Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) MENARA BAWANG TIWAI (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) DAN UJI TOKSISITAS AKUT. Pengamatan dan perhitungan nilai LD50 dilakukan pada mencit yang mati dan masih hidup selama 24 jam setelah pemberian ekstrak fraksi kloroform. Potensi toksisitas akut ditentukan dari data pada tikus yang menunjukkan gejala fisik umum sebagai tanda keracunan setelah pemberian larutan ekstrak fraksional kloroform dibandingkan dengan kontrol.
Review uji toksisitas akut fraksi kloroform umbi bawang tiwai pada mencit putih jantan (Mus musculus L).
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Sampai saat ini belum ada penelitian yang dilaporkan mengenai penentuan kandungan flavonoid ekstrak etanol daun elakai (Stenochlaena palustris (Burm. F.) Bedd.) dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis, sehingga penelitian ini dilakukan. . Penentuan kadar air ekstrak etanol daun lakai bertujuan untuk mengetahui kadar air pada ekstrak yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada ekstrak etanol daun elakai memiliki kandungan flavonoid rata-rata sebesar .
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kadar flavonoid dalam ekstrak etanol daun lakalai sama dengan kadar etanol daun lakai yaitu 2,2159.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Teh (Camellia sinensis L) Dari Perkebunan Kemuning Kab. Karang Anyar dalam Pembuatan Sabun
Padat Transparan dan Uji Aktivitas Antibakteri pada Staphyloccocus aureus
- Alkaloid
- Flavonoid
- Saponin
- Tanin
- Steroid
- MetodeMa serasi
- Metode Digesti
Uji antibakteri ini dilakukan untuk mengetahui manfaat sabun transparan ekstrak daun teh sebagai sabun pembersih dan sebagai sabun antiseptik. Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah daun teh dari perkebunan Kemuning Tawang Mangu, Kab. Warna ekstrak daun teh sangat mempengaruhi kenampakan dan kejernihan sabun batangan yang dihasilkan.
Formula 4 yang memiliki kandungan ekstrak daun teh paling tinggi memiliki warna sabun padat paling gelap. Sabun padat transparan (A) Formula tanpa ekstrak daun teh (B) Formula dengan 1,5% ekstrak daun teh. C) Formula dengan ekstrak daun teh 3. Uji kualitas sabun padat transparan pada tabel II menunjukkan formula 4 dengan ekstrak daun teh tertinggi (4,5%).
Hal ini dikarenakan ekstrak daun teh mengandung senyawa alkaloid yang bersifat basa sehingga dapat meningkatkan derajat keasaman (pH) pada sabun padat bening yang dihasilkan. Kandungan saponin pada ekstrak daun teh dapat menghasilkan busa, sehingga penambahan ekstrak daun teh dapat meningkatkan kestabilan busa sabun padat transparan. Bakteri yang digunakan untuk menguji sabun padat bening yang mengandung ekstrak daun teh adalah bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus yang dapat menyerang kulit.
Hasil analisis uji zona bening sabun padat transparan dengan penambahan ekstrak daun teh terhadap bakteri Staphylococcus aureus ditunjukkan pada gambar 2. B) Formula dengan ekstrak daun teh 3. D) Formula tanpa ekstrak daun teh: 12 mm. Sampel sabun padat dengan kandungan ekstrak daun teh tertinggi memberikan zona hambat tertinggi sebesar 21 mm terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus. Kemampuan penghambatan tersebut diduga karena pengaruh kandungan flavanoid dan katekin pada ekstrak daun teh.
Formula sediaan sabun transparan 4 yang mengandung ekstrak daun teh (Camellia sinensis L.) tertinggi memberikan zona hambat tertinggi sebesar 21 mm terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
KAJIAN PENGOBATAN TRADISIONAL CACAR MENURUT TERJEMAHAN LONTAR USADA KACACAR
ABSTRAK
ABSTRACT
Lontar Usada Kacacar yang diwakili oleh mr. I Gusti Ngurah Wiriawan S, S, diterjemahkan, kemudian dibuat tabel tentang gejala penyakit cacar, tanaman obat, bagian yang digunakan dan cara penggunaan ramuannya. Penelitian ini dilakukan dengan menerjemahkan pemeran Usada Kacacar yang masih menggunakan bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Indonesia. Dalam lontar terjemahan Usada Kacacar diperoleh 100 formula obat ilmiah menggunakan tumbuhan, 75 jenis obat untuk gejala cacar disebutkan dalam lontar, 107 jenis tanaman dengan 10 cara penggunaan ramuan, selain itu juga terdapat 16 ramuan yang disertai dengan doa-doa. / mantra.
Semua bahan diasapi dengan cara ditaruh di atas abu api yang masih panas, dihaluskan lalu digumpalkan. Ong puuh sukun puwuh balulang puwuh nasi wruh sip o ko so maloki rep ta ngko dengku hanya itu yang dapat Anda lakukan.) Obat cacar. Masukkan bawang jagung ke dalam bak mandi hitam berisi air semalaman sampai empuk.
EVALUASI SIFAT FISIK SEDIAAN SAMPO EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus (L) Merr) DENGAN BERBAGAI
VARIASI VISCOSITY AGENT
A BSTRACT
Dalam formulasi SAMPO, ekstrak daun katuk menggunakan agen viskositas, Hydroxy Propyl Methyl Cellulose (HPMC), Sodium Carboxy Methyl Cellulose (CMC Na), Carbopol untuk menciptakan hambatan aliran sehingga SAMPO mudah digunakan. Berdasarkan hal tersebut di atas, diperlukan penelitian untuk mengetahui sifat fisik sediaan shampo daun katuka (Sauropus androgynus (l)merr) dengan variasi zat kekentalan yang berbeda. Sampel yang diteliti adalah daun katuka (Sauropus androgynus (L) Merr) yang berasal dari Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sampel daun catuk segar diperiksa, ditimbang dan dicuci bersih dengan air kemudian dikeringkan di udara terbuka (tanpa sinar matahari langsung). Daun katuk yang telah kering kemudian dihaluskan dengan blender hingga menjadi serbuk, ditimbang kemudian diayak dengan ayakan 30 mesh hingga diperoleh serbuk yang halus. Pembuatan ekstrak etanol daun catuk 100 gram serbuk daun catuk yang telah dikeringkan dan digiling sampai tingkat kehalusan tertentu dimaserasi selama 1 jam dengan etanol 96% sebanyak 800 ml, dibiarkan semalaman, kemudian disaring dan dipisahkan endapannya. tersaring.
Ekstrak daun katuk dikocok kuat-kuat dengan kloroform kemudian ditambahkan akuades hingga terbentuk dua lapisan. Analisis organoleptik dilakukan dengan mengamati perubahan bentuk, bau dan warna sediaan SAMPO yang mengandung ekstrak daun katuka yang berbeda. Filtrat ekstrak daun katuk berwarna hitam jika ditambahkan FeCl3 1% dan berwarna hijau kebiruan jika ditambahkan NaOH 10%.
Semakin tinggi konsentrasi zat kekentalan yang digunakan maka bentuk sediaan shampo yang dihasilkan akan semakin kental (Afianti dan Murrukmihadi, 2015). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh variasi viskositas agen terhadap sifat fisik organoleptik, tinggi busa, viskositas dan pH sediaan shampo ekstrak daun katuka (Sauropus androgynus (L) Merr).
POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV) PADA RESEP PASIEN RAWAT JALAN DARI KLINIK HIV/AIDS
SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG
Penggunaan obat antiretroviral dalam pengobatan HIV/AIDS telah meningkatkan harapan hidup orang dengan HIV/AIDS. Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan survei pola penggunaan obat antiretroviral (ARV) pada resep pasien rawat jalan dari klinik HIV/AIDS di salah satu rumah sakit swasta di Bandung untuk mendukung manajemen terapi sehingga tercapai hasil yang optimal pengobatan, pencegahan obat. resistensi dan penyebaran HIV yang resistan terhadap obat, serta dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA. Kriteria pasien penelitian adalah pasien rawat jalan di klinik HIV/AIDS di rumah sakit swasta di Bandung selama masa observasi, sedangkan kriteria obat adalah obat antiretroviral yang diberikan kepada pasien.
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penderita laki-laki lebih banyak dengan persentase 87% dibandingkan dengan penderita HIV/AIDS perempuan yang hanya 13%. Hal ini sama dengan pola persebaran kasus HIV/AIDS di Indonesia menurut Laporan Perkembangan HIV/AIDS Tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pembinaan. Kecenderungan laki-laki lebih banyak tertular HIV/AIDS dapat disebabkan oleh gaya hidup, misalnya kecenderungan melakukan hubungan seks.
Bagi wanita, faktor risiko paling banyak terjadi pada ibu rumah tangga yang pasangannya tertular HIV/AIDS atau menularkannya dari ibu ke ibu. Menurut Laporan Perkembangan HIV/AIDS Triwulan I Tahun 2017, faktor risiko penularan terbanyak adalah heteroseksual (68%), pengguna narkoba suntikan (11%), diikuti oleh homoseksual (4%) dan penularan perinatal (3%) (Ditjen P2P Kemenkes RI, 2017). Laporan Perkembangan HIV/AIDS Triwulan I Tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menunjukkan persentase tertinggi penderita HIV/AIDS menurut kelompok umur berada pada kelompok umur. kelompok 20-29 tahun dan 30-39 tahun.
Yang dimaksud dengan tingkat kepatuhan dalam penelitian ini adalah kepatuhan pasien untuk rutin berobat antiretroviral setiap bulan di klinik HIV/AIDS sebuah rumah sakit swasta di kota Bandung, dilihat dari frekuensi minum obat antiretroviral di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Dari tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar pasien HIV/AIDS mendapatkan pengobatan tambahan dengan kotrimoksazol yang merupakan bagian dari layanan HIV.
PENGARUH EDUKASI FARMASIS TERHADAP MOTIVASI DAN KEPATUHAN PENGGUNA PROGRAM
TERAPI RUMATAN METADON DI PUSKESMAS TAMBORA PADA BULAN FEBRUARI - APRIL 2015
Ceramah dan diskusi yang berisi informasi tentang pengetahuan, sikap, tindakan, motivasi dan kepatuhan pengguna PTRM. Data yang dikumpulkan pada variabel pengetahuan kontrol (CC) (non-intervensi) pada awal dan setelah dikumpulkan pada akhir penelitian tidak berbeda secara signifikan dengan nilai sig 0,455 > 0,05 jika dibandingkan dengan variabel pengetahuan data pendidikan. KE ). sebelum intervensi dan sesudah edukasi pada kelompok education (CE) terdapat perbedaan data yang signifikan dengan nilai sig 0,000 < 0,05 yang artinya materi diskusi perkuliahan dan pemberian informasi melalui handout dapat meningkatkan pengetahuan pengguna PTRM di Tambora. Pusat kesehatan. Selanjutnya membandingkan data pendidikan (KE) variabel kepatuhan sebelum intervensi dan setelah diberikan pendidikan pada kelompok pendidikan (KE) terdapat perbedaan data yang signifikan dengan nilai sig 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa kuliah. materi diskusi dan tambahan informasi leaflet dapat meningkatkan kepatuhan pengguna terhadap PTRM di Puskesmas Tambora.
Bahkan melihat keadaan pengguna PTRM yang suka tertidur akibat efek mengonsumsi metadon setiap hari menjadi kendala bagi apoteker untuk menerapkannya. Didukung juga oleh penelitian Turnip bahwa pengguna PTRM kurang patuh karena kurangnya pengetahuan dan sikap (Turnip IF, 2012). Diasumsikan bahwa waktu penelitian selama tiga bulan masih belum cukup lama untuk meningkatkan kepatuhan pengguna PTRM, sehingga diperlukan bantuan lebih dari tiga bulan untuk menemukan kepatuhan agar kepatuhan semakin kuat untuk kehidupan pengguna PTRM di masa mendatang. .
Peran apoteker harus terus dilibatkan untuk meningkatkan kepatuhan pengguna PTRM di Puskesmas Tambora pada khususnya dan PTRM lainnya pada umumnya. Namun dalam rehabilitasi ini, pengguna PTRM harus menyadari bahwa ketidaktaatan adalah hal yang berbahaya bagi mereka. Seseorang yang kurang motivasi umumnya memiliki tingkat kepatuhan yang rendah, hal ini terlihat pada pengguna PTRM sebagaimana peneliti mengklasifikasikannya.
Variabel pengetahuan merupakan faktor penting dalam meningkatkan motivasi dan kepatuhan pengguna PTRM dalam menjalani rehabilitasi, data ini didukung oleh penelitian Turnip yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan antara pengguna PTRM yang drop out dengan pengguna PTRM aktif (Turnip IF, 2012 ). . Melihat kondisi pengguna PTRM yang suka tertidur akibat efek minum metadon setiap hari juga menjadi kendala bagi apoteker untuk melakukan proses edukasi, diamati dan dilihat oleh peneliti bahwa setelah mengkonsumsi metadon efek metadon seperti rasa kantuk akan terjadi sehingga sesi pengajaran terbukti cukup meresahkan.