• Tidak ada hasil yang ditemukan

jurnal riset kefarmasian indonesia

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "jurnal riset kefarmasian indonesia"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

Berdasarkan hal tersebut maka ekstrak metanol buah pedada dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan shampo anti ketombe. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan menguji efektivitas shampo yang mengandung ekstrak buah pedada sebagai anti ketombe terhadap Candida albicans. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ketiga formula sampo ekstrak buah pedada (Sonnerratia caseolaris L) meliputi organoleptik, pengukuran pH, pengukuran tinggi busa, uji siklus dan viskositas, sehingga menghasilkan sifat fisik yang baik sesuai dengan sifat fisik sampo standar. namun hasil uji homogenitas menunjukkan sampo formula III kurang homogen.

Ekstrak buah pedada yang diperoleh diformulasikan menjadi sediaan sampo Shampo ekstrak buah pedada diformulasikan menjadi 3 formula dengan perbedaan konsentrasi ekstrak yang digunakan, hal ini dimaksudkan untuk membandingkan sifat fisik dan efektivitas masing-masing formula anti ketombe. Hasil uji organoleptik untuk semua formula shampo ekstrak pepaya berwarna coklat, mint dan kental. Sampo ekstrak buah Pedada (Sonneratia caseolaris L) FIII memiliki viskositas tertinggi sebesar 2892,33, diikuti oleh FII sebesar 2589,33 dan F1I dengan viskositas terendah sebesar 1860.

Semakin besar konsentrasi ekstrak buah pedada yang digunakan maka semakin besar kekentalan masing-masing shampo. Hasil uji pH sampo ekstrak buah pedada formula 1, 2 dan 3 adalah 5,9; 5,8 dan 5,8 hal ini menunjukkan bahwa pH ketiga formula shampo memenuhi persyaratan pH shampo masing-masing 5,0-8,0 (Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 1992). Sifat fisik dari ketiga formula shampo ekstrak buah pedada (Sonneratia caseolaris L) meliputi organoleptik, pengukuran pH, pengukuran tinggi busa, cycle test dan viskositas memberikan sifat fisik yang baik sesuai dengan uji sifat fisik shampo standar, namun hasil uji homogenitas menunjukkan sampo formula III kurang homogen.

Tabel 1. Hasil uji antijamur sampo antiketombe ekstrak  buah pedada (Sonneratia caseolaris  L.)
Tabel 1. Hasil uji antijamur sampo antiketombe ekstrak buah pedada (Sonneratia caseolaris L.)

PENGUKURAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ST

ELISABETH SEMARANG

BLOOD PRESSURE MEASUREMENT OF INPATIENTS CONGESTIVE HEART FAILURE PATIENTS IN ST. ELISABETH HOSPITAL

SEMARANG

Target tekanan darah berdasarkan JNC VIII yaitu pada pasien usia ˃60 tahun adalah <150/90 mmHg. Sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi terapi hipertensi terhadap pencapaian target tekanan darah pada pasien GJK St. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung rata-rata penurunan tekanan darah pasien selama rawat inap dan menilai kecukupan tekanan darah pasien. pasien terhadap target tekanan darah menurut JNC VIII (James et al, 2014).

Hasil penelusuran perbedaan tekanan darah saat masuk (MRS) dan keluar dari Rumah Sakit (KRS) pasien GJK dirawat di RS St. Kompatibilitas pengukuran tekanan darah dengan JNC VIII pada pasien gagal jantung kongestif yang dirawat di RS St. Penggunaan terapi antihipertensi pada pasien gagal jantung kongestif dapat menurunkan tekanan darah sesuai target tekanan darah menurut JNC VIII pada 49 pasien (81,67%).

Kecukupan tekanan darah pasien saat keluar dari target tekanan darah JNC III adalah 81,67.

Tabel I.  Karakteristik pasien Gagal Jantung Kongestif yang menjalani rawat inap di RS  St
Tabel I. Karakteristik pasien Gagal Jantung Kongestif yang menjalani rawat inap di RS St

ALKOHOL

Penggunaan lidah buaya dapat diaplikasikan dalam bentuk masker gel peel off dengan polivinil alkohol sebagai gelling agent. Lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk bahan baku kosmetik. Pemanfaatan lidah buaya untuk kesehatan kulit dapat dilakukan dengan membuat masker gel peel off dari sari lidah buaya.

Masker gel peel off adalah sediaan kosmetik perawatan kulit yang berbentuk gel, setelah dioleskan pada kulit dalam waktu tertentu hingga mengering, sediaan ini akan membentuk lapisan film yang transparan dan elastis sehingga dapat dikelupas ( Yulin, 2015). Masker gel peel off memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis masker lainnya yaitu preparat berupa gel dingin yang dapat dengan mudah merelaksasikan dan membersihkan wajah secara maksimal, daya rekat tinggi yang tidak menyumbat pori-pori sehingga pori pori tidak terganggu. , mudah dikupas dan dicuci dengan air. Masker gel peel-off yang khas umumnya mengandung bahan aktif, bahan pembentuk gel, penghalang kelembaban, pengawet dan air (Goeswin, 2012).

Berdasarkan penjelasan di atas dibuatlah 3 formula masker peel off gel dengan sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan kandungan gelling agent. 2 kg gaharu dibersihkan dari kotoran yang menempel, dicuci dengan air mengalir, kemudian permukaan daun dikeringkan, sisi daun yang berduri dihilangkan dan pangkal daun dipotong kira-kira 1 cm, kemudian dikuliti hingga melebihi batas luarnya. . sel parenkim Daging (gel) lidah buaya kemudian diperas dengan kain flanel. Evaluasi sediaan masker pull-off gel Evaluasi sediaan masker dilakukan pada suhu ruang, kemudian diamati secara berkala pada minggu ke 4.

Masker gel peel off aloe vera dibuat dalam 3 formula dengan kadar polivinil alkohol 10%, 12% dan 14% sebagai gelling agent. Penggunaan nipagin dan nipasol sebagai pengawet adalah untuk mencegah pertumbuhan mikroba karena adanya kandungan air yang banyak pada sediaan Lidah buaya digunakan sebagai zat aktif yang berguna untuk melembabkan kulit. Uji waktu pengeringan bertujuan untuk mengetahui berapa lama masker gel mengering di permukaan kulit dan membentuk lapisan film.

Waktu persiapan kering masker gel pull-off yang umum digunakan adalah 15-30 menit, terhitung sejak masker gel diaplikasikan hingga masker mengering. Hasil pengujian viskositas masker gel pull-off untuk masing-masing formula dapat dilihat pada Gambar 3 sampai dengan Gambar 5.

Tabel 1. Hasil Identifikasi   No   Kandungan   Hasil
Tabel 1. Hasil Identifikasi No Kandungan Hasil

WAKTU KERING

Viskositas sediaan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor pengadukan atau pencampuran selama proses pembuatan, penggunaan gelling agent dan konsentrasi yang digunakan. Pada formula 2 dan 3 terjadi penurunan pada minggu ke 1 dan peningkatan viskositas pada minggu ke 3. Dari hasil pemeriksaan viskositas menunjukkan bahwa semakin meningkatnya konsentrasi polivinil alkohol maka viskositas akan semakin meningkat dan lama penyimpanan dapat mempengaruhi viskositas. .

Peningkatan viskositas disebabkan karena gugus hidroksil yang terdapat pada polivinil alkohol belum mengalami proses hidrasi sempurna selama produksi (Puspita, 2014). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar gelling agent berpengaruh terhadap viskositas dan waktu pengeringan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada viskositas dan waktu pengeringan masing-masing formula.

Pengaruh peningkatan konsentrasi xanthan gum sebagai gelling agent terhadap stabilitas fisik Peel Off Mask Gel 96% ekstrak etanol buah strawberry (Fragaria x ananassa (Weston Duchesne)). Menentukan stabilitas, akseptabilitas dan efikasi Aloe Vera Linn Moisturizer dengan penambahan proienglycol pada basis Vanishing cream. Penggunaan polivinil alkohol sebagai gelling agent pada masker peel off gel ekstrak kulit semangka (Citrullus vulgaria (Thumb) Maksum dan Nakai).

Uji Stabilitas Fisik Peel Off Mask Gel Bubuk Getah Buah Pepaya (Carica papaya L.) Berbahan Dasar Polivinil Alkohol dan.

Gambar 3. Evaluasi pH Formula 1
Gambar 3. Evaluasi pH Formula 1

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK PERASAN DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP Escherichia coli

SECARA IN VITRO

IN VITRO ANTIBACTERIAL ACTIVITY FROM LEAF EXTRACT FEEDING OF Morinda citrifolia L. AGAINST Escherichia coli

Penelitian Kameswari, dkk (2013) melaporkan bahwa sari daun mengkudu mengandung senyawa flavonoid dan antrakuinon yang berperan dalam pertumbuhan bakteri E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daun mengkudu mampu menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dengan MIC sebesar 7,3 mm pada konsentrasi 25%. Dalam hal ini, aktivitas antibakteri dan jumlah Minimum Inhibitory Content (MIC) ekstrak jus daun mengkudu terhadap bakteri E coli secara in vitro diselidiki.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ekstrak daun mengkudu, akuades, toluena, KOH, amonia(p), asam asetat glasial, HCl, H2O2, serbuk Mg (E. Merck), kultur bakteri Eschericia coli ATCC 25922, aquades steril, NaCl fisiologis 0 ,9% (Otsuka), cakram 7 mm (Whatmann no. 42), cakram kertas Amoksisilin 25μg (Oxoid), Mc. Penentuan konsentrasi ekstrak sari daun mengkudu diperoleh berdasarkan penelitian Kameswari (2013) pada sari daun mengkudu sebagai antibakteri terhadap bakteri E.coli. Pengamatan menunjukkan terbentuknya zona bening di sekitar cakram, dan diameter zona hambat diukur secara vertikal dan horizontal.

Data berupa rata-rata diameter zona hambat dianalisis normalitasnya dengan metode Shapiro-Wilk dan homogenitasnya dengan statistik Levene. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar zona hambat yang dihasilkan (Prescott, 2005), namun ukurannya masih lebih kecil dibandingkan dengan kontrol positif. Perbedaan diameter zona hambat ekstrak daun mengkudu dipengaruhi oleh konsentrasi bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak daun mengkudu tersebut.

Mekanisme penghambatan bakteri E.coli pada ekstrak sari daun mengkudu diduga berasal dari kandungan senyawa flavonoid dan antrakuinon.

Tabel I. Nilai Standar Potensi Antibakteri Ketentuan Davis and Stout (1971)  Daerah hambat (mm)  Potensi Antibakteri
Tabel I. Nilai Standar Potensi Antibakteri Ketentuan Davis and Stout (1971) Daerah hambat (mm) Potensi Antibakteri

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SURUHAN (Peperomia pellucida L. Kunth) TERHADAP Propionibacterium acnes

PENYEBAB JERAWAT

ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST OF SURUHAN LEAVES (Peperomia pellucida L. Kunth) AGAINST Propionibacterium acnes

Berdasarkan latar belakang di atas dan belum adanya penelitian tentang daun suruhana sebagai obat anti jerawat, penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun suruhana (Peperomia pellucida L. Kunth) terhadap Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Agar nutrisi (NA), air suling, etanol 70%, kultur Propionibacterium acnes, daun peppermint (Peperomia pellucida L. Kunth) dan klindamisin. Zona hambat menunjukkan kepekaan antimikroba ekstrak daun suruhan (Peperomia pellucida L. Kunth) dalam menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes.

Ekstrak daun Suruhan (Peperomia pellucida L. Kunth) dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes dengan baik pada konsentrasi yang berbeda. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun suruhan (Peperomia pellucida L. Kunth) maka semakin besar daya hambat yang terjadi pada bakteri Propionibacterium acnes yaitu pada konsentrasi 25%. PENGUJIAN FORMULASI DAN SIFAT FISIK MASKER WAJAH PEEL-OFF KELAPA (Cocos nucifera L).

Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi masker antijerawat dari ekstrak kelapa dan menguji sifat fisiknya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental, dimana dibuat tiga formula masker dengan konsentrasi bahan aktif dan polivinil alkohol (PVA) yang berbeda. Selain banyak manfaatnya, kelapa juga menghasilkan limbah dari buahnya yaitu sabut kelapa yang terutama dihasilkan oleh warung dan industri minyak kelapa.

Sabut kelapa memiliki kandungan senyawa tanin yang tinggi sehingga sabut kelapa yang sebelumnya digunakan sebagai media tanam tidak lagi digunakan karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, serta memerlukan perlakuan dan waktu khusus. Menurut Marlin dalam penelitian Dalimunthe (2006), buah kelapa mengandung senyawa tanin yang merupakan senyawa kimia kompleks karena terdiri dari berbagai senyawa polifenol yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Berdasarkan uraian di atas, dilakukan penelitian untuk mengembangkan penggunaan masker wajah lepasan dari limbah bahan alam yaitu sabut kelapa (Cocos nicifera L.

Formulasi masker wajah eksfoliasi kelapa juga belum pernah dibuat dalam bentuk sediaan masker, sehingga penggunaan ekstrak kelapa sebagai masker wajah eksfoliasi juga dapat mengurangi limbah yang selama ini dibuang begitu saja. Formula masker ekstrak kelapa dibuat dalam 3 formula dengan variasi bahan aktif PVA dan ekstrak kelapa yaitu formula A 1%, formula B 2%, dan formula C 4. Setelah itu semua bahan dicampur. dan ekstrak sabut kelapa dicampur dengan ethanol 70% terlarut ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga homogen, kemudian dengan akuades ditambahkan 25 gram dan diaduk hingga homogen, dan ditambahkan pewangi tetes demi tetes hingga bau yang diinginkan.

Dalimunthe, Aminah, Marline Nainggolan, 2006, Pengujian ekstrak etanol buah kelapa (Cocos nucifera Linn) terhadap bakteri Escherichia coli dan Shigella dysenteriae.

Tabel 1. Hasil Pengujian Daya Hambat Ekstrak Daun Suruhan Terhadap P. acnes  Perlakuan  Diameter Zona Hambat (mm)
Tabel 1. Hasil Pengujian Daya Hambat Ekstrak Daun Suruhan Terhadap P. acnes Perlakuan Diameter Zona Hambat (mm)

Gambar

Tabel 1. Hasil uji antijamur sampo antiketombe ekstrak  buah pedada (Sonneratia caseolaris  L.)
Tabel 4. Kategori Penghambatan Antimikroba Berdasarkan Diameter Zona Hambat   (Pan, dkk.,  2009)
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas   Kode
Tabel I.  Karakteristik pasien Gagal Jantung Kongestif yang menjalani rawat inap di RS  St
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan dengan metode penelitian eksperimental, bertujuan untuk mengetahui formulasi sediaan masker gel peel-off ekstrak daun pandan wangi (Pandanus