9 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung dan Sungai di Kabupaten Ogan Komering Ilir (Perda OKI No. 9 Tahun 2008). 44 Tahun 2008, tentang Tata Cara Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai di Kabupaten Ogan Komering Ilir (PERBUP OKI No. 44/2008). Pemerintah Desa Berkat menetapkan batas sungai lebak, lebung dan sungai tidak dilelang, serta konservasi perikanan/.
Kelestarian sumber daya ikan di wilayah Lebak, Lebung dan sungai yang tidak dilelang dapat terjamin. Terjaminnya tertibnya kegiatan penangkapan ikan di lebak, lebung dan sungai yang tidak dilelang/.
KINERJA PRODUKTIVITAS DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH
TERHADAP TOTAL FACTOR PRODUCTIVITY (TFP )TAMBAK UDANG INDONESIA 1
Peningkatan ini disebabkan oleh kemajuan dalam bidang pakan, pengelolaan tambak dan pembibitan berupa introduksi udang windu (Litopenaeus vannamei) ke negara-negara Asia pada tahun 2000. Produktivitas udang windu sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas udang windu. udang (Penaeus monodon) (Wyban, 2007). Berdasarkan data pada Lampiran 1, secara keseluruhan laju peningkatan produksi tertinggi terjadi pada udang vaname, disusul bandeng, dan udang windu.
Namun dari sisi bagi hasil, urutannya adalah udang windu, udang vaname, dan bandeng. Udang windu mempunyai andil yang lebih besar terhadap total pendapatan dibandingkan udang vannamei karena harga jualnya yang relatif lebih tinggi. Pada periode berikutnya, laju pertumbuhan udang windu sangat menurun, dan udang vaname memiliki laju pertumbuhan tertinggi.
Omzet udang vaname juga mengalami peningkatan, namun masih lebih rendah dibandingkan omzet udang windu. Pada tahun 2005, ketika Inbudkan dialihkan ke Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya untuk Ekspor (Propekan), hal ini mencakup pembangunan pusat penangkaran untuk menghasilkan bahan pembenihan udang vaname yang potensial di Situbondo dan udang windu di Jepara. Dummy penggunaan udang vaname yang mempunyai produktivitas lebih tinggi tidak dimasukkan sebagai variabel penjelas karena terdapat multikolinearitas pada serangan penyakit.
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko serangan penyakit adalah dengan mengganti varietas yang digunakan dari udang windu menjadi udang vaname.
ANALISIS DAMPAK SUBSIDI INPUT TERHADAP EFISIENSI EKONOMI USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG
ANALISIS DAMPAK SUBSIDI INPUT TERHADAP EFISIENSI EKONOMI KELOMPOK USAHA PERTANIAN DI KABUPATEN PESAWARAN LAMPUNG. Pada penelitian ini perusahaan budidaya ikan kerapu keramba jaring apung di Pesawaran, Lampung menggunakan 6 (enam) input produksi yang terdiri dari lima input variabel dan satu input tetap. Terdapat simulasi dampak pemberian subsidi input (benih kalajengking, pakan limbah ikan dan bahan bakar) terhadap faktor share sebagai indikator keberlanjutan usaha ditinjau dari efisiensi ekonomi budidaya ikan kerapu di provinsi Pesawaran, Lampung.
Hasil estimasi fungsi share faktor input benih dari fungsi biaya pada usahatani kirn non subsidi di Kabupaten Pesawaran Lampung Tahun 2010. Artinya kedua variabel tersebut menunjukkan pengaruh negatif terhadap perubahan variabel input faktor share di usaha peternakan kirn di Kabupaten Pesawaran, Lampung. . Hasil simulasi untuk menilai arah dampak subsidi input terhadap pangsa faktor usaha budidaya ikan kerapu di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 3.
Hasil estimasi persamaan fungsi biaya budidaya ikan kerapu dengan subsidi input yang besar (benih kerapu dan sisa pakan ikan). Berdasarkan arah perubahan koefisien kenaikan (positif), terlihat bahwa pemberian subsidi pada input-input utama berpengaruh terhadap peningkatan share faktor input pada usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Hubungan simulasi pilihan subsidi input dengan rasio biaya-manfaat pada usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran, Lampung, 2010.
Subsidi input (benih ikan kerapu dan pakan limbah ikan) berpotensi memberikan dampak positif terhadap porsi faktor input (sebagai ukuran efisiensi ekonomi) usaha budidaya ikan kerapu di lokasi penelitian.
ANALISIS PERMINTAAN IKAN DI INDONESIA
PENDEKATAN MODEL QUADRATIC ALMOST IDEAL DEMAND SYSTEM (QUAIDS)
Sedangkan kelompok ikan yang dianalisis adalah ikan segar, ikan kaleng, udang segar/hewan lainnya, dan udang kaleng/hewan air lainnya. Elastisitas pengeluaran ikan segar terhadap total pengeluaran ikan bernilai positif dengan nilai berkisar antara 0,4 hingga 0,5 yang menunjukkan bahwa ikan segar merupakan barang penting bagi rumah tangga di Indonesia. Pada elastisitas harga sendiri tanpa kompensasi, kelompok ikan segar mempunyai elastisitas kurang dari satu dengan nilai berkisar antara -0,3 sampai dengan -0,9; menunjukkan bahwa barang bersifat inelastis terhadap perubahan harga.
Dengan elastisitas harga sendiri yang terkompensasi, kelompok ikan yang diawetkan mempunyai nilai elastisitas kurang dari satu yang menunjukkan bahwa ikan yang diawetkan tidak merespon perubahan harga. Nilai estimasi koefisien sistem kebutuhan ikan (ikan segar, udang/hewan air segar lainnya, ikan awetan dan udang/hewan air segar lainnya yang diawetkan) dari tahap ketiga menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap fungsi permintaan ikan. kelompok dengan nilai koefisien determinasi sistem 67,3%. Elastisitas pengeluaran seluruh kelompok ikan terhadap total pengeluaran ikan bernilai positif, menunjukkan bahwa keempat kelompok ikan tersebut merupakan barang normal.
Elastisitas pengeluaran kelompok ikan segar sebesar 0,4 hingga 0,5 menunjukkan bahwa ikan segar merupakan barang penting bagi rumah tangga di Indonesia. Nilai elastisitas udang segar, ikan awet, dan udang awet berkisar antara 1,1 hingga 2,9 yang menunjukkan bahwa ketiga kelompok ikan tersebut merupakan barang mewah. Pada elastisitas harga sendiri tanpa kompensasi, kelompok ikan segar mempunyai elastisitas lebih kecil dari satu dengan nilai berkisar antara -0,3 sampai dengan -0,9;
Pada elastisitas harga terkompensasi sendiri, kelompok ikan kaleng mempunyai nilai elastisitas kurang dari satu yang berarti ikan kaleng tidak merespon perubahan harga.
DINAMIKA USAHA, PENDAPATAN DAN POLA PENGELUARAN KONSUMSI PETAMBAK GARAM DI DESA PINGGIRPAPAS,
KECAMATAN KALIANGET, KABUPATEN SUMENEP
Rendahnya produksi dan rendahnya harga akan mempengaruhi pendapatan dan pola konsumsi rumah tangga penambang garam. Pada bulan Juli 2009, dilakukan penelitian terhadap dinamika bisnis, pola pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani garam. Pengambilan sampel dilakukan melalui random sampling. Data primer yang dikumpulkan adalah karakteristik responden dan pola pengeluaran rumah tangga petani garam.
Luas lahan tambak garam yang digarap oleh petambak garam dengan pola kemitraan ini rata-rata hanya 0,5 hektar, padahal banyak masyarakat yang memiliki tambak garam yang digarap oleh orang lain dengan sistem bagi hasil. Berdasarkan perhitungan analisis usaha budidaya garam di desa Pinggirpapas Kabupaten Sumenep, pada tahun 2008 untuk pemilik mandiri terjadi peningkatan sebesar Rp. Pola usaha budidaya garam yang dilakukan di Desa Pinggirpapas (Sumenep) mempunyai tiga sistem yaitu dilakukan oleh pemilik sendiri, sistem bagi hasil dan sistem sewa.
Sebaran dinamika pendapatan rumah tangga yang melakukan produksi garam di Desa Pinggir Papas dapat dilihat pada Tabel 7. Secara umum, tingkat pengeluaran untuk produksi garam bervariasi sesuai dengan tingkat pendapatan individu rumah tangga yang melakukan produksi garam. Pola pengeluaran pangan rumah tangga di Desa Pinggir Papas terlihat selama dua tahun yaitu tahun 2008 hingga tahun 2009, dan proporsi pengeluaran pangan rumah tangga produsen garam dapat dilihat pada Tabel 8.
Pengeluaran untuk pembelian tembakau (rokok) pada tahun 2008 sebesar 17,99% dan pada tahun 2009 sebesar 12,22%, hal ini berarti pengeluaran tembakau mengalami penurunan sebesar 5,77%, penurunan ini menyebabkan banyak petani garam yang mengetahui bahaya merokok.
ANALISIS EKONOMI USAHA RUMAH TANGGA NELAYAN PELAGIS KECIL DI KELURAHAN AEK HABIL, SIBOLGA, SUMATERA UTARA
Desa yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Aek Habil di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara. Secara umum alat tangkap yang digunakan pada Aek Habil merupakan alat tangkap yang menggunakan armada motor tempel (BPS, 2010). Pengumpulan data primer dilakukan melalui metode wawancara kepada nelayan yang menangkap ikan pelagis kecil di Aek Habil.
Responden yang diambil adalah mereka yang pada umumnya melakukan usaha penangkapan ikan di Aek Habil dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur yang banyak terdapat di Aek Habil. Data yang telah dikumpulkan dan ditabulasi kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran ekonomi rumah tangga nelayan pelagis kecil di Desa Aek Habil secara menyeluruh. Jumlah tanggungan keluarga umumnya 5-8 orang (75% responden), hal ini menunjukkan bahwa keluarga nelayan di Aek Habil pada umumnya adalah keluarga besar.
Selain investasi, terdapat biaya tetap dan variabel dalam usaha penangkapan ikan di Aek Habil. Sistem bagi hasil pada usaha penangkapan ikan pelagis kecil di Aek Habil dilakukan dengan cara mengurangi pendapatan terlebih dahulu sebesar biaya perbekalan, kemudian sisanya (pendapatan bersih) dibagi menjadi 7 bagian dimana pemilik kapal mendapat 2,5 bagian, nakhoda mendapat 1,5 bagian dan masing-masing Anak Buah Kapal (ABK) mendapat 1 bagian (anak buah kapal ada 3 orang). Usaha kecil penangkapan ikan pelagis di Aek Habil dengan menggunakan pancing ulur masih memiliki prospek yang cukup baik meskipun masih tergolong tradisional.
Dari segi kelembagaan, peran kelompok nelayan di Aek Habil cukup berpengaruh dalam memberikan solusi atas permasalahan yang ada di kalangan nelayan.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANGKAP NELAYAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI WILAYAH PESISIR PANTAI SULAWESI SELATAN 1
TCNPTMyr: Total biaya untuk penangkapan ikan dengan perahu tidak bermotor per tahun (Rp)/tahunan biaya penangkapan ikan nelayan perahu tidak bermotor per perjalanan (Rp). Tingginya pendapatan usaha penangkapan ikan (perahu motor dan perahu non motor) di Desa Pabiringa Kabupaten Jeneponto menunjukkan bahwa potensi sumber daya perikanan di perairan Laut Flores yang berbatasan dengan wilayah pesisir selatan relatif lebih subur dibandingkan dengan wilayah pesisir barat (Selat Makassar). ) dan wilayah pesisir timur (Teluk Bone). Rata-rata pendapatan nelayan perahu bermotor dan perahu tidak bermotor di wilayah pesisir Sulawesi Selatan tahun 2008.
Artinya dengan naiknya harga minyak tanah maka pendapatan nelayan perahu motor per trip dan per tahun pada musim penangkapan ikan juga akan meningkat. Sementara itu, pengalaman melaut tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan yang melaut dengan perahu motor dan perahu tanpa motor. Jumlah tanggungan terbanyak pada nelayan non perahu motor adalah empat (4) orang, dibandingkan dengan nelayan perahu listrik yang berjumlah delapan (8) orang.
Lamanya waktu melaut per trip atau per tahun berpengaruh negatif signifikan terhadap pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan perahu motor pada taraf kesalahan 1. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha penangkapan ikan per perjalanan per tahun untuk perahu motor dan non perahu motor nelayan pada musim penangkapan ikan di wilayah pesisir Sulawesi Selatan tahun 2008. Jenis alat penangkapan ikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan usaha penangkapan ikan per trip dan per tahun pada nelayan perahu motor dan non perahu motor.
Pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan perahu tidak bermotor per trip di Sulawesi Selatan dipengaruhi positif oleh produktivitas usaha penangkapan ikan, jaring insang tetap dan perbedaan wilayah penangkapan.
Pedoman Bagi Penulis
Daftar Pustaka
Ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dengan judul dan nomor seri yang singkat dan jelas, diketik menggunakan software MS-Word dan bukan dalam format JPEG. Judul dan deskripsi gambar ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, dan ditempatkan di bawah gambar.