian sebelumnya pun banyak teks yang tidak sesuai tingkat keterbacaanya. Selain itu, disesuaikan dengan wilayah peserta didik itu berasal dengan teks baru di luar buku teks mengenai cerita rakyat yang ada di Kabupaten Tasikmalaya.

Membaca

Menurut Hodgson dalam Tarigan (2008:7), “ Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis.” Kemudian, menurut Anderson dalam Tarigan (2008:7), “Membaca adalah suatu proses penyajian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding proses), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding).” Menurut Finnochiaro dan Bonomo dalam haras (2014:2),

“Membaca sebagai proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis.” Jadiberdasarkan pengertian di atas membaca adalah proses yang dilakukan untuk memetik, memahami dan menyajikan kembali arti atau makna yang ada pada bahasa tulis guna memperoleh pesan yang disampaikan penulis.

Menurut Broughton dalam Tarigan (2008:12-13), aspek-aspek membaca secara garis terdapat dua aspek penting dalam membaca yaitu keterampilan yang bersifat mekanis dan keterampilan bersifat pemahaman.

Teks Cerita Rakyat

Dalam pembelajaran dewasa ini, peran wacana semakin vital dengan munculnya pembelajaran berbasis teks. Menurut Richards, dkk dalam Djajasudarma (2017:2), “Wacana merupakan salah satu istilah umum dalam contoh pemakaian bahasa, yakni bahasa yang dihasilkan oleh tindak komunikasi.” Dengan kata lain, wacana ini adalah salah satu bentuk tekstual dari kenyataan yang bisa dipelajari peserta didik.

Sama halnya dengan pengertian wacana di atas, teks cerita rakyat juga diambil dari contoh pemakaian bahasa. Cerita rakyat merupakan sebuah bentuk sastra klasik yang ditemukan di Nusantara. Maka dari itu, cerita rakyat merupakan salah satu bukti pemakaian bahasa pada masanya. Namun, pemakaian bahasanya itu tidak dapat tetap karena cerita rakyat dari awal disampaikan secara leluri oleh nenek moyang.

Menurut Djamaris dalam Herlina (2005: 19), “Cerita rakyat merupakan cermin kehidupan masyarakat lama, baik yang berbentuk dongeng, mite, sage, maupun legenda.” Hal ini berarti bahwa setiap cerita rakyat membawa kekhasan masing-masing daerah dan budaya sehingga pemilihan teks pun hendaknya disesuaikan dengan kondisi daerah peserta didik.

Selain itu, teks cerita rakyat pun haruslah sesuai dengan tingkat keterbacaan peserta didik agar peserta didik mampu menerima dengan baik isi dari cerita rakyat tersebut.

Tingkat Keterbacaan

Dalam memberikan wacana berupa teks cerita rakyat kepada peserta didik, hendaknya guru mampu memberikan wacana yang sesuai dengan tingkat peserta didik. Teks yang sesuai tersebut tidak boleh terlalu panjang atau terlalu pendek. Terlalu panjang akan membuat peserta

(4)

didik kesulitan dan sebaliknya terlalu pendek akan membuat peserta didik bosan karena tidak ada tantangan.

Salah satu cara mengukur kesesuaiannya tersebut adalah dengan menghitung tingkat keterbacaan. Tingkat keterbacaan atau dalam bahasa Inggris disebut readibility merupakan pengukuran tingkat kesulitan sebuah buku atau wacana secara objektif. Tingkat keterbacaan itu biasanya dinyatakan menggunakan peringkat kelas (Abidin, 2010:100). Kemudian menurut Kridalaksana dalam Sulastri (2010) mengungkapkan, “Keterbacaan sebagai taraf dapat tidaknya suatu karya tulis dibaca oleh orang yang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda-beda.”

Keterbacaan dapat dihitung dengan menggunakan dua faktor yaitu faktor menggunakan panjang kalimat dan kesulitan kata. Kedua faktor tersebut dapat kita hitung menggunakan dua formula, yaitu dengan formula fry dan formula raygor.

Formula Fry

Formula fry ini merupakan formula yang menggunakan grafik fry. Abidin (2010:102) mengungkapkan, “Grafik Fry dirumuskan oleh Edward Fry. Grafik ini mulai dipublikasikan tahun 1977 dalam majalah Journal of Reading. Grafik yang asli dibuat pada tahun 1968.”

Bahkan, formula fry ini merupakan formula yang paling tepat digunakan. Dijelaskan oleh Fry (Harjasujana formula spache berkolerasi 0.9 atau 90% sedangkan dengan formula Dale-Chall berkolerasi 0,94 atau 94%.” Hal tersebut menandakan bahwa korelasi tinggi menunjukkan adanya keajegan rumus dan keterpercayaan penggunaan alat ukur yang diciptakannya.

(Fadilah: 2016).

Dalam formula fry ini, faktor-faktor tradisional seperti panjang pendek kalimat dan kata sulit masih digunakan. Namun, pada fry ini hanya dilihat dari jumlah suku kata per seratus kata. Namun, sedikit ada modifikasi dari grafik fry ini karena suku kata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris berbeda. Pada bahasa Indonesia setelah menghitung jumlah suku kata, jumlah tersebut dikalikan 0,6. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam gambar 1 mengenai formula fry berikut ini.

Gambar 1 Grafik Fry (Abidin, 2010:104)

(5)

Formula Raygor

Formula raygor merupakan formula keterbacaan dengan menggunakan grafik raygor.

Abidin (2010:102) menjelaskan bahwa grafik raygor menggunakan alat ukur jumlah kalimat dan jumlah kata sulit, kata yang terdiri atas enam huruf atau lebih, yang terdapat dalam wacana.

Grafik raygor sendiri dikenalkan oleh Alton Raygor. Grafik raygor menilai keterbacaan berdasarkan panjang kalimat atau kata. Teori raygor menyatakan bahwasemakin panjang suatu kalimat, akan lebih sulit dibaca oleh kemampuan membaca tertentu. Hal yang sama juga terjadi dengan panjang kata sebuah teks. Dengan kata lain, semakin panjang kata maka semakin sulit untuk dibaca oleh kemampuan membaca tertentu. (Arif, Lubis, dan Barus: 2016). Berikut ini adalah gambar 2 formula raygor.

Gambar 2 Grafik Raygor (Abidin, 2010:106)

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik, (Sugiyono, 2012:28). Hamidi (2010:124) mengemukakan, “pendekatan kuantitatif yaitu suatu pendekatan yang hendak mengukur variable-variabel dan tingkat hubungan pengaruh antara variabel yang satu terhadap yang lain, yakni pengaruh variabel orientasi kognitif dan orientasi afektif terhadap suatu variabel”. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif karena hendak mengukur tingkat keterbacaan teks dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas X edisi revisi 2017 dan menemukan teks yang keterbacaannya sesuai dengan tingkat peserta didik itu sendiri.

Teknik pengumpulandata untuk kesesuaian tingkat keterbacaan pada cerita rakyat menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan dokumentasi. Kalau wawancara dan dokumentasi selalu berkomunkasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain. Menurut Sutrisno Hadi dalam Prof. Dr. Sugiyono (2012:145), “Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun

(6)

dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data menurut Sugiyono (2012:45), “observasi dapat dibedakan menjadi participant observation ( observasi berperan serta) non participant observation.”

1. Observasi berperan serta (participant observation)

Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh Sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya.

Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

2. Observasi nonpartisipan

Jika dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi non partisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.

3. Wawancara

Dalam mengumpulkan data, data dapat dihimpun dengan teknik wawancara. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi (Sugiyono, 2012:

23). Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (Face to Face) maupun dengan menggunakan telepon.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

Pedoman wawancara yang digunakan Hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. (Sugiyono, 2012: 24). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik tes/pengukuran. Menurut Haryadi (2014:90), “Teknik tes/pengukuran adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui tes/pengujian atau pengukuran kepada suatu objek (manusia atau benda)”. Bentuk pengukuran yang digunakan adalah pengukuran terhadap teks dengan menggunakan dua formula yaitu formula fry dan formula raygor.

Pilihlah seratus kata dari wacanayang akan diukur keterbacaannya. Jika dalam wacana tersebut terdapat nama, deret angka, dan singkatan, ketiganya dihitung satu kata. Kata ulang juga dianggap satu kata. Kata dalam judul bab atau subbab tidak boleh dihitung. Misalnya Budi, ABRI, dan 1979 masing-masing dihitung satu kata; Hitunglah jumlah kalimat yang terdapat dalam keseratus kata terpilih tersebut. Jika kalimat akhir tidak tepat pada titik, perhitungannya adalah jumlah kalimat lengkap ditambah jumlah kata pada kalimat terakhir yang masuk pada keseratus dibagi jumlah keseluruhan kata kalimat terakhir. Misalnya dari keseratus kata yang telah dipilih ada 6 kalimat lengkap dan pada kalimat terkahir kata dalam kalimat itu seluruhnya adalah 10 kata, jumlah kalimatnya adalah 6 + 5/10 = 6,5 kalimat;

(7)

Hitunglah jumlah suku kata dari keseratus kata yang telah dipilih. Kata yang berupa deret angka dang singkatan dianggap masing-masing huruf/angkanya satu suku kata. Karena jumlah suku kata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berbeda, jumlah suku kata yang telah dihitung tersebut selanjutnya harus dikalikan 0,6. Misalnya jumlah suku kata keseratus kata terpilih adalah 250 suku kata maka jumlah suku kata yang sebenarnya adalah 250 x 0,6 = 150 suku kata; Plotkan hasil perhitungan di atas ke dalam grafik fry (lihat gambar 1). Pembacaan hasil akhir merupakan pertemuan antara garis diagonal dan vertikal yang dihasilkan dari jumlah suku katadan jumlah kalimat. Jika hasilnya terletak pada satu kolom tertentu, itulah tingkat kesulitan wacana tersebut; Guna menghindari kesalahan, tentukanlah hasil akhir pengukurang dengan mencantum satu kelas di bawah dan satu kelas di atas. Misalnya pertemuan garis terletak pada kelas 3, wacana tersebut dianggap cocok dibaca siswa kelas 2,3, dan 4. Jika pertemuan garis tersebut jatuh pada daerah yang diarsir, wacana tersebut dikategorikan wacana yang tidak valid.

Pertama pilihlah seratus kata dari wacana yang akan diukur keterbacaannya. Jikaa dalam wacana tersebut terdapat singkatan, singkatan tersebut dihitung satu kata. Kata ulang juga dianggap satu kata. Deret angka dan judul bab atau subbab tidak dihitung. Kedua, hitunglah jumlah kalimat yang terdapat dalam keseratus kata terpilih tersebut. Jika kalimat akhir tidak tepat pada titik maka perhitungannya adalah jumlah kalimat lengkap ditambah jumlah kata pada kalimat terakhir yang masuk pada kata keseratus dibagi jumlah keseluruhan kata kalimat terakhir. Misal dari keseratus kata yang telah dipilih ada 6 kalimat lengkap dan pada kalimat terakhir kata yang masuk keseratus kata ada 5 kata sedangkan jumlah kata kalimat itu seluruhnya adalah 10 kata, maka jumlah kalimatnya adalah 6 + 5/10 = 6,5 kalimat. Ketiga, hitunglah kata sulit dari keseratus kata yang telah dipilih. Kata sulit adalah kata yang memiliki 6 huruf atau lebih. Terakhir, plotkan hasil perhitungan di atas ke dalam grafik raygor.

Pembacaan hasil akhir merupakan pertemuan antara garis diagonal dan vertikal yang dihasilkan dari jumlah suku kata dan jumlah kalimat. Jika hasilnya terletak pada satu kolom tertentu, itulah tingkat kesulitan wacana tersebut. Guna menghindari kesalahan, tentukanlah hasil akhir pengukuran dengan mencantum satu kelas di bawah dan satu kelas di atas. Misalnya pertemuan garis terletak pada kelas 3, wacana tersebut dianggap cocok dibaca siswa kelas 2,3, dan 4. Jika pertemuan garis tersebut jatuh pada daerah yang diarsir, wacana tersebut dikategorikan wacana yang tidak valid.

Sumber data yang peneliti gunakan adalah siswa SMK Negeri 2 Tasikmalaya kelas X semester 1 yang terdiri dari 36 siswa yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 22 dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 14 rentang usia dari umur 15-16 tahun serta objek penelitian, yakni teks cerita rakyat “Asal Muasal Situ Sanghyang dan Si Buncireung”, dan lima teks cerita rakyat yang terdapat pada buku teks Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam silabus bahasa Indonesia, teks cerita rakyat merupakan teks yang dipelajari di kelas X. Teks yang disajikan pun biasanya berisi mengenai teks-teks yang berasal dari melayu sana.contohnya, teks Hikayat Bayan Budiman. Teks tersebut merupakan teks yang berasal dari wilayah melayu atau sumatera sana.

(8)

Jika digunakan di wilayah Jawa Barat, khususnya Tasikmalaya, teks tersebut akan kurang terasa dan akan kurang berkesan di peserta didik. Bagaimana tidak, teks cerita rakyat yang merupakan gambaran kehidupan suatu masyarakat di wilayahnya seakan kurang bisa mewakili wilayah peserta didik tersebut. Hal ini yang mendorong penulis untuk memberikan rekomendasi teks Asal Muasal Situ Sanghyang.

Teks Asal Muasal Situ Sanghyang ini merupakan cerita rakyat yang berkembang dan asli dari Tasikmalaya. Teks ini juga dapat mewakili bagaimana kehidupan di kota Tasikmalaya, keadaan sosial, dan keadaan alamnya. Dengan diberikan teks seperti ini, peserta didik akan belajar lebih dalam tentang budaya dan kehidupan zaman sebelumnya yang ada di wilayahnya dan akan terwakili semangat dan budaya Tasikmalaya melalui teks tersebut.

Selain dari segi kewilayahan atau kesesuaian dengan kondisi peserta didik. Teks Asal Muasal Situ Sanghyang ini juga dihitung menggunakan dua grafik, yakni grafik fry dan grafik raygor. Grafik fry memberikan perhitungan kesesuaian dengan tingkat peserta didik dari banyaknya suku kata yang digunakan dalam teks sedangkan grafik raygor digunakan untuk menghitung teks dengan kesesuaiannya dengan tingkat peserta didik dari banyaknya kata sulit yang terdapat pada teks.

Tabel 1. Data Kesesuaian Tingkat Keterbacaan

Judul Teks Jumlah

Kalimat/100 kata

Jumlah Suku Kata

Jumlah Kata Sukar

Hasil Grafik Fry

Hasil Grafik Raygor

Asal Muasal Situ Sanghyang dan Si Buncireung

5,7 152 32 Cocok di

kelas X

Cocok di kelas X

Hikayat Indera Bangsawan

6,7 138,6 35 Cocok di

kelas VI dan VII

Cocok di kelas X dan XI

Bunga Kemuning 9,26 145,2 39 Cocok di

kelas VI dan VII

Cocok di kelas XI dan XII

Hikayat Bayan Budiman 6,55 150 48 Cocok di

kelas VII dan IX

Cocok di kelas XII

Tukang Pijit Keliling 10,7 156 50 Cocok di

kelas VII dan VIII

Tidak Valid

Hikayat Si Miskin 5,7 152 50 Cocok di

kelas IX dan X

Tidak Valid

Dari hasil yang telah dihitung menggunakan grafik fry dan grafik raygor, teks Asal Muasal Situ Sanghyang ini cocok untuk digunakan di kelas X. Hasil perhitungan menggunakan grafik fry menunjukan garis pertemuan di kelas X. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 5,7 kalimat dan jumlah suku katanya 152 suku kata. Kemudian hasil perhitungan menggunakan

(9)

grafik raygor juga menunjukan garis pertemuan di kelas X. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukar sebanyak 32 kata dan jumlah kalimatnya 5,7 kalimat.

Jika dibandingkan dengan teks yang ada di buku paket, justru teks yang ada di buku paket tidak sesuai dengan tingkat peserta didik yakni pada kelas X. Hal ini dibuktikan dari 5 teks yang dihitung dari buku paket tersebut, hanya ada satu yang cocok untuk kelas X. Teks yang pertama berjudul Hikayat Indera Bangsawan. Teks tersebut tidak cocok untuk kelas X, karena hasil perhitungan dengan menggunakan grafik fry menunjukan garis pertemuan di kelas VI dan VII. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 6,7 kalimat dan jumlah suku katanya 138,6 suku kata. Namun hasil perhitungan menggunakan grafik raygor menunjukan garis pertemuan di kelas X dan XI. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukarnya 35 kata dan jumlah kalimatnya 6,7 kalimat. Namun tetap saja teks hikayat tersebut tidak cocok untuk kelas X.

Teks yang kedua berjudul Hikayat Bunga Kemuning. Teks tersebut tidak cocok untuk kelas X, karena hasil perhitungan dengan menggunakan grafik fry menunjukan garis pertemuan di kelas VI dan VII. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 9,26 kalimat dan jumlah suku katanya 145,2 suku kata. Kemudian hasil perhitungan menggunakan grafik raygor menunjukan garis pertemuan di kelas XI dan XII. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukarnya 39 kata dan jumlah kalimatnya 9,26 kalimat.

Teks yang ketiga berjudul Hikayat Bayan Budiman. Teks tersebut tidak cocok untuk kelas X, karena hasil perhitungan dengan menggunakan grafik fry menunjukan garis pertemuan di kelas VII dan IX. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 6,55 kalimat dan jumlah suku katanya 150 suku kata. Kemudian hasil perhitungan menggunakan grafik raygor menunjukan garis pertemuan di kelas XII dan Mahasiswa. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukarnya 48 kata dan jumlah kalimatnya 6,55 kalimat.

Teks yang keempat berjudul Tukang Pijit Keliling. Teks tersebut tidak cocok untuk kelas X, karena hasil perhitungan dengan menggunakan grafik fry menunjukan garis pertemuan di kelas VII dan VIII. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 10,7 kalimat dan jumlah suku katanya 156 suku kata. Kemudian hasil perhitungan menggunakan grafik raygor menunjukan garis pertemuan tidak valid. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukarnya 50 kata dan jumlah kalimatnya 10,7 kalimat. Jadi teks tersebut tidak cocok untuk kelas X.

Teks yang terakhir berjudul Hikayat Si Miskin. Berdasarkan perhitungan menggunakan grafik fry teks tersebut cocok untuk kelas X karena hasil perhitungan menunjukan garis pertemuan di kelas IX dan X. Hal itu didapatkan dari jumlah kalimat yaitu 5,7 kalimat dan jumlah suku katanya 152 suku kata. Namun hasil perhitungan menggunakan grafik raygor teks tersebut tidak cocok untuk kelas X. Karena hasil perhitungan menunjukan garis pertemuan tidak valid. Hal itu didapatkan dari jumlah kata sukarnya 52 kata dan jumlah kalimatnya 7,8 kalimat sehingga teks hikayat tersebut tidak cocok untuk kelas X.

SIMPULAN

Tingkat keterbacaan dan aspek wilayah teks itu berkembang merupakan hal penting dalam memilih teks sebagai bahan ajar. Salah satu cara mengetahui kesesuaian tingkat keterbacaan suatu teks adalah dengan menggunakan dua grafik yaitu grafik fry dan grafik raygor. Jika teks tersebut sudah sesuai dengan hasil perhitungan dari dua grafik tersebut maka teks setidaknya akan sesuai dengan jenjang peserta didik. Namun, apabila teks tersebut lebih

(10)

kecil atau lebih besar dari perhitungantitik kesesuaian grafik fry dan raygor, maka dikhawatirkan teks tersebut terlalu mudah atau terlalu susah untuk peserta didik pahami.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Yunus. 2010. Strategi Membaca. Bandung: Rizqi Press

Arif, Syamsul dkk. 2016. “Keterbacaan Buku Teks Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 Kelas VII Dengan Grafik Raygor”. Jurnal Bahas Unimed 27. (4). 315-328. Tersedia:

https://jurnal.unimed.ac.id. [22 September 2017].

Casim. 2018. Kajian Struktur dan Nilai Edukatif dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Tasikmalaya serta Relevansinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMP Kelas VII Semester 2. Tesis: Pascasarjana UMP. [Online]. Tersedia:

http://repository.ump.ac.id/8486/.

Fadilah, Rohana dan Mintowati, Maria. 2015. “Buku Teks Bahasa Indonesia SMP dan SMA Kurikulum 2013 Terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014”. Jurnal Pena Indonesia 1. (1). 26-49. Tersedia: https://www.researchgate.net. [22 Maret 2019].

Fatin, Idhoofiyatul. 2017. “Keterbacan Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Edisi Revisi 2016 dengan Formula Fry”. Belajar Bahasa 2. (1). 21-33. Tersedia:

https://jurnal.unmuhjember.ac.id. [Februari 2017].

Gusal, La Ode . 2015. “Nilai-nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Karya La Ode Sidu”. Jurnal Humanika 3. (15).

Heryadi, Dedi. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Pustaka Billah Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta Tarigan, Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung :

Percetakan Angkasa.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kerangka konseptual diatas telah dijelaskan dan diuraikan bagaimana kepuasan pelanggan, kolektibilitas, dan stabilitas penjualan pelanggan dianggap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai fekunditas, derajat pembuahan telur (FR), dan derajat penetasan telur (HR) pada ikan koi yang dipijahkan dengan

IUU adalah istilah yang ditemukan dalam laporan Pertemuan xvi th Komisi pada tahun 1997 yang merujuk pada aktivitas penangkapan ikan yang tidak konsisten atau

Fokus penelitian ini adalah mencari gambaran informasi terkait faktor apa saja (fisik, asal kota, pengalaman kerja sebelumnya, kepribadian, dan kemampuan bahasa) pendukung

Telah dikembangkan bahan ajar terintegrasi, yang terdiri dari revisi silabus, Rencana Perkuliahan Satu Semester (RPS), modul, lembar kegiatan mahasiswa, dan lembar

Kesimpulan dari penelitian yaitu bahwa alat tangkap yang direkomendasikan untuk digunakan oleh nelayan kota Dumai yaitu jaring insang dan rawai, karena lebih sesuai

Metode Mengajar Cerita Alkitab Dengan Nyanyian adalah metode yang sangat pas dalam menyampaikan pengajaran untuk Anaks Sekolah Minggu, karena dengan metode ini anak- anak dapat

Sebagai bahan program penyuluhan berdasarkan alternatif strategi rekomendasi hasil analisis SWOT yang mengacu kepada pola pengembangan usaha tani yang di rancang dengan