IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT BUNCIS KENYA (Phaseolus Vulgaris L.) SERTA PENGENDALIANNYA DI KELOMPOK TANI KATENZO
IDENTIFICATION OF PESTS AND DISEASES OF KENYA BEANS (Phaseolus Vulgaris L.) AND THEIR CONTROL IN THE KATENZO FARMERS GROUP
Ayu Indrawati, Budy Frasetya Taufiq Qurrahman Jurusan Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A.H. Nasution No. 105, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia Korespondensi : [email protected]
Diterima / Disetujui
ABSTRAK
Buncis Kenya (Phaseolus vulgaris L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Namun, serangan hama dan penyakit menjadi kendala utama yang menurunkan hasil panen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hama dan penyakit pada buncis Kenya serta metode pengendaliannya di Kelompok Tani Katenzo, Pangalengan. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama utama yang menyerang adalah ulat grayak ( Spodoptera litura), sementara penyakit yang ditemukan meliputi bercak coklat (Alternaria solani), busuk daun (Phytophthora infestans), dan nekrosis. Petani menerapkan pengendalian kultur teknis, fisik-mekanik, serta penggunaan pestisida kimia, namun belum menerapkan pengendalian hayati. Kesimpulannya, serangan hama dan penyakit pada buncis Kenya berdampak signifikan terhadap produktivitas, sehingga diperlukan penerapan pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) untuk meningkatkan keberlanjutan budidaya.
Kata kunci: Buncis Kenya, Hama, Penyakit, Pestisida
ABSTRACT
Kenya beans (Phaseolus vulgaris L.) are a high-value horticultural crop in Indonesia, but pest and disease infestations reduce yields. This study identifies pests, diseases, and control methods at Kelompok Tani Katenzo, Pangalengan, using field observations, interviews, and literature studies. The main pest found was the armyworm (Spodoptera litura), while diseases included brown spot (Alternaria solani), late blight (Phytophthora infestans), and necrosis. Farmers use cultural, physical-mechanical, and chemical controls but have not implemented biological control. Integrated pest and disease management is essential for sustainable cultivation.
Key words: Kenya beans, Pests, Diseases, Pesticides
PENDAHULUAN
Buncis kenya (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman hortikultura yang tergolong dalam kelompok leguminosa dan dikenal sebagai sumber protein nabati yang mudah ditemukan serta terjangkau. Selain kaya akan protein, buncis Kenya juga mengandung berbagai vitamin dan mineral yang penting bagi kebutuhan gizi masyarakat (Rahayu & Sumpena, 2016).
Selain perannya dalam memenuhi kebutuhan pangan, buncis Kenya juga memiliki prospek pasar yang menjanjikan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Buncis Kenya menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan yang dipasarkan ke berbagai negara. Salah satu contohnya adalah Kelompok Tani Katenzo, yang secara rutin mengekspor buncis Kenya ke Singapura dan Malaysia. Namun, dalam proses budidayanya, petani sering menghadapi kendala berupa serangan hama dan penyakit yang berpotensi menurunkan kualitas serta kuantitas hasil panen. Serangan ini tidak hanya berdampak pada produktivitas tanaman tetapi juga pada stabilitas pendapatan petani.
Salah satu hama utama yang menyerang buncis Kenya adalah ulat grayak (Spodoptera litura), yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%
jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat (Dwimartina, 2020). Selain itu, penyakit bercak coklat (Althenaria solani) juga menjadi ancaman serius karena dapat menurunkan hasil hingga 79% (Kumar, 2017). Penyakit busuk daun (Phytophthora infestans) bahkan berpotensi menyebabkan kegagalan panen total dengan tingkat kerugian mencapai 100% (Alviansyah et al.,
2017). Selain itu terdapat penyakit nekrosis, meskipun data spesifik mengenai dampak penyakit nekrosis pada buncis Kenya masih terbatas, penelitian pada tanaman lain menunjukkan bahwa infeksi nekrosis dapat menyebabkan kehilangan hasil yang signifikan. Sebagai contoh, pada tanaman kentang, keparahan penyakit sebesar 26%
dapat menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 63,4% (Hidayat et al., 2018).
Dengan tingkat kerugian yang cukup tinggi akibat serangan hama dan penyakit, diperlukan strategi pengendalian yang efektif agar produktivitas buncis Kenya tetap optimal. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti metode mekanis, hayati, dan kimiawi. Selain itu, penerapan teknik budidaya yang baik, seperti sanitasi lahan, rotasi tanaman, dan penggunaan varietas unggul, juga berperan penting dalam menekan risiko serangan. Oleh karena itu, identifikasi serta pemantauan terhadap hama dan penyakit yang menyerang buncis Kenya menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pengendalian.
BAHAN DAN METODE
Kegiatan observasi lapangan dilaksanakan di Kelompok Tani Katenzo, yang berlokasi di Kampung Cikole Dodik,
Desa Margamukti, Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini berlangsung mulai 6 Januari 2025 hingga 22 Februari 2025.
Pengumpulan data dilakukan menggunakan beberapa metode, meliputi:
a. Observasi Langsung: Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kondisi tanaman buncis Kenya di lokasi penelitian. Pengamatan difokuskan pada identifikasi hama dan penyakit yang menyerang, gejala yang ditimbulkan, serta metode pengendalian yang diterapkan oleh petani. Selain itu, dokumentasi berupa foto dan catatan lapangan dilakukan untuk mendukung hasil observasi.
b. Wawancara: Wawancara dilakukan dengan petani anggota Kelompok Tani Katenzo guna memperoleh informasi mengenai pengalaman mereka dalam menghadapi hama dan penyakit, strategi pengendalian yang telah diterapkan, serta tantangan yang dihadapi dalam praktik budidaya buncis Kenya. Wawancara bersifat semi- terstruktur agar memungkinkan fleksibilitas dalam menggali informasi yang lebih mendalam.
c. Studi Pustaka: Studi pustaka dilakukan dengan meninjau berbagai sumber referensi, seperti jurnal ilmiah, buku, dan laporan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan hama dan penyakit pada tanaman buncis Kenya serta teknik pengendaliannya. Kajian literatur ini bertujuan untuk membandingkan temuan lapangan dengan teori dan hasil penelitian sebelumnya guna memperkuat analisis data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Identifikasi Hama dan Penyakit pada Tanaman Buncis Kenya
a. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Ulat grayak (Spodoptera litura) adalah hama invasif yang berasal dari benua Amerika, khususnya wilayah tropis Amerika Serikat bagian barat dan Argentina. Hama ini telah menyebar ke berbagai wilayah Afrika dan Asia, dengan laporan pertama kali di Afrika Barat dan Tengah pada tahun 2016 (Georgen et al., 2016). Pada awal tahun 2019, ulat grayak ditemukan menyerang tanaman jagung di wilayah Sumatera, Indonesia (Kementan, 2019).
Di negara asalnya, Amerika, ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman jagung, tetapi juga padi, serealia, dan tanaman pangan lainnya. Menurut Smith et al.
(2020), terdapat 83 spesies dari 23 famili tumbuhan yang dapat menjadi inang S.
litura, dengan distribusi sebagai berikut:
Poaceae (35,5%), Fabaceae (11,3%), Solanaceae dan Asteraceae (4,3%), Rosaceae dan Chenopodiaceae (3,7%), serta Brassicaceae dan Cyperaceae (3,2%). Hama ini menyerang titik tumbuh tanaman, yang dapat mengakibatkan gagalnya pembentukan tunas atau daun muda. Larva S. litura akan masuk ke bagian tanaman dan aktif makan di sana, sehingga jika populasinya masih sedikit, serangan akan sulit terdeteksi (Cabi, 2019).
Gambar 1. Ulat grayak pada buncis kenya Salah satu tanaman yang dapat menjadi inang ulat grayak di Indonesia adalah buncis. Dengan kandungan nutrisi yang
dimiliki oleh buncis, sangat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ulat grayak dalam kelangsungan hidupnya, mulai dari instar awal hingga instar akhir (Fadel, 2023). Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi petani buncis, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap serangan hama ini.
b. Penyakit Bercak cokelat (Altenaria solani)
Penyakit bercak coklat merupakan penyakit yang menyerang tanaman buncis kenya yang diakibatkan oleh infeksi jamur Altenaria solani. Penyakit ini dapat menginfeksi daun, batang, dan buah, terutama pada bagian tanaman yang lebih tua. Secara morfologis, A. solani membentuk koloni dengan miselium berwarna kelabu hingga hitam pada media kultur. Jamur ini menghasilkan konidia berbentuk lonjong dengan ujung tumpul dan memiliki septa melintang serta longitudinal. Konidia ini disebarkan melalui angin, air hujan, atau percikan air irigasi, yang kemudian menginfeksi jaringan tanaman yang rentan (Istifadah et al., 2021).
Gambar 2. Daun buncis kenya yang terserang penyakit bercak cokelat Gejala awal infeksi A. solani ditandai dengan munculnya bercak coklat kecil pada daun, yang kemudian berkembang menjadi bercak berbentuk lingkaran konsentris menyerupai sasaran tembak. Pada serangan parah, bercak-bercak ini dapat menyatu, menyebabkan daun menguning dan gugur prematur, sehingga mengurangi
kemampuan fotosintesis tanaman. Selain daun, infeksi juga dapat terjadi pada batang dan buah, menyebabkan lesi yang mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen (Nuviani, 2023).
Penyebaran dan perkembangan penyakit bercak coklat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kelembaban tinggi, suhu hangat, dan adanya embun atau hujan berkepanjangan merupakan kondisi optimal bagi pertumbuhan dan penyebaran A. solani. Praktik budidaya seperti penanaman yang terlalu rapat dan irigasi atas juga dapat meningkatkan kelembaban kanopi, sehingga memperparah infeksi (Istifadah et al., 2021).
c. Penyakit Busuk Daun (Phytophthora infestans)
Phytophthora infestans adalah organisme mirip jamur (oomycetes) yang menjadi penyebab utama penyakit busuk daun. Gejala awal infeksi P. infestans ditandai dengan munculnya lesi berwarna cokelat hingga hitam pada daun, seringkali dikelilingi oleh lingkaran tipis berwarna cerah (Wardana, 2021). Pada kondisi kelembaban tinggi, bagian bawah daun yang terinfeksi dapat menunjukkan pertumbuhan miselium berwarna putih keabu-abuan. Siklus hidup patogen ini melibatkan produksi sporangia yang dapat tersebar melalui angin atau air, menginfeksi tanaman melalui stomata atau luka, dan berkembang pesat dalam kondisi suhu 18- 21°C dengan kelembaban relatif di atas 80%
(Wardana, 2021).
Gambar 3. Daun buncis kenya yang terserang penyakit busuk daun
d. Penyakit Nekrosis
Nekrosis pada tanaman buncis Kenya (Phaseolus vulgaris L.) merupakan kondisi di mana jaringan tanaman mengalami kematian, yang ditandai dengan perubahan warna menjadi cokelat atau hitam pada daun, batang, atau bagian lainnya.
Penyebab utama nekrosis dapat berasal dari infeksi patogen seperti jamur, bakteri, dan virus, serta faktor lingkungan yang tidak mendukung. Salah satu penyebab nekrosis adalah penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Uromyces phaseoli.
Infeksi jamur ini menyebabkan munculnya pustul berwarna oranye kecokelatan pada permukaan bawah daun, yang lama- kelamaan berkembang menjadi bercak nekrosis hingga menyebabkan pengeringan dan kerontokan daun (Aisah & Wuryandari, 2023). Selain itu, virus Cowpea Mild Mottle Virus (CPMMV) juga dapat menginfeksi tanaman buncis, menyebabkan gejala mosaik, klorosis, nekrosis, dan kerdil. Daun tanaman yang terinfeksi CPMMV sering menunjukkan belang dan deformasi yang signifikan, yang berdampak pada penurunan kualitas serta produktivitas tanaman (kulsum, 2016).
Gambar 4. Daun buncis kenya yang terserang penyakit nekrosis
Selain infeksi jamur dan virus, bakteri juga dapat menjadi penyebab utama nekrosis pada tanaman buncis. Infeksi bakteri tertentu dapat mengakibatkan busuk jaringan yang menyebabkan nekrosis meluas pada daun dan batang tanaman.
Faktor lingkungan seperti kekurangan atau kelebihan air, paparan sinar matahari yang berlebihan, serta kekurangan unsur hara
juga dapat mempercepat proses nekrosis.
Oleh karena itu, langkah pengendalian dan pencegahan sangat penting untuk diterapkan. Penggunaan benih berkualitas tinggi dan bebas patogen merupakan salah satu metode utama dalam mencegah nekrosis (Bagus, 2022).
2. Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Buncis Kenya
Penerapan pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) telah diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992, di mana pemerintah mendorong petani untuk mengintegrasikan beberapa metode pengendalian dalam praktik budidaya mereka. Pendekatan terpadu ini bertujuan untuk mengurangi risiko ekonomi, pencemaran lingkungan, dan risiko kesehatan yang mungkin timbul akibat penggunaan metode pengendalian tunggal yang intensif. Dengan demikian, PHT memberikan landasan bagi petani untuk mengelola serangan hama dan penyakit secara efektif dan berkelanjutan (UU No.12/1992). Komponen utama dari PHT meliputi beberapa pendekatan, antara lain kultur teknis, teknik fisik-mekanik, teknik pengendalian kimiawi, dan teknik pengendalian hayati (Peshin, 2014).
a. Kultur Teknis
Pengendalian hama dan penyakit secara kultur teknis di Kelompok Tani Katenzo dilakukan dengan menggunakan benih yang sehat dan berkualitas tinggi. Benih yang digunakan berasal dari hasil produksi petani sendiri, sehingga lebih terjamin kesesuaiannya dengan kondisi lahan setempat. Penggunaan benih berkualitas ini bertujuan untuk mengurangi risiko serangan hama dan penyakit sejak awal
pertumbuhan tanaman, serta
meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang optimal.
Gambar 5. (a.) Benih buncis yang sehat, (b.) Benih buncis reject
Selain itu, petani di Kelompok Tani Katenzo juga menerapkan sistem rotasi tanaman sebagai strategi utama dalam pengendalian hama dan penyakit. Rotasi dilakukan dengan menggilir penanaman buncis Kenya dan tomat, di mana tomat ditanam terlebih dahulu sebelum digantikan dengan buncis. Siklus ini kemudian diulang kembali dengan menanam tomat setelah panen buncis berikutnya. Penerapan rotasi tanaman ini membantu menjaga keseimbangan unsur hara dalam tanah, menghambat perkembangan patogen yang spesifik pada satu jenis tanaman, serta menekan populasi hama yang dapat berkembang biak pada inang yang sama (Kharisma
& Perdana, 2017).
b. Teknik Fisik-Mekanik
Petani di Kelompok Tani Katenzo menerapkan teknik fisik-mekanik sebagai salah satu metode pengendalian hama dan penyakit pada tanaman buncis Kenya.
Teknik ini dilakukan dengan cara memotong atau menghilangkan bagian tanaman yang telah terserang, sehingga penyebaran Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dapat dikendalikan lebih efektif.
Salah satu praktik yang umum dilakukan adalah pemangkasan atau pruning pada daun yang terinfeksi hama atau penyakit.
Dengan memangkas bagian tanaman yang terinfeksi, risiko penyebaran patogen ke bagian tanaman lain maupun ke tanaman di sekitarnya dapat diminimalkan. Selain itu,
pemangkasan juga membantu
meningkatkan sirkulasi udara dan pencahayaan di sekitar tanaman, yang dapat mengurangi kelembapan berlebih—
faktor yang sering menjadi pemicu berkembangnya penyakit tanaman.
c. Teknik Pengendalian Kimiawi Petani di Kelompok Tani Katenzo menerapkan pengendalian kimiawi sebagai salah satu strategi dalam menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman buncis Kenya. Penggunaan pestisida dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan jenis hama dan penyakit yang menyerang, serta mengikuti dosis yang dianjurkan agar tetap efektif dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Untuk pengendalian ulat grayak (Spodoptera litura), petani menggunakan insektisida Fenite, yang mengandung bahan aktif emamektin benzoat 75 g/L dan lufenuron 75 g/L. Selain itu, digunakan juga Oblivion, yang mengandung indoksakarb 120 g/L dan klorfenapir 180 g/L. Sebagai langkah pencegahan sebelum tanam, petani melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sidametrin untuk mengendalikan ulat tanah yang dapat merusak tanaman sejak fase awal pertumbuhan.
Gambar 6. (a.) Insektisida oblivion, (b.) Fenite
Sementara itu, untuk pengendalian penyakit, petani menggunakan fungisida Infinito, yang mengandung fluopikolid 62,5
g/L dan propamokarb hidroklorida 625 g/L.
Selain itu, mereka juga menerapkan penggunaan fungisida Siodan dan Mankozeb secara bergantian dengan interval seminggu sekali untuk mencegah resistensi patogen dan meningkatkan efektivitas pengendalian.
Gambar 7. (a.) Insektisida sidametrin, (b.) Fungisida infinoto, (c.) Siodan, (d.)
Mankozeb
Jadwal aplikasi pestisida disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Pada usia satu minggu setelah tanam, petani menggunakan insektisida sipermetrin untuk mencegah serangan awal hama. Pada usia 45 hari setelah tanam, digunakan Oblivion untuk mengendalikan hama yang mulai berkembang. Selanjutnya, pada usia dua bulan atau lebih, petani beralih ke penggunaan Fenite untuk memastikan pengendalian hama tetap optimal. Semua pestisida yang digunakan diaplikasikan dengan dosis yang telah disesuaikan, yaitu 10–15 ml per 15 liter air, guna memastikan efektivitas tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan.
d. Teknik Pengendalian Hayati
Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa petani di Kelompok Tani Katenzo belum menerapkan metode pengendalian hayati dan masih bergantung pada penggunaan pestisida kimia.
Ketergantungan yang berlebihan terhadap pestisida kimia dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan manusia. Residu pestisida yang
tertinggal pada hasil panen dapat membahayakan konsumen jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Selain itu, penggunaan pestisida secara terus-menerus juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan menurunkan populasi musuh alami serta memicu munculnya hama sekunder akibat matinya predator alami (Amilia et al., 2016).
Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, pengendalian hayati dapat diterapkan dengan memanfaatkan agen hayati untuk mengurangi populasi hama dan patogen tanaman. Beberapa agen hayati yang dapat digunakan dalam budidaya buncis Kenya antara lain Bacillus thuringiensis (Bt) untuk mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura), serta Trichoderma harzianum dan Pseudomonas fluorescens untuk menghambat perkembangan penyakit seperti bercak coklat (Alternaria solani) dan busuk daun (Phytophthora infestans). Bacillus thuringiensis bekerja dengan menghasilkan protein kristal yang bersifat toksik terhadap larva serangga, sedangkan Trichoderma harzianum mampu bersaing dengan patogen dalam hal ruang dan nutrisi serta menghasilkan enzim yang dapat menghancurkan dinding sel patogen (Ghorbanpour et al., 2018).
Implementasi pengendalian hayati tidak hanya membantu mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida kimia tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem pertanian. Dengan penerapan yang tepat, metode ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman secara jangka panjang serta menjaga keseimbangan lingkungan pertanian. Oleh karena itu, edukasi mengenai manfaat dan teknik penerapan agen hayati perlu ditingkatkan agar petani dapat mengadopsi metode ini secara lebih luas.
SIMPULAN
1. Buncis Kenya (Phaseolus vulgaris L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang dibudidayakan di Kelompok Tani Katenzo. Namun, produksi buncis Kenya menghadapi tantangan berupa serangan hama dan penyakit, seperti ulat grayak (Spodoptera litura), bercak coklat (Alternaria solani), busuk daun (Phytophthora infestans), dan nekrosis, yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas hasil panen.
2. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, petani menerapkan berbagai metode pengendalian, termasuk pengendalian kultur teknis melalui rotasi tanaman dan penggunaan benih sehat, pengendalian fisik-mekanik dengan pemangkasan bagian tanaman yang terserang, serta pengendalian kimiawi menggunakan insektisida dan fungisida sesuai dosis yang dianjurkan. Namun, pengendalian hayati belum diterapkan secara optimal, meskipun penggunaan agen hayati seperti Bacillus thuringiensis dan Trichoderma harzianum dapat menjadi solusi ramah lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) yang mengombinasikan berbagai metode secara efektif perlu diterapkan untuk meningkatkan keberlanjutan pertanian buncis Kenya di Kelompok Tani Katenzo.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kelompok Tani Katenzo atas kesempatan dan dukungan yang diberikan selama
pelaksanaan praktik kerja lapangan.
Bantuan serta informasi yang diberikan sangat berharga dalam proses pengumpulan data dan penyusunan laporan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang konstruktif dalam penyusunan laporan ini. Selain itu, penulis juga mengapresiasi dukungan dari keluarga, teman, serta semua pihak yang telah memberikan semangat dan bantuan, baik secara moral maupun materiil, sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aisah, F. N., & Wuryandari, Y. (2023).
Penyakit pada tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) beserta teknik pengendaliannya di CV.
Reja Mayur: Diseases of bean plants (Phaseolus vulgaris) and control techniques in CV. Reja Mayur. Agrocentrum, 1(2), 49–
58.
Alviansyah, F., Ruslianto, I., &
Diponegoro, M. (2017).
Identifikasi penyakit pada tanaman tomat berdasarkan warna dan bentuk daun dengan metode naive bayes classifier berbasis web. Jurnal Coding Sistem Komputer Untan, 5(1), 23–32.
Bagus Prasojo, U. M. A. R. (2022).
Identifikasi dan uji kisaran inang
penyebab penyakit busuk lunak
tanaman cocor bebek (Kalanchoe
spp.).
CABI. (2019). Invasive species compendium: Spodoptera frugiperda.
Dwimartina, F., Rostaman, R., &
Soesanto, L. (2020). Keefektifan bakteri Serratia endosimbion WBC terhadap ulat grayak (Spodoptera litura F.) di Laboratorium Entomologi BBPOPT Jatisari Karawang.
Jurnal Agro Wiralodra, 3(1).
Febriyanti, A. (2023). Siklus hidup ulat grayak spesies baru Spodoptera frugiperda J.E. Smith (Lepidoptera: Noctuidae) pada tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.). Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ghorbanpour, M., Omidvari, M., &
Abbaszadeh-Dahaji, P. (2018).
Pseudomonas fluorescens: A potential biocontrol agent for plant diseases. Biological Control, 126, 89–102.
Hidayat, S., et al. (2018). Taksasi kehilangan hasil oleh penyakit kerdil pada kentang di Jawa Barat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 23(2), 114–121.
Istifadah, N., Putri, R. A., & Hartati, S.
(2021). The abilities of bacteria and yeast isolated from vermicompost water extract to inhibit Alternaria solani in vitro and early blight disease on tomato. CROPSAVER-Journal of Plant Protection, 4(2), 73–79.
Kharisma, A., & Perdana, T. (2017).
Perencanaan sistem produksi pada manajemen rantai pasok sayuran. Mimbar Agribisnis:
Jurnal Pemikiran Masyarakat
Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 3(2), 89–104.
Kulsum, U., Hartono, S., Sulandari, S.,
& Sumowiyarjo, S. (2016).
Identifikasi molekuler Cowpea mild mottle virus pada tanaman kedelai di Jawa. Jurnal Fitopatologi Indonesia, 12(6), 224–224.
Kusumiyati, W., Wawan, S., & Raniska, N. (2016). Growth, yield, and quality response of snap beans to the doses of compost and harvest interval on Inceptisols Jatinangor. Jurnal Kultivasi,
15(2), 92–98.
https://doi.org/10.24198/kltv.v15 i2.11888
Nuviani, E. P. I., Martosudiro, M., &
Choliq, F. A. (2023). Pengaruh beberapa fungisida terhadap Alternaria solani penyebab penyakit bercak kering pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) di lapangan.
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan), 11(2).
Peshin, R. (2014). Integrated pest management: Pesticide problems (Vol. 3).
Rahayu, A., & Sumpena, U. (2016).
Perbandingan hasil produksi beberapa galur tanaman buncis tegak (Phaseolus vulgaris L.) hasil introduksi dengan varietas Balitsa 1 dan 2. Prosiding Seminar Nasional, April, 239–
245.
Smith, J., Jones, A., & Williams, R.
(2020). Host range of Spodoptera
frugiperda in its native and
invaded regions: A review.
Journal of Pest Science, 93(3), 1–
15.
Wardana, W., Purnamasari, W. O. D., &
Muzuna, M. (2021). Pengenalan
dan pengendalian hama penyakit
pada tanaman tomat dan
semangka di Desa Sribatara
Kecamatan Lasalimu Kabupaten
Buton. Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat Membangun
Negeri, 5(2), 464–476.