26
Vol. 2 No. 1, Februari 2022, pp. 26-36
https://ejournal.upi.edu/index.php/jpmserang
Pembentukan Pendidikan Karakter Pelatihan Menulis Pantun Bagi Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta
Mamad Kasmad¹, Acep Ruswan², Sopyan Iskandar³, Gia Nikawanti4, & Gina Novianti5
1
Universitas Pendidikan Indonesia, [email protected], Orcid ID:0000-0002-9502-3728
2 Universitas Pendidikan Indonesia, [email protected], Orcid ID: 0000-0003-3486-3974
3 Universitas Pendidikan Indonesia, [email protected], Orcid ID: 0000-0002-9553-8430
4 Universitas Pendidikan Indonesia, [email protected], Orcid ID: 0000-0002-5638-5777
5 Politeknik Perdana Mandiri, [email protected], Orcid ID: 0000-0003-0842-9429
Article Info ________________
History Article Received:
Dec 2021 Accepted:
Feb 2022 Published:
Mar 2021
Abstract
_______________________________________________________________
Preserving Indonesian culture is our collective duty, in its realization as prospective teachers for UPI students at the Purwakarta campus, they are equipped with an understanding of character education through Pantun problems to convey moral messages in learning, especially strengthening, forming, and developing the potential of students in thinking and behaving well, filtering and choosing the nation's own culture, so that it can filter out the culture of other nations that are not by the values of the character and culture of the nation itself. To make those idea happen, the objectives of this community service were the following questions: (1) do UPI Purwakarta Campus students master Pantun? (2) do students of PGSD UPI Campus Purwakarta master the type of Pantun? and (3) are PGSD UPI Purwakarta students able to bring up character values in making Pantun? The participants of this training consisted of 50 students from various classes, the focus of this service is through Pantun training which was carried out online and the outputs in this community service training were articles publications in the field of community service and Pantun training videos so that it is hoped that UPI PGSD Purwakarta students as teacher candidates not only skilled in teaching but equipped with character education.
The learning process either before or after learning can interact directly with choosing words adapted to different learning themes.
Keywords: Training, Character Education, Pantun.
How to Cite: Kasmad, M., Ruswan, A., Iskandar, S., Nikawanti, G., & Novianti, G. (2022).
Pembentukan pendidikan karakter pelatihan menulis pantun bagi mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta. Jurnal Pengabdian Masyarakat PGSD, 2(1), 26-36.
27 Artikel Info
________________
Riwayat Artikel Dikrim:
Des 2021 Diterima:
Feb 2022 Diterbitkan:
Mar 2021
Abstrak
_______________________________________________________________
Melestarikan budaya Indonesia merupakan tugas kita bersama, dalam perwujudannya sebagai calon guru, mahasiswa UPI Kampus Purwakarta dibekali pemahaman pendidikan karakter melalui Pantun permasalahannya untuk menyampaikan pesan moral dalam pembelajaran terutama penguatan, pembentukan dan pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik dalam bepikir dan berprilaku baik, menyaring serta memilih budaya bangsa sendiri, sehingga dapat menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai- nilai karakter dan budaya bangsa sendiri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut tujuan kegiatan pengabdian ini adalah menjawab pertanyaan berikut: (1) apakah mahasiswa UPI Kampus Purwakarta menguasai pantun? (2) apakah mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta menguasai jenis pantun? (3) apakah mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta mampu memunculkan nilai karakter dalam membuat pantun? Peserta pelatihan ini terdiri dari 50 mahasiswa berbagai kelas, fokus pengabdian ini melalui pelatihan pantun yang dilaksanakan secara online dan hasil luaran dalam pelatihan pengabdian kepada masyarakat ini adalah artikel publikasi bidang pengabdian kepada masyarakat dan video pelatihan pantun sehingga diharapkan mahasiswa UPI PGSD Purwakarta sebagai calon guru tidak hanya terampil dalam mengajar akan tetapi dibekali pendidikan karakter. Proses pembelajaran baik sebelum pembelajaran dimulai atau setelah pembelajaran bisa berinteraksi langsung dalam pemilihan kata yang disesuaikan dengan tema-tema pembelajaran yang berbeda-beda.
Kata Kunci: Pelatihan, Pendidikan Karakter, Pantun
Cara mensitasi: Kasmad, M., Ruswan, A., Iskandar, S., Nikawanti, G., & Novianti, G. (2022).
Pembentukan pendidikan karakter pelatihan menulis pantun bagi mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta. Jurnal Pengabdian Masyarakat PGSD, 2(1), 26-36.
©2022 Universitas Pendidikan Indonesia ISSN: 2775-5940
28 PENDAHULUAN
Warisan Budaya Indonesia sangat penting untuk kita tetap lestarikan dan kita jaga, ada pepatah yang mengatakan “jika bukan kita siapa lagi”, dalam hal ini salah satu warisannya adalah pantun. Saat ini pantun bukan saja karya sastra dan penerapannya tidak hanya dalam pelajaran Bahasa Indonesia saja akan tetapi menjadi suatu alat komunikasi sosial, berisikan akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral atau pesan yang terkandung ada didalamnya (Hendri, 2011). Sesuai dengan manfaat dari pantun itu sendiri secara umum, yang pertama menjaga kelestarian budaya bangsa, yang kedua mengetahui makna dari isi pantun. Didukung oleh penetapan itu berlangsung pada sidang UNESCO bahwa pantun merupakan hal penting untuk menguatkan karakter dalam sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO yaitu di Paris, Prancis. Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid berkata, momentum ini merupakan langkah awal dalam melestarikan tradisi pantun pada tanggal 17 Desember 2020 melalui tema kebijakan serta pengembangan pembangunan karakter melalui pendidikan di indonesia dimana ia mengatakan pantun penting untuk penguatan karakter siswa (KWRI UNESCO, 2020).
Dukungan dalam melestrarikan keberhasilannya, penerapannya tidak akan berhasil dalam penetapan pantun sebagai warisan budaya Indonesia jika tak lepas dari semua keterlibatan dimulai berbagai pemangku kepentingan, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dalam hal ini adalah pantun dalam pendidikan karakter. Hal ini didukung hasil penelitian Yulianto (2016) dimana dalam Pantun Banjar mengandung nasehat atau nilai yang berkaitan hubungan manusia dengan Tuhan yang terdapat empat poin penting sebagai berikut : (1) sikap dalam mementingkan ibadah kepada Tuhan, (2) Menjauhi segala perbuatan dosa, (3) sikap rajin dalam menuntut ilmu agama, dan (4) menyandarkan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Pembentukan karakter pada setiap peserta didik di sekolah merupakan tugas kita bersama mulai dari orang tua, pihak sekolah, masyarakat, serta pemerintah. Keteladanan guru di sekolah merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menumbuh kembangkan sikap perilaku yang baik pada peserta didik. Oleh karena itu, guru sebagai model keteladanan bagi peserta didiknya yang harus memiliki kepribadian serta sikap, perilaku, penampilan yang dapat dijadikan sebagai panutan khususnya oleh peserta didiknya. Secara umum kepribadian guru terdapat beberapa kemampuan yakni kemampuan dalam mengembangkan kepribadiannya, kemampuan berinteraksi serta berkomunikasi, dan yang terakhir kemampuan dalam melaksanakan pembimbingan (Philips, 2008).
Guru berperan penting dalam hal ini dapat menjadi model dalam pembelajaran pendidikan karakter, baik pendidikan karakter kebangsaan (nasionalisme) ataupun pendidikan karakter keagamaan (akhlak). Keteladanan tersebut dapat diwujudkan dalam proses pembelajaran di sekolah dalam hal ini contoh guru secara tidak langsung guru turut ikut mewariskan citra yang positif serta pola berpikirnya kepada peserta didik, sikap positif peserta didik akan belajar tentang tanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya, sikap mandiri, saling menghargai, peduli sesama, tidak membedakan dan kasih sayang (Kemendiknas, (2011).
Kondisi di lapangan tentu saja berbeda belum tentu semua peserta didik memahami pantun atau memahami apa yang disampaikan lewat pantun. Jangan sampai pantun hanya dilakukan oleh orang-orang tua, apalagi sudah jarang yang menggunakannya, dimana padahal generasi mudalah yang seharusnya lebih aktif dalam mengembangkannya (Akmal, 2015). Selain itu guru tidak hanya mendidik hingga menjadi cerdas namun tak lupa mendidik moralnya, supaya nantinya tumbuh menjadi cerdas dan tidak merugikan dirinya sendiri. Sebab anak-anak atau peserta didik pada usia sekolah dasar yang dididik sedari dini karekternya maka setelah dewasa diharapkan melalui caranya untuk bersikap, caranya berperilaku, serta caranya bertindak di lingkungannya memiliki perilaku yang baik.
Disini pentingnya guru untuk dapat mengkomunikasikan pantun dengan memahami, menggali isi, jenis-jenis pantun serta amanat sebuah pantun (Kurniawan, 2017). Guru juga harus pandai permainan kata-kata khususnya membuat karya sastra yang dibuat dengan memasukan nilai karakter supaya tiap peserta didik tertanamkan dari sejak dini pendidikan karakter (Arsyad,
29
2015). Sekolah dasar tidak lupa juga memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi penguatan pendidikan karakter secara umum melalui pelibatan aspek kognitif, afektif, dan juga aksi untuk perkembangan, perbaikan dan penyaringan (Santoso, 2022). Minat juga merupakan sumber motivasi yang mendorong guru untuk mengkondisikan pada suasana pembelajaran, perhatian siswa dalam belajar, pembelajaran yang lebih interaktif dibuat sedimikian rupa supaya menarik untuk meningkatkan minat peserta didik dalam pembelajaran, selain itu kondisi pembelajaran jarak jauh di era Covid-19 yang dilakukan menuntut guru untuk tetap bisa memberikan pembelajaran walaupun dilaksanakan secara online akan tetapi pembelajaran harus tetap tersampaikan sebagaimana pembelajaran luring di sekolah sebelumnya dan pembelajaran tetap menyenangkan. Untuk itu melalui pantun diharapkan dapat memberikan warna dalam pembelajaran.
Dengan demikian sebagai calon guru mahasiswa PGSD tidak hanya terampil dalam mengajar akan tetapi dibekali penilaian karakter dalam pembelajaran serta ikut melestarikan budaya bangsa Indonesia, maka fokus pengabdian ini melalui pelatihan pantun pada Mahasiswa UPI sebagai calon guru agar melestarikan budaya bangsa melalui Pendidikan Karakter dalam pantun melaui judul pengabdian “Pembentukan Pendidikan Karakter Pelatihan Menulis Pantun Bagi Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta”
METODOLOGI
Bentuk pengabdian ini dilaksanakan secara online, mengingat pada tahap ini merupakan tahap awal yang dilakukan dikarenakan masih PPKM pada bulan Agustus 2021 berada pada Level 4 untuk penanganan dan memutus rantai Covid-19 maka dilakukan kegiatan ini secara online melalui acara pelatihan pengabdian yang berjudul “Pembentukan Pendidikan Karakter Pelatihan Menulis Pantun Bagi Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta” Pelatihan ini terdiri dari berbagai kelas yang diambil sebanyak 50 orang, dari kelas 5A, 5B, 5C, dan 5D dengan 3 pemateri yang terdiri dari Drs Mamad kasmad, S.Pd., M.Pd, Acep Ruswan, M.Pd., dan Prof. Sopyan Iskandar, M.Pd selaku dosen UPI Kampus Purwakarta. Pelatihan ini dilakukan 5 Tahap karena butuh pengusaan dan pengembangan dalam memahami setiap penerapannya, dimulai dari Pelatihan tahap I adalah tanggal 16 Agustus 2021 sampai dengan pelatihan tahap ke-V dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 7 Oktober 2021 Tahap V tanggal 7 Oktober 2021 melalui bentuk-bentuk video pantun dan puisi akrostik yang disajikan adalah disesuaikan dalam memunculkan nilai-nilai karakter dalam membuat pantun disajikan pada proses pembelajaran.
Berikut ini adalah tahap pelaksanan pengabdian melalui pelatihan pantun terdiri dari 4T (empat tahapan) digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Tahapan Langkah Kegiatan PkM 1.Tahap Persiapan
3.Tahap Evaluasi
4. Tahap Tindak Lanjut 2.Tahap Pelaksanaan
30 Langkah ke-1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini merupakan tahap awal yang dilakukan dikarenakan masih PPKM Purwakarta berada pada Level 4 untuk penanganan dan memutus rantai COVID-19 maka dilakukan Pengabdian kepada masyarakat dilakukan secara online melalui konsep yang sudah direncanakan terdiri dari :
a. Mempersiapkan tanggal pelaksanan Pelatihan
b. Mempersiapkan link absen peserta: 50 orang mahasiswa PGSD
c. Aplikasi yang digunakan pada saat pelatihan menggunakan ZOOM Meeting
d. Pembagian kelompok mahasiswa dibagi 5 kelompok dengan masing-masing anggota 10 orang
e. Mempersiapkan modul untuk pelatihan yang akan digunakan dalam pelatihan.
f. Membuat surat pernyatan kesediaan mengikuti pelatihan
g. Membuat grup WA untuk memudahkan komunikasi pada saat pelatihan h. Membuat Google Drive untuk menyimpan hasil video tiap pelatihan i. Penilaian hasil peatihan tiap pertemuannya
j. Membuat Rundown Pelatihan
k. Mencetak sertifikat setelah dilakukan Pelatihan.
Langkah ke-2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan pelatihan sebanyak lima kali pelatihan, sebelum pemateu dimulai peserta mengisi link gogle form yang terdiri sebanyak 8 pertanyaan berkaitan dengan Pelatihan dan dijawab dengan jawaban “Ya atau Tidak” untuk mengetahui perbedaan antara yang mengetahui dan tidak mengetahui tentang pantun dan Pendidikan karakter, selain itu peserta tertarik untuk mempelajari tertarik mempelajari jika Pantun digunakan sebagai alat komunikasi penyampain pesan moral dari Pendidikan karakter terhadap pembelajaran, sebagai berikut:
Tabel. 1 Daftar Pertanyaan Pretest dan Postest
No Pertanyaan
1 Apakah Saudara Mengerti Pendidikan Karakter
2 Apakah Saudara mengetahui dan memahami semua nilai-nilai Karakter 3 Apakah Saudara memahami apa itu Pantun
4 Apakah Saudara mengetahui Jenis-jenis Pantun
5 Apakah saudara sering mengamalkan Pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari 6 Apakah saudara sering menggunakan Pantun dalam melestarikan budaya bangsa dalam
kehidupan sehari-hari
7 Apakah saudara pernah memadukan Pantun dalam menerapkan nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam pembelajaran
8 Apakah saudara tertarik mempelajari jika Pantun digunakan sebagai alat komunikasi penyampain pesan moral dari Pendidikan karakter terhadap pembelajaran
Sedangkan Pelatihannya terdiri dari Empat tahapan yang intinya tiap Pertemuan memberikan pemahaman mengenai Nilai-Nilai Karakter Bangsa, Puisi Akostik dan Pantun yang terbagi dalam:
a. Materi Pertemuan Ke-1: Karakter, Religius, Jujur, Tolelaransi b. Materi Pertemuan Ke-2: Disiplin, Kerja keras, Karakter Religius
c. Materi Pertemuan Ke-3: Demokrasi, Rasa ingin tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air d. Materi Pertemuan Ke-4: Menghargai Prestasi, Bersahabat, Cinta damai, Gemar membaca e. Materi Pertemuan Ke-5: Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung Jawab, Balas Pantun
31 Langkah ke-3. Tahap Evaluasi
Pada tahapan evaluasi dilakukan dari hasil penilaian dan dilihat dari kelebihan dan kekurangan setiap kelompoknya dalam mendalami pelatihan yang telah diberikan, dijelaskan pada gambar berikut ini:
Gambar 2. Tahapan Evaluasi Langkah 4. Tahap Tindak Lanjut
Pada tahapan ini dilakukan setelah hasil evaluasi, dilakukan pengisian angket melalu link yang sudah disediakan secara online melalui Google Form, yang berkaitan dengan pelatihan yang sudah dilakukan untuk mengetahui perubahan setelah mengikuti pelatihan dan memberikan masukan atas kelebihan dan kekurangan dalam pembentukan karakter melalui pantun.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelatihan yang digunakan dalam Pengabdian kepada Masyarat ini dilakukan secara online dalam pemahaman nilai karakter bangsa melalui Pantun yang disampaikan untuk bisa berinteraksi langsung dalam pemilihan kata yang disesuaikan dengan tema-tema pembelajaran, hasil menunjukan banyak perbedaan antara yang mengetahui dan tidak mengetahui tentang pantun dan Pendidikan karakter, selain itu peserta tertarik untuk mempelajari tertarik mempelajari jika Pantun digunakan sebagai alat komunikasi penyampain pesan moral dari Pendidikan karakter terhadap pembelajaran.
Hasil Pre-Test dan Post-Test yang yang menunjukan adanya peningkatan setelah mengikuti Pelatihan pantun berlandaskan nilai-nilai Pendidikan karakter:
a. Pre-Test hasilnya pada rentang nilai 45-68 sebesar 14%, rentang nilai 60-75 sebesar 82%, rentang nilai 75-80 sebesar 4%, dan rentang nilai 80-100 sebesar 0%.
Memahami pendidikan karakter
Memahami nilai-nilai karakter
Memahami Pantun sebagai alat komunikasi penyampain pesan moral dari Pendidikan karakter terhadap pembelajaran
Memahami Jenis Pantun
Mengamalkan Pendidikan karakter dalam Pembelajaran
Memadukan Pantun dalam menerapkan nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam pembelajaran
Hasil Evaluasi Tiap Kelompok 1,2,3,4,5
Kelebihan dan Kekurangan Tiap Kelompok
32
b. PostTest hasilnya pada rentang nilai 64-72 sebesar 6%, rentang nilai 73-81 sebesar 44%, rentang nilai 82-90 sebesar 36%, dan rentang nilai 91-100 sebesar 14 %.
Adapun hasil yang di dapat selama Pelatihan berlangsung dapat diketahui beberapa faktor yang menjadi kendala sebagai berikut:
Gambar 3. Faktor Kendala Materi
Berdasarkan gambar diatas menunjukan faktor kendala materi terbagi menjadi empat yaitu membuat sampiran mahasiswa kesulitan sebesar 78%, lalu membuat ide sebesar 45%, membuat rima sebesar 50% dan membuat isi pantun sebesar 53%.
Kendala Materi diatas memiliki kesulitan paling tinggi nilainya mengingat perlu diperhatikan dan dipilih kata-kata dalam menyampaiakannya isi pantun pendidikan karaker yang diberikan pada anak sekolah dasar. Sesuai menurut Zubaedi (2011) dimana pendidikan karakter merupakan upaya dalam penanganan kecerdasan berfikir, serta penghayatan dalam berbagai bentuk sikap sampai pengalaman berbentuk perilaku yang sesuai dengan nilai luhur atau nilai- nilai kebaikan diwujudkan melalui interakhi terhadap Tuhannya, diri sendiri, masyarakat beserta lingkungannya. Dalam hal ini nilai-nilai kebaikan akan lebih baik ditanamkan dari sejak dari kecil. Mempelajari pantun diharapkan membuat pembelajaran lebih menarik, sesuai dengan pendapat Abidin (2012) menjelaskan pembelajaran secara kreatif sehingga peserta didik dapat mandiri dan membangun kreativitas anak.
Selain itu ada beberapa faktor pendukung dan kendala dalam Pelatihan Pantun ini, sebagai berikut:
1. Faktor Pendukung dalam pelatihan pantun:
Gambar 4. Faktor Pendukung
78% 50% 45% 53%
me mb u a t s a mp ir a n
me mb u a t r ima M e mb u a t id e me mb u a t is i p a n t u n
Faktor Pendukung
Modul Pantun Pelatihan
Buku-buku Penunjang Kemampuan Membuat Pantun
33
2. Faktor kendala dalam Pelatihan Pantun terbagi menjadi dua, faktor kendala teknis, dan faktor kendala materi:
Gambar 5. Faktor Kendala Teknis
Adapun tindak lanjut melalui Pengabdian kepada masyarakat Pembentukan Pendidikan Karakter Pelatihan Menulis Pantun Bagi Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta berdasarkan hasil pelatihan upayanya melalui 7K, supaya lebih jelas berikut alurnya dari mulai pelatihan sampai dengan upaya tindak lanjut:
Gambar 6. Alur Upaya Tindak Lanjut Faktor Kendala Teknis
Berbeda Tempat Komunikasi
Jaringan Video
Pelatihan Pendidikan Karakter Melalui Pantun
Pantun Akustik
Analisis
Kelemahan Mempelajari Kelebihan Mempelajari
Evaluasi Hasil Pelatihan Praktek dalam Pembelajaran
Upaya Tindak Lanjut:
a. Kesusaian rima b. Kemampuan Isi c. Ketepatan Ejaan d. Kemenarikan Isi e. Keteramapilan kata f. Kebermaknaan Isi g. Keterbaruan Tema
34
Upaya tindak lanjutnya sesuai dengan pendapat Alisjahbana (2010) menyatakan bahwa fungsi dari sampiran adalah menyiapkan rima (sajak) serta iramanya. Maka yang harus dikuasai dalam menulis pantun supaya sesuai dengan prosedur pembuatan pantun yang baik meliputi : kesesuaian rima artinya dalam pembuatan pantun perlu diperhatikan kesesuain dari rima, kemampuan membuat isi artinya dalam menulis pantun dahulukan dulu isi yang akan disampaikan, ketepatan ejaan artinya menggunakan bahasa Indosesia sesuai dengan ejaan yang sudah disempurnakan, Keterampilan kata artinya dalam membuat pantun diperlukan keahlian kata di dalamnya, Kebermaknaan Isi artinya dalam pesan yang disampaikan tersirat dengan jelas, keterbaruan Tema artinya jangan membuat tema yang beragam.
Supaya lebih jelasnya perikut upaya tindak lanjut 7K digambarkan sebagai berikut:
Gambar 7. Upaya Tindak Lanjut Berikut ini beberapa dokumentasi Pelatihan:
Gambar 8. Kegiatan Pelaksanaan Pelatihan Kesesuaian Rima
Kemampuan Membuat Isi
Ketepatan Ejaan
Kemenarikan isi Keterbaharuan Tema
Kebermaknaan Isi
Keterampilan Kata
7K
35 KESIMPULAN
Pelaksanakan Pelatihan dapat disimpulkan sebelum pelaksanan pelatihan dan sesudah pelaksanan pelatihan ada perbedaan yaitu pre-test hasilnya 45-68 sebesar 14%, 60-75 sebesar 82%, 75-80 sebesar 4%, 80-100 sebesar 0% dan post-test hasilnya 64-72 sebesar 6%, 73-81 sebesar 44%, 82-90 sebesar 36%, 91-100 sebesar 14 %, setelah mengikuti pelatihan Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta menguasai pendidikan karakter dalam Pantun melalui nilai-nilai Karakter : Religius, Jujur, Tolelaransi, Disiplin, Kerja Keras, Karakter, Religius, Demokrasi, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Social, dan Tanggung Jawab.
Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta menguasai berbagai jenis pantun, terbukti hasil pelatihan sebesar 90% telah dipraktekan sampai dengan penguasaan balas pantun melalui spontan, hasil yang didapat pada saat pelatihan terdapat faktor kendala materi terbagi menjadi empat yaitu membuat sampiran mahasiswa kesulitan sebesar 78%, lalu membuat ide sebesar 45%, membuat rima sebesar 50% dan membuat isi pantun sebesar 53% dan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya diantaranya faktor pendukung dan faktor kendala.
Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta mampu memunculkan nilai karakter dalam membuat pantun hal ini dibuktikan dalam membuat Pantun dengan isi nilai-nilai karakter yang di praktekan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran terutama dalam keterampilan dasar mengajar pada pembukaan pembelajaran dan penutup pembelajaran sehingga menimbulkan suasana berbeda akan menjadikan pembelajaran tetap menyenangkan, untuk itu melalui pantun dapat memberikan warna dalam pembelajaran yang dibuat dalam video pembelajaran yang di upload ke YouTube. Diharapkan hasil dari pengabdian pada masyarakat ini dapat memberikan kontribusi secara kelimuan dan implementasi pada perkembangan pendidikan karakter anak bangsa di masa pandemi covid 19.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, J. (2012). Pembelajaran Bahasa Berbasisi Karakter. Bandung: PT Refika Aditama.
Akmal, A. (2015). Kebudayaan melayu riau (pantun, syair, guridam). Jurnal Risalah, 26(4), 159- 165. http://dx.doi.org/10.24014/jdr.v26i4.1283
Alisjahbana, S. T. (2010). Puisi Lama. Jakarta: Dian Rakyat.
Arsyad, A. (2015). Media Pembelajaran Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Press.
Hendri, H. (2011). Cerdas Cermat Pantun. Pekanbaru: Unri Press.
KWRI UNESCO. (2020). UNESCO Tetapkan Pantun sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda.
Tersedia: https://kwriu.kemdikbud.go.id/berita/unesco-tetapkan-pantun-sebagai-warisan- budaya-dunia-takbenda [Diakses 02 Juni 2021].
Kemendiknas. (2011). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Badan Penelitian Pengembangan Pusat Kurikulum Kenterian Pendidikan Nasional.
Khoriah, I & Salim, H. (2021). Analisis tokoh dan penokohan dalam film animasi Treasure Trekker sebagai bahan ajar. Didaktika, 1(3), 479-488.
https://doi.org/10.17509/didaktika.v1i3.38109
Kurniawan, H. (2017). Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
36
Philips. S. (2008). Refleksi Karakter Bangsa. Jakarta: Bumi Aksara.
Santoso, T. (2022). Karakter Bangsa dalam Pantun. Diakses dari https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/798/karakter-bangsa-dalam-pantun Yulianto, A. (2016). Pantun Banjar sebagai media pendidikan karakter. Jentera: Jurnal Kajian
Sastra, 5(1), 102-112.
Zubaedi. (2011) Buku Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.